Tuesday, August 28, 2018

Still 17 Ep 9 Part 2

Sebelumnya...


Di part sebelumnya, Seo Ri mengambil buku catatannya dari sang maestro. Ia minta maaf karena sudah meninggalkan bukunya disana. Lalu, ia beranjak pergi tapi kemudian kembali menoleh dan menatap si maestro karena merasa mengenalinya.

"Anda Profesor Shim Myung Hwan?" tanya Seo Ri.

"Kau Woo Seo Ri?" tanya Profesor Shim.

"Sonsaeng-nim!" Seo Ri berseru senang.


Dari kejauhan, Tae Rin menatap cemas keduanya.


Profesor Shim mengajak Seo Ri bicara di ruangannya.

"Kukira kau sudah sembuh dan pergi ke luar negeri untuk bermain violin." ucap Profesor Shim.

"Andai seperti itu, pasti akan sangat menyenangkan." jawab Seo Ri.

"Kau memainkan "Romance" karya Schumann di lobi saat lokakarya?" tanya Profesor Shim.

"Bagaimana anda bisa tahu? Tapi aku tidak melihat anda di lokakarya." ucap Seo Ri.

"Berarti aku benar. Aku mendengarmu bermain." jawab Profesor Shim.

"Aku bermain dengan buruk." ucap Seo Ri.

" Tidak, kau bagus. Teknikmu agak membosankan, tapi interpretasi musik, sentimentalitas, dan resonansimu sama." jawab Profesor Shim.

Lantas, Profesor Shim bertanya apa Seo Ri sudah berhenti bermain violin.

"Aku belum menyerah. Aku tidak yakin bisa bermain seperti dulu tapi bagaimanapun, aku akan mulai bermain lagi." jawab Seo Ri.


Profesor Shim lalu membuka albumnya dan menunjukkan satu foto.

"Kau ingat ini?  Itu hari pertama praktik penampilan remaja." ucap Profesor Shim.

"Ya, aku ingat. Ini benar-benar aku. Aku seperti ini belum lama ini. Beginilah diriku yang kuingat." jawab Seo Ri sambil menatap lirih dirinya yang ada di foto.


Tae Rin mondar-mandir dengan wajah resah. Ia tak bisa berhenti memikirkan Profesor Shim dan Seo Ri.

Tak lama berselang, Woo Jin datang. Ia mengaku, ingin mengambil alat ukurnya yang tertinggal.

"Apakah kolegamu masih berbincang dengan Profesor Shim?" tanya Tae Rin.

"Kurasa mereka masih di kantornya." jawab Woo Jin.


Woo Jin lantas berlalu. Tae Rin semakin resah. Woo Jin yang sudah hampir sampai di pintu keluar, kembali menoleh ke Tae Rin. Ia bertanya-tanya, kenapa Tae Rin terlihat begitu resah.


Pria yang memanggil Seo Ri 'Wanita Pintar' saat di lokakarya, sedang berbicara dengan Tae Rin di telepon. Ia bertanya, kenapa suara Tae Rin terdengar begitu resah. Ia menduga, itu karena konser klasik itu. Lalu, ia pun mengaku mengerti dan memutuskan mengadakan rapat untuk membahas konser klasik itu.


Selesai bicara dengan Tae Rin, ia melihat Profesor Shim yang keluar mengantar Seo Ri.

Ia terkejut, itu pegawai dari perusahaan desain panggung.


Seo Ri dan Woo Jin lagi makan tteokbokki. Seo Ri memberitahu Woo Jin, kalau Profesor Shim adalah pimpinan dari Asoasiasi Musik Klasik.

"Dia akan memimpin selama festival berlangsung. Dia bilang aku boleh menggunakan ruang latihan mereka. Dia bilang jangan sungkan untuk datang kapan pun.

Bukankah itu luar biasa?" ucapnya.

Lalu, Seo Ri mengambil pulpennya dan menulis sesuatu.

"Belum lama ini, kukira aku sendirian di dunia ini. Kini banyak sekali orang-orang baik di sekitarku. Aku merasa sangat kaya." ucap Seo Ri.

Woo Jin tersenyum mendengarnya.

Melihat Seo Ri menulis, Woo Jin bertanya apa yang ditulis Seo Ri. Lalu Woo Jin melihat Seo Ri menulis nomor ponselnya.

"Aku tidak punya ponsel. Kau bisa memenangi banyak hal jika terpilih." ucap Seo Ri.

"Hal semacam itu tidak mungkin terjadi." jawab Woo Jin.

"Ayolah. Siapa yang tahu? Aku akan memasukkannya ke dalam kotak." ucap Seo Ri, lalu memasukkan kupon undiannya ke dalam kotak.


Saat Seo Ri sedang memasukkan kupon undian itu ke dalam kotak, Woo Jin melihat nama Seo Ri di buku catatan Seo Ri yang ditulis Seo Ri besar-besar.

"Tidak akan ada yang berani mencuri ini." ucapnya, lalu mendorong foto Seo Ri yang menyembul keluar ke dalam.


Mereka keluar dari warung tteokbokki. Seo Ri kesal karena Woo Jin mentraktirnya.

"Bagaimana jika kau mentraktirku di lain waktu?" tanya Woo Jin.

"Aku juga sudah berpenghasilan, jadi, aku ingin mentraktirmu. Aku tidak enak karena selalu mendapatkan bantuan darimu." jawab Seo Ri.

"Kalau begitu, berikan hal itu kepadaku. Ahjussi." ucap Woo Jin.

Seo Ri pun ngeh kalau yang dimaksud Woo Jin adalah hadiah yang mau ia berikan ke Woo Jin. Seo Ri pun menolak dan berkata, akan memberikan Woo Jin

hadiah yang lebih bagus. Tapi Woo Jin tetap menginginkan hadiah yang itu.

Terpaksalah Seo Ri membuka tasnya dan memberikan hadiah itu pada Woo Jin.


Woo Jin membuka hadiahnya dan tertegun melihat isinya.

"Jangan menutupi telingamu dengan pelantang telinga yang rusak. Kupikir kau bisa menggunakan ini untuk mendengarkan musik yang bagus. Ini terlalu sepele untuk dijadikan hadiah." ucap Seo Ri.

"Ini hadiah yang sangat spesial. Gomawoyo. Pasti akan kugunakan." jawab Woo Jin.


Sekarang, Woo Jin sudah berada di kamarnya. Saat mau melepas kemejanya, ia melihat kancingnya yang tadi dijahitkan Seo Ri. Sontak, Woo Jin tersenyum sambil memegangi kancingnya.


Tepat saat itu, Chan masuk dan melihat pamannya senyum-senyum sendiri.

"Mr. Gong.  Kenapa diam? Keponakan yang imut ini memanggil paman." ucap Chan.

"Apa?" tanya Woo Jin.

"Ini sangat penting dan aku hampir lupa. Mimpikanlah aku." jawab Chan.

Woo Jin tersenyum. Chan lalu berlalu dari kamar Woo Jin.


Keesokan harinya, Woo Jin mendatangi Galeri Soo Art dan membahas dekorasi panggung dengan si penanggungjawab.

"Kami akan membagi area ini menjadi tiga bagian. Soal panggungnya, kita harus mengubahnya untuk tiap pameran. Kita harus membuat kerangka dasarnya sesederhana..."


Ponsel Woo Jin berbunyi. SMS dari si warung tteokbokki yang memberitahunya kalau ia memenangkan undian yang hadiahnya gratis makan tteokbokki.

"Tteokbokki Kuah?" ucap Woo Jin.

"Sesederhana tteokbokki kuah?" tanya si penanggung jawab heran.

"Maafkan aku." jawab Woo Jin.

Woo Jin tersenyum. Ia tidak menyangka, mereka akan menang.


Woo Jin kembali ke kantor sambil senyum-senyum. Hyun yang melihat Woo Jin senyam senyum jelas heran. Ia bertanya, tumben-tumbenan Woo Jin murah senyum.

"Dimana yang lain?" tanya Woo Jin.

"Rapat Hee Soo diundur besok, jadi, dia keluar untuk mengecek festival musik pulau. Dia mengajak pakar musik klasiknya." jawab Hyun.

"Begitu rupanya." ucap Woo Jin kecewa, lalu kembali ke mejanya.

Hyun pun meneguk minumnya. Tapi ia terkejut gara-gara kaget mendengar Woo Jin yang bertanya, kapan mereka akan kembali.

"Mereka akan naik perahu pukul 19.00, jadi, mungkin sekitar pukul 21.00?" jawab Hyun.

Woo Jin pun memukul-mukul pelan mejanya sambil menggerutu.

"Aku harus memberitahu kami menang." ucap Woo Jin.


Woo Jin terus menatap ponselnya. Tak lama berselang, jam di ponselnya menunjukkan angkka tujuh.

"Sekarang pukul 19.00! Mereka pasti sedang di perahu." seru Woo Jin.


Tepat saat itu, Hee Soo menelpon Hyun dan memberitahu kalau mereka tidak bisa pulang.

"Apa? Kenapa tidak bisa? Ini sudah pukul 19.00. Mereka belum naik perahu?" tanya Woo Jin yang sontak membuat Hyun makin heran.

"Ada peringatan badai, jadi, perahunya dibatalkan. Festivalnya juga dibatalkan." jawab Hyun, lantas berlalu dari hadapan Woo Jin.


Woo Jin lantas menghubungi Hee Soo.

"Apa yang terjadi?" tanya Woo Jin.

"Aku sedang sibuk mencari kamar. Aku akan meneleponmu setelah kami mendapatkan kamar." jawab Hee Soo.

Telepon terputus.


Woo Jin masuk ke rumahnya sambil bertanya-tanya, apa mereka sudah mendapatkan kamar.

Baru masuk, ia mendengar Chan lagi teleponan sama Seo Ri. Sontaklah, si Woo Jin langsung mendekati Chan. Woo Jin pengen bicara sama Seo Ri. Tapi Chan malah mengira Woo Jin menyuruhnya menutup telepon. Alhasil, ia menyudahi pembicaraannya dengan Seo Ri.

"Chan-ah, kapan aku menyuruhmu menutup teleponnya." ucap Woo Jin gemas.


Lalu, ia naik ke lantai atas dengan wajah lesu.

"Dia kenapa?" tanya Chan heran.

Jennifer yang berdiri di sebelah Chan pun paham dengan tingkah Woo Jin.


Sampai di kamar, Woo Jin merasa gerah. Ia mau membuka jendelanya, tapi jendelanya gak bisa terbuka.


Ponsel Woo Jin berdering. Woo Jin pun berusaha mengambil ponselnya dari dalam saku celananya, tapi ponselnya tak mau keluar. Saat ia berhasil mengambil ponselnya, ponselnya malah kelempar ke bawah ke kasur.


Woo Jin melongok ke bawah kasur dan melihat nama Hee Soo di layar ponselnya. Tahu itu dari Seo Ri, ia pun berusaha mengangkat kasurnya.

"Kenapa ini berat sekali? Kenapa aku membeli ranjang batu?" ucapnya gemas.


Woo Jin menggapai-gapaikan tangannya. Dan ia berhasil menjawab ponselnya.

"Kang Daepyo! Bicaralah, aku bisa mendengarmu!" teriaknya.

"Kau bisa mendengarku?" tanya Seo Ri.

Mendengar suara Seo Ri, Woo Jin pun berteriak.

"Aku bisa mendengarmu!"

Tapi Seo Ri gak bisa mendengar suara Woo Jin.

"Ada apa dengan ponselnya? Halo?" tanya Seo Ri.

"Aku bisa mendengarmu! Bicaralah!" teriak Woo Jin.

Dan telepon terputus.


Seo Ri bingung sendiri karena tidak bisa menghubungi Woo Jin. Suara petir tiba-tiba terdengar.


Woo Jin menggunakan penyedotnya untuk meraih ponselnya.

*Kenapa gk dari tadi Woo Jin-ah!! Sumpah sy ngakak, baru kali ini liat Woo Jin seuring-uringan ini*


Tapi saat berhasil meraih ponselnya dan menghubungi Hee Soo, ponsel Hee Soo malah tak aktif.


Woo Jin tambah uring-uringan. Ia terus menatap ke ponselnya sambil mengecat miniaturnya dan tanpa sadar, ia malah mengecat kukunya.

Tepat saat itu, Chan masuk dan bertanya kenapa Woo Jin mengecat kuku.

"Aku sangat menyukai warnanya." jawab Woo Jin.

"Boleh pinjam pengisi daya portabel Paman?" tanya Chan.

"Ambillah, ada di saku depan tasku." jawab Woo Jin.


Chan pun langsung mengambil power bank Woo Jin di tas Woo Jin. Saat itulah ia menemukan foto Woo Jin dan Seo Ri dengan caption, 'Semoga Cinta Kalian Langgeng'.


Jennifer berkaca-kaca membasa pesan di ponselnya.

"Kuharap kau datang hari itu. Aku akan menunggu." isi pesannya.

Lalu ia menatap ke arah kotak musiknya.


Seo Ri dan Hee Soo menginap di sebuah motel. Hee Soo terkejut saat melihat Seo Ri minum bir.

"Apa-apaan ini? Kau belum pernah minum bir sama sekali?" tanya Hee Soo.

"Ya, ini sungguh kali pertamaku. Menurutku rasanya sangat enak." jawab Seo Ri.

"Kenapa banyak sekali hal yang belum pernah kau lakukan? Aku terkadang penasaran apa usiamu sungguh 30 tahun." ucap Hee Soo.

"Astaga, aku memang cenderung agak aneh. Kukira aku akan menjadi orang dewasa yang keren seperti dirimu di usia 30." jawab Seo Ri.

"Maksudmu aku? Kau pikir aku dewasa?" tanya Hee Soo.

"Tentu saja. Kau menangani semua hal dengan sangat baik. Serta, kau dewasa dan keren. Kau orang dewasa yang mengetahui segalanya." jawab Seo Ri.

"Aku tidak tahu apa-apa. Aku hanya berpura-pura tahu. Aku merasa semuda saat aku menjadi mahasiswi usia 20 tahun di Jerman. Aku berpura-pura seakan usiaku 30 tahun, sesuai yang diharapkan dunia ini. Aku mungkin tidak tahu banyak hal, tapi aku yakin tidak ada orang usia 30 tahun yang hidup dan berpikir mereka dewasa." ucap Hee Soo.

"Tunggu, tapi ada yang seperti itu. Pak Gong. Dia sangat dewasa." jawab Seo Ri.


Sontak, Hee Soo tertawa.

"Pria yang sangat kekanak-kanakan dan butuh banyak perhatian itu? Aku belum pernah melihat pria yang begitu membutuhkan perhatian." ucap Hee Soo.


"Bagaimana kalian bisa berteman?" tanya Seo Ri.

"Aku bersekolah di luar negeri dengan cita-cita yang besar. Dan dia satu-satunya orang Korea di jurusanku. Saat itulah aku mulai berteman dengannya. Dia

bahkan lulus SMA di Jerman. Dia sudah cukup lama tinggal di sana. Akan menyenangkan jika dia mengajariku cara bertahan. Tapi kau tahu dia tidak pernah mendengarkan orang lain." jawab Hee Soo.

"Aku sangat penasaran dia seperti apa saat masih muda." ucap Seo Ri.

"Manusia tidak berubah. Dia sama saja seperti sekarang." jawab Hee Soo. Tapi tak lama, Hee Soo meralat ucapannya.

"Aku sebenarnya bertemu dengannya setelah dia berubah. Menurut Hyun Jung dan Chan, dia pernah menjadi bocah yang selalu tersenyum. Tapi tentu saja, aku tidak tahu kenapa kepribadiannya tiba-tiba berubah." ucap Hee Soo.


Sontak, Seo Ri teringat cerita Woo Jin, kalau dulu Woo Jin pernah melakukan hal yang fatal pada seseorang.


"Aku tidak percaya dia berbeda di masa lalu. Tapi melihat dia belakangan ini, aku bisa membayangkan bahwa itu mungkin benar.  Terkadang aku berpikir kau lah alasannya." ucap Hee Soo.

"Aku?" tanya Seo Ri.

"Tidak usah dibahas jika kau tidak mengerti.  Tadi kau belum sempat bicara dengan Woo Jin, bukan? Baterai ponselku mungkin sudah terisi penuh. Aku mau mandi." jawab Hee Soo.


Seo Ri langsung melompat ke ponsel Hee Soo. Ia mau menelpon Woo Jin tapi takut kalau-kalau Woo Jin sudah tidur.

Woo Jin sendiri lagi menunggu telepon Seo Ri. Karena Seo Ri tak kunjung menelponnya, ia pun berniat menelpon Seo Ri tapi gak jadi karena takut Seo Ri sudah tidur.


Woo Jin lalu melihat earphone nya dan teringat saat ia menerima hadiah itu tadi siang di depan warung tteokbokki.

"Ada lagu yang bisa kau rekomendasikan?" tanya Woo Jin.

"Tentu saja ada. Kau suka genre musik apa? Romantis? Klasik? Musik sentimental seperti Chopin? Musik mengawang seperti Debussy? Atau yang menegangkan seperti Beethoven? Atau kau suka...

"Astaga, jangan lupa bernapas. Matamu tiba-tiba bersinar. Apa pun boleh asalkan bagus." jawab Woo Jin.

"Kalau begitu... kau sebaiknya mendengarkan musik mebel." ucap Seo Ri.

"Kenapa tiba-tiba membahas membel?" tanya Woo Jin.

"Musik Erik Satie disebut sebagai musik mebel. Itulah lagu-lagu yang bisa kau dengarkan dengan nyaman. Dari semua lagu yang dia mainkan, aku merekomendasikan Je Te Veux." jawab Seo Ri


Sekarang, Woo Jin sedang mendengarkan musik Je Te Veux sambil menatap pohon bungur.

Lalu ia kembali teringat percakapannya dengan Seo Ri di depan warung tteokbokki.

"Je Te Veux? Apa artinya?" tanya Woo Jin.

"Artinya, aku menginginkanmu." jawab Seo Ri.


Hee Soo sudah tertidur tapi Seo Ri masih terjaga, memikirkan Woo Jin.


Keesokan harinya, Chan yang mau pergi latihan pun heran melihat pamannya sudah bangun.

"Aku harus berpamitan dengan keponakanku yang hendak berlatih. Kau sudah membawa obatmu? Bagaimana dengan pakaian dalammu?" tanya Woo Jin.

"Apa Paman Bu Gong Hyun Jung? Astaga, kukira Paman adalah ibuku." jawab Chan.

"Kau harus membeli makanan bersama Hae Beom dan Deok Soo." ucap Woo Jin.

Woo Jin lalu memberikan kartu kreditnya.

Chan bilang, pamannya terlalu berlebihan tapi tetap mengambil kartu kredit pamannya dengan wajah berbinar.


Ponsel Woo Jin berdering. Telepon dari Hee Soo yang mengabarinya kalau ia dan Seo Ri masih belum bisa pulang lantaran cuaca.

"Aku mau gila di sini. Di sini sudah tidak hujan, jadi, kukira akan baik-baik saja. Tapi masih ada peringatan gelombang tinggi karena badai. Aku harus menghadiri rapat pukul 11.30. Bisakah kau dan Hyun menggantikanku menghadiri rapat?" pinta Hee Soo.

"Pukul 11.30?" tanya Woo Jin panik.


Woo Jin langsung buru-buru keluar. Ia bahkan memasang sepatunya sambil berlari.

Diluar, ia bertemu Jennifer yang lagi menyiram tanaman.

"Aku ingin mengambil cuti sampai besok siang." ucap Jennifer.

"Tentu, silahkan." jawab Woo Jin.


Woo Jin lalu kembali berlari sambil memasang sepatunya.

"Dia pasti akan terjatuh." ucap Jennifer.

Dan benar saja, Woo Jin terjatuh. LOL LOL LOL


Chan dan tim nya lagi berlatih dan diawasi pelatih mereka.


Selesai berlatih, Hae Beom dan Deok Soo membaca artikel di internet tentang Jun Hyuk dan Lee Seon Min yang pacaran.

Tepat saat itu, seorang bocah laki-laki bermain bola di dekat sungai. Chan melihatnya.

"Berbahaya bermain di sana." ucap Chan.


Tapi kemudian perhatian Chan teralih pada Hae Beom dan Deok Soo yang mengatai Seon Min lebih tua 11 tahun.

"Memangnya kenapa? Apa salahnya memacari wanita yang 11 tahun lebih tua?" sentak Chan.


Lalu Chan kembali menoleh ke bocah laki-laki itu dan... terkejut mendapati bocah itu sudah tidak disana.

Chan pun bergegas mendekati sungai dan mendapati bola anak itu mengapung disana.


Chan langsung nyebur ke sungai menyelamatkan anak itu.


Petugas ambulance seketika datang dan meminta Chan ikut ke rumah sakit mendampingi anak itu.

"Dia Min Kyu. Ibunya adalah pemilik toko bunga itu." ucap salah satu ahjumma tetangga anak itu.

"Kabari dia kami akan membawanya ke rumah sakit terdekat." jawab petugas ambulance.


Sekarang, anak itu sudah berada di rumah sakit. Chan ditemani pelatihnya juga Deok Soo dan Hae Beom mendampingi anak itu.

"Dia akan baik-baik saja?" tanya Chan cemas.

"Dia baik-baik saja. Dia hanya tertidur saat ini." jawab suster.

Suster juga menjelaskan kalau mereka sudah menghubungi ibu anak itu.


Chan, Deok Soo, Hae Beom dan pelatih mereka meninggalkan ruang IGD. Tepat saat itu, seorang wanita berlari masuk ke IGD dan sempat menabrak Chan.


Wanita itu mendekati ranjang Min Kyu.

"Kau ibunya?" tanya suster.

Wanita itu mengiyakan. Dia bibinya Seo Ri!


Di kantor, Woo Jin masih uring-uringan memikirkan Seo Ri.

Hyun mengajak Woo Jin makan malam karena hari sudah menunjukkan pukul 6 sore.

"Jam tanganmu rusak? Mana mungkin sekarang pukul 18.00?" jawab Woo Jin.

"Kau menjadi sangat aneh. Kau memang selalu aneh, tapi kau jauh lebih aneh." ucap Hyun.


Woo Jin keliaran di jalanan. Seorang gadis SMA tiba-tiba menanyakan jam padanya. Woo Jin pun melirik ponselnya.

"Kenapa baru pukul 18.30?" keluh Woo Jin.

"Dia ini bicara apa?" ucap si gadis SMA aneh, lalu beranjak pergi.


Tiba-tiba, terdengar suara Seo Ri.

"Ahjussi!"

Woo Jin menoleh dan langsung tersenyum melihat Seo Ri.


"Bagaimana kau bisa tiba di sini? Kudengar tidak ada perahu." tanya Woo Jin.

"Bogosipeoseoyo, Ahjussi." jawab Seo Ri.

Sontak, Woo Jin kaget.

Seo Ri pun bergegas menambahkan ucapannya kalau dia juga merindukan Chan, Jennifer, Deok Soo, Hyun dan semuanya.


Woo Jin diam saja. Ia terus menatap Seo Ri.

"Kenapa menatapku seperti itu?" tanya Seo Ri.

Woo Jin pun teringat pertanyaan sang kakak, apakah dia menyukai Seo Ri.

"Kurasa begitu." ucap Woo Jin, lalu terus menatap Seo Ri.

Seo Ri yang malu, pun mengajak Woo Jin pulang dan buru-buru pergi.


Di tempat latihan, Chan menghubungi Hee Soo.

"Hai, Nona Kang. Perahunya bisa berlayar besok? Bibi sedang apa?" tanya Chan.

"Apa maksudmu? Dia sudah pulang. Kami tiba di Seoul hari ini." jawab Hee Soo.

Hee Soo lantas bertanya apa hidung Woo Jin baik-baik saja. Hee Soo cerita, kalau Seo Ri tidak sengaja menusuk hidung Woo Jin dengan jarum selagi menjahit kancing Woo Jin.

"Dia tidak bilang apa-apa. Kurasa dia baik-baik saja. Sampai jumpa, Nona Kang." jawab Chan.


Chan lalu menghubungi Jennifer. Ia mau bicara dengan Seo Ri.

"Aku tidak di rumah saat ini. Aku akan pulang besok. Aku mengambil cuti karena ada urusan pribadi." jawab Jennifer.


Lantas, Chan menghubungi Woo Jin. Tapi belum sempat memencet nomor Woo Jin, ia pun sadar kalau saat ini Seo Ri hanya berdua saja dengan Woo Jin di rumah.


Deok Goo menyambut kepulangan Seo Ri. Tak lama kemudian, Woo Jin masuk. Seo Ri memanggil Chan dan Jennifer. Woo Jin memberitahu Seo Ri kalau Jennifer mengambil cuti dan Chan sedang berlatih.

Tak lama kemudian, keduanya terdiam karena menyadari hanya mereka berdua saja di rumah.


Lalu, mereka menjadi canggung seketika dan buru-buru masuk ke kamar masing-masing.


Sampai di kamar, kedua pipi Seo Ri memerah. Seo Ri heran sendiri, kenapa dia bertingkap seperti itu.


Malam harinya, Chan berlari mengitari lapangan.

Ia teringat kata-kata kakeknya tentang pamannya yang tidak akan melancong lagi dan mulai menyukai rumah itu.


Ia juga ingat saat memergoki Woo Jin dan Seo Ri saling bertatapan di luar rumah.


Lalu ia ingat saat melihat pamannya senyum-senyum sendiri sambil memegangi kancing baju.

Kemudian kata-kata Hee Soo terngiang di telinganya soal Seo Ri yang menusuk hidung Woo Jin dengan jarum selagi menjahit kancing Woo Jin.


Terakhir dia ingat foto Woo Jin dan Seo Ri.

Ya, Chan patah hati!!


Woo Jin turun ke bawah sambil memegang gelas. Bersamaan dengan itu, Seo Ri juga sedang menuju kamarnya. Mereka bertemu. Keduanya salah tingkah lagi.

Woo Jin menjelaskan, kalau ia mau mengambil air.

Seo Ri mengangguk.


Seo Ri lantas berniat ke kamarnya, tapi gak jadi gara-gara ia melihat ada serangga yang terbang di dapur.

Woo Jin pun langsung menghalau serangga itu. Lalu ia membuka jendela dan mematikan lampu.

"Biarkan seperti ini sebentar. Dia akan segera keluar jika kita memadamkan lampunya." ucap Woo Jin.


Beberapa menit kemudian, Seo Ri yang salting ingin menyalakan lampunya. Ia yakin, serangganya sudah keluar.

"Biarkan seperti ini sebentar. Dia belum pergi." ucap Woo Jin sambil memegang tangan Seo Ri.

"Tanganku." jawab Seo Ri.

Woo Jin pun langsung melepaskan tangan Seo Ri dan meminta maaf.


Seo Ri melihat bayangan Woo Jin yang sedang menatap ke arahnya di jendela. Ia pun makin gugup.


Lalu, Seo Ri memberanikan diri menatap Woo Jin. Woo Jin pun mendekatkan wajahnya ke Seo Ri. Ia hendak mencium Seo Ri.


Tapi tiba-tiba, serangganya lewat di depan hidung Seo Ri. Sontak, Seo Ri kaget dan nyaris jatuh. Tapi Woo Jin langsung menahan tubuhnya. Seo Ri terkejut.

Keduanya lalu kembali bertatapan.

Bersambung...

No comments:

Post a Comment