Thursday, September 6, 2018

Still 17 Ep 12 Part 2

Sebelumnya...


Tae Rin mengaku pada Profesor Shim, bahwa ia kecewa tidak bisa melihat Profesor Shim tampil dengan Seo Ri.

Mendengar itu, Profesor Shim pun bertanya apa Tae Rin benar-benar kecewa.

Sontak, Tae Rin kaget.

"Kau memiliki semuanya. Jadi kenapa kau terus memperhatikan Seo Ri?" tanya Profesor Shim.

Tae Rin pura-pura bingung.

"Apa maksudmu?"

Dan, flashback...


Profesor Shim kembali ke kelas dan memergoki Tae Rin hendak menghancurkan biola Seo Ri.

Flashback end...


"Kupikir kau cemburu karena kau masih remaja. " ucap Profesor Shim.

Flashback...


Profesor Shim melihat Tae Rin sedang bicara denngan Seo Ri.

"Kupikir akan banyak orang yang datang untuk mendengar kisahmu." ucap Seo Ri.

Flashback end...

Tae Rin kaget. Ia tidak menyangka Profesor Shim memergoki tingkahnya.


"Kau tahu kenapa aku menyukai Seo Ri?" tanya Profesor Shim.

Profesor Shim pun menjelaskan alasan dirinya menyukai permainan Seo Ri.

"Dia mungkin tidak bermain persis seperti lembaran musiknya, tapi aku bisa melihat dia sangat menikmati permainannya. Dia selalu membuatku penasaran, bagaimana dia akan bermain selanjutnya, dan aku menantikannya. Rin, kau sudah menjadi musisi yang hebat. Orang-orang berjuang dan berusaha menjadi seperti dirimu. Berhentilah membandingkan dirimu dengan orang lain karena itu hanya akan menyiksamu. Kau punya hak memainkan musikmu dengan hati gembira. Aku harap, kau tidak akan menjadi musisi yang tidak menikmati permainanmu sendiri karena kau terus menyiksa dirimu agar menjadi sempurna." ucap Profesor Shim.


Sekarang, Tae Rin sudah duduk sendirian di kantornya. Ia menangis.

"Dia tahu apa tentang diriku?" ucapnya kesal.


Seo Ri duduk di luar, sambil menghirup udara malam dan menggendong Fang.

"Fang, kau tidak menyukai udara malam?" tanya Seo Ri.


Tak lama Chan keluar dan duduk di depan Seo Ri.

"Kau tidak bisa tidur?" tanya Chan.

"Cuacanya benar-benar bagus." jawab Seo Ri.

"Bagaimana persiapanmu untuk festival?" tanya Chan.

"Semuanya berjalan lancar." jawab Seo Ri.

"Ini mengecewakan. Aku harusnya melihatmu, tapi di hari yang sama aku ada kompetisi." ucap Chan kesal.

"Aku akan kesana pada hari terakhir untuk memberimu semangat." jawab Seo Ri.


"Kami harus pergi beberapa hari untuk membiasakan diri dengan air. Jika aku menang, ada yang harus kau lakukan untukku. Aku ingin kita pergi berdua setelah aku memenangkan kompetisi. Hanya kita berdua." ucap Chan.

Seo Ri sedikit kaget tapi ia mengabulkan permintaan Chan.

Chan pun senang dan semakin bertekad untuk menang.

*Apa jadinya kalo Chan tahu Seo Ri udah jadian sama pamannya? Jangan sampe lah dia gelut ama pamannya atau dia melakukan apapun untuk merebut Seo Ri dari pamannya.


Besoknya, Woo Jin, Hee Soo dan Hyun sudah bersiap pergi ke festival.

Tak lama, Seo Ri datang dan mengaku ingin ikut dengan mereka.

Hee Soo pun berkata, akan membelikan Seo Ri mobil dan Seo Ri bisa datang nanti saat konsernya dimulai.

"Aku penasaran dan ingin membantu kalian juga. Aku akan membagi-bagikan air es bila perlu." ucap Seo Ri.

"Kau memang teman yang baik." puji Hyun lalu menyuruh Seo Ri masuk ke mobil.


Ketika Seo Ri hendak masuk ke mobil, Woo Jin menariknya. Woo Jin meminta Seo Ri semobil dengannya.


Mendengar itu, Hyun mau menyahut lagi tapi langsung dihentikan Hee Soo.

Hee Soo pun menyuruh Seo Ri pergi dengan Woo Jin.


Seo Ri pun malu-malu masuk ke mobil Woo Jin. Woo Jin membukakan pintu mobil untuknya.


Semua orang tampak sibuk mempersiapkan semuanya untuk acara 'One Music Festival'.

Seo Ri datang memberikan Hee Soo dan Hyun minuman.

Woo Jin yang sedang memeriksa panggung, merasa kepanasan.


Tak lama, Seo Ri datang dan mengarahkan kipas mini padanya.

Tapi Woo Jin malah mengambil minuman dingin yang dibawa Seo Ri dan langsung meminumnya.

"I... itu punya ku. Aku hanya punya satu." ucap Seo Ri.

"Lalu kenapa?" tanya Woo Jin.

Seo Ri pun langsung salah tingkah. Saking salah tingkahnya, ia mengarahkan kipas mininya ke wajahnya yang mulai 'panas' karena Woo Jin.


Chan juga sedang berlatih didampingi pelatih.


Acara 'One Music Festival' pun dimulai.


Chan dan tim nya tampak giat berlatih.


Acara pembukaan 'One Festival' berjalan lancar.


Keesokan harinya, Hee Soo dan Hyun kembali memeriksa panggung untuk acara puncaknya.


Seo Ri yang tengah melintas, kejatuhan papan. Melihat itu, Woo Jin bergegas menghampiri Seo Ri.

Jari Seo Ri lecet. Woo Jin tampak cemas.

"Ini hanya lecet." ucap Seo Ri.

"Tapi tetap saja itu tanganmu." jawab Woo Jin.


Hyun pun memanggil Seo Ri. Ia membutuhkan bantuan Seo Ri.

Woo Jin menatap Seo Ri dengan tatapan cemas.


Hee Soo sedang membahas dekorasi dengan Woo Jin, tapi ia langsung diam saat mendapati Woo Jin yang tengah memperhatikan Seo Ri dengan tatapan cemas.

Hee Soo pun ikut menatap Seo Ri yang sedang membagi-bagikan camilan dan minuman pada peserta orkestra.

Hee Soo merasa kasihan pada Seo Ri karena harus melihat penampilan orkestra.


Tak lama berselang, giliran Tae Rin yang tertegun melihat Seo Ri.


Woo Jin pun meminta Seo Ri berhenti membagi-bagikan makanan pada seluruh staff.

Tapi Seo Ri mengaku, kalau dirinya tidak ada apa-apa dan kembali membagi-bagikan makanan.


Tae Rin mengambil mic dan meminta para peserta orkestra melakukan rehearsal.


Dari kejauhan, Seo Ri menatap peserta orkestra yang sedang latihan dengan wajah sedih.

Dan dari jauh pula, Woo Jin menatap Seo Ri dengan tatapan iba.

Seo Ri menyendiri di hamparan padang rumput yang luas.


Tak lama, Woo Jin datang dan langsung menyenderkan tubuhnya ke punggung Seo Ri.

"Biarkan aku bersender seperti ini untuk beberapa jam. Aku lelah." ucap Woo Jin.

Lalu Woo Jin memberikan earphone nya. Mereka pun mendengarkan musik Je Te Veux.

"Bangunkan aku jika musik selesai." pinta Woo Jin.

Woo Jin pun merebahkan kepalanya di bahu Seo Ri dan mulai memejamkan mata.


Seo Ri terus menatap Woo Jin yang tertidur dengan kepala menyender di bahunya.

"Kenapa kau terus melihatku?" tanya Woo Jin.

Sontak Seo Ri malu dan mengaku tidak melihat Woo Jin.

"Kau melihatku." jawab Woo Jin.

Woo Jin lantas menegakkan kepalanya. Ia berterima kasih untuk senderannya.

Ia kemudian mengaku, ia bersender seperti itu lebih lama lagi tapi ia harus pergi sekarang.


Woo Jin pun pergi. Seo Ri tersenyum menatap Woo Jin.

"Aku baik-baik saja." ucap Seo Ri pelan.

Tak lama, Woo Jin pun berbalik menatap Seo Ri.

"Kau mau terus di sana?" tanya Woo Jin.

"Aku akan kesana." jawab Seo Ri, lalu menyusul Woo Jin.


Di sekolahnya, Chan bertemu dengan rivalnya yang bernama Jung Ji Woon dari SMA  Pungjin.

Mereka pun saling bertatapan. Aroma persaingan mulai terlihat.


Hae Beom dan Deok Soo cemas. Mereka takut Chan tidak akan bisa menunjukkan performa terbaik saat melawan Ji Woon karena Chan berlatih terlalu keras agar mereka bisa mendapatkan medali.

"Semua atlet ingin mendapatkan medali... ditambah lagi, aku ini.. Yoo Chan." jawab Chan dengan wajah bangga.


Pelatih mem-briefing mereka. Ia meminta murid-muridnya menunjukkan performa terbaik.


Chan menyemangati teman-temannya. Hae Beom berkata, ia tidak pernah menginginkan apapun sejak keluarga mereka menjadi kaya tapi ia akan menangis jika mereka tidak berhasil mendapatkan medali.

Deok Soo juga berkata, kalau ia tidak pernah menginginkan apapun selama 19 tahun ia hidup. Tapi ia sangat menginginkan medali kemenangan.

"Jangan berpikir macam-macam. Kita sudah berlatih keras." jawab Chan.


"Don't think, feel! Let's go Taesan!" teriak Chan.


Perlombaan dimulai.

Awalnya, Taesan tertinggal jauh namun mereka berhasil mengejar ketertinggalan mereka.

Dari pinggir, pelatih mengawasi mereka sambil mengayuh sepeda.

Tiba-tiba, Ri An muncul. Sambil mengayuh sepedanya, Ri An terus berteriak memberi Chan semangat.

Sontak, si pelatih terheran-heran melihatnya dan berkata kalau Ri An lah yang seharusnya jadi pelatih.


Chan dan tim nya pun berhasil memenangkan posisi ketiga.

Sontak, si pelatih dan Ri An meloncat-loncat kegirangan


Deok Soo menangis haru.

Chan bersorak karena mereka berhasil mendapatkan medali perunggu.


Di One Festival, Tae Rin kesal mendengar kualitas suara musiknya yang rendah.

"Ini bukan ruangan konser. Kita berada diluar." ucap petugas yang bertugas.

"Aku tidak bisa menerima ini. Aku mau kau melakukan semua yang kau bisa sebelum mereka selesai berlatih." jawab Tae Rin.


Tae Rin yang kesal, masuk ke sebuah ruangan. Seo Ri yang melihat Tae Rin, bergegas mengikuti Tae Rin.

"Direktur Kim, aku tidak memiliki kesempatan berbicara denganmu sejak aku memutuskan tidak ikut tampil dalam konser. Aku minta maaf untuk hal itu." ucap Seo Ri.

"Melihatmu menyerah semudah itu, kelihatannya kau tidak terlalu ingin bermain violin." jawab Tae Rin.

"Itu bukan keputusan yang mudah. Aku berhenti karena aku sangat putus asa. Aku menikmatinya untuk waktu yang lama, tapi untuk konser, aku butuh waktu beberapa saat. Aku mencintai musik lebih dari apapun. Aku tidak ingin memaksa dan mendorong diriku hanya karena aku ingin bermain sedikit lebih cepat. Menjadi baik itu tidak sepenting mampu menikmatinya. Aku akan mulai bermain lagi saat aku mulai bisa menikmati permainanku lagi. Tapi untuk orang sepertimu, semuanya mungkin terlihat menyenangkan." ucap Seo Ri.

"Orang seperti ku? Maksudmu apa?" tanya Tae Rin.

"Kau sudah sangat sempurna. Kau memiliki semuanya dan tidak ada yang tidak kau miliki. Jujur saja, saat terakhir kali melihat konsermu, aku menangis. Aku sangat terkesan dan juga iri padamu." jawab Seo Ri.

Sontak Tae Rin kaget mendengar pengakuan Seo Ri yang iri padanya.


Sekarang, Tae Rin duduk sendirian memikirkan kata-kata Seo Ri.

Ponselnya lalu berbunyi. SMS dari sang ibu yang mengatakan bahwa ia bangga pada Tae Rin.

Tae Rin pun langsung merasa sesak.


Ia langsung ingat alasan Profesor Shim yang menyukai permainan Seo Ri. Serta sang ibu yang menyalahkannya karena bermain tidak sempurna hingga Profesor Shim lebih memilih Seo Ri.

Tak sanggup menahan sesaknya, Tae Rin pun melepaskan kancing kemejanya dan menarik napas dalam-dalam.


Chan dan tim nya pun mulai menerima medali.

Pelatih memeluk anak didiknya dan mengaku bangga pada mereka.


Saat hendak kembali ke podium untuk berfoto bersama, tiba-tiba saja Chan merasakan sesuatu yang aneh pada kakinya.

"Yoo Chan, kau baik-baik saja?" tanya Deok Soo.

Chan mengangguk.


Ia lantas naik ke podium sambil menatap kakinya dengan wajah cemas.

Lalu ia memaksakan dirinya tersenyum ke arah kamera.

*Chan sakit? Omo... jgn bilang ntar Seo Ri bakal ninggalin Woo Jin dan mutusin nerima Chan karena Chan sakit parah.


Tae Rin masih di dalam ruangan. Ia menatap pantulan wajahnya di cermin.

5... 4... 3... 2... 1

Acara dimulai!!


Woo Jin cs mengawasi acara dari pinggir lapangan.

Tiba-tiba saja, Woo Jin menggenggam tangan Seo Ri.

Seo Ri yang tahu Woo Jin berusaha menguatkan dirinya pun tersenyum.


Terjadi masalah. Nona Lee yang harusnya memimpin perkusi tidak bisa tampil karena alergi makanan.

Panita acara berkata, Nona Lee menderita alergi setelah memakan sandwich.

"Tapi dia mungkin masih bisa tampil jika hanya menggunakan mainan." ucap panita.

"Kelihatannya mudah tapi itu bukan untuk siapapun. Seseorang yang tahu lagu itu dengan baik adalah yang sudah membaca musiknya." jawab Tae Rin.


Tae Rin pun memutuskan untuk menggantikan posisi Nona Lee, tapi kemudian ia teringat pada Seo Ri.

Tae Rin pun langsung meminta bantuan Seo Ri.


Seo Ri pun akhirnya benar-benar tampil di festival. Meskipun hanya mengiringi perkusi.


Woo Jin cs dan Tae Rin tersenyum melihat Seo Ri.

Begitu musik selesai, mereka mendapat tepukan meriah dari para penonton.


Profesor Shim langsung mengacungkan jempolnya pada Seo Ri.


Acara pun akhirnya selesai.

Seo Ri duduk sendiran di dekat panggung.

"Tidak ada bulan malam ini." ucap Seo Ri.

Seo Ri lalu membentuk tangannya, menyerupai kelinci.

Tepat saat itu, Woo Jin datang dan Seo Ri langsung menyembunyikan tangannya.

Woo Jin lalu duduk disamping Seo Ri.

"Kenapa kau tidak tidur?" tanya Woo Jin.

"Aku tidak bisa tidur." jawab Seo Ri.

"Ada alasan kenapa seseorang tidak bisa tidur." ucap Woo Jin.

"Aku memikirkan momen saat aku berada di panggung tadi. Aku tidak tahu kenapa. Aku pikir aku bahagia, mungkin sedikit canggung, sedikit antusias dan tidak nyaman juga. Tapi itu benar-benar terjadi tapi aku tidak yakin bagaimana itu bisa terjadi. Apakah aku benar-benar berdiri di sana? Aku merasa seperti mimpi. Tapi seberapa banyak pun aku memikirkannya, aku tidak yakin ini mimpi bagus atau buruk." jawab Seo Ri.

"Itu mimpi yang bagus." ucap Woo Jin.


Woo Jin lantas memberikan sebuah kertas pada Seo Ri. Ia menyuruh Seo Ri membukanya.

Seo Ri membukanya dan terkejut melihat lukisan dirinya.


"Kau terlihat sangat bahagia saat di panggung tadi. " ucap Woo Jin.

Seo Ri pun terharu. Sambil menatap lukisannya, ia bertanya apa itu benar-benar lukisannya saat berada di panggung tadi.

"Kau benar-benar melakukannya. Kau terlihat bahagia dan antusias. Hanya dengan melihatmu, membuat penonton merasa bahagia." jawab Woo Jin.

"Aku lega. Aku tadinya cemas kalau diriku akan sedih. Aku tidak bisa memegang violin, jadi mungkin aku akan menyesal, karena aku berpikir mungkin aku akan diremehkan. Tapi aku bahagia aku melakukannya." ucap Seo Ri.


Lebih lanjut, Seo Ri berkata ia merasa nyaman ketika melakukan sesuatu dengan musik.

Seo Ri lalu menatap Woo Jin.

"Gomawoyo, ahjussi. Karena memberiku jawaban. Aku lebih bahagia karena kau yang membuat panggung itu." ucap Seo Ri.


Untuk sesaat mereka terdiam.

Tak lama kemudian, Woo Jin pun berkata bahwa ia menyukai Seo Ri.

"Aku juga." jawab Seo Ri.

Mereka berdua lalu saling bertatapan. Hingga akhirnya, Woo Jin mencium Seo Ri.

Usai berciuman, mendadak saja Seo Ri menjauhi Woo Jin.


Woo Jin sontak heran, tapi ia tersenyum geli saat Seo Ri mengaku jantungnya berdetak cepat dan tidak ingin Woo Jin mendengarnya.


Woo Jin lantas berdiri di depan Seo Ri.

Seo Ri mengaku itu yang pertama buatnya.

"Aku juga." jawab Woo Jin yang sontak membuat Seo Ri kaget.

"Bagaimana bisa kau tidak berciuman sepanjang hidupmu?" tanya Seo Ri.

"Aku tidak tahu.' jawab Woo Jin.


Woo Jin mengajak Seo Ri pergi. Ia mengulurkan tangannya pada Seo Ri dan Seo Ri menyambut tangannya.

Mereka mulai berjalan.


Seo Ri pun berkata, menginginkan sesuatu. Tapi belum selesai Seo Ri bicara, Woo Jin kembali mencium Seo Ri karena mengira Seo Ri ingin dicium lagi.

"Maksudku, aku ingin melihat lukisan itu lagi." ucap Seo Ri yang sontak membuat Woo Jin malu.

Seo Ri sontak tertawa

"Ahjussi, kau sangat lucu." ucapnya.

Bersambung...

Epi selanjutnya, kayaknya bakal sedih-sedihan nih...

Chan kemungkinan sakit parah.

Ditambah, Seo Ri udah jadian sama Woo Jin yang pasti akan membuat Chan patah hati.

No comments:

Post a Comment