Thursday, August 30, 2018

Still 17 Ep 10 Part 1

Sebelumnya...


Usai berbicara dengan sang kakak, Woo Jin menatap Seo Ri yang tertawa melihat foto-foto mereka bersama Chan, Jennifer, Hae Beom dan Deok Soo.

Terdengar narasi Woo Jin.
"Aku mulai menyukai rumah itu. Aku menyukai waktu yang kuhabiskan disana. Aku ingin tetap seperti itu."


Sekarang, kita melihat Woo Jin yang sedang mendengarkan music sambil menatap pohon bungur.


Hee Soo sudah tertidur, tapi Seo Ri masih terjaga. Ia memikirkan kata-kata Hee Soo soal Woo Jin.

"Dia baru-baru ini mulai tersenyum dari waktu ke waktu. Kenapa aku berpikir itu karena kau, Seo Ri-ssi."


Woo Jin hendak mencium Seo Ri tapi serangga tiba-tiba lewat di depan mereka dan menyentuh hidung Seo Ri. Seo Ri kaget, bahkan ia hampir terjatuh saking kagetnya. Woo Jin pun langsung menahan tubuh Seo Ri agar Seo Ri tak jatuh.

Keduanya saling menatap.

Terdengar narasi Hyun Jung yang bertanya, apa Woo Jin menyukai Seo Ri.


Keduanya masih membeku. Saling menatap, sampai akhirnya terdengar sebuah suara yang ternyata berasal dari perut Woo Jin.

"Apa kau belum makan?" tanya Seo Ri. Seo Ri lantas berniat pergi mencarikan makanan untuk Woo Jin.

Tapi Woo Jin menahannya dan mengaku ingin mengatakan sesuatu.

"Bagaimana kalau ini?" tanya Woo Jin sambil menunjukkan sms undian berhadiah itu.

Seo Ri terkejut dan senang. Woo Jin mengajak Seo Ri makan tteokbokki gratisnya sekarang.

Seo Ri berkata, ia selalu mau kalau diajak makan tteokbokki.

"Kalau begitu berpakaianlah dan temui aku disini dalam lima menit." ucap Woo Jin.


Chan terlihat pucat saat makan malam bersama pelatih dan juga para atlet lainnya. Tapi Chan mengaku dirinya baik- baik saja saat ditanya Deok Soo. Tak lama berselang, Chan jatuh pingsan. Sontak, si pelatih serta Hae Beom dan juga Deok Soo panic.


Woo Jin dapat telepon dari Deok Soo soal Chan saat ia sudah siap berangkat makan tteokbokki dengan Seo Ri. Woo Jin pun bergegas ke tempat Chan. Seo Ri ingin ikut, tapi Woo Jin menyuruhnya tetap di rumah dan berjanji akan menghubungi Seo Ri.

"Tapi aku tidak punya... telepon." ucap Seo Ri.


Woo Jin terlihat cemas sepanjang perjalanan.


Setibanya di tempat Chan, Deok Soo memberitahu Woo Jin kalau Chan sakit perut karena stress.

"Dia bersendawa, lalu membaik. Sekarang...." dengkuran Chan menghentikan kalimat Deok Soo.

"Seperti yang kau lihat dia sudah tertidur pulas."

"Aaah, aku sangat cemas." ucap Woo Jin sambil menarik napas lega.


Hae Beom lantas mengarahkan wajah Woo Jin padanya.

"Lihatlah wajah ini. Uri Mr. Gong wajahnya pucat pasi. Orang akan mengira kau mengalami gangguan pencernaan akut."


Lalu, Hae Beom memarahi Deok Soo karena sudah menelpon Woo Jin dan membuat Woo Jin cemas.


Tak lama kemudian, pelatih datang dan menyuruh si duo kembar pergi.

(Oke, Hae Beom dan Deok Soo mulai sekarang sy panggil duo kembar aja ya)


Woo Jin terus menunggui Chan. Kata-kata pelatih Chan pun terngiang di telinganya kalau Chan berlatih terlalu keras untuk memenangkan kejuaraan.

"Dia biasanya bukan tipe yang mudah stress." ucap pelatih.

"Kau jangan terlalu stress, Chan-ah." ucap Woo Jin.


Jennifer tampak berdiri di depan sebuah kuil. Lalu, tak lama berselang, wanita bersepatu kuning itu datang sambil mendorong kursi roda yang di atasnya duduk seorang pria tua.

Jennifer pun tak dapat membendung air matanya lagi. Air matanya jatuh saat melihat pria tua itu.


Jennifer lalu berdoa di kuil. 'Keluarganya' menunggu ia diluar.


Woo Jin membuatkan air lobak untuk Chan. Ia menyuruh meminumnya.

Sontak, Chan teringat masa kecilnya dulu. Saat ia sakit perut, Woo Jin memberinya air lobak.


Flashback...

"Kubaca di internet, air lobak itu bisa menyembuhkan sakit perut." ucap Woo Jin.

Chan pun tidak mau meminumnya karena baunya yang menyengat.

"Kalau begitu, tutup saja hidungmu." ucap Woo Jin.

Chan pun menurut dan meminum air lobak itu.

"Setelah kau sembuh, ayo kita pergi makan sesuatu yang enak." ucap Woo Jin.


Tak lama berselang setelah minum air lobak itu, Chan pun bersendawa.

Woo Jin senang caranya berhasil.

"Samchoon, ayo kita pergi makan hotdog." ajak Chan.

Flashaback end...


"Itu sudah lama sekali." ucap Chan.

"Cepat minumlah." suruh Woo Jin.

Chan pun meminumnya. Setelah minum, ia sendawa.

"Paman puas?" tanya Chan.


Tiba-tiba, perut Woo Jin bunyi lagi. Mendengar itu, Chan pun menyuruh Woo Jin pulang. Tapi kemudian, ia teringat Seo Ri yang berada di rumah sendirian. Chan pun sewot karena Woo Jin meninggalkan Seo Ri sendirian di rumah.

Woo Jin mengajak Chan pulang ke rumah. Tapi Chan mengaku baik-baik saja dan memaksa Woo Jin pulang.


Di rumah, Seo Ri menunggu Woo Jin sambil tertidur dengan posisi duduk dan mulut menganga.


Ketika mendengar suara pintu dibuka, ia pun langsung bangun dan berlari ke pintu.

"Ahjussi!" teriaknya.

Tapi yang pulang bukan Woo Jin, melainkan Jennifer.

"Jennifer, bisakah aku meminjam ponselmu." pinta Seo Ri.


Di halaman asramanya, Chan lompat-lompat untuk meyakinkan pamannya kalau dia baik-baik saja. Lalu, Chan menyuruh pamannya pulang. Setelah berpikir sejenak sambil menatap Chan, Woo Jin pun memutuskan pulang. Chan langsung menarik napas lega.


Tepat saat itu, ponsel Woo Jin berdering dan Woo Jin langsung memberikannya pada Chan.

"Ahjumma, bukankah menakutkan sendirian semalaman? Aku pasti mengejutkanmu. Aku minta maaf. Tapi aku baik- baik saja sekarang. Aku sangat sehat. Aku bahkan bisa mengunyah tiang listrik. Aku senang tidak kembung lagi. Aku akan segera menemuimu." jawab Chan.


Usai bicara dengan Seo Ri, Chan pun mencemaskan Woo Jin. Ia takut Woo Jin tidak punya cukup energi untuk menyetir.

Woo Jin meyakinkan Chan kalau ia baik-baik saja.

Lalu, ia mengelus kepala Chan dan beranjak menuju mobilnya.


Tapi kemudian ia balik lagi menatap Chan.

"Apa lagi?" tanya Chan.

"Jangan berlebihan." jawab Woo Jin.


Woo Jin lantas pergi menuju mobilnya.

Dan Chan menghela napas melihat pamannya datang memakai sandal rumah.

"Pabo samchoon." gumam Chan.


Di rumah, Seo Ri membantu Jennifer masak. Jennifer mengaku lega Chan baik-baik saja dan Seo Ri bisa pulang meski angin kencang. Seo Ri pun juga mengaku lega Chan baik-baik saja. Ia bilang, tadinya ia khawatir mendengar Chan yang jatuh pingsan. Seo Ri juga menyesal karena tidak menyambut kepulangan Jennifer dengan baik.

"Bagaimana liburanmu? Kau pergi kemana?" tanya Seo Ri.

Mendengar pertanyaan Seo Ri, Jennifer pun langsung berhenti memotong mentimun.

"Ada seseorang yang harus aku temui." ucap Jennifer.

Seo Ri pun tidak bertanya lagi dan terus menguleni adonan.


Jennifer lalu memberitahu Seo Ri kalau kemarin ia dapat telepon dari toko violin yang memberitahunya soal violin Seo Ri yang sudah selesai diperbaiki.

Mendengar itu, Seo Ri langsung berlari ke kamarnya. Ia mengambil sebuah kotak kecil dari atas rak dan juga tasnya, lalu beranjak pergi tanpa mencuci tangannya yang bekas menguleni adonan.


Episode 10, "Traumerei" by Schumann


Seo Ri berlari masuk ke toko violin dan memberikan kotak tabungannya.

"Hari ini, aku hanya datang untuk memeriksa apa sudah diperbaiki. Aku akan kembali bulan depan untuk membayarmu sisanya dan membawanya pulang begitu aku mendapat gajiku. Uangku masih sedikit kurang." ucap Seo Ri.

"Baiklah. Tinggalkan uangnya disana." jawab si pemilik toko.

"Apa? Kau bahkan tidak tahu berapa banyak ini." ucap Seo Ri.


Seo Ri lalu membongkar tabungannya.

"Aku tidak mengambil euro." ucap si pemilik toko.

Seo Ri pun berniat pergi ke bank untuk menukar uang euro nya. Tapi si pemilik toko menyuruhnya pergi dan meninggalkan uangnya.

Seo Ri lantas berjanji akan melunasi sisa pembayarannya bulan depan, tapi si pemilik toko lagi-lagi menyuruhnya pergi.


Lalu, si pemilik toko memberinya sekotak tisu.

"Jika kau akan menyentuh biola dengan tangan itu, jangan mengambilnya." ucap si pemilik toko.

Seo Ri pun melirik tangannya dan baru sadar ia langsung pergi setelah menguleni adonan tanpa mencuci tangannya.


Saat Seo Ri hendak pergi, si pemilik toko memintanya jangan kembali lagi.

"Aku tidak akan pernah membiarkan biola ini menjadi sampah lagi. Aku tidak akan pernah melihatmu lagi." ucap Seo Ri.

Setelah Seo Ri pergi, si pemilik toko tersenyum.


Seo Ri berjalan sambil melompat kecil. Dan ia terkejut melihat Profesor Shim berdiri di depan kantornya.

"Sonsaengnim!" seru Seo Ri.


Chan menghampiri kedua sohibnya yang lagi sibuk ngemil roti.

"Hei, Yoo!" seru Deok Soo.

"Chan, apa kau baik-baik saja sekarang?" tanya Hae Beom.

"Ada apa dengan semua roti itu?" tanya Chan.

"Pamanmu pasti menganggap kita sebagai keponakannya sendiri. Dan dia menyayangi kita." jawab Deok Soo.

"Dia pergi ke pasar tadi pagi membeli lobak untukmu dan membeli camilan untuk kita juga." ucap Hae Beom.

"Dia seharusnya makan juga." gumam Chan.


Lalu, ponsel Chan berdering. Chan menghela nafas melihat nama pamannya di layar.

"Apa lagi? Aku bilang padamu, aku baik-baik saja." ucap Chan.

Si duo kembar langsung berdiri di sebelah Chan dan teriak.

"Paman terima kasih rotinya!"


Chan lantas berjalan menjauhi mereka.

"Jennifer?" tanya Chan.

"Kau tidak bisa berbicara dengannya sebelumnya. Kau harus menelponnya. Dia mungkin khawatir juga. Dan dia libur sehari kemarin, jadi jangan lupa tanyakan bagaimana harinya. Kita keluarga jadi setidaknya kau harus begitu." jawab Woo Jin.

"Arraseo. Hati-hati mengemudinya." ucap Chan.


Selesai bicara dengan pamannya, Chan merasa heran dengan kata 'keluarga' yang disebut pamannya.

Chan lalu ingat saat mereka semua makan ayam.

Flashback...


Chan kaget karena pamannya memesan 5 porsi ayam sekaligus. Chan mengaku, ia sudah berhenti makan ayam sejak memelihara Chick Junior. Woo Jin pun beralasan, kalau ia membelinya untuk seluruh keluarga.

"Lalu bagaimana dengan aku? Apa maksudmu aku harus kelaparan?" tanya Chan.


Tepat saat itu, terdengar bunyi bel.

"Set jokbal dan bossam mu ada disini." ucap Woo Jin.

Sontak Chan dan dua sohibnya langsung berseru senang.

Flashback end...


"Dia menjaga semua orang karena dia menganggap mereka sebagai keluarga. Astaga, foto itu masalahnya." ucap Chan.

Chan lalu ingat saat ia menanyakan caption di foto itu.

"Seseorang mengira kami pasangan." jawab Woo Jin.

Flashback end...


"Kenapa mereka berdiri dibawah pohon bersama?" tanya Chan lagi saat ingat memergoki Woo Jin dan Seo Ri tatap- tatapan di bawah pohon.

"Dan dia mungkin memikirkan sesuatu yang lucu saat membuka kancing kemejanya." ucap Chan saat ingat memergoki pamannya senyum senyum sambil melihat kancing.


"Dia menyukai rumah itu. Ya dia mungkin benar-benar menyukai rumah itu. Kenapa aku harus menafsirkan hal-hal seperti itu? Yoo Chan, jangan berlebihan." ucap Chan.

"Tukang ngedrama!" panggil Deok Soo dan Hae Beom.


Chan pun langsung mendekati mereka.

"Apa kau bilang pamanku membelikanmu semua itu?" tanya Chan.

Dua sohibnya mengangguk. Dan Hae Beom bilang rasa rotinya luar biasa.

Lantas Chan mengambil semua roti itu dan membawanya kabur. Si duo kembar pun langsung mengejarnya.


Di atap, Seo Ri duduk sambil memikirkan kata-kata Profesor Shim.

"Ketua pasti melihatmu ketika dia berkunjung ke asosiasi. Dia ingin memberimu kesempatan setelah mendengar apa yang terjadi padamu. Jadi aku berpikir..." Seo Ri memotong kata-kata Profesor Shim. Ia kaget.

"Kau ingin aku bermain di One Festival?"

"Kita gagal memainkan Bach "Concerto for Two Violins" 13 tahun lalu. Jadi aku berpikir kita harus bermain bersama di festival. Pikirkan tentang itu dan beritahu aku." pinta Profesor Shim.

Seo Ri pun menghela nafas. Ia bingung harus bagaimana.


Tak lama kemudian, Woo Jin datang.

"Kau baik-baik saja tidur sendirian semalam?" tanya Woo Jin.

Tapi Seo Ri yang sedang melamun diam saja. Woo Jin lantas mendekati Seo Ri.

"Aku disini." ucap Woo Jin.

Seo Ri pun seketika tersadar dari lamunannya.

"Aku sangat senang Chan baik-baik saja sekarang. Kau pasti lelah." jawab Seo Ri.

"Kau lah yang terlihat lelah. Apa tidurmu nyenyak?" tanya Woo Jin.


Woo Jin lantas kaget melihat violin Seo Ri di atas meja.

"Violinmu sudah baik?" tanya Woo Jin.

Seo Ri pun kembali menatap violinnya dengan wajah sedih.

"Wae? Violinnya tidak bisa diperbaiki? Jangan khawatir, aku yakin kita dapat menemukan seseorang yang dapat memperbaikinya." ucap Woo Jin.

"Violinnya sudah diperbaiki." jawab Seo Ri.

"Lalu kenapa wajahmu kayak marmut?" tanya Woo Jin.


Hyun tiba-tiba datang dan meminta Seo Ri memegangi sehelai kain.

"Apa aku bisa melakukannya?" tanya Seo Ri.

"Tidak sesulit itu. Kau hanya perlu melakukannya. Aku harus memotongnya jadi pegang erat-erat." jawab Hyun.

"Tapi bagaimana jika akhirnya aku merusaknya? Apa kau pikir aku memenuhi syarat untuk itu?" tanya Seo Ri.


Woo Jin pun mengerti maksud Seo Ri.

"Bilang saja tidak ingin membantu." ucap Hyun. Hyun lalu berkata pada Woo Jin, kalau Seo Ri sangat dingin padanya setelah insiden ikan.

Hyun lalu mengoceh soal Hee Soo dan konser jazz pada Woo Jin, tapi Woo Jin diam saja dan terus menatap Seo Ri.

"Kenapa dia bersikap dingin padaku juga?" ucap Hyun.


Hyun lalu menengok kebawah dan heran melihat sandal yang dipakai Woo Jin.

"Apa yang salah dengan sepatumu? Aku pikir kau harus menggantinya." ucap Hyun.

Tapi Woo Jin tetap diam dan terus menatap Seo Ri.

"Dengan siapa aku bicara? Hallo?" ucap Hyun.


Woo Jin lantas mengikuti Seo Ri turun ke lantai bawah. Seo Ri terus berjalan ke mejanya. Lalu, ia meletakkan violinnya di atas meja dan langsung duduk tanpa menyadari kursinya yang terlalu jauh dari pantatnya. Untung saja, ada Woo Jin yang langsung menyorongkan kursinya tepat saat Seo Ri akan duduk.


Di rumah, Jennifer juga lagi melamun sambil melipat pakaian.

Lalu, Deok Goo tiba-tiba menghampiri Jennifer dan berusaha memberitahu Jennifer sesuatu.


Jennifer pun tersadar dan langsung berlari ke dapur.

Ia mematikan kompornya dan membuka tutup pancinya tapi langsung menjatuhkannya ke lantai karena terlalu panas.

Jennifer pun menyalakan kran dan menyiram jarinya dengan air dingin.


Deok Goo ikut sedih melihat Jennifer.


Di kantor, Seo Ri masih melamun. Tak lama kemudian, Woo Jin datang dan langsung mendekati meja Seo Ri.

"Rapatmu lancar?" tanya Hyun. Woo Jin mengangguk mengiyakan.

"Kita hanya perlu mengadakan pertemuan tentang konser jazz dengan Hee Soo." ucap Hyun.

Tapi Woo Jin tidak merespon perkataan Hyun dan terus menatap Seo Ri.

Melihat Woo Jin yang terus menatap Seo Ri, Hyun pun bertanya apa sebaiknya ia menyuruh Seo Ri pulang. Woo Jin mengangguk.

Hyun pun langsung menyuruh Seo Ri pulang.


Seo Ri pun langsung bangkit dan pamit pulang. Tapi Woo Jin kemudian memanggilnya.

"Kau mau kemana?" tanya Woo Jin.

"Rumah." jawab Seo Ri.

Lantas Woo Jin pun mendekati Seo Ri.

"Kau berjalan ke arah yang salah. Pintu keluarnya disini." ucap Woo Jin sambil memutar tubuh Seo Ri.


Woo Jin menyusul Seo Ri keluar. Ia mau mengantar Seo Ri. Tapi Seo Ri bilang sebaiknya ia jalan kaki saja karena mau berpikir.

Woo Jin pun memutar otaknya, memikirkan cara agar bisa mengantar Seo Ri pulang.

Ia lalu menatap bebek-bebekan yang dibuang seseorang di depan kantor mereka.

"Bawa masuk benda itu ke mobil. Aku harus menelitinya. Ini benda seni. Aku akan membawanya pulang setelah bekerja." ucap Woo Jin.

Woo Jin lalu mengambil bebek-bebekan itu dan memberikannya pada Seo Ri.


Sekarang, Woo Jin sedang dalam perjalanan mengantar Seo Ri. Ia menyuruh Seo Ri memegang bebek itu erat-erat dengan alasan bebek itu benda seni yang sangat penting.

"Tapi aku tidak mengerti apa yang begitu penting tentang ini." jawab Seo Ri.

"Kau muungkin tidak mengerti, karena kau perlu melihatnya dari sudut pandang artistik." ucap Woo Jin.

"Oh, dari sudut pandang artistik. Tapi aku tidak yakin harus bagaimana." jawab Seo Ri.

"Itu... melambangkan jiwa yang terluka. Semacam metafora. Itu akan digunakan sebagai objek seni semacam itu." ucap Woo Jin.


Sekarang, mereka sudah berada di depan rumah. Seo Ri turun dari mobil dan meletakkan bebeknya di aspal Lalu ia membuka pintu belakang dan mengambil violinnya. Saat Seo Ri mengambil violinnya, bebeknya menggelinding ke jalan.

Melihat itu, Seo Ri pun langsung mengambil bebeknya.

"Bagaimana ini bisa menjadi objek seni nyata?" ucap Woo Jin.

"Kau bilang itu benda seni yang penting." jawab Seo Ri.

"Karena kau sangat tidak sehat. Aku khawatir kau akan mengalami kecelakaan. Itu sebabnya aku mengantarmu pulang. Aku benar-benar mengkhawatirkanmu. Kau khawatirr tentang violin itu bukan?" ucap Woo Jin.

"Bagaimana kau tahu?" tanya Seo Ri.

"Bagaimana bisa aku tidak tahu? Kau bahagia dengan hal sederhana seperti tteokbokki. Tapi sekarang kau terlihat sangat murung setelah memperbaiki violin berhargamu. Aku tidak dapat membantu jika violin yang menjadi sumber masalahmu. Satu-satu hal yang bisa aku lakukan adalah khawatir. Jadi aku sangat frustasi." jawab Woo Jin.


"Aku pikir kau membantu." ucap Seo Ri.

"Siapa? Aku?" tanya Woo Jin.

"Benar. Itu sebabnya aku frustasi. Aku khawatir daripada melakukan apa yang harus kulakukan." jawab Seo Ri.

"Bagaimana itu bisa membantumu?" tanya Woo Jin.

"Aku akan masuk duluan. Aku baru ingat apa yang harus kulakukan." jawab Seo Ri.

Seo Ri beranjak masuk, tapi ia balik lagi hanya untuk berterima kasih pada Woo Jin.

Woo Jin pun bingung sendiri kenapa Seo Ri bilang terima kasih padanya.

Ponsel Woo Jin berdering. SMS dari Hee Soo yang menyuruhnya segera datang karena mereka ada rapat jam 6.


Di kamarnya, Seo Ri mulai memainkan violinnya.


Sekarang, kita melihat Seo Ri remaja sedang bermain violin bersama Profesor Shim.

Lalu kita melihat Seo Ri dewasa sedang bermain violin bersama Profesor Shim di sebuah konser. Tiba-tiba, permainan Seo Ri mulai kacau dan penggesek violinnya seketika terjatuh dari tangannya.


Tepat saat itu, Seo Ri bangun. Ya, semua itu hanya mimpi.

Seo Ri lalu melihat violinnya dan teringat saat penggesek violin itu jatuh dari tangannya ketika ia bermain violin saat wawacara kerja.

Seo Ri lantas kembali meletakkan violinnya.


Jennifer menerima sebuah pesan saat ia masuk ke kamarnya.

"Aku harap kau membiarkan semuanya berjalan pelan-pelan."

Jennifer lalu menyalakan kotak musiknya. Perlahan-lahan, air matanya jatuh.

Tapi ia langsung menutup kotak musiknya dan menghapus air matanya saat Seo Ri datang untuk meminjam ponselnya.

"Ponselku ada disana. Kau bisa mengambilnya." ucap Jennifer tanpa melihat Seo Ri.


Seo Ri pun langsung mengambil ponsel Jennifer di atas meja.

"Apa ada yang salah? Kau baik-baik saja?" tanya Seo Ri.

Jennifer pun membalikkan badannya dan menatap Seo Ri.

"Aku selalu baik-baik saja." jawab Jennifer.


Tae Rin kaget saat Profesor Shin mengabarinya kalau Tuan Byun ingin Seo Ri bermain di dalam sebuah konser.

Ia marah. Tak ingin Profesor Shim tahu kemarahannya, ia pun pamit ke kamar mandi.


Di kamar mandi, ia teringat bagaimana dulu semua orang termasuk ibunya memuji Seo Ri.

Kesal, Tae Rin pun berniat merusak violin Seo Ri tapi tak jadi.


Tae Rin pun keluar dari kamar mandi dan kembali ke mejanya. Saat hendak berjalan menuju mejanya, ia tak sengaja mendengar pembicaraan Profesor Shim dengan Seo Ri. Senyumnya seketika mengembang mendengar pembicaraan mereka.


Tae Rin kembali ke mejanya dan pura-pura setuju Seo Ri gabung dengan mereka. Profesor Shim memberitahu Tae Rin kalau Seo Ri barusan menelponnya dan menolak bergabung dengan mereka.

"Sayang sekali. Tapi karena kau mendukungnya, biarkan aku membantunya juga." ucap Tae Rin.


Woo Jin pulang dan mau mengetuk pintu kamar Seo Ri. Tapi tidak jadi karena takut Seo Ri sudah tidur.


Lalu, ia pun menggendong Deok Goo dan kembali ke kamarnya. Sampai di kamar, ia menemukan pesan Seo Ri di atas meja.

"Aku memikirkan masalah itu. Itu bukan masalah lagi. Jadi aku tidak punya masalah sekarang. Terima kasih sudah mengkhawatirkanku." tulis Seo Ri dalam pesannya..

"Apa dia benar-benar baik-baik saja?" tanya Woo Jin.


Woo Jin menemukan tulisan 'balikan' di bawah pesan Seo Ri. Dan ia pun membalikkan pesan Seo Ri dan menemukan pesan lain disana.

"Aku sungguh baik-baik saja."

Woo Jin tersenyum membacanya.


Di kamarnya, Seo Ri lagi mempelajari referensi musik klasik untuk One Music Festival. Ia menuliskan catatan kecil satu per satu untuk setiap artikel.


Lalu ia mendengar suara Deok Goo di balik pintu. Seo Ri pun langsung membuka pintu kamarnya.

"Fang, kau ingin masuk?" tanya Seo Ri, lalu menggendong Fang. Saat itulah, ia menemukan sebuah pesan yang tertempel di pintu kamarnya.

Pesan dari Woo Jin.

"Baik. Aku akan mendukungmu tidak peduli apa yang kau pilih untuk dilakukan."

Seo Ri tersenyum membaca pesan Woo Jin.


Keesokan harinya di kantor, Seo Ri memberikan naskah One Festival pada Hee Soo. Seo Ri berkata, ia sudah meringkas pendapatnya tentang masing-masing bagian dan menambahkan referensi yang mungkin bisa membantu.

Hee Soo langsung membacanya dan terkejut melihat tulisan tangan Seo Ri.

Lalu ia menyuruh Hyun membuat salinan ringkasan Seo Ri.


Bersamaan dengan itu, Woo Jin keluar dari dapur sambil membawa dua cangkis ice coffee. Woo Jin memberikan ice coffee yang satunya pada Hee Soo dan yang satu lagi ia minum sendiri.


Hyun berkata, kalau ia baru mendapat telepon dari Direktur Choi dan memintanya membuat beberapa pengeditan untuk pertunjukan musik k-pop.

Seo Ri pun mengacungkan tangannya. Ia mau ikut dengan Woo Jin.


Sampai disana, Woo Jin dan Seo Ri membahas soal warna dengan Direktur Choi. Woo Jin menanyakan pendapat Seo Ri. Seo Ri berkata, ia tidak tahu banyak tapi suka dengan noda yang ada di tengah-tengah warna. Direktur Choi pun memuji Seo Ri sebagai karyawan yang cerdas.


Lalu ia bertanya, apa Seo Ri sudah menikah.

"Tentu saja belum." jawab Seo Ri.

"Kalau begitu, anakku Jones." ucap Direktur Choi.


Sontak, Woo Jin kaget dan menatap ke arah Direktur Choi.

Bersambung ke part 2........

No comments:

Post a Comment