Wednesday, August 1, 2018

Still 17 Ep 3 Part 2

Sebelumnya....


Chan yang melintas di taman sendirian, tanpa sengaja melihat Seo Ri. Ia pun berteriak, memanggil Seo Ri. Tapi Seo Ri diam saja dan hanya menatapnya dengan ekspresi sedih. Melihat wajah sedih Seo Ri, Chan pun sadar kalau Seo Ri tidak mendapat kesempatan.

Chan berusaha menghibur Seo Ri. Ia sewot lantaran orang-orang itu tidak memberi kesempatan pada Seo Ri.

"Kemampuanku tidak begitu bagus. Aku juga tidak akan memilih pemain yang sudah tidak bermain begitu lama." jawab Seo Ri.


Chan pun menggaruk-garuk kepalanya. Ia bingung mau mengatakan apa lagi. Seo Ri kemudian melihat tangan Chan.

"Semua pendayung memiliki tangan seperti ini. Ini terlihat mengerikan, bukan?" jawab Chan sambil memperlihatkan kulit tangannya yang terkelupas.

"Aku cemburu. Tanganku juga terlihat seperti itu. Tangan seorang pemain biola juga hancur. Kita mendapatkan lecet dan membentuk kapalan di ujungnya." ucap Seo Ri.


Chan lantas bertanya, penyebab Seo Ri berhenti bermain biola. Disinilah, Chan mengetahui satu fakta lagi soal Seo Ri. Seo Ri bercerita, kalau 13 tahun yang lalu dirinya mengalami kecelakaan dan koma dalam waktu yang cukup lama.

"Itulah mengapa aku masih merasa seperti di usia 17 tahun. Tapi hari ini, aku menyadari aku berusia 30 tahun. Aku seorang yang berusia 30 tahun yang aneh, orang yang tidak tahu apa-apa." ucap Seo Ri.


Chan pun menghibur Seo Ri. Ia bilang, 30 tahun itu tidak terlalu tua. Seo Ri berterima kasih karena Chan sudah menghiburnya. Lalu Chan mengajaknya makan pot tteokbokki dan gimmari. Seo Ri pun senang, ia mengaku bahwa itu makanan kesukaannya.


Woo Jin turun dari mobilnya. Bersamaann dengan itu, Jennifer keluar dari rumah. Jennifer berkata, ia mau pergi membeli daging. Ia juga bertanya, apakah Woo Jin menyukai jenis daging tertentu. Woo Jin menggeleng. Jennifer pun mengerti lalu pergi.


Saat hendak masuk, seorang kurir datang membawakan paket untuk Woo Jin.

Dengan susah payah, Woo Jin membawa paket itu ke dalam. Semua paket itu milik Chan, Hae Beom dan Deok Soo. Woo Jin kesal karena paket2 itu dikirimkan ke rumahnya.


Tak cukup sampai disitu. Lutut Woo Jin menabrak pot bunga saat ia hendak menuju tangga.


Kesialan Woo Jin terus berlanjut. Saat ia tengah mengganti baju, bel rumahnya berbunyi. Woo Jin yang belum sempurna memakai kaosnya pun langsung menuju pintu kamarnya. Karena terburu-buru, tubuhnya menabrak rak.


Sampai di bawah, ia melihat seorang kurir mengantarkan pesanan makanan dari intercom nya. Woo Jin langsung berkata, kalau ia tidak memesan makanan. Tepat saat itu, Hae Beom dan Deok Soo muncul.

"Mengapa kau memesan pengiriman di sini?" tanya Woo Jin. Eeeh yang ditanya, bukan menjawab malah balik nanyain keberadaan Chan.

Woo Jin yang kesal, memilih pergi. Tapi dua sekawan itu memanggilnya. Menawarinya makanan. Woo Jin menolak.


Kesialan Woo Jin semakin berlanjut. Ia yang hendak menuju tangga, tanpa sengaja menabrak pot bunga Seo Ri lagi.


Kesialannya masih belum berhenti. Saat ia tengah konsentrasi menyelesaikan desainnya, ia dikejutkan dengan Hae Beom yang membuka pintu kamarnya dan mengajaknya makan.


Tak mau diganggu, Woo Jin pun mengunci pintunya tapi Deok Soo masih bisa masuk.

"Bagaimana kau bisa membukanya?" tanya Woo Jin.

"Itu baru saja dibuka." jawab Deok Soo. Deok Soo lalu menanyakan Chan.

"Kau mungkin tahu jika menelponnya." ucap Woo Jin.

"Kau benar. Aku akan membiarkanmu bekerja." jawab Deok Soo lalu pergi.


Setelah Deok Soo pergi, Woo Jin berusaha konsentrasi tapi sayangnya tidak bisa. Alhasil, ia pun pergi ke kamar mandi dan mencuci mukanya.

Tapi tiba2, Deok Soo menerobos masuk ke kamar mandi.

"Bisakah aku pipis disini? Hae Beom sedang mandi busa di kamar mandi yang lain." ucap Deok Soo.

"Kenapa dia mandi busa di kamar mandiku!" protes Woo Jin.

"Paman, ini darurat!" ucap Deok Soo, lalu membuka celananya dan Woo Jin pun langsung keluar.


Tapi saat diluar, anak ayam Chan keluar dari kamar Chan. Membuatnya menghela napas kesal.


Keesokan harinya, Woo Jin yang sedang konsentrasi dengan pekerjaannya, lagi-lagi terganggu karena teriakan Seo Ri.

Chan yang lagi nge-gym di kamarnya, juga kaget dengan teriakan Seo Ri.

Takut Seo Ri kenapa-napa, kedua pria itu langsung turun dengan membawa senjata masing-masing di tangan. Chan membawa payung dan Woo Jin membawa batang tanaman.

Sampai di bawah, mereka mendapati Seo Ri lagi loncat2 kegirangan. Seo Ri memberitahu Chan kalau ia diterima mengajar di akademi biola.


Mendengar itu, Chan pun ikut bahagia. Lalu, Hae Beom dan Deok Soo datang. Melihat ekspresi gembira Chan dan Seo Ri, mereka pun yakin ada kabar bagus. Dan tanpa mengetahui apa kabar bagusnya, dua sekawan itu ikut meloncat-loncat dengan gembira.


Jennifer pun tersenyum melihat mereka. Sementara Woo Jin yang kesal, memilih balik ke kamarnya.


Di dapur, Jennifer lagi sibuk membentuk adonan menjadi mie. Tak lama, Seo Ri pun datang meminta adonan. Seo Ri bilang, ia butuh adonan itu untuk mempersiapkan kelas.


Malam harinya, Woo Jin yang menuruni tangga pun tak sengaja mendengar suara Seo Ri yang sedang berlatih.

Di kamarnya, Seo Ri berlatih ditemani Deok Goo dan sambil mengepal-ngepalkan adonannya.


Woo Jin lalu turun dan dia nyaris saja menabrak pot bunga itu lagi. Kemudian, Woo Jin tertegun melihat tanamannya sudah kembali segar.


Keesokan harinya, sebelum pergi sekolah, Chan memberikan semangat pada Seo Ri karena hari itu adalah hari pertama Seo Ri mengajar. Tak lama kemudian, dua sekawan muncul dan ikut memberi semangat pada Seo Ri. Chan lantas melihat Seo Ri sedang mengepal adonan. Seo Ri pun berkata, kalau ia mengepal-ngepalkan adonan untuk melatih jarinya. Seo Ri lalu beranjak pergi.

"Aku kira dia benar-benar berumur 17 tahun." ucap Chan sambil tersenyum menatap kepergian Seo Ri.


Seo Ri datang ke toko biola dengan penuh semangat. Ia meminta si pemilik toko memperbaiki biolanya.

"Aku mendapatkan pekerjaan yang berkaitan dengan bermain biola. Aku tidak akan pernah membiarkan biola ku berubah menjadi sampah. Dan aku tidak akan berubah menjadi sampah juga. Aku akan membayar kamu sedikit demi sedikit setiap kali ku dibayar." pinta Seo Ri.


Woo Jin masuk ke dapur sambil membaca dokumennya dan menghidupkan mesin kopi. Ponsel Jennifer yang tergeletak di meja dapur, berbunyi. Tapi

Woo Jin tidak mendengarnya karena suara berisik mesin kopi dan menduduki ponsel Jennifer.

"Hallo..." ucap seseorang. Woo Jin sontak kaget.

Ia celingukan mencari sumber suara dan menemukan suaranya berasal dari ponsel Jennifer.

"Aku menelepon dari akademi biola. Bisakah kamu mengirimkan pesan ini? Orang tua menentang mempekerjakannya... bahkan jika anak-anak mereka adalah anak-anak prasekolah karena dia bukan jurusan biola. Jadi tolong bilang padanya bahwa dia tidak perlu datang bekerja."


Jennifer lagi membeli kentang. Saat kentangnya ditimbang, ia protes karena beratnya kurang dari 124 gram. Tak mau berdebat, si petugas pun

mengalah dan memberi Jennifer satu buah kentang lagi. Tapi si Jennifer protes lagi saat si petugas mengambil satu lagi kentang yang berukuran besar. Ia lalu mengambil kentang yang berukuran kecil agar timbangannya pas.

Saat ditimbang, si petugas pun tercengang. Dan setelah Jennifer pergi, si petugas berkata bahwa Jennifer adalah manusia langka.


Woo Jin sudah mau pergi. Ia bahkan sudah keluar dari rumahnya, tapi masuk lagi cuma buat nyampein pesan bahwa Seo Ri tidak jadi diterima di akademi biola. Ia menuliskannya di selembar memo dan menempelkannya di pintu kamar Seo Ri. Tapi baru sempet nulis 'akademi biola', ponselnya berdering, telepon dari Hee Soo.

Hee Soo marah-marah karena Woo Jin belum juga datang padahal ia sudah mengirimi Woo Jin SMS kalau mereka ada meeting. Dengan santainya,

Woo Jin mengaku kalau ia tidak membaca pesan Hee Soo dan menyuruh Hee Soo mengirimi ulang pesannya. Sontak, Hee Soo marah dan mengancam Woo Jin, akan memecat Woo Jin kalau Woo Jin tidak tiba di kantor dalam waktu 10 menit.


Tepat setelah Woo Jin pergi, Seo Ri keluar dari kamar mandi. Deok Goo langsung menghampirinya. Seo Ri menyapa Deok Goo, lalu berjalan menuju kamarnya sambil bersenandung kecil, tapi saat mau membuka pintu, ia menemukan pesan Woo Jin.

"Akademi biola? Apa maksudnya?" tanya Seo Ri heran. Beberapa detik kemudian, Seo Ri tersenyum dan melanjutkan pesan itu, kemudian mencabut memonya dari dinding pintu dan masuk ke kamarnya.


Di kantor, Woo Jin yang sedang bekerja pun teringat kalau ia belum selesai menulis memonya. Tapi kemudian, Woo Jin berpikir kalau Seo Ri juga akan tahu setelah tiba disana. Ia mencoba tak peduli, tapi terus aja keingetan Seo Ri.

Woo Jin lantas melihat jamnya. Sudah jam tiga, sementara Seo Ri harus pergi ke akademi biola jam empat.


Kemudian, Hyun duduk disamping Woo Jin dan menyuruh Woo Jin memeriksa cetak biru yang sudah direvisi.


Seo Ri berjalan menyusuri jalanan sambil melatih dirinya agar tidak kaku di depan para muridnya. Lalu, seseorang mengklaksonnya dari belakang. Ia pun menoleh dan terkejut melihat sosok Woo Jin.

"Dung Ahjussi!" serunya.

Woo Jin mau memberitahu Seo Ri, tapi pengendara mobil di belakang Woo Jin pun sewot karena Woo Jin tidak maju-maju. Alhasil, Woo Jin pun terpaksa menyuruh Seo Ri masuk.


Seo Ri salah paham, ia pikir Woo Jin sengaja pulang lebih awal karena mau mengantarnya. Woo Jin mau menjelaskan, tapi Seo Ri malah menunjukkan memo yang ditulis Woo Jin.

"Chan pasti pergi ke pelatihan tanpa bisa menyelesaikan ini... karena dia tidak punya waktu. Jadi aku melanjutkannya." ucap Seo Ri.

Ternyata Seo Ri menulis kalimat 'Semoga beruntung'.

"Itu bukan, Chan." jawab Woo Jin. Ia mau menjelaskan, tapi Seo Ri terus saja bicara. Kali ini, Seo Ri bercerita alasannya begitu bahagia mendapat pekerjaan. Semua itu karena dia mau memperbaiki biola dari ibunya. Seo Ri juga mengaku, bahwa ia merasa dirinya tidak berguna, tapi saat tahu ada seseorang yang membutuhkan bantuannya, ia merasa bahagia.

"Aku minta maaf. Masalahnya..." Woo Jin masih berusaha menjelaskan, tapi Seo Ri justru minta maaf karena sudah banyak bicara.

Lalu, Seo Ri menyuruh Woo Jin menurunkannya di pinggir jalan. Seo Ri pun turun. Woo Jin menyesal karena sudah menjawab panggilan itu.


Seo Ri lewat di depan sebuah supermarket yang sedang menggelar acara launching untuk pembukaan toko mereka.

Woo Jin menyusul Seo Ri. Seo Ri terkejut Woo Jin menyusulnya. Ia pikir meninggalkan sesuatu di mobil Woo Jin. Woo Jin pun berkata, kalau ada yang mau ia sampaikan. Tapi saat ia mengatakan, bahwa Seo Ri dipecat, Seo Ri tidak bisa mendengarnya karena suara speaker yang kelewat keras.

Seo Ri lantas mendekatkan kupingnya. Woo Jin pun menarik napas. Tepat saat itu, seorang pejalan kaki tersandung kabel speaker, hingga kabel speaker pun terlepas. Woo Jin yang tidak mengetahuinya, berteriak di telinga Seo Ri, kalau Seo Ri dipecat.

Sontak, Seo Ri terkejut dan semua mata tertuju padanya.


Sekarang, Seo Ri sudah duduk di taman. Woo Jin berdiri di depannya. Seo Ri kecewa karena ia tidak akan pernah bisa memperbaiki biola hadiah dari ibunya. Tak lama kemudian, tangisnya pecah.

Woo Jin pun bingung harus bagaimana, tapi Seo Ri menangis hanya sebentar.

"Itu terasa enak. Aku ingin menangis akhir-akhir ini. Aku merasa sangat baik sekarang setelah aku menangis." ucap Seo Ri.


Seo Ri lantas berterima kasih pada Woo Jin.

"Kau adalah... bukan orang yang sangat baik, tapi aku pikir... kau adalah tipe pria yang baik. Kau khawatit aku terluka jika kau bilang aku dipecat. Kau

orang dewasa tapi kau tidak bisa mengatakan itu padaku. Kau bahkan memberiku tumpangan. Bagaimanapun, kau terlihat dingin, tapi aku pikir kau adalah orang yang baik." ucap Seo Ri.

"Jangan menilaiku sesukamu. Aku menerima panggilan telepon itu karena kebetulan. Aku tidak akan memberikan perhatianku lagi padamu." jawab Woo Jin.

"Oke, baiklah. Aku menariknya lagi." ucap Seo Ri.

Woo Jin pun tambah salting. Seo Ri tersenyum memandanginya.


Di rumah, Chan lagi menikmati sekarung popcorn. Tak lama kemudian, Seo Ri dan Woo Jin pulang. Chan pun meletakkan popcornnya dan langsung menanyakan pekerjaan Seo Ri.


"Aku dipecat. Aku bahkan tidak pergi kerja." jawab Seo Ri dengan wajah cerianya seperti biasa.

"Bagaimana bisa?" tanya Chan.

"Sesuatu terjadi. Aku perlu menggunakan internet. Aku harus menemukan cara untuk menghasilan 2000 dollar." jawab Seo Ri, lalu pergi ke lantai atas.


Chan pun berniat menyusul Seo Ri. Dia sudah menaiki tiga anak tangga, tapi turun lagi cuma buat ngambil popcorn nya.


Woo Jin juga mau ke atas, tapi langkahnya terhenti melihat tanamannya yang sudah benar-benar segar. Ia tersenyum.


Woo Jin mengajak Deok Goo pergi, tapi Deok Goo nya tidak mau pergi dan memilih bermain dengan Seo Ri. Bahkan, saat Seo Ri berusaha mendekatkan Deok Goo ke Woo Jin, Deok Goo nya tetep aja berlari ke pelukan Seo Ri.

"Fang, Kau harus melakukan pemeriksaan rutin. Pergilah dengannya." ucap Seo Ri. Tapi Deok Goo tak mau pergi meninggalkan Seo Ri.


Lalu Chan datang dan meledek Woo Jin yang diabaikan Deok Goo. Woo Jin pun sewot dan berkata, kalau Deok Goo tidak mungkin mengabaikannya.

Chan pun menyuruh Seo Ri ikut dengan Woo Jin agar Deok Goo mau pergi. Terpaksa lah Woo Jin mengajak Seo Ri juga.


"Jadi kau tidak tahu Fang... Maksudku, usia tepatnya Deok Gu?" tanya Seo Ri.

"Aku hanya tahu dia berusia sekitar 15 tahun." jawab Woo Jin.

Ponsel Woo Jin berdering. Woo Jin pun menyuruh Seo Ri mengambil ponselnya. Seo Ri langsung membuka tas yang dia peluk dan mengambilkan ponsel Woo Jin. Setelah melihat nama yang muncul di layar, Woo Jin pun bilang itu hanya pesan spam.

*Pasti telepon dari Hee Soo.


Saat meletakkan kembali ponsel Woo Jin ke dalam tas, Seo Ri terkejut melihat ada sebungkus choco pie disana.

"Apakah kau membeli ini dan menungguku terakhir kali?" tanya Seo Ri.

"Tidak." jawab Woo Jin, lalu memberhentikan mobilnya di lampu merah.


Woo Jin kemudian mengambil choco pie itu dan memakannya. Ia mengaku, membeli choco pie itu untuk dirinya sendiri.

"Kau terlihat seperti kau memaksa diri untuk memakannya." ucap Seo Ri.

"Siapa yang terpaksa." jawab Woo Jin. Seo Ri pun tersenyum melihat tingkah Woo Jin.


Senyum Seo Ri seketika menghilang, saat dia melihat pamannya yang berjalan di seberang jalan.

Melihat sang paman, Seo Ri langsung turun dari mobil Woo Jin. Ia berlari ke tengah jalan, mencoba menyusul pamannya sambil teriak-teriak memanggil pamannya. Tapi paman Seo Ri terus saja berjalan dengan terburu-buru.


Seo Ri terus berteriak memanggil pamannya. Ia bahkan nyaris saja tertabrak mobil.

Melihat itu, Woo Jin langsung teringat kecelakaan yang dialami Seo Ri 13 tahun lalu.


"Wae Samchoon! Wae Samchoon!" Seo Ri terus berteriak memanggil pamannya. Tepat saat dirinya hampir tertabrak, Woo Jin menariknya.

Seo Ri meronta-ronta, meminta Woo Jin melepaskannya karena ia mau mengejar pamannya. Tapi Woo Jin melarangnya pergi dengan mata berkaca-kaca.

Seo Ri terkejut dan menatap bingung Woo Jin.


Bersambung.......

NB : Biar kalian gak bingung sy jelasin ya, siapa tahu ada yg bingung. Still 17 ini kan aslinya memang 20 episode, tapi karena durasinya cuma 35 menit, sekali tayang langsung dua episode makanya jadi 40 episode. Nah, sy bikin sinopnya tetap ya sy jadikan 20 ep...

Kayak Ep 3 ini.. Kalo aslinya ini udah ep 5-6...

No comments:

Post a Comment