Wednesday, July 25, 2018

Still 17 Ep 2 Part 1

Sebelumnya...


Woo Jin menatap kesal Deok Goo yang ada di pelukan Seo Ri.

Aku tidak mengerti apa yang terjadi." ucap Seo Ri bingung.

"Tapi dari kelalaian dan kesalahan, seseorang belajar untuk menjadi lebih bijaksana di masa depan oleh Plutarch. Saya seharusnya sudah teliti dan memeriksa jenis kelaminnya, umur, dan nama. Saya membuat kesalahan yang sangat tidak profesional." ucap Jennifer.

Tapi Seo Ri masih tetap yakin kalau itu rumahnya dan ia mengaku sebagai keponakan pemilik rumah.

"Orang tuaku membeli rumah ini 11 tahun yang lalu. Dan dia keponakan saya." jawab Woo Jin.


"Pasti ada yang salah. Ini Fang, dan aku dulu pemiliknya. Dan dia masih di sini, di rumah ini. Jadi mengapa di sini bukan rumahku?" ucap Seo Ri bingung.

"Kudengar pemilik sebelumnya menelantarkannya saat mereka pindah. Jadi orang tuaku mulai merawatnya dan sudah beberapa tahun

sejak aku mengambil alih merawatnya." jawab Woo Jin.

"Lalu dimana pamanku ... maksudku, di mana pemilik rumah yang sebelumnya?" tanya Seo Ri.

Aku dan pamanku tidak tinggal di Korea ketika kakekku pindah ke rumah ini." jawab Chan menjelaskan. Chan lalu bertanya, kenapa Seo Ri tidak berusaha menghubungi paman Seo Ri saja.

"Aku telah kehilangan kontak dengan mereka karena aku pergi begitu lama. Tapi nama pamanku Kim Hyun Gyu..." ucap Seo Ri, dan Woo Jin pun langsung memotong kalimatnya.

"Aku rasa, kami tidak bisa memberimu jawaban." ucap Woo Jin.

Chan pun berinisiatif menanyakan hal itu pada pamannya. Ia langsung menghubungi pamannya. Woo Jin tambah kesal.


Selesai bicara dengan pamannya, Chan memberitahu Seo Ri kalau pemilik rumah mereka sebelumnya meninggalkan barang-barang dan Deok Goo lalu pergi dengan terburu-buru dan kakeknya tidak tahu kemana mereka pergi. Chan lantas menyuruh Seo Ri ke kantor polisi.


Woo Jin lalu bangkit dari duduknya dan menyuruh Seo Ri pergi. Ia pun memanggil Deok Goo tapi Deok Goo langsung menyembunyikan kepalanya di ketek Seo Ri. Sontak, Woo Jin terkejut melihatnya.

Seo Ri pun bangkit dari duduknya. Tangisnya pecah.

Aku minta maaf karena membuat keributan." ucap Seo Ri.


Seo Ri lalu minta maaf pada anjing kecilnya.

"Fang, mian. Aku tidak melakukan apapun untukmu meskipun kau ikut denganku. Jangan sakit ya, baik-baik disini." ucap Seo Ri, lalu menyerahkan Deok Goo pada Woo Jin.


Woo Jin dan Chan pun iba melihat Seo Ri.


Habis dari rumah lamanya, Seo Ri pergi ke perusahaan pamannya tapi satpam yang menjaga gedung berkata, kalau perusahaan yang dicari Seo Ri sudah lama menghilang. Seo Ri pun semakin bingung.


Kemudian, ia pergi ke kantor polisi.

"Kim Hyun Gyu dan Gook Mi Hyun. 13 tahun yang lalu mereka tinggal di Hyein 3-dong 13. Tolong temukan di mana mereka sekarang. Dan teman-temanku juga. No Su Mi dan Kim Hyung Tae."  ucap Seo Ri.

Tapi polisi meminta KTP dan SIM Seo Ri. Seo Ri pun mengaku, kalau ia tidak bisa menyetir dan dirinya tidak punya KTP karena baru berumur 17 tahun.

"Berhentilah bermain-main, kau bukan 17 tahun." ucap si polisi.

"Ah, benar. Itu 13 tahun lalu. Kenapa aku selalu lupa." Seo Ri bicara sendiri sambil memukul kepalanya. Polisi pun menyangka Seo Ri gila. Karena Seo Ri tak bisa menunjukkan identitasnya, polisi pun tidak bisa membantu Seo Ri.


Seo Ri lalu pergi ke lingkungan tempat tinggal Su Mi dan Hyung Tae. Dan ia pun semakin bingung karena lingkungan perumahan Su Mi dan Hyung Tae sudah berubah menjadi gedung-gedung tinggi.

Episode 2, Hantu Elegan


Chan lagi menikmati kue dengan kedua temannya. Tak lama kemudian, Woo Jin pun datang.

"Tuan Gong. Kau habis darimana?" tanya Chan.

"Aku pergi membeli makanan Deok Goo." jawab Woo Jin.

Kedua teman Chan langsung berdiri.

"Aku lupa memperkenalkan mereka kepadamu. Ini pamanku, Tuan Gong  dan mereka..."

"Temanmu... dan pelatih." jawab Woo Jin sambil melirik teman Chan yang bertubuh gemuk.

"Tentu saja itu tidak mungkin, Paman." protes teman Chan.

"Dia terlihat seperti seorang pelatih, tapi dia temanku, Han Deok Soo. Dan ini adalah... Dong Hae Bum, yang tiba-tiba menjadi kaya karena pemugaran. Mereka temanku dari klub dayung sekolah." ucap Chan.

"Saya sudah mendengar banyak tentang Paman dari Chan. Biarkan saya memperkenalkan diri." jawab Hae Bum dengan sopan.

"Tidak perlu. Nikmati saja kue nya dan bersenang-senanglah." ucap Woo Jin.


Woo Jin lalu memberik Deok Goo makan tapi Deok Goo tidak mau makan.


"Ngomong-ngomong, pamanmu punya gaya rambut yang tidak biasa." ucap Hae Bum.

"Apa pekerjaannya menggali tanaman herbal di gunung?" tanya Deok Soo.

"Herbal apaan. Itu karena dia mempunyai gaya hidup minimalis. Sekarang ini musim liburnya, jadi penampilannya agak berantakan. Tapi ketika di musim kerja, penampilanya begitu hot". jawab Chan.

"Itu keren, aku mau hidup seperti dia." ucap Hae Bum.

"Aku tidak mau dia hidup seperti itu." gumam Chan sedih.


Seo Ri keliaran di jalan. Ketika geng motor datang, Seo Ri ketakutan dan tidak sengaja menabrak seorang pria tua. Pria tua itu mengajaknya minum. Sontak, Seo Ri langsung teriak kalau dia masih dibawah umur dan bergegas pergi.


Saat ia berjalan sendirian, seorang pria berhoodie hitam mengikutinya. Seo Ri melihat pria itu berusaha mengeluarkan sesuatu dari dalam jaket. Mengira pria itu orang jahat dan akan mengambil pisau, Seo Ro pun langsung lari dan berteriak minta tolong.

Ternyata, pria itu hanya lah pria biasa. Yang dia keluarkan dari jaketnya, bukanlah pisau tapi makanan.


Hujan turun sangat deras. Deok Goo melonglong dan terus menatap keluar jendela. Woo Jin dan Chan pun kebingungan melihat Deok Goo.

Lalu, Jennifer tiba-tiba saja muncul dan membuat penjelaskan kenapa Deok Goo melonglong

"Anjing tidak menggonggong tanpa alasan. Ketika mereka menggonggong, mereka merasa waspada atau mereka butuh sesuatu ... atau mereka mengekspresikan stres. Ketika mereka merintih, mereka merasa cemas atau tidak nyaman. Ketika mereka... melolong seperti serigala, mereka sedang menunggu anggota keluarga yang belum kembali, dan mereka mengirim sinyal agar mereka tahu di mana keluarganya berada." ucap Jennifer.

"Luar biasa. Dia seperti Wikipedia manusia." puji Chan.

"Tapi anggota keluarganya ada di sini." jawab Woo Jin.

"Mungkin dia mencari wanita itu. Pemilik asli Deok Goo." ucap Chan.

"Hentikan omong kosongmu dan pergilah tidur." sewot Woo Jin.


Woo Jin pun menggendong Deok Goo. Ia berusaha menenangkan Deok Goo yang terus menatap ke jendela.


Sementara, Seo Ri berteduh di dalam terowongan anak-anak.

"Eomma, aku takut." ucapnya dengan suara bergetar.


Lalu, Seo Ri teringat masa lalunya. Saat sang ibu mengantarnya ke sekolah, Seo Ri mengaku bahwa ia mulai bosan dengan biola.

"Aku ingin memainkannya sesuai dengan apa yang saya rasakan, tapi mereka bilang permainan ku salah. Mereka bilang, jika aku tidak mengikuti lembaran musik, aku tidak akan bisa pergi ke sekolah seni." ucap Seo Ri.

Sang ibu pun menyetel musik.

"Kenapa ibu menyetel musik? Aku butuh saran ibu." ucap Seo Ri.

"Inilah yang seharusnya kau dengarkan pada saat seperti ini. Cukup dengan jangan melanjutkan sekolah saja ke sekolah menengah seni, bukan?" jawab sang ibu.

"Kau tahu itu akan memberi saya keuntungan untuk pergi ke luar negeri." ucap Seo Ri.

"Pada tingkat ini, kau akan bosan dengan itu semua bahkan sebelum kau pergi ke luar negeri." jawab ibunya lagi. Seo Ri pun merasa ibunya benar.

Flashback end...


Tangis Seo Ri pun pecah.


Keesokan harinya, Seo Ri terbangun karena mendengar alunan musik yang bersumber dari pengangkut sampah. Ia masih ingat dengan jelas nama instrumennya.


Perlahan, Seo Ri bangkit, berusaha menegakkan badannya yang kaku karena semalaman tidur di tempat yang sempit. Tanpa dia sadari, tangannya yang kotor mengelap wajahnya saat ia bersin dan itu membuat wajahnya jadi kotor.


Jennifer kaget melihat penampilan Woo Jin yang baru. Ia bahkan sampai mau memukul Woo Jin dengan kain pel karena tidak mengenali Woo Jin.  Woo Jin pun protes karena Jennifer selalu mau memukulinya saat mereka bertemu.


Jennifer pun mengutip kalimat Idries Shah.

"Jangan menilai seseorang dari penampilan mereka. Kesan pertama itu penting, tetapi dibandingkan dengan pentingnya," Akurasinya tidak dapat dipercaya."

Tapi Woo Jin tidak mendengarkannya dan malah sibuk teleponan dengan dokter hewan membahas Deok Goo yang semalaman tidak mau makan.


Saat Woo Jin mau pergi, Jennifer menanyakan kunci gudang kebun. Ia mengaku, mau membersihkannya tapi gudang itu selalu tertutup. Woo Jin pun melarang Jennifer membukanya. Ia berkata, Jennifer tidak perlu membersihkan gudang itu.

*Feelingku, ada identitas Seo Ri dalam gudang itu.


Setelah diperiksa, dokter pun menjelaskan kalau Deok Goo seperti itu karena usianya yang sudah tua hingga kekebalan tubuhnya lemah. Dokter kemudian menyarankan, agar Deok Goo dirawat dan diinfus.


Sebelum pergi, Woo Jin juga menyempatkan dirinya membeli begitu banyak makanan anjing.


Begitu keluar, dia melihat tanaman yang kering kerontang. Woo Jin yang hendak minum pun menyirami tanaman itu terlebih dahulu sebelum meminum airnya.


Ketika hendak pergi, seorang ajusshi menyapanya. Woo Jin tampak tidak mengenali ajusshi itu. Entah siapa ajusshi itu, dia berbasa basi mengajak Woo Jin bertemu lagi tapi setelah Woo Jin menjauh, dia bergumam mengatakan kalau mereka sebaiknya tidak usah bertemu lagi.


Seo Ri yang sudah berjalan cukup jauh, mulai merasa kelaparan lalu dia melihat seorang wanita tengah membeli sundae di pinggir jalan yang membuatnya ngiler setengah mati.


Tiba2, seorang ajumma relawan menghampirinya dan mengajaknya makan di stan mereka. Seo Ri pun pergi ke sana sambil berkata, kalau dia bukan gelandangan.


Antrian lumayan panjang, lalu muncul lah ajusshi gelandangan yang minta izin berbaris di depan Seo Ri karena dia sudah tak kuat menahan lapar. Seo Ri yang baik hati pun mengizinkannya.


Tapi saat tiba pada giliran Seo Ri, Seo Ri malah kehabisan nasi. Ternyata, ajusshi yang meminta berbaris di depannya tadi mengambil nasi terlalu banyak.

Kasihan pada Seo Ri, ajumma relawan yang bertugas pun memberikan Seo Ri sebungkus chocho pie.


Seo Ri lalu mampir ke toilet. Dan disana, ia menyadari penampilannya yang acak-acakan sehingga membuat dirinya disangka gelandangan.


Setelah membersihkan dirinya, Seo Ri pun memutuskan memakan cookie nya nanti tapi karena perutnya sudah keroncongan, akhirnya ia mencari tempat tidur dan mulai memakan cookienya.


Tapi tepat saat ia memasukkan cookie itu ke mulutnya, ada banner yang jatuh di dekatnya.

Seo Ri pun meletakkan cookie nya di kursi dan bergegas membenarkan posisi banner itu.


Tepat saat itu, Woo Jin datang. Dia mengukur bangku tempat Seo Ri meninggalkan cookie nya, lalu tanpa sengaja menduduki cookie Seo Ri.


Seo Ri pun kembali dan kebingungan mencari cookie nya. Ia pun bertanya pada Woo Jin yang kini tidak dikenalinya karena penampilan baru Woo Jin. Woo Jin mengaku tidak tahu, tapi Seo Ri tidak percaya dan meminta Woo Jin mengaku jika Woo Jin memang memakan cookie nya.

"Mengapa aku harus makan sesuatu yang kutemukan di jalanan?" jawab Woo Jin.

Woo Jin pun menoleh dan ia terkejut melihat Seo Ri.

"Jika orang dewasa mengatakan dia tidak memakannya, dia pasti mengatakan yang sebenarnya.  Maaf sudah mengganggumu saat kita baru bertemu." ucap Seo Ri.

Woo Jin pun mau menjelaskan kalau mereka sudah pernah bertemu tapi tidak jadi.


Woo Jin lalu berdiri dan saat itulah, Seo Ri menemukan choco pie nya yang ternyata diduduki Woo Jin.

Sementara itu, bekas lelehan chocho pie menempel di bagian belakang celana Woo Jin. Orang-orang yang melihat, mengira bekas lelehan itu sebagai kotoran.


Seo Ri pun sangat sedih karena satu-satunya makanan yang bisa ia makan sudah hancur. Woo Jin minta maaf karena sudah menduduki choco pie Seo Ri. Ia berniat menggantinya, tapi Seo Ri tidak mau menerima uang Woo Jin dan menyuruh Woo Jin membelikan choco pie yang baru untuknya.


Dalam perjalanan menuju warung terdekat, orang-orang mengira Woo Jin BAB di celana. Seo Ri pun memberitahu Woo Jin tapi Woo Jin tidak peduli. Seo Ri yang baik hati pun akhirnya melepaskan sweaternya dan memasangkanya untuk menutupi bekas lelehan di celana Woo Jin.


Saat Woo Jin tengah membeli choco pie untuk mengganti choco pie Seo Ri, Seo Ri malah mengejar ajumma yang tak sengaja menjatuhkan uangnya di jalanan. Melihat itu, Woo Jin teriak memanggil Seo Ri tapi Seo Ri sudah keburu jauh.


Singkat cerita, Seo Ri berhasil menyusul si ajumma meski dengan nafas terengah-engah. Si ajumma berkata, kalau Seo Ri harusnya tidak perlu repot2 mengejarnya. Ajumma itu lalu mengambil uangnya dan pergi meninggalkan Seo Ri begitu saja.

Ditinggal sendirian membuat Seo Ri bingung darimana tadi ia masuk dan ia harus keluar lewat mana.


Chan lagi latihan bersama rekan atlet lainnya. Saat semuanya sudah kelelahan, tapi dia masih terlihat bersemangat. Dia bahkan sanggup melanjutkan latihannya sendiri.

"Hei, kau harus membedah otaknya. Pasti ada baterai di otaknya." komentar Deok Soo.


Usai latihan, Chan berjalan pulang-pulang dengan teman-temannya. Lalu seorang siswi yang tadi mengira Woo Jin BAB di celana menghampiri Chan. Dia protes karena Chan tidak membalas chat nya atau pun menjawab teleponnya.

"Maafkan aku. Aku sedang berlatih. Aku membaca SMSmu di malam hari, tetapi aku tidak ingin membangunkanmu, jadi aku tidak membalasnya." jawab Chan.

Mendengar jawaban Chan, siswi itu langsung sumringah.

"Astaga, Chan. Kau mengkhawatirkanku di jam itu? "

"Kau punya cara sendiri dalam menafsirkan sesuatu." komentar Deok Soo. Tapi siswi itu tidak peduli.

Ha Beom lalu memberitahu siswi itu kalau Chan tinggal dengan pamannya. Mendengar itu, si siswi langsung berpikir kalau ia harus mengenalkan dirinya pada paman Chan yang ia sebut sebagai calon paman mertua.


Chan lalu menawari siswi itu roti, tapi siswi itu menolak dan mengaku bahwa ia sudah kehilangan selera makan gara-gara melihat ada orang yang BAB di celana.


Woo Jin tiba di kantornya dan dia bertemu seorang pria yang berdandan hip hop. Tapi Woo Jin bereaksi seakan dia tak mengenal pria itu. Dia bahkan juga salah menyebut nama pria hip hop itu.

Tapi sesaat kemudian Woo Jin mengatakan kalau ia hanya bercanda.

"Bagaimana bisa kau bercanda tapi ekspresimu datar begitu." protes Jin Hyun.

Hyun lalu menanyakan soal sweater pink yang dipakai Woo Jin. Woo Jin pun membukanya dan menunjukkan 'kotoran' di celananya.

Terkejut lah Hyun. "Kau buang air besar?" tanyanya.


Seo Ri sendiri masih berkelana mencari keluarganya, hingga akhirnya ia sampai di tempat laundry yang pemiliknya tinggal di sana sejak dulu.

Awalnya si pemilik tak mengenali Seo Ri, begitu pun Seo Ri tapi setelah cerita, akhirnya si pemilik mengenali Seo Ri, tapi si pemilik juga tidak tahu keberadaan paman dan bibi Seo Ri.


Woo Jin bertemu dengan salah seorang klien yang minta dibuatkan rancangan dekorasi sesuai skenario. Dibantu alunan musik, Woo Jin pun berhasil menyelesaikan rancangannya dalam waktu cepat. Si klien pun puas dengan hasilnya.


Mereka berjalan keluar bersama. Si klien wanita yang sepertinya tertarik pada Woo Jin, mengajak Woo Jin makan malam tapi Woo Jin menolak.

Setelah ditolak berkali2, wanita itu tidak menyerah. Saat ia tahu, bahwa ia dan Woo Jin tinggal di lingkungan yang sama, ia pun dengan sengaja mengatakan bahwa dirinya tak membawa kendaraan. Tapi Woo Jin yang tidak peka, hanya menyuruh wanita itu berhati-hati saja.

Meski tak ditawari tumpangan, wanita itu mengira bahwa Woo Jin akan memberinya tumpangan tapi baru juga memegang gagang pintu, Woo Jin pun keburu melajukan mobilnya.


Sontak si wanita itu kesal. Tepat saat itu, Hee Soo muncul dan langsung mengajak si wanita makan untuk meredakan kemarahannya.

Hee Soo juga kesal karena Woo Jin yang sangat tidak peka.


Di sebuah aula konser, ada seorang pemain biola yang sangat terkenal yang tengah diwawancara. Namanya Kim Tae Rin.

Setelah si reporter bertanya soal konser dan lain sebagainya, ia pun bertanya sosok yang dianggap rival oleh Tae Rin.


Sontak, Tae Rin teringat masa lalunya. Tepatnya dia mengingat sosok Seo Ri. Meski Seo Ri yang memenangkan perlombaan, tapi yang diajak berkolaborasi dengan maestro terkenal malah Seo Ri dan itu membuatnya sangat kesal.


Lalu kepada reporter, Tae Rin menjelaskan bahwa ia memainkan biola karena ia menyukai musik bukan karena ia ingin menjadi lebih baik dari orang lain.


Seo Ri duduk di sebuah halte yang disampingnya ada banner Kim Tae Rin.


Di jalan, mobil Woo Jin berhenti karena lampu merah. Deok Goo yang melihat Seo Ri, sontak berdiri di dekat kaca mobil.

Banner Tae Rin mengingatkan Seo Ri pada pertemuan terakhirnya dengan bibinya.


Seo Ri dengan wajah ceria pamit pada sang bibi. Dia berlari menggendong biolanya.


Woo Jin yang tidak menyadari ada Seo Ri di sana, menyuruh Deok Goo duduk dan melanjutkan perjalanannya.


Sekarang, Seo Ri sudah kembali berada di depan rumah lamanya. Kebetulan, ada beberapa pengantar makanan yang baru masuk jadi pintu gerbangnya masih terbuka lebar. Alhasil, Seo Ri pun langsung masuk ke dalam.


Bersambung ke part 2........

No comments:

Post a Comment