Thursday, September 13, 2018

Still 17 Ep 14 Part 1

Sebelumnya...


Woo Jin langsung memeluk Seo Ri begitu menyadari, gadis di hadapannya adalah gadis yang dikiranya sudah tewas dalam kecelakaan itu.

"Jadi namamu Woo Seo Ri? Kau masih hidup?"

Air mata Woo Jin pun berjatuhan.

"Terima kasih karena masih hidup."

Seo Ri bingung, "Ahjussi wae?"


Woo Jin tidak menjawab dan semakin mengeratkan pelukannya.


Tak lama berselang, Seo Ri balas memeluk Woo Jin. Air matanya juga pecah.


Woo Jin lantas melepaskan pelukannya. Ia menatap Seo Ri dan berterima kasih karena Seo Ri masih hidup.

Seo Ri mengangguk dan menghapus air mata Woo Jin. Air mata Seo Ri sendiri masih mengalir deras.

Perlahan-lahan, Woo Jin menurunkan tangannya dari pinggang Seo Ri. Ia menyuruh Seo Ri keluar jika sudah selesai.

"Aku akan menunggumu diluar." ucap Woo Jin pelan.

Woo Jin lalu beranjak pergi.


Dan Seo Ri kembali menatap fotonya Su Mi.


Seorang petugas keamanan kebingungan mencari seseorang di depan rumah abu. Tangannya tampak memegang secangkir air.

Ia bertanya pada seorang tukang kebun.

"Lihat pemuda yang berdiri di sana?" tanyanya. Tapi si tukang kebun tidak melihatnya.

"Kemana perginya? Dia pucat pasi seperti mau pingsan. Kuharap dia baik-baik saja." jawab si petugas keamanan.

Si petugas keamanan lantas meminum air nya.


Di depan SMA nya, Ree An memasang spanduk bertuliskan,  "Kebanggaan Tae San, Yoo Chan dari Klub Dayung".

Tak lama kemudian, satpam penjaga sekolah datang dan memarahi Ree An karena memasang spanduk sembarangan. Ia lantas menyuruh Ree An memasang spanduk yang sebelumnya.

Ree An pun langsung mengambil spanduk itu yang digeletakkannya di aspal.

"Pak, Lee Ree An ini adalah aku. Aku peringkat satu tiap bulan, jadi ini tidak berarti. Aku akan menggantung itu kali ini saja." ucap Ree An.


Ree An pun kabur membawa spanduk itu.

"Hei, siswa nasional nomor satu!" teriak si satpam sekolah kesal.

Tapi Ree An tidak peduli dan terus kabur.


Di RS, Chan masih tidak percaya kalau Seo Ri adalah pacar pamannya. Ia yakin, suster itu salah paham.

Ingin meluruskan semuanya, Chan pun berniat meninggalkan kamarnya.


Tapi tepat saat itu, dokter datang bersama perawat.

Chan pun meyakinkan mereka, kalau ia sudah membaik.


Chan mau pergi, tapi dokter dan suster malah memaksanya duduk di ranjang.

Chan merengek minta pergi. Ia juga meyakinkan dokter kalau dirinya sudah membaik.

Tak lama, Deok Soo dan Hae Beom datang. Melihat Chan yang memberontak seperti anak kecil, Deok Soo dan Hae Beom pun ikut membantu dokter dan suster menahan Chan.


Chan pun dibawa ke ruangan dokter. Chan terus-terusan meyakinkan dirinya sudah membaik.

Dokter tidak percaya dan berkata, kaki Chan tidak mungkin membaik hanya dalam dua hari.

Suster lalu menunjukkan hasil rontgen Chan. Si dokter terkejut melihat kaki Chan benar-benar sudah pulih.


Chan bergegas meninggalkan RS. Ia pergi dengan taksi.

Hae Beom dan Deok Soo mengejar Chan, tapi Chan keburu pergi.

"Dia cepat sekali seperti hewan." ucap Deok Soo.

Hae Beom lalu mengajak Deok Soo makan sup rumput laut di RS. Ia berkata, sup rumput laut yang disajikan RS sangat lezat.

"Kenapa kau berkata seperti itu? Itukan sudah biasa." jawab Deok Soo, tapi kemudian ia malah mengajak Hae Beom makan sup rumput laut itu.


Hyung Tae yang habis operasi, langsung masuk ke kamar Seo Ri.

Ia pun khawatir tidak mendapati Seo Ri di sana.

Hyung Tae lantas menghubungi Jennifer.


Jennifer yang saat itu sedang memasak pun berkata, akan melihat apa yang terjadi.

Hyung Tae pun berkata, bahwa Seo Ri belum makan sama sekali setelah pemeriksaan.

"Dia mungkin syok soal temannya. Dia pasti sangat lelah. Tolong jaga dia." pinta Hyung Tae.

Jennifer mengerti.

Hyung Tae juga mengajak Jennifer bertemu.

Woo Jin dan Seo Ri baru tiba di rumah.


Dengan raut wajah sedih, Seo Ri berkata bahwa ada seseorang yang berterima kasih karena ia masih hidup.

"Aku merasa bersalah pada temanku untuk beberapa alasan. Kami mengalami kecelakaan yang sama, tapi hanya aku yang selamat." ucap Seo Ri.

Woo Jin yang merasa bersalah itu pun tak berani menatap Seo Ri.

Ia mengajak Seo Ri masuk.

Woo Jin turun dari mobil dan masuk duluan ke dalam rumah.


Sesampainya di dalam, Jennifer langsung memegang tangan Seo Ri. Ia mengaku, bahwa Hyung Tae sudah menceritakan semuanya.

"Saat lelah, kau harus menjaga diri sendiri. Makanlah bubur yang kubuatkan untukmu." ucap Jennifer.

Tapi Seo Ri ingin berbaring. Jennifer pun menyuruh Seo Ri berbaring di kamarnya.


Jennifer lalu menatap Woo Jin. Ia cemas melihat wajah Woo Jin yang pucat.

Woo Jin beralasan, itu karena dia terlalu lama menyetir.

Jennifer pun menyuruh Woo Jin istirahat.

Jennifer lalu berkata akan mengambilkan handuk hangat dan beranjak pergi.


Setelah Jennifer pergi, Woo Jin menyuruh Seo Ri istirahat.

Seo Ri pun heran melihat sikap Woo Jin. Ia bertanya, kenapa Woo Jin tidak menatapnya saat berbicara dengannya.

Woo Jin beralasan, itu karena dia lelah.


Sesampainya di kamar, Woo Jin terduduk lemas di depan pintunya. Ia menangis dan kembali menyalahkan dirinya.

Woo Jin lantas teringat saat ia menyuruh Seo Ri turun di halte berikutnya.

Kata-kata Hyung Tae lalu terngiang di telinganya, bahwa Seo Ri tidak akan hidup seperti itu jika bukan karena kecelakaan itu.


Setelah itu, ia ingat cerita Seo Ri. Seo Ri mengaku, bahwa ia sempat terbaring koma di RS dan keterampilannya bermain violin menghilang karena itu.

Lalu, ia ingat kata-kata Profesor Shim yang mengatakan bahwa hidup Seo Ri akan berbeda jika Seo Ri terus bermain violin.

Tangis Woo Jin tambah deras.

Ia teringat pada Tuan Byun yang berniat memanfaatkan Seo Ri dengan menjual kisah sedih Seo Ri.

Ia juga ingat pada Seo Ri yang mengaku tidak masalah dimanfaatkan asal bisa tampil bermain violin.

Woo Jin lalu ingat kata-kata Seo Ri yang ingin waktunya kembali.

Woo Jin pun kembali menyalahkan dirinya.

Episode 27--Perpisahan


Jennifer tengah menjaga dan merawat Seo Ri.

Seo Ri menangis dalam tidurnya. Jennifer pun berusaha menenangkan Seo Ri dengan menepuk2 punggung Seo Ri.


Chan masuk ke rumah dengan terburu-buru. Bersamaan dengan itu, Jennifer baru keluar dari kamarnya.

Chan pun langsung menanyakan Seo Ri dan Woo Jin.

"Seo Ri baru saja tidur dan Mr. Gong ada di kamarnya." jawab Jennifer.

Mendengar itu, Chan bergegas lari ke atas.


Sebelum masuk ke kamar pamannya, Chan pun menyiapkan dirinya soal fakta Seo Ri yang adalah pacar Woo Jin.

Ia menekan hendel pintu kamar pamannya dan memaksakan dirinya tertawa.

Ia mengaku mendengar cerita lucu di rumah sakit, tapi saat mendapati kamar pamannya kosong, ia pun heran setengah mati.


Woo Jin sendiri ada di gudang. Ia menatap lonceng kelinci Seo Ri dan mengingat bagaimana lonceng itu bisa berada di tangannya.


Chan pergi ke halaman. Ia berusaha menghubungi pamannya sambil celingak celinguk ke sekeliling rumah.

Saat mendapati pintu gudang terbuka, ia pun terkejut.


Chan pun masuk dan mendapati pamannya sedang menangis dengan wajah terpukul.

Chan cemas dan langsung memeluk pamannya.

"Apa yang terjadi? Katakan padaku?" pinta Chan.

Woo Jin diam saja dan terus menangis dalam dekapan Chan.


Chan mengikuti pamannya ke kamar. Ia terus meminta pamannya cerita.

"Chan-ah." panggil pamannya.

"Ada apa? Katakan padaku." pinta Chan.

"Paman baik-baik saja." jawab Woo Jin.

Woo Jin lalu menanyakan kaki Chan. Ia berkata, Chan harusnya istirahat.

Sontak, Chan langsung mengangkat dan menggerak-gerakkan kakinya untuk menunjukkan bahwa kakinya sudah membaik.

"Chan-ah." panggil pamannya lagi.

"Oh, wae?" tanya Chan.

"Paman agak lelah. Bolehkah paman istirahat. Paman mohon." pinta Woo Jin.


Jennifer membangunkan Seo Ri dan membujuknya makan, tapi Seo Ri mengaku ingin tidur.

Keringat Seo Ri terus bercucuran. Jennifer pun mengelap keringat Seo Ri.


Chan turun ke bawah dengan wajah lesu. Bersamaan dengan itu, Jennifer sedang menuju dapur.

Chan pun langsung menanyakan soal pamannya pada Jennifer.

"Kudengar, mereka berdua pergi menemui temannya Seo Ri. Teman yang mengalami kecelakaan dengan Seo Ri waktu itu." jawab Jennifer.

"Ahjumma baik-baik saja?" tanya Chan.

"Dia pasti sangat syok. Dia sudah tidur seharian." jawab Jennifer.

Jennifer lantas berkata, akan pergi ke RS untuk mengurus kepulangan Chan.

Chan bilang, biar dia saja.

Tapi Jennifer mengaku, ada seseorang yang juga mau ia temui di RS.


Setelah Jennifer pergi, Chan bertanya-tanya kenapa pamannya begitu tertekan, padahal yang meninggal adalah temannya Seo Ri.


Chan pun pergi ke gudang untuk mencari tahu kenapa pamannya sangat tertekan.

Ia penasaran, kenapa pamannya melihat barang-barang lama.

Tak lama kemudian, Chan pun menyadari trauma pamannya kambuh lagi.


Chan langsung ke kamar pamannya. Ia pun panic tidak mendapati pamannya di kamar.

Ia fikir, pamannya pergi lagi. Tak lama, Woo Jin keluar dari kamar mandi.

Chan pun langsung lega. Saking leganya, ia sampai terduduk lemas.

"Ada apa?" tanya Woo jin.


Mereka lalu bicara di kamar Woo Jin. Chan mengaku, memikirkan hari itu saat melihat pamannya menangis di gudang.

"Saat pertama paman datang kemari dari Jerman setelah memutuskan untuk tinggal dengan kami." ucap Chan.

Flashback...


Chan kecil masuk ke kamar pamannya. Di sana, Woo Jin duduk sendirian sambil menangis.

Chan mengaku senang karena pamannya akan tinggal bersama mereka.

Tapi begitu melihat pamannya menangis, ia langsung diam.

"Samchoon, kenapa menangis. Ada yang mengambil makananmu?" tanya Chan.

Woo Jin pun memeluk Chan. Chan ikut menangis.

Flashback end... 


Sekarang, mata Chan mulai berkaca-kaca. Ia mengaku takut kalau pamannya kembali seperti dulu.

Air mata Chan menetes.

"Aku tidak tahu apa yang terjadi sekarang atau saat itu. Tapi aku takut paman akan menjauhi orang-orang lagi. Aku gelisah paman akan tiba-tiba menghilang selama berbulan-bulan lagi." ucap Chan.

"Chan-ah." panggil Woo Jin dengan mata memerah.

"Paman tidak akan pergi lagi, kan? Paman tidak berencana ke suatu tempat, kan?" tanya Chan.


Woo Jin diam saja. Diam nya Woo Jin membuat Chan mengambil kesimpulan kalau pamannya memang mau pergi lagi. Tak rela pamannya pergi, Chan pun menyita paspor Woo Jin.

"Kembalikan." pinta Woo Jin, tapi Chan malah merobeknya.

"Hei, Yoo Chan!"

"Apa?" tanya Chan.

"Ayo makan, paman lapar." jawab Woo Jin.


Woo Jin menyendokkan telur ke mangkuk Chan.

Ia lalu menanyakan kondisi pergelangan kaki Chan.

"Astaga, telepon dokter dan tanyakan jika paman tidak percaya." jawab Chan.

Woo Jin lantas makan dengan lahap.

Tiba-tiba, Woo Jin bangkit dari duduknya.

Chan langsung panic.

"Paman mau kemana?" tanyanya.

Woo Jin pun tertawa. "Mau ke kamar mandi. Mau ikut?"


Di kantin RS, Hyung Tae menanyakan keadaan Seo Ri pada Jennifer. Ia penasaran, apakah Seo Ri sungguh baik-baik saja tinggal di rumah Jennifer.

Jennifer pun mengiyakan.

"Dia dicintai semua anggota keluarga. Dia sering tertawa dan menangis. Dia seperti seorang teman lama dan anggota keluarga yang sejati. Semua orang hangat padanya dan dia juga hangat pada kami." jawab Jennifer.

Hyung Tae lantas berandai-andai. Andai dia pulang lebih cepat ke rumahnya, dia akan bisa bertemu Seo Ri yang dikirim Jennifer membersihkan rumahnya.

Andai dia dia bertemu Seo Ri saat ia datang ke rumah lama Seo Ri. Dan andai ia tidak ditugaskan keluar negeri.

"Kata andai terdengar sangat menyedihkan. Mungkin karena aku tahu betapa berartinya kata itu saat menghadapi sesuatu yang sulit diterima. Kurasa karena itulah kata andai terdengar menyedihkan untukku." ucap Jennifer.

Lalu, flashback... Jennifer mengingat kenangan menyakitkannya.


Jennifer berada di RS, ia sedang memeriksakan kandungannya.

Dokter berkata,  stress bisa memberikan tekanan pada janin yang dikandung Jennifer. 

"Kau juga tidak menjaga dirimu dengan baik. Kita akan melanjutkan operasi pekan depan. Kau juga harus makan dengan baik." ucap dokter.

 Terdengar suara Jennifer.

"Andai aku menjaga diriku dengan baik, andai aku mampu mengontrol emosi."


Sehabis dari dokter kandungan, Jennifer berjalan di bawah hujan lebat yang mengguyur kotak.

Kotak musik yang dibawanya meluncur begitu saja dari tangannya dan jatuh ke aspal. 

"Jika aku tidak sesedih itu, aku yakin tidak pernah ada yang memikirkan situasi yang akan terjadi seperti aku. Karena itulah kata andai terdengar menyedihkan bagiku. Tapi kata itu yang entah bagaimana membantumu menerima hal-hal yang sulit diterima." ucap Jennifer.


Sekarang, Jennifer sudah pergi. Tapi Hyung Tae masih duduk di sana, memikirkan kata-kata Jennifer.

Kolega Hyung Tae datang. Ia minta maaf karena sudah memberitahu Seo Ri tentang kematian Su Mi.

Ia mengaku tidak tahu bahwa Seo Ri belum tahu hal itu. Ia juga berandai-andai, andai dirinya tahu bahwa Seo Ri tidak tahu, ia tidak akan mengatakan itu.

Hyung Tae pun menirukan kata-kata Jennifer. Ia berkata, kata andai terdengar menyedihkan buatnya.


Chan berjaga di depan kamar Woo Jin. Ia duduk di sofa, sambil nyemilin keripik kentang dan terkantuk-kantuk.

Pamannya tiba-tiba keluar kamar. Chan langsung waspada.

"Paman mau kemana?"

"Bukan kita saja yang butuh makan. Deok Goo juga butuh." jawab Woo Jin.

"Kalau begitu, baiklah." ucap Chan.

Setelah Woo Jin berlalu, Chan pun bertanya-tanya sendiri apa pamannya sungguh baik-baik saja? Apakah ia berlebihan?

"Tidak... aku harus tetap waspada." ucap Chan.

Bersambung ke part 2..............

No comments:

Post a Comment