Thursday, May 24, 2018

Ruby Ring Ep 27 Part 2

Sebelumnya...


Gilja membawakan oleh-oleh dari Roo Na untuk Roo Bi, Soyeong dan Chorim. Soyeong pun senang Roo Na juga membelikannya baju. Tapi Chorim yang biasanya antusias mendapat hadiah, kali ini biasa saja.

“Ada apa, Komo? Kau tidak suka?” tanya Gilja.

“Aku suka, ini bagus.” Jawab Chorim.

“Benar, Imo. Itu sangat bagus.” Ucap Roo Bi.

Chorim pun beranjak ke kamarnya dan membawa hadiahnya.

“Ada apa, Komo? Kenapa kau murung seperti ayam yang lagi sakit?” tanya Gilja.

“Eonni, kenapa kau selalu membandingkanku dengan ayam? Kepala ayam lah, leher ayam, pantat ayam. Aku tahu, kita mendirikan restoran ayam, tapi aku bukan ayam. Aku manusia!” sewot Chorim.


“Omo, ada apa dengannya?” tanya Gilja.

“Suasana hatinya sedang buruk belakangan ini. Kurasa, itu karena Dongpal.” Jawab Soyeong.

Di kamarnya, Chorim pun kesal memikirkan hadiah kalung yang didapat Dongpal. Ia pikir, kalung itu hadiah dari seorang wanita. Dia juga kesal saat mengingat Dongpal bicara dengan Nyonya Kim di telepon dan semakin kesal karena Dongpal tidak mau menjelaskan siapa wanita itu.


“Eonni.” Ucap Soyeong yang tahu-tahu nongol di sebelah Chorim. Chorim pun kaget.

“Eonni, kau marah kan? Kau mungkin akan mencemoohku jika aku mengatakan ini tapi, saat kau berkencan, kau harusnya melilitkan sedikit jarimu agar bisa memiliki pria itu. Saat ini Dongpal Oppa mendorongmu pergi, yang harus kau lakukan adalah menariknya agar lebih dekat denganmu. Memperbaiki penampilan adalah yang paling utama.” Ucap Soyeong.

Soyeong lalu bertanya, apa Chorim pernah datang lagi ke rumah Dongpal. Chorim pun menggeleng.

“Kau tahu dimana dia tinggal jadi kenapa tidak kesana? Meskipun Dongpal Oppa memiliki semua makanan di restoran, tapi dia harus makan di rumah saat hari libur. Dia butuh kimchi dan lauk pauk. Kau harus meluangkan waktumu membuatkan dia makanan enak. Saat dia memakan kimchi mu, dia akan ingat padamu. Saat dia makan daging buatanmu, dia akan teringat padamu. Saat dia makan teri gorengmu, dia akan ingat padamu.” Ucap Soyeong.


Hasilnya, Chorim langsung ke supermarket, belanja ini itu buat masakin Dongpal.

Supermarket memberikan diskon untuk ikan teri. Para pelanggan pun langsung berebutan ikan teri. Tak terkecuali, Chorim dan... temannya Dongpal. Chorim dan temannya Dongpal pun akhirnya berdebat, memperebutkan teri yang tinggal sebungkus. Hingga akhirnya, bungkus teri itu terbuka saat mereka memperebutkannya.


Lalu, pegawa supermarket pun datang meletakkan puluhan bungkus teri di dalam rak. Chorim dan ribuan pelanggan pun langsung memperebutkan teri yang sedang diskon itu.


Di kantor, Roo Na tak sengaja berpapasan dengan Eun Ji. Roo Na menegur Eun Ji, tapi Eun Ji yang masih kesal buru-buru pergi.


Sekarang, Roo Na sudah berada di ruang ganti. Tak lama, Roo Bi datang memberitahu Roo Na bahwa ia sudah mengambil dress Roo Na.

“Kau melihat Eun Ji?” tanya Roo Na.

“Tidak, kenapa?” ucap Roo Bi.

“Bocah yang tidak bersyukur itu! Apa dia lupa siapa yang memberinya pekerjaan? Beraninya dia mengabaikanku! Apa dia masih kesal karena ucapanku kemarin?” jawab Roo Na.

“Eonni, kau agak keterlaluan.” Ucap Roo Bi.


“Aku? Kau tidak marah dia mengatakan hal-hal gila macam itu? Dia memang bodoh. Dia tidak punya otak dan putus asa.” Jawab Roo Na.

“Tapi Eun Ji benar. Semua orang mengatakan kita berubah. Bukankah itu aneh, seharusnya mereka berkata, “Kau tidak berubah sedikit pun” ketika mereka bertemu dengan orang yang baru saja mereka lihat. Tapi kenapa mereka bilang kita berubah? Kepribadian kita tertukar.” Ucap Roo Bi.

“Mereka tidak tahu apa yang mereka katakan? Bukankah wajar kita banyak berubah setelah mengalami kecelakaan yang mengerikan itu? Dan apa kau pikir, seseorang hanya memiliki satu wajah? Seseorang dapat memiliki 10, 100 atau mungkin 1000 wajah. Wajah seseorang berubah tergantung situasinya dan siapa yang mereka hadapi. Mungkin saja, kau dan aku juga memiliki wajah lain. ” jawab Roo Na.

“Jadi maksudmu, kecelakaan itu menyebabkan ego kita muncul?” tanya Roo Bi.

“Ego? Jangan berusaha menjadi orang pintar. Tidak cocok untukmu. Tidak peduli yang orang katakan, kau tetaplah Jeong Roo Na yang bodoh.” Jawab Roo Na.


Roo Na lalu beranjak pergi. Setelah Roo Na pergi, Roo Bi menatap pantulan wajahnya di cermin dan memikirkan kata-kata Roo Na tadi.

“Kalau begitu keadaannya, yang mana wajah aslimu Jeong Roo Na? Katakan. Cobalah untuk mengingatnya.” Ucap Roo Bi.


Begitu melihat Eun Ji, Roo Na langsung menarik Eun Ji ke tangga darurat.

“Kau punya masalah denganku? Katakan!” ucap Roo Na kesal.

“Baiklah, akan kukatakan jika kau bersikeras. Bahkan meskipun kau istri Wakil Presdir sekalipun, kau juga temanku dan kau memberiku pekerjaan sebagai model, aku berterima kasih. Tapi aku sudah melakukan yang terbaik, apa kau tahu? Ketika kau berlari kesana kemari, melakukan riset untuk produkmu, siapa yang membantumu? Aku melakukan yang terbaik untuk menolongmu, tapi kau marah padaku dan menghinaku ketika aku hanya bercanda. Sejauh yang aku tahu, Jeong Roo Bi tidak begini. Jika Roo Na yang bersikap seperti ini, aku paham. Apa kau seperti ini karena kau menikah dengan keluarga kaya? Itukah penyebab kau berubah menjadi seseorang yang benar-benar berbeda? Dan biar kukatakan satu hal lagi, Yeonho meminta bantuanmu tapi kau hanya memberinya satu pekerjaan dini hari. Aku tidak tahu detailnya, tapi sepertinya Yeonho juga kesal padamu. Dia melakukan semua yang kau minta.” Jawab Eun Ji.

Mendengar itu, Roo Na pun panic. Ia takut Yeonho mengatakan semuanya pada Eun Ji. Roo Na pun lega, karena Yeonho tidak mengatakan apa-apa pada Eun Ji. Yeonho bilang, bahwa Roo Na hanya menyuruhnya melakukan beberapa hal.


Setelah itu, Roo Na dan Yeonho bertemu di kafe. Produk Yeonho tidak terjual habis dan Roo Na tidak terima disalahkan oleh Yeonho. Yeonho membela diri. Ia berkata, itu karena Roo Na menyiarkannya pada jam tiga pagi.Yeonho juga bilang, produknya bisa laku jika Roo Na yang membawakannya.

“Jadi maksudmu, kau mau aku menjual produk murahan dan berkualitas rendah?” tanya Roo Na.

“Biar kukatakan satu hal. Kesepakatan kita masih berlaku, kan? Kau bilang, jika aku mengurus bisnis kotormu, aku tidak perlu menunggu lama. Aku akan membereskan Tuan Na, jadi kapan kita bisa memulainya?” ucap Yeonho.


Besoknya, Yeonho menjebak In Soo. Ia memberikan uang suap agar In Soo bisa mengutamakan programnya, tapi In Soo menolak uang itu dengan tegas.


Setelah itu, In Soo kembali ke kantor. Roo Bi melihat In Soo. Ia memanggil In Soo, tapi In Soo terus saja berjalan dengan wajah kesal. Roo Bi pun menyusul In Soo.

“Boleh aku bertanya, kenapa kau kesal?” tanya Roo Bi.

“Tidak.” Jawab In Soo, membuat Roo Bi kaget.

“Aku hanya bercanda. Kau terlihat cantik saat kau kaget.” Ucap In Soo.

“Ada apa? Kau bisa cerita padaku.” Tanya Roo Bi.


“Tidak seharusnya aku menilai seseorang itu buruk atau tidak, tapi dia sepertinya bukan orang baik.” Jawab In Soo.

“Siapa?” tanya Roo Bi.

“Lupakan.” Jawab In Soo.

In Soo lalu mengajak Roo Bi nonton film setelah pekerjaan mereka selesai.

Setelah Roo Bi pergi, In Soo dihubungi Gilja. Gilja mengajak In Soo bertemu.


Mereka bertemu di sebuah kafe. Gilja meminta In Soo secepatnya menikahi Roo Bi. In Soo terdiam. Gilja juga berkata, In Soo tidak perlu mencemaskan soal uang karena ia masih punya sisa tabungan, serta Roo Na akan membantu biaya pernikahan mereka.

Sadarlah In Soo, bahwa Roo Na lah yang menyuruh Gilja memaksanya menikahi Roo Bi.


No comments:

Post a Comment