Tuesday, July 24, 2018

Still 17 Ep 1 Part 1


Sebuah tangan tampak sedang menggambar sesuatu.

Lalu terdengar suara anak perempuan.

"Apa yang kau gambar paman? Gambar makanan kah?"

"Aku sedang menggambar seseorang." jawab si pemilik tangan itu. Seorang pria.


Si pemilik tangan, seorang pria yang tengah menggambar, adalah remaja SMA. Ia berhenti mengayuh sepedanya karena mendengar bunyi lonceng. Pria itu celingak celinguk, mencari darimana asal bunyi lonceng yang didengarnya dan ia menemukan bunyi lonceng itu berasal dari tas seorang gadis yang tengah berdiri di fly over sambil melingkari bulan dengan tangannya.

"Siapa dia?" tanya si gadis kecil

"Aku kurang begitu mengenalnya. Tapi.. dia membuatku ingin tahu.. Setiap kali aku melihatnya."


Di lain hari, pria itu bertemu lagi dengan gadis yang dilukisnya itu. Ia yang duduk di atas bus, tanpa sengaja melihat gadis itu tengah berlari dan tersenyum saat melihat sepatu gadis itu yang beda sebelah.


Kemudian, ia yang tengah bersama teman-temannya bertemu gadis itu lagi di depan Supermarket Woori. Ceritanya, gadis itu tengah berlari sambil membaca buku ketika ahjumma pemilik supermarket muncul dan menyiramkan seember air. Akibatnya, gadis itu pun tak sengaja kesiram seembar air.


"Mengapa kau menggambarnya jika kau bahkan tak begitu mengenalnya?" tanya si gadis kecil lagi.

"Karena aku ingin mengenalnya mulai sekarang." jawab pria itu. Pria itu adalah Gong Woo Jin. Dan gadis yang ditaksirnya bernama Woo Seo Ri.


Sekarang, kita melihat Seo Ri yang sedang mengikuti audisi. Para juri nampak terkesan dengan permainan biola Seo Ri.


Paginya, Woo Jin yang baru turun dari bis kembali melihat Seo Ri.

"Su Mi-ya. Hei, No Su Mi!" Woo Ri memanggil temannya.

"Woo Seo Ri, sudah lama sekali." jawab Su Mi.


Malamnya, Woo Jin kembali melihat Seo Ri di jembatan. Sayangnya Woo Jin salah paham, ia mengira nama Seo Ri adalah Su Mi karena melihat nama Su Mi yang tertera di seragam olahraga yang dipakai Seo Ri.


Woo Jin kembali melukis Seo Ri.

"Sama seperti bagaimana kesalahpahaman kecil yang kualami ketika aku berumur 17 tahun, akhirnya memberikan perubahan besar bagi kehidupan kami berdua." ucap Woo Jin.


Dan sekarang, Woo Jin sudah tumbuh dewasa. Ia duduk di tepi Sungai Han sambil menatap lukisan Seo Ri.


Lalu, ia mendengar bunyi lonceng. Woo Jin pun menoleh dan tersenyum.

(Episode 1, La Campanella, Sang Lonceng Kecil)


Seo Ri berlari menuju sekolahnya. Ia berlari di atas tangga trotoar sambil membaca buku musiknya dan menengadahkan tangannya. Tangannya tampak seolah-olah menyentuh not balok dan not balok itu berterbangan di langit.


Ia terus berlari sambil membaca buku musiknya tanpa menyadari bahwa jalan di depannya tengah dalam masa perbaikan. Untunglah Su Mi melihatnya dan langsung menariknya tepat saat ia akan jatuh.

"Apa yang salah denganmu? Bukankah aku memberitahumu, untuk tak membaca musik saat kau berjalan? Apa kau tahu, kalo kau tidak sengaja mengambil pakaian olahragaku lagi?" ucap Su Mi.

"Aku minta maaf. Aku meminta bibiku untuk mencucinya dan aku sudah membawanya." jawab Seo Ri


Tapi saat melihat tasnya, ternyata yang ia bawa malah binatang peliharaannya bukan pakaian olahraganya Su Mi.

"Kupikir aku sudah membawanya. Tapi ternyata aku salah. Aku tidak tau harus berkata apa." ucap Seo Ri.

"Seo Ri-ya, kau  lebih baik tidak membiarkan siapa pun tahu kalau kau ini teledoran." jawab Su Mi.

"Apa maksudmu?" tanya Seo Ri.


"Jika orang tahu betapa teledor-nya dirimu perguruan tinggi musik di Jerman akan membatalkan penerimaanmu." jawab Su Mi.

"Kau benar. Aku harus merahasiakannya." ucap Seo Ri.

"Hei, haruskah aku katakan pada mereka betapa teledornya dirimu? Maka kau bisa tinggal di sini daripada harus keluar sekolah." jawab Su Mi.

"Tapi bisakah kau mengatakan itu dalam bahasa Jerman?" tanya Seo Ri.

"Tidak, aku tidak bisa." jawab Su Mi. Lalu mereka berdua tertawa.


Tapi tiba-tiba, seorang pria datang dan memberikan Seo Ri bunga. Dia juga mengajak Seo Ri menikah.

"Apa yang kau lakukan, Kim Hyung Tae?" tanya Su Mi.

"Aku tidak bisa membiarkanmu pergi ke Jerman sendirian. Aku akan pergi bersamamu dan mendukungmu di sana. Kau masih ada waktu 2 bulan sebelum pergi Aku akan menguasai bahasa Jerman sampai saat itu..."


Tiba2, guru mereka datang dan langsung menjewer kuping Hyung Tae.

"Kuasai Bahasa Korea terlebih dulu! Bagaimana bisa kau mendapatkan 4 poin dalam ujian bahasa Korea? Orang Jerman bahkan akan mendapat skor lebih tinggi darimu! Ikuti aku!"

Seo Ri dan Su Mi tertawa melihat Hyung Tae diomeli guru.


Lalu, guru melihat tali pinggang Hyung Tae yang terkulai ke bawah.

"Apa ini? Apa ini ular?" tanya sang guru.

"Ini yang disebut gaya hip-hop." jawab Hyung Tae.

"Bangun dan sadarlah. Ikut aku." ucap sang guru, lalu membawa Hyung Tae pergi dengan menarik tali pinggangnya.

Tapi Hyung Tae masih bisa-bisanya juga bilang cinta sama Seo Ri.


Woo Jin duduk di halte bersama ponakan kecilnya. Ia mencium pipi ponakannya yang asyik mengunyah roti.

"Paman tidak boleh mengganggu siapa pun yang sedang makan." ucap sang ponakan.


Lalu tiba2, Woo Jin melihat seorang nenek yang berlari mengejar bis. Bus itu lantas berhenti tepat di depan Woo Jin. Agar si nenek tak ketinggalan bis, Woo Jin pun pura-pura bertanya rute bis pada si supir. Tepat setelah Woo Jin selesai bertanya, si nenek masuk ke dalam bus.

"Orang yang di lukisan!" seru ponakan Woo Jin.


Woo Jin pun menoleh dan melihat Seo Ri hampir kena siram ahjumma pemilik supermarket lagi.

"No Su Mi!" teriak Woo Jin memanggil Seo Ri.

Seo Ri menoleh dan terhindar dari siraman ahjumma. Tapi ia tak menemukan siapa pun di seberang jalan karena Woo Jin langsung bersembunyi.

"Kenapa dia selalu membaca? Itu berbahaya." ucap Woo Jin.


Pertemuan Woo Jin dan Seo Ri selanjutnya adalah di bus. Woo Jin terkejut karena Seo Ri mengajaknya bicara. Seo Ri bertanya, dimana ia harus naik bis kalau mau ke Cheonghan Art Hall. Woo Jin yang gugup pun diam saja.

"Kau tidak tahu?" tanya Seo Ri.

"Aku tahu, tempat itu... bus tidak berhenti pas ditempat itu Kau harus turun di Stasiun Cheongan... atau di persimpangan Cheongan." jawab Woo Jin.

"Ah, Stasiun Cheonghan. Terima kasih." ucap Seo Ri.


Woo Jin lalu berniat memberikan lukisan Seo Ri, tapi ia tak memiliki keberanian. Saat ada pengumuman kalau bus akan berhenti di Stasiun Cheong Han, Woo Jin pun memberanikan dirinya. Ia mendekati Seo Ri dan melarang Seo Ri turun di Stasiun Cheong Han.

"Tak masalah dari mana kau turun, tapi aku pikir itu lebih dekat jika turun di halte berikutnya." ucap Woo Jin.

Woo Jin kemudian berkata, kalau ia mengenal Seo Ri. Seo Ri terkejut.

"Aku bukan orang aneh. Maksudku, aku punya sesuatu untukmu." ucap Woo Jin.


Tapi saat Woo Jin mau memberikan lukisan itu, Su Mi muncul dan Woo Jin menggunakan kesempatan itu untuk kabur.


Hujan tiba-tiba turun. Saat mau berjalan, Woo Jin mendengar bunyi lonceng. Ia pun terkejut melihat lonceng Seo Ri yang tersangkut di tas tabungnya.

Ternyata saat Woo Jin berlari turun dari bus tadi, lonceng Seo Ri tersangkut di tas tabungnya.


Woo Jin pun bergegas mengejar bus untuk mengembalikan lonceng Seo Ri.


Hujan turun semakin deras. Bus yang membawa Seo Ri dan Su Mi disalip oleh mobil pick up yang membawa banyak ban. Si pengemudi mobil pick up menyalakan lagu. Tanpa ia sadari, tali terpal yang mengikat ban terlepas sehingga membuat ban itu berjatuhan ke jalan tepat di depan bus yang membawa Seo Ri.


Sontak, si pengemudi bus langsung membanting setir demi menghindari ban itu. Akibatnya kecelakaan beruntun terjadi. Bus yang membawa Seo Ri menabrak beberapa mobil sebelum akhirnya jatuh terguling.

Woo Jin yang menyaksikan kejadian itu syok.


Seo Ri terluka parah.


Kecelakaan itu menjadi topik hangat di berbagai media Korea Selatan.


Di rumah sakit, ibu Seo Ri menangis sambil berbicara dengan suaminya di telepon.


Woo Jin berlari ke rumah sakit.


Tim dokter masih berusaha menyelamatkan nyawa Seo Ri.


Sekarang, Woo Jin berlajar menyusuri jalanan di bawah guyuran hujan. Lalu, ia melihat berita kecelakaan itu di layar TV raksasa. Ada dua korban meninggal dalam kecelakaan itu. Salah satunya, bernama No Su Mi!

Woo Jin merasa bersalah karena sudah melarang Seo Ri turun di Stasiun Cheong Han. Ya, Woo Jin berpikir, kalau Seo Ri lah yang meninggal.

13 tahun kemudian...


Beberapa orang sedang melakukan camping di Pegunungan Alpen. Lalu, salah seorang dari mereka pergi untuk buang air.

Tapi orang itu dikagetkan dengan kehadiran sosok yang tak dikenalnya.

"Monster salju!" teriak orang itu.


Sosok itu, Woo Jin. Rambutnya gondrong dan ia juga berjenggot tebal. Woo Jin masuk ke rumahnya. Ia mengeluarkan binatang peliharaan Seo Ri dan memberinya makan.

"Deok Goo-ya, cobalah ini. Ini seharusnya lebih enak." ucapnya pada binatang peliharaan Seo Ri, tapi Deok Goo tak mau makan.


Di Pusat Rehabilitasi, para suster tengah mengurus Seo Ri yang koma. Mereka kasihan pada Seo Ri yang sudah koma selama 13 tahun.

"Keluarganya pasti lelah setelah 13 tahun." ucap suster 1.

"Bagaimana mereka bisa kelelahan ketika mereka tidak datang?" jawab suster 2.

"Ada banyak pasien yang ditinggal sendirian, karena itu adalah fasilitas jangka panjang. Aku tidak yakin apa dia benar-benar tak memiliki keluarga yang datang atau jika mereka baik-baik saja dan tidak perlu repot-repot berkunjung." ucap suster 1.

"Apa keluarganya mengirim uang?" tanya suster 2.

"Aku tidak berpikir itu adalah keluarganya. Mereka tidak akan mengirimnya secara anonim jika mereka adalah keluarga." jawab suster 1.

"Ada seseorang yang datang untuk melihatnya secara berkala tapi bukan dia yang membayar. Seorang pria." ucap suster 2.


Adegan pun berpindah pada Hyung Tae yang kini sudah menjadi dokter bedah. Hyung Tae dibujuk temannya agar ia mau pergi menjadi dokter sukarelawan menggantikan dirinya karena istrinya sedang hamil.

"Aku harus tinggal di sini juga." jawab Hyung Tae.

"Tolong gantikan aku.Kumohon ?" pinta rekannya.

Tapi Hyung Tae tidak menjawab dan beranjak pergi.

"Apa kau mengikuti ujian empat kali untuk menjadi seorang dokter itu sangat egois?" sewot rekannya. Hyung Tae pun langsung berbalik dan berjalan ke arah rekannya, membuat rekannya langsung diam.

"Apa kau mengatakan itu Peru? Aku akan pergi. Tapi, bisakah kau bertanya pada kepala... tentang apa yang ku minta saat terakhir ?" tanya Hyung Tae.

"Lagi? Ini rumah sakit universitas. Kecuali kau punya koneksi VIP, mereka tidak menerima pasien jangka panjang." jawab rekannya.

"Ayolah. Aku tahu kau punya orang dalam." bujuk Hyung Tae.

"Siapa yang kau ingin transfer ke sini? Aku dengar dia bukan keluargamu." jawab rekannya.

"Aku mohon padamu." pinta Hyung Tae.


Seorang suster memergoki pria ber-hoodie hitam yang tengah mengintip Seo Ri. Suster itu menegurnya, dan pria itu langsung kabur. Suster pun curiga, kalau pria itu adalah pria yang sering mengunjungi Seo Ri secara berkala.


Paginya, seorang cleaning service tengah membersihkan ruangan Seo Ri. Ia juga membuka jendela Seo Ri agar udara segar bisa masuk.

Saat tengah membersihkan kaca lemari, tiba-tiba cleaning service itu merasa ingin buang air dan langsung lari ke toilet.


Singkat cerita, Seo Ri sadar dan ia kebingungan karena seluruh badannya tidak bisa digerakkan. Ia juga bertanya-tanya tentang kondisi Su Mi.

"Aku mengalami kecelakaan kemarin. Paman dan bibiku pasti sangat terkejut." ucapnya lagi.


Si cleaning service kembali dan buru-buru menutup jendela karena merasakan udara yang mulai dingin, tapi saat berbalik ia terkejut melihat Seo Ri yang tengah menatapnya. Si cleaning service pun langsung berlari memanggil dokter.


Dokter langsung datang dan memeriksa Seo Ri. Ia menanyakan nama Seo Ri. Dengan suara parau, Seo Ri pun mengatakan namanya.


Lalu, Seo Ri menatap pantulan wajahnya di cermin lemari. Ia bertanya, siapa ahjumma yang tengah menatapnya itu.


Malam harinya, kedua suster yang selama ini setia mengurus Seo Ri, menceritakan apa yang terjadi pada Seo Ri. Seo Ri pun terkejut mendengar dirinya sudah koma selama 13 tahun.

"Lalu..Apa umurku 30 ? Apa a..ku... 30 tahun sekarang?" tanya Seo Ri kaget dengan suara parau.

"Umur 30 masih dianggap muda.  Setelah kondisimu stabil, kau dapat memulai perawatan." jawab suster.

"Eonni, tolong tunjukkan wajahku padaku." pinta Seo Ri.


Dan suster pun memberikan cermin. Seo Ri tidak percaya kalau itulah wajahnya yang sekarang.

"Aku berumur 17. Bagaimana orang ini bisa menjadi diriku?" ucapnya sambil menangis.


Diluar, dokter dan kedua perawat tengah membahas kondisi Seo Ri.

"Tentu saja dia syok. Setelah bangun dari koma, dia tiba-tiba menjadi 30 tahun dari 17 tahun." ucap dokter. Dokter lalu menyuruh perawat menghubungi pria yang sering mengunjungi Seo Ri.

"Aku coba menelepon dengan nomor yang dia tinggalkan, tapi dia tidak mengangkatnya. Dia juga tidak pernah berkunjung. Dan dia juga bertanya soal temannya yang ada di bus. Aku katakan, kalau dia dipindahkan dari rumah sakit universitas ke sini tapi dia memohon padaku untuk mencari tahu.  Aku mencarinya di internet dengan nama dan tanggal kecelakaan yang dia berikan padaku. Temannya meninggal karena kecelakaan itu." ucap suster.


Seo Ri teringat masa lalunya, saat ia bicara soal gurunya yang akan menikah di usia 30 tahun dan mereka harus bernyanyi di pernikahan guru mereka.

Saat menuju sekolah, Su Mi bicara pada Seo Ri. Su Mi bilang, kalau ia yakin Seo Ri akan mennjadi pemain biola yang elegan seperti Sarah Chang di usia 30.

"Hei, bagaimana kalau aku hanya menjadi seorang wanita setengah baya yang memiliki tiga anak?" tanya Seo Ri saat itu. Mereka lalu tertawa.

"Lalu bagaimana dengan hari-hariku saat berusia 18 tahun? 20 tahun? Mengapa aku tiba-tiba harus berubah menjadi dewasa? Aku tidak suka ini. Aku tidak ingin berumur 30 tahun." ucap Seo Ri lirih.

Tangis Seo Ri pun pecah.

Bersambung ke part 2....

No comments:

Post a Comment