Friday, August 3, 2018

Still 17 Ep 4 Part 2

Sebelumnya...


Woo Jin sedang memeriksa e-mailnya. Tak lama kemudian, Hyun datang dan bertanya, siapa nona merah jambu yangmbaru saja pergi itu.

Hyun seketika terkejut saat melihat bekal makanan di atas meja.

"Hyun-ah, kau belum makan, kan? Ayo makan itu bersama-sama." ajak Woo Jin.

Hyun langsung membuka kotak makanannya.

"Daebak, dia menaruh seluruh cinta dan perhatiannya pada makanan ini. Siapa nona merah jambu itu? Pacarmu?"

"Uri eommoni." jawab Woo Jin.

"Tidak mungkin." ucap Hyun.

"Aku akan berhenti ngelantur, maka sebaiknya kau juga berhenti." jawab Woo Jin.

"Hyung, buatlah lelucon yang masuk akal. Siapa nona merah jambu itu? Kurasa aku mengendus sesuatu." ucap Hyun.

"Jika itu bau, buka saja jendelanya." jawab Woo Jin, lalu beranjak pergi.


Jennifer lagi membersihkan kamar Chan ketika Chan pulang. Jennifer meminta Chan menunggunya karena ia akan selesai bersih-bersih dalam waktu 34 detik lagi.

"Santai saja." jawab Chan.


Jennifer lalu mengambil sebuah buku di rak paling atas. Saat itulah, ia tanpa sengaja menjatuhkan selembar foto. Chan langsung menangkap foto itu sebelum jatuh ke lantai.

"Nice seukechi." ucap Chan.

*Sy bingung ucapannya Chan. Dia bilang 'nice seukechi'. Lah, seukechi artinya kan sketsa.


Chan pun melihat fotonya. Ia terkejut.

"Yang memegang hot dog mirip denganmu, siapa anak ini?" tanya Jennifer.

"Uri Mr. Gong." jawab Chan, lalu teringat saat ia mengambil foto itu.


Flashback...

Woo Jin mengajak Chan ke taman bermain.

"Chan-ah, mau berfoto di sana?" tanya Woo Jin.

Flashback end...


"Saat tinggal di Jerman, aku singgah di rumah kakekku di Seoul 2 hingga 3 bulan setahun. Paman sering bermain denganku saat itu. Dia selalu mengajakku berjalan-jalan. Dia membeli mainan dan camilan untukku dengan uang sakunya." ucap Chan.

Jennifer pun kembali mengutip kalimat dari William Makepeace Thackeray.

"Tawa yang manis adalah cahaya di rumah." ucap Jennifer.


Seo Ri membuka pintu kamarnya dan menunggu Woo Jin sampai ketiduran di depan pintu.


Keesokan harinya, begitu terbangun, Seo Ri langsung berlari ke kamar Woo Jin. Ia senang Woo Jin sudah pulang, tapi wajahnya langsung kecewa yang tidur di kasur bukanlah Woo Jin, tapi Chan.

"Kenapa kau tidur di kamarnya?" tanya Seo Ri.

"Entahlah." jawab Chan yang belun sepenuhnya sadar.


Lalu Chan merasa silau karena cahaya matahari yang menerobos masuk ke kamarnya lewat jendela.

"Kenapa mereka membuat jendela yang tidak bisa dibuka?" tanya Woo Jin

Seo Ri pun langsung menatap ke arah jendela yang ada di atap.

"Maaf telah membangunkanmu." ucap Seo Ri, lalu beranjak keluar kamar.


Tepat saat itu, ponsel Chan berbunyi. Video call dari ibunya dan sang ibu sempat melihat Seo Ri keluar kamar.

"Siapa yang baru saja keluar?" tanya sang ibu. Chan pun langsung melek.

"Ibu, itu..." Chan bingung menjelaskannya.

"Yoo Chan, jangan menyuruh pembantu membangunkanmu." ucap sang ibu.

"Ya. Itu pembantu." jawab Chan.

"Bukankah itu kamar pamanmu? Kenapa kau tidur disana? Ada masalah?" tanya sang ibu.

"Tidak. Semua baik-baik saja. Jangan cemaskan apa pun dan perhatikan saja anak-anak Afrika. Aku harus bersiap-siap ke sekolah. Bye, mommy." ucap Chan, lalu memutuskan panggilannya.

"Astaga, dia menakutiku." ucap Chan syok.


Seo Ri berjalan menyusuri jalanan, dia habis membeli sesuatu.

"Dung Ahjussi pergi dari rumah gara-gara aku dan aku membuat Chan khawatir." ucapnya.

Lalu dia melihat selebaran lowongan kerja yang ditempel di tiang listrik dan teringat saat ia menjemput violinnya yang ditinggalkannya di toko violin.

*Gw baru tahu kalo biola dan violin itu beda dan yang dimainin Seo Ri itu violin.

Flashback...


"Aku akan mengambil violin yang kutinggalkan waktu itu. Aku tidak punya uang, maka aku belum bisa memperbaikinya untuk saat ini." ucap Seo Ri.

"Kau punya banyak uang." jawab si pemilik toko.

"Apa? Aku?" tanya Seo Ri heran.

"Ini ada di dalam kotak violinmu. Bukankah itu sekitar 200 hingga 300 ribu dolar?" jawab si pemilik toko sambil mengembalikan uang Seo Ri yang tertinggal di dalam kotak violin.


Ternyata, uang itu didapat Seo Ri dari pamannya saat mereka berada di pesawat. Sang paman menyuruhnya naik taksi ke hotel. Lalu, bibinya melarang ia berkeliaran agar tidak tersesat.

"Aku tidak akan tersesat." ucap Seo Ri saat itu.

"Tapi kau baru saja menghilangkan violinmu beberapa jam lalu di bandara." jawab sang paman.


Seo Ri pun menjelaskan, itu karena dia menghibur anak kecil yang menangis. Lalu ia menerima uang pemberian pamannya dan menyimpannya di kotak violinnya.

Seo Ri menangis. Pamannya bilang, bahwa mereka bisa bertemu lagi dengan uang itu.

Flashback end...


Teringat hal itu, Seo Ri pun langsung pergi ke tempat kerja Woo Jin.

"Ahjussi, aku akan pergi dari rumah, maka pulanglah!" teriaknya begitu sampai disana. Tapi tidak ada siapa-siapa disana.

Tak lama kemudian, Hee Soo keluar dari dalam ruangan.

"Nuguseyo? Ada keperluan apa datang kemari?" tanya Hee Soo.

"Aku ingin menemui ahjussi itu." jawab Seo Ri,

"Ahjussi yang mana?" tanya Hee Soo.

"Dung Ahjussi. Ah, maksudku, Mr. Gong." jawab Seo Ri.

"Mr. Gong? Maksudmu Desainer Gong Woo Jin?" tanya Hee Soo.

"Majayo." jawab Seo Ri.

"Dia baru saja pergi. Belum lama." ucap Hee Soo.

"Kamsahamnida." jawab Seo Ri, lalu buru-buru pergi.


"Dung Ahjussi?" Hee Soo bertanya-tanya. Tak lama kemudian, ia terkejut Woo Jin dicari seorang wanita.


Diluar, Seo Ri celingukan mencari Woo Jin dan menemukan Woo Jin yang lagi mengukur sebuah meja dan kursi di pinggir jalan. Seo Ri memanggil Woo Jin, tapi Woo Jin tidak mendengar karena telinganya memakai earphone dan dia pergi begitu saja.


Seo Ri mengejar Woo Jin dan melihat Woo Jin masuk ke kafe. Ia pun menyusul Woo Jin ke kafe.

Seo Ri melihat Woo Jin duduk disalah satu kursi. Ia berniat mendekati Woo Jin, tapi keduluan orang lain.


Seo Ri pun berbalik dan langsung pergi ke meja lain. Lalu, seorang pelayan datang dan menyuruhnya memesan di meja depan.

Seo Ri melihat daftar menu dan harganya sangat mahal.


Kemudian, dia melihat papan kecil yang bertuliskan "Tambah satu seloki, 50 sen".

Seo Ri memutuskan memesan itu. Si pelayan pun menjelaskan, kalau menambah satu seloki hanya dipesan sebagai tamabhan.

"Kalau begitu, menu apa yang paling murah?" tanya Seo Ri.


Seo Ri kembali ke mejanya sambil membawa minumannya. Tapi saat mencicipinya, ia langsung mual dan bergegas mencari air mineral.

"Itu racun." ucapnya setelah minum air.


Habis minum air, dia melihat Woo Jin sudah berdiri diluar kafe.

"Kapan dia keluar?" tanya Seo Ri.

Seo Ri pun bergegas menyusul Woo Jin.


Diluar, Woo Jin kembali mengukur meja dan kursi yang ada di depan kafe. Seorang wanita tiba-tiba datang. Ia terkejut ketika paha belakangnya tak sengaja menyentuh tangan Woo Jin yang sedang mengukur kursi.

Pacar wanita itu datang. Dia melabrak Woo Jin. Tapi Woo Jin yang pakai earphone tidak mendengar dan berjalan pergi.

Pacar wanita itu marah dan menarik Woo Jin. Woo Jin pun langsung melepas earphone nya.

"Kau mesum!" sewot pacar si wanita.

Tepat saat itu, Seo Ri datang dan menjelaskan kejadian yang sebenarnya.

"Anda salah paham. Dia bukan orang mesum. Aku bisa memahami kalian. Sekilas, dia seperti orang sinting. Maksudku, orang gila. Aku menganggapnya bedebah mesum saat kali pertama bertemu... Kukira dia mesum, tapi dia hanya terobsesi dengan pekerjaan. Itu penyakit profesi." ucap Seo Ri.

Seo Ri juga menunjukkan meteran Woo Jin pada mereka. Tapi Woo Jin cuek bebek. Ia mengambil meterannya dari tangan Seo Ri dan melengos pergi gitu aja.

Setelah meminta maaf atas nama Woo Jin pada mereka, Seo Ri pun bergegas menyusul Woo Jin.


"Kau harus menjelaskan saat hal semacam ini terjadi. Orang akan salah paham jika kamu pergi tanpa penjelasan. Tidak bisakah kau berhenti mengukur benda di pinggir jalan?" tanya Seo Ri.

"Kenapa kau ikut campur? Ini bukan urusanmu." jawab Woo Jin.

"Mana mungkin aku tidak terlibat? Haruskah aku membiarkanmu dianggap sebagai mesum lagi dan akan dipukuli?" ucap Seo Ri.

"Aku bisa berpura-pura tidak melihat apa pun. Mengerti?" jawab Woo Jin.

"Kau sungguh bisa seperti itu? Tidakkah itu mengganggumu jika mengabaikan hal semacam itu?" tanya Seo Ri.

"Tidak sama sekali. Aku benci orang-orang yang terlibat dalam urusanku dan aku juga benci terlibat dalam urusan orang lain. Aku sangat paham bahwa niat baik tidak selalu membuahkan hasil yang baik." jawab Woo Jin.


"Itu sebabnya kau tidak menyadari hal yang seharusnya kau sadari. Kau mengabaikan orang lain, padahal mereka tulus meminta maaf. Kau bahkan tidak sadar bahwa Chan sangat khawatir. Kau menutup perasaan dan matamu, lalu mengabaikan segalanya." ucap Seo Ri.

"Bukankah sudah kubilang, jangan menafsirkan sesuatu seenaknya!  Pikirmu kau siapa berhak menilaiku! Kau tahu apa soal diriku sampai mengatakan hal semacam itu!" jawab Woo Jin.

"Kau benar, aku tidak tahu! Tapi yang pasti aku tahu satu hal. Daripada memarahi orang karena ikut campur dan bilang tidak tahu apa pun tentang dirimu, sedikit rasa terima kasih saja sudah cukup baik. Kukira kau hanya gemar menyingkirkan hal yang terlihat, tapi kau juga menyingkirkan perasaanmu. Kukira akulah satu-satunya orang dewasa yang aneh, tapi ternyata kau lah yang paling aneh!" ucap Seo Ri.

Seo Ri lalu beranjak pergi. Sementara Woo Jin membeku di tempatnya. Dia seolah tersadar karena ucapan Seo Ri.


Seo Ri sendiri mengutuk dirinya karena sudah mengatakan hal itu pada Woo Jin.


Woo Jin kembali ke kantornya dan menemukan Chan ada di sana. Chan berkata, ia datang karena pamannya tidak mau pulang. Chan juga bilang, kalau dia akan tinggal di studio juga sampai pamannya itu mau pulang.

"Apa maksudmu?" tanya Woo Jin.

"Bagaimana menurut paman? Maksudku, kita harus makan perut daging putih." jawab Chan.

"Ayo makan di tempat yang bagus." ajak Woo Jin.


Mereka pun BBQ-an di atap gedung.

"Bagaimana kabar Deok Goo?" tanya Woo Jin.

"Kalau penasaran, pulanglah." jawab Chan, lalu menyuruh Woo Jin mengambil daun selada.

Woo Jin menolak. Ia menyuruh Chan mengambil sendiri tapi Chan berkata, kalau ia datang jauh-jauh hanya untuk menjamu pamannya.

Woo Jin pun mengalah dan mengambil seladanya. Lalu Chan meletakkan sepotong daging di atas selada itu.

"Satu untuk Mr. Gong dan delapan untuk Chan." ucap Chan.

"Kau terdengar seperti pamannya, dan paman seperti keponakannya." jawab Woo Jin.

"Memang selalu seperti ini." ucap Chan.


Chan lantas kembali meletakkan sepotong daging berukuran kecil di atas selada. Lalu, dia makan potongan daging yang paling besar.


Selesai makan, mereka minum cokelat panas.

"Cokelat panas ini enak." ucap Chan.

"Adakah yang terasa tidak enak bagimu?" tanya Woo Jin.

"Tidak ada." jawab Chan. Mereka lalu tertawa.

"Mr. Gong, aku tahu paman tidak suka ada yang mencampuri urusan paman, tapi bisakah paman berhenti hidup seperti itu? Aku tahu paman butuh waktu seperti ini, tapi tidak bisakah paman pulang demi aku?" pinta Chan.


Woo Jin tersenyum dan mengelus kepala Chan. Chan kemudian berdiri.


"Astaga. Aku sebaiknya pergi. Anak ayamku akan menangisiku semalaman." ucap Chan.

"Biar paman antar." jawab Woo Jin.

"Tidak usah. Sampai jumpa di rumah, samchoon." ucap Chan.

Woo Jin membeku di tempatnya. Ia terharu.


Woo Jin masuk ke kantornya dan menerima telepon dari tim penyelenggara festival. Woo Jin pun mengaku, bahwa ia belum menerima e-mailnya. Tim penyelenggara pun bingung. Tak lama kemudian, ia menyuruh Woo Jin memeriksa folder spam.

"Ya, aku menerimanya." ucap Woo Jin begitu melihat e-mail materi nya di folder spam.

"Ada di folder spam. Pantas saja. Tapi kenapa itu masuk ke folder spam? Dokumen itu penting. Ini bisa mengacaukan pekerjaan kita."

"Maaf. Aku akan meninjaunya sekarang juga dan menelepon kembali." ucap Woo Jin.

Woo Jin mulai mempelajari dokumen itu, tapi dia tiba-tiba teringat kata-kata Seo Ri tadi.

"Itu sebabnya kau tidak menyadari hal yang seharusnya kamu sadari. Kau tidak menyadari hal yang seharusnya kau sadari." ucap Seo Ri.

Lalu, Woo Jin menerima sebuah pesan dari Chan.

"Aku meninggalkan foto di meja paman. Jika paman lupa cara untuk senyum, lihatlah foto itu."

Woo Jin pun melihat foto yang ditinggalkan Chan. Foto saat dirinya mengajak Chan ke taman bermain. Ia pun tersenyum.


Di kamarnya, Seo Ri membaca selebaran yang bertuliskan, ' Disewakan kamar kecil, tanpa deposit dan biaya perawatan'.

Lalu, Seo Ri menuliskan pesan untuk Woo Jin.

"Ahjussi, maafkan aku atas ucapanku, padahal aku tidak tahu apa-apa tentang dirimu. Aku seharusnya berterima kasih, bukannya menyalahkanmu. Aku merasa menyesal telah menyalahkanmu saat itu. Aku tahu cara bicaramu seakan-akan tidak peduli, tapi aku tahu kau sebenarnya orang yang sangat baik. Aku sungguh bisa melihat itu. Terima kasih atas semua yang telah kau lakukan untukku." tulis Seo Ri.


Lalu Seo Ri meninggalkan pesan itu serta sesuatu yang tadi dibelinya di atas meja. Di akhir pesannya, Seo Ri menulis bahwa Woo Jin bisa membuka jendela di atap kamar dengan benda itu.


Keesokan harinya, Seo Ri memberi Deok Goo makan.

"Fang, ini akan menjadi makan terakhir yang kuberikan padamu." ucap Seo Ri.


Tak lama kemudian, Woo Jin pulang dan Deok Goo langsung menyambutnya.

"Taburkan bubuk jeruk saat kau memberinya makan mulai sekarang. Itu akan membantu pencernaannya." ucap Woo Jin.

Sontak, Seo Ri terkejut dengan perkataan Woo Jin.


Woo Jin pun masuk. Bersamaan dengan itu, Chan turun dari tangga dan langsung menghambur ke pelukan Woo Jin.

"Kenapa lama sekali?" protes Chan, padahal mereka habis ketemu tadi malam. Woo Jin tersenyum.

"Kecup pipiku. Tidak masalah ada ludahnya. Ayolah." suruh Chan.

"Kurasa kau sebaiknya mandi dulu." jawab Woo Jin, lalu naik ke atas.


Chan pun mencium badannya. Lalu ia naik ke atas menyusul pamannya dan memberitahu pamannya kalau ia mencetak rekor baru dengan selisih dua detik.

Seo Ri masih berusaha mencerna maksud kata 'mulai sekarang' yang diucapkan Woo Jin tadi.


Woo Jin masuk ke kamarnya. Ia membuka hadiah Seo Ri yang ternyata adalah penyedot WC. Serta, ia menemukan pesan Seo Ri.

"Stop!" teriak Seo Ri tepat saat Woo Jin akan membaca pesannya. Seo Ri lalu berlari masuk ke kamar Woo Jin dan memakan pesannya.

"Kenapa kau memakan kertas?" tanya Woo Jin.

"Aku terlahir di tahun kambing." jawab Seo Ri.

"Tidak ada hal semacam itu di tahun kambing." ucap Woo Jin.


"Aku memberikan penyedot itu sebagai hadiah. Aku merasa berterima kasih dan ingin meminta maaf." jawab Seo Ri.

"Bukan hal umum memberi seseorang penyedot karena kita berterima kasih dan ingin meminta maaf. Kau memanggilku

Pak Kotoran dan memberiku penyedot. Maksudmu apa?" protes Woo Jin.

"Aku memberimu itu agar kau bisa membuka jendela itu." jawab Seo Ri.

"Atap surya itu?" tanya Woo Jin. Seo Ri pun mengiyakan.

"Jendela itu tidak bisa dibuka. Itu hanya untuk sinar matahari." jawab Woo Jin.

"Sudah kuduga kau tidak tahu. Ini adalah kamarku 13 tahun lalu. Jendela itu bisa dibuka." ucap Seo Ri.


Seo Ri lalu ingat, saat ia tidak sengaja membuat gagang jendelanya terlepas ketika mau membukanya. Ia lantas berteriak memanggil ayahnya dan sang ayah langsung membuka jendela itu dengan penyedot WC.

"Itu sangat aneh dan merepotkan, tapi juga sangat lucu." jawab Seo Ri. Lalu ia dan ayahnya tertawa.

Flashback end....


"Jadi mulai saat itu, aku terpaksa menggunakan ini sebagai gagang." ucap Seo Ri, lalu membuka jendelanya.

Woo Jin pun terkejut melihatnya. Seo Ri lalu menyuruh Woo Jin naik agar bisa merasakan angin yang sejuk. Tapi Woo Jin tidak mau.


Seo Ri mengerti. Ia kembali menutup jendelanya dan beranjak pergi. Tapi masuk lagi. Ia mau memberitahu soal Jennifer, tapi malah memergoki Woo Jin sedang berusaha membuka jendela itu. Woo Jin sendiri terkesiap dipergoki Seo Ri.

"Kau memberiku ini untuk membukanya, jadi, kurasa aku harus mencobanya." jawab Woo Jin.


"Eheey, bukan begitu caranya." seru Seo Ri, lalu naik ke atas meja dan membantu Woo Jin.

"Kau harus memegangnya seperti ini." ucap Seo Ri. Tapi karena Woo Jin masih tidak mengerti, akhirnya Seo Ri memegang tangan Woo Jin dan memberitahu caranya.


Jendela terbuka! Woo Jin pun tersenyum. Lalu mereka berdua naik ke atas dan merasakan sejuknya angin.

"Aku mungkin membantumu kali ini, tapi lain kali, kau harus melakukannya sendiri." ucap Seo Ri, lalu ia tersenyum lebar.

Woo Jin pun ikut tersenyum melihat Seo Ri tersenyum.


Namun Seo Ri kesusahan saat mencoba menutup jendelanya. Ketika berusaha keras menutup jendelanya, ia terpeleset dan Woo Jin pun langsung menangkapnya sehingga Seo Ri jatuh ke pelukannya.

Mereka berdua terdiam dan hanya saling menatap dengan wajah berdekatan.


Lalu, penyedot WC itu mendadak jatuh ke kepala Seo Ri. Mereka pun tersadar dan Woo Jin langsung mendudukkan

Seo Ri di atas meja.

"Kurasa aku harus berhati-hati dengan hal ini." ucap Woo Jin sambil mengambil penyedot WC itu dari kepala Seo Ri.

"Jennifer mau kau turun dan sarapan." jawab Seo Ri, lalu buru-buru pergi.


Tapi baru sampai di depan pintu, Woo Jin memanggilnya dan mengucapkan terima kasih padanya karena sudah mengajarinya cara membuka jendela. Seo Ri pun terkejut mendengar Woo Jin berterima kasih padanya.


Setelah Seo Ri pergi, Woo Jin dihubungi ayahnya.

"Ayah tidak bisa berhenti khawatir setelah kita selesai bertelepon waktu itu. Kau baik-baik saja?" tanya sang ayah.

"Ya, semua baik-baik saja." jawab Woo Jin. Woo Jin lalu bertanya, kapan ayahnya membeli rumah itu.

"Ayah membelinya dua tahun setelah kau pergi ke Jerman." jawab sang ayah.

"Berarti 11 tahun lalu. Ayah beli 11 tahun lalu, bukan? Bukan 13 tahun lalu? Pernahkah ayah bertemu dengan pemilik Deok Goo sebelumnya?" tanya Woo Jin.

"Tentu saja belum pernah. Mereka menjual rumah itu dengan terburu-buru. Ayah hanya bicara dengan makelarnya saat membeli rumah itu. Itu sebabnya kita bisa membelinya dengan harga yang murah." jawab sang ayah.

"Begitu rupanya." ucap Woo Jin.

"Kau mau menanganinya sendiri? Apa semua sungguh akan baik-baik saja setelah sebulan?"


Selesai bicara dengan ayahnya, Woo Jin langsung ke ruang makan. Disana, sudah berkumpul Seo Ri, Chan, Jennifer, Ha Beom dan Deok Soo.

"Paman. Sudah lama tidak bertemu. Akhirnya, aku bisa bersantap bersama Pak Gong." ucap Deok Soo.

"Bersantap artinya apa?" tanya Deok Soo.

"Hae Bum, kau sangat bodoh jadi makan saja ini." jawab Deok Soo. Woo Jin pun tertawa melihatnya.


Kemudian, Woo Jin menatap Seo Ri.

"Ayahku membeli rumah ini 11 tahun yang lalu, bukan 13 tahun. Kalau begitu, apa yang terjadi selama 2 tahun itu?"

Woo Jin bertanya-tanya dalam hatinya.


Seo Ri juga memandang Woo Jin. Ia teringat ucapan Woo Jin saat mencegah dirinya yang berlari ke tengah jalan.

"Bagaimana jika kau mati gara-gara aku? Kenapa dia mengatakan itu?" tanya Seo Ri dalam hati.


Deok Goo tiba-tiba keluar dari ruang makan. Melihat itu, Woo Jin pun mengikuti Deok Goo dan melihat Deok Goo berdiri di depan jendela.

Deok Goo menyalak di depan jendela. Woo Jin lalu menggendongnya dan membawanya kembali ke ruang makan.


Di depan rumah, wanita bersepatu kuning itu tampak berdiri. Tapi hanya sebentar.

Bersambung...........

No comments:

Post a Comment