Thursday, May 24, 2018

Ruby Ring Ep 25

Sebelumnya...


Mulai hari ini, sinopsisnya sy sematkan Bahasa Korea sedikit2 ya...


“Yeobo, gomawo. Geurigo mianhae.” Ucap Roo Na dengan wajah menyesal. Gyeong Min pun mengangguk, lalu beranjak pergi. Setelah Gyeong Min pergi, Roo Na berulang kali menghela nafasnya.

“Ige mwoya?” gumamnya.

*Ige mwoya = Apa ini?
*Yeobo, Gomawo. Geurigo mianhe = Sayang, terima kasih. Dan maaf.


Gilja masuk ke kamar Roo Bi, disaat Roo Bi masih tertidur pulas. Ia lalu duduk di tepi ranjang dan memijat kaki Roo Bi. Roo Bi pun terbangun, eomma.

“Kembalilah tidur. Aku akan memijatmu.” Ucap Gilja.

“Gwenchana.” Jawab Roo Bi.

“Kau tidak perlu bekerja terlalu keras. Seperti yang dikatakan Na In Soo, ambillah cuti.” Ucap Gilja.

“Andwae, eomma.” Jawab Roo Bi, seraya bangun dan duduk di tempat tidurnya. Roo Bi beralasan, jika ia libur, Roo Na akan dicap buruk. Gilja cemas, ia takut kalau sesuatu yang buruk menimpa Roo Bi.


Roo Na kemudian datang. Gilja langsung keluar dari kamar mengetahui Roo Na yang datang.

“Apa yang kau lakukan disini?” tanya Gilja.

“Eomma, aku pikir, aku sebaiknya mampir sebelum berangkat ke kantor.” Jawab Roo Na.

Chorim kemudian datang dan Roo Na menanyakan kabar Chorim. Chorim penasaran, kenapa Roo Na datang sepagi itu. Roo Na bilang, ia datang untuk melihat Roo Bi. Roo Na ke kamar Roo Bi.


“Oh, eonni.” Roo Bi tersenyum menyapa Roo Na.

“Bagaimana kakimu?” tanya Roo Na.

“Tidak ada yang serius.” Jawab Roo Bi.

“Yang perlu kau lakukan hanyalah mengatur jadwalku. Kenapa kau berlari kesana kemari?” omel Roo Na.

Lalu, Roo Na memberikan Roo Bi uang dan menyuruh Roo Bi ke salon dan membeli beberapa baju. Roo Na berkata kalau Roo Bi adalah adik host terkenal dan tidak ingin orang-orang mengatakan hal yang aneh soal Roo Bi.

“Aku punya uang.” Ucap Roo Bi.

“Kenapa? Apa uangku tidak cukup layak untukmu?” tanya Roo Na.

“Eonni, kenapa kau mengatakan itu? “ protes Roo Bi.


“Geuronika, ambil. Ini pertama kalinya aku memberimu uang.” Jawab Roo Na.

Selain itu, Roo Na juga menyuruh Roo Bi istirahat di rumah. Tapi Roo Bi tak mau. Roo Na pun marah.

“Lakukan saja apa yang kuminta! Kau tidak ingin aku terlihat seperti orang jahat, kan?” ucapnya.


Lalu, mereka pun sarapan pagi bersama.

“Jika aku tahu Roo Bi akan datang, aku akan membuat sesuatu yang spesial. Makanlah meski kau tidak lapar.” Ucap Gilja.

“Apa itu karena makanannya lebih mewah di rumah mertuamu yang kaya?” sinis Chorim.

“Bibi Chorim, aku benar-benar merindukan masakan ibuku.” Jawab Roo Na.

“Sudah lama sekali rasanya kita tidak makan bersama seperti ini.” Ucap Roo Bi.


Saat Roo Na hendak menyendok nasi ke dalam mulutnya, bibi Chorim meletakkan lauk ke sendoknya. Roo Na pun tersentuh. Tak lama kemudian, ia menangis.

“Roo Bi-ya, wae geurae? Kau bertengkar dengan suamimu?” tanya Chorim.

“Aku hanya bahagia.” Jawab Roo Na.

“Apa yang membuatmu bahagia?” tanya Chorim.

“Semuanya. Sama halnya seperti dulu.” Jawab Roo Na.

“Roo Bi-ya, uljima. Kau membuatku menangis juga. Kau bahkan tidak menangis di pernikahanmu.” Ucap Chorim.

Chorim lalu berkata pada Gilja, bahwa Roo Bi sudah dewasa sekarang.


Gilja pun menyuruh Roo Na berhenti menangis. Roo Bi tersenyum menatap Roo Na. Tapi Roo Na terus saja menangis. Soyeong menyuruh Roo Na berhenti menangis karena takut make up Roo Na luntur. Gilja lantas menghapus air mata Roo Na.

“Masakanmu sangat lezat, eomma. Mungkin aku harus mampir kesini setiap pagi.” Ucap Roo Na.

“Aku akan senang. Aku bisa melihat kedua putriku yang cantik setiap harinya.” Jawab Gilja.

Gilja ikut menangis.

“Eonni!” protes Chorim. Mereka pun tertawa bahagia.


Dongpal hanya makan berdua dengan putranya. Jinhyeok bertanya, soal Geum Hee. Dongpal berkata, Geum Hee hanya teman kursusnya. Tapi Jinhyeok tidak percaya. Dongpal pun meminta Jinhyeok mempercayainya. Dongpal berkata, kepercayaan adalah awal dari kebahagiaan.

Jinhyeok lantas membahas Chorim. Dan setelah itu, Jinhyeok mengaku tidak bisa pergi ke universitas jika ayahnya terus seperti itu.

“Kau harus sekolah! Kau anak pintar!” jawab Dongpal.

“Tidak ada lagi wanita. Tidak ada lagi alkohol.” Ucap Jinhyeok, lalu beranjak pergi.


Gyeong Min dan ayahnya sedang rapat bersama beberapa staff. Seorang staff mengatakan, kebun mereka yang jaraknya 100 meter dari gudang mereka, telah menderita kerugian besar karena penurunan jumlah sinar matahari.

“Jika masalahnya kebun...”ucap Tuan Bae.

“Maka akan mempengaruhi buah anggur dan buah persik.” Jawab Gyeong Min.

“Jadi ini akan menjadi masalah bagi para petani. Jadi gudang kita tidak akan diisi dengan hasil musim panas.” Ucap Tuan Bae sambil berpikir.

“Mereka bilang, akan menuntut kita jika kita tidak memberikan kompensasi atas kerugian ini.” Jawab seorang staff.

“Berapa banyak keluarga petani yang kita bicarakan?” tanya Tuan Bae.

“Lima, Pak.” Jawab Gyeong Min.

“Kita perlu meninjau masalah ini secara menyeluruh dan menemukan solusi yang masuk akal. Tidak ada alasan untuk menyelesaikan masalah ini di pengadilan. Kita akan berkompromi jika diperlukan agar masalah ini berakhir dengan damai. Jika kita tidak bisa membantu mereka, setidaknya kita bisa berhenti menambah masalah mereka.” Ucap Tuan Bae.


Selesai rapat, Tuan Bae memberi tahu Gyeong Min kalau Nyonya Park dan nenek akan mampir.


“Kau pergilah duluan. Aku ingin berkeliling dulu, nanti aku akan menyusulmu.” Ucap nenek begitu mereka tiba di kantor.

“Tapi ibu, kita bisa berkeliling nanti.” Jawab Nyonya Park.

“Pergilah. Changgeun mungkin sedang menunggumu.” Ucap nenek.

“Biarkan aku ikut denganmu. Bagaimana jika ibu tersesat.” Jawab Nyonya Park.

“Jangan cemas.” Ucap nenek, lalu pergi.


Nenek naik ke stage. Asisten sutradara pun menghampiri nenek dan menyuruh nenek turun karena mereka akan on air.

“Tapi aku benar-benar ingin melihat-lihat. Tidak bisakah kau membuat pengecualian?” pinta nenek.


In Soo pun datang dan bicara pada nenek. In Soo bilang, di langit-langit ada banyak lampu dan di lantai, ada banyak kabel berbahaya dan nenek bisa terluka. Nenek pun mengerti. Nenek kemudian menanyakan pekerjaan In Soo. Nenek memanggil In Soo dengan panggilan anak muda. Astrada pun tertawa.

“Apa salah aku memanggilmu anak muda?” tanya nenek.


In Soo pun menyuruh si astrada pergi.

“Aku produser disini.” Ucap In Soo.

Nenek pun manggut-manggut, lalu bicara dalam hati kalau pria muda di depannya ini cocok untuk Se Ra.

“Ngomong-ngomong nenek, apa nenek datang untuk menemui seseorang?” tanya In Soo.

“Cucuku bekerja disini. Dia mengajakku makan siang.” Jawab nenek.

Nenek lalu meminta In Soo mengantarkannya ke kantor. In Soo hendak menolak, tapi In Soo yang memang baik, akhirnya bersedia mengantarkan nenek ke kantor.


Di lift, nenek menanyakan usia In Soo. Tak itu saja, nenek juga bertanya ulang tahun In Soo. Nenek beralasan, itu karena ia punya teman seorang peramal. Setelah itu, nenek meminta nomor telepon In Soo.


Pintu lift terbuka. Setelah memastikan nenek keluar dari lift dengan aman, In Soo pun kembali masuk ke dalam lift.


Ternyata lantai yang dituju nenek adalah kantin. Di sana, Tuan Bae dan Nyonya Park sudah menunggu. Nenek memberitahu keduanya, kalau ia sudah menemukan laki-laki yang cocok untuk Se Ra.


Di ruangannya, Gyeong Min sedang membaca artikel Roo Na. Ia pun terdiam dan bertanya-tanya.

“Aku sangat mencintainya, tapi kenapa dia terasa begitu asing bagiku?”


Lalu, Roo Na pun datang dan ia terkejut melihat artikelnya di meja Gyeong Min.

“Bagaimana kau memilikinya? Aku bahkan belum membacanya. Suamiku benar-benar hebat.” Puji Roo Na.

Roo Na lalu bertanya, apa tulisannya bagus. Gyeong Min hanya diam, menatap Roo Na.

“Ada apa?” tanya Roo Na.

“Kita sudah cukup lama berkencan, tapi aku masih tidak tahu siapa dirimu. Kita bertemu pertama kali di perpustakaan, kan?”

Roo Na pun mengiyakan.

“Dan kau mengenakan gaun merah pada kencan pertama kita?” tanya Gyeong Min.

“Aku pikir begitu. Kenapa?” tanya Roo Na.

“Kita pertama kali bertemu saat orientasi mahasiswa baru. Dan kencan pertama kita, kau mengenakan sweater merah dan rok denim.” Jawab Gyeong Min.


Roo Na pun gugup, tapi kemudian ia tertawa untuk menyembunyikan kegugupannya. Ia juga membuat alasan, bahwa ia sengaja mengetes untuk mencari tahu apakah Gyeong Min mengingat masa lalu mereka. Roo Na pun berterima kasih karena Gyeong Min sudah mengingatnya.

“Sudah begitu lama waktu berlalu, tapi tidak seharusnya kau mengetesku. Bagaimana kalau aku tidak ingat? Kau akan kecewa.” Ucap Roo Na.

Roo Na juga beralasan, kalau ingatannya sedikit terganggu akibat kecelakaan itu dan meminta Gyeong Min melupakan Jeong Roo Bi yang dulu.

“Tapi aku mencintai Jeong Roo Bi yang dulu. Wanita yang aku cintai adalah Jeong Roo Bi yang dulu.” Jawab Gyeong Min.

Roo Na pun marah mendengarnya.


“Jeong Roo Bi dalam ingatanmu, seperti apa dia? Katakan padaku! Kau mencintai Jeong Roo Bi yang dulu dan tidak bisa mencintai Jeong Roo Bi yang sekarang?”

Gyeong Min pun menghela nafas dan memeluk Roo Na.

“Ada apa denganmu? Kenapa kau mudah sekali tersinggung?” tanya Gyeong Min.


Roo Na pun melepaskan pelukan Gyeong Min.

“Kau tahu? Dulu aku berpikir, aku bahagia menikah denganmu. Menjadi istrimu, menjadi menantu di keluargamu, dan menjadi ibu untuk anak-anakku. Tapi sekarang tidak lagi. Saat aku ingat tentang mimpi Roo Na, aku pikir itu hanyalah sebuah mimpi. Tapi saat menemukan potensi itu berada dalam diriku, aku punya mimpi itu sekarang.” Ucap Roo Na.

“Tapi itu mimpi Roo Na.” Jawab Gyeong Min.

“Dulu itu mimpi Roo Na, tapi sekarang itu mimpiku. Aku bisa sukses, aku ingin sukses karena kemampuanku sendiri, bukan karena bantuan dari keluarga mertuaku dan aku bisa melakukannya.” Ucap Roo Na.

Gyeong Min pun kecewa mendengarnya.


Di restoran, Gilja melamun memikirkan Roo Na. Gilja pun menceritakan kecemasannya pada Chorim. Gilja merasa, bahwa Roo Na tidak bahagia hidup bersama Gyeong Min. Chorim pun menenangkan Gilja dengan mengatakan, bahwa Roo Na sudah memiliki kehidupan yang bagus sekarang dengan menikahi Gyeong Min.


Geum Hee akhirnya kembali ke rumah Gyeong Min >>>> scene yg ini sy skip aja ya...


Di ruang meeting, Se Ra marah. Pasalnya, produk mereka tidak habis terjual.

“Aku pikir, masalahnya ada pada hostnya. Jelas sekali, dia kurang percaya diri mempromosikan produknya. Mata dan ekspresinya mengatakan itu dengan jelas. Konsumen tidak tahu, tapi secara naluriah, mereka tahu.” Jawab Roo Na, sambil menatap sinis In Soo.

“Kurasa, itu bukan penilaian yang adil.” Ucap salah satu staf, mungkin host yang dimaksud Roo Na.

“Sudahkah kau menggunakan produk itu pada kulitmu?” tanya Roo Na.

“Kulitku sensitif, jadi aku hanya bisa menggunakan produk tertentu.” Jawab host itu.

“Ketika host sebuah pertunjukan mempromosikan produknya, dia harus mencoba produk itu terlebih dahulu.” Sentak Roo Bi.

“Jadi, apa kau memiliki solusi untuk masalah kita?” tanya Se Ra.


Roo Na pun mengajukan dirinya untuk menjadi host program itu. Se Ra setuju dan menyuruh Nona Yoo mengirimkan produknya pada Roo Na. Tapi sayangnya, produk itu masih ada di gudang dan tidak akan bisa dikirim dengan cepat karena terkendala sistem logistik.

Roo Na pun berkata, akan menyuruh Roo Bi untuk mengambilnya.

In Soo sontak terkejut.


Selesai rapat, In Soo langsung menghubungi Roo Bi. Ia cemas karena Roo Bi akan pergi sendirian mengambil produk itu. Roo Bi pun meyakinkan In Soo, kalau dia akan baik-baik saja. Terakhir, In Soo menyuruh Roo Bi menghubunginya jika terjadi sesuatu.


“Orang-orang mungkin akan berpikir, kau mencintai dan peduli pada Jeong Roo Na.” Ucap Roo Na.

Roo Na lantas mendekati In Soo dan menyuruh In Soo pindah keluar negeri dengan Roo Bi.

“Kau bisa hidup normal dan bahagia jika kau mau.” Ucap Roo Na.

“Untuk siapa? Untukmu?” tanya In Soo.

“Untuk kita semua.” Jawab Roo Na, lalu beranjak pergi. Tapi dia balik lagi hanya untuk menanyakan, siapakah yang dicintai In Soo. Jeong Roo Bi atau wajah Jeong Roo Na. In Soo pun terdiam.

Roo Na lalu beranjak pergi, tapi In Soo malah menarik Roo Na ke dalam pelukannya.

“Kau bahkan tidak takut lagi. Aku tahu kau masih mencintaiku, tapi kau naif karena percaya pada cinta.” Ucap Roo Na.


Mendengar itu, In Soo pun melepas pelukannya dan menyuruh Roo Na pergi.

“Lupakan balas dendammu. Cintaiku apa adanya, lalu kau akan dapat menerimaku dan memaafkanku.” Ucap Roo Na.

Tak mau mendengar kata-kata Roo Na lagi, In Soo pun beranjak pergi.


Takdir kembali mempertemukan Gyeong Min dan Roo Bi.

Gyeong Min baru saja tiba di gudangnya dan langsung disambut para pekerja.

Roo Bi yang sudah lebih dulu berada di sana, sedang menyusuri beberapa rak, mencari produk itu.


Gyeong Min ditemani Kepala Gudang, sedang berkeliling tapi tak lama Kepala Gudang menerima telepon dan langsung pergi.

Roo Bi akhirnya menemukan produk itu.

“Creme de beaute.” Ucapnya menyebutkan nama produk itu dalam Bahasa Perancis.

Tapi saat akan mengambil produk itu, ia pun tersadar dan heran sendiri karena ia menyebutkan nama produk itu dengan fasih.

“Bagaimana aku tahu Bahasa Perancis?” tanyanya.


In Soo kemudian menelpon, tapi belum sempat bicara dengan In Soo, ia mendengar bunyi alarm yang sangat keras. Lalu tak lama, lampu gudang mati. Ia pun menjerit.


Bayangan masa lalu pun kembali muncul di benaknya. Saat ia berada di kamar mandi sendirian, lampu kamar mandi tiba-tiba padam. Ia pun berteriak dan Gyeong Min pun datang. Lalu tak lama setelah itu, lampu kamar mandi kembali menyala.

“Kenapa Hyeongbu?” tanyanya bingung.


Lalu seseorang memegang tangannya. Ia pun menjerit.

“Roo Na-ya, ini aku.” Ucap Gyeong Min menenangkan Roo Na.

Roo Na pun menghela nafasnya dan menyenderkan kepalanya di bahu Gyeong Min.


Diluar, para pekerja berusaha memulihkan sistem mereka. Kepala Gudang panic karena Gyeong Min terkunci di dalam.


Di ruangannya, Se Ra berusaha menghubungi In Soo tapi nomor In Soo sibuk. Ia kesal, karena In Soo pergi begitu saja meninggalkan acara.

Tak lama kemudian, Se Ra dapat informasi tentang Gyeong Min yang terkunci di gudang. Tepat saat itu, Roo Na masuk ke ruangan Se Ra. Ia terkejut mendengar kabar tentang Gyeong Min.


In Soo sendiri sedang di perjalanan menuju gudang. Ia mencemaskan Roo Bi.


Roo Bi mulai kehilangan kesadarannya. Gyeong Min pun melepaskan jasnya, lalu memakaikan jasnya ke tubuh Roo Bi. Setelah itu, ia kembali memeluk Roo Bi.

Roo Na sedang di perjalanan, menyusul Gyeong Min.


Para pekerja masih berusaha memulihkan sistem. Tak lama kemudian, sistem menyala dan Kepala Gudang pun langsung menyusul Gyeong Min.


Roo Bi akhirnya membuka matanya.

“Roo Na, kau baik-baik saja? Apa perasaanmu sudah membaik?” tanya Gyeong Min.

Tapi Roo Bi diam saja, memikirkan semua ingatannya tentang Gyeong Min. Ia pun syok.


In Soo dan Roo Na akhirnya tiba di gudang. Roo Na terkejut mengetahui Gyeong Min terkunci bersama seorang wanita. Saat melihat In Soo, barulah Roo Na sadar wanita yang terkunci bersama Gyeong Min adalah Roo Bi.

“Jadi mereka terkunci di dalam, hanya berdua?” tanya Roo Na kesal.

“Apa itu penting sekarang!” sentak In Soo.


Tak lama kemudian, pintu gudang terbuka. Mereka semua langsung mencari Gyeong Min.


Roo Na dan In Soo pun terdiam saat melihat Roo Bi yang tak sadarkan diri itu berada di pelukan Gyeong Min.

Roo Bi akhirnya pulang ke rumah. Gilja dan Chorim terkejut melihat wajah Roo Bi yang pucat. Tak mau keluarganya cemas, Roo Bi pun hanya berkata kalau dirinya baik2 saja.


Setelah itu, ia masuk ke kamar dan mulai memikirkan ingatannya soal Gyeong Min.

“Ini aneh. Ada yang tidak benar disini, tapi apa? Kenapa Gyeong Min, bukan In Soo? Wae? Wae?” ucapnya.



Buat para readers-ku, yang setia menantikan sinopsis ini, sy kasih sedikit spoiler ya...

Ingatan Roo Bi akan sepenuhnya kembali di episode 38... Saat itu, Roo Bi dan Roo Na bertengkar di tangga darurat. Roo Na menyuruh Roo Bi menjauhi In Soo.  Mereka bertengkar sampai Roo Bi jatuh dari tangga.

Nah, nanti yang pertama kali tahu yang mana Roo Na asli, yang mana Roo Bi asli, adalah Gilja di episode 77...

Giliran ayah Gyeong Min yang tau kedok Roo Na di episode 80-an, tapi ayah Gyeong Min wafat setelahnya.

Gyeong Min sendiri tahunya di episode 91....

Jadi buar para readers yang menantikan kedok Roo Na terbongkar, harus banyak2 bersabar... Hehehe...

No comments:

Post a Comment