Wednesday, July 25, 2018

Still 17 Ep 1 Part 2

Sebelumnya...



Woo Jin terbangun karena gara-gara video call-an Kang Hee Soo. Begitu melihat penampilan Woo Jin, Hee Soo pun terkejut.


"Kau membuatku takut. Apa kau Big Foot? Jika kau mendaki seperti itu di gunung,  orang akan berpikir kalo kau itu beruang dan pasti menembakmu." ucap Hee Soo.


Woo Jin pun membentuk jarinya seperti pistol dan mengarahkannya ke kepalanya, lalu tidur lagi.

"Hei, Beruang!" panggil Hee Soo.

"Wae?" tanya Woo Jin.


"Apa kau punya hati nurani? Bagaimana kau bisa hibernasi selama itu? Aku melepaskanmu karena mengambil jeda 6 bulan setelah bekerja 6 bulan. Apa kau mau libur setahun? Berhenti jadi pengembar dan kembalilah pada bulan Juli. Atau aku akan mengusirmu." jawab Hee Soo.

"Jika kau melakukan itu, sekalian lemparkan aku ke Kroasia." ucap Woo Jin. Tapi Hee Soo keburu memutuskan panggilannya.

"Baiklah, kau yang menutupnya sendiri." ucap Woo Jin lalu kembali tidur, tapi laptopnya kembali berbunyi.

"Hei, Kang Daepyo!" sewot Woo Jin. Tapi yang menelpon, bukan Hee Soo melainkan Dokter Gong Hyun Jung, noona nya.


Dokter Gong juga kaget dengan penampilan Woo Jin.

"Kau menakutiku. Kau manusia atau Bigfoot?" ucap Dokter Gong. Dokter Gong lalu bertanya, apa Woo Jin sudah bicara dengan Hee Soo.

"Mungkin." jawab Woo Jin singkat.

"Pada bulan Juli, aku akan melakukan layanan medis jangka panjang dengan saudara iparmu. sekitar setengah tahun. Ke Afrika." ucap Dokter Gong.

"Semoga selamat sampai tujuan." jawab Woo Jin, lalu tidur lagi tapi kemudian ia bangun lagi.

"Bagaimana dengan Chan?" tanya Woo Jin.

"Itu sebabnya aku menelponmu. Aku akan mengirim Chan ke tempatmu. Jadi jika kau tidak ada hubungannya, ah tidak. Bahkan jika ada yang harus dilakukan, pulanglah." jawab Dokter Gong.


"Tidakkah kau pikir ini terlalu mendadak?" tanya Woo Jin.

"Aku sudah menyewa seorang wanita yang akan menjagamu dan Chan." jawab Dokter Gong.

"Kau tahu  aku tak suka ada orang asing dirumah, Noona!" protes Woo Jin.

"Oh, itu benar jadi kau harus membangunkan Chan dan mengantarnya sekolah setiap hari. Beri dia makanan 4 sehat 5 sempurna.  Cuci seragam dan pakaian olahraganya." suruh Dokter Gong.

"Kenapa aku harus mencuci ..." protes Woo Jin lagi.

"Bukankah itu rumah orang tua kita? Secara teknis, Kau hidup dari orang tua kita." ucap Dokter Gong.

Woo Jin mau protes lagi tapi Dokter Gong keburu memutus panggilannya.

"Hei, noona! Gong Hyun Jung-ssi!" panggilnya.


Woo Jin lantas memeluk Deok Goo.

"Deok Goo-ya, Kita harus menghabiskan musim panas di Seoul." ucap Woo Jin.


Lalu, ia menatap tas tabungnya dan tersenyum.

"Aku memang merindukanmu, Chan." ucap Woo Jin.


Chan sendiri lagi latihan dayung bersama tim nya. Sang pelatih mengawasinya dengan bersepeda.

"Jaga tempo. Selaras. "Long Stroke". Lebih kuat. Baiklah. Kalian hampir sampai. Cepat, percepatan terakhir!" teriak pelatihnya.


Setelah itu, mereka di-briefing oleh sang pelatih.

"Kau harus mengalahkan Jung Jin Woon di nasional lagi tahun ini. Menangkan game individual yang diberikan Pimpin rekan-rekanmu dan menangkan acara tim juga." ucap pelatih pada Chan.


Setelah pelatih pergi, Chan dapat telepon dari ibunya. Ia pun senang mendengar kabar dari sang ibu kalau pamannya akan pulang.


Seo Ri sedang menjalani terapi untuk memulihkan otot-ototnya yang kaku.


Setelah kembali ke kamarnya, perawat memeriksa tensi Seo Ri. Seo Ri menanyakan soal temannya. Tak ingin membuat Seo Ri syok, perawat pun terpaksa berbohong dengan mengatakan kalau ia sudah melakukan pencarian tapi nama Su Mi tak pernah muncul.

"Menurutku ini bukan kecelakaan besar." ucap perawat.

"Benarkah? Untunglah, aku sangat lega." jawab Seo Ri. Perawat pun merasa kasihan pada Seo Ri.


Lalu, Seo Ri kembali menjalani terapinya.


Setelah kembali ke kamarnya lagi, Seo Ri menanyakan soal paman dan bibinya pada perawat. Perawat pun lagi2 berbohong.

"Mereka akan segera datang. Mereka memintaku untuk memberitahumu agar mengikuti perawatan."

"Aku harus meminta mereka untuk membawa biolaku saat mereka datang. Biarkan aku berbicara dengan pamanku secara langsung." jawab Seo Ri.


"Kau ingin menelponnya?" tanya perawat kaget. Perawat pun bingung. Tepat saat itu, perawat lain datang memberitahu kalau sudah waktunya Seo Ri menjalani terapi lagi.

Perawat itu pun senang dan langsung kabur. Ia bingung bagaimana harus menjelaskan keadaaan yang sebenarnya pada Seo Ri.


Seo Ri pun kembali menjalani terapi, tapi saat melihat wajahnya di kaca, ia kembali terkejut.


Woo Jin akhirnya tiba di Korea. Tapi saat di bandara, ia malah mengukur semua barang-barang di bandara.


Seo Ri membuka matanya dan terkejut mendapati seorang nenek tengah mencoret-coreti wajahnya. Nenek itu juga mengepang rambut Seo Ri asal-asalan. Tak lama kemudian, pengasuh nenek itu datang.

"Kau tidak boleh masuk ke kamar orang lain. Dia benar-benar pembuat onar." ucap sang pengasuh, lalu membawa nenek keluar.


Lalu si pengasuh berbicara dengan Seo Ri.

"Dia sangat bersemangat karena dia tidak tahu apa-apa. Aku telah mengunjungi banyak pusat rehabilitasi, dan itu umum untuk melihat orang tua ditinggalkan." ucap pengasuh.

Seo Ri pun kaget, "Ditinggalkan?"


Seo Ri termenung di toilet memikirkan kata-kata paman dan bibinya saat orang tuanya meninggal.

"Seo Ri-ya, mulai hari ini, pamanmu dan bibimu akan menjadi ayah dan ibumu. Paman akan melindungimu mulai sekarang." ucap pamannya.

"Seo Ri-ya, dia  akan menjadi saudara kecilmu mulai sekarang, jadi jagalah baik-baik." ucap sang bibi sambil memberikan Deok Goo pada Seo Ri.


Seo Ri juga ingat ketika paman dan bibinya datang memberikannya semangat saat ia melakukan pertunjukan biola.


Teringat semua itu, membuat Seo Ri tak yakin kalau ia dicampakkan oleh paman dan bibinya.


Sosok wanita bernama Jennifer berjalan dengan elegan. Ia menuju ke sebuah rumah dan tangannya menggendong kantong belanjaan. Di belakangnya, tampak Woo Jin yang berjalan mengikutinya.

Menyadari ada seseorang yang mengikutinya, Jennifer pun langsung melepaskan kacamata hitamnya. Lalu, ia melemparkan kacamata itu pada

Woo Jin dan memukul Woo Jin dengan daun bawang.


Seo Ri berjalan-jalan di sekitar taman rumah sakit. Saat bertemu perawat yang biasa mengurusnya, Seo Ri langsung memanggilnya tapi perawat itu kabur. Seo Ri pun jadi curiga, kalau perawat itu menyembunyikan sesuatu darinya.


Lalu tiba2, nenek yang kemarin mencoret-coreti wajahnya muncul dan memakaikan sweater ke tubuhnya.

"Kau terlihat cantik." puji nenek itu. Kemudian, nenek itu membuat Seo Ri terkejut dengan menunjuk2 ke arah depan Seo Ri.

Seo Ri terkejut dan langsung menatap ke depannya. Saat itulah, si nenek kabur.


Seo Ri kembali ke rumah sakit dan mendengar dua orang pria yang mengenakan baju pertunjukan tradisional tengah membicarakan Rumah Sakit Hyein.

"Rumah Sakit Hyein? Itu dekat rumahku." ucapnya.


Woo Jin sedang mengompres matanya yang sakit akibat pukulan Jennifer dengan handuk dingin. Jennifer berdiri di sampingnya dan mengucapkan permintaan maaf dengan kaku.

"Permintaan maaf adalah parfum yang indah.  Itu bisa mengubah saat yang paling tepat menjadi hadiah yang murah hati." ucap Jennifer.

"Apa?" tanya Woo Jin bingung.

"Aku minta maaf karena telah menyebabkan masalah karena kesalahpahaman ini. Kuharap,selanjutnya kita bisa bekerja sama Aku mengutip kata-kata novelis Margaret Lee Runbeck." jawab Jennifer.


Jennifer lalu memberitahu Woo Jin penyebab mata Woo Jin bisa perih.

"Alasan kenapa matamu terasa panas adalah karena diatil disulfida dalam bawang hijau. Ini mudah menguap jadi sengatannya akan segera...."

Woo Jin pun langsung memotong kata-kata Jennifer dengan mengatakan bahwa rasa perihnya sudah hilang.

Lalu, Woo Jin bangkit dari duduknya dan beranjak pergi tapi sebelum pergi, ia menyuruh Jennifer untuk mengurus keponakannya dengan baik.


Di depan RS Hyein, sebuah mobil perusahaan seni tradisional berhenti. Di dalamnya, Seo Ri ngumpet dibalik sebuah topeng besar. Ketika si sopir sudah pergi, membawa masuk barang-barang ke RS Hyein, Seo Ri pun turun dari dalam container mobil dan bergegas pergi.

Seo Ri berusaha menemukan rumahnya, tapi ia kebingungan melihat jalanan menuju ke rumahnya sudah banyak berubah.


Seorang gadis SMA tampak duduk di bangku taman. Lalu, Woo Jin mendadak muncul dan mengukur bangku taman. Sontak saja, si gadis SMA marah dan langsung memukuli Woo Jin. Ia menyebut Woo Jin sebagai si brengsek mesum. Seo Ri yang melihat kejadian itu, bergegas kabur karena mengira Woo Jin seorang pria mesum.

Tepat saat itu, Hee Soo datang motor gedenya dan langsung menyelamatkan Woo Jin. Ia berusaha menghentikan si gadis SMA yang masih bernafsu memukuli Woo Jin, tapi apa yang dilakukan Woo Jin? Dia malah pergi begitu saja seolah tidak terjadi apapun.


Hee Soo pun membawa Woo Jin ke sebuah kafe. Di sana ia mengomeli Woo Jin.

"Aku seorang desainer. Aku punya kebiasaan mengukur sesuatu karena aku membuat replikanya. Aku minta maaf karena membuatmu bingung. Setidaknya kau bisa mengatakan itu.  Tetapi kau terus mengukur barang bahkan pada saat itu. Bukankah itu membuatmu kesal ketika seseorang keliru memanggilmu sebagai pria cabul  setiap kali kau mengambil pita pengukur itu?" omel Hee Soo.

Tapi Woo Jin cuek bebek, membuat Hee Soo kesal setengah mati. Hee Soo lalu menyuruh Woo Jin ke salon serta menyuruh Woo Jin kembali bekerja besok, tapi Woo Jin malah melengos pergi.


Di jalanan, Woo Jin melihat selebaran anjing hilang.

Hilang Puppy, Nama: Yeolmae, Umur: 4 tahun. Begitulah bunyi selebaran itu.


Seo Ri akhirnya menemukan rumahnya. Ia pun bergegas memencet bel. Terdengarlah suara Jennifer.

"Siapa kau?" tanya Jennifer.

"Aku keponakan pemilik rumah. Apakah pamanku..." Belum selesai bicara, pintu gerbang rumahnya sudah terbuka.

Seo Ri hendak masuk ke rumahnya tapi Jennifer mendadak keluar.

"Sungguh indah bertemu seseorang yang baru. Bertemu orang baru itu indah dan menentukan. Seberapa hebatnya bertemu seseorang untuk pertama kalinya. Aku sangat senang bertemu denganmu. Jadi aku mengutip pepatah terkenal... berharap kita akan bergaul dengan baik." ucap

Jennifer.

"Kau siapa?" tanya Seo Ri.

"Saya pengurus rumah tangga. Saya mulai bekerja di sini hari ini. Pamanmu memberitahuku bahwa kau akan segera datang." jawab Jennifer.

Mendengar itu, Seo Ri pun senang. Ia tambah yakin, kalau pamannya tidak mungkin membuangnya.


Tapi begitu masuk ke dalam, Seo Ri kebingungan melihat suasana rumahnya yang sudah berubah.


Lalu, Deok Goo tiba2 keluar dari kandangnya dan menghampiri Seo Ri.

"Fang. Astaga, kau masih hidup. Aku sangat merindukanmu. Kau juga merindukanku,kan?" ucap Seo Ri senang melihat anjing peliharaannya.

Seo Ri pun merasa kalau rumah itu memang rumahnya karena ada Fang di sana.


"Ngomong-ngomong, kau terlihat sangat pucat. Wajahmu tampak sangat lelah. Apa kau sakit?" tanya Jennifer.

"Aku kira itu karena aku belum banyak bergerak dalam waktu begitu lama." jawab Seo Ri.

"Aku akan mengambilkan jus wortel. Itu bagus untuk mengontrol suhu tubuhmu." ucap Jennifer.


Tapi pas balik, ia mendapati Seo Ri sudah tertidur bersama Fang di lantai.

Melihat itu, Jennifer pun meregangkan otot-ototnya, lalu menggendong Seo Ri ke kamar.


Chan lagi keliaran di jalan dengan teman-temannya. Lagi asik-asiknya jalan, tiba-tiba saja sebuah sepeda yang terpakir di jalanan jatuh dan menimpa sepeda-sepada lainnya.

Melihat itu, Chan pun bergegas lari ke sepeda terakhir dan menjatuhkan dirinya ke tanah tepat sebelum sepeda itu jatuh. Ternyata oh ternyata,

Chan berusaha menyelamatkan seekor anak ayam yang nyaris tertimpa sepeda. Chan pun memutuskan memelihara anak ayam itu.


Woo Jin kembali ke rumah. Jennifer memberitahunya, bahwa keponakannya sudah datang.

"Dia jatuh tertidur, jadi saya memindahkannya ke kamar." ucap Jennifer.

"Dia pasti cukup berat." jawab Woo Jin kaget.

"Dia cukup ringan." ucap Jennifer. Jennifer lalu menanyakan berapa beda usia Woo Jin dan keponakannya. Woo Jin berkata, kalau beda usia mereka 11 tahun. Sontak, Jennifer kebingungan.


Lalu, Woo Jin pun berjalan ke kamar Chan.

"Chan-ah, Yoo Chan. Kita baru bertemu, tidakkah seharusnya kau menyapaku?" tanya Woo Jin, tapi Seo Ri diam saja.

Sementara Chan sendiri sudah berada di depan rumah, dia sedang berbicara di telepon dengan temannya. Begitu masuk ke dalam, Chan pun langsung pergi ke atas.

Woo Jin menyuruh Chan bangun, tapi karena Chan tidak mau bangun akhirnya Woo Jin berniat membangunkan Chan seperti dulu.


Woo Jin naik ke tempat tidur dan mencium Seo Ri yang dikiranya Chan. Tepat saat itu, Chan muncul. Dia menghidupkan lampu dan terkejut melihat yang dilakukan Woo Jin.


Seo Ri terbangun. Woo Jin terkejut melihat sosok Seo Ri. Seo Ri yang mengenal Woo Jin sebagai si brengsek mesum, lalu berteriak, sambil mengguncangkan kepala Woo Jin sebelum akhirnya dia mendorong tubuh Woo Jin ke lantai.


"Apa yang kalian lakukan di rumahku! Aku akan memanggil polisi!" teriak Seo Ri.

"Tidak, ini rumah kami." jawab Chan.


Tepat saat itu, Jennifer muncul.

"Siapa orang ini?" tanya Seo Ri.

"Siapa wanita ini?" tanya Chan.

"Saya keponakannya!" jawab Seo Ri. Dan Chan pun juga mengaku sebagai keponakannya.

"Siapa ajumma ini?" tanya Chan.

"Aku bukan ajumma!" protes Seo Ri.


Lalu kita mendengar narasi Woo Jin.

"Terkadang hal-hal yang sangat kecil dan sepele bisa mengubah hidup kita... dengan kekuatan yang lebih kuat dari yang kita pikirkan."

Teman2 Chan pun muncul dan terkejut melihat sosok Woo Jin.


Kita kembali mendengar narasi Woo Jin.

"Sama seperti dengan pertemuan yang tidak disengaja... di hari tak terduga dalam 30 tahun hidupku... membuat hidupku dan hidupnya bergetar hebat."

Bersambung........

No comments:

Post a Comment