Wednesday, August 15, 2018

Still 17 Ep 7 Part 2

Sebelumnya...


Woo Jin membuka payungnya. Menurutnya, salju akan turun. Sontak, Seo Ri heran. Ia bertanya-tanya bagaimana bisa salju turun di musim panas. Woo Jin

pun tak menjawab dan melengos pergi.


Di kantor, Hee Soo memberitahu Hyun kalau Woo Jin akan berperilaku aneh saat mabuk.


Benar saja, sekarang Woo Jin lagi ngumpet lagi dibalik pohon sambil mengintip Seo Ri sesekali.

"Ahjussi, kenapa kau bersembunyi dibalik pohon?" tanya Seo Ri heran.

Woo Jin pun berusaha menghindari Seo Ri. Mereka berputar-putar mengitari pohon, sampai akhirnya Seo Ri sukses menangkap Woo Jin.

"Ahjussi! Apa yang kau lakukan!" tanya Seo Ri.

"Apa? Aku? Hanya iseng saja." jawab Woo Jin.


Woo Jin lantas mengajak Seo Ri pergi. Tapi saat Seo Ri lengah, dia malah kabur. Seo Ri pun tambah heran.

"Ahjussi, kenapa kau lari? Ahjussi!"

Seo Ri pun mengejar Woo Jin.


Di kantor, Hee Soo memberitahu Hyun tingkah Woo Jin saat mabuk.

"Saat mabuk, dia gemar bersembunyi. Lalu dia melarikan diri sekuat tenaga." ucap Hee Soo.

"Heol. Kenapa?" tanya Hyun.

"Mana kutahu? Itulah yang membuatnya aneh." jawab Hee Soo.


Sekarang, Seo Ri sudah berjalan bersama Woo Jin. Seo Ri memegang ujung lengan kemeja Woo Jin.

"Kenapa kau terus melarikan diri? Sepertinya kau agak mabuk." ucap Seo Ri.

"Aku? Aku tidak mabuk." jawab Woo Jin. Woo Jin lalu meminta Seo Ri melepaskannya. Ia berjanji, tidak akan kabur lagi.

"Bicaramu seakan sudah sadar, tapi terus saja melarikan diri. Aku akan memegangmu sampai kita tiba di rumah." jawab Seo Ri.

"Aku tidak akan kabur." ucap Woo Jin.


Tapi tak lama berselang, Woo Jin melepaskan kemejanya dan kabur lagi.

"Ahjussi! Ahjussi!"

Seo Ri pun bergegas mengejar Woo Jin.


Saat mengejar Woo Jin, dia hampir saja bertabrakan dengan petugas pengangkut sampah. Sementara Woo Jin tampak membuka pintu pagar sebuah taman.

Karena mabuk, dia mengira itu rumahnya.

"Aku pulang. Hai, Jennifer. Aku sudah makan malam." ucap Woo Jin, lalu melepas sepatunya dan pergi ke tengah halaman. Sampai di tengah halaman, dia

berbaring dan berkata kalau rumahnya adalah tempat ternyaman.


Sontak, Seo Ri kaget melihatnya. Dia mengambil sepatu Woo Jin dan bergegas menyusul Woo Jin.

"Ahjussi, jangan berbaring disini." ucap Seo Ri, lalu berusaha membangunkan Woo Jin.

"Hei, kenapa kau di kamarku? Kau habis minum-minum lagi? Kamar ini milikmu hanya sampai 13 tahun lalu." jawab Woo Jin.

"Berhentilah melantur dan ayo pulang." ucap Seo Ri.


Seo Ri lalu berusaha mengangkat tubuh Woo Jin, tapi gagal. Ia pun kesal dan akhirnya, ikut berbaring disamping Woo Jin.

Woo Jin pun tertidur. Tak lama berselang, dia mengubah posisinya dari telentang, jadi miring menghadap Seo Ri.

Seo Ri tertegun menatap wajah Woo Jin.


Tiba-tiba, Seo Ri mendengar suara violin dari speaker lapangan.

Seo Ri pun teringat saat ia memainkan lagu itu di hadapan beberapa orang.

Paman dan bibinya yang ikut menonton konsernya pun berteriak, memberinya semangat.


"Aku ingin waktuku kembali." ucap Seo Ri.


Jennifer yang sedang berbelanja, terdiam melihat seorang pria memperlakukan wanitanya yang sedang hamil dengan sangat manis.

Ia teringat masa lalunya!

Flashback...


Jennifer berjalan gontai dibawah derasnya hujan yang mengguyur kota. Kotak musik yang dipegangnya pun meluncur begitu saja dari tangannya karena tangannya yang licin. Lalu tak lama kemudian, seorang pria datang memberinya payung.

Pria itu, pamannya Seo Ri!

Paman Seo Ri tampak khawatir. Ia memberikan payungnya pada Jennifer, serta mengambilkan kotak musik Jennifer yang jatuh dan membawa Jennifer ke halte.

"Kau menjatuhkan ini tadi. Kau bisa beristirahat sebentar di sini dan pastikan kau membawa ini (payung), ya?" ucap paman Seo Ri.

Paman Seo Ri lantas berlari ke mobilnya. Sementara Jennifer berjalan keluar dari halte.


Seorang pria muda menabrak Jennifer. Pria itu meminta maaf, lalu beranjak pergi. Jennifer pun terdiam. Tak lama berselang, pandangannya mengarah ke gedung perpustakaan Hyein.

Flashback end...


Mata Jennifer berkaca-kaca teringat semua itu.


Saat terdengar suara pengumuman diskon semangka, Jennifer pun tersadar dan bergegas ke sumber suara.

Si pelayan ternyata pelayan yang waktu itu melayani Jennifer beli kentang.

Semangkanya hanya ada satu. Jennifer dan seorang ajumma sama-sama memegang semangka itu. Si ajumma berkeras, bahwa ia yang memegang semangka itu lebih dulu tapi ia langsung diam saat Jennifer memberikan tatapan sadisnya. Si ajumma yang takut dengan tatapan menusuk Jennifer pun akhirnya memberikan semangka itu pada Jennifer. LOL LOL


Seo Ri dengan susah payah menarik gerobak milik perpustakaan Hyein. Sementara di dalamnya, Woo Jin tertidur pulas.

"Tubuhku sakit semua.  Dia harus mengetahui ini. Dia harus tahu kesulitanku ini. Kau tidak berpura-pura tidur, kan!" omel Seo Ri.


Di depan pintu gerbang, ia bertemu Jennifer.

"Jennifer." Seo Ri mengadu pada Jennifer.

"Sepertinya tubuhnya tidak dapat memecah asetaldehida, yang terbentuk dari etanol. Konsentrasi alkohol dalam darahnya naik dan kini dia tidak sadarkan diri. Dengan kata lain, Mr. Gong pingsan." ucap Jennifer.

"Aku sudah seperti ini, tapi dia tidak mau mengalah. Aku tidak bisa memegangnya. Dia terus melarikan diri. Aku tidak tahu sandi ponselnya." Seo Ri terus nyerocos dan ia baru berhenti nyerocos saat mendapati Jennifer sudah berdiri di belakangnya.


Tak lama kemudian, ia memasang ekspresi kaget karena melihat Jennifer menggendong Woo Jin.


Seo Ri yang sedang dalam perjalanan mengembalikan gerobak tanpa sengaja bertemu Chan yang sedang dalam perjalanan pulang.

"Kenapa Bibi menarik gerobak semalam ini?" tanya Chan.

"Aku harus membawa Pak Gong pulang." jawab Seo Ri.


Lalu sekarang, mereka berjalan dan Chan lah yang menarik gerobaknya. Chan memberitahu Seo Ri kalau Woo Jin tidak boleh minum. Seo Ri pun menyesal tidak mengetahuinya. Ia mengaku, seandainya dia tahu dia akan menghentikan Woo Jin.

"Kenapa bibi tidak menelponku?" tanya Chan.

"Ponselnya terkunci." jawab Seo Ri kesal.

"Bibi tidak bisa meneleponku karena ponselnya terkunci?" tanya Chan.

Seo Ri mengangguk.

"Biar aku yang mengembalikan ini. Bibi pulang saja." suruh Chan.

"Tidak. Aku harus mengembalikan ini. Aku meminjamnya dari seseorang, maka aku harus mengembalikannya." jawab Seo Ri.

"Kalau begitu, Bibi mau naik di atas gerobak?" tanya Chan.

"Tidak, aku berat." jawab Seo Ri.


Agar Seo Ri mau naik ke atas gerobak, Chan pun mencari alasan kalau dia tidak sempat berolahraga hari ini, jadi sebagai gantinya ia harus menarik sesuatu yang berat. Padahal wajah Chan sudah terlihat lelah.

Seo Ri pun naik ke gerobak. Tak lama berselang, Chan mulai menarik gerobaknya dan berlari dengan kecepatan tinggi.

Seo Ri yang mual, menyuruh Chan berhenti tapi Chan malah mempercepat larinya, membuat Seo Ri makin mual.


Keesokan paginya, Woo Jin merogoh sakunya, mengambil kunci mobilnya tapi si payung kecil ikut keluar dari sakunya.

"Apa ini? Kenapa ada di sakuku?" tanyanya heran. Lalu, Woo Jin masuk ke mobilnya.

Di mobil, dia pun ingat saat meminjam payung itu pada pengunjung klub.

Dia juga ingat saat dirinya bersembunyi di balik pohon.

"Bagaimana caraku pulang?" tanyanya bingung.


Tepat saat itu, Seo Ri masuk ke mobilnya.

"Apa-apaan ini? Ini mendadak sekali." ucap Woo Jin kaget.

"Ini tidak mendadak! Aku berhak mendapatkan tumpangan." jawab Seo Ri tegas.

Lalu, Seo Ri menceritakan apa yang terjadi semalam pada Woo Jin. Seo Ri juga bilang, tubuhnya terasa sakit gara-gara membawa Woo Jin pulang pakai gerobak.

Tapi Woo Jin pura-pura tak ingat kalau dia mabuk. Seo Ri tambah sewot mendengarnya dan menunjukkan kertas koyo di lengannya sebagai bukti kalau tubuhnya memang sakit gara-gara membawa Woo Jin pulang.


Hee Soo yang baru tiba di kantor, mendengar suara si pria aneh lagi marah-marah di telepon kantor.

"Tikus ini berutnung! Kau sengaja melakukan itu, kan? Lihat saja, aku tidak akan memberimu pekerjaan lagi!"

Kesal, Hee Soo pun menjawab kalau sebaiknya mereka tidak pernah bekerja sama.

"Aneh sekali. Woo Jin tidak mungkin bersikap begitu tidak profesional. Sudahlah. Dia juga manusia. Siapa yang tahan dengan bedebah ini?" ucap Hyun.

"Tapi tetap tidak seperti dia." jawab Hee Soo.


Ponsel Hee Soo kemudian berdering. Telepon dari Desainer Yoon yang mengabari Hee Soo soal Woo Jin.

Tepat saat itu, Seo Ri dan Woo Jin datang.

"Hei, Gong. Kau  bilang kepada Galeri Seni Soo akan menerima pekerjaan itu?" tanya Hee Soo.

Hyun pun kaget.

"Aku mungkin melakukannya." jawab Woo Jin.

"Kau menolaknya karena itu bentrok dengan festival. Kukira kau tidak mau bekerja sampai kehabisan napas." ucap Hee Soo.

"Aku akan tahan bekerja sampai kehabisan napas. Aku ingin mengakui sesuatu. Peragaan busana Desainer Park akan dibatalkan. Itu sebabnya aku menerima pekerjaan Galeri Seni Soo saja." jawab Woo Jin.

Lalu Hyuk berkata, seperti ada bau koyo.

"Aku yang bersalah. Maafkan aku." jawab Seo Ri.

"Itu menyengat hidungku. Kau habis berbuat apa sampai menempelkan banyak koyo?" tanya Hyun.


Seo Ri pun langsung menatap ke arah Woo Jin. Woo Jin yang malu, langsung undur diri mau ke galeri.

"Kau seharusnya langsung ke sana. Kenapa datang kemari?" tanya Hyun.

"Benar juga. Kenapa aku kemari?" jawab Woo Jin lalu beranjak pergi.

Hyun dan Hee Soo pun tambah heran. Mereka bertanya-tanya kenapa sikap Woo Jin mendadak aneh begitu.


Lalu Hee Soo teringat perdebatannya dengan Woo Jin saat Woo Jin menentang keras Seo Ri bekerja di kantor mereka.

Ia juga ingat kata-kata Seo Ri kalau Woo Jin adalah pria yang baik.

Tak butuh waktu lama, Hee Soo pun mendapatkan jawaban atas sikap aneh Woo Jin belakangan ini. Ia tersenyum begitu menyadarinya.


Seo Ri lantas melihat ada sebuah tas cantik di mejanya. Hee Soo bilang, itu hadiah yang diberikan pada mereka saat mereka mengatur dekorasi untuk pertunjukan tas.

"Jika kau suka, kau boleh memilikinya." ucap Hee Soo.

"Kau yakin aku boleh memilikinya?" tanya Seo Ri.

"Tas itu bukan seleraku. Kau tidak perlu memilikinya jika tidak menyukainya." jawab Hee Soo.

"Aku sangat menyukainya! Terima kasih banyak, Kang Daepyonim." ucap Seo Ri.


Hyun pun bingung. Seingatnya, mereka tidak pernah mengurus pertunjukan tas. Hee Soo hanya tersenyum mendengarnya.


Di atap, Hee Soo bicara dengan Tae Rin. Hee Soo memberitahu Tae Rin kalau ia sudah memeriksa dokumen yang dirancang Seo Ri untuk festival Tae Rin.

"Itu lebih mudah dipahami setelah mendengarkan musik. Jika mau bicara lebih banyak soal musik, kau mau bicara dengannya?" tanya Hee Soo.

"Tidak, aku agak sibuk sekarang. Aku akan menemuimu di kantormu." jawab Tae Rin, lalu menyudahi pembicaraan mereka.


Tae Rin pun teringat masa lalunya, saat ia dan Seo Ri saling menyapa di kelas musik.

"Kita bertemu lagi. Aku melihatmu di kompetisi musik lainnya." ucap Tae Rin.

"Sungguh? Senang bertemu denganmu. Siapa namamu? Main instrumen apa?" tanya Seo Ri.

Tae Rin diam saja dan menatap iri Seo Ri.


Setelah itu, Tae Rin dimarahi ibunya di dalam mobil. Sang ibu kesal karena putrinya bisa kalah dari Seo Ri yang hanya pemain biasa. Tae Rin pun membela diri. Ia katakan, bahwa dia lah yang terpilih secara resmi.

"Kau seharusnya lebih sempurna.  Dengan begitu mentor tidak mungkin tertarik pada pemain dari SMA biasa." jawab sang ibu.

Flashback end...


Lamunan Tae Rin pun buyar karena bunyi ponselnya. Sebuah pesan masuk, pesan dari ibunya.

"Pertunjukanmu yang terbaik. Profesor Hwang menyukainya dan ingin makan malam. Kau tahu betapa bangganya ibu, bukan?"

Tae Rin menghela nafas. Wajahnya nampak tertekan.


Turun dari bis, Hae Beom mengajak Chan pulang. Hae Baeom mengaku bahwa ia merindukan Woo Jin. Sementara Deok Soo mengaku, merindukan Deok Goo dan tteokbokki buatan Jennifer.

"Aku akan susul kalian saja. Aku mau berolahraga dahulu." jawab Chan.

"Kenapa? Kenapa kau terus menjauhkan diri dari kami? Kau sudah menjadi yang terbaik." ucap Hae Beom.

"Ya. Lagi pula, kau genius. Kau monster gimnasium." jawab Deok Soo.

"Aku tidak genius. Yang lebih sering berlatih akan menjadi yang terbaik." ucap Chan, lalu beranjak pergi.

Hae Beom dan Deok Soo pun tambah heran, mereka bertanya-tanya kenapa Chan tiba-tiba jadi dewasa.


Chan keluar dari minimarket, habis membeli sebotol minuman. Saat tengah berjalan, ia tak sengaja melihat Seo Ri di seberang jalan. Senyum Chan pun langsung mengembang.

Chan mau memanggil Seo Ri, tapi gak jadi. Ia memutuskan langsung menyusul Seo Ri.

Ketika sudah tiba di belakang Seo Ri, ia merapikan rambutnya serta mengatur sedikit napasnya agar tak ketahuan kalau ia habis mengejar Seo Ri.


Lalu, Chan berjalan melewati Seo Ri. Seo Ri yang melihat Chan, langsung memanggil Chan. Chan pun pura-pura terkejut.

"Aku tidak menyangka akan bertemu bibi disini." ucap Chan.

"Ini di sekitar rumah." jawab Seo Ri. Lalu Seo Ri bertanya, apa Chan habis berlari.

"Kau banyak mengeluarkan keringat. Lubang hidungmu terus bergerak." ucap Seo Ri.

Sontak lah, si Chan langsung menutup hidungnya.

Chan yang kehausan, pura-pura heran kenapa ia haus padahal tidak berlari.


Tapi saat membuka minuman sodanya, sodanya keluar semua karena terguncang-guncang saat berlari tadi.

Chan panic, ia takut ketahuan Seo Ri kalau ia habis berlari mengejar Seo Ri, tapi Seo Ri sama sekali tidak curiga.

"Tanganmu basah. Kau sebaiknya pulang dan mencucinya." suruh Seo Ri.

"Bibi duluan saja. Aku hendak ke gimnasium, jadi, aku akan mencucinya di sana." jawab Chan.

"Sepertinya kau lebih giat berolahraga belakangan ini." ucap Seo Ri.

"Kau mau tahu kenapa? Kini aku punya tujuan. Ada yang ingin kulakukan setelah dapat peringkat pertama di negara ini. Dan kurasa aku pasti bisa melakukannya. Pokoknya aku akan melakukannya." jawab Chan.

"Jangan dipikirkan, tapi rasakan! Apa aku menggunakannya di momen yang tepat?" tanya Seo Ri.

"Ya. tepat sekali. Tidak sia-sia mengajari Bibi." jawab Chan.

"Kau pasti akan meraih tujuanmu. Firasatku juga baik soal itu." ucap Seo Ri.

Mereka pun berpisah. Chan ke gym dan Seo Ri menuju pulang.


Tapi Seo Ri menyempatkan mampir ke tempat pemasangan spanduk itu dan menemukan spanduk orang hilang masih terpasang disana.

Lalu ia ingat kata-kata pengasuh nenek yang di rumah sakit.

"Dia terus menunggu mereka datang, tapi akhirnya dia sadar bahwa keluarganya telah meninggalkan dia."

Seo Ri pun berusaha menghapus pikiran itu dan mencatat nomor untuk pemasangan spanduk yang tertulis di sebuah brosur di tiang listrik.


Ketika hampir sampai di rumah, ia melihat beberapa pria yang keluar dari rumahnya. Pria yang waktu itu, yang mau membeli rumahnya.

Seo Ri pun langsung lemas. Ia ingat saat Woo Jin bicara dengan para makelar di telepon, kalau ia meminta waktu sebulan.

Jennifer yang melihat itu, ikut sedih tapi dia tak bisa berbuat apa-apa.


Di kamarnya, Seo Ri melihat kalender.

"Sebentar lagi sebulan penuh. Tapi aku gagal menemukan mereka. Fang,  aku yakin kamu tahu paman dan bibiku pergi ke mana. Aku tidak tahu diri jika meminta mereka memberikan sedikit waktu lagi." ucap Seo Ri sambil mengelus Deok Goo.


Di RS, Hyung Tae mendapat telepon dari rumah sakit tempat Seo Ri dirawat dulu. Ia pikir, Seo Ri sudah ketemu tapi ternyata rumah sakit menghubunginya hanya untuk memberitahu bahwa seseorang tidak dikenal terus mengirimkan biaya RS Seo Ri.

"Aku tidak tahu siapa yang mengirimkan dia uang itu. Kudengar dia hilang kontak dengan pamannya. Mungkin saja itu pamannya."

"Tidak mungkin." jawab Hyung Tae tegas.

Setelah selesai bicara, Hyung Tae pun bertanya-tanya siapa yang mengirimkan semua uang itu untuk Seo Ri.


Jam weker Chan berbunyi. Sudah jam enam. Chan pun terpaksa bangun dan beranjak ke kandang ayamnya.

"Anak ayam, ini akhir pekan. Jadi bisakah aku tidur 10 menit lagi?" ucapnya.

Tapi saat melihat tulisan  "Jangan dipikirkan, tapi rasakan!" yang ada di dinding, semangatnya pun tumbuh lagi.


Chan pun push up. Tapi baru sampai hitungan keempat, dia sudah jatuh.

Lalu anak ayamnya berjalan keluar dari bawah meja. Chan pun kaget melihat anak ayamnya sudah mulai tumbuh besar.

"Anak ayam, sejak kapan kau tumbuh begitu besar? Kau terlihat seperti pria... ah tidak. Seperti wanita.  Pokoknya, kau terlihat dewasa. Aku sungguh bangga kepadamu. Anak ayam,  aku berjanji akan menjadi pria yang hebat juga." ucap Chan.


Jennifer memberitahu Woo Jin soal makelar yang datang ke rumah kemarin.

"Ternyata, dia sudah bicara dengan ayah anda sebelum datang. Dan dia bilang kemungkinan besar rumah ini akan terjual." ucap Jennifer.

"Ya, aku memang hanya meminta dia memberiku waktu sebulan." jawab Woo Jin.

Lantas, Jennifer mau menanyakan nasib Seo Ri kalau rumah itu dijual tapi ia mengurungkan niatnya karena tahu itu bukan urusanya.

"Bisakah anda memberitahuku kita akan pindah ke tempat macam apa?" tanya Jennifer.

"Kita mungkin akan pindah ke rumah Chan. Apartemen di daerah ini. Kakakku pernah tinggal di sana." jawab Woo Jin.

"Apartemen? Berarti, aku harus berkemas-kemas secara sistematis berdasarkan masing-masing ruangan dan kamarnya. Bagaimana dengan ruang penyimpanan?" tanya Jennifer.

"Biar aku saja yang mengurusnya." jawab Woo Jin.


Woo Jin lalu masuk ke gudang. Ia membuka satu per satu kotak yang ada di sana. Saat ia mengeluarkan beberapa piagam penghargaan dari dalam kotak, sesuatu yang ternyata terselip diantara piagam-piagam itu pun terjatuh. Woo Jin menoleh ke bawa dan mendapati benda yang jatuh itu adalah lonceng Seo Ri.


Saat Woo Jin hendak mengambilnya, Hee Soo menelponnya, mengingatkannya soal rapat di Galeri Soo.

Woo Jin pun mengaku kalau ia sedang dalam perjalanan. Setelah itu, Woo Jin mematikan lampu gudang dan beranjak keluar.


Sebuah kotak tiba-tiba jatuh. Isinya berhamburan keluar. Bersamaan dengan itu, pintu gudang terbuka karena Woo Jin tidak cukup rapat menutupnya.

Lalu kita melihat lukisan Seo Ri yang keluar dari dalam kotak yang jatuh itu.


Woo Jin sendiri sudah tiba di Galeri Soo. Musik yang mengalun, mengingatkan Woo Jin pada musik yang mengalun di lapangan. Saat ia dan Seo Ri tiduran di lapangan.


Ternyata saat Seo Ri bilang ingin waktunya kembali, Woo Jin membuka matanya dan mendengar semua itu.


"Dia ingin waktunya kembali?" tanya Woo Jin heran.


Seo Ri berlari ke depan pohon bungur. Ia mengambil batunya. Fang yang menemaninya lalu tiba-tiba berlari ke arah gudang. Seo Ri pun menghela nafas karena Fang sempat menginjak lumpur di dekat gudang.


Seo Ri menyusul Fang ke gudang. Ia menghidupkan lampu dan melihat jejak kaki Fang di atas lukisannya. Namun yang ia lihat, baru sebatas lukisan tangannya saja. Ia belum melihat lukisan itu sepenuhnya.


Bersambung.....

No comments:

Post a Comment