Friday, August 10, 2018

Still 17 Ep 6 Part 1

Sebelumnya...


Hee Soo menghubungi Chan. Ia menanyakan soal kotak makan siang. Tak lama kemudian, Chan pun mengerti arah pembicaraan Hee Soo.

"Dia bukan pembantu kami. Dia tinggal di rumah kami untuk sementara." ucap Chan.

"Apa kau lapar? Kenapa kau terus bicara omong kosong? Woo Jin tidak akan membiarkan orang masuk ke rumahnya." jawab Hee Soo.

"Ceritanya panjang." ucap Chan. Lalu, Chan bertanya alasan Hee Soo mencari Seo Ri.

Di rumah, Seo Ri lagi membaca iklan lowongan kerja.


Chan masih bicara dengan Hee Soo. Ia terkejut saat Hee Soo menanyakan apa Seo Ri ada hubungannya dengan musik klasik. Karena Hee Soo bertanya, Chan pun menceritakan soal Seo Ri. Chan bilang, Seo Ri diterima di kampus musik yang terkenal di Jerman saat berusia 17 tahun. Tak lama kemudian, Chan senang mendengar kata-kata Hee Soo dan memberikan nomor Jennifer agar Hee Soo bisa bicara langsung dengan Seo Ri.

Jennifer langsung memberikan ponselnya pada Seo Ri begitu Hee Soo menelpon.


Chan yang lagi latiha, tiba-tiba saja berhenti mendayung. Deok Soo pun sewot. Chan berkata, kalau ia mengerti kenapa dadanya terus terasa gatal.


Sekarang, Seo Ri sedang diwawancarai Hee Soo. Hee Soo menunjukkan pesan Tae Rin yang ditulis Seo Ri. Seo Ri pun mengaku, kalau ia yang menulis pesan itu setelah menerima telepon.

"Kita akhirnya bertemu "wanita merah muda" misterius." ucap Hyun.

"Wanita merah muda?" tanya Seo Ri bingung.

"Kita akan bahas itu nanti." jawab Hyun.

"Chan memberitahuku sedikit tentang dirimu. Dia bilang, kau sudah lama bermain violin." ucap Hee Soo.

"Ya, sudah sekitar 13 tahun." jawab Seo Ri.

"Tidak heran kau dan Direktur Kim memiliki percakapan yang bagus. Kami sedang mengerjakan festival musik besar. Bisakah kau mengerjakan bagian musik klasiknya?" tanya Hee Soo.

"Jeongmalyeo? Aku akan melakukannya. Aku akan bekerja sangat keras jika menyangkut musik klasik!" jawab Seo Ri antusias.


Tak lama berselang, Woo Jin pulang. Seo Ri langsung memperkenalkan dirinya sebagai staff baru. Sontak, Woo Jin terkejut mendengarnya.


Woo Jin dan Hee Soo bicara di atap. Woo Jin protes karena Hee Soo mempekerjakan staff baru tanpa memberitahunya.

"Bukan salahku kalau ingatanmu buruk. Aku bertanya soal mempekerjakan lebih banyak orang dan kau menyuruhku mengurusnya. Kita tidak pernah mengerjakan musik klasik, jadi ini bagus." jawab Hee Soo.

"Tapi kenapa harus dia dari semua orang?" tanya Woo Jin.

"Dari semua orang itu, dia memenuhi syarat kita. Direktur Kim mencari dia. Dia diterima di Hanns Eisler, tapi terpaksa batal." jawab Hee Soo.


Woo Jin mau protes lagi, tapi Hee Soo langsung memotong ucapannya dengan mengatainya aneh. Hee Soo juga bertanya alasan Woo Jin membenci Seo Ri.

"Aku bukan membenci dia!" jawab Woo Jin.

"Aku takut." lanjut Woo Jin dalam hatinya.


Lalu kita melihat Woo Jin yang sedang bicara dengan dokternya. Sambil menangis, Woo Jin mengaku takut kenangan buruk itu akan kembali jika ia makin dekat dengan Seo Ri. Ia takut akan terjerat dalam kehidupan seseorang lagi.


Woo Jin dan Hee Soo terus berdebat. Woo Jin tak setuju Seo Ri menjadi staff baru mereka. Tapi Hee Soo kekeuh ingin mempekerjakan Seo Ri karena Tae Rin.

"Aku tahu ini tidak masuk akal, tapi..."

"Kenapa kau sangat emosional?  Apa ada sesuatu yang tidak kuketahui selain dia tinggal di tempatmu untuk sementara?" tanya Hee Soo.

Woo Jin pun hanya menghela nafas. Ia tidak tahu bagaimana harus menjelaskannya pada Hee Soo.


Seo Ri sendiri tengah menuliskan namanya di buku catatannya dengan huruf besar. Melihat itu, Hyun pun heran. Ia bertanya, kenapa Seo Ri menuliskannya besar-besar padahal itu hanyalah sebuah buku kecil. Seo Ri tidak menjawab pertanyaan Hyun dan berterima kasih pada Hyun untuk buku catatannya. Lalu, Seo Ri bertanya, apa yang harus ia kerjakan. Ia juga memanggil Hyun sunbaenim.

"Aku jauh lebih muda darimu. Sebenarnya senang mendengarmu memanggilku begitu. Aku akan berterima kasih jika kamu terus memanggilku senior, tapi..."

"Baiklan, sunbaenim!" jawab Seo Ri, lalu menuliskan di bukunya kalau ia harus terus memanggil Hyun sunbaenim.


Tak lama kemudian, Woo Jin lewat. Ia menatap Seo Ri sejenak sambil menghela nafasnya, lalu masuk ke dalam.

Hee Soo jelas heran melihat tingkah Woo Jin yang menurutnya aneh.


Ternyata Woo Jin pergi ke dapur. Seo Ri menyusul Woo Jin. Ia mengira, Woo Jin lah yang merekomendasikan dirinya pada Hee Soo dan ia mengucapkan terima kasih untuk itu.

Seo Ri lalu mengaku merasa canggung karena harus memanggil Woo Jin dengan panggilan desainer, padahal selama ini ia memanggil Woo Jin ahjussi.

Saat Woo Jin minum, Seo Ri bercanda dengan mengatakan kalau air yang diminum Woo Jin adalah air dari air mancur.

"Tidak masalah."

Ya, Woo Jin hanya mengatakan itu. Dia mengatakannya dengan wajah dingin lalu pergi meninggalkan Seo Ri. Seo Ri yang tidak ngeh, mengira kalau Woo Jin tidak suka bercanda di tempat kerja jadi ia menuliskannya di buku catatannya kalau tidak boleh bercanda di tempat kerja.

"Episode 11, Air Mata Tersembunyi"


3 sekawan sudah latihan. Pelatih pun memuji mereka karena sudah latihan dengan keras. Lalu, sang pelatih memberitahu mereka kalau ia akan menikah bulan depan.

Sontak, para atlet langsung bersorak dan mengerumuninya untuk memberikan selamat tapi Chan diam saja.


Hae Beom dan Deok Soo sibuk membahas pelatih mereka yang akan menikah di usia 30 tahun. Setelah itu, mereka membahas jarak usia mereka dengan sang pelatih.

Deok Soo pun berkata, usia mereka 19 tahun. Ha Beom menjawab, kalau usia mereka dengan sang pelatih terpaut sangat jauh. Chan yang sudah jatuh cinta pada Seo Ri pun langsung lemas mendengarnya.

Hae Beom dan Deok Soo bertengkar. Hae Beom yang kesal dikatai bodoh oleh Deok Soo pun membalas dengan mengatai Deok Soo tua. Deok Soo pun protes. Mereka terus berdebat, sampai tidak menyadari Chan yang berhenti melangkah. Chan masih memikirkan dirinya yang sudah jatuh cinta pada Seo Ri.


Tak lama kemudian, Chan pun kembali bersemangat. Dia memanggil dua sohibnya dengan panggilan Pak Tua dan Pak Bodoh dan berkata akan mentraktir mereka.

Mendengar itu, Hae Beom dan Deok Soo pun senang.


Hee Soo memberikan proposal festival pada Seo Ri dan menyuruh Seo Ri mempelajari bagian musik klasiknya. Seo Ri langsung senang dan berjanji untuk mempelajarinya.

Lalu, Hee Soo bicara pada Woo Jin tapi begitu menoleh ke arah meja Woo Jin dan mendapati Woo Jin tidak ada di sana, dia langsung sewot.

Seo Ri pun langsung membaca catatannya dan memberitahu Hee Soo kalau Woo Jin sudah pergi dari jam empat tadi.

Hee Soo pun tambah sewot karena sebelumnya ia menyuruh Woo Jin menyelesaikan auto CAD sebelum jam lima. Saking kesalnya, ia berniat memecat Woo Jin, tapi saat

Hyun bilang kalau Woo Jin sudah menyelesaikannya, ia langsung diam.


Hee Soo yang tidak percaya langsung memeriksanya sendiri. Ia syok Woo Jin sudah menyelesaikan tugas yang ia berikan dengan baik.

Tak lama kemudian, Tae Rin menelpon dan Hee Soo langsung menyuruh Seo Ri menjawabnya.


Tae Rin menyuruh Seo Ri menonton Orkestra Festival Lucerne dari tahun 2003 dan seterusnya.

"2003? Itu setelah Claudio Abbado mengambil alih, bukan?" tanya Seo Ri.

"Kau memang tahu banyak.  Aku akan ada pertunjukan dalam dua hari. Kau harus datang dengan rekan kerjamu. Aku berharap segera bertemu denganmu." jawab Tae Rin.

Setelah selesai bicara dengan Seo Ri, Tae Rin baru sadar kalau ia lupa menanyakan nama Seo Ri lagi.


Seo Ri pun langsung melapor pada Hee Soo, kalau Tae Rin menginginkan konser yang mudah dan menyenangkan.

"Misalnya, Berlin Philharmonic bermain di Musikverein, Golden Hall pada tahun 1987, di mana Herbert von Karajan memimpin Johann Strauss II's..."

"Jika menyangkut musik, bisakah kau menanganinya?  Kami kurang paham tentang musik. Kami sulit mengerti jika kau menjelaskannya begitu. Teruslah berdiskusi dengan Rin, lalu laporkan dengan singkat kepada kami. Kurasa itu akan paling efektif."

"Baiklah! Aku akan merapikan laporanku sebelum kuberikan padamu!" jawab Seo Ri.

Hee Soo pun tersenyum melihat semangat Seo Ri.


Woo Jin kembali ke jembatan penyebrangan itu. Sambil mengingat kata-kata dokternya, ia terus berjalan mendekati jembatan penyebrangan.

"Meskipun orang yang kau lihat di jembatan penyeberangan adalah orang lain, kau melihat mereka dalam situasi yang sama. Kenanganmu mungkin tumpang tindih. Daripada menghindarinya, kau harus berusaha dan mengenali mereka sebagai orang lain." ucap dokternya memberikan saran.

Tiba-tiba, terdengar bunyi lonceng. Woo Jin pun menoleh dan mendapati bunyi lonceng itu berasal dari sepeda yang dikendarai seorang pelajar.

Lalu, Woo Jin melihat pelajar itu berhenti tepat di depan tangga penyebrangan. Sontak hal itu kembali mengingatkan Woo Jin pada Seo Ri.


Woo Jin pun kembali trauma. Tak tahan dengan semua itu, ia mencoba menjauhi jembatan penyebrangan. Tapi seorang pria tiba-tiba menabraknya, membuat ponselnya terjatuh. Tepat saat itu, panggilan dari Seo Ri masuk. Woo Jin pun mencoba menenangkan dirinya, sebelum akhirnya ia menjawab telepon dari Seo Ri.

"Kang Daepyonim memintamu datang ke rapat pukul 11.00 besok. Jika kau telat sedetik, dia akan melemparmu ke luar angkasa. Kau juga meninggalkan mobilmu di sini. Kau akan kembali kemari? Jika ya, aku akan menunggu agar kita bisa pulang bersama." ucap Seo Ri.


Woo Jin pun terdiam sejenak sebelum akhirnya ia menyuruh Seo Ri pulang duluan dan memutuskan panggilannya.


Jennifer yang baru masuk ke rumah sambil membawa sebaskom penuh cabe, terkejut melihat balon-balon bertuliskan "Selamat untuk pekerjaan barumu, Seo Ri adalah yang terbaik" memenuhi ruangan. Tak lama kemudian, Chan datang dan berkata pada Jennifer kalau ia hanya ingin memberikan ucapan selamat pada Seo Ri.


Tak lama berselang, Seo Ri datang dan terkejut melihat balon-balon yang bertuliskan namanya.

"Sur.. sur.. surprise!" ucap Chan gugup, lalu meniup terompet lidahnya.

Chan juga meletakkan terompet itu di mulutnya Jennifer.

Seo Ri pun bersorak melihatnya.


Chan masuk ke kamarnya sambil bersiul. Tidak hanya bersiul, tapi ia juga menari. Namun ia seketika berhenti menari begitu mendengar anak ayamnya bersuara.

"Kenapa kau melihatku begitu? Dia orang dewasa usia 30 tahun." ucap Chan. Tapi anak ayamnya tidak berhenti bersuara. Chan pun bergegas mendekati anak ayamnya.

"Aku membawamu kemari, jadi, aku mengurusmu. Aku mengurus wanita itu karena aku menyuruhnya tinggal di sini. Aku sama-sama menyukaimu dan dia." ucap Chan.


Woo Jin mencoba tidur, tapi bayangan kecelakaan itu terus saja berputar di benaknya.

Woo Jin pun duduk meringkuk di lantai. Ia kembali menyalahkan dirinya sebagai penyebab kecelakaan Seo Ri.


Di kamarnya, Seo Ri sedang membalikkan setumpuk kaus kakinya sambil memikirkan sesuatu soal musik klasik. Padahal dia sudah mengantuk. Lalu tiba-tiba, ia jatuh tertidur sambil duduk, tapi tak lama, ia terbangun saat dirinya nyaris jatuh.


Lalu terdengar suara pintu dibuka. Seo Ri pun langsung membuka pintu kamarnya.

"Siapa itu? Jennifer?" teriak Seo Ri, tapi tidak ada yang menjawab.

"Apa aku salah dengar?" tanya Seo Ri.


Ternyata hari sudah pagi. Suara yang didengar Seo Ri adalah suara pintu yang dibuka Woo Jin. Woo Jin pergi pagi-pagi sekali.


Tak lama berselang, Seo Ri juga sudah siap berangkat ke kantor. Di depan pintu, ia menemukan satu paper bag yang berisi sebuah kotak. Di atas paper bag itu, ada kertas kecil bertuliskan 'Untuk Seo Ri'".

Seo Ri pun langsung membukanya. Isinya sepasang sepatu yang sangat cantik. Ia juga menemukan kertas berisi pesan lainnya disana.

"Mendengar terima kasih membuatku jijik, jadi jangan mengucapkannya. From Jennifer."

Seo Ri terharu membacanya.


Chan turun ke bawah karena haus. Sampai dibawah, ia melihat Seo Ri yang duduk di depan pintu, sedang memakai sepatu pemberian Jennifer.

"Mau ke mana?" tanya Chan.

" Ke kantor." jawab Seo Ri.

Chan pun melirik ke arah jam. Masih jam lima.

"Busnya belum ada." ucap Chan.

"Aku tidak sabar untuk ke kantor. Aku tidak bisa duduk dengan tenang. Aku bisa berjalan sampai ke kantor." jawab Seo Ri.

Karena tahu jarak dari rumahnya ke kantor Woo Jin cukup jauh, Chan pun langsung berpura2 kalau dirinya mau latihan. Ia juga mengaku pada Seo Ri, kalau dirinya biasa bersepeda pagi-pagi. Chan pun menawarkan dirinya untuk menawarkan Seo Ri.


Tapi habis itu Chan panic sendiri. Ia bersumpah pernah melihat sepedanya. Chan membuka gudangnya. Tak lama kemudian, ia menemukan sepedanya disana.


Chan menyuruh Seo Ri naik ke sepedanya. Melihat sepeda Chan yang sudah usang, Seo Ri pun tidak percaya kalau Chan menaiki sepeda itu setiap hari.

"Ini sepeda antik. Dahulu ini milik kakekku. Bibi tahu barang antik sedang tren, bukan?" jawab Chan.


Lalu, Seo Ri melihat stiker pororo di rangka sepeda Chan.


Flashback....

Di sebuah stasiun, Seo Ri remaja memanggil-manggil sesosok pria berseragam sekolah yang menyandang tas tabung. Seo Ri melihat stiker pororo di tas tabung pria itu.

Flashback...


"Pororo." ucap Seo Ri.

"Aku penggemar berat Pororo waktu kecil. Dahulu aku menempelkan stiker ini di mana-mana. Bibi juga menyukai pororo?"

"Tidak, aku teringat akan sesuatu yang pernah kulihat?" jawab Seo Ri.


Lantas, Seo Ri naik ke sepeda Chan. Chan menyuruh Seo Ri pegangan. Namun ia tertawa geli saat Seo Ri memeluk pinggangnya.

"Astaga. Kau pasti mudah merasa geli." ucap Seo Ri.

Chan mulai mengayuh sepedanya. Seo Ri tersenyum sambil memegangi tali celana Chan.


Saat mereka menuruni tanjakan, Seo Ri menjerit ketakutan karena laju sepedanya yang begitu cepat. Saking takutnya, ia sampai tidak sadar kalau tangannya menarik tali celana Chan.

Chan yang celananya ditarik, berteriak-teriak kesakitan.

"Jangan tarik celanaku! Bibi menyakiti selangkanganku!"


Jarum jam sudah menunjukkan pukul sebelas. Hee Soo yang sedang bicara di telepon dengan seseorang pun terkejut mendengar sesuatu soal Woo Jin. Selesai bicara dengan seseorang yang dipanggilnya Direktur Cha, Hee Soo pun langsung memberitahu Hyun apa yang terjadi.

"Dia rupanya menelepon di pagi hari dan bertanya jika mereka bisa rapat lebih awal. Dia menawarkan diri untuk datang ke studio Direktur Cha. Dia pergi setelah rapat selesai." ucap Hee Soo.

"Astaga, sulit kupercaya. Woo Jin biasanya tidak serajin itu." jawab Hyun.

"Dia jarang ada di kantor belakangan ini." ucap Hee Soo.

"Di mana daftar musik untuk konser jazz?" tanya Hyun.

"Di halaman 17, Sunbaenim!" sahut Seo Ri.

Hee Soo pun langsung menatap ke arah Seo Ri. Ia sadar, Seo Ri lah penyebab Woo Jin jarang berada di kantor.

Hyun lalu mengajak Hee Soo mengadakan pesta penyambutan untuk Seo Ri. Hee Soo setuju dan bertanya, apa makanan favorit Seo Ri. Seo Ri mengaku, kalau ia

menyukai kue beras pedas dengan mi kenyal.


Di jalanan, Woo Jin lagi mengukur sesuatu. Setelah itu, ia memotret beberapa tempat yang didatanginya.


Sementara Hee Soo dan Hyun mengajak Seo Ri makan di restoran daging sapi untuk merayakan bergabungnya Seo Ri menjadi karyawan.

Hyun menuangkan alkohol ke gelas Hee Soo. Melihat itu, Seo Ri langsung tertarik. Hee Soo menawari Seo Ri minum juga, tapi ia terkejut saat Seo Ri mengaku belum pernah minum alkohol.

"Tapi aku akan minum sedikit saja." ucap Seo Ri lagi.

"Kau orang paling lugu yang pernah kulihat." jawab Hyun lalu menuangkan alkohol ke gelas Seo Ri.


Setelah mencicipinya, Seo Ri pun terdiam. Melihat ekspresi Seo Ri, Hee Soo mengira rasanya terlalu kuat. Tapi Seo Ri bilang, rasanya sangat bersih membuat Hee Soo terkejut.

Seo Ri pun menyodorkan gelasnya lagi pada Hyun. Hee Soo dan Hyun pun ternganga melihat Seo Ri minum alkohol dalam sekali teguk.

"Kukira ini kali pertamamu." ucap Hyun.

Seo Ri pun membenarkan, lalu menuangkan alkohol itu lagi ke dalam gelasnya.

"Kurasa kau terlahir untuk ini." ucap Hee Soo.


Lalu, Hee Soo mengatakan soal Woo Jin. Ia yakin, Seo Ri merasa lelah tinggal seatap dengan Woo Jin.

"Tidak. Aku bersyukur dia mengizinkan aku tinggal di sana. Tapi aku hanya tinggal sementara, jadi, aku akan segera pergi." jawab Seo Ri.

"Woo Jin cenderung membuat orang merasa tidak nyaman dan sulit mengetahui apa yang dipikirkannya. Dia tipe orang yang aneh. Tapi dia tidak sepenuhnya bedebah, jadi, tolong mengertilah." ucap Hee Soo.

"Dia sama sekali tidak membuatku merasa tidak nyaman. Aku tahu dia pria yang baik. Dia sangat peduli kepadaku." jawab Seo Ri.

"Dia memedulikanmu? Bukan mengganggumu? Aku sudah mengenalnya selama 10 tahun. Dia pintar membuat orang kesal tapi dia bukan tipe orang yang memedulikan siapa pun." ucap Hee Soo heran.

"Tapi kenapa kau memanggilnya ahjussi?" tanya Hyun.

"Aku tidak tahu lagi harus memanggilnya apa." jawab Seo Ri. Lalu, Seo Ri menanyakan soal Woo Jin dan Hee Soo yang sudah berteman selama 10 tahun.

"Mereka sama-sama berkuliah di Jerman. Mereka sahabat. Dia mungkin satu-satunya teman Woo Jin." jawab Hyun.

"Sial. Tidak heran hidupku melelahkan." desis Hee Soo kesal.


Seo Ri tiba-tiba teringat hari itu. Hari dimana ia melompat ke jalanan karena melihat pamannya. Woo Jin datang melarangnya pergi.

"Bagaimana jika kau mati karena aku?" tanya Woo Jin saat itu.

Seo Ri pun berniat menanyakan hal itu pada Hee Soo, tapi tidak jadi.


Woo Jin sendiri lagi duduk di kafe sambil melihat foto-foto hasil jepretannya tadi. Tak lama kemudian, ponselnya berbunyi.

"Mr. Gong, kau yakin kita tinggal bersama? Aku hampir lupa bagaimana rupa Paman. Paman dimana?" tanya Chan.

"Paman melakukan kerja lapangan." jawab Woo Jin.

"Aku benci kerja lapangan. Kami pesan jokbal agar bisa makan dengan Paman." seru Deok Soo.

"Kami merindukan paman! Kami menyayangi paman!" teriak Deok Soo dan Hae Beom.

"Sangat tidak terduga mendengar kau mencintaiku." jawab Woo Jin. Lalu, Woo Jin bertanya apa mereka baik-baik saja.

"Mereka sehat walafiat. Bagaimana dengan Paman? Paman makan dengan teratur?" tanya Chan.

"Tentu. Persiapanmu untuk kontes nasional lancar?"

"Astaga, jangan mencemaskan aku. Aku bisa mengurus diri sendiri, jadi, fokuslah mengurus diri Paman." jawab Chan.

Woo Jin tidak menjawab lagi. Ia terdiam saat melihat foto Seo Ri di kameranya.

"Paman Woo Jin. Paman baik-baik saja?" tanya Chan.

"Paman baik-baik saja, jangan khawatir. Sampai jumpa di rumah." jawab Woo Jin, lalu memutuskan panggilannya.


Selesai menelpon, Woo Jin pun heran kenapa foto Seo Ri bisa ada di kameranya. Tak lama berselang, ia pun ingat bagaimana Seo Ri bisa ada di kameranya.

Woo Jin pun berniat menghapus foto Seo Ri tapi saat teringat saran dokternya, ia mengurungkan niatnya itu.


Chan duduk diluar sambil berolahraga. Lalu tak lama kemudian, ia menyadari kalau hari sudah larut dan bergegas menghubungi Hee Soo. Ia menyebut Hee Soo sebagai boss yang buruk karena mengira Hee Soo membuat Seo Ri bekerja terlalu keras.

"Apa maksudmu? Aku mentraktirnya daging. Aku menyambut dia dengan membelikan daging sapi Korea dan minol." jawab Hee Soo.

"Apa? Minol? Kau menyuruhnya minum minol?" tanya Chan kaget.


Seo Ri sendiri berada di depan toko biola yang sudah tutup. Ia mengetuk-ngetukkan kepalanya ke pintu sambil berkata, kalau ia akan segera menjemput violinnya setelah memiliki uang yang cukup.


Setelah itu, Seo Ri berjalan sempoyongan keluar dari toko biola. Tak sengaja, ia mendengar seseorang bernyanyi dan menyebut2 usia 17 tahun.

Seo Ri pun langsung berbalik dan menghampiri orang itu. Tepat saat itu, Chan datang. Ia mau menghampiri Seo Ri tapi tak jadi.

"Aku juga! Usiaku 17 tahun! Ani! Siapa bilang usiaku 17 tahun? Usiaku 30 tahun!" teriak Seo Ri, lalu beranjak pergi.

"Dia akan merasa sangat malu jika aku menghampiri dia sekarang." ucap Chan.


Chan mengikuti Seo Ri. Ia heran melihat Seo Ri yang masuk ke terowongan anak-anak.


Sekarang, Seo Ri sudah hampir sampai di rumahnya. Seo Ri berjalan sempoyongan dan hampir menabrak rambu dilarang parkir. Tak mau Seo Ri terluka, Chan pun langsung melemparkan sendalnya, hingga rambu dilarang parkir itu jatuh.


Seo Ri yang mabuk, memasukkan password rumahnya dengan benar.


Chan pun terpana. Ia tidak menyangka, Seo Ri yang sedang mabuk bisa menemukan jalan pulang.

Chan masuk ke kamarnya dan meratapi nasibnya yang harus menjaga Woo Jin dan Seo Ri.


Woo Jin yang baru pulang, memilih duduk di taman rumahnya dulu. Tiba-tiba, Jennifer datang membuatnya kaget.

Jennifer minta maaf karena sudah membuat Woo Jin kaget. Lalu, Jennifer mengoceh soal dirinya yang mengeringkan cabe dan menawari Woo Jin makan malam.

"Aku tidak makan di malam hari." jawab Woo Jin.

"Benar. Anda tidak makan di malam hari." ucap Jennifer.


"Kau tidak masuk?" tanya Woo Jin saat melihat Jennifer masih berdiri di sampingnya.

"Bulannya terang jadi aku ingin mandi bulan. Bunga sakura berguguran belum lama ini. Waktu berjalan terlalu cepat." jawab Jennifer.

"Menurutku berjalan terlalu lambat. Kuharap waktu akan berjalan lebih cepat. Bagus seandainya satu bulan berlalu saat aku bangun." ucap Woo Jin.

"Meski anda mau melambatkan waktu, meski anda mau mempercepat waktu, waktu berlalu dengan begitu saja. Saat-saat menyakitkan yang membuat anda merasa seperti anda mau mati akan berlalu suatu hari nanti. Suatu hari, anda tidak akan pernah mengingat kenangan menyakitkan yang sepertinya tidak akan pernah hilang. Waktu akan berlalu dengan sendirinya. Jika anda menghindarinya sebelum waktu berlalu, hal-hal yang penting akan hilang bersama dengan waktu. Pada saat anda menyesalinya, semua sudah terlambat." jawab Jennifer.

Woo Jin mau menyahut lagi, tapi Jennifer langsung bilang kalau mandi bulannya sudah cukup dan memutuskan masuk ke dalam.


Seo Ri keluar dari kamarnya karena haus. Ia pergi ke dapur dan minum air langsung dari tekonya.


Seo Ri berjalan sempoyongan keluar dari dapur. Bukan kembali ke kamarnya tapi ia malah menuju ke kamar Woo Jin.

Melihat itu, Deok Goo langsung keluar dari kandangnya dan mau memberitahu Seo Ri.


Seo Ri yang tidak sadar, masuk ke kamar Woo Jin. Ia langsung masuk ke bawah selimut dan tidur di dekat kaki Woo Jin.

Bersambung ke part 2.......

No comments:

Post a Comment