Monday, August 13, 2018

Still 17 Ep 6 Part 2

Sebelumnya...


Seo Ri yang masih berada satu selimut dengan Woo Jin, terbangun. Ia terkejut melihat Woo Jin disampingnya.

Ia fikir, ia sedang bermimpi dan merasa mimpinya begitu nyata.

Seo Ri meniup Woo Jin. Woo Jin pun terbangun. Seo Ri makin heran kenapa mimpinya terasa begitu nyata.

Seo Ri lantas menepuk pipi Woo Jin untuk mencari tahu apakah dia bermimpi atau tidak. Woo Jin pun sedikit meringis ketika pipinya ditepuk Seo Ri.

"Ini mimpi." ucap Seo Ri.

"Kurasa bukan." jawab Woo Jin.

"Jika bukan, untuk apa kau disini?" tanya Seo Ri.

"Karena ini kamarku." jawab Woo Jin.

"Bukan, ini kamarku." ucap Seo Ri.

"Dahulu, ini kamarmu. 13 tahun yang lalu." jawab Woo Jin.


Seo Ri yang belum sepenuhnya sadar itu pun heran sendiri. Lalu, tak lama berselang dia menyibakkan selimut dan langsung meloncat dari tempat tidur begitu menyadari dirinya memang tidur di kamar Woo Jin.

Seo Ri pun minta maaf. Ia berusaha menjelaskan kalau semua itu karena soju. Ia mengaku, karena soju enak jadi dia minum sampai tiga gelas.

Tapi Woo Jin malah menatap Seo Ri dengan ekspresi datar. Seo Ri yang malu pun meminta maaf sekali lagi dan buru-buru keluar dari kamar Woo Jin.

Tapi belum sempat membuka pintu, ia mendengar suara Chan.


Seo Ri pun panic dan ia bergegas sembunyi di dalam lemari. Tak lama berselang, Chan pun masuk.

"Good morning.  Boleh pinjam parfum paman untuk keponakan tercinta ini, bukan?" ucap Chan.

"Baiklah. Ambil saja." jawab Woo Jin.

"Pinjam kemeja abu-abu juga. Ada di lemari, bukan?" ucap Chan.


Chan langsung membuka lemari. Seo Ri sudah panic. Tapi untunglah Chan tidak sempat melihat Seo Ri karena Woo Jin langsung bilang bahwa kemejanya ada di binatu.

Chan lantas mengambil parfum Woo Jin. Lalu ia mengaku senang bisa melihat wajah tampan pamannya dan beranjak pergi.


Di dalam lemari, Seo Ri tak sengaja melihat penyedot WC nya. Ia pun heran, kenapa Woo Jin meletakkannya disana. Sementara di belakang Seo Ri, berdiri tas tabung berstiker pororo.

Setelah Chan pergi, Woo Jin pun langsung membuka pintu lemari.

"Kenapa kau sembunyi?" tanya Woo Jin.

"Aku tidak mau membuatmu berada dalam masalah." jawab Seo Ri.

"Aku tidak akan berada dalam masalah. Kau boleh saja memberi tahu dia."

"Omong-omong, kenapa kau menaruh penyedot ini di dalam sini?" tanya Seo Ri.

"Memangnya kenapa jika kutaruh di dalam situ?" tanya Woo Jin balik.

"Bukankah lebih baik digantung di luar untuk membuka jendela?" jawab Seo Ri.

"Aku harus bersiap-siap untuk kerja. Kau akan tetap di dalam sana?" ucap Woo Jin.


Seo Ri pun langsung keluar. Ia bahkan sampai menjatuhkan penyedot dan tas tabung Woo Jin karena keluar dengan terburu-buru.

Seo Ri minta maaf. Setelahnya, ia berlalu dari kamar Woo Jin.

Woo Jin menegakkan penyedot dan tas tabungnya.

"Dia terus mengingatkan memori yang tidak ingin kuingat. Jadi, aku mencoba yang terbaik untuk menjauhinya. Tapi rasanya hanya dia yang tidak bisa kujauhi." ucap Woo Jin.


Woo Jin lalu kembali duduk di ranjangnya.


Seo Ri turun dari tangga sambil bertanya-tanya kenapa Woo Jin menjauhkan penyedot itu. Di bawah, ia bertemu Chan.

"Bibi masih di sini rupanya. Bibi sudah mandi?" tanya Chan.

"Sudah." jawab Seo Ri pelan.

"Aku baru saja mau berolahraga. Mau kuantar lagi?" tanya Chan.

"Apa? Tidak. Katanya aku terlalu dini. Mereka memintaku datang lain kali." jawab Seo Ri.

"Apa? Kenapa Miss Kang jahat sekali? Kenapa dia menginjak-nginjak semangat pegawainya." sewot Chan.


Seo Ri berlalu begitu saja. Chan yang melihat itu, langsung berhenti mengomel dan bertanya Seo Ri mau kemana.

"Mencuci muka." jawab Seo Ri.

"Apa? Bibi bilang sudah mandi." ucap Chan heran.


Seseorang mengikuti Jennifer. Jennifer yang sadar diikuti, langsung menoleh ke belakang tapi ia tak menemukan siapapun dan kembali melanjutkan perjalanannya. Dan benar saja, memang ada yang mengikuti Jennifer. Wanita bersepatu kuning itu.


Tae Rin mengirimkan sebuah file, tapi karena Hyun tidak mengerti soal musik klasik, jadi ia menyuruh Seo Ri mendengarnya.

Hyun lalu ingat kalau audio laptopnya, jadi ia mengambil earphone di meja Woo Jin.

Tapi Seo Ri tidak bisa mendengarkan apapun. Hyun pun mencoba memeriksa earphone nya.

"Ini pasti rusak. Ini milik Woo Jin. Pakai punyaku saja. Ada di mobil jadi tunggu sebentar." ucap Hyun, lalu beranjak menuju mobilnya.


Seo Ri pun bingung, ia bertanya-tanya kenapa Woo Jin memakai earphone yang sudah rusak. Saat Woo Jin datang, Seo Ri langsung memberitahu kalau earphone itu rusak.

"Aku tahu." jawab Woo Jin.

"Tapi kenapa kau memakainya jika tahu?" tanya Seo Ri.

"Aku tidak harus memberitahukan semuanya padamu, kan? Lagipula kurasa, kita juga tidak cukup akrab dan kita tidak akan saling bertemu selamanya dan tidak perlu saling mengenal." jawab Woo Jin.


Tak lama berselang, Hee Soo dan Hyun datang. Hee Soo mengajak mereka mencari sarapan, tapi Woo Jin tidak menjawab dan beranjak pergi.


Di atap, Seo Ri duduk sendirian memikirkan sikap Woo Jin yang mendadak dingin padanya.


Seo Ri masuk ke pantry dan terkejut melihat Woo Jin yang sedang membuat kopi. Bingung harus bagaimana menghadapi Woo Jin yang tiba-tiba dingin padanya, Seo Ri pun memilih menghindar. Ia pura-pura mau melakukan sesuatu tapi saat berbalik, tangannya tak sengaja menjatuhkan penahan pintu hingga pintu itu tertutup.

"Hyun bilang pintu ini rusak dan bilang jangan melepas itu. Jwesonghamnida." ucap Seo Ri.

Woo Jin diam saja. Hingga setengah jam berlalu, mereka tak bicara sepatah kata pun.


Seo Ri yang kebingungan, kemudian berjalan mundur dan tak sengaja menghidupkan mesin kopi. Seo Ri pun panic, ia tak tahu bagaimana cara mematikan mesin kopi itu. Woo Jin menghela nafas dan membantu Seo Ri mematikan si mesin kopi.

"Kam.. sahamnida." ucap Seo Ri pelan.


Tak lama kemudian, terdengar suara Hyun. Seo Ri pun langsung berteriak, meminta Hyun membukakan pintu. Setelah pintu terbuka, Seo Ri langsung berlari keluar. Hyun pun heran melihat wajah Seo Ri yang tampak lebih tua dari sebelumnya.


.Lalu, Hyun melihat Woo Jin. Ia kaget Woo Jin juga terjebak di pantry.

"Kita sebaiknya segera memperbaiki pintu ini." jawab Woo Jin sambil berlalu.


Seo Ri kembali ke mejanya dan pura-pura sibuk menuliskan sesuatu.

Lalu, Hee Soo memberitahu Woo Jin kalau pertunjukan Tae Rin akan dimulai pukul setengah sembilan malam nanti.

"Aku dan Hyun akan menemuimu di sana setelah mampir ke pabrik Paju. Kau bisa membawa Seo Ri saat datang nanti. Rin memintaku untuk mengajaknya datang." ucap Hee Soo.

Seo Ri langsung menolak, ia bilang ia akan ikut Hee Soo ke Paju.


"Aku akan langsung ke aula. Aku akan berangkat sekarang." jawab Woo Jin.

"Apa? Kau tidak ada pertemuan di luar kantor hari ini." ucap Hyun.

"Aku mau melihat-lihat properti di Hwanghak-dong." jawab Woo Jin lalu pergi.


Hee Soo memberikan kartu kredit kantor pada Seo Ri.

"Kau bisa memakai ini dan naik lah taksi.  Tapi sekarang, kau harus tetap disini untuk menerima paket." ucap Hee Soo.


Setelah Hee Soo dan Hyun pergi, Seo Ri pun pergi menyusul Woo Jin.

"Apa aku melakukan kesalahan? Aku sungguh tidak tahu apa yang terjadi. Karena kau tiba-tiba bersikap seperti ini, mungkin aku telah melakukan kesalahan. Kau tidak akan memberitahuku, jadi, ini membuatku gila. Hyun bahkan menyebutku tua.. Pokoknya, beri tahu aku jika aku melakukan kesalahan. Aku bisa memperbaikinya, minta maaf, atau meluruskan kesalahpahamannya." ucap Seo Ri.

"Tidak ada yang perlu kukatakan." jawab Woo Jin.

"Jujur saja, kurasa aku akrab denganmu. Sangat akrab. Kau bilang kita tidak akan saling bertemu lagi selamanya, tapi kau memberiku makan, mengizinkanku tinggal di rumahmu, dan kau bahkan mencemaskanku dan berteriak untukku. Semua hal itu membuatku merasa sangat berterima kasih. Jadi, meski pergi dari rumahmu karena tidak bisa menemukan pamanku, aku akan terus menemuimu agar bisa membalas budimu. Kita akan terus bertemu untuk waktu yang lama. Kau tidak tahu betapa bersyukurnya aku. Kukira kita yang paling akrab dari semua orang yang kutemui." ucap Seo Ri.


Tapi Woo Jin, dia pergi begitu saja dengan mobilnya. Tangis Seo Ri pun pecah.


Hyun dan Hee Soo lagi melihat-lihat properti di pabrik Paju. Tak lama kemudian, Hee Soo mendapatkan telepon dari seseorang dan ia pun kaget.


Sekarang, Hyun dan Hee Soo sedang di perjalanan. Hee Soo frustasi karena tak bisa menghubungi Woo Jin. Tak lama berselang, Hyun berkata teleponnya sudah tersambung dan memberikan ponselnya pada Hee Soo.

"Seo Ri-ssi , ada masalah kelistrikan. Bagian panggung musik yang kita kerjakan telah terbakar. Pertunjukannya akan segera dimulai, jadi, kita harus memperbaikinya. Kami dalam perjalanan, jadi, tolong hubungi Woo Jin dan suruh dia segera datang." ucap Hee Soo.


Seo Ri pun mengerti dan langsung menghubungi Woo Jin tapi tidak dijawab. Lalu, Seo Ri ingat perkataan Woo Jin tadi kalau Woo Jin mau pergi ke Hwanghak-dong.

Seo Ri pun langsung mencari lokasi hwanghak-dong di internet.


Tak lama kemudian, ia tiba disana dan sempat melihat Woo Jin namun tidak berhasil mengejar Woo Jin. Tak lama berselang, ia mendengar pengumuman anak hilang.

Seo Ri pun bergegas ke meja informasi. Si petugas pun bingung bagaimana harus memanggil Woo Jin.

"Biar aku saja yang panggil." ucap Seo Ri akhirnya.

"Ahjussi, kau bisa mendengarku! Ahjussi, ani. Desainer Gong.  Tolong datang ke studio jika bisa mendengarku." ucap Seo Ri.

Bersamaan dengan itu, Woo Jin mulai meteranya.

"Celaka jika dia tidak dengar ini karena dia mengukur apa pun dengan meterannya." ucap Seo Ri.


Orang-orang di sekeliling Woo Jin yang mendengar itu pun langsung menatap ke arah Woo Jin.

"Kurasa dia orangnya."

"Pria dengan meteran."

Woo Jin yang melihat orang-orang berkasak kusuk sambil menatap ke arahnya pun heran dan langsung melepas earphonenya. Tak lama berselang, suara


Seo Ri terdengar lagi.

"Ahjussi, bisa dengar aku? Ini sangat mendesak. Bisakah kau mendengarku? Tolong jawab aku jika bisa mendengarku." ucap Seo Ri.

"Kau tidak akan bisa mendengarnya meski dia menjawabmu." jawab petugas.

"Ahjussi! Gong Woo Jin!" teriak Seo Ri.


Tak lama kemudian, Woo Jin datang. Seo Ri langsung menarik tangannya dan mengajaknya lari.

"Ada apa?" tanya Woo Jin.

"Astaga, kenapa kau membuat ini begitu sulit." omel Seo Ri, lalu menarik Woo Jin lari.


Sekarang, mereka sudah di mobil. Woo Jin sedang bicara dengan Hee Soo di telepon. Woo Jin mengaku sudah bicara dengan manajer.

"Mungkin aku akan tiba di sana lebih dahulu. Nanti kutelepon lagi." ucap Woo Jin.

"Kita harus lewat sebelum lampu merah menyala. Lebih cepat. Cepatlah!" ucap Seo Ri. Sementara tangannya tampak memegang mouse komputer. Woo Jin merasa terganggu karena sinar dari mouse itu diarahkan Seo Ri padanya.


"Hei, bisa jauhkan cahaya itu dari wajahku?" pinta Woo Jin.

"Astaga. Aku sungguh pergi dari kantor dengan terburu-buru." jawab Seo Ri.


Sekarang, lantai belakang panggung yang terbakar sudah diganti. Mereka pun bisa bernapas lega. Tapi hanya sebentar, karena Hyun jatuh setelah memeriksa apakah lantainya kokoh atau tidak.

Seo Ri pun membantu Woo Jin berdiri tapi dia ikut-ikutan jatuh. Woo Jin pun langsung menangkap Seo Ri sebelum Seo Ri jatuh.


Setelahnya, Woo Jin memeriksa lantai itu.

"Warnanya memang sama, tapi materialnya berbeda." ucap Woo Jin.

Mereka pun panic. Salah satu panitia acara berkata, mereka bisa menghindari lantai itu. Tapi Woo Jin bilang tak mungkin karena itu letaknya sedikit ke tengah panggung.


Mereka pun berusaha memikirkan jalan keluarnya. Tak lama kemudian, terdengar suara violin. Seo Ri yang mendapatkan ide setelah mendengar suara violin pun langsung berlari masuk ke pintu.


Seo Ri masuk ke sebuah ruangan dan meminjam rosin para pemain.


Lalu, ia kembali keluar dan menyuruh mereka membantunya menggosokkan rosin itu ke lantai.

"Apa yang kau lakukan Seo Ri-ssi?" tanya Hee Soo.

"Ppali!" suruh Seo Ri. Saat membuka salah satu rosin, tangan Seo Ri pun terluka.


Woo Jin yang kemudian ngeh dengan maksud Seo Ri pun langsung membantu Seo Ri menggosokkan rosin ke lantai. Melihat itu, yang lain pun mengikuti Woo Jin membantu Seo Ri.


Masalah pun selesai. Hee Soo dan Hyun berterima kasih pada Seo Ri. Lalu, Woo Jin mengingatkan mereka kalau mereka harus segera ke pertunjukan Tae Rin.

"Kita sudah kehabiskan waktu." ucap Hee Soo sambil melirik jam nya.

Woo Jin menatap tangan Seo Ri yang terluka.

Hee Soo menyuruh Seo Ri mencuci tangan, tapi Seo Ri bilang akan mencuci tangan di sana karena mereka sudah tidak punya waktu lagi.


Sampai disana, panitia menyuruh mereka masuk. Serta, memberikan satu undangan lagi dan menyuruh salah satu dari mereka duduk terpisah.

Woo Jin pun langsung menyambar undangan itu.


Selama pertunjukan berlangsung, Seo Ri menangis. Ia teringat janjinya pada sang ibu, akan menggunakan violin pemberian sang ibu untuk mencapai impian sang ibu.

"Aku akan menjadi pemain violin yang paling terkenal di dunia. Aku akan memakai gaun cantik dan menggelar konser. Ibu nantikan saja." ucap Seo Ri.


Seo Ri lalu mengkhayalkan dirinya berada di posisi Tae Rin sekarang.

Tangis Seo Ri tambah deras.


Woo Jin yang melihat Seo Ri menangis, teringat cerita Seo Ri tentang dirinya yang hampir sekolah di Berlin karena diterima di sekolah musik disana. Lalu ia ingat kata-kata Hee Soo tentang Seo Ri yang diterima di Hanns Eisler.


Setelah pertunjukan selesai, mereka menghampiri Tae Rin. Hee Soo memuji penampilan Tae Rin.

Lalu, Tae Rin melihat Seo Ri. Hee Soo pun memperkenalkan Seo Ri sebagai orang yang menjawab telepon Tae Rin waktu itu.

"Dia juga pemain violin." beritahu Hyun.

"Aku bersemangat karena akhirnya menemukan orang yang sepemikiran. Aku menantikan untuk bekerja denganmu." ucap Tae Rin.

Tae Rin mengulurkan tangannya pada Seo Ri. Tapi Seo Ri menolak berjabat tangan Tae Rin karena tangannya yang masih kotor.

"Aku akan menjabat tanganmu di lain waktu. Pemain violin harus menjaga tangan mereka tetap bagus dan bersih. Akan tidak sopan menjabat tanganmu dengan tangan kotorku." ucap Seo Ri.


Lalu, Tae Rin menanyakan nama Seo Ri. Terkejutlah Tae Rin saat tahu nama Seo Ri.


Ia langsung ingat masa lalunya, saat Seo Ri terpilih lewat jalur khusus untuk tampil di acara "Concerto for Two Violins".


Sekarang, Tae Rin sudah duduk di ruang ganti. Ia heran, kenapa Seo Ri bisa ada di pertunjukkannya.


Seo Ri sendiri lagi di perjalanan bersama Woo Jin. Sepanjang perjalanan, mereka diam saja. Lalu Woo Jin melihat tangan Seo Ri yang terluka dan ia ingat saat Seo Ri meremas-remas adonan.

Saat itu, Seo Ri bilang pada Chan, ia meremas adonan untuk melatih jarinya agar tidak kaku.


Di rumah, Chan cemas karena Seo Ri yang belum pulang. Tak lama kemudian, Seo Ri dan Woo Jin pulang. Ia pun panic melihat tangan Seo Ri yang terluka.

"Tidak apa-apa. Ini luka sepele selagi aku bekerja." jawab Seo Ri lalu masuk ke kamarnya.

"Apa yang terjadi? Paman menyuruhnya melakukan apa sampai tangannya terluka? Dia pemain violin." sewot Chan pada Woo Jin.

"Paman lelah. Paman akan naik." jawab Woo Jin.


Chan pun langsung mencari obat. Ia membuka satu per satu laci yang ada di rumahnya. Tapi karena tak bisa menemukan, akhirnya ia pun berlari ke apotik, padahal hari sedang turun hujan.

Karena sudah lewat tengah malam, tentu saja apotiknya sudah tutup.


Chan lalu kembali pulang. Ia langsung ke kamar Seo Ri dan melihat Jennifer sedang mengobati tangan Seo Ri. Seo Ri sendiri sudah tertidur lelap. Wajahnya tampak lelah.


Chan kembali ke kamarnya dan langsung duduk di depan anak ayamnya.

"Anak ayam, kau dan bibi berbeda." ucapnya sambil memegangi dadanya.

Woo Jin sendiri juga sedang memikirkan Seo Ri.

Lalu kita mendengar narasi Woo Jin.

"Pengalaman baik dan menyenangkan."


Di bawah, Seo Ri menangis sambil mengupas bawang. Tanpa disadarinya, Woo Jin melihatnya dari tangga.


Ketika Seo Ri hendak menghapus tangisnya, Woo Jin pun datang mencegahnya.

"Jangan menyeka wajahmu dengan tangan itu." ucap Woo Jin.

"Aku tidak menangis. Air mataku keluar karena pedih. Pedih karena bawang." jawab Seo Ri.


Tangis Seo Ri tambah pecah. Ia pun langsung memalingkan wajahnya dari Woo Jin.

Lalu, Woo Jin memegang wajah Seo Ri dan membuat Seo Ri menatap dirinya.

Terdengar narasi Woo Jin.

"Itu adalah momen saat aku bersamanya. Momen yang paling menakutkan dan mengerikan. Juga momen yang paling menyamankan dan menyenangkan. Itu momen saat aku bersamanya."


Bersambung.....

No comments:

Post a Comment