Wednesday, August 15, 2018

Still 17 Ep 8 Part 1

Sebelumnya...


Seo Ri masuk ke gudang, mengejar Fang. Ia melihat jejak kaki Fang ada dimana-mana.

"Astaga, lihat jejak kakimu, Fang." ucap Seo Ri.

Fang datang dan Seo Ri langsung menggendongnya.

Lantas, Seo Ri ingin membersihkan jejak kaki Fang. Saat ia hampir melihat lukisannya, Jennifer datang. Seo Ri pun menjelaskan, kalau Fang masuk ke sana dengan kaki berlumpur.

Jennifer memberitahu Seo Ri kalau Woo Jin melarang siapa pun masuk ke gudang.

Mendengar itu, Seo Ri pun langsung pergi.


Kamera lalu mengarah pada lukisan Seo Ri. Kemudian, terdengar narasi Woo Jin.

"Waktu yang ingin dia dapatkan kembali?"

Episode 15, Variasi Sebuah Misteri


Sudah larut malam dan Woo Jin baru pulang. Woo Jin yang baru pulang itu, terkejut melihat penampakan Jennifer di depan kamarnya. Jennifer mengaku, ia sengaja menunggu Woo Jin pulang karena ada hal penting yang harus ia katakan.

"Aku melihat tadi pagi pintu gudang terbuka. Anjing anda masuk ke sana, jadi, aku harus masuk meski anda tidak mau aku masuk ke sana. Aku minta maaf." ucap Jennifer.

"Tidak, sepertinya tidak apa-apa." jawab Woo Jin.

"Apa maksud anda, sepertinya tidak apa-apa?" tanya Jennifer.

"Tidak usah dipikirkan. Aku akan menguncinya. Sudah malam. Kau harus tidur." jawab Woo Jin, lalu beranjak menuju kamarnya.

"Mr. Gong." panggil Jennifer lagi.

"Good night." ucap Jennifer.

"Good... good night." balas Woo Jin.

Jennifer lalu beranjak pergi dan Woo Jin masuk ke kamarnya.


Baru masuk kamarnya, Woo Jin ditelepon sang ayah yang ingin menjual rumah itu sesuai rencana awal. Sontak lah, si Woo Jin kaget. Sang ayah beralasan, itu karena tidak ada yang mengurus rumah itu karena dirinya sudah semakin tua, jadi agak kerepotan kalau harus bolak balik hanya untuk mengurus rumah itu sementara Woo Jin stay di luar negeri selama setengah tahun.

"Maafkan aku, ayah. Aku selalu membuat ayah khawatir." jawab Woo Jin sambil menatap penyedot WC hadiah dari Seo Ri.


Seo Ri sendiri lagi melihat-lihat brosur penyewaan rumah di kamarnya. Ia pun menghela nafas karena tidak menemukan harga yang cocok dengan kemampuannya.


Seo Ri berdiri di depan pohon bungurnya. Ia sedih karena pohon itu akan menghilang sebentar lagi.

Tak lama kemudian, Woo Jin datang.

"Kenapa belum tidur?" tanya Seo Ri.

"Tidak ada alasan." jawab Woo Jin.

"Kau sendiri kenapa diluar?" tanya Woo Jin.

"Tidak ada alasan juga." jawab Seo Ri.

Seo Ri lalu kembali memandangi pohon bungurnya. Woo Jin menatap iba Seo Ri sambil teringat kata-kata ayahnya kalau sang ayah akan datang ke Seoul pekan depan untuk mengurus jual beli rumah itu.

Ketika Seo Ri kembali melihat ke arahnya, ia pun langsung memalingkan wajahnya.

"Fang masuk ke gudang dengan kaki berlumpur, jadi, jejak kakinya ada di mana-mana. Aku hendak membersihkannya." ucap Seo Ri.

"Tidak usah khawatir. Aku menyimpan barang yang pernah kupakai sebelum ke Jerman di sana." jawab Woo Jin.

Seo Ri lalu meminta izin untuk mengambil batu pohon bungurnya. Woo Jin mengangguk. Setelahnya, Seo Ri mengucapakan selamat malam dan masuk ke dalam.


Di kamarnya, Woo Jin memandang ke langit sambil memainkan meterannya. Tak lama kemudian, ia kepikirkan sesuatu dan mulai menulis.


Keesokan harinya, Seo Ri dan Hyun menyusuri trotoar. Mereka tampak habis membeli sesuatu karena Seo Ri memegang bungkusan plastik. Hyun sedang berbicara dengan seseorang. Ia berkata, akan segera mentransfernya.

"Apa aku terserang pitam panas? Aku lupa bayar sewa." ucap Hyun.

"Kau menyewa sebuah tempat?" tanya Seo Ri. Hyun mengangguk.

"Aku harus pindah, jadi, aku sedang mencari-cari. Aku tidak bisa menemukan yang bagus. Kau harus pergi ke sana kemari saat mencari kamar." ucap Seo Ri.

"Stop!" seru Hyun tiba-tiba. "Kamar?" tanya Hyun. Hyun lalu mengaku kalau ia tiba-tiba teringat pada ikan.

"Ikan? Mau makan ikan bakar siang ini?" tanya Seo Ri.

"Aku suka itu. Aku tahu tempat yang bagus. Mereka menjual tootfish bakar yang enak dan makerel Spanyol." jawab Hyun.


Di kantor, Woo Jin sibuk mikirin tempat tinggal baru untuk Seo Ri. Ternyata, yang ditulisnya semalam adalah beberapa tempat untuk Seo Ri.


Tak lama berselang, Seo Ri dan Hyun datang.

"Haruskah kuminta dia ikut pindah ke apartemen Chan?" tanya Woo Jin dalam hati sambil memandangi Seo Ri.

Hee Soo pun datang. Ia membawa bungkusan plastik berwarna putih dan meletakkannya di depan Hyun dan Seo Ri.

"Kamar ekstra Hee Soo?" tanya Woo Jin sambil memandangi Hee Soo.

"Pilih salah satu. Mereka membuat tas jinjing untuk festival, jadi, ambillah satu." suruh Hee Soo.

Hee Soo lantas kembali ke mejanya.

"Es krim!" seru Hyun, lalu membongkar belanjaan Hee Soo. Sementara Seo Ri melihat-lihat tas jinjing yang dibawa Hee Soo.

"Hampir lupa. Jadwal untuk lokakarya ada di mejamu." ucap Seo Ri pada Hee Soo.

"Aku akan pulang lebih awal besok. Direktur utama ingin bertemu dan bicara lebih dahulu." ucap Hee Soo.

"Aku akan menjemputmu besok pagi, Woo Jin." jawab Hyun, lalu mengambil es krim ikan dan kembali ke mejanya.

"Aku senang sekali. Rasanya seperti festival akhirnya dimulai." ucap Seo Ri.


Hyun merobek plastik es krimnya. Saat hendak melahap es krimnya, ia mengaku es krim berbentuk ikan itu mengingatkannya pada Seo Ri.

Seo Ri mendekati Woo Jin dan memberinya es krim ikan.


Woo Jin ingin bicara soal tempat baru Seo Ri, tapi belum sempat bicara, Hyun pun berseru.

"Ya, pakan ikan! Kamu bisa memberi makan ikan?" tanya Hyun pada Seo Ri.

"Pa... pakan ikan?" tanya Woo Jin kaget.

"Untuk apa aku memberi makan ikan?" tanya Seo Ri.

"Sepupuku akan ke luar negeri untuk belajar bahasa. Dia mencari seseorang untuk pindah ke tempatnya. Tidak usah membayar sewa.  Kau hanya perlu memberi makan ikan-ikannya." jawab Hyun.


Woo Jin mau protes, tapi Seo Ri langsung menerima tawaran Hyun.

"Ini sangat tiba-tiba. Bagaimana biaya perawatannya?" tanya Woo Jin.

"Dia sudah bayar untuk setahun." jawab Hyun.

"Jeongmalyo?" tanya Seo Ri.

"Tapi dia tidak boleh tinggal terlalu jauh dari kantor." ucap Woo Jin.

"Dekat sekali. Lima menit jika berjalan kaki dari sini." jawab Hyun.

"Sempurna." ucap Seo Ri.

"Astaga. Apa mungkin ada tempat sebagus itu?" tanya Woo Jin.

"Kenapa kau banyak sekali bertanya?" tanya Hyun balik.

"Karena mendengarkanmu membuatku mau pindah juga ke sana. Aku sedikit iri." jawab Woo Jin.


Hee Soo pun tersenyum melihat tingkah Woo Jin. Ia sadar, Seo Ri lah yang membuat Woo Jin seperti itu.

"Kau tidak tampak begitu, tapi kau memang tamak. Itu gedung khusus perempuan." ucap Hyun.

"Seo Ri harus segera meninggalkan rumah Woo Jin. Hyun, kau memang baik." puji Hee Soo.


Woo Jin pun mendekati Hyun. Ia memuji kebaikan Hyun, tapi sambil mencengkram kuat bahu Hyun. LOL LOL. Lalu, dia mendudukan paksa Hyun di kursi. Setelahnya, Woo Jin berjalan ke atap.

Hee Soo tertawa geli melihat sikap Woo Jin.


Woo Jin duduk di atap.

"Kenapa mendadak sekali?" ucapnya dengan wajah sedikit kecewa. Lalu, ia membuang kertasnya yang bertuliskan tempat baru untuk Seo Ri.


Pelatih memberitahu Chan kalau Chan berhasil mencetak rekor untuk pedayung tunggal. Rekan-rekan Chan pun langsung bersorak.

"Kalian tahu latihan pekan depan ada karena kejuaraan nasional akan berlangsung, bukan? Anggap itu pertandingan sungguhan dan berikan yang terbaik." ucap pelatih.


Setelahnya, pelatih pun beranjak pergi.

"Jika aku menang, aku bisa menyatakannya." ucap Chan semangat. Lalu dia menggaruk-garuk dadanya dan berlari kencang sambil meneriakkan motto Seo Ri.

Hae Beom dan Deok Soo pun bingung melihatnya.


Seo Ri memberitahu Jennifer kalau dirinya sudah menemukan tempat tinggal yang bagus dan hanya perlu memberi makan ikan dan tidak perlu membayar uang sewa.


Tepat saat itu, Chan pulang. Chan yang sempat mendengar cerita Seo Ri pun bertanya ikan apa yang dimaksud Seo Ri.

"Aku menemukan tempat tinggal yang sangat bagus. Aku tidak usah membayar sewa asalkan aku memberi makan ikannya." jawab Seo Ri.

"Bibi bicara apa? Kenapa Bibi mencari tempat?" tanya Chan.

"Sudah satu bulan. Aku harus siap-siap pergi. Aku akan pindah akhir pekan ini." jawab Seo Ri.

Mendengar itu, Chan pun kaget.

"Ada tiga kamar. Aku boleh menggunakan kamar, piring dan peralatannya juga. Aku hanya perlu mengurus ikannya." ucap Seo Ri.

"Ikan? Bukankah pemiliknya harus mengurus ikannya sendiri?" tanya Chan.


Adegan pun berpindah ke Woo Jin yang baru saja pulang.

Tapi Woo Jin tak langsung masuk ke rumah. Ia memperhatikan pohon bungur Seo Ri, lalu duduk di halaman.

Tak lama kemudian, Hae Beom dan Deok Soo datang.

"Paman pulang lebih awal. Paman pulang kerja malam-malam belakangan ini." ucap Deok Soo.


Deok Soo lantas memberi Woo Jin kue ikan, tapi Woo Jin yang lagi kesal sama ikan pun langsung mendengus kesal.


Chan berdiri di depan jendela. Melihat pamannya sudah pulang, Chan pun bergegas keluar.


Begitu keluar, ia langsung ditawari kue ikan oleh kedua sohibnya. Chan yang juga lagi sebal sama ikan pun menyuruh kedua sohibnya menyingkirkan ikan itu dari wajahnya.

"Keluarga ini tidak suka ikan." ucap Deok Soo, lalu mengajak Hae Beom masuk ke dalam.


Chan protes karena Woo Jin akan menjual rumah itu. Ia juga membujuk Woo Jin untuk mengajak Seo Ri pindah ke apartemennya.

"Kita tidak boleh biarkan dia tinggal sendiri. Masalahnya... pokoknya, kita harus mengajaknya.  Ya? Ya?" bujuk Chan.

Woo Jin hanya diam. Ia tak bisa berkata apa-apa.


Sampai di dalam, Chan masih membujuk Woo Jin. Ia yakin, Seo Ri mau ikut dengan mereka tapi Seo Ri tak bisa mengatakannya.

Lalu, Chan mengalihkan pandangannya ke Seo Ri. Ia minta Seo Ri ikut pindah ke apartemennya.

"Terima kasih sudah mengatakannya, Chan. Aku terbiasa tinggal di rumah ini, jadi, aku memaksa diri untuk tinggal di sini. Tapi tidak benar jika pindah ke sana bersama kalian. Aku sangat

bersyukur karena kalian mengizinkanku tinggal sebulan. Aku tidak tahu bagaimana harus membalas kebaikan kalian." jawab Seo Ri.

"Haruskah kita adakan pesta perpisahan jika Bibi pindah?" tanya Deok Soo.


"Apa? Kalian tidak akan menemuiku lagi? Pesta perpisahan itu untuk benar-benar berpisah. Aku akan sering mengunjungi Fang dan menemui kalian juga." jawab Seo Ri.

"Bibi serius?" tanya Deok Soo.

"Tentu." jawab Seo Ri.

"Bibi sungguh harus datang." ucap Deok Soo.

"Kenapa dia tidak ikut saja." ucap Chan pelan sambil menatap Seo Ri. Woo Jin juga menatap Seo Ri, tapi dia tidak bisa mengatakan apa-apa.


Sekarang, Seo Ri sudah kembali ke kamarnya. Ia berkata, akan mengemasi barangnya setelah pulang dari  seminar. Lalu, Seo Ri bermain dengan Fang.

Fang tampak sedih menatap Seo Ri.


Sementara Woo Jin sedang menatap pohon bungur Seo Ri. Tak lama kemudian, Jennifer pun datang menghampirinya.

"Waktu berlalu dengan cepat. Aku mulai berharap waktu akan berlalu lebih lambat. Waktu memang cepat berlalu meski kita menahannya atau membuatnya berlalu dengan cepat." ucap Woo Jin.

"Tidak hanya cepat berlalu, tapi di saat yang sama, waktu itu tidak pernah bisa terulang kembali. Semua orang bisa merasa sedih saat kehilangan sesuatu. Tapi apakah anda akan membuat kesedihan itu menjadi suatu penyesalan atau mengubahnya menjadi kenangan indah itu terserah anda. Aku mengatakan ini karena aku iri bahwa anda masih bisa melakukan sesuatu." jawab Jennifer.


Lalu, Jennifer menepuk tangannya.

"Aku digigit nyamuk." ucap Jennifer. Lantas, Jennifer pun pamit dan masuk ke dalam.


Keesokan harinya, Woo Jin, Seo Ri dan Hyun keluar dari supermarket. Mereka membeli banyak camilan.

"Apa aku bisa bertemu Rin Kim nanti dan mendengar lagu seperti yang akan dia tampilkan di festival?" tanya Seo Ri antusias.

Hyun pun mengiyakan.

"Orang akan mengira kita akan pergi piknik." ucap Woo Jin.

"Rasanya seperti kita benar-benar akan piknik." jawab Seo Ri.


Mereka pun masuk ke mobil Hyun. Saat hendak berangkat, terjadi masalah dengan mobil Hyun. Terpaksa lah mereka singgah ke bengkel dulu.


"Kau membiarkan lampu dalam menyala, jadi, akinya soak. Ini akan butuh sedikit waktu." ucap montir.

"Bagaimana kami pergi ke lokakarya? Kami harus tiba di sana tepat waktu." jawab Seo Ri.

"Jika buru-buru, kalian bisa naik kereta. Ada stasiun kereta dekat sini. Aku akan mengantarkan kalian." ucap montir.

Hyun pun menyuruh Woo Jin pergi duluan, sementara ia dan Seo Ri akan berangkat malam hari setelah mobilnya selesai diperbaiki. Tapi Woo Jin mengajak Seo Ri ikut dengannya.


Sembari menunggu kereta datang, mereka menikmati mie gelas. Tapi karena rasa mie nya sangat pedas, membuat Seo Ri terbatuk-batuk usai mencicipinya.

"Sepedas apa ini?" tanya Woo Jin heran.

"Ini sangat pedas." jawab Seo Ri.

Woo Jin pun mencicipinya. Ia kepedasan, tapi pura-pura tidak kepedasan. Seo Ri yang tahu Woo Jin kepedasan, meminta Woo Jin untuk tidak berpura-pura. Tapi Woo Jin tetap tidak mau mengaku kalau ia kepedasan.


Seo Ri pun mengambil air minum, tapi saat mau minum, Woo Jin malah mengambil air minumnya dan minum duluan.

"Seharusnya bilang saja kalau pedas." ucap Seo Ri.

"Aku bukan minum karena pedas. Aku minum karena banyak berkeringat." jawab Woo Jin.

"Baiklah." ucap Seo Ri.

"Apa maksudmu mengatakan itu? Ini membuatku kesal." jawab Woo Jin.

"Kau sepertinya sedikit bodoh." ucap Seo Ri.

"Bagaimana bisa kau memanggilku bodoh?" protes Woo Jin.

"Keretanya datang." jawab Seo Ri, lalu beranjak pergi.

"Mau ke mana? Aku sedang bicara denganmu." ucap Woo Jin, lalu bergegas menyusul Seo Ri.


Di bus, Seo Ri tersenyum melihat para peserta karya wisata lain yang asyik bernyanyi.

"Kau dari tadi menatap mereka. Apa yang kau lihat?" tanya Woo Jin.

"Mereka tampak sangat bahagia. Aku sedikit iri juga." jawab Seo Ri.

"Kenapa?" tanya Woo Jin.

"Aku iri dengan usia mereka dan waktu yang mereka habiskan pada usia itu. Aku selalu ingin melakukan hal seperti itu. Meski semua berjalan sesuai rencana, aku akan di Jerman, jadi, itu pun tidak akan mungkin." jawab Seo Ri.

Mendengar itu, Woo Jin pun teringat kata-kata Hee Soo soal Seo Ri yang batal sekolah di Jerman karena masalah pribadi.

"Aku ada pertanyaan. Boleh aku bertanya?" tanya Woo Jin.


Tapi belum sempat bertanya, salah satu peserta karya wisata mengarahkan mic pada mereka. Semula, Woo Jin enggan bernyanyi tapi setelah melihat Seo Ri bernyanyi, ia pun ikut bernyanyi meski dengan ekspresi kikuk.

Lama2, Woo Jin pun mulai menikmati suasana. Ia tak lagi kikuk saat bernyanyi.


Begitu turun dari bus, peserta yang tadi mengarahkan mic pada mereka, memberikan sesuatu pada Woo Jin. Sebuah foto, foto Woo Jin dan Seo Ri saat di bis tadi dengan caption

'Semoga Cinta Kalian Abadi'.


Membaca caption fotonya, Woo Jin tersenyum. Ketika Seo Ri melihat ke arahnya, Woo Jin pun buru-buru menyimpan foto itu di sakunya dan mengajak Seo Ri pergi.


Woo Jin dan Seo Ri akhirnya tiba di hotel. Woo Jin memberitahu Seo Ri nomor kamar Hee Soo. Setelahnya mereka berpisah, menuju kamar masing-masing.


Saat hendak menuju kamarnya, Seo Ri melihat Tae Rin. Ia pun menyapa Tae Rin dan mengaku sebagai fans berat Tae Rin setelah menonton konser Tae Rin. Tapi Tae Rin justru bersikap dingin pada Seo Ri.


Seorang pria memanggil Tae Rin. Tae Rin pun langsung menghampirinya dan Seo Ri beranjak menuju kamarnya.


Rapat pun dimulai. Tae Rin memaparkan isi proposalnya di hadapan pria tadi dan seluruh peserta seminar.

"Karena ini festival, kami menyiapkan lagu yang akrab yang muncul dalam iklan dan berbagai media massa. Festival terdiri dari lagu-lagu yang menyenangkan yang bisa dinikmati penonton sambil bertepuk tangan." ucap Tae Rin.


Seo Ri pun langsung menyela begitu melihat daftar-daftar lagu pilihan Tae Rin, tapi setelahnya ia buru-buru menutup mulutnya karena merasa tidak pantas untuk berbicara.

"Tunggu sebentar. Ada yang ingin kau katakan?" tanya pria itu.

"Tidak ada." jawab Seo Ri.

"Kau bisa beri tahu kami." ucap pria itu.

"Banyak orang selama ini mengira "Toy Symphony" dikarang oleh Haydn. Tapi sebenarnya ditulis oleh ayahnya Mozart dan digubah oleh adiknya Haydn. Jadi, kurasa benar jika memperbaiki komposernya menjadi Leopold Mozart." jawab Seo Ri.


Mendengar itu, terpaksa lah Tae Rin berkata kalau pegawainya yang membuat file itu melakukan kesalahan. Ia juga terpaksa berterima kasih pada Seo Ri karena sudah mengkoreksi kesalahan yang ia klaim sebagai kesalahan pegawainya.

"Aku pun mengira ini karangan Haydn. Kita tidak akan tahu soal itu jika bukan karena wanita pintar itu." jawab pria itu.


"Wanita pintar itu adalah anggota Tim Desain Panggung." ucap Hee Soo.

Tae Rin pun tambah kesal.


Hyung Tae datang lagi ke rumah lama Seo Ri. Bersamaan dengan itu, Chan, Hae Beom dan Deok Soo pulang. Melihat sosok Hyung Tae, Hae Beom dan Deok Soo pun memberitahu

Chan kalau Hyung Tae adalah dokter yang mencari Seo Ri.

Lalu Chan teringat kata-kata Seo Ri yang melarangnya memberitahu keberadaan dirinya jika dokter itu datang lagi.


Teringat hal itu, Chan bergegas menghampiri Hyung Tae. Chan yang tidak tahu siapa Hyung Tae pun mengaku, kalau Seo Ri tidak pernah datang lagi ke rumahnya sejak hari itu. Ia juga menegaskan kalau Seo Ri tidak akan pernah datang lagi ke rumahnya karena ia akan menjual rumah itu.

Hyung Tae pun kaget mendengar bahwa mereka akan menjual rumah Seo Ri.

"Jangan datang lagi kemari. Kami akan segera pindah dan kau tidak akan menemukan siapapun disini." tegas Chan.


Seo Ri yang sedang berjalan-jalan di lobby hotel, tidak sengaja melihat seorang wanita sedang bermain violin. Setelah wanita itu selesai memainkan violinnya, Seo Ri pun bergegas menghampirinya.

"Bagus sekali.  Itu lagu favoritku di antara semua lagu Kreisler." ucap Seo Ri.

"Tidak banyak orang memperhatikan bahkan selama jam kerjaku. Terima kasih sudah mendengarkan aku berlatih." jawab wanita itu.

"Violinmu bagus. Resonansinya indah dan senar Evah Pirazzi sangat cocok dengan instrumenmu." ucap Seo Ri.

"Kau juga bermain violin?" tanya wanita itu.

"Sedikit. Terima kasih untuk musiknya." jawab Seo Ri, lalu beranjak pergi.

Tapi wanita itu menawarinya main violin.


Sosok maestro terkenal, yang dulu pernah mengajak Seo Ri berkolaborasi, muncul di hotel. Ia menghampiri Tae Rin yang juga saat itu melintas di lobby.

"Apa kabar, Tae Rin? Maksudku, Nona Rin Kim."

"Jangan begitu." jawab Tae Rin malu.

"Seminarmu lancar?" tanya maestro itu.


Tepat saat itu, Seo Ri mulai memainkan violinnya. Sang maestro yang mendengar alunan musik yang dimainkan Seo Ri, langsung teringat pada sosok Seo Ri remaja yang juga memainkan musik yang sama.

Flashback...


Seo Ri mengikuti audisi dan memainkan musik yang sama. Saat itu, maestro itulah yang menjadi jurinya.

"Aku tahu dia boleh memainkan lagu apa pun yang dia mau, tapi apa dia memainkan lagu itu untuk audisi?" tanya maestro itu pada rekannya.


Selesai audisi, sang maestro mengajak Seo Ri berkolaborasi dengannya. Seo Ri pun mengangguk setujuk.


Tae Rin yang melihat itu dari kejauhan pun tampak kesal.

Flashback end...

Woo Jin yang berjalan-jalan di lobby, melihat Seo Ri bermain violin.


Semula, Seo Ri sangat menikmati permainannya. Tak lama kemudian, tangannya menjadi lemas dan jatuh terkulai begitu saja.

Melihat itu, senyum Woo Jin pun langsung hilang.


Seo Ri berterima kasih pada wanita itu karena sudah diizinkan bermain violin. Setelah itu, ia beranjak pergi sambil memegangi tangannya.


Woo Jin yang melihat Seo Ri pun bertanya-tanya sendiri.


Tak lama setelah kepergian Seo Ri, sang maestro mendekati wanita itu.

"Kau tadi memainkan "Romance" oleh Schumann?"

"Tidak, seorang wanita datang dan memainkannya." jawab wanita itu.


Lantas, dia pun mencoba menanyakannya pada Tae Rin.

"Kau ingat tahun 2005 saat audisi akompanimen muda? Kau tahu apa yang terjadi pada anak yang seharusnya bermain denganku?" tanyanya.


Ingatan Tae Rin pun langsung melayang ke masa lalu, saat ia tidak sengaja mendengar ocehan kedua temannya di kamar mandi, kalau Seo Ri lebih baik darinya. Temannya bilang, bahwa ia juga punya cukup koneksi karena sang ibu seorang pianis dan ayahnya dosen di kampus musik.


Teringat itu, Tae Rin pun pura-pura lupa dengan sosok Seo Ri.


Seo Ri duduk di taman sambil menatap lirih kedua tangannya.


Tak lama kemudian, Woo Jin datang dengan mobilnya. Dari dalam mobil, Woo Jin pun teriak menyuruh Seo Ri memberitahu Hee Soo kalau ia mau jalan-jalan ke pantai untuk mencari udara segar.

"Baiklah. Sampai jumpa." jawab Seo Ri.

Woo Jin pun menghela nafas. Dia sebenarnya mau menghibur Seo Ri dengan mengajak Seo Ri ke pantai, tapi karena respon Seo Ri hanya segitu, ia pun mencoba memikirkan cara lain

agar Seo Ri mau ikut dengannya tanpa harus dia ajak.

Lantas, Woo Jin pun kembali melajukan mobilnya dan kembali ke tempat Seo Ri lagi.

"Hei, jika Hyun mencariku, katakan kepadanya aku pergi ke pantai dekat sini yang jika melihat pantai saja akan membuatku merasa segar." ucap Woo Jin kali ini.

"Tentu. Sampai nanti." jawab Seo Ri.

Woo Jin pun frustasi mendengar jawaban Seo Ri yang sama lagi. Setelah berpikir sejenak, akhirnya ia memutuskan langsung saja mengajak Seo Ri ke pantai. Tapi belum sempat ngomong, Seo Ri sudah minta ikut.


Di perjalanan, Seo Ri diam saja sambil memandang keluar jendela.

"Mau kubuka jendelanya?" tanya Woo Jin.

"Aku baik-baik saja." jawab Seo Ri.

Woo Jin pun tetap membuka jendelanya. Tapi Seo Ri menutup jendelanya kembali.


Bersambung ke part 2.......

No comments:

Post a Comment