Tuesday, July 31, 2018

Still 17 Ep 3 Part 1

Sebelumnya...


Seseorang memencet bel rumah Woo Jin. Chan dan Seo Ri yang mendengar bunyi bel, bergegas pintu.

"Nuguse-yo?" tanya Chan sambil melihat ke layar intercom nya. Tapi dia tidak melihat siapa pun.

"Mwoya?" ucap Chan heran, lalu bertanya lagi. "Nuguse-yo?"

Deok Soo dan Hae Beom pun muncul di layar.

"Hey, you! Ini kita, Chan!" seru Deok Soo.

Mereka lalu menyuruh Chan keluar, tapi Chan menyuruh mereka masuk.


Saat mereka hendak masuk, Hyeong Tae memanggil mereka.

"Adakah yang datang ke rumah ini? Bukankah seorang wanita berusia 30-an datang ke sini?" tanya Hyeong Tae.

"Apakah dia berbicara tentang wanita itu? Kamu tahu, wanita dengan mental yang terguncang." bisik Deok Soo pada Hae Beom.

Lalu, Deok Soo memberitahu Hyeong Tae kalau wanita yang dicari Hyeong Tae datang ke sana  karena berpikir bahwa itu adalah rumahnya. Hyeong Tae pun membenarkan dan memberitahu mereka kalau itu dulunya rumah Seo Ri.


"Tapi dia pergi tadi malam setelah menyadari itu bukan rumahnya." ucap Hae Beom.

"Apakah kau tahu ke mana dia pergi? Apakah dia mengatakan ke mana dia akan pergi?" tanya Hyeong Tae.

"Entahlah." Deok Soo menggeleng.

Hyeong Tae lantas memberikan kartu namanya pada Deok Soo dan meminta mereka menghubunginya jika Seo Ri datang. Deok Soo mengangguk dan mengambil kartu nama Hyeong Tae. Setelah itu, Hyeong Tae bergegas pergi.

Mereka pun membaca kartu nama Hyeong Tae dan terkejut mengetahui Hyeong Tae dokter bedah saraf.

"Mengapa seorang dokter mencarinya?" tanya Deok Soo.

"Dia tahu ini bukan rumahnya, jadi dia tidak akan kembali." jawab Hae Beom.

"Tetap saja, aku harus menyimpannya." ucap Deok Soo, lalu menyimpan kartu nama Hyeong Tae di saku celananya.


Tak lama kemudian, mereka mendengar suara speaker gerobak makanan. Mereka berseru senang dan langsung berlari mendekati si gerobak makanan.

Woo Jin melajukan mobilnya sambil memikirkan Seo Ri yang akan tinggal di rumahnya selama sebulan.


Deok Soo dan Hae Beom berlari masuk ke rumah sambil berteriak memanggil Chan. Dan, mereka pun terkejut melihat sosok Seo Ri di sana.

Deok Soo kemudian memberitahu Seo Ri kalau ada pria yang mencari Seo Ri. Chan pun berpikir, pria yang mencari Seo Ri itu adalah paman Seo Ri.

Deok Soo lantas merogoh saku celananya, mau mengambil kartu nama Hyeong Tae. Namun, ia terkejut karena kartu nama Hyeong Tae tidak ada di sakunya.

"Aku bersumpah aku menyimpannya di sakuku. Kemana perginya?" tanya Deok Soo heran.

Deok Soo berusaha mengingat-ingat. Ternyata, kartu nama Hyeong Tae ikut terbawa ketika ia membayar makanannya.

Sontak, Chan langsung menendang pantat Deok Soo. Ia marah karena Deok Soo menghilangkan kartu nama itu.

"Apa pamanmu seorang dokter?" tanya Deok Soo.

"Itu kartu nama rumah sakit!" seru Hae Beom.

"Rumah sakit mana?" tanya Chan.

"Kami akan pergi dan menemukannya." ucap Deok Soo. Tapi dilarang Seo Ri.

Seo Ri mengaku, bahwa ia tahu kenapa rumah sakit mencarinya. Ia juga berkata, bahwa ia tidak akan pernah lagi kembali ke rumah sakit.

Tentu saja, jawaban Seo Ri membuat ketiga sekawan itu heran. Lalu, Seo Ri minta izin Chan menggunakan internet.


Chan pun memberikan ponselnya.

"Yang kubutuhkan internet, bukan teleponmu." ucap Seo Ri.

"Maka dari itu... ini gunakan internetnya." jawab Chan.

Seo Ri pun kebingungan.


(Episode 5, Lands of the Unknown)

Sekarang, Seo Ri duduk di lantai atas. Ia meminjam laptop Chan dan mencari informasi soal perusahaan pamannya. Lalu, Seo Ri teringat kata-kata satpam penjaga gedung, kalau perusahaan yang Seo Ri cari sudah lama menghilang. Setelah itu, Seo Ri teringat pada hari kecelakaannya.


Flashback...

(Agustus 2005, hari kecelakaan)

Sebelum kecelakaan itu terjadi, Seo Ri sedang menunggu bus di pinggir jalan. Lalu, ia tak sengaja melihat mobil pamannya melintas. Melihat pamannya, Seo Ri langsung menghubungi bibinya dan bertanya, apakah sang paman sudah kembali ke Korea.

"Apa yang kau bicarakan? Dia sedang dalam perjalanan bisnis. Kita bahkan menelepon Jepang pagi ini untuk berbicara dengannya, ingat?" jawab bibinya sambil menyiram tanaman.

Flashback end.


"Jika itu benar-benar Paman, maka itu berarti dia berbohong kepada kita." ucap Seo Ri sambil berpikir.


Di kantor, Woo Jin lagi bicara dengan ayahnya di telepon. Woo Jin bilang, kalau si pembeli rumah mereka bisa menunggu mereka selama sebulan.

Woo Jin juga berkata kalau sang ayah tidak perlu khawatir.

Kemudian Hee Soo datang. Ia yang mendengar pembicaraan Woo Jin  pun bertanya, apa yang sedang dikhawatirkan dan menunggu sebulan untuk apa.

"Aku tidak yakin. aku harap ini bukan apa-apa, tapi aku pikir itu mungkin sesuatu. Aku hanya berdoa bahwa itu bukan apa-apa." jawab Woo Jin.

Mendengar jawaban aneh Woo Jin, Hyun pun bertanya apa Hee Soo apa Hee Soo paham dengan omongan Woo Jin barusan.

Aku telah mengenalnya selama 10 tahun sejak kita berada di Jerman dan aku masih tidak mengerti tentang dia." jawab Hee Soo.

Woo Jin pun bergumam, satu bulan... Lalu tiba-tiba, alarm pengingat di ponselnya berbunyi kalau sudah waktunya memberi Deok Goo obat. Woo Jin pun langsung berdiri dan bergegas pulang.

"Kita ada rapat!" seru Hee Soo.

"Aku akan cepat. Ini akan kurang dari 30 menit." jawab Woo Jin.

Kesal, Hee Soo pun menyuruh Hyun mengambilkan soju untuknya.


Sampai di rumah, dia melihat Deok Goo sedang bermain bersama Seo Ri. Melihat Seo Ri, Woo Jin pun salah tingkah. Ia berdehem kemudian.

Mendengar deheman Woo Jin, Seo Ri langsung bangkit dan bertanya kenapa Woo Jin sudah pulang. Woo Jin hanya berkata, kalau ia memiliki keperluan. Seo Ri pun berterima kasih karena Woo Jin sudah mengizinkannya tinggal di rumah itu.


Lalu, Woo Jin duduk dan memberikan Deok Goo suplemen. Tapi Deok Goo nya malah buang angin. Woo Jin pun kebauan.

"Apakah dia akhirnya mencerna makanannya?" ucap Seo Ri.

"Mencerna apa?" tanya Woo Jin.

"Uri Fang baru saja makan banyak makanan." jawab Seo Ri.

"Dia makan sangat sedikit. Berapa banyak yang dia makan?" tanya Woo Jin.

"Dia punya dada ayam, tuna, paprika, mentimun, dan leher bebek." jawab Seo Ri.

"Leher bebek?" tanya Woo Jin.

"Juga dendeng dan..."

"Sudah cukup!" Woo Jin menyuruh Seo Ri diam.

"... masih ada lagi." jawab Seo Ri.

"Aku bilang sudah cukup." ucap Woo Jin.

Seo Ri pun langsung diam.


Woo Jin lantas meletakkan Deok Goo di tempat tidurnya Deok Goo. Lalu setelah itu, Woo Jin berdiri. Ia berjalan dan... lututnya membentur pot bunga karena ia jalan tanpa melihat-lihat kalau ada pot bunga di depannya.

"Ini, kenapa ada di sini?" tanya Woo Jin.

"Itu layu, jadi aku memindahkannya. Ketika aku tinggal di sini, ini adalah tempat yang bisa menghidupkan kembali tanaman. Ini adalah tempat untuk mendapat sinar matahari paling banyak, dan jika kau membuka jendela, ventilasi akan baik. Ini adalah titik emas." jawab Seo Ri.

"Biarkan saja di tempatnya. Ini yang semua orang lakukan." ucap Woo Jin.

"Aku tinggal disini untuk waktu yang lama, jadi aku tahu. Jika kau meninggalkannya disini selama beberapa hari, tanaman yang layu akan mendapat daun baru." jawab Seo Ri.

Seo Ri masih mau mengoceh soal tanaman tapi melihat tatapan Woo Jin, ia pun langsung berhenti bicara dan bergegas mengembalikan tanaman itu ke tempat semula.


Woo Jin lalu masuk ke dapur. Ia mengambil segelas air, kemudian minum sambil menatap Deok Goo yang lagi main sama Seo Ri dengan tatapan sebal.

Selesai minum, Woo Jin pun lewat di tengah-tengah Deok Goo dan Seo Ri kemudian pergi.


Begitu Woo Jin pergi, Seo Ri pun kembali memindahkan pot itu tapi Woo Jin tiba-tiba masuk lagi dan Seo Ri pun kembali memindahkan potnya ke tempat semula.

Setelah memastikan Woo Jin benar-benar pergi, Seo Ri kembali menarik pot itu ke depan jendela agar bisa terkena sinar matahari.

"Kenapa Deok Goo buang angin di depan wajahku?" tanya Woo Jin kesal. Lalu Woo Jin berkata, tidak apa-apa karena Seo Ri hanya tinggal sebulan.

"Kenapa dia terus menggerakkan tanaman?" ucap Woo Jin lagi, lalu ia kembali berkata kalau tidak masalah karena Seo Ri hanya tinggal sebulan di tempatnya.

Lalu Woo Jin pun masuk ke dalam mobilnya.


Tiga sekawan sedang membahas Seo Ri yang tidak mau kembali ke rumah sakit. Deok Soo yakin, kalau Seo Ri pasien yang kabur dari rumah sakit.

Chan pun cemas dan mengingat pembicaraannya dengan Seo Ri tadi.


Flashback...

Seo Ri berterima kasih karena Chan sudah meminjamkan laptop padanya. Seo Ri kemudian menjelaskan, kalau ia belum pernah menggunakan internet dengan ponsel sebelumnya. Lalu, Chan bertanya kenapa rumah sakit mencari Seo Ri. Seo Ri pun berkata, bahwa dirinya tinggal di rumah sakit untuk waktu yang lama.

"Kau mengatakan kau kehilangan kontak dengan paman mu saat kau pergi. Apakah kau di rumah sakit saat itu?" tanya Chan.

Seo Ri pun mengangguk dan meminta Chan tidak memberitahu pihak rumah sakit kalau ia ada di rumah itu jika pihak rumah sakit datang lagi.

Flashback end...


"Aku ingin tahu apa yang membuatnya dirawat di rumah sakit. Apakah dia baik-baik saja sekarang?" gumam Chan.

Deok Soo dan Hae Beom sibuk membicarakan Ri Ri yang batang hidungnya belum kelihatan. Deok Soo bilang, kalau Ri Ri ribut soal pamannya Chan.


Di kelas, Ri Ri yang sudah memakai wig, menanyakan penampilan nya pada temannya. Ia bertanya, apakah dirinya sudah terlihat seperti orang lain.

"Tidak. Kau benar-benar terlihat sepertimu. Kau terlihat seperti Ri An yang memakai wig." jawab temannya.


Seo Ri membawa biolanya ke toko biola untuk diperbaiki. Si pemilik toko bilang, akan sulit memperbaiki biola Seo Ri karena sudah rusak parah. Ditambah, Seo Ri juga harus membayar biaya perbaikan sebanyak 2000 dollar. Mendengar itu, Seo Ri pun mengambil kembali biolanya.

Saat mau pergi, si pemilik toko berkata, mau sehebat apapun manusia atau alat musik, jika sudah lama tidak terpakai, tidak akan ada gunanya.


Seo Ri kembali ke rumah. Ia terus berjalan sambil memeluk biolanya dan melamun memikirkan biaya perbaikan biolanya.

Seo Ri masuk ke kamar Woo Jin dan berbaring kasur. Tak lama, ia ingat kalau itu bukan kamarnya lagi dan bergegas keluar.


Seo Ri sedang jongkok di depan rumah ketika Chan pulang. Chan pun memanggil Seo Ri. Seo Ri menoleh dan langsung berdiri tapi kakinya mendadak kram, membuat ia terjatuh.

Melihat Seo Ri jatuh, Chan pun panic dan bergegas membantu Seo Ri. Ia menyuruh Seo Ri naik ke punggungnya agar ia bisa membawa Seo Ri ke rumah sakit.

"Jangan sentuh aku. Kakiku kram." jawab Seo Ri, sambil menjilati tangannya dan menempelnya di hidung.

Mendengan Seo Ri hanya kram, Chan pun lega. Seo Ri lantas meminjam laptop Chan.


Seo Ri membuat resume nya. Tak lama, Chan datang memberikan Seo Ri daftar beberapa pekerjaan mengajar biola. Chan kemudian bingung, karena Seo Ri tidak memiliki ponsel. Ia bilang, Seo Ri bisa memakai nomornya tapi ia tidak bisa menjawab teleponnya selama latihan.

Lalu tiba-tiba, Jennifer muncul dan memberikan nomornya pada Seo Ri. Seo Ri pun berterima kasih dan menuliskan nomor Jennifer di resumenya.

Chan pun memuji Seo Ri sebagai sosok jenius karena Seo Ri bisa ingat nomor Jennifer, padahal tadi Jennifer mengucapkannya hanya sekali.

Chan lalu melihat resume Seo Ri.

"Aku tahu ini adalah resume-mu, tetapi itu cukup kosong." ucap Chan. Chan kemudian bertanya, apakah Seo Ri pernah memenangkan hadiah kompetisi.

"Tidak. Kau seharusnya bermain dengan skor ketika kau berada dalam kompetisi  tapi aku cenderung berimprovisasi." jawab Seo Ri.


Chan pun kembali membaca resume Seo Ri. Ia terkejut membaca latar belakang pendidikan Seo Ri.

"Apa? Jerman? Aku lahir di Jerman. Pamanku juga lulus sekolah menengah dan universitas di Jerman." ucap Chan.

"Aku diterima di sekolah musik di Berlin." jawab Seo Ri.

"Kalau dipikir-pikir itu, aku pikir... aku telah mendengar tentang sekolah ini." ucap Chan.

"Kebetulan, apakah kau tinggal di dekat Gendarmenmarkt? Tempat di mana Konzerthaus Berlin berada?" tanya Seo Ri.

"Aku tidak ingat nama-nama itu. Tapi kita tinggal di dekat plaza yang sangat besar. Aku datang ke Korea ketika aku berumur 10 tahun, jadi aku tidak ingat banyak. Ada sesuatu yang aku ingat dengan sangat jelas. Disana ada... sebuah hot dog yang sangat lezat di dekat rumah kita." jawab Chan.

Mendengar itu, Seo Ri pun kecewa.


Woo Jin pulang dan Seo Ri langsung menyambutnya. Seo Ri mengoceh soal mereka yang pernah tinggal di Jerman. Seo Ri  dengan semangatnya cerita kalau ia hampir pergi ke Berlin karena diterima di sekolah musik di sana. Seo Ri juga mengatakan soal impiannya menonton konser di Konzerthaus Berlin dan bertanya apakah Woo Jin bisa bahasa Jerman serta alasan Woo Jin pergi ke Jerman.

"Apakah kau anak kecil?" tanya Woo Jin kesal.

Seo Ri pun kebingungan dengan pertanyaan Woo Jin.

"Fakta bahwa aku tidak merespon  berarti aku ingin kau berhenti bicara. Apakah sulit bagimu untuk mengerti? Aku benar-benar bersyukur kau menyelamatkan hidup Deok Goo tapi aku tetap ingin kau menepati janjimu dan tetap diam di kamar di bawah tangga." ucap Woo Jin.


Seo Ri pun terdiam. Chan yang juga melihat Seo Ri dimarahi, tidak enak pada Seo Ri. Setelah Woo Jin masuk ke kamar, Chan mendekati Seo Ri. Seo Ri pun menjelaskan kalau ia hanya bersemangat karena fakta bahwa dulu Woo Jin pernah tinggal di Jerman.

"Aku pasti mengganggunya." ucap Seo Ri.

"Itu karena pamanku tidak suka berbicara dengan siapa pun." jawab Woo Jin.

Seo Ri pun tidak berkata apa-apa lagi. Dia langsung pergi dengan wajah sedih.

"Dia tidak seharusnya seperti itu." ucap Chan.


Chan lantas melihat pamannya. Setelah melihat pamannya, ia pun berkata kalau dulunya pamannya tidak seperti itu.


Di kamarnya, Woo Jin berbaring memikirkan yang terjadi padanya setelah kecelakaan itu.


Flashback...

Setelah kecelakaan itu, Woo Jin mengurung diri di kamarnya dan tidak mau berbicara dengan siapa pun. Ia menangis sambil menatap lonceng milik

Seo Ri dengan perasaan bersalah.

Flashback end...


Keesokan harinya, Jennifer mencincang daging dengan wajah seriusnya seperti biasa.

Lalu, Seo Ri datang dan pamit karena mau mencari pekerjaan. Tapi Jennifer menyuruhnya berhenti.


Jennifer lantas membawa Seo Ri ke kamarnya.

"Time, Place, Occasion. Ini sopan santun dasar untuk berpakaian dengan benar ketika kau sedang mencari pekerjaan." ucap Jennifer.

Jennifer kemudian membuka lemarinya dan menyuruh Seo Ri memilih satu diantara semua pakaiannya yang terlihat sama.

"Tapi pakaianmu terlihat sama saja bagiku. Kenapa aku harus memilih?" tanya Seo Ri.

"No, no, no. Setiap potong pakaian berbeda. Ini memiliki perbedaan yang sangat halus." jawab Jennifer.


Seo Ri berjalan dengan anggunnya. Lagi asyik-asyiknya jalan, tiba-tiba saja sepatunya terlepas dari kakinya. Ia pun langsung loncat-loncat menuju sepatunya.


Setelah itu, ia pergi ke berbagai akademi biola namun dirinya ditolak karena ia hanya lulusan SMP dan tidak menguasai dasar-dasar biola.


Woo Jin lagi rapat dengan Hee Soo dan Hyun.

"Pop, jazz, klasik. Ini adalah festival tiga hari... dengan genre berbeda setiap hari. Kita membutuhkan desain panggung yang berbeda untuk setiap genre." ucap Hee Soo.

"Aku tidak suka bekerja terlalu keras." jawab Woo Jin.

"Jangan balas bicara! Aku adalah CEO nya!" ucap Hee Soo.

"Pokoknya, bisakah kita bertiga melakukan ini? Bukankah kita membutuhkan lebih banyak orang?" tanya Hyun.

"Woo Jin-ah, bagaimana menurutmu?" tanya Hee Soo.

"Kau yang putuskan." jawab Woo Jin.

"Aku tahu kau akan mengatakan itu. Kita  akan mengadakan pertemuan singkat dengan staf festival nanti. Itu tidak jauh. Itu dekat sini. Kita tidak akan membahas desain set apa pun secara detail." ucap Hee Soo.

"Aku tidak harus pergi, kan?" tanya Woo Jin.

"Kamu harus pergi. Jangan berani memblokir nomor mereka lagi. Aku akan mengusirmu jika kamu melakukan itu lagi." jawab Hee Soo.

"Jika mau melakukannya, kirim aku ke Kroasia." ucap Woo Jin enteng.

"Kroasia kepalamu!" balas Hee Soo kesal, lalu mau mengejar Woo Jin dengan botol plastic di tangannya.


Hyun pun langsung menjauhkan Woo Jin dari Hee Soo dengan menggeser kursi Woo Jin.


Seo Ri sedang di tes oleh pemilik akademi biola. Awalnya, ia bermain dengan baik tapi kemudian, permainannya menjadi kacau dan busur biola mendadak terlepas dari tangannya. Seo Ri sontak terkejut. Ia bingung dengan tangannya. Ia mau mencobanya lagi tapi pemilik akademi biola tidak memberinya kesempatan.


Seo Ri duduk di taman. Ia menatap tangannya dengan wajah syok. Lalu ia teringat kata-kata si pemilik toko biola, bahwa alat musik atau pun manusia, jika tidak pernah digunakan, tidak ada gunanya.

"Itu karena tanganku kaku. Aku hanya perlu berlatih. Tidak apa-apa." ucap Seo Ri meyakinkan dirinya.


Sementara di RS, Hyung Tae diberitahu rekannya kalau Kepala RS ingin bertemu. Hyung Tae pun minta maaf dan meminta rekannya melupakan soal rawat inap jangka panjang. Lalu, rekan dokternya yang lain datang, memberitahu kalau ada pasien berusia 30 tahun yang pingsan di jalanan.

Mendengar itu, Hyung Tae panic dan langsung memeriksa pasien itu. Ia mengira pasien itu Seo Ri, tapi ternyata bukan.


Woo Jin lagi rapat bersama panita penyelenggara festival. Tapi bukannya fokus, Woo Jin malah sibuk menggambar wajah Deok Goo di cangkir

kertasnya. Melihat itu, Hee Soo pun langsung menyepak kaki Woo Jin.


Tak lama kemudian, Tae Rin datang. Ia minta maaf karena datang terlambat dan memperkenalkan diri sebagai direktur musik dari konser klasik.


Seo Ri terus berjalan menyusuri jalanan sambil memikirkan biaya perbaikan biolanya. Lalu tanpa sengaja, ia melihat selebaran yang bertuliskan "Dicari karyawan dengan bayaran 8 dollar".


Seo Ri pun langsung pergi ke sana. Ke sebuah kafe. Tapi ia ditolak karena usianya yang sudah 30 tahun. Woo Jin yang ternyata rapat di kafe yang sama, sempat melihat Seo Ri.


Seo Ri kemudian kembali berjalan menyusuri jalanan sambil memikirkan penolakan orang-orang terhadap dirinya.

"Kita hanya mempekerjakan orang berusia 20-an. Bosnya 29, jadi kita hanya mempekerjakan orang di bawah 29 tahun. Kau berumur 30 tahun. Bagimana bisa kau  tidak memiliki pengalaman kerja?" ucap si pelayan kafe yang tadi mewawancarainya.

Lalu ia teringat kata-kata si pemilik akademi biola tentang dirinya yang tak menguasai dasar-dasar biola. Terakhir, ia ingat kata-kata Woo Jin saat memarahinya.


Setelah itu, ia melihat dua pelajar SMA yang sedang bercanda. Seo Ri pun membayangkan dua pelajar itu adalah dirinya dan Su Mi.


Lalu, ia membayangkan kehidupannya saat berumur 18 tahun dan 30 tahun. Dimana ia bersekolah di Jerman ketika umurnya 18 tahun dan sukses menggelar konser di tempat impiannya saat berumur 30 tahun.


Kini, Seo Ri sudah duduk di taman dengan mata berkaca-kaca.

Bersambung ke part 2........

No comments:

Post a Comment