Tuesday, September 11, 2018

Still 17 Ep 13 Part 1

Sebelumnya...


Episode ini dibuka dengan Seo Ri yang tertawa melihat ekspresi Woo Jin.

"Ahjussi, kau imut sekali." ucap Seo Ri.

"Tidak baik menggoda orang seperti itu." jawab Woo Jin.

Woo Jin pun ikut tertawa.


Keesokan harinya, di Chaewoom, Seo Ri mengucapkan terima kasih pada semuanya.

Hyun sontak heran, Seo Ri mengucapkan kata itu.

Seo Ri berkata, kontraknya hanya sampai festival selesai.

Hee Soo pun menunjukkan beberapa kartu nama yang diterimanya karena festival itu.

Ia meminta Seo Ri tetap bekerja di Chaewoom. Tak hanya itu, Seo Ri juga dipinjami ponsel kantor.

Hee Soo berkata, perusahaan lah yang akan memmbayar tagihannya.

Sontak, Seo Ri senang dan langsung mengucapkan terima kasih pada Hee Soo.


Woo Jin yang juga senang, langsung berbisik pada Hyun kalau Hee Soo lah teman sejatinya.

Hyun tertawa sinis.

Kemudian, ia memberikan ucapan selamat pada Seo Ri yang kini sudah menjadi pegawa tetap Chaewoom.

Karena festival itu sudah berakhir dan berjalan sukses, Hee Soo pun memberikan mereka cuti seminggu.


Seo Ri dan Woo Jin jalan-jalan di taman sambil bergandengan tangan.

Seo Ri mengaku senang dipinjami ponsel kantor dan diangkat sebagai karyawan tetap.

"Sekarang aku dianggap wanita berusia 30 tahun. Aku bahagia." ucap Seo Ri.


Seo Ri lantas melihat nenek yang biasanya duduk di taman itu menyaksikannya latihan.

"Kau tidak membawa violin cantik itu." ucap nenek.

"Senarnya putus. Aku tidak bisa memainkannya sampai senarnya diganti." jawab Seo Ri.

Nenek pun melirik Woo Jin.

"Suamimu sangat tampan. Aku akan menemuimu lain kali." ucap nenek, lalu buru-buru pergi.

Seo Ri mau membantah, tapi Woo Jin malah seneng dikira suami Seo Ri dan berterima kasih pada nenek karena sudah memujinya tampan.


"Kau bukan suamiku." ucap Seo Ri dengan wajah merona malu.

"Dia akan malu kalau kita jujur." jawab Woo Jin.

Woo Jin lalu menggumam, kalau dirinya akan segera menjadi suami Seo Ri.

"Apa?" tanya Seo Ri.

"Tidak ada. Ayo pergi." jawab Woo jin.


Mereka pun kembali melanjutkan perjalanan.

Seo Ri bercerita, kalau nenek itu suka duduk di taman melihatnya latihan.

Woo Jin mengangguk-ngangguk. Tapi kemudian langkahnya terhenti.

"Waeyo?" tanya Seo Ri.

"Bagaimana kalau kau berusaha?" jawab Woo Jin, lalu menunjuk ke arah spanduk orang hilang.


Tapi Seo Ri merasa, itu tidak akan gunanya.

"Mereka tinggal disini selama beberapa tahun. Bahkan jika paman dan bibimu tidak melihatnya, seseorang yang tahu mungkin menghubungimu. Jangan langsung menyimpulkan dan cobalah dulu. Seseorang mengatakan padaku, kau tidak akan tahu apa yang terjadi selanjutnya. Dia juga bilang, lebih baik mencoba dulu." ucap Woo Jin.

Seo Ri pun tersenyum.


Mereka pun langsung mendatangi tempat pemasangan spanduk.

Seo Ri menuliskan nama paman dan bibinya di sebuah kertas. Ia mengaku, terakhir bertemu dengan paman dan bibinya pada tahun 2007. Ia juga berkata, paman dan bibinya pindah 11 tahun yang lalu dan tidak yakin apakah mereka putus kontak setelah atau sebelum pindah.

"Butuh waktu untuk memasang spanduk, banyak orang mencetak poster. Kami juga menawarkan layanan mencetak poster. Kalian menginginkannya?"

"Ya, tolong itu juga." jawab Woo Jin.


Di jalan, Woo Jin bertanya kenapa Seo Ri dirawat di rumah sakit begitu lama.

"Aku mengalami kecelakaan mobil." jawab Seo Ri yang sontak membuat Woo Jin kaget dan cemas.

"Mereka bilang itu bukan kecelakaan besar. Sepertinya aku satu-satunya yang tidak beruntung. Tapi ada sesuatu yang aneh terjadi hari itu." ucap Seo Ri.


Flashback...

Seo Ri menceritakan bahwa ia melihat pamannya di hari ia kecelakaan. Padahal yang ia tahu, pamannya tengah melakukan perjalanan bisnis ke Jepang.

Flashback end...


"Mungkin kebohongannya berkaitan dengan menghilangnya mereka. Itu menggangguku." ucap Seo Ri.


Di kamarnya, Woo Jin sedang mencari tahu soal perusahaan pamannya Seo Ri.

Ia terkejut membaca hasilnya, bahwa perusahaan paman Seo Ri sudah bangkrut.

Woo Jin lantas menghubungi ayahnya dan meminta bantuan.


Seo Ri latihan violin di taman.

Nenek itu datang lagi melihat Seo Ri. Ia tersenyum begitu Seo Ri menoleh ke arahnya. Begitu pun Seo Ri.


Selesai bermain, Seo Ri menghampiri nenek itu.

Nenek itu memberikan jagung pada Seo Ri dan menyuruh Seo Ri memakan jagung itu dengan Woo Jin.

Seo Ri ingin menyangkal. Ia mau menjelaskan bahwa Woo Jin bukanlah suaminya tapi tidak jadi.

Seo Ri kemudian berkata, bahwa nenek tidak perlu keluar rumah hanya untuk mendengar permainannya.

"Aku akan bermain sangat keras sampai nenek mendengarnya." ucap Seo Ri.

Nenek pun berterima kasih.


Di rumah, Jennifer pamit pada Woo Jin yang baru turun ke bawah. Jennifer berkata, ia mau ke laundry dan bertanya, apa Woo Jin membutuhkan sesuatu.

"Aku tidak perlu apa-apa." jawab Woo Jin.

Jennifer pun mulai berjalan tapi ia menjatuhkan sebuah foto.

Woo Jin mengambilnya dan terkejut melihat foto itu yang adalah foto Jennifer. Jennifer tersenyum di foto itu.

Sontak, Jennifer langsung ingat saat wanita bersapatu kuning itu memberikan fotonya.


Flashback...

Di depan kuil, wanita bersepatu kuning itu memberikan sebuah foto pada Jennifer.

"Eonni, uri oppa pasti ingin melihatmu tersenyum lagi seperti di foto ini." ucap wanita itu.

Sontak, tangis Jennifer pecah melihat foto itu.

Flashback end.


"Aku tidak pernah melihatmu tersenyum lebar seperti ini." ucap Woo Jin.

Woo Jin lantas mengembalikan foto itu.

"Tersenyum saat kau bahagia. Menangis saat kau sedih. Aku yakin ada orang yang ingin menunjukkan emosinya dan ada pula yang tidak. Aku tidak menginginkannya." jawab Jennifer.

Jennifer pun pamit.

"Aku pun pernah seperti itu. Sampai saat ini, aku pikir, aku tidak bisa tertawa lagi. Aku tidak tahu apa yang akan terjadi tapi hari itu akan datang. Hari saat kau bisa tersenyum seperti dulu." ucap Woo Jin.

Langkah Jennifer pun terhenti sejenak. Matanya mulai berkaca-kaca. Ia lalu menghela nafas dan... beranjak pergi.


Seo Ri sudah hampir sampai di rumah.

Woo Jin tiba-tiba datang dan membantu Seo Ri membawa jagung pemberian nenek.

"Bilang padaku jika keluar. Kita tinggal di tempat yang sama." ucap Woo Jin.

Seo Ri hanya tersenyum malu-malu.

"Kau keluar hanya untuk membeli jagung?" tanya Woo Jin.

"Itu bayaran pertamaku. Aku bermain untuk nenek setelah memperbaikinya dan dia katanya mendengarkanku bermain, membuatnya melupakan rasa sakit lututnya dan membuatnya bahagia. Bagus untuknya, bagus untukku dan kita mendapat beberapa jagung." jawab Seo Ri.

"Kau bersemangat lagi." ucap Woo Jin.

"Apa yang harus kumainkan untuknya lain kali?" tanya Seo Ri.


Woo Jin pun berhenti berjalan.

Sementara Seo Ri terus memikirkan lagu apa yang akan ia mainkan untuk nenek lain kali.

Woo Jin teringat pada berkas yang dikirimkan ayahnya. Berkas itu adalah surat jual beli rumahnya Seo Ri yang disetujui oleh Gook Mi Hyun, bibinya Seo Ri.

Woo Jin merasa aneh. Ia yakin wali Seo Ri yang resmi adalah pamannya.


Ia lalu bertanya-tanya kenapa bibinya menjual rumah Seo Ri.

Woo Jin masih bertanya-tanya ketika Seo Ri berbalik dan memanggilnya.

Mereka berdua lalu masuk ke dalam rumah.

(Episode 25, Death and the Girl)


Keesokan paginya seorang kurir meletakkan poster dimana-mana.

Poster yang bertuliskan, "Hilang, Kim Hyun Hyu, Gook Mi Hyun. Tinggal di Hyein-dong hingga 2007, Pemilik K and J Trading.


Di rumah, Jennifer menitipkan papan penyemangat untuk Chan pada Woo Jin dan Seo Ri.

"Ini caraku menunjukkan dukunganku meskipun aku tidak bisa berada di sana karena pekerjaan." ucap Jennifer.

Jennifer lalu membuat finger love.

"Ya, a.. aku akan memberikannya, termasuk hatimu juga." jawab Woo Jin kaget.

Setelah itu mereka beranjak pergi.


Di mobil, Seo Ri mengarahkan papan penyemangat dari Jennifer yang ternyata bisa menyala.

"Aku tidak tahu teknologi sudah secanggih ini." ucap Seo Ri.

"Kenapa kau selalu menyukai hal-hal yang mengilap?" tanya Woo Jin sembari tersenyum.

Seo Ri pun mengerti dan berhenti mengarahkan papan penyemangat berlampu itu pada Woo Jin.


Seo Ri tidak sengaja melihat toko bunga saat mereka hampir tiba di tempat Chan.

Ia menyuruh Woo Jin berhenti sebentar karena ingin membelikan bunga untuk Chan.

Woo Jin mengerti.


Seorang ahjumma tampak berdiri di depan toko bunga yang dilihat Seo Ri. Dia, bibinya Seo Ri!


Ree An tiba di tempat kompetisi Chan.

"Dimana Chan ku yang imut?" tanyanya sambil celingukan mencari Chan.

Tak lama berselang, ia melihat Chan yang sedang melakukan pemanasan.

"Chan, chan!" panggilnya.

Ia pun berlari, tapi langkahnya langsung terhenti saat melihat Woo Jin menghampiri Chan.

"Kenapa dia disini? Bukankah dia pria yang sibuk?" gerutu Ree An.

Ree An lantas menutupi kepalanya dengan paper bag dan beranjak pergi.


Chan mencari Seo Ri. Woo Jin berkata, Seo Ri sedang membeli sesuatu.

Chan lalu melihat papan penyemangat Jennifer di tangan Woo Jin yang bertuliskan, "Go Chan! By Jennifer".

Woo Jin pun menirukan gaya bicara Jennifer.

"Ini caraku menunjukkan dukunganku. By Jennifer." ucap Woo Jin.

Woo Jin lalu mengaku, Jennifer lah yang menyuruhnya melakukan itu.


"Aku sangat iri karena tidak melihatnya." jawab Chan yang sempat bengong melihat pamannya menirukan Jennifer.

"Chan, aku yakin kau gugup tapi pastikan kau santai..."


"Samchoon-ah, aku lah yang bertanding. Orang-orang mungkin akan berpikir kau lah yang bertanding. Samchoon, aku pasti bisa. Aku tidak akan menyesali apapun. Aku akan juara pertama, jadi bersiaplah untuk memberikan ucapan selamat padaku." ucap Chan.

"Tentu saja, kau menyukainya." jawab Woo Jin, lalu memeluk Chan.

Chan pun beranjak pergi.


Chan celingukan mencari Seo Ri. Ia ingin melihat Seo Ri terlebih dahulu.

Tiba-tiba, Chan merasa sakit di kakinya. Ia pun menurunkan kaus kakinya dan melihat bengkak di kakinya semakin membesar.

"Ini buruk." ucap Chan.


Seo Ri memanggil Chan saat Chan lagi membeli obat penghilang rasa sakit pada petugas kesehatan.

Chan pun langsung menghampiri Seo Ri.

Chan mengajak Seo Ri tos. Mereka tos, tapi Chan tidak melepaskan tangan Seo Ri setelah itu.

"Akan kupastikan aku menang." ucap Chan.

Seo Ri sedikit terkejut, tapi kemudian ia tersenyum dan menyemangati Chan.


Nyonya Gook kembali masuk ke toko bunganya.

Ia minta maaf pada karyawannya karena membuat karyawannya bekerja sendirian.

Lalu ia melihat sebuah buku catatan di mejanya.

"Sepertinya salah satu pelanggan kita meninggalkannya." ucap sang karyawan.

"Kalau begitu, kita harus mengembalikannya. Aku ingin tahu apa ada nomor teleponnya." jawab Nyonya Gook.


Tapi saat membalik buku agenda itu dan melihat nama Seo Ri di sana, ia sontak terkejut dan menjatuhkan buku agenda Seo Ri.

Ketika melihat foto Seo Ri dibalik buku agenda itu, ia tambah kaget dan bahkan sampai terjatuh serta memecahkan vas bunganya.


Chan sedang melakukan pemanasan untuk yang terakhir kalinya sebelum bertanding.

Tak lama, Jin Woon datang.

Jin Woon mengejek Chan. Ia bilang pertunjukan Chan sangat membosankan.

Chan balas menyindir Jin Woon dengan mengatai Jin Woon gugup.

Pertandingan dimulai.


Chan dan Jin Woon saling kejar mengejar, sementara pedayung lain tertinggal di belakang.


Seo Ri dan Woo Jin pun cemas saat melihat Chan yang mulai tertinggal.


Si Duo Kembar juga cemas melihat Chan yang mulai melambat. Deok Soo bahkan mengaku tidak mau menonton pertandingannya lagi.


Hae Beom lalu melihat seorang gadis yang tak jauh dari hadapan mereka. Gadis dengan paper bag di kepala yang sedang menonton pertandingan Chan.

"Hey, siapa gadis dengan paper bag di kepala itu?" tanya Hae Beom.

"Aku tidak tahu." jawab Deok Soo.

Hae Beom dan Deok Soo lantas kembali menyemangati Chan.


Si gadis paper bag yang tak lain adalah Ree An ikut menyemangati Chan.

Chan yang ingin menyatakan perasaannya pada Seo Ri kalau berhasil memenangkan perlombaan pun mulai mengejar ketertinggalannya.

Sontak, itu membuat teman-temannya di SMA Taesan dan juga Woo Jin serta Seo Ri senang.


Chan dan Jin Woon sama-sama memasuki garis finish.

Hasilnya, Chan keluar sebagai juara pertama!

Sontak, kubu Chan bersorak senang.

Woo Jin bahkan sampai menangis saking senangnya Chan menang.

Chan pun berteriak.


Seo Ri dan Woo Jin memberi ucapan selamat pada Chan.

Seo Ri lantas memberitahu Chan kalau Woo Jin sempat menangis.

Woo Jin yang malu langsung berkata bahwa dia tidak menangis.

Seo Ri lalu memberikan bunga yang dibelinya tadi pada Chan.

Setelah itu, ia mengajak Chan foto-foto. Tapi saat merogoh tasnya untuk mengambil ponselnya, ia baru sadar, buku catatannya tertinggal di toko bunga.

Woo Jin pun langsung pergi mengambilkan buku Seo Ri.


Setelah Woo Jin pergi, Chan menagih janjinya pada Seo Ri. Ia mengajak Seo Ri ketemuan di taman jam tujuh malam nanti.

Seo Ri mengangguk.

Si Duo Kembar lalu memanggil Chan. Mereka bilang, Chan dicari pelatih. Chan pun beranjak pergi.


Nyonya Gook mencari Seo Ri sampai ke SMA Taesan.

Saat lagi celingukan mencari Seo Ri, beberapa siswi tidak sengaja menabraknya.

Siswi itu minta maaf, lalu pergi.

Woo Jin datang dan membantu Nyonya Gook berdiri.

Woo Jin melihat buku Seo Ri tergeletak di tanah. Ia mengambilnya dan berkata kalau buku itu milik temannya.

Sontak Nyonya Gook kaget.

"Kau dari toko bunga, kan?" tanya Woo Jin.


Tak lama kemudian, Seo Ri datang.

"Ahjussi!" panggil Seo Ri.

Mendengar suara Seo Ri, Nyonya Gook langsung pergi.


Seo Ri menghampiri Woo Jin. Woo Jin pun berkata, pemilik toko bunga yang mengembalikannya.

Seo Ri lega.

"Tapi nomor ponselku ada di dalam. Kenapa dia tidak menelponku saja? Bagaimana dia bisa menemukanku?" tanya Seo Ri heran.


Woo Jin pun kembali menatap ke arah Nyonya Gook pergi. Ia tambah merasa heran.


Woo Jin mengantarkan Seo Ri pulang. Ia menyuruh Seo Ri masuk dan berkata akan pergi sebentar untuk menemui seseorang.


Setelah Woo Jin pergi, Seo Ri penasaran siapa yang mau ditemui Woo Jin.

Seseorang tiba-tiba menelpon Seo Ri. Nugu?


Dalam perjalanan, Woo Jin terus memikirkan Nyonya Gook yang langsung berlari begitu Seo Ri datang.

Ia juga memikirkan kata-kata Seo Ri bagaimana si pemilik toko bunga itu bisa menemukannya.


Seo Ri dan Tae Rin bertemu di sebuah restoran. Tae Rin mengaku, bahwa ia mendapatkan nomor Seo Ri dari Hee Soo.

"Aku akan pergi keluar negeri. Sebelum aku pergi, aku ingin melihatmu dan hari ini aku senggang." ucap Tae Rin.

"Kau pasti keluar negeri untuk konser." jawab Seo Ri.


"Aku pergi untuk belajar." ucap Tae Rin.

"Apalagi yang mau kau pelajari? Sepertinya kau bisa mengajar di universitas semester depan." jawab Seo Ri.

"Aku tidak benar-benar berpikir aku memenuhi syarat untuk mengajar siapa pun sekarang. Aku pergi karena aku cemburu padamu." ucap Tae Rin.

"Aku?" tanya Seo Ri bingung.

"Aku akan mencoba menemukan cara menikmati bermain musik. Aku mencintai musik tapi sepertinya aku salah jalan. Aku juga ingin menikmati apa yang aku suka untuk waktu yang lama. Jadi aku ingin beristirahat sebentar. Bisa dibilang..."

"Intermission." jawab Tae Rin dan Seo Ri bersamaan. Keduanya lalu tertawa.

Tae Rin lantas berterima kasih soal festivalnya yang berjalan sukses berkat Seo Ri.

Seo Ri juga berterima kasih karena Tae Rin sudah memberinya kesempatan tampil di atas panggung.


Tae Rin lantas memberikan Seo Ri hadiah. Tae Ri berkata, akan terlihat bagus jika Seo Ri memasangnya di kotak violin.

"Yeppeuda." ucap Seo Ri sambil melihat pin violinnya hadiah dari Tae Rin.


"Aku ingin kau terus bermain musik bagaimana pun caranya." ucap Tae Rin yang membuat Seo Ri tersenyum.

Tae Rin juga meminta maaf atas semuanya. Seo Ri pun bingung dan bertanya kenapa Tae Rin minta maaf padanya.

Tapi Tae Rin tidak menjelaskan detailnya karena malu dan harus mengejar penerbangannya.

Sebelum pergi, Tae Rin mengajak Seo Ri duet, memainkan 'Concerto for Two Violins' jika mereka bertemu lagi.

Seo Ri bersedia dan berjanji akan berlatih dengan keras sampai saat itu tiba.


Tae Rin kemudian pamit. Saat berjalan pergi, sang ibu menelponnya. Tae Rin tersenyum menatap panggilan ibunya tapi tidak menjawabnya.


Seo Ri tersenyum melihat pin yang sama juga dipakai Tae Rin di tas Violin.


Chan menunggu Seo Ri di atas vespanya. Ia berniat membawa Seo Ri ke sebuah restoran dan menyatakan cintanya.

Tak lama, Seo Ri datang. Chan pun menunjukkan sim nya yang ia dapat saat tinggal di tempat kakeknya di Jeju.


Mereka pun mulai pergi.

Chan menggunakan GPS sebagai penunjuk arah, tapi saat dia disuruh memutar ke arah jam dua, ia kebingungan.

Chan pun mengaku pada Seo Ri kalau itu kali pertamanya menggunakan GPS.

Saat GPS menyuruhnya berbelok ke arah timur, ia tambah bingung.

Seo Ri pun menyuruh Chan belok kanan, tapi malah kelewatan.


Ketika itulah, motor Chan tidak sengaja menginjak paku.

GPS pun mencari rute baru.


Chan dengan wajah bingung, meminta Seo Ri percaya kepadanya.

Sementara Seo Ri yang duduk di belakang, juga kebingungan.

Bersambung ke part 2........

Ku ngakak liat ending part ini... selalu ada insiden ketika mereka sedang berkendara.

Pertama, Seo Ri narik celananya Chan pas lagi diboncengin naik sepeda.

Kedua, si Chan gk ngerti GPS pas lagi boncengin Seo Ri naik vespa.

Astaga, Chan ku... lu mendingan jadian ama Ree An aja deh, biar gak sok-sok an jadi orang dewasa...

Btw, itu mukanya si Chan yang lagi bingung gitu ingetin gw sama Chan kecil.

Untuk paman dan bibi Seo Ri, ku makin penasaran ini motif bibi Seo Ri jual rumah Seo Ri apaan yaaak?

Karena perusahaan suaminya bangkrut kah, terus dia jual rumah Seo Ri dan pergi meninggalkan suaminya?

No comments:

Post a Comment