Tuesday, September 4, 2018

Still 17 Ep 11 Part 1

Sebelumnya...


Woo Seo Ri-Gong Woo Jin 💕💕💕


"Woo Seo Ri." panggil Woo Jin dengan mata berkaca-kaca.

"Aku Woo Seo Ri. Eodie apayo? Eotteoke, eotteoke?" jawab Seo Ri cemas.

"Woo Seo Ri." panggil Woo Jin lagi.


Woo Jin lalu memeluk Seo Ri. Seo Ri terpaku.

"Changkaman. Sebentar saja." pinta Woo Jin.


Seo Ri pun memukul-mukul punggung Woo Jin.

Dan Woo Jin menangis di pelukan Seo Ri.


Wajah Woo Jin tampak pucat. Dan itu membuat Seo Ri cemas. Ia pun berniat membelikan Woo Jin obat, tapi Woo Jin malah memegang tangannya.

"Tetaplah disini bersamaku. Hanya itu yang membuatku bisa lebih baik." ucap Woo Jin.

Seo Ri sontak membeku mendengar ucapan Woo Jin.


Seo Ri pun kembali duduk disamping Woo Jin. Ia terus menatap Woo Jin.

Woo Jin menatap Seo Ri.

"Tapi aku mungkin bisa memberitahunya." batin Woo Jin.

(Episode 21, Kau Adalah Tempatku Berlindung)


Woo Jin pergi ke sebuah ruangan terapi musik. Dokter nya ada di sana, sedang mengawasi mentor yang memberikan terapi musik pada pasien.

Lalu, sang dokter pun menatap ke arah jendela dan terkejut melihat Woo Jin.


Mereka lantas bicara diluar.

"Apa terjadi sesuatu? Seharusnya kita bertemu besok." ucap dokter.

"Aku hanya ingin mentraktirmu makan siang." jawab Woo Jin.


Mereka pun makan siang bersama dan Woo Jin mulai bercerita.

"Aku mulai ingin mengumpulkan keberanikanku untuk pertama kalinya. Aku pikir itu akan mustahil, tapi dia membuatku ingin terbuka dan menceritakan semuanya. Tentu saja aku masih merasa bersalah atas insiden itu selama sisa hidupku. Tapi aku tidak ingin lagi menyembunyikannya dari orang lain hanya karena aku merasa bersalah atas sebuah insiden yang terjadi di masa lalu. Terutama padanya." ucap Woo Jin

Dokter pun hanya tersenyum usai mendengar cerita Woo Jin. Sontak Woo Jin bingung dan bertanya kenapa dokternya diam saja.

"Sebenarnya kau sudah tahu apa yang akan aku katakan atau lakukan untuk membantumu. Melihatmu seperti ini hari ini, membuatku mengerti kenapa kau ingin terbuka pada orang itu." jawab dokter.


Dua suster di rumah sakit sedang membahas pria misterius yang sering mengunjungi Seo Ri.

"Dia pasti tidak tahu Woo Seo Ri sudah sadar." ucap suster bertubuh kurus.

"Kurasa dia adalah pria yang membayar biaya rumah sakit Seo Ri." jawab suster yang satunya.

*Tebakan sy, pria ini adalah pamannya Seo Ri. Apakah tebakan sy benar? Let's wait n see..


Pria misterius itu kini berdiri di depan kantor polisi. Sepertinya ia hendak masuk tapi tidak jadi lantaran melihat polisi yang berjaga tengah menatapnya.


Di kantor, Seo Ri terus saja melirik Woo Jin sambil mengetik sesuatu di laptop.

Ia sampai-sampai tak sadar dengan apa yang diketiknya.


Tak lama kemudian, Hyun datang. Hyun mengaku tidak sengaja menjatuhkan foto Seo Ri.

Hyun lalu bertanya, yang mana Seo Ri di foto itu.

Seo Ri yang masih melirik Woo Jin, menunjuk Profesor Shim.

"Apa kau pria setengah baya?" tanya Hyun.

"Yeogi, yeogi." jawab Seo Ri sambil menunjuk ke sudut foto.

"Lupakan. Kau bertindak begitu dingin sejak insiden ikan." ucap Hyun sebal.


Seo Ri pun langsung pura-pura sibuk menjawab telepon begitu Woo Jin menatapnya.


Seo Ri kembali melirik Woo Jin. Ketika Woo Jin kembali menatapnya, ia pun pura-pura sibuk memukuli nyamuk.

"Bisakah kau berhenti melakukan itu dan membantuku dengan daftar musik klasik?" pinta Woo Jin.

Seo Ri pun langsung berdiri dan beranjak ke meja Woo Jin.


Woo Jin pun menempelkan kertas di artikel One Festival. Lalu, ia memberikan artikel itu dan menyuruh Seo Ri mengedit daftarnya.

"Daftar?" tanya Seo Ri.

Ia terpengarah membaca pesan Woo Jin yang tertulis di kertas itu.

Jangan menatapku terus. Aku baik-baik saja. Matamu bisa copot nanti.


Seo Ri pun langsung menatap ke Woo Jin. Woo Jin meyakinkan Seo Ri dirinya baik-baik saja.

Seo Ri mengerti dan langsung menuju ke mejanya tapi ia balik lagi menatap Woo Jin.

"Aku baik-baik saja." bisik Woo Jin.


Seo Ri pun kembali ke mejanya. Ia mencabut pesan yang ditulis Woo Jin dari artikel One Festival dan meletakkannya di meja.

Di meja, banyak pesan serupa yang ditulis oleh Woo Jin.


Tapi Seo Ri masih saja memandangi Woo Jin.


Tak lama kemudian, Hee Soo datang dan Woo Jin langsung mengajaknya rapat.

"Tidak bisakah kau membiarkanku istirahat dulu sekitar 10 menit?" pinta Hee Soo.

"10 menit? Tidak bisa." jawab Woo Jin.

Woo Jin pun berlalu dari hadapan Hee Soo yang menatap ke arahnya dengan tatapan heran.


Mereka pun mulai rapat.

"Aku membawa ide dan menggambar sketsa. Konsepnya adalah dapat melihat musik klasik." ucap Woo Jin.

"Melihat musik klasik?" tanya Hee Soo.

Woo Jin mengangguk. Ia pun mulai menunjukkan hasil desainnya.

Woo Jin lantas berkata, pertunjukan musik klasik terkadang membosankan karena tidak memberikan banyak informasi.


Hee Soo berkata, jika ada adegan kereta di musikal dan desain panggung terlihat seperti kereta api.

"Jika itu adalah adegan pesta, maka desain panggung harus terlihat seperti ruang prasmanan. Wae? Agar penonton dapat berkonsentrasi pada jalan cerita." ucap Hee Soo.

"Jadi maksudmu kita harus deskripsikan lagu dengan mengubah desain panggung? Sama seperti merancang tahapan musik?" tanya Hyun.

"Ya dan kita dapat mengubah secara visual latar belakang panggung setiap kali lagu berubah. Mungkin terasa asing tapi ini festival dan layak dicoba." jawab Woo Jin.

Hee Soo setuju dengan ide Woo Jin.

Hyun pun berkata, bahwa Seo Ri banyak membantu mereka. Hee Soo setuju dengan kata-kata Hyun.


Chan seperti biasa sedang latihan dengan tim nya.

Beberapa menit kemudian, pelatih menyuruhnya berhenti dan istirahat.

Tapi Deok Soo tiba-tiba berteriak, mengajak tim nya terus berlatih.

Sontak si pelatih heran melihat anak didiknya yang tiba-tiba bersemangat.


Hae Beom dan Deok Soo saling memuji satu sama lain. Hae Beom lantas mengajak Deok Soo makan. Ia bilang akan mentraktir Deok Soo.

Deok Soo jelas senang.

Lalu mereka mencari Chan.


Tak lama kemudian, Chan muncul sambil menggendong perahu untuk latihan.

"Untuk apa kau membawanya?" tanya Hae Beom.

"Untuk latihan." jawab Chan.

"Kau tidak lelah? Kau harus berfokus pada balapan tunggalmu." ucap Deok Soo.

"Aku Yoo Chan." jawab Chan, lalu pergi.


Malam harinya... Woo Jin dan Seo Ri berjalan-jalan di sekitar taman. Woo Jin mengaku, awalnya ia tidak mengerti saat membaca materi yang diringkas Seo Ri tapi saat teringat Seo Ri yang mengaku bisa melihat musik, ia pun seketika mendapatkan ide.

"Aku mencarimu karena aku ingin kau menjadi orang pertama yang tahu ideku. Gomawoyo, kau banyak membantuku." ucap Woo Jin.

"Aku tidak tahu apa itu tapi senang rasanya bisa bermanfaat. Aku merasa lapar tapi aku merasa kenyang." jawab Seo Ri.

"Jika kau lapar, aku bisa memberimu sesuatu." ucap Woo Jin.

"Apa?" tanya Seo Ri.

"Air mancur. Kau menyukai air mancur, kan? Makan sana." jawab Woo Jin.


Seo Ri pun ingat saat ia minum air mancur dan langsung menyemburkannya saat tahu bukan air mancur lah yang bisa diminum.

Kesal, Seo Ri pun membalas Woo Jin dengan menyebut tong sampah sebagai benda seni.


Flashback...

Woo Jin yang ingin mengantarkan Seo Ri pulang tapi malu mengajaknya secara terang-terangan, akhirnya mencari alasan dengan menyebut bebek-bebekan sebagai benda seni. Ia memberikan bebek-bebekan itu pada Seo Ri dan menyuruh Seo Ri masuk ke dalam mobil.

Flashback end...


"Aku pikir itu potongan metafora yang mewakili jiwa yang hancur. Bisakah kau memberitahuku makna dibalik karya seni itu?" balas Seo Ri dengan wajah puas.

"Tidak boleh mengejek orang seperti itu." protes Woo Jin.

"Ah, maaf. Tapi apakah itu termasuk karya seni juga? Apa kau ingin membawanya pulang dan melakukan penelitian?" tanya Seo Ri sambil menunjuk sebuah bangku.

Woo Jin pun menghela nafas.

"Aku pergi saja."

Seo Ri tertawa melihat ekspresi Woo Jin.

Woo Jin berjalan duluan, tapi Seo Ri tidak ikut dan malah melihat air mancur.


"Kenapa tidak ikut? Apa kau sedang memikirkan cara untuk mengejekku lagi?"

"Tidak, aku senang karena bisa mendengar musik dari sini." jawab Seo Ri.

"Mendengar musik?" tanya Woo Jin bingung.

"Ketika aku pergi untuk menonton konser di pusat seni Seoul, ada air mancur yang memancur dengan musik dan lampu." jawab Seo Ri.

"Air mancur yang memancur dengan musik dan lampu? Ada banyak tempat seperti itu sekarang." ucap Woo Jin.

Seo Ri tidak percaya dan mengira Woo Jin tengah mencoba menipunya.

"Apa yang akan kau lakukan jika tempat itu benar-benar ada?" tanya Woo Jin.


Woo Jin pun mengajak Seo Ri ke tempat itu.

Seo Ri pun langsung takjub melihat air mancur yang memancur dengan musik dan lampu itu.

Tiba-tiba, terdengar suara musik.


Woo Jin langsung berseru, "Je Te Veux!"

"Kau mendengarnya?" tanya Seo Ri.

"Tentu saja." jawab Woo Jin.

Seo Ri pun senang Woo Jin mendengar lagu rekomendasinya.


Seo Ri pun tersenyum menikmati alunan musik Je Te Veux. Woo Jin tak henti memandangi Seo Ri.

Seo Ri lalu menatap Woo Jin. Keduanya saling bertatapan.

Keduanya lalu berjalan-jalan di sekitar taman.

"Kakimu tidak sakit? Ayo kita duduk sebentar." ajak Woo Jin.


Seorang pria tiba-tiba datang, menawari tikar dengan harga 5 dollar.

"Ada romansa di Sungai Han. Aku yakin kau ingin duduk di atas tikar dengan pacarmu." ucap pria itu.

Sontak keduanya kaget. Seo Ri langsung membantah dan mengatakan dirinya bukan pacar Woo Jin.

Sementara Woo Jin malah mengeluarkan uangnya dan membeli tikar itu.

Muka Seo Ri mulai memerah dikira pacar Woo Jin.


Woo Jin lantas melihat seekor anjing yang diajak-ajak jalan oleh pemiliknya. Sontak, ia langsung meminta izin pemiliknya untuk membelai anjing itu.

Woo Jin berteriak pada Seo Ri, kalau anjing itu mirip seperti Deok Goo. Seo Ri tertegun melihatnya.


Woo Jin lantas menghampiri Seo Ri.

"Kau lihat? Dia terlihat persis seperti Deok Goo." ucap Woo Jin.

Seo Ri hanya tersenyum menatap Woo Jin.

"Kenapa kau menatapku seperti itu?" tanya Woo Jin.

"Karena kau tampan." jawab Seo Ri.

"Aku?" tanya Woo Jin.

"Sepertinya sekarang kau hidup tanpa banyak beban, tidak cemberut lagi." jawab Seo Ri.

"Itu berkat seseorang." ucap Woo Jin yang juga tersenyum.


Seo Ri duduk sendirian di depan Sungai Han.

Tak lama kemudian, ia menoleh dan melihat Woo Jin sedang berjalan ke arahnya.

Tapi Woo Jin berhenti sebentar. Ia mengambil air mineral dari dalam plastik yang ditentengnya, lalu menyiramkan airnya ke tanaman yang ada di depannya.

Melihat itu, Seo Ri langsung teringat saat melihat Woo Jin remaja melakukan hal yang sama.

Woo Jin menghampiri Seo Ri. Ia mengaku, baru saja membeli beberapa cemilan.

Lantas, Woo Jin duduk di samping Seo Ri.


Seo Ri masih ternganga menatap Woo Jin.

"Kalau kau membuka mulutmu begitu, lalat akan masuk." ucap Woo Jin.

Sontak Seo Ri langsung menutup mulutnya tapi ia masih terus melihat Woo Jin.

"Kenapa menataku seperti itu?" tanya Woo Jin.

"Aku teringat seseorang." jawab Seo Ri.


"Siapa orang itui?" tanya Woo Jin.

"Aku berharap." jawab Seo Ri.

Seo Ri lantas ingin bertanya, apakah Woo Jin adalah seseorang yang berada dalam ingatannya. Tapi saat mengingat kata-kata Chan dan Hee Soo tentang Woo Jin yang sekolah di Jerman, ia tidak jadi menanyakannya dan yakin seseorang yang ada di ingatannya bukanlah Woo Jin.

"Aku lapar!" seru Seo Ri.

"Minum dulu." jawab Woo Jin, lalu membukakan tutup botol minumannya dan memberikannya pada Seo Ri.

Seo Ri pun bertanya-tanya dalam hatinya, kenapa tiba-tiba ia teringat pada Woo Jin remaja.


3 sekawan pulang sambil menikmati minuman yang banyak krim kocok di atasnya.

Mereka sibuk membicarakan harus memakai jas apa untuk menghadiri pernikahan pelatih mereka.

Jennifer tiba-tiba keluar dari dapur membawakan mereka jus.

"Daripada minum-minum minuman yang banyak krim kocok di atasnya yang tidak baik untuk para atlet, karena dapat meningkatkan lemak tubuh yang menghentikan pembentukan otot, kenapa kau tidak minum jus jeruk peras yang membantu tubuhmu menyimpan glikogen?" ucap Jennifer.

Jennifer menyuruh mereka menukarkan minumannya dengan jus jeruk yang ia buat.

3 sekawan itu menurut dengan ekspresi tercengang.


Jennifer kemudian menatap mereka bertiga-tiga satu per satu. 3 sekawan mengerti dan langsung meminum jus nya.


Mereka lalu duduk di meja makan yang sudah terhidang berbagai macam makanan enak.
 
Tapi tiba-tiba, Jennifer datang membawa papan tulis bertuliskan, " D-7 Untuk Pertemuan Nasional, Paket Makan Jennifer".

"Mendayung adalah jenis olahraga yang membutuhkan stamina anaerobik. Jadi disarankan agar kau mengkonsumsi 60 hingga 70 persen karbohidrat, dibawa 25 persen lemak dan 15 persen protein. Ayo pastikan kau mendapatkan medali dengan rencana menyeluruh dan asupan nutrisi sempurna." ucap Jennifer.


Setelah itu Jennifer pergi.

"Aku tidak mengerti apa yang dia bicarakan." ucap Hae Beom.

"Siapa Jennifer?" tanya Deok Soo.

Lalu 3 sekawan itu melihat Jennifer sedang menikmati teh.


Woo Jin dan Seo Ri sudah mau pulang. Tapi hujan tiba-tiba turun.

Woo Jin pun menggunakan tikar sebagai payung.

Seo Ri lalu mengajak Woo Jin lari.


Mereka berteduh dibawah terowongan bermain anak-anak yang ada di taman.

"Sudah gerimis, mungkin akan segera berhenti." ucap Woo Jin.

Seo Ri pun teringat saat dirinya terpaksa berteduh dan menginap di dalam terowongan setelah tahu rumahnya bukan rumahnya lagi.

"Aku pikir kau orang yang tidak perhatian. Pada hari ketika aku pergi ke rumahmu, karena aku pikir pamanku masih tinggal disana, aku datang kesini untuk berteduh sendirian. Aku benar-benar takut berada disini sendirian. Aku tidak pernah menyangka akan duduk berteduh disini dengan seseorang dan aku tidak pernah berpikir kau lah orangnya." ucap Seo Ri.


Seo Ri menengadahkan tangannya untuk mencari tahu apakah hujan sudah berhenti.

Woo Jin pun langsung menggenggam tangan Seo Ri.

"Hujannya belum berhenti. Tetaplah seperti ini sebentar lagi." ucap Woo Jin.


Woo Jin lantas menatap Seo Ri dan teringat kata-katanya pada dokternya.

"Saat ini aku harus menunggu dan mendukungnya. Memberitahu perasaanku sesegara mungkin dan menjadi pacarnya. Kurasa aku yakin dan siap. Jadi aku akan berada di sisinya sampai dia siap. Dia memiliki banyak hal untuk di atasi. "


Keesokan harinya, seseorang berstelan jas diam-diam masuk ke kamar Woo Jin dan memakaikan masker ke wajah Woo Jin.

Sontak, Woo Jin terbangun dan kaget melihat seseorang di hadapannya.

Orang itu Hae Beom.

"Apa yang kau lakukan disini?" tanya Woo Jin.

"Aku memakai ini karena mau ke pernikahan pelatih. Akhir-akhir ini kau begitu sibuk menyiapkan festival." jawab Hae Beom.

"Bagaimana kau tahu jadwalku?" sewot Woo Jin.

"Kulitmu terlihat sangat kering. Aku akan merawat kulit paman." jawab Hae Beom, lalu beranjak keluar.

"Kenapa dia harus merawat kulitku?" tanya Woo Jin heran.


Woo Jin lantas turun dari tempat tidurnya dan melepaskan maskernya.

Lalu ia tersenyum saat melihat tikar itu.


Tapi kemudian ia teringat cerita Seo Ri yang berteduh di terowongan itu.

Setelah itu, ia teringat Deok Goo yang terus menerus menatap ke arah jendela malam itu.

Lalu ia teringat pengakuan Seo Ri yang tidak sengaja melihat pamannya di jalanan.


Lamunan Woo Jin pun buyar karena bunyi ponselnya. Telepon dari Hee Soo yang mengingatkannya kalau mereka ada rapat dengan Tae Rin jam 10 nanti.

Woo Jin pun berkata, kalau ia harus mampir dulu ke suatu tempat.


Chan yang baru bangun keluar dari kamarnya sambil menguap lebar.

Di depan kamar, ia bertemu Hae Beom yang sudah siap dengan jasnya.

Tak lama kemudian, Deok Soo datang. Chan dan Hae Beom langsung tertawa melihat Deok Soo yang memakai stelan jas.

 "Aku membawa donat. Cepat makan sebelum Jennifer melihat." ucap Deok Soo.


Tapi baru makan satu gigit, Jennifer keluar dari kamar Woo Jin. Sontak, 3 sekawan itu langsung menyembunyikan donatnya dan menatap Jennifer dengan wajah tegang.

"Kalian disini berpakaian rapi. Apa resepsinya mengadakan prasmanan?" tanya Jennifer.

3 sekawan itu sontak menggeleng dengan mulut tertutup rapat.

"Lalu apa mau steak?" tanya Jennifer.

Mereka mengangguk.

"Baguslah, aku akan memberimu asupan makanan yang memadai jika itu prasmanan." ucap Jennifer.


Jennifer lalu beranjak pergi dan 3 sekawan kembali menikmati donat mereka.

Tapi Jennifer balik lagi menatap mereka.

"Donat stroberi dengan banyak bubuk gula, itu adalah yang terburuk bagi para atlet, mengandung polisakarida dan membuatmu cepat merasa lelah. Itu peringatan." ucap Jennifer, lalu pergi.


3 sekawan lalu turun ke bawah. Mereka melihat Seo Ri sedang bicara dengan seseorang di telepon layaknya wanita dewasa.

"Wanita itu benar-benar sesuatu. Dia berbicara seperti orang dewasa." ucap Deok Soo.

"Aku tidak menyadarinya karena kita berteman tapi kenyataannya dia 11 tahun lebih tua." jawab Hae Beom.

Sontak, Chan sewot mendengarnya dan langsung turun ke bawah dengan wajah jutek.


Tapi sampai di bawah dia malah dikatai bayi oleh Seo Ri gara-gara bubuk gula belepotan di bibirnya.

Deok Soo dan Hae Beom pun tertawa mendengar Chan dikatain bayi.

Chan langsung nge-drop di katai bayi.


Di kamarnya, Chan menukar bajunya dengan kemeja. Lalu ia menatap kaosnya dan yakin, Seo Ri mengatainya bayi gara-gara kaos itu.

Chan lalu bertanya pada Chick Junior, apa semua itu karena kaosnya.

Dan ia syok ayamnya tidak menjawab pertanyaannya.


Woo Jin ternyata pergi ke kantor polisi untuk mencari paman Seo Ri tapi polisi tidak bisa membantunya.


Woo Jin pun berniat memasang spanduk untuk menemukan paman Seo Ri.


Professor Shim sedang memberikan pengarahan pada Seo Ri.

"Setelah aku menyelesaikan soloku, Seo Ri seharusnya... ah, mianhaeyeo. Aku terus berpikir kau masih seorang pelajar. Aku melakukan hal yang sama kepada Direktur Kim." ucap Professor Shim.

Sontak Seo Ri kaget, "Direktur Rin Kim?


Tae Rin yang baru datang langsung dihampiri Seo Ri.

"Aku baru tahu kau adalah Kim Tae Rin yang ada di pengiring musik remaja pada tahun 2005. Aku kira kau mengingatku. Aku sudah lama tidak bermain jadi aku sudah seperti berkarat. Tolong bantu aku." ucap Seo Ri ceria.

Tapi Tae Rin malah menjawabnya dengan dingin kalau masalah seperti itu tidak bisa diatasi dengan bantuan seseorang.

"Benar! Aku harus bekerja keras." jawab Seo Ri.


Tuan Byun datang, membawakan kopi untuk mereka semua.

Tae Rin sedikit heran dengan kedatangan Tuan Byun.

"Untuk Woo Seo Ri, aku membelikanmu dua." ucap Tuan Byun.

Tuan Byun lantas menanyakan kondisi Seo Ri.

"Presdir festival harus menjaga kondisi pemainnya. Beritahu aku jika ada masalah." ucap Tuan Byun, membuat Tae Rin makin heran.


Bersambung ke part 2........

No comments:

Post a Comment