Wednesday, August 1, 2018

Still 17 Ep 4 Part 1

Sebelumnya...


Senyum Seo Ri seketika menghilang saat ia melihat pamannya di seberang jalan.

Seo Ri langsung turun dari mobil Woo Jin dan berusaha mengejar pamannya. Ia berlari ke jalanan, padahal banyak kendaraan yang lalu lalang. 

Ia bahkan nyaris ditabrak sebuah mobil.


Sontak, hal itu mengingatkan Woo Jin pada kecelakaan bus yang dialami Seo Ri 13 tahun lalu.

Deok Goo menggonggong. Woo Jin pun tersadar dan segera menyusul Seo Ri yang masih berteriak-teriak memanggil pamannya di tengah padatnya kendaraan yang lalu lalang.


Seo Ri berusaha mengejar pamannya, tapi tangan Woo Jin menghentikannya.

"Jangan bergerak. Jangan pergi. Jebal." pinta Woo Jin dengan mata berkaca-kaca.


Seo Ri tertegun sejenak. Lalu, lampu hijau menyala. Seo Ri pun menghempaskan tangan Woo Jin dan pergi mengejar pamannya namun ia kehilangan jejak pamannya.

*Sy lupa... kalau di Korea, lampu hijau itu tanda mobil berhenti. Lampu merah tanda mobil berjalan.


Seo Ri pun terduduk lemas. Sementara Woo Jin memperhatikannya di seberang jalan. Saat melihat Woo Jin, Seo Ri pun berdiri. Ia berjalan ke arah Woo Jin dengan wajah marah.

"Karena dirimu, aku kehilangan pamanku! Kau bilang, kau tidak akan memperdulikanku lagi. Tapi kenapa kau peduli! Andai kau tidak menghentikan aku, aku pasti sudah menemukan paman dan rumahku lagi! Juga biola...." Seo Ri pun terisak.

"Ini... ini semua salahmu!" ucap Seo Ri lagi.

Kata-kata Seo Ri yang menyalahkannya pun kembali membuatnya teringat pada kecelakaan Seo Ri.

"Bagaimana jika kau mati? Bagaimana jika kau mati karena aku?" jawab Woo Jin. Membuat Seo Ri tertegun.


Woo Jin sudah kembali melajukan mobilnya. Tapi ia hanya bersama Deok Goo. Woo Jin menghela napas memikirkan Seo Ri yang menyuruhnya pergi. Seo Ri bilang, kalau dirinya akan tetap berada disana untuk mencari pamannya.

Deok menatap ke jendela. Anjing lucu itu menangis.


Seo Ri mengedarkan pandangannya ke semua arah, mencari sosok pamannya.


Di kantornya, Woo Jin tak bisa konsentrasi saat ia dan Hee Soo juga Hyun tengah rapat membahas soal konser Tae Rin. Hee Soo berkata, kalau mereka harus menghubungi Tae Rin lewat e-mail sebelum konser itu berakhir. Hee Soo juga mau menyelesaikan musikalnya terlebih dahulu sebelum mereka berkonsentrasi pada festivalnya.

Woo Jin menghela nafas membuat Hee Soo langsung menatapnya.

"Apa yang membuatmu menghela nafas?" tanya Hee Soo. Tapi yang ditanya diam saja.

"Gong!" panggil Hee Soo. Tapi Woo Jin masih saja diam.

"Ya, Gong!" sewot Hee Soo. Tapi Woo Jin tidak meresponnya.


"Hyung!" Hyun menyenggol lengan Woo Jin. Barulah Woo Jin merespon.

"Ada apa denganmu? Kau melamun seharian. Sepertinya ada masalah." tanya Hee Soo.

"Kau sudah menjadi cenayang sekarang? Tidak ada masalah." jawab Woo Jin.

Woo Jin lantas bertanya pada Hyun, materi rapatnya. Hee Soo lah yang menjawab. Hee Soo bilang, mereka akan membahasnya besok.

"Hyung, kau sungguh tidak apa-apa?" tanya Hyun.

"Aku baik-baik saja." jawab Woo Jin.


Woo Jin kemudian bangkit dari duduknya dan memakai blazer Hee Soo yang tergantung di kursi.

"Kau suka itu? Kau menginginkannya?" tanya Hee Soo heran.

Barulah Woo Jin sadar, kalau ia memakai blazer Hee Soo.

"Apa? Kamu suka itu? Kau menginginkannya?" tanya Hee Soo.

"Kurasa aku menginginkannya karena cantik." jawab Woo Jin, lalu beranjak pergi.


"Dia menganggapnya bercanda, tapi tidak lucu sama sekali." ucap Hyun.

"Dia selalu aneh, tapi dia lebih aneh hari ini. Apa terjadi sesuatu?" Hee Soo bertanya-tanya.


Woo Jin kembali ke tempat itu dan melihat Seo Ri masih menunggu pamannya di sana, padahal hari sudah malam.

Seo Ri yang lelah menunggu, akhirnya memutuskan pergi. Begitu pula dengan Woo Jin.

Episode 7, Apa Itu Kebenaran?


Chan menunggu diluar rumah dengan wajah cemas. Tak lama kemudian, mobil Woo Jin datang.

"Kenapa kau keluar saat udara panas?" tanya Woo Jin sambil mengelus kepala Chan.

"Dimana bibi? Kudengar paman kembali dan meninggalkan Deok Goo di rumah.  Kenapa Bibi tidak ikut pulang? Paman tahu dia ke mana?"


Chan memberondong Woo Jin dengan pertanyaan seputar Seo Ri.

"Entahlah. Paman tidak mau tahu. Paman enggan berurusan lagi dengannya." jawab Woo Jin.

"Heol, paman manusia atau kulkas? Kenapa dingin sekali?" ucap Chan.

Woo Jin yang tidak tahu apa-apa soal Seo Ri pun meminta Chan berhenti mengkhawatirkan Seo Ri karena Seo Ri sudah dewasa.

"Aku tidak akan mengkhawatirkannya jika dia orang dewasa biasa." ucap Chan setelah pamannya masuk ke dalam.


Begitu melihat Woo Jin, Deok Goo langsung menghampirinya. Deok Goo celingukan mencari Seo Ri, tapi Woo Jin malah mengira Deok Goo ketakutan dan menyesal sudah mengizinkan Seo Ri tinggal bersamanya. Deok Goo pun kembali menangis. Woo Jin yang tidak peka pun tidaksadar bahwa Deok Goo menangis.


Ponsel Woo Jin berdering. Telepon dari tim jazz festival musik yang menanyakan apakah Woo Jin sudah memeriksa emailnya.

"Aku hendak meneleponmu soal itu. Aku belum menerimanya. Mungkin alamat surel yang kau dapatkan salah. Atau mungkin ada kesalahan dengan file nya." jawab Woo Jin.


Woo Jin pun meminta emailnya dikirimkan lagi. Setelah itu, ia masuk ke kamarnya. Tapi ia berhenti sejenak dan menatap ke arah kamar Seo Ri sebelum naik ke tangga menuju kamarnya.


Chan masih menunggu Seo Ri diluar. Tak lama kemudian, ia melihat Seo Ri yang berjalan dengan lemas.

"Bibi dari mana saja tanpa mengabari? Bibi sudah makan?" tanya Chan. Seo Ri diam saja.

"Aku bisa langsung tahu bibi belum makan. Apa bibi sakit?" tanya Chan lagi.

"Aku bisa minta segelas air sebelum bicara?" ucap Seo Ri.


Mereka pun pergi ke dapur. Chan berkata, kalau ia sudah lama menunggu Seo Ri diluar.

"Ini sebabnya bibi butuh ponsel. Lain kali, tinggalkan pesan sebelum pergi." ucap Chan.

"Aku melihat pamanku." jawab Seo Ri.

"Sungguh? Di mana Bibi akhirnya menemukan dia?" tanya Chan.

"Tapi aku kehilangan dia. Aku yakin itu dia. Jika aku lari mengejar dia sedikit lebih cepat, aku pasti sudah bertemu dengannya." jawab Seo Ri.

Mendengar itu, Chan pun menghibur Seo Ri. Ia yakin, Seo Ri akan bertemu pamannya tak lama lagi.

Seo Ri lalu meminta kertas dan selotip.


Woo Jin masuk ke dapur. Ia langsung diam begitu melihat Seo Ri. Dan Seo Ri, langsung pergi tanpa mengatakan apapun.


Chan pun sadar kalau terjadi sesuatu antara pamannya dan Seo Ri sepulang dari dokter hewan.

"Katanya dia melihat pamannya di dekat sini, tapi kehilangan dia. Dia menemukannya lebih cepat daripada yang kukira, jadi, kurasa kurang dari satu bulan, dia akan pindah. Karena itu, bersikap baiklah kepadanya saat dia di sini, ya?" ucap Chan.


Woo Jin diam saja dan menyalakan mesin kopi. Chan terus meminta Woo Jin agar bersikap baik pada Seo Ri. Tapi Woo Jin tetap diam.

"Senyumlah sedikit." pinta Chan lagi. Tapi Woo Jin masih tidak bereaksi.

Melihat itu, Chan pun menarik pipi Woo Jin agar Woo Jin tersenyum.

"Begini. Lihat? Tampak lebih baik saat tersenyum, bukan? Paman yang sangat tampan." ucap Chan. Tapi Woo Jin menatap galak Chan.

"Aku harus melepaskannya bukan?" tanya Chan.

"Mungkin." jawab Woo Jin. Chan pun langsung menurunkan tangannya.

Woo Jin kemudian mengambil kopinya dan kembali ke kamarnya.


Di kamarnya, Woo Jin menuliskan nama Dokter Yoo Joong Sun di kolom pencarian internet.

Ia lalu teringat saat dirinya bertemu Dokter Yoo di depan klinik hewan. Saat itu, Woo Jin tidak terlalu menanggapi Dokter Yoo. Dokter Yoo pun berkata, kalau sebbaiknya mereka tidak pernah bertemu lagi.

Ah, jadi pria itu dokternya Woo Jin.


Kemudian, Woo Jin duduk di lantai memikirkan kecelakaan Seo Ri.


Seo Ri yang tidak bisa tidur, akhirnya pergi ke taman.


Di depan kamar Woo Jin , Chan lagi push up. Tapi saat sampai di hitungan ke-92, ia pun lupa sudah menghitung sampai mana.

"Kau menghitung sampai 91." jawab Woo Jin yang tiba-tiba keluar dari kamarnya sambil mendorong koper besar.

"Untuk apa koper besar itu?" tanya Chan.

"Aku akan pergi ke studio dan tinggal di sana sekitar sebulan." jawab Woo Jin.


"93.." Chan kembali menghitung. Tapi begitu menyadari bahwa pamannya mau pergi, ia langsung mengejar pamannya. Ia mengambil koper pamannya dan melarang pamannya pergi. Tapi Woo Jin tetap kekeuh mau pergi.

"Apa paman tidak nyaman karena bibi di sini?" tanya Chan. Woo Jin diam saja.


Lalu, Deok Goo menyalak. Chan pun langsung menerjemahkan bahasa Deok Goo.

"Paman lihat, kan! Deok Goo bilang jangan pergi." ucap Chan.

Tapi Woo Jin tetap mau pergi dan menyuruh Chan menjaga Deok Goo.


Saat hendak keluar, Seo Ri pun masuk ke rumah. Ia terdiam melihat Woo Jin yang mau pergi.

"Sedang apa bibi disitu?" tanya Chan.

"Aku tadi ke taman." jawab Seo Ri.

Dan, Woo Jin pun pergi.


Tak enak pada Seo Ri, Chan pun berkata kalau pamannya pergi karena dirinya mengatakan bahwa Deok Goo menjadi lebih sehat berkat Seo Ri. Namun Seo Ri tidak terlalu menanggapinya dan memilih masuk ke kamarnya.


Keesokan harinya, Seo Ri kembali ke tempat dimana ia melihat pamannya dan menempelkan beberapa selebaran yang bertuliskan, "Paman, ini aku Seo Ri. Aku di rumah lama kita! Datanglah".


Di studio, Woo Jin sedang mendesain. Ia menggores pena nya pada sebuah kertas.

Lalu, ia menerima video call dari Woo Jin.

"Aku merindukanmu, uri Mr. Gong.  Pulanglah. Aku akan mengadukan paman pada ibu. Paman tidak merindukan keponakan kesayangan Paman? Meski aku melakukan ini? Bagaimana dengan ini?" ucap Chan.

Woo Jin pun tertawa melihat pose sok imut Chan.


Di kamarnya, Seo Ri masih membuat selebaran agar pamannya lekas datang.


Woo Jin kembali melanjutkan pekerjaannya. Tak lama kemudian, Chan menghubunginya. Chan menyuruh Woo Jin pulang karena Deok Goo kabur dari rumah.

Woo Jin pun kaget dan berniat pulang tapi kemudian ia mendengar gonggongan Deok Goo.

Chan pun sontak menyuruh Deok Goo diam dan mengaku pada Woo Jin, kalau itu suara anjing tetangga.

Woo Jin menarik napas lega karena Deok Goo tidak hilang. Lalu, Woo Jin berniat duduk tapi ia malah jatuh dan kepalanya membentur meja.

Woo Jin kemudian bertanya, apa semuanya baik-baik saja.

"Tentu tidak baik.  Pamanku kabur dari rumah saat aku masih SMA. Tentu, aku tidak baik-baik saja." jawab Chan.

"Aku akan mampir dua hari lagi. Sampai jumpa." ucap Woo Jin.


Seo Ri kembali ke tempat itu. Melihat selebarannya jatuh, ia pun bergegas menempelkannya kembali.


Woo Jin menenangkan dirinya di atap studio.


Keesokan harinya, Chan yang lagi kumur-kumur membersihkan giginya, mendengar suara pintu dibuka. Ia pun terkejut sampai-sampai menelan air kumur-kumurnya. Mengira yang datang pamannya, ia pun langsung berlari keluar tapi langsung cemas saat melihat yang datang adalah dua sohibnya.

"Kukira uri Mr. Gong." ucap Chan.

"Apa yang terjadi pada paman kita?" tanya Deok Soo.

"Uri Mr. Gong kenapa?" tanya Hae Beom.

"Dia pamanku dan Mr. Gong ku." jawab Chan sebal. Chan lalu bertanya-tanya, kenapa pamannya belum pulang juga? Apa pamannya lagi puber?


Seo Ri pun mendadak muncul. Melihat Seo Ri, Chan langsung bilang kalau pamannya pindah karena alasan pekerjaan, bukan kabur atau semacamnya.

Seo Ri pamit, dia mau keluar menempelkan selebaran lagi.


Jennifer muncul.

"Seo Ri-ya, bagaimana dengan sarapannya?"

"Aku tidak berselera. Aku akan kembali." jawab Seo Ri, lalu pergi.


"Ada apa ini? Pamanmu kabur karena dia?" tanya Deok Soo setelah Seo Ri pergi.

"Bagaimana kau tahu?" tanya Chan balik.

"Karena ucapanmu mudah dimengerti!" jawab Deok Soo sewot.

"Astaga, aku mengacaukannya!" ucap Chan frustasi.


Di jalan, Seo Ri kembali melihat pamannya. Ia pun langsung berlari mengejar pamannya tapi saat terkejar, ternyata itu bukan pamannya.


Seo Ri langsung lemas. Ia teringat saat dirinya menyalahkan Woo Jin kemarin.

"Aku salah. Itu bukan karena dia." ucap Seo Ri.


Seo Ri yang sudah di dekat rumahnya, mengacak-ngacak rambutnya. Ia tidak tahu bagaimana harus minta maaf pada Woo Jin.


Lalu, ia melihat Chan di depan rumah lagi teleponan ama Woo Jin.

"Orang berusia 30 tahun macam apa yang lari dari rumah? Aku sudah bertanya kepada Hee Soo. Dia bilang Paman tidak cukup sibuk untuk tinggal di perusahaan." ucap Chan.

Yakin Chan lagi bicara sama Woo Jin, Seo Ri pun bergegas mendekati Chan. Ia mau bicara sama Woo Jin, tapi Chan yang gak ngeh malah menutup teleponnya.

"Kapan aku menyuruhmu menutup telepon? Aku tadinya mau... Kenapa kau... ah sudahlah!" ucap Seo Ri frustasi, lalu masuk ke rumah.

"Aku tidak mengerti." ucap Chan.

*Sy ngakak adegan ini.


Woo Jin lagi mendekor tempat konser Tae Rin. Tak lama kemudian, Hee Soo datang.

"Aku baru bicara dengan Chan. Apa yang terjadi? Kau kabur dari rumah Kau tidak menjadi dewasa seiring bertambahnya usiamu? Bagaimana bisa kau kabur dari rumah padahal usiamu 30 tahun?" omel Hee Soo.

Woo Jin pun menyuruh Hee Soo diam karena teleponnya bunyi. Telepon dari pihak festival jazz yang bertanya apakah Woo Jin sudah menerima e-mailnya. Woo Jin pun langsung memeriksa emailnya dan meminta mereka mengirimkannya lagi karena ia belum menerima e- mailnya.

Setelah Woo Jin menutup teleponnya, Hee Soo bicara lagi. Dia menyuruh Woo Jin pulang, tapi Woo Jin tidak menanggapinya dan pura-pura sibuk mengatur dekorasi.

"Dia makin sulit dihadapi seiring bertambahnya usianya." komen Hee Soo gedek.


Seo Ri masuk ke rumah. Ia makin bingung gimana caranya minta maaf pada Woo Jin.

Bersamaan dengan itu, Jennifer berjalan menuju pintu keluar sambil mendorong koper besar.

"Jennifer, kau mau kemana?" tanya Seo Ri.

"Aku akan mengemas kotak makan siang karena aku khawatir Pak Gong akan sering makan di luar. Aku akan belanja bahan makanan." jawab Jennifer.

Mendengar itu, Seo Ri pun minta ikut.

Seorang wanita bersepatu kuning muncul di depan rumah Woo Jin dan melihat Seo Ri yang pergi dengan Jennifer.


Seo Ri kagum melihat cara Jennifer memasak. Beberapa menit kemudian, Jennifer pun selesai mengemas makan siang untuk Woo Jin.


Jennifer pun menyuruh Seo Ri mengantarkan makan siang itu ke Woo Jin.

"Aku membuat acar kubis. Menurut prinsip tekanan osmotik, konsentrasi seharusnya sudah seimbang sekarang. Jika kubiarkan terlalu lama, mereka akan menjadi keras dan asin. Dengan kata lain, aku bertanya apa kaubisa pergi mewakiliku karena aku perlu mengeluarkan acar kubis." ucap Jennifer.

"Ya, aku mau!" seru Seo Ri.


Tapi saat Seo Ri mau pergi, Jennifer menyuruhnya berhenti.

"Aku menghitung upah minimum 2018 dan mengukur jarak fisik dan waktu dari sini ke tempat kerja Pak Gong. Menurut itu, kau harus dibayar sebanyak ini." ucap Jennifer lalu memberikan uang pada Seo Ri.

Tapi Seo Ri tak enak menerimanya. Jennifer memaksa. Ia juga mengutip kata-kata Abraham Lincoln tentang menghargai jerih payah karena buah jerih payah itu akan indah.

Seo Ri tetap menolak. Jennifer memaksanya dan terus mengoceh soal buah jerih payah. Terpaksalah Seo Ri menerimanya agar Jennifer berhenti bicara.


Seo Ri pun sampai di tempat kerja Woo Jin tapi dia tidak menemukan siapa pun di sana. Seo Ri memutuskan menunggu. Saat tengah menunggu Woo Jin, telepon di kantor tiba-tiba berdering, membuatnya kaget. Ia pun terpaksa menjawabnya.

"Hai, ini Rin Kim, direktur musik One Festival. Aku menelepon Nona Kang, tapi dia tidak menjawab. Apa dia ada di kantor?"

"Sedang tidak ada orang di sini." jawab Seo Ri.

"Lantas, kau bisa menyampaikan pesan ini untukku? Orang-orang mengira musik klasik sulit dimengerti, jadi, aku berencana membuatnya mudah dimengerti. Aku mengirimkan video festival di Eropa... sudahlah. Biar aku sendiri saja yang menyampaikannya." ucap Tae Rin.

"Kau tadi menyebutkan Eropa. Kau membicarakan festival seperti the Proms atau Verbier Festival?" tanya Seo Ri.

"Benar. Aku ingin mengadakan festival yang mirip dengan Proms." jawab Tae Rin.

"Seperti saat semua bernyanyi bersama di hari terakhir festival?" tanya Seo Ri.

"Ya. Penonton bisa berpartisipasi dan lebih akrab dengan klasik." jawab Tae Rin.

"Daripada membuat mereka hanya menonton pertunjukan, lebih baik dibuat karnaval." ucap Seo Ri.


Tae Rin pun tersenyum mendengarnya. Lalu seketarisnya datang mengingatkannya jadwal rapat. Tae Rin pun bergegas menutup teleponnya tapi sebelum menutup teleponnya, ia menyuruh Seo Ri memberitahu Hee Soo agar memeriksa materinya kembali.

"Ada kabar bagus?" tanya seketarisnya.

"Aku bisa bicara dengan orang yang sepikiran denganku." jawab Tae Rin.

Tae Rin pun menyesal karena lupa menanyakan nama Seo Ri.


Seo Ri menuliskan pesan Tae Rin di memo. Tapi saat mau menaruh pena kembali ke tempatnya, ia malah menjatuhkan pena itu ke bawah meja.

Seo Ri lantas masuk ke kolong meja, untuk mengambil pena itu. Tepat saat itu, Woo Jin datang dan melihat koper yang dibawa Seo Ri.

Kemudian, Woo Jin duduk. Tapi Seo Ri mendadak keluar dari kolong meja. Woo Jin yang kaget, sampai jatuh dari kursinya.


Woo Jin lalu menyuruh Seo Ri keluar dari kolong. Tapi Seo Ri justru membenturkan kepalanya ke kepala Woo Jin saat ia keluar dari kolong.

"Kenapa kepalamu keras sekali?" protes Woo Jin.

"Maaf karena kepalaku keras." jawab Seo Ri.

"Baiklah, sampaikan terima kasihku kepada Jennifer. Katakan dia tidak perlu melakukan ini lagi." ucap Woo Jin.

Seo Ri mengangguk, tapi tak langsung pergi setelahnya.


"Kenapa masih belum pergi?" tanya Woo Jin.

"Maafkan aku. Aku minta maaf karena menyalahkanmu atas segalanya hari itu. Sepertiny pria yang kulihat hari itu bukanlah pamanku. Aku mengejar seseorang hari ini, mengira dia pamanku. Tapi itu bukan dia." jawab Seo Ri.


3 sekawan keluar dari tempat nge-gym. Deok Soo berkata, kalau dia berolahraga sangat keras sampai merasa akan mati kelaparan.

"Apa artinya kelaparan?" tanya Hae Beom.

"Astaga, otakmu kosong sekali.  Kau harus bersyukur karena keluargamu kaya." jawab Deok Soo.


Lalu Chan keluar dan mengajak mereka makan. Tapi dia melihat Seo Ri melintas di pinggir jalan. Sontak Chan berteriak memanggil Seo Ri. Tapi ternyata yang dilihatnya orang lain.

"Bukankah dahulu kau punya mata orang Mongolia? Dia jelas bukan wanita itu." ucap Hae Beom.

"Kenapa aku mengira itu dia?" tanya Chan heran.

Chan pun teringat kata-kata Seo Ri. Seo Ri pernah bilang, karena merindukan pamannya jadi setiap kali melihat sosok yang mirip pamannya, ia langsung mengira itu pamannya.


Seo Ri sedang mengatakan hal yang sama yang dulu pernah ia katakan ke Chan pada Woo Jin. Ia lalu membujuk Woo Jin pulang. Ia juga berkata, akan melakukan hal yang sama seperti yang Woo Jin lakukan padanya jika melihat seseorang berlari ke tengah jalan. Woo Jin pun berkata, kalau ia bisa mengurus dirinya.

"Aku tahu harus meninggalkan rumahmu. Aku sungguh menyesal, tapi... aku tidak punya tempat tujuan. Jadi, aku harus tinggal di sana setidaknya satu bulan, tapi jika kau..."

Ponsel Woo Jin berdering, membuat Seo Ri berhenti bicara. Setelah menutup teleponnya, Woo Jin pun menyuruh Seo Ri pulang karena ia harus bekerja.


Seo Ri mengerti dan beranjak pergi, tapi sebelum pergi ia menyuruh Woo Jin pulang dan meminta maaf sekali lagi.

Woo Jin pun menghela nafas menatap kepergian Seo Ri.

Bersambung ke part 2......

No comments:

Post a Comment