Tuesday, August 14, 2018

Still 17 Ep 7 Part 1

Sebelumnya...


Hujan turun dengan deras. Di kamarnya, Woo Jin yang berbaring di kasur, tengah memikirkan Seo Ri.

Narasi Woo Jin terdengar.

"Pengalaman yang bahagia dan damai?  Saat-saat yang  kulewati bersamanya. Saat yang paling menakutkan... Saat-saat paling bahagia dan  damai kuhabiskan bersamanya."


Kemudian, Woo Jin teringat saat ia menemui dokternya.

"Kau bingung karena emosi saling  bertentangan?" tanya dokternya.

"Dia terus menyentuh sesuatu dalam diriku. Semua perkataannya, perasaannya, dan kejujurannya sangat jelas. Itu terus membuatku sadar karena tidak seperti dia. Dia terus membuatku melihat diriku di masa lalu tiap kali aku melarikan diri. Rasanya hanya dia yang tidak bisa kucegah. Dia terus menyeretku keluar dari jaring pengamanku. Dia membuatku ingin merobeknya dan lari ke luar. Dia terus membuatku enggan hidup begini lagi. Itu yang dia lakukan." jawab Woo Jin.

Flashback end...


Woo Jin lalu melihat foto Seo Ri di kameranya.


Setelah itu, ia beranjak dari kamarnya dan tertegun menemukan Seo Ri yang menangis sambil mengupas bawang.


Seo Ri ingin menghapus air matanya dengan tangannya. Tepat saat itu, Woo Jin datang dan mencegahnya melakukan itu.

"Jangan mengusap dengan tangan itu." ucap Woo Jin.

"Aku tidak menangis. Ini karena mereka terlalu pedas. Bawang bombai ini terlalu pedas." jawab Seo Ri sambil menarik tangannya dari pegangan Woo Jin.


Tangis Seo Ri pun pecah lagi. Ia langsung memalingkan wajahnya ke arah lain. Woo Jin pun duduk di depan Seo Ri. Ia memegang wajah Seo Ri dan membuat Seo Ri menatap ke arahnya.

Woo Jin menghapus air mata Seo Ri dengan kedua tangannya.


Setelah itu, ia berniat mencium Seo Ri namun gagal karena lututnya menabrak tumpukan bawang yang sudah dikupas Seo Ri.

Woo Jin langsung membereskan bawang-bawang yang berserakan itu.

"Tinggalkan saja, biar kubereskan." ucap Seo Ri

"Kita lakukan bersama. Aku akan mengambilnya. Aku bisa." jawab Woo Jin.


Tapi habis itu, Woo Jin malah menggesek matanya pakai tangannya yang habis memegang bawang.

"Astaga, pasti pedih." ucap Seo Ri cemas.

"Tidak aku baik-baik saja adalah yang ingin kukatakan, tapi ini sebaliknya. MATAKU!" teriak Woo Jin akhirnya.

"Kenapa sembarangan menyentuh matamu setelah kau menyentuh... aaah, mataku!"

Seo Ri juga menyentuh matanya! LOL LOL LOL

Seo Ri mengajak Woo Jin mencuci mata mereka, tapi saat hendak berdiri, kepala mereka bertabrakan.

"Astaga, kepalamu sangat keras." ucap Woo Jin.

"Maaf karena kepalaku keras." jawab Seo Ri.


Seo Ri pun berdiri. Ia mau ke kamar mandi tapi berjalan ke arah yang salah.

"Bukan kesana jalannya." ucap Woo Jin, lalu menarik Seo Ri.

Tapi saat hendak menuju ke kamar mandi, kaki Woo Jin tersandung panci berisi bawang.

Sontak lah si Woo Jin meringis sambil memegangi kakinya.

"Kau tidak apa-apa?" tanya Seo Ri.

Woo Jin kemudian bangkit dan menarik Seo Ri ke kamar mandi.


Sekarang, mereka sudah keluar dari kamar mandi sambil mengeringkan wajah mereka dengan handuk basah. Setelah itu, mereka pun saling tertawa satu sama lain, menertawakan kekonyolan mereka.

Lalu, Woo Jin mengajak Seo Ri keluar. Woo Jin bilang, udara dingin baik untuk menyembuhkan mata yang iritasi.

"Tapi diluar sedang hujan." jawab Seo Ri.

"Sepertinya sudah berhenti." ucap Woo Jin.


Woo Jin dan Seo Ri berdiri di halaman.

"Berhenti lebih cepat daripada yang kukira." ucap Seo Ri.

"Benar." jawab Woo Jin.

"Kenapa kau turun dan bukannya tidur?" tanya Seo Ri.

"Aku lupa berterima kasih. Seperti kata Hee Soo, kau menyelamatkanku. Terima kasih untuk sebelumnya. Aku bersungguh-sungguh." jawab Woo Jin.

"Itu bukan apa-apa." ucap Seo Ri seraya tersenyum.

"Tanganmu baik-baik saja?" tanya Woo Jin.


Seo Ri pun mengangguk, mengiyakan. Lalu, Seo Ri mengaku kalau ia berbohong saat mengatakan dirinya menangis karena bawang.

"Saat aku menonton Rin Kim bermain, jujur aku merasa iri dan sedih. Aku bisa bermain di panggung seperti itu dengan mengenakan gaun yang cantik.

Jika tidak ada yang terjadi, aku bisa melakukan itu. Aku memikirkan semua itu. Itu sebabnya aku menangis." ucap Seo Ri.

"Tidak ada yang terjadi? Apa maksudmu?" tanya Woo Jin.


Belum sempat Seo Ri menjawab, angin tiba-tiba berhembus dan menjatuhkan kelopak bunga ke atas kepala Woo Jin.

Seo Ri pun mendekat. Woo Jin langsung gugup. Mungkin dia pikir si Seo Ri mau nyium dia kali ye, soalnya ekspresinya Woo Jin begitu sih. Seo Ri terus mendekat, seolah-olah mau mencium Woo Jin tapi ternyata Seo Ri hanya mau mengambil kelopak bunga di kepala Woo Jin. Ekspresi Woo Jin pun langsung berubah seperti orang kecewa.

"Gelap sekali saat malam di sini. Tidak ada bintang. Udaranya segar. Tidak ada debu halus." ucap Woo Jin salting, bahkan saking saltingnya dia sampai celingak celinguk kesana kemari lho.


Saat melihat kembali ke arah Seo Ri, ia terkejut melihat Seo Ri yang sudah berpindah tempat. Lantas, ia pun langsung menyusul Seo Ri yang berdiri di depan sebuah pohon besar.

"Kau sudah besar." ucap Seo Ri sambil menatap pohonnya yang menjulang tinggi.

"Ada apa?" tanya Woo Jin.

"Benar." seru Seo Ri, lalu mengambil sesuatu di balik tanaman. Sebuah batu! Dan ada tulisan di batu itu.

"Apa itu? Nomor apa itu?" tanya Woo Jin.

"Ini pohon bungur. Ayahku menanamnya di sini saat ulang tahunku yang ketujuh. Nomor di sini adalah tingginya." jawab Seo Ri.

"Tinggi?" tanya Woo Jin.


"Kami menanam pohon yang sama tinggi denganku. Kami mengukur berapa banyak kami bertumbuh tiap tahun lalu menulisnya di sini. Kami menanam ini 10 tahun lalu, jadi, artinya... ah, ani, yang benar 23 tahun yang lalu.  Kau bertambah besar saat aku tidak ada. Tapi aku tidak tumbuh sama sekali." ucap Seo Ri.

Sontak Woo Jin langsung menoleh Seo Ri mengatakan tidak tumbuh sama sekali. Ia terkejut sekaligus heran.


Malam semakin larut. Mereka terus memandangi pohon bungur yang kelopaknya berguguran.


Di kamar Woo Jin, terlihat penyedot WC itu yang sudah kembali tergantung di rak. Dari jendela atap kamarnya terlihat bulan sabit. Angin yang berhembus kencang, membolak balikkan lembaran buku Woo Jin.

"Episode 13, Suatu Hari yang Cerah"


Keesokan harinya, Jennifer masuk ke kamar Chan, niatnya sih mau nyuruh Chan sarapan tapi Chan nya sudah pergi.

"Astaga, apa Chan pergi tanpa sarapan? Bagaimana bisa?" tanya Jennifer heran.

Lalu, Jennifer melihat sesuatu di dinding. Ia pun langsung mengambil spidol dan membuka tutupnya.


Petir menggelagar. Hujan turun dengan deras, tapi Chan latihan tidak peduli betapa derasnya hujan turun.


Lalu, Chan teringat kata-katanya tadi dalam.

"Anak ayam, kau dan bibi berbeda. Anak ayamnya Chan, aku memiliki perasaan kuat. " ucap Chan.

Chan lantas menuliskan sesuatu di kertas dan menunjukkan tulisannya pada si anak ayam.

"Tujuanku adalah menang! Kakakmu  punya tujuan sekarang. Aku akan menang di kejuaraan nasional tahun ini. Setelah itu, akan kunyatakan cinta saat aku tampak paling keren. Aku akan terus maju. Jangan dipikirkan, rasakan!" ucap Chan.

Flashback end...


Chan terus latihan. Hae Beom dan Deok Soo yang mengawasi di tepi sungai pun terheran-heran. Mereka merasa sikap Chan aneh. Chan terus berlatih.

Mereka pun khawatir kalau Chan jatuh sakit.


Hyun yang hampir sampai di kantor, sedang berbicara dengan seseorang di telepon. Orang itu menyuruh Hyun mencari seseorang untuk memberi makan ikan masnya. Selesai bicara, Chan bertanya-tanya ikan mas apa. Lalu, ia menguncup payungnya dan nge-rap soal hujan yang turun.

Tiba-tiba, Woo Jin datang dan ikutan nge-rap.

Sontak, Hyun kaget melihatnya. Hee Soo yang baru datang juga kaget.

"Kenapa? Aku berbuat salah? Lupakan saja kalau begitu." ucap Woo Jin, lalu berlalu dari hadapan mereka.


Di dalam, dia bertemu Seo Ri. Melihat Woo Jin, kedua pipi Seo Ri langsung merah padam saat teringat Woo Jin yang menghapus air matanya tadi malam.

"Kau sudah datang?" ucap Seo Ri, gugup.

"Ya, aku datang." jawab Woo Jin sembari tersenyum.


Woo Jin lantas berlalu dari hadapan Seo Ri. Setelah Woo Jin pergi, Seo Ri pun mengipas wajahnya dengan tangannya. Ia bahkan juga menyemprotkan air ke wajahnya.

Di dapur, Woo Jin yang lagi bikin kopi juga senyam-senyum tak karuan.


Tak lama berselang, Hee Soo datang mengagetkannya. Hee Soo pun menyuruhnya jujur, apakah Woo Jin stress karena pekerjaan atau habis menang lotre.

"Aku akan jujur. Aku tidak mengerti apa maksudmu." jawab Woo Jin.

Hee Soo pun sebal dan langsung memukuli lengan Woo Jin.

"Berhentilah bercanda." ucap Hee Soo.

"Kenapa kau tidak mengambil bola voli? Kurasa kau berbakat dengan itu." jawab Woo Jin.

"Mengambil? Tumben sekali kau begini.  Kau sungguh membeli tiket pesawat ke Kroasia? Kau senang akan menjadi pengembara lagi?" ucap Hee Soo heran, karena Woo Jin menggunakan dialek yang berbeda dari biasanya.

"Belum saatnya. Aku tahu belum saatnya. Aku tidak pergi." jawab Woo Jin, lalu beranjak ke pintu.


Tapi Hee Soo menghalanginya.

"Apa kau Gong Woo Jin? Bagaimana bisa kau begitu bahagia?" tanya Hee Soo.

"Aku? Untuk apa aku bahagia? Karena hujan sudah berhenti." jawab Woo Jin, lalu keluar dari dapur.

"Aku benar. Dia sudah gila." ucap Hee Soo.


Seorang pria aneh dengan pakaian yang cukup aneh dipakai seorang pria dan tahi lalat besar di dekat mulut, datang ke kantor. Ia menyapa Hee Soo cs memakai Bahasa Prancis. Hee Soo dan Hyun langsung menyambut pria itu. Sementara Seo Ri terheran-heran melihat pakaian aneh pria itu.

"Kantor ini terletak di lokasi yang melankolis." ucap pria itu.

Pria itu lalu menjentikkan jari nya di hadapan Hyun.

"Karena kita sudah membahasnya, hei. Bawakan es Americano. Tolong double shot." suruh pria itu.


"Baiklah." jawab Hyun manis. Tapi saat menuju ke dapur, ia mengatai pria itu kasar dengan suara pelan.

"Aku harus duduk di mana?" tanya pria itu.


Sekarang pria itu sudah duduk dan sedang bicara dengan Hee Soo. Sementara Hyun dan Seo Ri mengawasi mereka di meja masing-masing.

"Kau mengurus pertunjukan ayahku beberapa kali. Aku memintamu mencampur semuanya." ucap pria itu.

"Ini bukan bibimbap. Bagaimana bisa aku mencampur semuanya tanpa konsep?" protes Hee Soo.

"Kunci untuk fashion adalah pakaian. Meskipun kau mendekorasi panggung, itu tidak akan kelihatan." jawab pria itu, membuat Hee Soo tambah kesal.

Lalu pria itu merasa ada yang mengganggu pantatnya. Ia pun mengambil sebuah benda yang didudukinya yang ternyata adalah paper bag.

"Ini bukan hadiah untukku, bukan?" tanya pria itu, lalu melempar paper bag itu ke lantai.


Seo Ri pun langsung bangkit mengambil paper bag itu.

"Ini tasku." ucap Seo Ri.

"Aku kasihan padamu." jawab pria itu.

"Ada sesuatu di wajahmu." ucap Seo Ri sambil melihat tahi lalat pria itu.

"Aku tahu. Aku tampan, kan?" jawab pria itu, membuat Hee Soo dan Hyun menatapnya aneh.

"Bukan, maksudku memang ada sesuatu. Warnanya hitam." ucap Seo Ri.

"Sudah lama aku tidak mendapatkan respons yang menyegarkan." jawab pria itu.

Pria itu lantas memuji Seo Ri yang tampak seperti model. Ia mengaku tertarik dan berniat menjadikan Seo Ri modelnya. Sontak, Hee Soo langsung melindungi Seo Ri dengan berdiri di depan Seo Ri.

"Aku akan memikirkan konsep desain dan menghubungimu. Kau bisa pergi sekarang." ucap Hee Soo.

"Mari mengucapkan perpisahan dalam bahasa Prancis. Bisous." jawab pria itu.

"Kita lakukan dengan cara Korea karena kita di Korea." ucap Hee Soo.

"Sampai jumpa!" ucap Hyun.

"Aku akan mengirimkan foto referensi lewat surel." jawab pria itu, lalu pergi.


Tapi saat hendak menuju ke pintu keluar, ia diam-diam meletakkan kembali sebuah ponsel di atas meja.

"Sampai jumpa. Merci, mademoiselle." ucapnya pada Seo Ri sambil mengedipkan sebelah matanya.

"Apa dia sakit mata? Kenapa dia terus berkedip?" tanya Seo Ri heran.


"Bedebah itu! Jika bukan karena ayahnya, pasti sudah kuhancurkan dia." ucap Hee Soo kesal.

"Aku sangat benci dia. Makin sering kulihat, aku makin benci." jawab Hyun.

Seo Ri pun kebingungan.


Seo Ri lalu menyerahkan proposal yang sudah dibuatnya soal Tae Rin pada Hee Soo. Hee Soo mengambil proposal itu, lalu mengipas-ngipaskan itu proposal ke wajahnya untuk mendinginkan kepalanya yang panas gara-gara si pria aneh tadi.

Seo Ri tambah bingung melihatnya.


Woo Jin sedang rapat dengan klien yang di kafe depan bar waktu itu. Woo Jin bilang, seperti yang ia katakan, bahwa akan ada layar LED di belakang serta ia sudah memilih set kereta api yang sesuai dengan waktunya.

Woo Jin lantas menunjukkan set yang ada di buku ' Sejarah Kereta Api' dan bertanya mana yang lebih disukai kliennya. Kedua kliennya langsung berseru, kalau mereka menyukai keduanya.

Woo Jin yang heran pun melihat ke dalam buku dan kaget menemukan foto dua member girlband disana.

"Ini kenapa ada disini?" tanya Woo Jin heran.


Lalu Woo Jin ingat saat melihat Hyun membaca buku itu di kantor.

Flashback...

"Hyun, bisa kirimkan cetak biru untuk musikal?" pinta Woo Jin.

"Aku sibuk. Aku akan coba memikirkan set untuk kereta api." jawab Hyun.

Tapi ternyata, yang dilakukan Hyun adalah memandangi foto member girlband yang ia selipkan di buku.

Flashback end...


Woo Jin pun langsung menghubungi Hyun.

Hyun sendiri lagi menyeduh dua mangkuk ramyun saat ditelpon Woo Jin. Ia pun kaget mendengar foto member girlband favoritnya ada dibuku itu. Lalu ia berkata, akan segera mengantarkan buku yang benar.

"Gawat, aku ketahuan!" seru Hyun. Lalu, Hyun mencari buku itu di mejanya. Setelah ketemu, Hyun bergegas pergi.


Seo Ri yang bingung harus diapakan ramyun Hyun pun memilih menghabiskannya. Ia pun merasa sangat amat kenyang setelah menghabiskan dua mangkuk ramyun.


Tiba-tiba, ponsel yang diletakkan pria aneh di atas meja berdering. Seo Ri pikir, yang berbunyi telepon kantor makanya dia menjawab telepon kantor.

Mengetahui bukan teleponn kantor yang berbunyi, ia pun langsung mencari sumber suara dan menemukan ponsel itu. Sebuah nomor tidak dikenal nampak di ponsel itu.


Sekarang, Woo Jin dan Hyun sudah masuk ke mobil. Woo Jin memarahi Hyun soal foto member girlband tadi, tapi Hyun malah mengatakan soal mobilnya yang tidak mau menyala.

"Jangan mengubah topik pembicaraan." jawab Woo Jin.

"Aku tidak bercanda." ucap Hyun.

Tak lama berselang, mesin mobil pun menyala.

"Jika kau menukar buku lain, lebih baik kau jujur sekarang." ucap Woo Jin.

"Jangan beri tahu Hee Soo soal ini, ya? Aku takut kepada tamparannya." jawab Hyun.

"Seharusnya dia menjadi pemain voli saja, bukan?" ucap Woo Jin.

"Benar sekali. Dia seperti Kim Yeon Kyung." jawab Hyun.


Lalu, Hyun mendapat kiriman soal materi peragaan busana musim gugur dan musim dingin dari si pria aneh.

"Dia melarang kita meniru yang lain, tapi bedebah ini tidak mengirim lampiran." ucap Hyun kesal.

"Bedebah siapa?" tanya Woo Jin.

"Putra desainer Park. Dia datang untuk menanyakan tentang peragaan busana. Kepribadiannya sangat buruk." jawab Hyun.

"Kau tidak bisa memilih-milih klien. Kau harus profesional dengan kehidupan pekerjaan." ucap Woo Jin.

"Itu karena kau tidak ada disana. Aku bahkan enggan mendengar suaranya. " jawab Hyun, lalu menghubungi si pria aneh.

"Proyek ini biar aku yang urus." ucap Woo Jin, lalu mengambil ponsel Hyun dan menghubungi si pria aneh.

Tapi yang menjawab malah Seo Ri. Seo Ri pun berkata kalau si pria aneh meninggalkan ponselnya di kantor mereka, jadi ia sedang dalam perjalanan untuk mengembalikan ponsel itu.


Tak lama berselang, Seo Ri akhirnya tiba di sebuah gedung dan menanyakan pada satpam ada di lantai berapa Bar Seven.

Woo Jin yang mendengar Seo Ri menanyakan soal bar pun kaget. Tak lama kemudian, telepon terputus.


"Apa? Kenapa Seo Ri menjawab ponselnya?" tanya Hyun.

"Ponselnya ketinggalan, jadi, dia mengembalikannya." jawab Woo Jin.

"Perasaanku tidak enak. Dia yang tidak berniat untuk bersikap profesional. Bahkan Hee Soo sangat marah tadi. Dia terus mengatakan kepada Seo Ri

bahwa dia seperti model dan dia ingin bekerja bersamanya. Dia bahkan menyarankan menyapanya seperti di Prancis. Dia terus menggodanya dengan mengatakan bisous. Sulit kupercaya dia mengira dirinya tampan. Kurasa aku ingin muntah lagi." ucap Hyun.


Hyun lantas membuka jendela mobilnya dan muntah. Tepat saat dia muntah, dia melihat sosok mirip Woo Jin berjalan menjauhi mobilnya.

Hyun pun langsung menoleh ke Woo Jin. Niatnya mau ngasih tahu Woo Jin kalau ada seseorang yang mirip Woo Jin tapi ia langsung diam saat menyadari

Woo Jin tidak ada disampingnya.


Ternyata sosok yang mirip Woo Jin itu memang Woo Jin.

"Hyung! Kau mau kemana!" teriak Hyun.

Tapi Woo Jin tidak menjawab dan sibuk mencari lokasi Bar Seven di google map.


Deok Soo dan Hae Beom turun dari bis sambil menguap lebar. Lalu tiba-tiba, seseorang menarik mereka dari belakang yang ternyata adalah Ri An.

"Kau cantik sekali hari ini." puji Deok Soo.

"Aku tidak berdandan untukmu." jawab Ri An lalu memberikan mereka sesuatu.

"Ini untuk kalian, jadi, berhentilah bersikap manja dan enyahlah." ucap Ri An lagi.

Deok Soo pun sewot. Ia bilang, kalau mereka bukan bawahan Ri An tapi saat Hae Beom menunjukkan tiket yang diberikan Ri An yang ternyata tiket makan, Deok Soo pun langsung mematuhi kata-kata Ri An dan beranjak pergi.


Tak lama kemudian, Chan turun dan melihat kedua sohibnya pergi.

"Hei, kalian mau ke mana?" tanya Chan.


"Mereka sibuk." jawab Ri An. Ri An lalu bertanya, mereka akan kemana hari itu.

"Apa maksudmu?" tanya Chan bingung.

"Kau bilang mau mentraktir aku karena kuberikan pakaian untuk Bibi Bawah Tangga." jawab Ri An.

Chan yang baru ingat janjinya itu pun langsung menepuk dahinya.

"Jangan bilang kau lupa." ucap Ri An.

"Kau mau makan apa?" tanya Chan.

Tapi saat melihat wajah lelah Chan, Ri An pun menyuruh Chan pulang dan istirahat.

"Tidak apa-apa. Ini karena aku berlatih terlalu keras. Pokoknya aku harus menang pertandingan perorangan." jawab Chan, lalu mengajak Ri An pergi.


Seo Ri mengembalikan ponsel si pria aneh, serta ia memberitahu pria itu kalau tadi ada telepon dari Woo Jin. Tapi pria aneh itu melarangnya pergi. Pria aneh itu beralasan kalau dia baru saja membatalkan rapatnya dan meminta Seo Ri menemaninya makan steak. Ia juga membujuk Seo Ri dengan berkata, kalau mereka akan membicarakan soal pekerjaan.

"Tapi aku baru mulai bekerja di sini, jadi, tidak tahu banyak." jawab Seo Ri.

"Itu akan sangat membantu bagi pegawai baru." ucap pria aneh. Si pria aneh itu juga menelpon Hee Soo dan minta izin mentraktir Hee Soo makan.

Seo Ri ingin bicara pada Hee Soo tapi pria aneh itu menyuruhnya diam dan menutup teleponnya.

"Katanya kau bisa pulang setelah makan." ucap pria itu.

Seo Ri pun akhirnya duduk dan pria itu menyuruh Seo Ri memesan makanan.


Kemudian, pria itu menjentikkan jarinya memanggil pelayan.

"Kau sudah makan steaknya?" tanya pria itu saat melihat Seo Ri makan steak dengan lahap.

"Ya, kau menyuruhku duduk dan makan steak, maka itu kulakukan." jawab Seo Ri.


Lantas, pria itu mengajak Seo Ri bersulang. Tapi seseorang mengambil gelas wine Seo Ri dan bersulang dengan si pria aneh dan ternyata orang itu adalah Woo Jin.

"Kenapa kau jauh-jauh datang kemari?" tanya pria itu.

"Yang penting adalah aku disini." jawab Woo Jin kesal.

Woo Jin lalu bertanya kenapa pria itu tidak akan materi referensinya.

"Jadi kau datang kemari hanya untuk memberitahu soal itu?" tanya pria itu.

"Aku merasa itu penting. Aku juga harus makan karena sudah di sini." jawab Woo Jin.

"Kau harus makan steak. Sangat lezat." ucap Seo Ri.

"Aku harus minum ini karena kita bersulang." jawab Woo Jin, lalu meminum wine Seo Ri.

"Kau kuat minum. Kau orang dewasa." puji Seo Ri.

Pria aneh itu pun tertawa kesal.


Chan mentraktir Ri An di restoran pizza. Saat hendak makan pastanya, Chan teringat soal pakaian yang diberikan Ri An pada Seo Ri. Semula Ri An senang saat Chan memuji pakaiannya. Ia pikir, Chan memuji seleranya tapi setelahnya ia terdiam karena sadar yang dipuji Chan adalah Seo Ri yang mengenakan pakaian pemberiannya.


Sementara itu, si pria aneh mengajak Seo Ri minum. Seo Ri pun mengaku kalau dia belum pernah minum wine tapi sudah pernah minum soju. Mendengar itu, Woo Jin langsung mengambil botol wine dan memutuskan menghabiskan wine itu sendiri. Ia juga mengaku kalau dirinya sangat menyukai wine.

"Itu karena harga wine nya mahal." jawab si pria aneh.

Lalu pria itu kembali mengajak Seo Ri minum soju di lain hari. Mendengar itu, Woo Jin pun langsung memotong perkataan pria itu dengan membicarakan soal materinmya.

"Apa? Bagaimana dengan itu? File nya kenapa?" tanya si pria aneh, sewot.

"Rekan kerjaku terburu-buru, jadi, kau harus cepat mengirimkannya." jawab Woo Jin.

"Akan kukirim nanti." ucap pria itu.


Pria itu lantas mengajak Seo Ri bicara lagi tapi Woo Jin terus saja mengoceh soal materinya. Pria itu pun kesal dan langsung menghubungi seketarisnya agar seketarisnya mengirimkan file yang dibutuhkan ke kantor Woo Jin.

"Kau puas?" tanya pria itu.

"Sangat puas." jawab Woo Jin.

Woo Jin lantas membahas soal tahi lalat pria aneh itu. Ia bilang, kalau awalnya ia pikir itu upil.

"Untuk apa kutempelkan kotoran hidung di daguku?" sewot pria itu. Kesal, pria itu lantas pamit ke kamar mandi.


"Kenapa kau masih di sini? Seharusnya berikan ponsel itu lalu pergi." ucap Woo Jin.

"Itu yang tadinya hendak kulakukan. Tapi Nona Kang menyuruhku makan malam dengannya lalu pulang." jawab Seo Ri.


Woo Jin pun langsung menelpon Hee Soo, meminta konfirmasi apakah benar Hee Soo yang menyuruh Seo Ri makan malam dengan pria itu.

"Apa kau gila? Untuk apa aku mengatakannya kepada bedebah itu? Tidak kupercaya dia berbohong. Tapi sedang apa kau disana?" jawab Hee Soo.

Dan... telepon terputus.


Hee Soo pun bertanya-tanya, sedang apa Woo Jin dengan pria aneh itu.

"Dia mungkin ke sana karena urusan pekerjaan. Katanya dia akan ambil alih setelah dengar betapa kita benci orang itu." jawab Hyun.

"Dia bilang begitu?" tanya Hee Soo kaget.

"Ya, aku harus belajar dari dia. Dia tidak pernah terbawa perasaan dan selalu bisa bersikap profesional." jawab Hyun.

"Apa maksudmu?" tanya Hee Soo.

"Kita harus bicara jujur. Dia tidak pernah mengabaikan pekerjaan karena wanita. Dia tidak pernah membuat masalah akibat terlalu mabuk. Dia masuk akal, dewasa dan tidak akan membuat masalah karena bersikap emosional. Menurutku, aku harus berusaha untuk lebih seperti dia." jawab Hyun.


Sementara itu, Woo Jin lagi memasukkan saus cabe ke dalam gelas wine nya si pria aneh. Bahkan, ia juga meminta tambahan saus cabe pada pelayan.


Si pria aneh keluar dari toilet sambil mengumpat Woo Jin. Tak lama berselang, Seo Ri juga keluar dari toilet dan bertemu pria aneh itu.

"Seo Ri-ssi, ada yang harus kubicarakann denganmu." ucap pria itu.


Sekarang, pria itu sudah kembali ke mejanya tapi tidak bersama Seo Ri. Woo Jin langsung mengajak pria itu minum.

Hasilnya, pria itu langsung kepedasan. Saking pedesnya, dia sampai batuk-batuk. Woo Jin tersenyum puas melihatnya.


Tak lama kemudian, Seo Ri datang dan terkejut melihat si pria aneh batuk-batuk. Woo Jin pura-pura tidak tahu. Lantas, Seo Ri pun memberikan si pria aneh segelas air. Karena pria aneh diam saja, Seo Ri pun memanggil pria aneh dengan menjentik-jentikkan jarinya.

"Apa yang kau lakukan?" tanya si pria aneh.

"Kukira itu cara untuk memanggil orang lain sekarang. Aku kurang paham soal tren terbaru karena beberapa masalah pribadi." jawab Seo Ri.

Sontak, Woo Jin tertawa.


Tapi tawanya langsung hilang saat Seo Ri memberikan banyak ramyun pada pria aneh itu. Seo Ri bilang pada Woo Jin, kalau pria aneh itu mengajaknya makan ramyun. Sontak lah, Woo Jin langsung memberikan tatapan tajamnya pada si pria aneh.

FYI, bagi orang Korea, mengajak makan perempuan makan ramyun itu artinya mengajak berhubungan intim.

"Tapi aku sudah makan dua mi gelas instan untuk makan siang. Jadi, aku tidak bisa makan lagi. Aku membelikan ini agar dia bisa menikmatinya di rumah." ucap Seo Ri lagi.

"Rupanya kau brengsek." ucap Woo Jin.

"Apa katamu, bedebah?" tanya pria itu.


"Sibelius." jawab Seo Ri.

"Apa? Kau tadi mengumpat?" tanya si pria aneh.

"Aku tidak mengumpat. Aku bilang, "Sibelius". Lagu yang sedang diputar adalah "Romansa" oleh Sibelius. Ini opus 78 nomor 2. Sangat merdu, bukan?" jawab Seo Ri.

Woo Jin pun lagi-lagi tertawa mendengar ocehan Seo Ri. Setelahnya, Woo Jin kembali mengajak si pria aneh minum wine. Tapi pria aneh yang keburu kesal, memilih pergi.


Setelah si pria aneh pergi, Woo Jin pun menasehati Seo Ri.

"Orang yang mengajakmu makan mi instan adalah bedebah yang bicara omong kosong. Mereka berniat buruk. Jadi, saat dengar orang bilang begitu, abaikan saja. Jadi, jangan terlibat dengan mereka. Mengerti?"

"Baiklah." jawab Seo Ri.


Woo Jin pun minum satu gelas lagi. Seo Ri tersenyum melihatnya.

"Aku suka musik disini. Sibelius." ucap Woo Jin.


Seo Ri lantas mengajak Woo Jin pulang dan jalan duluan. Tapi sebelum pergi, Woo Jin meminjam payung pada seorang pengunjung wanita dengan alasan takut hujan tiba-tiba turun.

"Tapi payung apa yang kau maksud?" tanya wanita itu aneh.


Woo Jin pun mengambil payung hiasan cocktail. LOL LOL


Seo Ri menunggu Woo Jin diluar. Tak lama kemudian, Woo Jin pun datang.

"Sudah malam, tapi masih sangat panas." ucap Woo Jin.

"Kurasa ini musim panas." jawab Seo Ri.

"Panas sekali. Mungkin akan turun salju." ucap Woo Jin.

"Kenapa turun salju di musim panas?" tanya Seo Ri bingung.


Woo Jin tidak menjawab tapi malah membuka payung kecilnya dan melindungi dirinya dengan payung itu.

Bersambung ke part 2.........

No comments:

Post a Comment