Wednesday, September 5, 2018

Still 17 Ep 12 Part 1

Sebelumnya...


Malam itu juga, Woo Jin menyatakan perasaannya pada Seo Ri. Ia mengaku, benci melihat wanita yang ia cintai terluka.

Ia juga khawatir, kalau Seo Ri pada akhirnya akan membenci musik.

Tapi Seo Ri tetap keras kepala.

"Yang terluka adalah aku. Yang dimanfaatkan adalah aku, bukan dirimu. Untuk seseorang sepertiku, jika aku bisa bermain violin lagi, kesempatan seperti ini, harus disyukuri. Aku akan berpura-pura tidak mendengar ini. Aku akan tetap tampil tidak peduli apapun yang terjadi." ucap Seo Ri.

Seo Ri lalu beranjak pergi.


Woo Jin pun stress dan menatap kepergian Seo Ri dengan tatapan lirih.


Di tempat latihan, Seo Ri meluapkan kekecewaannya dengan bermain violin.

Ia terus menggesek senar violinnya terlalu kuat hingga akhirnya senar violin nya putus dan membuat tangan nya terluka.


Di depan jendela, Deok Goo berdiri, menunggu kepulangan Seo Ri.


Di depan rumah, Woo Jin menunggu cemas menunggu Seo Ri yang tak pulang-pulang.


Chan menghubungi Woo Jin.

"Kau tidak di rumah? Apa kau pergi lagi?" tanya Chan.

"Hanya sebentar." jawab Woo Jin.

"Tapi, apakah harus bibi terjaga sepanjang malam untuk latihan? Dia menghubungi Jennifer. Dia bilang, akan latihan sepanjang malam untuk konser itu." ucap Chan.

Mengetahui Seo Ri ada di ruang latihan, Woo Jin pun bergegas menyusul Seo Ri.


Seo Ri terduduk lemas di lantai.


Satpam yang berjaga masuk ke ruang latihan. Mengira tak ada siapapun di dalam ruangan, ia pun mematikan cahaya lampu.

Woo Jin langsung gedung Hanareum. Ia ingin ke ruang latihan, tapi dihalangi satpam.

Satpam bilang, tidak ada siapapun di sana karena ia baru saja mematikan lampu di sana.

Woo Jin pun kebingungan.


Seo Ri sendiri masih terduduk lemas di ruang latihan. Ia menangis.

Episode 23, Kenyamanan.


Keesokan harinya, Woo Jin yang baru keluar bertemu dengan 3 sekawan yang juga baru keluar kamar. Hae Beom bilang, ia dan Deok Soo menginap di kamar Chan untuk berlatih sebelum kompetisi dimulai.

"Kami menggunakan pakaian seragam untuk membuktikan bahwa kami adalah satu." jawab Deok Soo.


Melihat wajah pamannya, Chan pun bertanya apa pamannya tidak tidur semalaman.

"Aniya." jawab Woo Jin sembari mengelus kepala Chan.

Woo Jin lantas berlalu dari hadapan Chan.

Chan curiga, terjadi sesuatu pada pamannya.


Woo Jin turun ke bawah. Melihat pintu kamar Seo Ri yang terbuka dari dalam, sontak ia langsung berlari ke arah kamar Seo Ri.

Tapi yang keluar bukan Seo Ri, melainkan Jennifer.

Jennifer mengaku, habis mengemasi beberapa pakaian Seo Ri dan meminta Woo Jin mengantarkannya untuk Seo Ri jika Woo Jin tidak keberatan.

Jennifer juga berkata, ia takut Seo Ri sakit.

"Aku pikir dia benar-benar sibuk dengan latihannya." ucap Jennifer

"Aku lega jika memang begitu." jawab Woo Jin.

Jennifer pun paham sesuatu terjadi antara Woo Jin dan Seo Ri.


Seo Ri ke kantor, tapi ia tak jadi masuk setelah ingat kata-katanya pada Woo Jin semalam.

"Kau pikir kau siapa bisa menghentikanku!"

Seo Ri akhirnya beranjak pergi. Dari belakang, Hyun yang baru datang sempat melihat Seo Ri.

Hyun memanggil Seo Ri, tapi Seo Ri terus saja berjalan tanpa menjawab panggilan Hyun.

Di kantor, Woo Jin tak bisa konsentrasi karena terus memikirkan Seo Ri.


Hyun marah pada Woo Jin. Hyun berkata, bagaimana bisa kau mengatakan hal itu pada Seo Ri.

"Aku bahkan tidak mau kembali setelah mendengar apa yang kau katakan." ucap Hyun.


Tiba-tiba, Woo Jin meringis. Ya, Woo Jin tidak sengaja mengiris jari dengan cutter.

Sontak, Hyun dan Hee Soo kaget. Hyun pun langsung memeriksa luka di jari Woo Jin.


Di dapur, Hyun mengobati luka Woo Jin. Hyun berkata, hanya seseorang yang punya hak lah yang bisa mengatakan itu.

"Kau benar, kenapa aku melakukan itu?" jawab Woo Jin pelan.


Hee Soo lalu datang dan menyuruh Hyun kembali bekerja.


Hee Soo lantas menutup pintu setelah Hyun keluar.

Hee Soo memarahi Woo Jin karena sudah memberitahu Seo Ri yang sebenarnya.

Tapi saat melihat wajah Woo Jin yang lesu, Hee Soo pun prihatin.

Hee Soo lantas menyuruh Woo Jin pulang. Ia mengaku frustasi melihat Woo Jin yang lesu seperti itu.


Seo Ri duduk melamun di taman. Lalu seorang nenek yang pernah memberikan applause padanya saat ia latihan violin di taman, mendekatinya. Seo Ri terkejut saat nenek itu mengatakan, menunggu dirinya sejak kemarin.

"Rumahku di tikungan sana, tapi aku tidak bisa sering-sering keluar karena kakiku sakit. Tapi aku keluar rumah karena mendengar suara melodi yang indah dan aku melihatmu sedang bermain. Sangat menyenangkan mendengar permainanmu, membuatku melupakan sakit pada kakiku. Membuatku merasa lebih baik." ucap nenek.

Seo Ri pun hanya tersenyum sedikit.

"Kau sepertinya habis bertengkar dengan seseorang." ucap nenek.

"Bagaimana kau tahu?" tanya Seo Ri kaget.

"Tanganmu, terlihat seperti habis bertengkar dengan seseorang." jawab nenek.


Seo Ri pun melihat tangannya yang terluka.

Seo Ri lantas teringat masa lalunya.


Flashback...

Seo Ri berlatih di halaman rumahnya. Ia terus dan terus berlatih. Seorang ahjumma datang mendekatinya dan menyuruhnya istirahat. Ahjumma itu berkata, bahwa rahang dan tangan Seo Ri sudah terluka.

Seo Ri pun menyentuh rahangnya dan ia tertawa.

"Tapi tidak terasa sakit? Mungkin itu karena aku sangat menikmatinya." ucap Seo Ri.

Flashback end...


Sekarang Seo Ri kembali duduk sendirian. Ia menangis memperhatikan tangannya.

"Sakit. Itu tidak menyenangkan." gumamnya.


Jennifer menggendong Deok Goo dan berdiri di depan jendela, menatap Woo Jin yang duduk sendirian di taman.


Jennifer lantas menghampiri Woo Jin. Ia menasehati Woo Jin, supaya Woo Jin berkata jujur pada Seo Ri sebelum semuanya terlambat.


Setelah mendengar nasehat Jennifer, Woo Jin pun langsung menyusul Seo Ri ke tempat latihan. Tapi dia malah bertemu Professor Shim.

Professor Shim pun berkata, bahwa tadi Seo Ri sempat menemuinya.


Flashback...

Seo Ri mengaku pada Professor Shim, kalau ia tidak mau tampil di festival. 

"Aku sangat antusias karena bisa tampil lagi di festival, sampai aku tidak bisa melihat apa yang paling penting sebenarnya. Seseorang bertanya padaku, apa pekerjaanku sampai aku berlatih begitu keras dan aku tidak bisa memberitahunya kalau aku adalah seorang violinis dan akan tampil di festival. Tapi jika aku terus memaksakan diri, aku khawatir aku bisa kacau dan tertekan. Aku sangat menikmati latihanku. Kamsahamnida, sonsaengnim, karena sudah memberiku kesempatan." ucap Seo Ri.

Flashback end...


Ternyata seseorang yang menanyakan pekerjaan Seo Ri tadi adalah nenek.


Woo Jin pun mencari Seo Ri ke air mancur, juga ke taman bermain tapi ia tidak menemukan Seo Ri di sana.


Seo Ri sendiri ada di kantor, tapi tak seorang pun ada di sana.


Woo Jin terus berlari mencari Seo Ri. Dan akhirnya ia melihat Seo Ri yang berdiri di atas tangga penyeberangan.

"Woo Seo Ri!" teriak Woo Jin.

Seo Ri terkejut melihat Woo Jin.


Woo Jin pun bergegas ke atas, menuju Seo Ri. Seo Ri juga bergegas menghampiri Woo Jin.

Seo Ri menjelaskan kalau ia tadi datang ke kantor untuk menemui Woo Jin.

Tapi Woo Jin langsung memeluknya.

"Mianhaeyo. Seharusnya aku tidak mengatakannya padamu. Aku hanya tidak mau kau terluka, tapi yang ada aku malah melukaimu. Mianhaeyo, mianhaeyo." ucap Woo Jin.


Woo Jin lantas melepas pelukannya dan menatap Seo Ri.

"Aninde." jawab Seo Ri.

"Aku pastikan ada jalan lain, tapi aku tidak berpikir jauh karena hanya fokus pada perasaanmu. Aku tidak akan menyakitimu jika aku tidak mengatakannya. Na ttaemune."

Seo Ri pun menggeleng.

"Kau benar. Hari ini, seseorang melihat tanganku dan mengatakan aku habis bertengkar dengan seseorang. Saat aku menikmati permainanku, aku bangga melihat luka di tanganku. Tapi sekarang aku malu dengan tanganku. Jika aku memaksakan diriku, aku akan berakhir seperti tanganku. Uri eomma yang memberiku violin itu, jadi aku tidak bisa tampil jika aku tidak bangga pada diriku sendiri." ucap Seo Ri.

"Tapi karena aku, kau mungkin akan kehilangan kesempatan bertemu pamanmu." jawab Woo Jin.


"Aku bukan anak kecil. Aku tidak mengatakannya karena aku takut. Tapi aku sadar sejak lama, bahwa pamanku sudah membuangku. Jika aku tetap tampil di festival, seperti yang kau bilang, aku tidak akan menikmati permainanku dan aku mungkin akan membenci musik. Aku minta maaf. Aku tidak berpikir ke depan karena aku juga terlalu memikirkan perasaanku. Terima kasih sudah menghentikanku. Terima kasih karena sudah membuatku tidak membenci musik. Terima kasih untuk kepedulianmu." ucap Seo Ri.

"Aku takut, kalau aku akan menghancurkan kehidupan orang lain lagi." jawab Woo Jin.

Seo Ri pun menggeleng.

Lalu kemudian, Seo Ri tersenyum.

"Ini pasti tempat yang benar-benar bagus. Hal hebat terjadi setiap kali kita berada di sini. Setiap kali aku ingin bertemu denganmu tapi tidak tahu kau dimana, aku selalu menemukanmu disini. Mulai sekarang aku harus sering datang ke sini setiap kali merindukanmu." ucap Seo Ri.


"Kau tidak akan pernah merindukanku lagi karena aku akan selalu berada di sisimu. Aku tidak mau kita terpisah lagi karena hal sepele. Mulai sekarang aku akan memberitahumu apa yang kurasakan. Jika aku cemas atau merasa menyesal, aku akan memberitahumu. Jadi aku juga ingin kau menceritakan semuanya padaku." jawab Woo Jin.

Seo Ri tertegun.

Sambil menatap Woo Jin, Seo Ri mengaku bahwa jantungnya berdetak sangat cepat dan kakinya juga gemetaran.

"Aku pikir gulaku rendah." ucap Seo Ri.

"Gu.. gula?" tanya Woo Jin.

"Aku pikir jantungku berdegup kencang dan kakiku gemetar karena aku tidak makan apapun hari ini. Aku mengatakannya padamu karena kau yang memintaku mengatakannya padamu. Bisakah kita makan sesuatu?"


Sontak, Woo Jin tertawa mendengarnya.

Woo Jin lantas mengajak Seo Ri pergi.


Sambil turun dari tangga, Seo Ri mengajak Woo Jin ke warung tteokbokki tapi Woo Jin bilang lebih baik Seo Ri makan nasi agar Seo Ri tidak sakit perut. Seo Ri menurut.

Lalu Woo Jin mengambil violin Seo Ri.

"Tidak apa." ucap Seo Ri.

"Biar aku saja yang membawanya. Aku tahu kau tidak punya energi karena belum makan seharian." jawab Woo Jin.


Keesokan harinya, Woo Jin yang baru keluar dari kamar bertemu 3 sekawan yang juga baru keluar kamar.

3 sekawan itu, seperti biasa menyapa paman kesayangan mereka dengan ceria sambil latihan otot.

"Wajahmu terlihat lebih baik, tidur paman pasti cukup." ucap Chan senang.

Woo Jin lalu membahas Chan, Hae Beom dan Deok Soo yang lagi-lagi mengenakan kaos yang sama. Menurutnya, tidak seharusnya mereka mengenakan baju yang sama seperti itu.

Chan pun beralasan, itu karena mereka satu tim.


Deok Soo pun cerita, kalau Hae Beom lah yang memberikan mereka semua pakaian itu.

Lantas, Deok Soo bertanya, apa yang akan diberikan Woo Jin jika mereka menang.

"Haruskah aku memberikannya?" tanya Woo Jin.

"Paman harus bersiap. Paman akan datang kan?" pinta Deok Soo.

"Paman tidak mungkin datang karena harus menghadiri festival itu." jawab Hae Beom.

"Bagaimana kau tahu jadwalku?" tanya Woo Jin.

"Paman akan datang?" tanya Chan.

"Tentu saja." jawab Woo Jin.

"Kalau begitu aku harus melakukan yang terbaik." ucap Chan.


Chan lantas pamit, mau jogging bersama temannya. Sambil berlalu, Hae Beom dan Deok Soo pun dengan seenaknya meletakkan barbel kecil mereka ke tangan Woo Jin.

"Ani naega wae?" protes Woo Jin.


Di kamarnya, Seo Ri lagi mikirin pernyataan cinta Woo Jin semalam padanya.


Seo Ri lantas keluar dari kamarnya. Bersamaan dengan itu, Woo Jin turun dari lantas atas.

Mereka pun bertemu.

"Jaljaseoyo?" tanya Woo Jin sembari tersenyum.

"Ne." jawab Seo Ri dengan wajah malu-malu.

"Aku lupa mengatakan sesuatu yang penting padamu. Aku... menyukai rambutmu." ucap Woo Jin.


Sontak, Seo Ri tambah salting. Seo Ri yang salting, akhirnya lari ke dapur dengan alasan haus.

Sambil lari ke dapur, Seo Ri tersenyum senang.


Seo Ri melihat Jennifer. Jennifer bertanya, persiapan Seo Ri untuk ikut festival. Seo Ri pun cerita, kalau ia sudah memutuskan tidak akan tampil.

Jennifer tidak bertanya lagi, membuat Seo Ri heran.

Jennifer pun berkata, kalau ia merasa itu bukanlah berita bagus jadi ia tidak mau bertanya lagi.

Seo Ri lantas menanyakan Chan. Jennifer pun meminta Seo Ri tidak memberitahu Chan soal itu karena Chan sedang fokus untuk kompetisi.


Seo Ri kemudian panic melihat Jennifer minum obat.

"Ini hanya vitamin yang diberikan dokter tempat aku bekerja." jawab Jennifer.

"Dokter Kim Hyung Tae?" tanya Seo Ri.

"Bagaimana kau tahu namanya?" tanya Jennifer.

"Aku melihat lisensinya. Dia memiliki nama yang sama dengan temanku." jawab Seo Ri.


Seo Ri pun teringat Hyung Tae.


Sontak, ia langsung bertanya pada Jennifer apa ada penyanyi bernama Kim Hyung Tae.

"Temanku ingin menjadi penyanyi." ucap Seo Ri.

Jennifer pun langsung mengetikkan nama Kim Hyung Tae di situs Naver. Keluarlah nama Kim Hyung Tae kelahiran tahun 59.

"Itu bukan dia. Kurasa dia tidak menjdi penyanyi. Aku penasaran apa yang dia dan Su Mi lakukan sekarang." ucap Seo Ri.


Sementara itu, Hyung Tae yang baru keluar dari ruang operasi dapat telepon dari rumah sakit nya Seo Ri.

Mereka memberitahu Hyung Tae kalau walinya Seo Ri sudah tidak lagi mengirimi biaya rumah sakit Seo Ri.

Sontak, Hyung Tae kaget dan teringat saat melihat bibinya Seo Ri yang pergi dengan terburu-buru.

Flashback...


Hyung Tae yang sedang menuju ke rumah Seo Ri terkejut melihat bibinya Seo Ri yang memasukkan koper ke dalam mobil dengan terburu-buru.

"Imo, kau mau kemana? Aku datang untuk memberikan CD lagu favorit Seo Ri." tanya Hyung Tae.

"Lepaskan aku. Tidak ada lagi yang bisa kulakukan." jawab bibi Seo Ri, lalu pergi.


Setelah itu, Hyung Tae pergi ke rumah sakit. Hyung Tae berkata, jika paman dan bibi Seo Ri tidak kembali, ia bersedia jadi wali Seo Ri.

Namun ia kaget saat pihak RS mengatakan, ada seseorang yang membayar biaya RS Seo Ri.

Flashback end...


Hyung Tae pun bertanya, apa pihak RS tahu siapa walinya Seo Ri.

Pihak RS memberitahu Hyung Tae, kalau baru-baru ini ada seorang pria yang mengenakan topi datang mengunjungi Seo Ri dan terkejut mengetahui Seo Ri sudah sadar.

Hyung Tae sontak kaget. Ia tidak percaya kalau itu paman Seo Ri.


Pria yang dimasuk suster Seo Ri berjalan di lokasi konstruksi.

Seorang pria memanggilnya.

"Kim-ssi!"

Tapi pria bermarga Kim itu diam saja dan terus pergi.

Lalu teman pria itu datang, memberitahu bahwa Tuan Kim sudah berhenti bekerja.

Pria yang memanggil Tuan Kim pun kaget karena ia tahu Tuan Kim sedang membutuhkan banyak uang.


Di kantor, Seo Ri meminta maaf sudah membuat masalah. Tapi Hee Soo malah memuji Seo Ri yang sudah berani mengambil keputusan untuk tidak tampil di festival itu.

Hee Soo lantas bangkit dari duduknya dan berkata kalau ia harus menemui Tuan Byun untuk membahas festival itu.

Tapi saat hendak pergi, ia mendapat telepon dari seseorang.


Setelah itu, ia kembali duduk dan membuka laptopnya.

Dan... mereka pun menemukan berita tentang Tuan Byun yang ditangkap polisi karena menabrak pejalan kaki. Berita itu mengatakan, jika Tuan Byun mengemudi dalam pengaruh alkohol dan menabrak seorang pejalan kaki.

Sontak mereka semua senang dan langsung bersemangat.

Mereka pun kembali bekerja.


Dan Woo Jin bertanya apa Hee Soo tahu sesuatu.

"Sedikit. Professor Shim menelpon karena ia mencemaskan Seo Ri. Ia tidak tahu apa yang ada di dalam pikiran Tuan Byun. Tapi aku tidak jadi membunuhmu karena alasanmu bisa dimengerti." jawab Hee Soo.

Chan, beserta teman-teman sesama atletnya dan juga pelatih mereka terkejut melihat banyak hidangan di depan asrama mereka.

Tak lama kemudian, Jennifer datang dengan anggunnya. Ia memakai kacamata hitam dan memayungi dirinya.

"Chan, kau bekerja di tempat yang indah ini." ucap Jennifer.

"Jennifer, kenapa kau kemari?" tanya Chan.

"Kompetisimu sebentar lagi jadi aku menyiapkan abalone dan sup iga yang bisa memberimu stamina." jawab Jennifer.


"Dia ibumu? Dia cantik dan anggun." tanya teman2nya Chan.

"No, no, aku bukan ibunya Chan." jawab Jennifer.

"Anda siapa?" tanya si pelatih.

"Please call me, Jennifer." jawab Jennifer.

Sontak Chan tertawa. Sementara teman-temannya Chan dan juga si pelatih ternganga.


Mereka pun mulai menikmati hidangan yang dibawa Jennifer.

Chan berterima kasih pada Jennifer.

Jennifer pun meminta Chan dan temannya menghabiskan semua hidangan itu.

Jennifer juga memberi semangat pada mereka.


Woo Jin mampir ke mall untuk membeli tas. Ia membeli 3 buah tas dengan warna yang sama.


Chan masuk ke kamarnya dan terkejut melihat chick juniornya tidak ada. Sontak lah, ia panic.

Tak lama, Woo Jin masuk sambil menggendong Chick junior yang ada di dalam kandang.

"Dia tumbuh semakin besar jadi aku membuatkan kandang yang lebih luas." ucap Woo Jin.

Chan pun langsung menarik napas lega.


Tak lama kemudian, Deok Soo dan Hae Beom masuk. Mereka melihat 3 paper bag di atas kasur dan langsung membukanya.

Isinya tas yang tadi dibeli Woo Jin.

Woo Jin berkata, ia membelikan tas itu sebagai hadiah. Tak hanya itu, Woo Jin juga menyemangati mereka dan meminta mereka memenangkan kejuaraan.

Sontak, Deok Soo dan Hae Beom tersentuh.


"Samchoon, sarang..." ucap Deok Soo dan Hae Beom dengan manisnya sambil membentuk love sign.

"Oh, ja.. jangan mengatakn itu." pinta Woo Jin.

Tapi si duo kembar terus mengatakannya membuat Woo Jin lari keluar.


Chan pun tertawa.


Chan lalu menyusul Woo Jin keluar. Ia berterima kasih karena pamannya sudah membuatkan kandang yang lebih luas untuk chick juniornya, juga karena pamannya sudah bersikap baik pada temannya serta karena pamannya sudah kembali seperti dulu.


Woo Jin pun membalas Chan. Ia hendak mencium Chan seperti biasa. Chan yang tidak suka dicium seperti itu, langsung kabur.


Di kantornya, Tae Rin didatangi Professor Shim.


Seseorang menelpon ke sebuah tempat dan meminta bantuan untuk mencari Seo Ri.

Orang yang meminta bantuan adalah si Tuan Kim.


Selesai menelpon, dia keluar dari kamarnya yang kecil.

Di dinding kamar, tertempel artikel tentang kecelakaan Seo Ri.

Bersambung ke part 2.......

No comments:

Post a Comment