Tuesday, August 7, 2018

Still 17 Ep 5 Part 1

Sebelumnya...


Di kamarnya, Woo Jin sedang bekerja.  Tiba-tiba, sehelai daun jatuh ke atas bukunya. Woo Jin mengambil daun itu, lalu mendongak ke jendela atap kemudian tersenyum menatap daunnya.

Tiba2, terdengar tangisan Seo Ri.


Woo Jin langsung turun ke bawah dan mendapati Deok Goo berdiri di depan kamar Seo Ri. Tak lama kemudian, Chan juga datang.

"Paman mendengarnya juga? Suara ini?" tanya Chan.


Jennifer yang muncul tiba-tiba dengan gaun putih panjang, mengatakan kalau suaranya berasal dari ruang di bawah tangga. Sontak lah, si Chan dan Woo Jin kaget.

Lalu, Chan berkata, kalau Seo Ri menangis karena merindukan keluarganya.


Sebuah bawang bombay menggelinding ke kaki Woo Jin. Woo Jin mengambilnya, lalu menciumnya dan mengernyit heran. Tak lama kemudian, Seo Ri keluar dari kamarnya sambil menahan pedih di matanya. Melihat Seo Ri yang tak bisa membuka mata, Chan panic. Dia pikir, Seo Ri tak bisa melihat.

"Mataku pedih. Rasanya menyengat." jawab Seo Ri. Chan pun kebingungan.

Seo Ri berjalan menggapai-gapai, berusaha mencari sesuatu untuk menghentikan pedih di matanya.


Woo Jin dan Chan yang heran, memeriksa kamar Seo Ri. Kagetlah mereka melihat dua baskom penuh berisi bawang bombay. Yang sebaskom, berisi bawang yang sudah dikupas. Di dekat bawang ada banner bertuliskan 'Restoran Cina Jinjjaru".


Sekarng, mereka berkumpul di ruang tengah. Seo Ri yang sedang mengompres matanya menjelaskan, kalau mengupas bawang itu adalah pekerjaan paruh waktunya. Chan lantas bertanya, kenapa harus mengupas bawang padahal ada pekerjaan lain. Dan Seo Ri menjawab, karena ia tak punya pengalaman kerja serta, ia harus memperbaiki violinnya.

"Jika aku tidak bisa segera menemukan pamanku..., pokoknya aku harus cepat mendapatkan uang." ucap Seo Ri, membuat Chan terdiam.

"Kenapa kau berdiri disitu?" tanya Woo Jin.

"Aku duduk." jawab Seo Ri.

"Bukan kau, tapi Jennifer." ucap Woo Jin.

"Jika anjing makan bawang bombai, alil propoil disulfida bisa menyebabkan anemia. Kukira lebih baik jika tetap jauh, jadi, aku kira-kira lima langkah jauhnya." jawab Jennifer.

"Deok Goo benci bau bawang bombai dan tidak akan mendekat. Dia tidak akan memakannya, jadi, tidak usah khawatir." ucap Woo Jin.

"Maaf, aku membangunkanmu. Kembalilah tidur. Aku sudah tidak apa-apa." jawab Seo Ri, lalu membuka matanya.

"Kau tidak tampak baik-baik saja." ucap Jennifer.


Woo Jin pun berdiri, ia menyuruh Seo Ri mencari udara segar.  Woo Jin bilang, udara segar akan membantu memulihkan mata Seo Ri.

"Aku punya pengalaman dipukul dengan daun bawang." ucap Woo Jin.

"Paman dipukul dengan daun bawang? Siapa yang memukul paman?" Chan langsung lebay.

Jennifer pun langsung undur diri dengan alasan harus bangun pagi untuk harinya yang aktif besok. LOL LOL


Chan menghampiri Seo Ri yang berdiri di teras rumah.

"Bibi merasa lebih baik? Coba kulihat." tanya Chan.

"Aku sudah tampak lebih baik, bukan?" tanya Seo Ri sambil menunjukkan matanya.

"Benar. Merahnya sudah hilang." jawab Chan. Tapi tak lama kemudian, Chan langsung gugup karena jarak wajah Seo Ri yang terlalu dekat padanya.

Chan yang gugup, berusaha bersikap biasa dan memuji Woo Jin karena sudah menyuruh Seo Ri mencari udara segar untuk menghilangkan perih di mata.


Seo Ri lalu mendongak ke langit dan melihat bulan disana. Ia tersenyum dan langsung mengangkat tangannya, melingkari bulan.

"Bibi sedang apa? Berkomunikasi dengan alien?" tanya Chan.

"Bukan.Ini mirip dengan 'Jangan dipikirkan, rasakan'." jawab Seo Ri.

"Jangan dipikirkan, rasakan!" teriak Chan.

Seo Ri tersenyum dan kembali melingkari bulan sambil mengingat kenangannya bersama sang ibu.

Flashback...


Seo Ri kecil berdiri bersama ibunya di jembatan. Sang ibu memintanya menunjukkan cara memegang penggesek violin. Seo Ri pun langsung mengangkat tangannya.

"Begini?" tanya Seo Ri.

"Angkat seperti ini, lalu tutup sebelah matamu." jawab sang ibu.

Seo Ri pun menurutinya. Ia menutup sebelah matanya dan membulatkan jarinya, seperti melingkari bulan.

"Lihat? Kau pikir itu tidak mungkin? Ibu sudah bilang bisa mengeluarkan kelinci bulan."

"Ini tidak masuk akal." jawab Seo Ri.

"Ini masuk akal. Jika kau bilang tidak mungkin, maka itu memang tidak mungkin. Tapi jika kau bilang pada dirimu sendiri itu mungkin, maka itu akan berhasil secara ajaib. Banyak hal bisa berubah tergantung pada cara berpikirmu. Kau bisa memanggil kelinci bulan yang mengabulkan harapanmu begini." ucap sang ibu.

"Baiklah, aku akan percaya karena ibu adalah ibuku." jawab Seo Ri.

Flashback end...


"Jadi  ibunya bibi mengajari ini saat bibi masih kecil? Bibi pasti sangat manis waktu kecil." gumam Chan.

"Kau bilang apa?" tanya Seo Ri.

"Aku cuma berkomentar sedikit." jawab Chan gugup.


Chan lalu mengajak Seo Ri masuk. Tapi Seo Ri menyuruhnya masuk duluan. Chan pun berkata, jangan terlalu lama diluar karena banyak nyamuk. Setelah itu, Chan berjalan ke arah pintu.

Seo Ri kembali mengangkat tangannya. Chan yang sudah membuka pintu, kembali menatap Seo Ri. Ia tersenyum, lalu benar-benar masuk ke rumahnya.


Woo Jin membuka jendela kamarnya dan menghirup udara segar. Sementara di bawah, Seo Ri masih melingkari bulan.

"Episode 9, Sinar Bulan"


Di dapur, Seo Ri lagi mengulek adonan. Tak lama kemudian, ia mendengar suara Deok Soo dan Hae Beom. Chan pun senang mereka datang. Ia menyuruh kedua temannya mengupas bawang.

Seo Ri keluar dari dapur dan melarang mereka mengupasnya karena tak mau mata mereka perih.


Jennifer keluar dan menyuruh mereka sekolah. Seo Ri dan ketiga sekawan itu pun menoleh ke arah Jennifer dengan memakai topeng. Deok Goo sampai kabur ketakutan melihat topeng mereka. Chan yang memakai topeng kuda pun berkata, kalau mereka masih punya sedikit waktu. Deok Soo melepas topengnya. Ia bilang, bukan sengatan bawang yang mengganggunya dan ia akan mati lemas karena tidak bisa bernapas.

Yang lain pun ikut melepas topeng karena sesak napas.

"Berapa yang bibi dapatkan dari tugas ini?" tanya Deok Soo.

"Pemilik Jinjjaru bilang aku dapat lima sen per bawang bombai." jawab .Seo Ri

"Lima sen per bawang bombai? Berapa banyak harus mengupas agar cukup untuk memperbaiki violin?" tanya Deok Soo.

"Keluarga kami kaya. Bibi mau kubelikan yang baru?" tanya Hae Beom.


"Dari yang kulihat, violin Seo Ri adalah instrumen yang sepenuhnya buatan tangan dari Cremona, Italia. Mahakarya berusia lebih dari 200 tahun. Tergantung seberapa baik itu dipelihara, harganya berkisar dari 200.000 sampai 500.000 dolar." jawab Jennifer.

"Aku akan membantu mengupas." ucap Hae Beom.

"Jennifer, bagaimana kau tahu?" tanya Deok Soo kaget.

"Aku tahu saja." jawab Jennifer, lalu beranjak pergi.

"Dia mirip AlphaGo. Apa identitasnya? Apa pekerjaan Jennifer sebelumnya? Keluarganya seperti apa? Berapa usianya?" tanya Deok Soo pada Chan.


Tapi Chan malah bertanya pada Seo Ri. Seo Ri pun mengaku tidak tahu dan menyuruh mereka ke sekolah.

"Pasti ada sesuatu agar bisa cepat mendapatkan banyak uang." ucap Deok Soo.


Tepat saat itu, Woo Jin lewat dan sempat mendengarkan kata-kata Deok Soo. Tapi ia tidak tertarik dan langsung masuk ke dapur.

"Itu bukan saran yang bagus. Caranya melakukan penipuan atau penipuan besar-besaran." jawab Chan.

"Banyak sekali. Ini tidak akan berakhir. Pasti sulit melakukan ini sendirian. Kami akan kembali lagi nanti untuk membantu mengupas." ucap Deok Soo.

"Ini bukan masalah sama sekali. Jika aku bisa memperbaiki violinku, aku bisa melakukan apa pun. Jadi, berhentilah mengupas dan bolos sekolah." jawab Seo Ri.


Tiga sekawan itu langsung melihat Seo Ri karena disuruh bolos sekolah. Sadar ucapannya salah, Seo Ri pun buru-buru meralatnya.

"Maksudku pergi ke sekolah." ralat Seo Ri.

"Kami bisa di sini kira-kira lima menit lagi. Sangat dekat jika paman mengantar kami ke sana dengan mobil." ucap Deok Soo.


Woo Jin yang mendengar itu, langsung protes. Tapi Deok Soo tidak peduli dan menyuruh Woo Jin siap-siap.

"Tapi ini aneh sekali. Masih terlalu pagi untuk berangkat kerja." jawab Woo Jin.

"Kami akan pergi dalam 10 menit!" ucap Hae Beom.

"Kenapa aku harus?" protes Woo Jin.

"Hurry up, go go go!" teriak Deok Soo.

Woo Jin pun tak bisa berkutik lagi. Ia menghela nafas kesal dan langsung pergi ke kamarnya. Ngakak, si Woo Jin selalu kalah kalo udah berhadapan sama Deok Soo dan Hae Beom.


Chan ke dapur, ia melihat adonan yang tadi dibuat Seo Ri. Ada bekas telapak tangan Seo Ri di adonan.

"Apa bibi yang membuat adonan ini?" tanya Chan. Chan tersenyum, lalu meletakkan tangannya di atas telapak tangan Seo Ri.

"Dia lebih kecil daripada yang kuduga." ucap Chan.

Deok Soo berjalan ke pintu dan menyuruh Chan bergegas. Chan pun bergegas keluar dari dapur.


Tak lama kemudian, Woo Jin turun sambil mengomel. Deok Soo menyuruh Woo Jin bergegas, juga mengatai Woo Jin pria lambat. Woo Jin pun sewot. Ia balik mengatai Deok Soo cengeng, dan Deok Soo membalasnya dengan berkata, kalau mereka akan menunggu Woo Jin diluar. Woo Jin mendengus kesal. Ia bahkan nyaris menabrak pot tanaman itu lagi karena terburu-buru.


Seo Ri buru-buru keluar dari dapur. Ia minta maaf karena meletakkan tanaman itu disana lagi dan berniat memindahkannya tapi dilarang Woo Jin.

"Biarkan saja disini supaya tanaman ini sehat." ucap Woo Jin, lalu beranjak pergi.

Seo Ri pun tersenyum.


Mereka akhirnya tiba di sekolah. Tiga sekawan langsung turun dan mengucapkan terima kasih pada Woo Jin karena sudah mengantarkan mereka.

Ri An yang melihat Chan pun bergegas mengejar Chan tapi langkahnya langsung terhenti saat ia melihat Woo Jin mengejar Chan.


"Ini seharusnya di punggungmu, bukan di mobilku." ucap Woo Jin sambil menyerahkan tas Chan.

Chan hanya cengar cengir.


Belum siap bertemu Woo Jin, Ri An langsung menutupi wajahnya sweaternya dan berjalan menuju ke sekolah.


Woo Jin mengeluarkan meterannya. Ia hendak mengukur pot bunga yang ada di depan mobilnya, tapi saat teringat kata-kata Seo Ri yang memintanya berhenti mengukur semua benda di jalanan, ia pun kembali menyimpan meterannya.


Hee Soo yang baru sampai di kantor kesal karena Woo Jin tidak menyapanya sama sekali. Woo Jin pun membalasnya dengan mengaku sangat penasaran sekali dengan Hee Soo. Hee Soo

tambah kesal, tapi kemudian ia teringat dengan sosok wanita yang memanggil Woo Jin ahjussi.

"Kenapa kau dipanggil ahjussi?" tanya Hee Soo.

"Bukanlah lebih aneh jika aku dipanggil ajumma?" tukas Woo Jin.


Hee Soo pun melompat dan duduk di meja Woo Jin.

"Siapa wanita itu?" tanya Hee Soo.

"Apakah wanita merah muda?" tanya Hyun.

"Wanita merah muda?" tanya Hee Soo sambil menatap Woo Jin curiga.

"Belum lama ini, wanita muda yang memakai kardigan merah muda membawakan kotak makan siang untuknya. Buatan sendiri. Kotak makannya lima tingkat." ucap Hyun.

"Kurasa wanita yang kulihat juga memakai kardigan merah muda. Siapa dia?" tanya Hee Soo.

Woo Jin yang kebingungan menjawabnya pun langsung mengambil kertasnya dan bergegas pergi dengan alasan rapat.


Di kamarnya, Seo Ri lagi membuat catatan uang yang harus di keluarkannya.

"Biaya perbaikan violin 2000 dollar, jika aku tidak segera menemukan pamanku, sewa dan biaya hidup dan beberapa hadiah untuk orang disini saat aku pergi. Ini tidak akan berhasil! Bagaimana aku akan mendapatkan uang? Memangnya ada cara menghasilkan uang dengan cara cepat?"


Woo Jin yang lagi rapat dengan dua kliennya di kafe, tanpa sengaja melihat Seo Ri masuk ke bar. Akibatnya ia tidak berkonsentrasi sampai menjawab wiski saat ditanya kliennya tentang properti untuk kamar anak perempuan berusia tujuh tahun.

Woo Jin pun langsung minta maaf dan berusaha konsentrasi tapi ia malah ingat saran Deok Soo ke Seo Ri tadi soal menghasilan uang dengan cara cepat.


Woo Jin pun meneruskan rapatnya. Mereka membahas soal properti untuk kamar anak 7 tahun, tapi Woo Jin mengatakan sarannya dengan cukup cepat.

"Ya. Kita harus pakai sesuatu yang menunjukkan betapa gadis kecil menyukai Vincent Van Gogh. Misalnya, lukisan seperti "The Starry Night" atau "Almond Blossom". Untuk adegan kereta, aku akan memakai layar LED agar kereta seakan-akan sungguh bergerak. Hanya itu yang harus kusampaikan hari ini." ucap Woo Jin, lalu beranjak pergi.


Tapi saat sudah di pintu, ia balik lagi untuk mengambil tasnya dan jaketnya yang ketinggalan.


Woo Jin masuk ke bar dan melihat dua pengawal yang sedang makan.

"Dimana wanita yang baru saja masuk?" tanya Woo Jin.

"Tidak ada yang masuk." jawab si pengawal, lalu menyuruh Woo Jin pergi.

"Aku jelas melihat wanita memasuki tempat ini." ucap Woo Jin lagi.

"Dengan jelas atau samar-samar, bukan urusanku. Tidak ada yang masuk." jawab pengawal itu.

Woo Jin pun mengerti, tapi bukannya pergi ia malah teriak-teriak memanggil Seo Ri.

"Sudah kubilang tidak ada yang masuk." jawab si pengawal kesal.

"Ya aku mengerti." ucap Woo Jin, tapi ia malah teriak lagi menyuruh Seo Ri keluar.


Si pengawal pun kesal dan langsung mendekati Woo Jin. Tepat saat itu, seorang nenek keluar dari dalam.

"Kau memanggilku?" tanya nenek.

"Tidak, aku bukan mencarimu." jawab Woo Jin, lalu teriak lagi memanggil Seo Ri.

"Astaga, aku disini. Nama keluargaku adalah Woo. Aku Woo Seon Hee." ucap si nenek.

"Tidak aku bukan mencari anda." jawab Woo Jin, lalu kembali teriak manggilin Seo Ri.

"Kenapa kau tidak bisa memercayai perkataanku?" tanya si pengawal kesal.

"Baiklah, aku mengerti." jawab Woo Jin tapi bukan pergi, ia malah menerobos masuk ke dalam dan mencari Seo Ri di beberapa ruangan yang ada disana.


Kedua pengawal menyusulnya.

"Kenapa kau menggangguku saat aku makan?" tanya salah satu pengawal. Pengawal itu lantas menyuruh Woo Jin mendekat, tapi Woo Jin menggeleng.


Kedua pengawal menggendong Woo Jin keluar. Tapi Woo Jin masih teriak-teriak memanggil Seo Ri. Tepat saat itu, Seo Ri keluar dari dalam bar dengan riasan menor di wajahnya. Ia juga menggendong buntelan besar di punggungnya. Melihat itu, Seo Ri salah paham. Ia pikir, itu karena Woo Jin mengeluarkan meteran lagi.


Seo Ri pun langsung mendekati mereka. Ia memukuli tangan kedua pengawal dan menyuruh pengawal menurunkan Woo Jin dengan galak. Setelah Woo Jin turun, ia menarik Woo Jin ke belakangnya.

"Dia bukan orang gila atau orang mesum! Dia pria normal yang menderita penyakit akibat pekerjaan!" sewot Seo Ri.

"Siapa rakun merah muda ini? Wanita kecil ini?" tanya salah satu pengawal.

"Biarkan saja mereka. Kue beras pedasnya nanti lembek." jawab pengawal yang satunya. Lalu kedua pengawal itu kembali ke dalam bar.


Setelah kedua pengawal itu pergi, Seo Ri pun menasehati Woo Jin agar tidak mengukur benda-benda di jalan lagi. Woo Jin pun mengatakan, kalau ia tidak mengukur apapun dan meminta penjelasan Seo Ri, kenapa Seo Ri ada di sana. Seo Ri berkata, kalau ia mendapatkan pekerjaan dari pabrik kaus kaki.

"Kenapa wajahmu begitu jika kau di sini untuk kaus kaki?" tanya Woo Jin lagi.

"Riasan buah-buahan." jawab Seo Ri.


Ternyata saat di jalan tadi habis mengantarkan bawang-bawangnya, ada SPG yang sedang membagi-bagikan brosur kecantikan di depan salon.

"Masuklah dan jadilah lebih muda dengan riasan penuh warna!" teriak si SPG. Tertarik, Seo Ri pun mencobanya.

Flashback end...


"Karena itu aku memakai perona pipi dan lipgloss. Aku ingin tampak lebih muda." jawab Seo Ri.

"Kenapa kau harus membuatku salah paham dengan memakai riasan tebal, padahal biasanya tidak pernah berias?" protes Woo Jin.

Seo Ri pun bingung, tapi saat melihat ke arah bar yang tadi dimasuki Woo Jin, mengerti lah Seo Ri kalau Woo Jin mengiranya habis masuk ke sana.


Woo Jin yang malu mengakuinya, pun langsung pergi tanpa menyadari sepatunya yang terlepas.

"Dung Ahjussi, kau harus memakai sepatumu. Nanti kakimu sakit." ucap Seo Ri, lalu mengambil sepatu Woo Jin yang ketinggalan dan menyusul Woo Jin.

Tapi saat mau memakaikan sepatu Woo Jin, ia melihat ada permen karet yang menempel di kaus kaki Woo Jin.

"Kau menginjak permen karet. Aku punya kaus kaki baru. Pemiliknya memberikanku ini, jadi pakailah." ucap Seo Ri, tapi sayangnya itu kaus kaki perempuan.

"Setidaknya ini lebih baik daripada kakiku licin. Lagipula, tidak ada yang akan melihat kakiku." jawab Woo Jin.


Orang-orang yang melihat kaus kaki Woo Jin pun langsung menertawakan Woo Jin. Tak rela Woo Jin dianggap aneh, Seo Ri pun menyuruh Woo Jin melepaskan kaus kaki itu. Tapi Woo Jin mengaku baik-baik saja. Mendengar itu, Seo Ri langsung teringat saat Woo Jin dikira pup di celana.

"Omong-omong, aku baru tahu suaramu sangat keras. Tapi apa kau mengira aku bekerja di bar itu karena melihat riasanku seperti ini?"

Woo Jin yang malu mengakuinya pun pura2 melirik jam tangannya.

"Kau tidak memakai jam." ucap Seo Ri.

Woo Jin yang malu pun berjalan pergi. Seo Ri terus menanyai Woo Jin, apa Woo Jin khawatir kalau ia bekerja di bar. Tapi Woo Jin tetap diams aja karena malu.


Chan yang lagi latihan, seketika berhenti mendayung karena dadanya gatal lagi.


Seusai latihan, tiga sekawan itu melihat dada Chan tapi tidak ada apa-apa disana.

"Aku tahu jawaban untuk ini." ucap Deok Soo.

"Apa?" tanya Chan.

"Kutu. Dia merasa gatal karena tidak mandi." jawab Deok Soo.

"Mungkin karena kulitmu terlalu kering." ucap Hae Beom, lalu mengeluarkan pelembabnya.

Ia berniat mengoleskan pelembab itu ke dada Chan. Sontak, Chan menolak dan menutupi dadanya.

Lalu, Chan mengarahkan tangan Hae Beom ke wajah Deok Soo. Deok Soo pun tersenyum setelah merasakan pelembab Hae Beom.


Seo Ri penasaran, ia bertanya sejak kapan Woo Jin tahu namanya.

"Kukira kau tidak tahu namaku karena tidak pernah memanggilku." ucap Seo Ri. Seo Ri lalu berterimakasih karena Woo Jin sudah mengkhawatirkannya.

"Aku tidak benar-benar khawatir." jawab Woo Jin.

"Semiskin apa pun diriku dan selama apa pun waktu yang dibutuhkan, aku akan memperbaiki violin ibuku dengan uangku sendiri. Mungkin butuh waktu, tapi aku tidak akan melakukan hal yang memalukan untuk memperbaiki violin itu." ucap Seo Ri.

Woo Jin tersenyum mendengarnya. Tapi saat ia meminta Woo Jin berhenti mengkhawatirkan dirinya, Woo Jin langsung kikuk dan mengalihkan topic pembicaraan dengan bertanya, kenapa

Seo Ri terus memanggilnya ahjussi padahal mereka seumuran. Awalnya, Seo Ri berkata kalau Woo Jin itu seumuran dengan wali kelasnya tapi kemudian ia ingat kalau sekarang dirinya sudah berumur 30 tahun.

Woo Jin yang bingung dengan jawaban Seo Ri pun bermaksud bertanya lagi, tapi Seo Ri melihat sesuatu dan langsung pergi.


Ternyata yang dilihat Seo Ri adalah air mancur. Di dekat air mancur, ia menemukan tulisan 'Boleh Diminum'. Seo Ri terkejut, ia tidak menyangka kalau sekarang air mancur bisa diminum.

Woo Jin yang merasa aneh, melarang Seo Ri meminum air mancur. Tapi Seo Ri tidak peduli dan tetap meminum air mancur karena tulisan 'Boleh Diminum' itu.

"Ada yang aneh. Jangan diminum." ucap Woo Jin.

"Kenapa tidak? Rasanya segar." jawab Seo Ri.


Seo Ri lalu meminum airnya lagi. Setelah itu, ia kembali menatap Woo Jin. Tepat saat itu, seorang petugas lewat dan memasang tulisan 'Boleh Diminum' itu ke tempat yang benar.

Melihat itu, Seo Ri pun langsung menyemburkan air yang ada di dalam mulutnya. Sontak, Woo Jin tertawa melihatnya.


Woo Jin dan Seo Ri kembali melanjutkan perjalanan. Seo Ri berkata, kalau ia merasa perutnya akan sakit. Tiba-tiba, Seo Ri berseru soal perutnya. Woo Jin langsung panic. Ia pikir, perut Seo Ri sakit gara-gara minum air tadi.

"Perutku keroncongan. Kurasa aku lapar." jawab Seo Ri yang sukses membuat Woo Jin sebal.


Lalu, Seo Ri teringat karungnya. Ia mau pergi lagi ke pancuran air tadi karena mengira karungnya tinggal disana, tapi Woo Jin langsung menghentikannya dan menunjukkan karungnya. Seo Ri kaget melihat karungnya ada di pinggung Woo Jin. Ia pun tak bisa berhenti menatap Woo Jin, seolah tak percaya Woo Jin membawakan karungnya.


"Kenapa menatapku?" tanya Woo Jin.

"Kurasa memang benar." jawab Seo Ri.

"Apa maksudmu?" tanya Woo Jin.

"Kurasa kau orang baik. Tapi aneh." jawab Seo Ri.

"Orang sering bilang aku aneh." ucap Woo Jin.

"Bukan begitu. Sepertinya kau berusaha menyembunyikan sifat baikmu." jawab Seo Ri.


Sontak, kata-kata Seo Ri membuat Woo Jin berhenti melangkah. Ia tertegun!

"Bagaimana aku harus mengatakannya? Seakan-akan kau menutup rapat pikiranmu. Seperti itu." ucap Seo Ri lagi.


Ponsel Woo Jin berdering. Barulah Seo Ri sadar kalau Woo Jin tidak ada disampingnya. Ia pun menoleh ke belakang dan meminta maaf karena sudah menilai Woo Jin sesuka hatinya.

Woo Jin menerima telepon dari petugas valley di depan kafe yang menyuruhnya mengambil mobilnya. Selesai menelpon, Woo Jin pun menyuruh Seo Ri pulang duluan.


Woo Jin datang mengambil mobilnya. Petugas valley heran karena Woo Jin bisa lupa dengan mobilnya. Woo Jin meminta maaf. Setelah masuk ke mobilnya. Woo Jin teringat kata-kata Seo Ri tentang dirinya yang seumuran dengan wali kelas Seo Ri. Ia pun merasa aneh.


Malam pun tiba. Chan lagi sit up di bangku tamannya. Lalu tiba-tiba, ia teringat Seo Ri. Ia merasa, Seo Ri seperti anak usia 7 tahun, bukan 17 tahun. Tak lama kemudian, ia mengangkat tangannya dan mencoba melingkari bulan seperti yang dilakukan Seo Ri.


Sementara Seo Ri yang lagi berkutat dengan kaus kaki-kaus kakinya malah teringat Woo Jin yang berteriak-teriak memanggil dirinya di depan bar.

"Woo Seo Ri nawa! Woo Seo Ri!" Seo Ri menirukan teriakan Woo Jin tadi. Lalu, ia tersenyum dan bersenandung kecil.


Di kamarnya, Woo Jin juga lagi mikirin Seo Ri. Ia senyum-senyum sendiri mengingat kejadian di air mancur tadi.


Kemudian, ia teringat saat Seo Ri melindunginya dari kedua pengawal bar.

Terakhir, ia ingat saat Seo Ri memberikannya kaus kaki baru.


"Kurasa dia memang imut." ucap Woo Jin.

Bersambung ke part 2.......

No comments:

Post a Comment