Thursday, August 16, 2018

Still 17 Ep 8 Part 2

Sebelumnya...


Bagian kedua ini diawali dengan Seo Ri yang berlari menuju tepi pantai.

"Yahuuu!" teriak Seo Ri.

"Kenapa dia tiba-tiba menyapa laut?" tanya Woo Jin bingung.

"Yahuuu!" teriak Seo Ri lagi.

"Aku sangat senang membawa dia." ucap Woo Jin.

Woo Jin lantas menghampiri Seo Ri dan ikutan berteriak, yahuuu!


Setelah itu mereka berjalan-jalan di tepi pantai. Woo Jin bertanya, musik apa yang tadi dimainkan Seo Ri. Seo Ri awalnya bingung dengan pertanyaan Woo Jin, tapi kemudian ia sadar kalau tadi Woo Jin melihatnya bermain violin.

"Itu lagu dari Schumann, "Romance". Itu disebut "Einfach, Innig", yang artinya "Sederhana, Tulus"." jawab Seo Ri.

"Boleh kutanya kenapa kau tidak bisa terus memainkan violin itu?" tanya Woo Jin.

"Aku koma di rumah sakit selama 10 tahun." jawab Seo Ri.


Langkah Woo Jin pun seketika terhenti mendengar jawaban Seo Ri. Sementara Seo Ri terus berjalan menyusuri pantai.

Woo Jin teringat ocehan-ocehan aneh Seo Ri selama ini. Seo Ri berhenti berjalan dan berbalik menatap Woo Jin.


"Itu sebabnya aku tidak bisa bersekolah di luar negeri. Aku hanya pandai bermain violin. Tapi aku kehilangan keahlianku selagi diopname. Dan saat siuman, aku berusia 30 tahun. Itu sebabnya usiaku aneh dan sulit bagiku. Aku tahu aku dewasa, tapi rasanya aku belum dewasa." ucap Seo Ri.

Woo Jin terdiam. Melihat Woo Jin yang hanya diam saja, Seo Ri pun menyesal sudah menceritakan itu pada Woo Jin. Ia berkata, seharusnya tidak mengatakan hal itu karena yakin Woo Jin tidak tertarik.

"Aku sangat penasaran selama ini.  Aku baru tahu kau mungkin mengalami sesuatu. Tapi ternyata itu lebih buruk daripada yang kukira. Mianhaeyo." ucap Woo Jin.

"Tidak apa-apa." jawab Seo Ri.


Sekarang, mereka duduk di tepi pantai.

"Ahjussi, kau tahu istilah rehat"? tanya Seo Ri.

"Waktu istirahat saat bermusik atau di atas panggung." jawab Woo Jin.

"Benar.  Setiap kali datang ke konser saat masih anak-anak, aku sungguh menyukai momen itu. Aku senang itu belum berakhir. Pertunjukannya masih ada. Aku menantikan pertunjukan luar biasa lainnya. Dan kurasa ini rehatku. Aku berhenti sebentar karena menunggu pertunjukan luar biasa lainnya. Hidupku dalam masa rehat. Itu sebabnya tidak masalah. Ini belum berakhir. Aku hanya sedang beristirahat. Aku bersemangat. Aku hanya beristirahat sebentar untuk sesuatu yang lebih luar biasa. Itu sebabnya aku mau mencoba menghadapinya sendiri. Aku tidak akan pindah bersamamu dan Chan, meminta bantuan Nona Kang, atau memintamu mencarikan tempat untukku. Aku akan mengurusnya sendiri." ucap Seo Ri.

Seo Ri berusaha tersenyum mengatakannya, meski air matanya hampir jatuh saat mengatakan itu.


Woo Jin pun menatap Seo Ri. Seo Ri meminta maaf. Ia mengaku, melihat catatan yang ditulis Woo Jin saat ia membersihkan tempat sampah di atap.

"Terima kasih telah mencemaskanku. Sebenarnya, aku mempertimbangkan untuk pindah bersamamu karena takut. Tapi aku akan terus bergantung padamu jika seperti itu. Aku akan bergantung padamu, lalu aku akan melemah. Jika itu terjadi, aku akan tidak dewasa. Tapi aku tidak mau itu terjadi. Itu sebabnya aku akan berusaha melakukannya sendiri." ucap Seo Ri.

"Kau sudah cukup dewasa. Andai aku ada di posisimu, aku tidak bisa melakukan hal yang sama. Tidak. Aku memang tidak bisa melakukannya. Kau pernah mengatakan ini kepadaku. Kau bilang sepertinya perasaanku terombang-ambing. Aku selalu bersembunyi, berlari, dan menjauh. Memang benar. Begitulah aku." jawab Woo Jin.


Woo Jin lalu teringat saat ia lari dari pemakaman Su Mi tanpa sempat mengetahui sosok Su Mi yang sebenarnya.

"Aku tidak bisa bersedih dengan sepenuh hatiku ataupun merasa cukup menyesal. Aku takut orang-orang akan melihat penderitaanku, sehingga aku berlari dan mengabaikannya. Aku terlalu sibuk melindungi diriku." lanjut Woo Jin.

Flashback...


Setelah kejadian itu, Woo Jin pindah ke Jerman.

Flashback end...


"Dahulu, aku melakukan hal yang sangat disesalkan kepada anak lainnya. Aku sangat bodoh. Aku seperti anak-anak. Aku masih tidak memiliki keberanian untuk membagikan cerita ini kepada siapa pun." ucap Woo Jin.

Tangis Woo Jin pecah.

Seo Ri memegang lengan Woo Jin. Ia menyuruh Woo Jin berhenti bercerita jika Woo Jin tidak sanggup bercerita.  Seo Ri juga berterima kasih karena Woo Jin sudah mau cerita padanya.

*Aigoo, sy kesel. Si Woo Jin padahal udah lihat pas Seo Ri ngelingkarin bulan, tapi pas Seo Ri cerita pernah koma 10 tahun, dia gk ngeh kalo Seo Ri tu cewek yang ditaksirnya dulu.

Kalo Seo Ri tu cewek yang disangkanya No Su Mi.


Sekarang, Woo Jin dan Seo Ri sedang dalam perjalanan pulang ke hotel. Woo Jin memuji sikap Seo Ri yang tidak lari dari masalah seperti yang ia lakukan.

"Kau mengatasinya dengan sangat baik. Kau sudah seperti orang dewasa. Kau seperti usia 30 tahun. Aku tahu betul tidak ada ucapan yang bisa melipurmu atas kejadian yang menimpamu. Namun, aku bisa menjamin yang satu ini. Kau pasti bisa mengurus diri sendiri. Kau lebih dewasa daripada aku." ucap Woo Jin.

Kata-kata Woo Jin itu pun melecut semangat Seo Ri.

"Baiklah. Aku akan melakukan yang terbaik!" tukas Seo Ri.


Chan diseret paksa keluar dari sebuah gedung oleh satpam. Itu karena Chan mondar mandir di gedung khusus wanita.

Ri An yang kebetulan lewat tidak menyadari itu Chan.

"Kenapa tidak ada yang menangkap orang mesum semacam itu?" ucapnya.

Lalu Ri An mengaku, penasaran dengan kabar Chan. Ia berniat menelpon Chan tapi tak jadi karena mengira Chan sedang berlatih. Ri An lantas berlalu begitu saja.

Chan kesal karena keamanan di gedung khusus wanita begitu ketat.


Seo Ri keluar dari kamar mandi sambil mengelap rambutnya dengan handuk. Lalu ia duduk di meja rias dan mengeringkan rambutnya dengan hairdryer. Saat tengah mengeringkan rambutnya, ia melihat bulan dari cermin dan bergegas ke balkon.


Seo Ri mengangkat tangannya dan melingkari bulan.


Tak lama berselang, ia mengarahkan tangannya ke bawah dan terkejut melihat Woo Jin yang berjalan sambil minum kopi.

"Kenapa dia minum kopi semalam ini? Dia tidak akan bisa tidur." ucap Seo Ri.

Seorang bocah laki-laki yang asyik bermain skuter, melaju kencang ke arah Woo Jin. Seo Ri pun cemas. Ia takut anak itu menabrak Woo Jin, tapi ternyata tidak. Seo Ri pun menarik napas lega.

Lantas, Woo Jin duduk di depan kolam renang.

Seo Ri terus memandanginya dan teringat kata-kata Woo Jin tadi.

"Tidak, aku sangat penasaran selama ini. Aku baru tahu kau mungkin mengalami sesuatu. Mianhaeyo."

Seo Ri juga ingat kata-kata Woo Jin di mobil tadi.

"Kau sudah cukup dewasa." ucap Woo Jin.


DEG DEG DEG... terdengar suara detak jantung Seo Ri. Seo Ri menyentuh dadanya.


Lalu, Seo Ri membuat embun dengan napasnya di kaca dan menggambar sebuah tanda.

Flashback...


Seo Ri remaja juga melakukan hal yang sama. Ia membuat embun di kaca bis, dan membuat tanda yang sama.

Su Mi yang melihat hal itu, bertanya padanya, ia sedang menggambar apa.

"Crescendo." jawab Seo Ri.

Flashback end...

Seo Ri tersenyum melihat tanda  Crescendo nya.


Sementara di bawah, Woo Jin memikirkan kata-kata Seo Ri saat mereka di pantai tadi.

"Hidupku dalam masa rehat. Aku hanya beristirahat sebentar untuk sesuatu yang lebih luar biasa. Itu sebabnya tidak masalah. Ini belum berakhir. Aku hanya sedang beristirahat." ucap Seo Ri.


Woo Jin sudah kembali berada di rumah.

Woo Jin membuka pintu kamar Chan dan langsung dibuat kaget oleh Chan.

"Aku tidak bisa membiarkan ini. Ayo ajak bibi itu bersama kita. Aku mengerti tempat tinggal barunya sangat bagus, tapi dia tidak boleh sendirian. Karena..."

"Aku tahu." jawab Woo Jin.

Chan pun kaget, paman tahu?

"Aku tahu langsung dari dia." jawab Woo Jin.

"Ini demi kebaikan. Menurut paman kita harus mengajak dia juga, bukan? Dia tidak boleh sendirian, bukan? Paman tidak mungkin membiarkannya, kan?" tanya Chan.

"Aku mengizinkannya." jawab Woo Jin.

"Ah, wae?" protes Chan.

"Chan-ah, sebaiknya biarkan dia pergi. Itu yang seharusnya kita lakukan. Dia bisa hidup sendiri. Aku ingin menuruti kemauannya. Aku menghargai keputusannya." jawab Woo Jin.

"Dia mengatakan itu?" tanya Chan.

"Dia tidak selemah yang kau kira. Dia juga bukan anak-anak. Dia sudah cukup dewasa untuk hidup sendiri. Jadi percaya saja padanya." jawab Woo Jin.


Chan berbaring di kasurnya. Tanpa lampu. Ia menatap foto Seo Ri di ponselnya dan... menangis.


Tak lama kemudian, terdengar suara Seo Ri yang mengajaknya bicara. Chan pun bangun dan duduk di tepi ranjangnya.

"Aku sudah melepas pakaianku untuk tidur. Di sini gerah. Bibi bisa bicara di sana." sahut Chan.

"Aku datang untuk berterima kasih. Aku berhasil menghadapi semuanya berkat ucapanmu. Kau teman pertamaku seusai aku siuman. Dan aku bersyukur karena itu. Terima kasih telah menjadi temanku." ucap Seo Ri.

Karena Chan diam saja, Seo Ri pun bicara lagi.

"Kau mendengarkan atau tidak?" tanya Seo Ri.

"Ya." sahut Chan.

"Aku secara tulus berterima kasih atas sikapmu yang baik kepadaku." ucap Seo Ri.

"Bibi bicara seakan kita tidak akan pernah bertemu lagi." jawab Chan.

"Sampai jumpa besok pagi. Selamat tidur." ucap Seo Ri.


Keesokan harinya, Seo Ri terkejut melihat barang-barang yang akan dibawanya banyak sekali.


Hae Beom dan Deok Soo datang. Deok Soo memberitahu Seo Ri, kalau Jennifer yang memberikan bantal itu untuk Seo Ri sedangkan mereka memberi Seo Ri kipas angin karena takut

Seo Ri tidak menyalakan AC untuk menghemat uang.

Seo Ri tersentuh. Ia mengucapkan terima kasih pada Hae Beom dan Deok Soo.

"Ayolah. Hanya ini yang bisa kami lakukan. Aku mulai berkaca-kaca karena kini bibi harus pergi." ucap Deok Soo.

Deok Soo yang mulai menangis pun menutup matanya dengan sate udang yang dipegangnya.

"Kenapa kau menangis?" tanya Hae Beom. Tapi setelah itu, Hae Beom ikutan menangis.


Tak lama kemudian, Chan turun.

"Astaga, berhentilah bersikap seperti bayi. Kenapa kalian menangis? Kita akan sering bertemu dengannya." ucap Chan.

Lalu Chan bicara pada Seo Ri.

"Semoga bibi pindah dengan selamat. Sampai jumpa secepatnya. Kami harus berangkat latihan." ucap Chan, lalu beranjak keluar diikuti oleh dua sohib absurd nya.


Tapi tak lama, Chan balik lagi ke dalam hanya untuk memberikan berbagai macam obat-obatan pada Seo Ri. Bukan hanya obat, Chan juga memberi Seo Ri pistol setrum, semprotan merica dan peluit.

Bersamaan dengan itu, Woo Jin turun dan melihat yang dilakukan Chan pada Seo Ri.

Hae Beom dan Deok Soo pun masuk. Mereka menarik Chan keluar.


"Kita akan celaka kalau terlambat." ucap Deok Soo.

"Segera ubah sandi Bibi. Jangan lupa mengunci jendela. Jangan lupa makan. Datanglah ke rumah kami jika bibi kehabisan makanan!" teriak Chan. Seo Ri pun terharu.


Setelah Chan pergi, giliran Jennifer yang memberikan Seo Ri lauk.

"Taruh ini di kulkas setibanya kau di sana. Aku membuatkan jangjorim, makanan kesukaanmu. Aku memasukkan banyak telur puyuh." ucap Jennifer.

"Kamsahaeyo, Jennifer. Aku pasti akan memakannya." jawab Seo Ri.


Woo Jin pun turun.

"Ayo. Aku akan mengantarmu." ucap Woo Jin sambil mengambil kotak makanan di tangan Seo Ri.

Seo Ri menolak, tapi Woo Jin tidak peduli.

"Aku pamit, ya, Jennifer. Aku akan sering berkunjung." ucap Seo Ri.


Seo Ri lantas beranjak ke pintu, tapi kemudian ia balik lagi ke Jennifer.

"Aku tahu ini mungkin agak norak, tapi aku harus melakukan ini. Terima kasih telah bersikap baik kepadaku. Aku akan membalas budimu. Aku berjanji akan membalasnya kelak." ucap

Seo Ri sambil memeluk Jennifer.

Jennifer pun berkaca-kaca. Ia balas memeluk Seo Ri.


Setelah Seo Ri pergi, Jennifer masuk ke dapur. Di dapur, ia menemukan sandal rumahan. Hadiah dari Seo Ri. Ada sebuah pesan di atasnya. Dalam pesanya, Seo Ri berjanji akan membelikan Jennifer sepatu yang bagus suatu hari nanti.


Jennifer pun memotong bawang sambil memejamkan matanya. Lalu kamera mengarah pada kakinya yang mengenakan sandal dari Seo Ri.

Ya, Jennifer menangis. Tapi ia berusaha menahan tangisnya dengan memejamkan matanya.


Hae Beom dan Deok Soo membeli banyak camilan. Deok Soo menyuruh Hae Beom membayarnya. Saat hendak mengambil dompetnya di dalam tas, Hae Beom malah menemukan beberapa kupon.

"Apa ini?" tanya Deok Soo sambil mengambil kupon itu dari tangan Hae Beom.

Deok Soo menangis membaca pesan Seo Ri.

"Deok Su dan Hae Bum. Kalian selalu membuatku merasa tenang. Kuharap kalian bisa makan dengan kupon ini." tulis Seo Ri.


Chan juga dapat hadiah dari Seo Ri. Sepasang sarung tangan.

"Kuharap tanganmu tidak sering terluka lagi. Tapi sekadar informasi, aku selalu menyukai tanganmu. Aku akan selalu menyemangatimu. "Jangan dipikirkan, tapi rasakan!" tulis Seo Ri dalam pesannya.

"Perasaanku terluka." ucap Chan setelah membaca pesan Seo Ri.


Di mobil, Woo Jin memberikan Seo Ri sebuah amplop. Seo Ri membuka amplopnya dan tangisnya langsung pecah melihat foto2 Fang dan juga seisi rumahnya.

"Kurasa kau setidaknya harus memiliki foto-foto itu untuk meredakan kesedihanmu." ucap Woo Jin.

"Aku sangat bersyukur. Aku merasa sangat bersyukur karena semua ini, tapi tidak tahu bagaimana cara mengungkapkannya secara verbal. Satu bulan di rumah itu bagaikan hadiah bagiku. Aku bisa tinggal di sana sebelum rumah itu dirobohkan. Aku bisa bertemu dengan Fang lagi. Aku bisa bersemangat berkat Chan dan Jennifer. Dan yang paling penting, aku bisa berteman denganmu. Semua itu bagaikan kado bagiku. Andai bukan karena dirimu, aku tidak akan merasakan semua hal luar biasa yang kualami selama satu bulan itu. Terima kasih. Aku bersungguh-sungguh." jawab Seo Ri.

"Aku juga ingin berterima kasih kepadamu karena telah tinggal di rumah kami." ucap Woo Jin.


Woo Jin pun ingin menangis tapi dia menahan tangisnya.

Seo Ri meminta Woo Jin menurunkannya di pinggir jalan. Seo Ri mengaku, ia merasa malu karena mau menangis lagi.


Akhirnya, Woo Jin menurunkan Seo Ri di pinggir jalan sesuai keinginan Seo Ri.

Tapi Woo Jin tak langsung pergi setelah menurunkan Seo Ri. Ia mengawasi Seo Ri.


Sekarang, kita sedang melihat Woo Jin yang bicara dengan satpam gedung. Ia memberikan nomornya dan meminta satpam gedung menghubunginya jika terjadi sesuatu dengan penghuni

kamar 1101. Tak hanya itu, Woo Jin juga menitipkan sesuatu untuk Seo Ri.


Di dinding lobby, kita melihat foto Chan terpampang dengan wajah di blur.

Di bawah foto itu ada tulisan, "Tolong tangkap orang ini jika masih berkeliaran" LOL LOL LOL


Sekarang, Seo Ri tiba di lantai atas. Dia sudah berhasil menemukan kamarnya.

Saat merogoh sakunya untuk menyimpan foto2 pemberian Woo Jin, Seo Ri menemukan hadiah untuk Woo Jin yang lupa diberikannya.

"Ini terasa terlalu kecil dibandingkan dengan pemberiannya." ucap Seo Ri.


Lalu, Seo Ri berusaha membuka pintu dengan memasukkan kata sandinya. Tak lama kemudian, pintunya terbuka dari dalam. Seorang ajumma keluar.

"Siapa kau?" tanya ajumma itu.

"Aku kemari untuk memberi makan ikan." jawab Seo Ri.

"Hyun tidak memberitahumu? Studi bahasaku ditunda satu semester karena ada masalah dengan beberapa dokumen." ucap ajumma itu.


Alhasil, Seo Ri berkeliaran di jalanan. Dia malu kalau harus balik lagi ke rumah lamanya.


Ujung-ujungnya, Seo Ri masuk ke kantornya diam-diam dengan membawa semua barangnya. Tapi saat mendengar suara Woo Jin dan Hee Soo, dia langsung kabur dan tanpa sengaja menjatuhkan pistol setrum pemberian Chan.


Woo Jin dan Hee Soo turun dari atap. Woo Jin tak sengaja menemukan pistol setrum itu dan teringat pistol itu hadiah dari Chan.


Sadar kalau terjadi sesuatu pada Seo Ri, ia pun bergegas keluar mengejar Seo Ri tapi malah kehilangan jejak Seo Ri.


Seo Ri duduk di taman. Ia menikmati jangjorim pemberian Jennifer dan mengeluh kepanasan.

Saat menoleh ke sampingnya, ia melihat seorang wanita sedang duduk sambil menikmati angin dari kipas mini. Sontak, Seo Ri yang kepanasan langsung mendekati wanita itu agar dapat menikmati anginnya juga.

Wanita itu pun terkejut dan langsung beranjak pergi.


Seo Ri kembali berkeliaran di jalan. Saat melintas di sebuah toko, trolinya tak sengaja terlilit sebuah kabel. Saat hendak melepaskan kabel yang melilit trolinya, Seo Ri menemukan stop kontak.

Langsung saja, Seo Ri menyalakan kipas anginnya.

"Astaga, ini terasa jauh lebih baik." ucap Seo Ri sambil memejamkan matanya, menikmati angin.

Tak lama kemudian, terdengar suara Woo Jin yang meminta anginnya.

Seo Ri pun terkejut melihat sosok Woo Jin.

Lalu si pemilik toko keluar dan memarahi mereka. Untuk membungkam mulut si pemilik toko, Woo Jin pun memesan lima ayam goreng untuk dibawa pulang.


Singkat cerita, Woo Jin mengajak Seo Ri pulang. Seo Ri tersenyum saat Woo Jin memintanya ikut.


Dalam perjalanan pulang, Woo Jin memberitahu Seo Ri, kalau Seo Ri boleh ikut pindah ke apartemen Chan sampai menemukan tempat tinggal yang baru.

Lalu, Woo Jin tanpa sengaja melihat hadiahnya yang nyempil keluar dari saku Seo Ri. Tapi Seo Ri yang malu, langsung bilang kalau itu bukan untuk Woo Jin. Woo Jin tidak percaya dan memaksa Seo Ri memberikan hadiah itu padanya.


Chan masuk ke rumah dengan tampang lesu. Saat melihat Seo Ri lagi main sama Fang, ia merasa sedang berhalusinasi.

Seo Ri yang melihat kedatangan Chan, langsung menyapa Chan.

"Chan, aku kembali. Dia belum butuh orang untuk memberi makan ikannya." ucap Seo Ri.

"Bibi sungguh kembali?" tanya Chan.

Dua manusia absurd itu pun masuk. Mereka juga kaget melihat Seo Ri kembali.

Woo Jin turun dan memberitahu mereka kalau Seo Ri akan tinggal dengan mereka sampai menemukan tempat tinggal.

Sontak lah, si Chan senang. Ia bahkan sampai memeluk Seo Ri.


Woo Jin tersenyum melihatnya.

Hae Beom dan Deok Soo bergabung dengan mereka. Mereka berempat lalu meloncat2 sambil berputar-putar dan tersenyum bahagia.

Jennifer yang lagi menyiapkan makanan di dapur, juga tersenyum melihat mereka.


Wanita bersepatu kuning itu muncul lagi. Ia mengikuti Jennifer yang baru saja keluar dari tempat latihan taekwondo.

Jennifer yang tidak sadar diikuti, terus berjalan sambil berbicara dengan seseorang di telepon. Ia menyuruh seseorang yang ditelponnya untuk mencarikan kamar dengan kondisi yang bagus. Orang itu mengerti dan Jennifer memutuskan panggilannya.

Lalu wanita bersepatu kuning itu memanggil Jennifer.

"Hwang Mi Jung-ssi." panggilnya.

Jennifer pun menoleh.

Wanita itu melepas kacamatanya dan bertanya apa Jennifer masih mengenalinya. Sontak, Jennifer kaget.


Chan yang lagi di tempat latihannya, dapat telepon dari ibunya. Sang ibu memberitahunya kalau ia sudah tiba di Korea.

"Sampai jumpa di rumah mommy. Bye." ucap Chan.

Tapi setelahnya, Chan pun sadar kalau mommy nya akan pergi ke rumah tempat Seo Ri tinggal.

Chan langsung menuju ke rumah. Di taksi ia menghubungi Woo Jin.


Woo Jin yang lagi di kafe dan memesan kopi pun langsung pergi begitu saja setelah mendengar kabar dari Chan.


Seo Ri lagi menyiram tanaman ketika mendengar bunyi bel. Ia lantas menggendong Fang yang menunggunya di bangku taman dan bergegas membukakan pintu gerbang.

"Anda siapa?" tanya Seo Ri pada Dokter Hyun Jung--ibunya Chan.


Tepat saat itu, Woo Jin dan Chan tiba di rumah. Chan panic melihat ibunya sudah bertemu Seo Ri. Woo Jin panic melihat kakaknya sudah bertemu Seo Ri.

"Justru anda yang siapa?" tanya Dokter Hyun Jung.


Bersambung.......

No comments:

Post a Comment