Tuesday, September 4, 2018

Still 17 Ep 11 Part 2

Sebelumnya...


Chan berjalan sendirian di dekat taman, dengan wajah lesu.

Tak lama, Hae Beom dan Deok Soo menghubunginya. Mereka protes karena Chan pergi begitu saja.

"Kami makan ohang, jadi cepatlah kesini. Ppali wa!" teriak Deok Soo.

"Kalian bisa makan sendiri. Setelan ini mencekikku. Aku mau pulang." jawab Chan lemas.


Lalu, seorang bocah laki-laki menghampiri Chan.

"Ahjussi, kau menginjak permen karet."

Chan pun melihat kakinya. Memang benar, ia menginjak permen karet.

Tapi kemudian ia terkejut karena anak itu memanggilnya ahjussi.

Chan pun senang dipanggil ahjussi.


Ia lantas berlari dari hadapan bocah laki-laki itu yang menatap kepergiannya dengan tatapan aneh.


Chan lalu berdiri di pinggir jalan, depan halte.

"Seharusnya dia sudah berada disini." ucapnya.


Kemudian, Chan mematut dirinya di depan kaca halte.

"Seorang pria sejati menunjukkan pesonanya ketika dia mengenakan setelan jas. Wah, aku ingin memakai ini setiap hari. Aku mungkin memakai ini ketika mendayung." ucapnya.


Tak lama kemudian, bis datang dan ia melihat Seo Ri turun dari bis.

Tapi Chan tak langsung menghampiri Seo Ri. Ia malah menunggu Seo Ri di jalan yang akan dilalui Seo Ri sambil pura-pura mainin ponsel.

Saat Seo Ri lewat, ia pun pura2 kaget bertemu Seo Ri.

"Chan yongsaeng!" seru Seo Ri.

"... kau terlihat berbeda hari ini. Kau terlihat luar biasa." puji Seo Ri.


Chan dan Seo Ri pun mulai berjalan.

Chan dalam hatinya yakin, kalau sekarang mereka sudah terlihat seperti sepasang kekasih karena ia sudah tidak memakai kaos lagi.


Tapi tiba-tiba, seorang ahjumma menyodorkan kartu padanya.

"Anak muda, kau menjatuhkan kartumu."

"Itu bukan punyaku." jawab Chan.

"Lantas apa milik kakakmu?" tanya si ahjumma.

"Dia bukan kakakku." jawab Chan.

"Lalu apa dia bibimu?" tanya si ahjumma yang sontak bikin Chan gigit jari.

"Mungkin orang lain yang menjatuhkannya." jawab Seo Ri.

Si ahjumma pun pergi.

Seo Ri lalu menyuruh Chan pulang duluan karena dia harus balik ke kantor.

Seo Ri pun pergi meninggalkan Chan yang masih syok.


Chan lantas menerima SMS dari Deok Soo.

"Aku dengar, ini sup iga dari sekolah."

Chan makin down, "Sekolah? Kantor?"


Chan lalu teringat saat ia menemukan foto Seo Ri dan pamannya dengan caption, "Semoga cinta kalian langgeng".

"Apa foto ini?" tanya Chan.

"Seseorang mengira kami pasangan, mungkin karena usia kami sama." jawab Woo Jin.


Sekarang, Chan sudah berbaring di kamarnya dan sedang memikirkan kata-kata Deok Soo dan Hae Beom soal Seo Ri.

"Wanita itu sesuatu. Dia berbicara seperti orang dewasa." ucap Deok Soo.

"Dia 11 tahun lebih tua dari kita." ucap Ha Beom.


Chan lantas kepikiran sesuatu. Ia pun mengambil kartu nama Pelatih Lee di dalam saku celananya.

Flashback...



Chan menolak bergabung bersama tim Pelatih Lee. Tapi Pelatih Lee menawarkan kesepakatan terbaik. Pelatih Lee juga berkata, akan lebih baik bagi Chan jika berlatih bersama orang dewasa jika ingin menjadi seorang atlet.

Flashback end...


Chan pun berolahraga dan kembali memikirkan kata-kata Pelatih Lee itu.

Ya, Chan sudah membuat keputusan.

*Omo Chan, gk suka Chan kayak gini. Biar bisa sepadan ama Seo Ri, dia ampe niat ninggalin temen2nya gitu.


Seo Ri kembali ke kantor dan membawa banyak camilan. Hyun sontak memuji Seo Ri.

Hee Soo lalu berkata kalau Seo Ri tidak harus datang di akhir pekan.

Seo Ri pun celingukan mencari Woo Jin.

Hee Soo kemudian mendekati Seo Ri. Ia mengaku senang Seo Ri datang dan berniat menunjukkan replika panggung pertunjukan musik yang ia buat.


Hee Soo langsung menarik Seo Ri ke atas.

Tepat saat itu Woo Jin datang dan terkejut melihat Seo Ri.

Seo Ri pun langsung menyuruh Woo Jin makan. Woo Jin pun tersenyum melihatnya.

Malam pun tiba.


Seo Ri menghampiri Woo Jin.

"Kau tidak mau pulang? Kang daepyonim dan Hyun Sunbaenim sudah pulang ke rumah." ucap Seo Ri.

"Aku akan pulang setelah minum ini" jawab Woo Jin.

 "Aku tidak yakin apakah kau baik-baik saja jika aku menanyakan ini. Tapi bukankah seharusnya kau tidak memaksakan diri?" tanya Woo Jin.

"Ije jeongmal gwenchanayo." jawab Seo Ri sembari tersenyum.

"Aku terus berpikir dan aku mendengarmu harus menjalani pemeriksaan rutin dan menjaga dirimu baik-baik. Aku akan bertindak sebagai walimu. Bagaimana kalau kita ke rumah sakit untuk pemeriksaan setelah festival berakhir?" tanya Woo Jin.

Seo Ri pun setuju.


Lalu Seo Ri cerita soal ia dan Tae Rin yang ternyata sudah saling mengenal sejak masih pelajar.

Sontak, Woo Jin teringat kegelisahan Tae Rin saat menanyakan padanya apakah Seo Ri masih bicara dengan Professor Shim.

"Bagaimana kalian saling mengenal?" tanya Woo Jin.

"Ternyata kami biasa berlarih bersama untuk pertunjukan. Dia sekarang menjadi direktur festival dan dia bahkan mengadakan konser solo. Dia tumbuh menjadi orang yang luar biasa." jawab Seo Ri sedih.

"... tapi sekarang aku mendapat kesempatan lain. Aku juga akan melakukan pekerjaan yang hebat. Aku akan melakukannya dengan baik." ucap Seo Ri lagi.

"Aku sangat berharap semuanya berjalan baik untukmu." jawab Woo Jin.


Keesokan harinya, Seo Ri kembali berlatih di taman.

Nenek yang waktu itu melihat penampilannya di taman pun langsung memberinya applause.

Seo Ri membungkukkan kepalanya, berterima kasih.

Lalu saat hendak mulai menggesek violinnya lagi, ia melihat senar penggeseknya longgar.

Seo Ri pun buru-buru membetulkannya. Setelah itu ia berniat latihan lagi tapi saat mendongak ke atas dan melihat langit mendung, ia buru-buru menyimpan violinnya dan lari dari taman.


Seo Ri pulang ke rumah. Tepat setelah dia sampai di rumah, hujan turun.

"Aku sudah tahu hujan akan turun." ucap Seo Ri.


Tapi tiba-tiba, Seo Ri ingat pada Jennifer.

"Fang, apa Seo Ri membawa payung?"

Deok Goo pun menyalak.

"Hari ini adalah hari dimana dia bekerja paruh waktu." ucap Seo Ri cemas.


Jennifer sudah bersiap pulang. Tepat saat itu, Hyung Tae pulang.

"Beberapa minggu lalu, aku mengirimkan orang lain karena aku sakit, benar-benar tidak profesional. Joesonghamnida." ucap Jennifer.

"Itulah kenapa kau bahkan tidak mengambil pembayaranmu terakhir kali. Kalau begitu kau harus mengambilnya." jawab Hyung Tae.

"Aku tidak bisa menerimanya." tolak Jennifer.

Tapi Hyung Tae tidak peduli. Ia membuka lacinya dan memberikan sebuah paper bag kecil pada Jennifer.

"Aku membeli sebotol vitamin. Sejujurnya ini adalah beli 1 gratis 1." ucap Hyung Tae.

"Kalau begitu, aku akan menerimanya dengan senang hati." jawab Jennifer.


Jennifer pun pamit. Hyung Tae melihat Jennifer memakai sandal dengan benar.

Sontak, Hyung Tae teringat saat itu. Saat ia menemukan sandal dengan warna berbeda di depan pintunya.

Ia juga teringat pada Seo Ri.

Penasaran, Hyung Tae pun menanyakan soal orang yang dikiriim Jennifer ke rumahnya untuk bersih-bersih menggantikan Jennifer.

Tapi ia urung menanyakannya karena yakin itu bukan Seo Ri.


Jennifer pun berjalan pulang, tapi tiba-tiba hujan turun.

"Ramalan cuaca tidak mengatakan apapun." ucap Jennifer kaku.

Jennifer lantas berteduh di depan gedung apartemen Hyung Tae.


Bersamaan dengan itu, Seo Ri yang berlari sambil memegangi payung hampir sampai di gedung apartemen Hyung Tae.


Seseorang tiba-tiba memayungi Jennifer. Seo Ri? Bukan, tapi Hyung Tae.

"Aku menyadari hujan akan turun. Kau bisa meminjam ini." ucap Hyung Tae sambil memberikan payungnya pada Jennifer.

"Kamsahaeyo. Aku akan segera mengembalikannya." jawab Jennifer.


Hyung Tae mengangguk. Lalu ia membuka payungnya yang satu lagi dan berjalan pergi.

Tepat saat itu Seo Ri datang.

Sontak Jennifer kaget melihat Seo Ri. Seo Ri pun mengaku lega melihat Jennifer membawa payung.

"Dokter pemilik apartemen tempatku bekerja meminjamiku ini." jawab Jennifer.

"Pria yang baik hati." ucap Seo Ri.

Jennifer pun mengajak Seo Ri pulang.


Mereka mulai berjalan.

"Saat hujan seperti ini, diameter air hujan berukuran sekitar 2 mm sampai 7 mm. Itu lebih tebal dari hujan biasa. Dan kalau dilihat lagi, kurasa hujannya akan segera berhenti." ucap Jennifer.

"Bagaimana kau tahu? Kau seperti tahu segalanya." jawab Seo Ri.

"Aku baru membacanya di sebuah buku." ucap Jennifer.

"Kau memiliki banyak buku di kamarmu. Kau pasti suka membaca." jawab Seo Ri.

"Aku... membacanya bukan karena suka membaca." ucap Jennifer.

"Lalu?" tanya Seo Ri.


Jennifer lantas ingat masa lalunya, saat seseorang menabraknya di depan perpustakaan Hyein.

Jennifer pun berteduh di dalam.

Jennifer pun bercerita, kalau ia membaca buku apa saja yang ada di hadapannya. Dengan membaca buku, ia dapat bertahan melewati waktu tanpa beban.

Flashback...


Hari demi hari, Jennifer terus pergi ke perpustakaan itu untuk membaca buku.

Flashback end...


Seo Ri pun bertanya apa maksud Jennifer.

Belum sempat menjawab, ponsel Jennifer sudah berbunyi. SMS untuk Seo Ri yang memberitahukan dress untuk konser adalah kemeja putih dengan celana hitam.

Seo Ri pun mengaku kalau ia memberikan kontak Jennifer sebagai kontaknya.

Jennifer menatap rambut Seo Ri.

"Sesuatu yang rapi. No, no. Follow me." ucap Jennifer.


Malam pun tiba dan Jennifer juga Seo Ri sudah ada di rumah.

Seo Ri berterima kasih karena Jennifer sudah menata rambutnya. Seo Ri bilang, ia bisa melakukannya dengan uangnya sendiri.

"Tapi apa kau tidak menata rambutmu juga?" tanya Seo Ri.

"No, no. Detailnya berbeda." jawab Jennifer. Jennifer lantas pamit ke kamarnya.


Seo Ri lalu bertemu Chan. Chan pun memuji penampilan Seo Ri yang sedikit rapi.

Seo Ri pun berkata, Jennifer membawanya ke salon.

Lalu Seo Ri bertanya, kenapa Chan masih berlatih di hari minggu?

"Kompetisi sebentar lagi." jawab Chan lemas.

"Aku khawatir kau terlalu memaksakan diri." ucap Seo Ri.

"Aku ingin pergi sedikit lebih cepat." jawab Chan.

"Apa kau harus lebih banyak bekerja lebih cepat di kapalmu?" tanya Seo Ri.

Chan pun tersenyum geli mendengar pertanyaan Seo Ri.

"Jaljayo." ucap Chan.

"Jaljayo." balas Seo Ri.

Mereka pun masuk ke kamar masing2.


Keesokan harinya, Woo Jin dan Hee Soo menunjukkan konsep desain panggung yang mereka buat pada Tuan Byun. Tuan Byun menyukainya. Lalu Tuan Byun mengajak mereka minum kopi.

Tak lama, ponsel Tuan Byun berbunyi. Dan Tuan Byun langsung pergi menjawabnya.

Bersamaan dengan itu, pihak restoran tempat mereka rapat membahas konsep desain muncul meminta mereka memindahkan mobil yang ternyata milik Tuan Byun.

Woo Jin langsung mengambil kunci mobil Tuan Byun yang tertinggal di meja dan pergi memindahkannya.


Saat hendak pergi memindahkan mobil Tuan Byun, ia tak sengaja mendengar pembicaraan Tuan Byun di telpon dengan seseorang.

Sontak, Woo Jin terkejut mendengarnya dan langsung mengepalkan tangannya karena kesal.


Tuan Byun kembali ke mejanya dan minta maaf pada Hee Soo karena menerima telepon begitu lama.

Tak lama, Woo Jin juga kembali dan meminta Tuan Byun menjauh dari melakukan sesuatu yang bisa membuat Tuan Byun menyesal.

Sontak Hee Soo kaget. Tuan Byun pun berkata, mungkin Woo Jin kesal karena terlalu lama menunggunya.

Tuan Byun pun mengajak mereka membahas soal konsep.

Woo Jin kembali menyindirnya.

"Kau tidak terlihat seperti tipe yang menyukai keanggunan."

"Sepertinya ada sesuatu yang mau kau katakan padaku." ucap Tuan Byun.

"Aku pikir kau sudah tahu apa yang mau kukatakan." jawab Woo Jin.

Kesal, Tuan Byun pun beranjak pergi.


Hee Soo sontak marah pada Woo Jin dan langsung mengejar Tuan Byun.

Sementara Woo Jin menghela napas kesal.


Tae Rin sedang diwawancara oleh reporter yang waktu itu mewawancarainya.

"Kau bilang, akan melakukan proyek yang menyenangkan. Apakah ini?"

"Aku benar-benar memberitahumu duluan kan?" jawab Tae Rin.

"Aku minta izin mengambil gambar saat latihan serta ingin mewawancarai anggota baru yang menjadi bahan pembicaraan di seluruh kota." ucap si reporter.

Tae Rin pun bingung.

"Perlu banyak upaya untuk benar-benar pergi menonton musik klasik. Tapi aku kira kau melakukannya dengan baik berkat dia."

"Dia?" tanya Tae Rin bingung.

"Kau tidak mendengar dari Tuan Byun? Orang yang akan bermain Bach dengan Professor Shim." jawab si reporter.


Sontak, Tae Rin teringat kata-kata Tuan Byun saat itu saat mereka rapat dengan Hee Soo dan Woo Jin.

"Konser ini akan sukses tidak peduli apapun yang kita lakukan. Semua orang akan berbondong-bondong mendapatkan tiketnya."

Lalu Tae Rin ingat saat Tuan Byun berkata pada Seo Ri.

"Kau bisa meminta bantuanku jika merasa kesulitan."


Tae Rin yang tahu ada sesuatu sontak tersenyum licik dan mengajak si reporter makan untuk membicarakan hal itu lebih lanjut.


Sesampainya di kantor, Woo Jin melarang Seo Ri berpartisipasi dalam festival Tae Rin.

Ia beralasan, itu akan menghambat pekerjaan Seo Ri di kantor mereka.

"Ya, Gong!" tegur Hee Soo dengan keras.

Tapi Woo Jin tetap dengan keputusannya.

Seo Ri pun berjanji tidak akan melakukan sesuatu yang menghambat pekerjaan di kantor mereka.

Tapi Woo Jin tetap melarang Seo Ri.

"Aniyo, aku akan tetap tampil di festival sampai akhir." ucap Seo Ri.

Seo Ri yang kecewa lalu pergi ke tempat latihan.


Woo Jin pergi ke atap. Di atap, dia melihat Seo Ri yang terduduk lemas di bawah.

Woo Jin pun bingung bagaimana caranya melarang Seo Ri.


Hee Soo menyusul Woo Jin ke atap.

"Mwoya? Woo Jin yang kukenal selama lebih dari 10 tahun tidak seperti itu. Aku tahu ada alasannya. Katakanlah agar aku tahu kenapa aku harus membatalkannya." ucap Hee Soo.

Tapi Woo Jin diam saja.

"Arraseo. Jawab saja pertanyaan ini. Ada alasannya atau tidak?"

"Ada." jawab Woo Jin.

"Tentu saja ada karena kau tidak gila! Apa alasannya masuk akal?"

Woo Jin pun mengiyakan.

Hee Soo pun mengerti dan memutuskan tidak bertanya lagi karena tahu Woo Jin tidak akan menjawabnya.

Ia juga mengancam Woo Jin akan memenggal kepala Woo Jin jika tahu alasan yang dikemukakan Woo Jin nanti tidak masuk akal.


Chan dan timnya kembali berlatih dengan keras.


Seo Ri sedang berlatih bersama Profesor Shim. Tapi baru mulai latihan, permainannya terdengar tidak bagus.

Sontak, Seo Ri langsung minta maaf dengan mata berkaca-kaca.

Tae Rin yang tahu sesuatu pun pura-pura ingin memberi waktu istirahat untuk Seo Ri.


Tae Rin menghampiri Seo Ri yang duduk diluar. Tae Rin pura-pura menyemangati Seo Ri.

Ia meyakinkan Seo Ri kalau banyak yang akan datang melihat Seo Ri.

Seo Ri pun bingung dan bertanya, siapa yang akan datang melihatnya.

"Orang-orang akan datang melihatmu untuk melihat bagaimana kau mengatasinya." jawab Tae Rin.

"Apa maksudmu?" tanya Seo Ri.

"Kukira kau tahu maksudku. Maafkan aku karena harus mengatakan hal ini." jawab Tae Rin.


Seo Ri pun langsung pergi dengan wajah marah. Di jalan ia mengingat kata-kata Tae Rin.

"Seo Ri-ssi, ceritamu sangat spesial. Bahkan jika kau tidak dipilih untuk keterampilan violinmu, ini akan menjadi peluang bagus untukmu." ucap Tae Rin.

Lalu ia teringat pada Woo Jin yang melarangnya ikut tampil di festival.


Woo Jin mendatangi Tuan Byun. Dengan wajah menahan kesal, ia meminta Tuan Byun berhenti melakukannya.

Flashback...



Di restoran, Woo Jin tak sengaja mendengar pembicaraan Tuan Byun dan seseorang di telepon.

"... membumbui artikel sehingga orang-orang akan datang untuk melihat gadis malang itu. Dia sudah koma selama 10 tahun. Menurutmu seberapa baik kemampuan dia? Keterampilannya tidak penting. Tidak banyak orang suka mendengarkan musik klasik. Bahkan jika dia jahat, tidak akan ada orang yang menunjukkan jari mereka pada gadis menyedihkan itu. Mereka akan membawa uang. Ketika orang-orang menyadari betapa buruknya dia, dia akan dikritik. Kalau dia di televisi, tiketnya akan terjual habis. Kita akan menghasilkan uang dengan menjual kisahnya." ucap Tuan Byun.

Flashback end...



Woo Jin benar-benar marah. Ia melarang Tuan Byun mempublikasikan kisah Seo Ri. Tapi Tuan Byun malah menyebutnya berlebihan dan mengatai Seo Ri sebagai gadis yang tidak tahu apa-apa.

Sontak, Woo Jin kesal mendengarnya dan langsung mencengkram kerah baju Tuan Byun.

Woo Jin pun mengancam akan menghentikan produksi panggung jika Tuan Byun berani melakukannya.


 Sekarang Woo Jin sudah berada di kantornya. Tak lama kemudian, Seo Ri datang.

"Kau tahu, kan? Kau bilang itu karena kau tahu? Siapa dirimu bisa menghentikanku? Kenapa kau menghentikanku? Karena aku penjual tiket? Karena aku pemain violin yang tragis yang secara ajaib bangun dari koma setelah 10 tahun? Itu semua benar? Apa yang salahj jika menjual cerita itu? Kau pikir aku akan berterima kasih jika kau menghentikan aku? Aku tidak peduli. Aku baik-baik saja meski mereka memanfaatkanku." ucap Seo Ri.

"Bagaimana bisa tidak peduli!" marah Woo Jin.

"Aku tidak peduli! Aku ingin main violin lagi. Aku ingin main di panggung lagi. Mungkin pamanku yang meninggalkanku bisa melihatku. Dia mungkin akan kembali untukku. Jadi apa salahnya mereka memanfaatkanku sedikit? Aku akan baik-baik saja. Aku bersedia dimanfaatkan. Kenapa kau ikut campur?" ucap Seo Ri.

"Karena aku benci. Aku benci seseorang yang kusukai. Tidak, wanita yang kucintai, terluka. Lebih dari segalanya." jawab Woo Jin.

Seo Ri terkejut mendengar pengakuan Woo Jin.


Bersambung......

No comments:

Post a Comment