Thursday, August 23, 2018

Still 17 Ep 9 Part 1

Sebelumnya...


Woo Jin dan Chan buru-buru pulang karena tahu Hyun Jung akan datang. Tapi begitu tiba di rumah, mereka melihat Hyun Jung sudah bertemu dengan Seo Ri.

"Noona!" teriak Woo Jin.

"Astaga, Eomma! Aku merindukanmu." Chan memeluk Hyun Jung.

"Apa dia....?"

"Begini Noona..." Woo Jin mau menjelaskan.

"Benar juga. Kau pembantu disini, kan? Aku melihatmu dari belakang saat bertelepon video dengan Chan. Dia masih muda sekali, ya? Kukira sudah berusia 40-an." ucap Hyun Jung.

"Be... benar. Dia pembantu kami." jawab Chan yang teringat saat ia mengakui kalau Seo Ri pembantu mereka.


"Kenapa kakak ke sini? Ini mendadak sekali." ucap Woo Jin.

"Becerminlah sebelum bicara. Aku memutuskan untuk mampir sebelum konferensi ke Jepang. Penerbanganku dua jam lagi." jawab Hyun Jung.


Tak mau sang ibu bertanya-tanya lagi soal Seo Ri, Chan pun langsung mengajak ibunya masuk dengan alasan cuaca yang terlampau panas. Ia mendorong ibunya menuju ke dalam.

"Astaga, Chan. Kau ini kenapa? Jangan mendorong ibu. Tas ibu tertinggal." protes Hyun Jung.

Tapi tetap saja, Chan mendorong ibunya sambil berlari sampai sepatunya lepas.

"Astaga, sepatuku. Ibu masuk saja duluan." ucap Chan, lalu menutup pintu rumah.


Setelah itu, Chan mengambil sepatunya dan tas ibunya yang ketinggalan di depan pagar.

"Bagaimana ini? Dia pikir aku Jennifer." ucap Seo Ri cemas.

"Aku ini anak baik. Aku tidak mau ibuku khawatir. Pasti aneh jika aku mengatakan yang sebenarnya saat ini juga. Intinya, berpura-puralah selama dua jam ini. Hanya dua jam." pinta Chan, lalu beranjak masuk ke dalam.


"Aku sudah lama tidak bertemu dengan kakakku Jadi, aku ingin dia merasa nyaman Ikuti saja rencana Chan, kumohon." ucap Woo Jin.

"Kalau begitu, aku di luar saja." jawab Seo Ri.

"Tidak usah. Biar aku yang mengatasinya." ucap Woo Jin.

Tapi Seo Ri tidak berani masuk.

"Ayolah." bujuk Woo Jin, lalu menarik Seo Ri masuk ke dalam.

Episode 9, Aku Menginginkanmu"


Hyun Jung melihat-lihat sekeliling rumah. Ia merasakan ada yang berubah dari rumah itu.

Tepat saat itu, Seo Ri dan Woo Jin masuk. Hyun Jung langsung menatap Seo Ri.

"Ini aneh." ucap Hyun Jung.

Sontak lah, Woo Jin dan Chan panic. Tak mau ibunya curiga, Chan pun berusaha mengalihkan perhatian ibunya. Ia memberikan secangkir air dingin pada sang ibu, lalu mengajak ibunya ke kamarnya.

"Kurasa dia bukan itu." ucap Hyun Jung.

Hyun Jung lantas mendekati Seo Ri.

"Benarkan ini kau? Ini Deok Goo?" tanya Hyun Jung.

"Ya. Ini memang Deok Gu." jawab Woo Jin lega.

"Dahulu dia begitu lemahKenapa sekarang terlihat lincah? Ini luar biasa." ucap Hyun Jung.


Hyun Jung lalu menatap Seo Ri.

"Kau pasti lelah mengurus rumah in dan mengasuh anjing." ucap Hyun Jung.

"Ibu! Ayo lihat Chick Junior. Sebentar lagi jam tidur siang, jadi kita harus melihatnya sekarang." jawab Chan.

"Anak ayam tidak pernah tidur siang." ucap Hyun Jung.

"Ayolah." ajak Chan, lalu menarik ibunya ke atas. Ke kamarnya.


Seo Ri menatap Hyun Jung. Ia merasa wajah Hyun Jung tidak asing baginya. Seo Ri juga sempat melihat kaki Hyun Jung yang lecet.


Chan memperkenalkan Chick Junior pada ibunya.

"Aku yang melahirkannya dengan cintaku. Manis, bukan? Dia mirip aku, bukan?" ucap Chan.

"Kalian sangat mirip, sampai ibu mengira kalian kembar." jawab Hyun Jung.


Hyun Jung lalu melihat sekeliling kamar Chan.

"Pembantu kalian sangat andal. Rumah ini terlihat lebih terang." ucap Hyun Jung.

Hyun Jung membaca motto Seo Ri yang ditulis dan ditempelkan Chan di dinding.

"Ibu harus menanyakan beberapa hal kepadanya." ucap Hyun Jung lagi.

Hyun Jung beranjak ke pintu tapi Chan menyuruh ibunya istirahat. Ia mendorong dan mendudukkan ibunya di kasur. Hyun Jung pun merasa sikap Chan aneh.

"Eomma, temani aku saja." pinta Chan, lalu meletakkan bantal di pangkuan Hyun Jung.

"Nyaman sekali." ucapnya setelah berbaring di pangkungan ibunya.

"Kenapa kau seperti bayi? Tubuhmu besar seperti gunung." ucap Hyun Jung.

"Tidak ada gunung semanis aku. Aku senang bertemu dengan Ibu lagi setelah sekian lama. Aku suka aroma ibu. Aku merindukan

Ibu." jawab Chan.


Chan pun ketiduran. Hyun Jung tertawa melihat anaknya yang cepat sekali tertidur seperti dirinya.

Lalu Hyun Jung melihat luka di tangan Chan. Melihat itu, ia tersenyum.


Hyun Jung turun. Woo Jin yang baru keluar dari dapur pun bertanya dimana Chan.

 "Tadi dia ribut sekali, lalu tiba-tiba tertidur." jawab Hyun Jung.

Hyun Jung lantas terkejut saat melihat tanaman di depan tangga.

"Hei, bukankah tanaman ini biasanya seperti tanaman mati Kenapa sekarang tampak subur?" tanyanya heran.

"Terlihat sangat subur, bukan Titik lokasi ini bisa menyelamatkan tanaman yang hampir mati Lihatlah. Cahaya yang masuk sangat kuat." jawab Woo Jin.

Mendengar jawaban Woo Jin, Hyun Jung pun langsung menatapnya heran.


Seo Ri keluar dari dapur membawa buah-buahan. Hyun Jung pun mengaku, ingin menanyakan banyak hal pada Seo Ri, jadi ia mengajak Seo Ri menikmati buahnya bersama mereka.

Woo Jin pun panic.

"Noo... noo... noona!"

"Wae?" tanya Hyun Jung. ("Kenapa?")

"Geuronikka wae wae mollasseulkka." jawab Woo Jin. ("Entahlah, aku tidak tahu.")


Lalu, Woo Jin mengajak kakaknya mengobrol di atas. Di kamarnya.

"Ada apa, Woo Jin-ah Jawab kakak. Kau bisa ceritakan apa pun." ucap Hyun Jung cemas.

"Kenapa kakak terlihat cemas begitu Aku hanya ingin mengobrol karena kita lama tidak bertemu." jawab Woo Jin.

"Tingkahmu benar-benar aneh. Lagi pula, kali ini kau berada di luar negeri dalam waktu lama Kau di sana enam bulan lebih lama." ucap Hyun Jung.

"Aku tidak akan membuat kakak cemas lagi." jawab Woo Jin.

"Kau tidak bicara apa pun meski kakak memaksamu Kakak takut saat kau bilang ingin mengobrol." ucap Hyun Jung.


Hyun Jung lalu duduk di kasur Woo Jin.

"Apa aku sering membuat kakak cemas? Belakangan ini semua menyenangkan. Aku juga suka tinggal bersama Chan Kukira dia

hanya bocah, tapi dia lumayan bisa diandalkan Dia juga berlatih sangat keras untuk menang tingkat nasional. Dia juga sering bersama para temannya. Ingat Deok Su, bukan Saat pertama melihatnya, kukira dia pelatihnya Ternyata wajah tuanya memang sudah keturunan Lalu, Hae Bum. Dia sangat manis. Kakak tahu dia suka mandi gelembung di rumah kami?" oceh Woo Jin.

Hyun Jung diam saja dan menatap aneh Woo Jin. Ia ingat saat Woo Jin bilang tidak suka ada orang asing di rumah.

"Kenapa kakak melihatku seperti itu?" tanya Woo Jin.

"Tidak apa-apa." jawab Hyun Jung, lalu mengambil gelas di tangan Woo Jin.


Saat hendak keluar dari kamar Woo Jin, Hyun Jung melihat penyedot WC yang digantung Woo Jin di rak.

"Kenapa penyedot itu digantung di sana?" tanya Hyun Jung heran.

"Kakak mau liat sesuatu yang keren?" tanya Woo Jin.


Woo Jin lantas mengambil penyedotnya dan naik ke meja.

"Ayo naik ke sini." suruh Woo Jin.

"Untuk apa?" tanya Hyun Jung, tapi dia tetap naik ke atas.

"Lihat ini. Dorong seperti ini, lalu geser." ucap Woo Jin.

Hyun Jung pun terkejut melihat jendelanya terbuka.


Mereka lalu melongok keluar jendela.

"Chota." ucap Hyun Jung.

"Benar, bukan? Bagus, ya?" jawab Woo Jin yang sontak mengingatkan Hyun Jin pada Woo Jin yang dulu.


Flashback...

Woo Jin memberikan gambar yang ia lukis.

"Kak, bagus, kan?  Ini Chan, kakak, dan kakak ipar. Apa kakak ipar terlihat gemuk di gambar ini? Besok kakak bawa saja ke Jerman.

Ini hadiah dariku. Kakak senang?" ucap Woo Jin.

Flashback end...


Hyun Jung tersenyum haru menatap Woo Jin.


Jennifer bicara dengan si wanita bersepatu kuning di kafe.

"Awalnya aku tidak mengenalimu karena kau sudah banyak berubah. Kuperhatikan ada anak-anak SMA keluar dan masuk ke

rumah itu. Kau sudah menikah?" tanya wanita itu.

"Belum." jawab Jennifer.

"Aku tetap senang bisa bertemu lagi denganmu setelah sekian lama." ucap wanita itu.

"Aku tidak menduganya. Aku kira kau tidak ingin lagi bertemu denganku." jawab Jennifer.


Woo Jin dan Hyun Jung baru saja turun ke bawah ketika Chan menyusul mereka ke bawah.

"Eomma!" teriak Chan.

"Ibumu masih di sini. Tidurmu nyenyak?" jawab Hyun Jung.

"Ibu tadi bersama siapa dan sedang apa?" tanya Chan.

"Menurutmu apa? Ibu mengobrol dengan pamanmu." jawab Woo Jin.

Chan melirik Woo Jin. Woo Jin mengangguk, memberi isyarat kalau semua baik-baik saja. Chan pun langsung menarik nafas lega.

"Sebaiknya ibu segera berangkat." ucap Hyun Jung.

"Secepat ini?" tanya Chan.

"Ayo. Aku akan mengantar kakak ke bandara." jawab Woo Jin.

Seo Ri berlari ke atas. Tak lama setelah Seo Ri naik ke lantai atas, Hyun Jung bilang tasnya tertinggal di atas dan langsung pergi ke lantai atas.


Seo Ri sedang mencari sesuatu di laci ketika Hyun Jung naik ke atas.

"Kita belum sempat mengobrol." ucap Hyun Jung.

"Ini. Tumit anda terluka karena sepatu." jawab Seo Ri. Ia memberikan plester pada Hyun Jung.

Hyun Jung tersentuh.

"Ya ampun. Aku memang ingin memakainya, tapi lupa. Terima kasih Aku senang melihat mereka baik-baik saja. Pasti kau mengurus mereka dengan sangat baik.." ucap Hyun Jung.

"Justru mereka yang sudah membantuku." jawab Seo Ri.

"Lain kali kita bisa mengobrol. Aku harus mengejar pesawat." ucap Hyun Jung.


Woo Jin sudah menunggu di mobil. Chan tiba-tiba nongol dan membuka pintu belakang mobil. Tapi Hyun Jung langsung menutupnya. Chan bilang, ingin ikut mengantar ibunya.

"Targetmu adalah kemenangan. Jangan dipikirkan, tapi dirasakan." jawab Hyun Jung.


Saat Hyun Jung hendak masuk ke mobil, Chan memeluknya.

"Maafkan aku, ibu." ucap Chan.

"Kau aneh sekali. Kenapa minta maaf?" tanya Hyun Jung.

"Aku memang sering membuat Ibu cemas, ya? Aku akan mengasuh Paman Gong dengan baik. Jangan khawatir Titip salam juga untuk ayah." jawab Chan.

Woo Jin tertawa mendengarnya.


Mereka pun pergi. Setelah mereka pergi, Chan dan Seo Ri kembali ke dalam.

"Astaga, senang rasanya bisa bertemu dengan ibu setelah sekian lama." ucap Chan.

Chan lalu bicara pada Seo Ri.

"Kau pasti terkejut, kan?" tanya nya.


Tiba-tiba saja, Seo Ri berlari keluar dan mengejar mobil Woo Jin.

"Chakkamanyo! Chakkamanyo!" teriak Seo Ri.

Chan ikut menyusul Seo Ri.

Hyun Jung yang melihat Seo Ri dari spion pun menyuruh Woo Jin berhenti.


Woo Jin dan Hyun Jung turun dari mobil.

"Maafkan aku. Aku bukan pembantu. Aku menumpang dengan mereka. Dahulu aku tinggal di rumah itu. Kukira keluargaku masih tinggal di rumah itu tapi aku kehilangan kontak dengan mereka Maafkan aku sudah membohongi anda Aku akan berusaha keras untuk pindah dari rumah itu." ucap Seo Ri.

"Aku hanya punya satu pertanyaan karena harus mengejar pesawat. Tidak, sebenarnya dua. Apa kau yang mengajari Woo Jin cara menempatkan tanaman?" tanya Hyun Jung.

"Ne." jawab Seo Ri.

"Kau juga yang mengajarinya membuka jendela dengan penyedot?" tanya Hyun Jung.

"Tapi kenapa anda menanyakan itu?" tanya Seo Ri bingung.

"Itu saja yang ingin kuketahui." jawab Hyun Jung.

"Maafkan aku karena tidak jujur sejak awal." ucap Seo Ri.

"Aku kenal Woo Jin selama 30 tahun dan aku ibunya Chan selama 19 tahun. Mereka berdua sudah berusaha keras untuk melindungimu. Pasti mereka punya alasan." jawab Hyun Jung.


"Apa? Begitu saja?" tanya Chan pada ibunya.

"Ani, ige kkeut (tidak, begini akhirnya). " jawab Hyun Jung, lalu menendang tengkuk Chan.

Chan pun meringis. Woo Ji tertawa melihatnya.

Hyun Jung lalu meninju pelan perut Chan.

"Terus lah berlatih dengan keras." ucap Hyun Jung.

Hyun Jung lantas melirik Seo Ri.

"Sampai jumpa lain kali." ucapnya.

"Kembalilah ke rumah." suruh Woo Jin.


Mereka pun melanjutkan perjalanan.

"Ibuku memang keren. Harusnya kuceritakan saja sejak awal." ucap Chan.

Seo Ri masih merasa tidak enak.


Malam pun datang. Seo Ri gelisah menunggu Woo Jin diluar. Tak lama kemudian, Woo Jin pulang.

"Kakakmu sudah pergi? Dia tidak bilang apa-apa? Aku rasa dia akan merasa sangat kecewa." ucap Seo Ri.

"Entah bagaimana cara memberitahumu. Kakakku memikirkan lagi soal ini. Dia tidak nyaman dengan keadaan di sini. Dia juga bilang kau harus pergi secepatnya." jawab Woo Jin.

Seo Ri mengerti. Ia berkata, juga akan melakukan hal yang sama jika ada orang asing tinggal di rumahnya.

Seo Ri masuk ke dalam, hendak berkemas tapi Woo Jin menahannya.

"Aku hanya bercanda. Seharusnya kau diam selama dua jam." ucap Woo Jin.

"Ini tetap tidak akan berakhir setelah dua jam Mungkin aku memang bisa membohonginya selama dua jam, tapi aku akan terus membohonginya. Dia bukan orang biasa Dia itu kakak dari pria yang paling kukagumi dan kuhormati Dia juga ibunya Chan Jadi, aku tidak mau membohonginya Aku juga merasa itu salah." jawab Seo Ri.

Woo Jin terdiam menatap Seo Ri.

"Kenapa melihatku begitu?" tanya Seo Ri.

"Aku juga tidak tahu." jawab Woo Jin.

Woo Jin terus memperhatikan Seo Ri.


Tak lama berselang, Chan pulang. Seo Ri langsung mencari alasan kalau mereka sedang melihat bunga.

Deok Soo dan Hae Beom masuk. Mereka membawa semangka. Seo Ri langsung menghampiri mereka.

"Kelihatannya enak." ucap Seo Ri sambil memukul pelan semangkanya.

"Ibu berangkat dengan lancar?" tanya Chan pada Woo Jin. Woo Jin mengangguk.


Jennifer tiba-tiba muncul. Ia lewat di tengah-tengah Deok Soo dan Hae Beom dan mengambil semangkanya.

"Aku akan memotong semangkanya." ucap Jennifer.


Deok Soo, Hae Beom dan Seo Ri langsung mengikuti Jennifer.


Mereka makan semangka. Deok Soo menyemburkan bijinya dan biji2 semangka itu menempel di wajahnya sendiri dan wajah Hae Beom juga. Sontak mereka semua tertawa.

Lalu Chan menyuruh Seo Ri melakukannya. Seo Ri mencobanya, lalu kebingungan mencari biji semangkanya.

Sepertinya ada di sini." ucap Woo Jin.

Chan, Hae Beom dan Deok Soo tertawa. Sementara Seo Ri panic dan bergegas mendekati Woo Jin.


Ia mau menyingkirkan biji semangka itu dari pipi Woo Jin, tapi belum sempat melakukannya, Jennifer memotret Woo Jin.

"Kenapa kau tiba-tiba memotretku?" tanya Woo Jin.

"Aku akan melihat foto ini saat sedang stres Sekarang, saatnya kita berfoto bersama." jawab Jennifer.


Cekrek! Mereka foto bersama.


Chan, Seo Ri, Jennifer, Ha Beom dan Deok Soo pun tertawa melihat foto Woo Jin. Deok Soo bahkan bilang kalau Woo Jin terlihat tampan dengan biji semangka itu.

"Bicara apa kau" Woo Jin protes.

"Memang benar. Paman tampak lucu." jawab Hae Beom.


Ponsel Woo Jin berdering. Woo Jin pun segera menjauh dan menjawab telepon yang ternyata dari kakaknya.

"Kakak sudah tiba di hotel? Kakak pasti letih." ucap Woo Jin.

"Aku letih, tapi sangat senang. Gomapta, Woo Jin-ah karena sudah jujur pada kakak." jawab Hyun Jung.

Flashback...


Di mobil, Woo Jin memberitahu kakaknya alasan Seo Ri tinggal dengan mereka. Ia bilang, Seo Ri tinggal dengan mereka karena alasan pergi dan ada orang lain yang menjadi pembantu mereka tapi sedang keluar.

"Aku yang menyuruhnya tinggal. Aku tidak suka bersama orang asing, jadi, awalnya memang berat Tapi kini, aku ingin dia tinggal dengan nyaman." ucap Woo Jin.

"Nyalakan mobilmu. Kau bisa menceritakannya sambil menyetir." jawab Hyun Jung.

Ketika mobil Woo Jin mulai berjalan, mereka melihat Seo Ri yang berlari mengejar mereka dari spion.

Flashback end...


"Aku juga ingin berterima kasih atas ucapan kakak kepadanya." jawab Woo Jin.

"Kakak juga senang karena kau sudah seperti dahulu lagi. Ngomong-ngomong Woo Jin-ah, kau menyukai gadis itu?" tanya Hyun Jung.

Woo Jin pun terdiam.


Chan terbangun tengah malam. Dengan mata masih mengantuk, dia keluar dari kamarnya dan melihat pintu kamar Woo Jin yang terbuka. Saat hendak menutup pintu kamar Woo Jin, ia terkejut mendapati kamar Woo Jin yang kosong.

"Kemana dia?" tanya Chan. Tapi tak lama berselang, Chan menyadari sesuatu dan langsung berlari ke bawah.

"Paman ada disini?" teriaknya.

Seketika, ia meringis sakit karena lututnya mencium gagang tangga.

Ringisan Chan membuat Jennifer dan Seo Ri datang.

"Kenapa kau terbangun di tengah malam begini?" tanya Jennifer.


Ponsel Woo Jin berdering. Chan dan Seo Ri bergegas ke kamar Woo Jin. Chan terkejut Woo Jin pergi tanpa membawa ponselnya.

Di pintu, Jennifer berdiri sambil memegang ponselnya. Dia lah yang me-misscall ponsel Woo Jin.

"Dia pergi ke mana di pukul 4.00 begini?" tanya Seo Ri.


Mereka menunggu di kamar Woo Jin sampai pukul tujuh. Woo Jin tak kunjung pulang.

"Apa sebaiknya kita menghubungi polisi?" tanya Seo Ri berkaca-kaca.

"Tidak perlu. Lagi pula, mereka tidak akan mengajukan laporan untuk pria dewasa yang menghilang selama beberapa jam." jawab

Jennifer.


Chan pun memeriksa lemari Woo Jin. Ia menarik nafas lega melihat pakaian Woo Jin masih ada.

"Dia tidak pergi." ucap Chan.

"Apa maksudmu?" tanya Seo Ri.

"Pamanku punya kebiasaan melancong ke berbagai tempat Dia pernah pergi dengan tiba-tiba selama enam bula dan berpenampilan seperti manusia gua." jawab Chan.


Chan lantas kembali duduk di tepi ranjang Woo Jin.

"Ada dimana dia sekarang?" tanya Seo Ri.

"Petani sejati selalu membajak sawah meski sedang banjir ataupun sedang kemarau, kutipan dari Xun Zi Baiklah, Semua. Kita harus bekerja." jawab Jennifer, lalu keluar dari kamar Woo Jin.


Di kantor, Seo Ri tak bisa konsentrasi. Ia memainkan pulpennya dan terus memikirkan Woo Jin.

Di sebelahnya, Hyun mengangkat tangan dan meminta maaf soal kesalahannya. Ia berjanji tidak akan pergi ke klub selama sebulan untuk menebus kesalahannya.


Hee Soo datang dan langsung memukul Hyun.

"Dasar bodoh!" ucap Hee Soo pada Hyun.


Lalu, Hee Soo menunjukkan dua buku yang sama pada Seo Ri.

"Seo Ri-ssi,  ini sama-sama Bagian Dua. Sepertinya kau membeli dua buku yang sama." ucap Hee Soo.

Seo Ri langsung bangun.

"Ya ampun, aku akan menukarnya. Aku akan segera kembali." ucapnya kemudian mengambil satu buku dari tangan Hee Soo dan beranjak pergi.


"Di mana Woo Jin? Banyak yang mencemaskannya." ucap Hee Soo.

"Dia selalu meminta kita membuangnya ke Kroasia. Mungkin dia ingin ke sana sendirian dan hidup seperti manusia gua." jawab Hyun.

"Dia bukan orang yang suka melepas tanggung jawab. Serta dia tidak akan lagi pergi begitu saja." ucap Hee Soo.


Seo Ri berdiri di tepi jalan sambil memikirkan Woo Jin. Lampu merah menyala. Seo Ri langsung menyebrang, namun langkahnya seketika terhenti melihat Woo Jin yang berdiri di seberang jalan sedang melambaikan tangan padanya.

Seo Ri tersenyum, tapi hanya sebentar karena setelah itu wajahnya berubah marah. Ia lalu berbalik arah dan berlari menjauhi Woo Jin.

"Kenapa dia berbalik arah?" tanya Woo Jin heran.


Woo Jin mau mengejar Seo Ri tapi lampu hijau keburu menyala. Akhirnya, Woo Jin mengejar Seo Ri dari seberang jalan.

"Kau tidak melihatku?" teriak Woo Jin.

"Dia menghilang tiba-tiba dan membuat satu keluarga cemas Lalu dia muncul dan tersenyum seperti tidak terjadi apa pun Dia membuatku sangat cemas." gerutu Seo Ri.

"Hei, kau tidak melihatku?" teriak Woo Jin lagi.

"Aku tidak melihatmu!" balas Seo Ri.

"Tunggu! Aku tidak akan menjual rumahnya!" teriak Woo Jin.


Seo Ri sontak langsung berhenti melangkah dan menatap Woo Jin.

"Aku bilang, aku tidak akan menjual rumahnya!" teriak Woo Jin lagi.


Mendengar itu, Seo Ri ingin menghampiri Woo Jin tapi tidak bisa karena lampu hijau sudah menyala.

Akhirnya, Seo Ri berlari menuju tangga penyebrangan. Begitu pun Woo Jin.


Mereka bertemu di tangga penyebrangan.

"Kenapa kau berlari begitu cepat?" tanya Woo Jin.

"Sungguh kau tidak akan menjual rumah itu?" tanya Seo Ri.

"Aku menemui ayahku di Pulau Jeju dan dia mengizinkanku untuk tidak menjual rumah itu Halamannya luas dan bagus untuk Chan berolahraga Juga bagus untuk Deok Gu Dan untuk Jennifer.. Benar. Dia menjemur merica di halaman." jawab Woo Jin.


Seo Ri langsung memeluk Woo Jin. Matanya berkaca-kaca.

"Gomawoyo, ahjussi." ucap Seo Ri.

"Rumah itu tidak akan ke mana-mana. Pohon bungur itu juga tidak." jawab Woo Jin.


Woo Jin lalu melepaskan pelukan Seo Ri.

"Jadi, kau tidak usah terburuu-bur mencari pamanmu dan tempat tinggal." ucap Woo Jin lagi.

Seo Ri tersenyum.


"Apa tadi aku tidak kasat mata? Kenapa berpura-pura tidak melihatku?" tanya Woo Jin.

"Kau berbuat hal yang paling mengerikan. Kau menghilang tanpa kabar. Aku takut kau pergi tanpa pamit Aku juga mengira kau menghilang, jadi, aku ketakutan." jawab Seo Ri.

"Tidak akan. Aku tidak akan pernah menghilang." ucap Woo Jin.

Keduanya tersenyum.


Chan lega melihat nama Woo Jin di layar ponselnya. Ia langsung menjawab teleponnya dan memarahi Woo Jin. Deok Soo dan Hae Beom yang berdiri disamping Chan, juga ikut memarahi Woo Jin.

"Diam sebentar." suruh Chan, lalu menjauh dari kedua sohib gesreknya.

"Apa? Pulau Jeju? Menemui kakek? Kenapa?" tanya Chan. Ia pun senang mendengar soal rumah yang tidak akan dijual.


Usai bicara dengan Woo Jin, ia langsung memberitahu kedua sohibnya soal rumah itu. Hae Beom dan Deok Soo ikut senang.

"Tapi bagaimana dengan ayam goreng setengah matang dan ayam acarnya?" tanya Chan.

-Beberapa Jam Sebelumnya-


Woo Jin ke galeri ayahnya yang terletak di Jeju. Sontak, sang ayah kaget melihat Woo Jin yang tiba-tiba mengunjunginya.

"Jal jinaesseoyo, abeoji?" tanya Woo Jin.

Setelah itu, mereka duduk dan membicarakan soal rumah. Tuan Gong meminta penjelasan Woo Jin, kenapa Woo Jin tidak mau rumah itu dijual. Woo Jin mengaku, kalau sekarang dia suka berada di rumah itu.

"Apa kau akan ke luar negeri selama enam bulan setelah pulang bekerja?" tanya Tuan Gong.

"Aku tidak akan begitu lagi. Akan kuurus semuanya. Ayah tidak perlu cemas. Jadi jangan jual...

"Jika kau akan tinggal di Korea, aku tidak akan menjual rumah itu." ucap Tuan Gong.


Setelah itu, Woo Jin langsung pulang ke rumah dan memberitahu Jennifer semuanya. Jennifer ikut senang karena rumah itu tidak jadi dijual.

Flashback end...


Di dapur, Seo Ri sedang membuat kopi. Tak lama kemudian, Woo Jin datang dan Seo Ri berterima kasih karena Woo Jin tak jadi menjual rumahnya.

Lalu, Seo Ri melihat kancing baju Woo Jin yang hampir lepas.

"Tidak masalah." jawab Woo Jin.

"Tentu saja masalah. Kau seperti orang ceroboh." ucap Seo Ri, lalu mengambil benang dan jarum.

"Waktu itu kau bilang aku bodoh. Sekarang kau bilang aku ceroboh. Kau tidak sadar ucapanmu itu kejam?" protes Woo Jin.

"Jika kancingnya seperti itu, kau seperti ceroboh sungguhan." jawab Seo Ri, lalu mulai menjahit kancing Woo Jin.


Ketika Seo Ri menjahit kancingnya, Woo Jin langsung gugup karena jarak mereka begitu dekat. Seo Ri juga gugup, tapi berusaha bersikap biasa dan fokus menjahit kancing Woo Jin.


Hee Soo tiba-tiba masuk. Seo Ri kaget dan tidak sengaja menusuk hidung Woo Jin dengan jarum.


Sekarang, mereka sedang rapat.

"Besok ada festival musik Aku ada pertemuan, jadi, tidak bisa datang." ucap Hee Soo, lalu meminta Woo Jin datang menggantikannya.

"Aku ada rapat dengan Galeri Soo Art. Aku akan berada di kantor pada siang hari." jawab Woo Jin.

"Hari ini kau datang siang ke kanto tanpa lapor kepadaku, bosmu." ucap Hee Soo.


Woo Jin pun beranjak ke mejanya sambil berkata kalau dia akan pergi ke ruang latihan orkestra.

"Untuk apa? Kau sudah punya jadwal pertunjukan." ucap Hyun.

"Ini konser klasik pertamaku. Lebih baik aku melihat panggungnya secara langsung." jawab Woo Jin.


Hee Soo pun menyuruh Seo Ri pergi dengan Woo Jin.


Seo Ri mengerti dan langsung menghampiri Woo Jin.

"Kau tidak apa-apa? Jika kepalaku tidak keras, hidungmu tidak akan berdarah. Maafkan kepalaku yang seperti batu ini." ucap Seo Ri.

"Kau tidak sengaja. Jadi, tidak perlu meminta maaf. Aku baik-baik saja. Bersiaplah dan kita bertemu di luar." jawab Woo Jin.

Seo Ri mengerti dan kembali ke mejanya.


Woo Jin mengambil kameranya juga earphone nya tapi ia membuang earphone itu ke tong sampah, lalu beranjak pergi.

Sontak, Hee Soo kaget melihatnya.

"Pusat Seni Hanareum"


Maestro terkenal yang mengajak Seo Ri kolaborasi sedang melatih murid-muridnya.

Di pinggir, Tae Rin melakukan evaluasi.


Tak lama kemudian, Woo Jin datang dan menyapa Tae Rin. Tae Rin awalnya ramah pada Woo Jin tapi keramahannya langsung hilang begitu Seo Ri masuk.


Seo Ri mulai memotret beberapa sisi ruangan. Ia meletakkan buku catatannya di meja maestro dan konsentrasi memotret.


Woo Jin dan Tae Rin membahas soal dekorasi panggung.


Si maestro kemudian muncul dan pergi mejanya. Saat itulah, ia melihat buku catatan Seo Ri.

"Woo Seo Ri?" ucapnya sambil memegang buku Seo Ri.

Seo Ri pun bergegas mengambil bukunya dan meminta maaf.

Maestro itu terus memperhatikan Seo Ri. Seo Ri beranjak pergi, tapi kemudian ia berbalik dan menatap si maestro.


Tae Rin cemas melihatnya.

Bersambung ke part 2...

No comments:

Post a Comment