Thursday, August 30, 2018

Still 17 Ep 10 Part 2

Sebelumnya...


Dari kejauhan, Woo Jin menatap kesal Direktur Choi yang lagi bicara dengan Seo Ri.

"Putraku seorang dokter pengobatan oriental. Dia tidak pernah berkencan dengan siapa pun karena dia selalu sibuk belajar. Dia memiliki apartemen di Gangnam." ucap Direktur Choi.

"Lebih baik tinggal di rumah daripada apartemen." jawab Woo Jin kesal.


"Dia tegap dan tinggi. Dia 183 cm." ucap Direktur Choi.

Woo Jin pun langsung menegapkan badannya.


Ketika Direktur Choi hendak menunjukkan foto putranya pada Seo Ri, Woo Jin menghubunginya.

Direktur Choi sontak mengernyit heran melihat Woo Jin menelponnya.

Woo Jin lalu berjalan-jalan di depan Direktur Choi dan pura-pura terkejut saat melihat Direktur Choi.

"Anda disini?" tanya Woo Jin.

"Aku disini selama ini. Kenapa kau menelponku ketika aku ada disini?"

"Aku punya pertanyaan." jawab Woo Jin.

"Apa itu?" tanya Direktur Choi.

"Aku lupa." jawab Woo Jin.

"Kalau begitu katakan padaku begitu kau ingat." ucap Direktur Choi.


Direktur Choi bicara lagi pada Seo Ri soal anaknya. Woo Jin pun langsung memotong perkataannya dengan menawarinya kopi. Direktur Choi berkata, ia sudah minum kopi. Lalu Woo Jin kembali memotong perkataan Direktur Choi dengan mengatakan kalau ia memiliki jadwal yang sangat ketat minggu ini.


Seo Ri pun pamit. Ia berkata pada Direktur Choi kalau ia tidak punya waktu pergi kencan buta karena sibuk.

Woo Jin lantas mengeluarkan alat pengukurnya dan meminta Seo Ri membantunya mengukur meja.


Direktur Choi menghampiri Woo Jin yang lagi minum.

"Apa tenggorokanmu benar-benar kering? Aku hanya bisa membayangkan. Aku tidak pernah benar-benar tahu apa yang ada di pikiranmu, tapi hari ini pengecualian." ucap Direktur Choi.

Direktur Choi lalu tersenyum dan beranjak pergi.


Woo Jin sedang membahas dekorasi dengan salah satu pekerja.

Pekerja lain tiba-tiba memanggil Woo Jin. Karena Woo Jin sedang sibuk, Seo Ri pun menyahut dan berlari ke arah si pekerja yang memanggil Woo Jin.

Saat Seo Ri tengah berlari, tiba-tiba saja sebuah dinding bata jatuh hendak menimpanya.

Seo Ri terkejut dan langsung menunduk sambil mendekap tangannya.

Melihat itu, Woo Jin pun langsung berlari ke arah Seo Ri.

"Apa yang salah? Apa kau baik-baik saja?" tanya Woo Jin cemas.

"Astaga, apa kau baik-baik saja? Ini bukan terbuat dari batu bata asli." jawab pekerja yang dengan sigap menahan dinding bata itu sebelum jatuh menimpa Seo Ri.

Dinding bata itu terbuat dari sterofoam.


"Biar kulihat. Apa kau terluka?" tanya Woo Jin.

Seo Ri pun langsung memeriksa tangannya. Ia lega tangannya baik-baik saja.


Seo Ri duduk di taman sambil terus memegangi tangannya. Tak lama kemudian, Woo Jin datang dan memberikannya sebotol air.

"Kau pasti terkejut. Biarkan aku memeriksa lututmu." ucap Woo Jin.

"Tidak apa-apa lututku tergores selama tanganku baik-baik saja." jawab Seo Ri.

Seo Ri lalu memberitahu Woo Jin kalau ia akan melakukannya.


"Tawaran Profesor Shim kepadamu?" tanya Woo Jin.

"Bagaimana kau tahu?" tanya Seo Ri kaget.

"Ketua mengatakannya saat pertemuan pagi ini. Dia bilang, kau menolak tawaran itu." jawab Woo Jin.


Woo Jin lantas duduk disamping Seo Ri.

"Kau tidak pernah memberitahu kami secara langsung, jadi Hee Soo dan aku merasa seperti itu bukan urusan kami untuk ikut campur. Itu sebabnya kami bertindak seperti tidak tahu apa-apa." ucap Woo Jin.

"Apa yang terjadi barusan membuatku sadar. Aku khawatir aku tidak akan bisa memainkan violin jika tanganku terluka. Dan itulah yang kurasakan. Aku belum bermain lagi begitu lama dan aku tidak percaya diri. Jadi aku rasa, aku tidak cukup memenuhi syarat untuk tampil di panggung. Tapi aku tidak boleh menyerah. Aku ingin tampil. Aku akan berlatih dengan sangat keras dan memastikan diriku menjadi cukup berkualitas. Bisakah aku tampil di festival?"

"Andwaeyo." jawab Woo Jin.

"Aku kira itu bisa menghalangi pekerjaan." ucap Seo Ri.

"Maksudku, itu ide yang buruk untuk merenungkan begitu banyak. Bukankah kau pernah memberitahuku kau tidak pernah tahu apa yang bisa terjadi dalam hidup dan kau harus selalu mencobanya. Kau mungkin bisa mengakhiri masa istirahatmu segera." jawab Woo Jin.

Seo Ri tersenyum mendengarnya.


Woo Jin dan Seo Ri pun kembali menuju tempat Direktur Choi. Seo Ri menyesal karena sudah membuat pakaian dan sepatu Woo Jin kotor karena berusaha melindunginya tadi. Woo Jin bilang, bukan pakaiannya yang menjadi masalah tapi lutut Seo Ri yang terluka.

"Dan jangan menganggapnya sebagai apa-apa. Kau melukai lututmu dan itu adalah masalah besar. Selalu berhati-hati agar tidak terluka." ucap Woo Jin.

Seo Ri pun tertegun menatap Woo Jin.


Ditatap seperti itu, membuat Woo Jin salah tingkah dan buru-buru beranjak ke mobilnya. Tapi ia tidak bisa membuka pintu mobilnya. Seo Ri pun berkata, kalau Woo Jin belum membuka kuncinya. Seo Ri tertawa melihat tingkah Woo Jin.


Seo Ri duduk berdua dengan Hee Soo. Hee Soo berpikir sejenak sebelum akhirnya setuju mengerjakan pertunjukan lain selain musik klasik. Seo Ri pun senang mendengarnya dan berterima kasih pada Hee Soo.


Chan yang baru turun dari bisnya dihampiri seorang pria berjas hitam.


Ternyata pria itu seorang pelatih dayung bernama Lee Jae Woo. Deok Soo pun mengucapkan selamat karena Chan diajak bergabung oleh pelatih dayung terbaik di negara mereka. Hae Beom bertanya, apa Chan akan bergabung dengan mereka.

"Tidak mungkin." jawab Chan, lalu beranjak pergi.

"Kau istirahat lah hari ini." suruh Hae Beom.

"Aku harus menang." jawab Chan, lantas pergi.


"Aku iri. Dia memenangkan medali di setiap kompetisi. Dan sekarang perguruan tinggi serta tim profesional tergila-gila padanya." ucap Deok Soo.

"Akan lebih baik jika kita bisa berfoto bersama dengan medali di tangan." jawab Hae Beom.

"Tapi kita sudah senior di SMA. Kita tidak mungkin bisa mendayung bersama lagi." ucap Deok Soo.

"Kita bertiga mungkin tidak pergi ke kampus yang sama. Dan jika Chan akhirnya bergabung dengan tim profesional, ini sudah berakhir." jawab Hae Beom.


Si duo kembar itu lalu menduduk. Tiba-tiba Chan datang dan berkata, tahun senior mereka belum selesai.

Chan pun mengambil ponselnya di meja yang ketinggalan. Chan lalu mengajak kedua sohibnya memenangkan medali bersama.

"Kita tidak pernah memenangkan medali untuk perlombaan tim." jawab Deok Soo.

"Dia benar. Juga, jika kau ingin mengalahkan Jin Woon, kau perlu fokus pada balapan tunggal." ucap Hae Beom.

"Hei, aku Yoo Chan. Don't think, feel! Jika kau menginginkan medali, juaralah." jawab Chan.


Deok Soo dan Hae Beom pun langsung bersemangat dan berniat memenangkan medali.


Seo Ri menatap fotonya bersama ayah dan ibunya saat hari pertama mereka pindah ke rumah itu.

"Eomma, appa, aku akan bersiap-siap untuk mengakhiri masa istirahatku. Lihatlah aku." ucapnya.


Seo Ri lalu menatap violinnya.


Chan yang sudah berada di depan rumahnya, mendengar suara violin dari rumahnya. Sontak, ia langsung berlari ke rumahnya dan menemukan Seo Ri yang sedang memainkan violin di halaman rumah.

Chan terpana menatap Seo Ri. Saking terpananya, ia sampai tidak sengaja menjatuhkan tasnya.


Mendengar suara tas yang jatuh, Seo Ri pun berhenti bermain violin dan menoleh ke arah Chan. Melihat Chan, Seo Ri pun langsung bergegas menghampiri Chan dan mengaku senang bisa melihat Chan lagi.

Chan yang masih terpana itu pun diam saja.

Seo Ri pun heran, Chan Dongsaeng...


Chan pun tersadar dan langsung bertepuk tangan. Ia memuji permainan Seo Ri. Ia bilang, permainan Seo Ri menyentuh hatinya.


Seo Ri lalu menanyakan latihan Chan dan mengaku ada banyak hal yang mau ia ceritakan pada Chan.

Chan menyelemati Seo Ri setelah mendengar cerita Seo Ri yang akan tampil di festival.


Seo Ri lantas menanyakan kondisi perut Chan yang sempat sakit. Chan pun berdehem dan memberikan kartu nama Pelatih Lee dan memberitahu Seo Ri kalau pelatih dayung ternama di negara mereka mengajaknya bergabung di klub.

"Tapi kau hanya seorang siswa SMA. Aku terkesan." jawab Seo Ri.

Chan juga memberitahu Seo Ri kalau ia habis menolong anak kecil yang tenggelamm di sungai.

"Ahjumma, ayo kita berlatih keras. Aku akan jadi juara dan kau melakukan pertunjukan luar biasa." ucap Chan.

"Aku akan berlatih keras tapi aku tidak yakin apa aku akan melakukannya dengan baik. Sudah lama sejak aku bermain." jawab Seo Ri.

Chan pun menyemangati Seo Ri.


Seo Ri lalu menunjukkan tangannya yang melepuh karena terlalu banyak berlatih violin.

"Aku lega kau tidak iri lagi dengan tanganku." jawab Chan.


Woo Jin yang baru pulang, langsung mencari Chan. Jennifer yang saat itu tengah membereskan meja makan pun berkata Chan baru saja naik setelah menghabiskan makanan buatannya seperti buldozer. Woo Jin tertawa geli melihat sisa lauk di meja makan.

"Dia Chan." ucap Woo Jin, lalu naik ke atas.


Chan lagi olahraga saat Woo Jin masuk ke kamarnya.

"Kau baru pulang dan langsung bekerja. Ambil beberapa tekanan dari bahumu dan istirahatlah." ucap Woo Jin.


Woo Jin lalu melihat tulisan, 'Don't think, feel!' yang tertempel di dinding kamar Chan.

"Chan-ah." panggil Woo Jin.

"Apa itu?" tanya Chan.

"Itu..." Woo Jin mau mengatakan sesuatu, tapi tidak jadi karena malu.

Tapi kemudian ia balik lagi. Dengan gugupnya, ia pun mengucapkan kalimat itu dan meminta maaf karena kalimat itu tidak cocok dengannya.

Chan pun merinding mendengarnya.


Keesokan paginya, Seo Ri keluar dari rumah dan berlari sambil melompat dan bersenandung kecil seperti yang biasa ia lakukan dulu.

Dari arah berlawanan, Woo Jin muncul dan tersenyum melihat Seo Ri.

Tapi senyumnya langsung hilang melihat Seo Ri kena timpuk bola.

Seo Ri nya sendiri yang kena timpuk bola biasa saja dan terus melanjutkan perjalanannya. Woo Jin pun bergegas menghampiri Seo Ri.

"Apa kepalamu baik-baik saja? Bola itu cukup keras." ucap Woo Jin.

"Aku punya kepala yang keras, jadi tidak apa-apa." jawab Seo Ri sambil tersenyum.

"Orang yang terkena bola biasanya tidak tersenyum seperti itu. Kau harus berjalan dengan matamu ke jalan, bukan melihat langit." ucap Woo Jin.

"Aku melihat musik yang akan aku mainkan hari ini." jawab Seo Ri.

"Melihat? Bukankah kau biasanya mendengarkan? Bagaimana bisa?" tanya Woo Jin.


"Jika aku berpikir tentang musik, aku mulai melihat catatan..." Seo Ri pun tidak jadi bercerita. Ia bilang, orang lain tidak akan mengerti jika ia mengatakannya.

Seo Ri lalu membuat Woo Jin kaget dengan suara kerasnya.

"Aku harus latihan." seru Seo Ri lalu pergi.

"Sampai jumpa lagi dan terus fokus!" teriak Woo Jin.


Tapi Seo Ri mulai larut dengan dunianya sendiri, tidak mendengarkan kata-kata Woo Jin.

Woo Jin tersenyum, dia sangat bersemangat.

Woo Jin lantas beranjak pergi.


Sekarang kita melihat masa lalu Woo Jin dan Seo Ri ketika Woo Jin yang duduk di dalam bis, tersenyum melihat Seo Ri yang berjalan sambil melompat dan bersenandung. Woo Jin kala itu tersenyum melihat Seo Ri mengenakan sepatu yang berbeda.



Sekarang kita melihat Seo Ri juga mengenakan sepatu berbeda. Woo Jin tidak melihatnya karena keburu pergi.


Professor Shim memberitahu Tae Rin kalau Seo Ri akan bergabung dengan mereka. Tae Rin tidak setuju. Ia menyebut Seo Ri seorang yang amatir dan tidak pantas bergabung dengan mereka.

"Ini adalah festival. Kita melakukan ini untuk kesuksesan festival. Jadi mari kita bekerja sama dan melakukan pekerjaan dengan baik." ucap ketua.

Tae Rin pun kesal mendengarnya tapi ia berusaha tersenyum di depan mereka.


Seo Ri sudah berada di kelasnya dan melihat yang lainnya setelah berlatih.

Tak lama berselang, Profesor Shim datang bersama Tae Rin.

Profesor Shim pun langsung mengenalkan Seo Ri pada mereka.

"Namaku Woo Seo Ri. Aku menantikan penampilannya." ucap Seo Ri memperkenalkan diri seperti waktu dulu ia masih remaja.


Tae Rin yang melihat itu pun semakin kesal.


Hari berikutnya, Seo Ri tampak sibuk membantu Hee Soo dan Hyun di kantor.


Di hari lainnya, ia berlatih bersama Profesor Shim.


Woo Jin, Hee Soo dan Hyun sibuk membahas dekorasi panggung di kantor.

"Aku akan menggunakan pencahayaan khusus mulai dari bagian keempat." ucap Woo Jin.

"Itu ide bagus. Itu bisa dimulai dari tengah panggung." jawab Hee Soo.


Seo Ri masih berlatih. Di tengah-tengah latihannya, ia teringat pada paman dan bibinya yang memberinya semangat saat ia sedang menjalani audisi.


Chan juga berlatih bersama tim nya.


Hari-hari berikutnya, Seo Ri berlatih di taman. Seorang nenek tua tampak memperhatikan dirinya.


Bibi Seo Ri masuk ke dalam mobilnya. Di mobil, ia melihat nomor Chan di buku agenda nya dan langsung menghubunginya.


Ponsel Chan berdering tepat saat Seo Ri baru tiba di rumah.

Seo Ri pun berteriak memanggil Chan. Tak lama, Chan keluar dengan muka masih penuh sabun. Chan meminta Seo Ri menjawabnya.

Seo Ri menjawabnya.

"Bukankah ini nomor Yoo Chan?" tanya bibi Seo Ri.


"Tapi dia...." Seo Ri tidak melanjutkan perkataannya karena Chan keburu datang.

Bibi Seo Ri mengucapkan terima kasih pada Chan karena sudah menyelamatkan putranya. Bibi Seo Ri menjelaskan, kalau ia tadinya ingin menemui Chan tapi Chan keburu pergi ke Seoul dan ia mendapatkan nomor Chan dari klub dayung.

"Tidak apa-apa. Sampaikan salamku pada anakmu." ucap Chan. Lalu menutup teleponnya.


Setelah itu, Chan dengan bangganya menyebut2 dirinya sebagai pahlawan di depan Seo Ri. Tapi Seo Ri nya ternyata sudah balik ke kamarnya.

"Ahjumma, kau mendengar kata-kataku barusan!" tanya Chan.


Bibi Seo Ri bicara pada putranya.

"Min Gyu-ya, aku baru saja bicara pada orang yang menolongmu. Kapan kita akan ke Seoul dan menemuinya?"

Tapi sang anak tidak menjawab. Ia tersenyum melihat anaknya yang sudah tertidur.


Di kantor, Woo Jin masih rapat dengan Hee Soo dan Hyun. Hee Soo bertanya, apa Woo Jin sudah melihat materinya.

"Materi apa?" tanya Woo Jin.

"Hyun, bukankah aku sudah menyuruhmu membuat salinannya?" ucap Hee Soo.


Mendengar itu, kaki Woo Jin dan Hyun pun langsung senggol-senggolan.


Lalu, Woo Jin mengaku sudah melihatnya. Hee Soo yang tidak percaya, mencoba mengetes mereka dengan menanyakan pendapat mereka soal barang-barang yang ada di materi.

"Aku butuh waktu lebih banyak untuk meninjaunya." jawab Woo Jin.

"Baiklah, kita akan lanjutkan setelah kau mempelarinya." ucap Hee Soo.

Hee Soo lantas menawarkan kopi yang sontak ditolak oleh Woo Jin dan Hyun.


Besoknya, Hee Soo dan Woo Jin rapat membahas dekorasi panggung bersama Tae Rin dan si ketua. Hee Soo ingin menunjukkan sketsa desain panggungnya, tapi Woo Jin melarangnya. Woo Jin bilang, belum waktunya menunjukkan itu.

Woo Jin lantas minta maaf pada Tae Rin dan si ketua karena masih membutuhkan banyak waktu untuk mendesain panggung.

"Kenapa? Sebuah panggung klasik tidak harus spesial." jawab si ketua.

"Tolong beri kami beberapa hari lagi." ucap Hee Soo.

Tae Rin setuju memberikan waktu lagi pada mereka.

Si ketua lalu berkata, kalau konser klasik itu tidak boleh gagal karena penonton membayar tiket untuk menontonnya.

"Apa maksudmu?" tanya Tae Rin.

"Ada sesuatu." jawab si ketua.

Si ketua lantas mengajak mereka minum. Tapi Woo Jin menolak dan menyuruh Hee Soo yang pergi.


Woo Jin yang sudah hendak pergi, dapat SMS konseling dari dokternya.

Tak lama berselang, Profesor Shim menghampirinya dan mengucapkan terima kasih pada Woo Jin. Ia berkata, berkat Woo Jin, ia bisa main dengan Seo Ri.


Setelah itu, kita melihat Seo Ri yang tidak fokus lagi berjalan dan hampir jatuh ke dalam lubang perbaikan jalan.

Untunglah ada Woo Jin yang langsung menariknya.

"Kau hampir mematahkan hidungmu." ucap Woo Jin.

Sontak, kata-kata Woo Jin mengingatkan Seo Ri pada Su Mi.


"Aku punya teman yang mengatakan hal yang sama." jawab Seo Ri.

"Teman?" tanya Woo Jin.

Mereka pun bicara sambil berjalan.

"Saat aku masih SMA, aku selalu mengambil tas gym nya karena kesalahan. Tapi dia tidak pernah marah. Aku merindukan teman-temanku." ucap Seo Ri.

"Kau kehilangan kontak dengan mereka?" tanya Woo Jin.

"Aku kehilangan kontak dengan mereka dan tidak tahu cara menghubunginya." jawab Seo Ri.


Lalu, Woo Jin teringat kata-kata Profesor Shim soal Seo Ri.

"Ada sesuatu yang spesial darinya. Jadi itu membuatku senang bermain dengannya. Hidupnya akan berbeda jika dia terus bermain. Waktu yang hilang tidak dapat diganti. Itu sangat disayangkan."


Seo Ri pun kembali mengagetkan Woo Jin. Ia menunjukkan memar di wajahnya dan mengaku kalau memar itu ia dapatkan karena berlatih keras.

Woo Jin membeku. Ia terpana melihat Seo Ri.

"Kenapa kau menatapku seperti itu?" tanya Seo Ri.

"Kau sangat cantik." jawab Woo Jin.


Sontak, kedua pipi Seo Ri langsung memerah dibilang cantik.

"Kau tidak mau masuk?" tanya Woo Jin yang melihat Seo Ri diam saja.

Woo Jin lantas memegang ujung kaos Seo Ri dan menariknya menuju ke rumah.


Besoknya, Woo Jin dan Hee Soo kembali rapat membahas desain panggung. Bingung melihat konsep panggung, Hee Soo pun berhenti sejenak dan pergi ke dapur untuk membuat kopi.


Woo Jin kemudian melihat ringkasan yang dibuat Seo Ri dan teringat kata-kata Hyun.

"Musik klasik terdengar sangat mirip denganku. Tapi dia melihatnya dan tersenyum. Apa itu terdengar berbeda jika kau mengetahuinya?" ucap Hyun.


Lalu Woo Jin ingat kata-kata Seo Ri.

"Aku melihat musik yang akan aku mainkan hari ini." ucap Seo Ri.


Woo Jin kembali melanjutkan membaca ringkasan Seo Ri. Ia pun tersenyum.


Setelah membaca ringkasan Seo Ri, Woo Jin pun langsung mencari Seo Ri tapi malah ketemu Hyun.

Hyun membahas soal ringkasan Seo Ri tapi Woo Jin langsung memotong kata-katanya dengan menanyakan Seo Ri.

"Aku bilang biar aku saja yang pergi tapi dia bersikeras pergi ke kantor pos..."

Woo Jin pun langsung pergi menyusul Seo Ri.


Pria itu muncul lagi. Ia berdiri di depan kamar rawat Seo Ri dan terkejut melihat bukan Seo Ri yang terbaring di sana.

Suster datang tak lama kemudian dan melihatnya.

"Kau sebelumnya pernah datang kesini untuk pasien bernama Woo Seo Ri kan?" ucap Suster.


Di kantor, Hyun tidak sengaja menjatuhkan buku catatan Seo Ri dan melihat foto Seo Ri.

"Foto orkestra. Apa Seo Ri ada disini?" tanya nya.


Woo Jin menyusul Seo Ri dan melihat Seo Ri yang berjalan tidak fokus lagi dan hampir tersiram air.

Tepat saat itu, Woo Jin pun meneriakkan nama Seo Ri.

Seo Ri selamat. Ia langsung berbalik dan menatap ke arah Woo Jin tepat sebelum ia tersiram air.


Sontak, hal itu mengingatkan Woo Jin pada Seo Ri remaja.

Seo Ri yang melihat Woo Jin kesakitan pun bergegas menghampiri Woo Jin.


"Ada apa? Apa kau sakit?" tanya Seo Ri.

Woo Jin diam saja. Bayangan wajah Seo Ri remaja terus terbayang di benaknya.

Tangis Woo Jin mengalir. Melihat kondisi Woo Jin, Seo Ri pun cemas.


Tak lama kemudian, Woo Jin pun menatap Seo Ri.

"Woo Seo Ri." panggilnya.

"Iya, ini aku Seo Ri." jawab Seo Ri.

Napas Woo Jin memburu. Keringatnya juga mengalir dengan deras. Seo Ri mulai menangis karena cemas. Dan Woo Jin terus memanggil nama Seo Ri.


Woo Jin menyenderkan kepalanya di bahu Seo ri. Seo Ri tertegun.


Tangis Woo Jin terus mengalir. Seo Ri pun mengangkat tangannya dan menepuk2 punggung Woo Jin.


Bersambung..........

No comments:

Post a Comment