Thursday, September 13, 2018

Still 17 Ep 14 Part 2

Sebelumnya...


Woo Jin ke kamar Jennifer. Ia ingin melihat Seo Ri. Tepat saat ia hendak mengetuk pintu kamar Jennifer, Jennifer keluar dari kamarnya.

"Dia masih tidur?" tanya Woo Jin.

"Kurasa dia tidur untuk menghindari kenyataan. Banyak orang cenderung tidur lama  baik secara sadar ataupun tidak sadar saat mereka harus menghadapi kenyataan sulit. Seo Ri juga banyak berkeringat. Kurasa aku perlu membantunya mengganti pakaian saat dia bangun jadi aku akan mengambil pakaiannya." jawab Jennifer.

Tiba-tiba, terdengar bunyi bel. Woo Jin pun menyuruh Jennifer melihatnya dan berkata bahwa dia yang akan mengambil baju Seo Ri.


Woo Jin ke kamar Seo Ri dan mengambil baju Seo Ri.


Chan ketiduran dengan posisi duduk dan mulut memgunyah keripik kentang. Tapi ia langsung melek saat Woo Jin keluar dari kamarnya.

Chan pun kembali waspada. Woo Jin bilang, ia mau bertanya sesuatu pada Jennifer.

Woo Jin pun beranjak ke dapur, tapi dia balik lagi menatap Chan.

"Chan-ah, paman mau minum kopi. Kau mau sesuatu? Cokelat panas misalnya?"

"Tentu saja, cokelat panas sepertinya baik." jawab Chan.


Woo Jin pun turun.

"Apa dia sungguh baik-baik saja?" tanya Chan.

Chan lalu melihat paspor Woo Jin yang sudah ia robek.

"Dia tidak akan bisa kemana-mana, paspornya sudah kurobek." ucap Chan.

Chan lalu menguap dan mulai tidur.


Seo Ri terbangun dan mendapati Jennifer tidur di lantai. Ia juga melihat makanan yang sudah disiapkan Jennifer di atas meja.

"Na ttaemune." ucap Seo Ri merasa bersalah.

Seo Ri pun hendak turun dari tempat tidur, tapi ia kemudian bertanya-tanya apakah itu mimpi.


Chan yang ketiduran pun terbangun. Ia langsung melompat turun dari sofa dan mencari pamannya.

Tapi pamannya tidak ada dimana pun. Paniklah ia.


Seo Ri duduk di taman sambil memeluk Fang. Ia masih berduka atas kematian Su Mi.

Tiba-tiba, Seo Ri mendengar bunyi ponsel dari arah gudang.


Ia pun masuk ke gudang dan menemukan ponsel Woo Jin di sana.

Saat hendak keluar, Seo Ri tanpa sengaja melihat lukisannya yang dilukis Woo Jin.

Ia terkejut dan bertanya-tanya, kenapa bisa ada lukisannya di sana.


Seo Ri langsung berlari ke rumah. Tepat saat itu, Chan masih mencari Woo Jin ke seluruh rumah.

Seo Ri mau ke atas, tapi Chan menghentikannya.

"Ahjumma, apa yang kau lakukan?" tanya Seo Ri.

Chan lantas melihat ponsel Woo Jin yang ada di tangan Seo Ri.

"Ahjumma, kau bersama pamanku tadi?"

"Wae? Dia tidak ada di rumah? Ada yang mau kutanyakan padanya." jawab Seo Ri.


Jennifer lalu datang. Seo Ri langsung memberitahu Jennifer, bahwa Woo Jin sudah lama mengenalnya.

"Apa maksudmu?" tanya Chan.
 
Seo Ri pun menunjukkan lukisannya.

"Seragam ini, gaya rambut ini dan jembatan penyebrangan ini. Ini aku 13 tahun yang lalu. Aku mengingat dengan jelas. Woo Jin pasti tinggal di Jerman waktu itu. Bagaimana dia bisa mengenalku?"

"Darimana bibi menemukan ini?" tanya Chan.

"Gudang." jawab Seo Ri.

 Sontak Chan langsung ingat saat menemukan pamannya menangis di gudang.

"Ini 13 tahun lalu. Woo Jin tinggal di Jerman saat itu." ucap Seo Ri.


"Dia bersekolah di Jerman 13 tahun lalu, tapi dia ke Korea di musim panas, maka jika itu sebelum..." ucap Chan.

"Ini tidak lama sebelum aku mengalami kecelakaan." jawab Seo Ri.

"Kecelakaan?" tanya Chan.

"Tapi aku tidak mengenal orang bernama Gong Woo Jin. Banyak yang ingin kutanyakan padanya. Dia memang mengenalku atau pura-pura tidak mengenalku?"

"Terjadi sesuatu dan dia tiba-tiba ke Jerman." ucap Chan.

Chan lantas bertanya, kecelakaan apa yang dialami Seo Ri.

"Aku kurang tahu karena tidak sadarkan diri. Tapi itu kecelakaan besar. Semua orang tahu soal kecelakaan 12 kendaraan, persimpangan Cheongan." jawab Seo Ri.


Mendengar itu, sontak Jennifer teringat masa lalunya. Ternyata suami Jennifer juga korban dari kecelakaan itu.


Di depan RS, ia juga sempat bertabrakan dengan Hyung Tae yang langsung ke RS setelah mendengar berita kecelakaan itu.


Tangis Jennifer pun pecah saat dokter mengatakan suaminya meninggal. Saat itu, Jennifer tengah hamil besar.


Di lokasi kecelakaan, kita melihat suami Jennifer yang berlumuran darah menyentuh sepatu bayinya.

Suami Jennifer, Kim Tae Jin! Korban kecelakaan yang tewas yang berjumlah dua orang itu adalah No Su Mi dan Kim Tae Jin.


Jennifer duduk di taman RS, meratapi kematian suaminya dan membaca pesan terakhir suaminya.

Wahai ibu anak kita yang kuat, semangat yeobo! Dari ayah anak kita yang kuat.

Jennifer pun luka.


Air mata Jennifer pecah.

Melihat itu, Chan dan Seo Ri kaget. Chan bertanya, apa Jennifer baik-baik saja.

"Aku selalu baik-baik saja." jawab Jennifer.


Chan lantas bertanya apa yang tadi dibicarakan Jennifer dan Woo Jin.

"Tadi dia bilang padaku, mau bicara denganmu dan setelah itu dia tidak naik lagi."

"Aku tidak pernah memanggilnya ke bawah." jawab Jennifer.

Sontak Chan kaget dan menyadari sesuatu.


Ia pun langsung berlari ke atas. Jennifer dan Seo Ri mengikutinya.

Chan membuka lemari Woo Jin dan lega melihat baju-baju Woo Jin masih ada di sana.

Jennifer pun yakin Woo Jin tidak pergi jauh.

Chan lantas menutup kembali lemari Woo Jin. Tepat saat itu, tas tabung Woo Jin jatuh dan Seo Ri kaget melihatnya.


Sontak, Seo Ri ingat saat dulu mengenal Woo Jin si pemilik tas tabung.

Ia juga ingat saat melihat Woo Jin si pemilik tas tabung menyiram tanaman yang hampir mati.

Melihat tas tabung itu, Seo Ri pun curiga dan ingin melihat foto masa lalu Woo Jin.


Chan pun menunjukkan foto masa kecilnya bersama Woo Jin.

Melihat rupa Woo Jin saat masih menjadi pelajar SMA, Seo Ri pun kaget.


Ia pun teringat pria SMA yang menyuruhnya berhenti di halte berikutnya sebelum kecelakaan itu terjadi.

Ia juga ingat cerita Woo Jin yang mengaku pernah melakukan sesuatu yang sangat disesalinya pada seseorang.


Lalu ia ingat kata-kata Woo Jin yang mengaku takut masuk lagi ke dalam hidup seseorang.


Terakhir ia ingat pelukan Woo Jin di depan rumah abu Su Mi.


Tangis Seo Ri seketika pecah. Ia sadar, Woo Jin pergi karena dirinya.

Chan pun bingung. Ia bertanya, bagaimana bisa Woo Jin pergi karena Seo Ri.


Lalu Chan menunjukkan paspor Woo Jin yang sudah ia robek.

Jennifer pun berkata, paspor itu sudah mati. Sontak, Chan syok.


Woo Jin sendiri sudah ada di bandara. Ia membeli tiket penerbangan yang paling awal dan paling jauh.

Setelah mendapatkan tiketnya, Woo Jin pun segera pergi.

Ia memasang earphone nya dan memasukkan kabel colokannya ke dalam saku celananya.

Seo Ri langsung berlari ke luar rumah. Chan menyusul Seo Ri dan melihat Seo Ri berlari menuju taksi.


"Itu bukan mimpi." ucap Seo Ri sambil memandang keluar jendela.

Ia menangis.

Chan yang mencintai Seo Ri pun mengerti bahwa ia tak lagi punya kesempatan memiliki hati Seo Ri.

Flashback...


Seo Ri terbangun dan menemukan Woo Jin duduk disampingnya. 

"Ahjussi, kenapa kau disini? Aku terlalu mengantuk."

Woo Jin pun mengangguk dan menyuruh Seo Ri tidur.

Setelah Seo Ri tidur, Woo Jin membelai kepala Seo Ri dan mencium kening Seo Ri.

Setelah mencium Seo Ri, Woo Jin keluar dari kamar Seo Ri.

Flashback end...



"Dia tidak boleh pergi seperti ini." ucap Seo Ri.


Woo Jin sendiri sudah duduk di pesawat.


Deok Goo berdiri di depan jendela, menunggu Woo Jin.

Flashback...


Sebelum pergi, Woo Jin sempat mengelus kepala Deok Goo.

Deok Goo langsung mengejar Woo Jin ke pintu.

Flashback end... 


Deok Goo terus menunggu Woo Jin.


Jennifer keluar dari dapur dan melihat Deok Goo menyalak di depan kamar Seo Ri.

Curiga, Jennifer pun membuka pintu kamar Seo Ri dan menemukan surat serta lonceng kelinci bulan yang tergeletak di lantai.


Chan menerima telepon dari Jennifer. Usai menerima telepon Jennifer, Chan menyuruh supir taksi berhenti.

Chan memberitahu Seo Ri, bahwa Woo Jin meninggalkan surat untuk Seo Ri.

"Tidak ada gunanya mengejarnya. Dia sudah pergi." ucap Chan.

Pecahlah tangis Seo Ri.


Pria misterius itu muncul lagi di RS.

Pihak RS langsung menghubungi Hyung Tae.

"Siapa dia?" tanya Hyung Tae.

"Dia seorang pria dan ingin menemui Nona Seo Ri. Aku harus bagaimana?"

Seorang ahjumma membaca poster orang hilang itu.

"Gook Mi Hyun? Dia wanita di rumah berpohon itu."


Sekembalinya ke rumah, Seo Ri langsung membuka kamarnya dan terkejut melihat surat serta lonceng yang ditinggalkan Woo Jin untuknya.

Chan juga melihat itu dan langsung melirik Seo Ri.


Seo Ri masuk ke kamarnya dan menutup pintu. Ia duduk di lantai dan membaca surat Woo Jin.

Chan kembali ke kamarnya. Ia mengerti kesempatannya memiliki Seo Ri tidak ada.


Seo Ri mulai membaca surat Woo Jin.


Kali pertama aku bertemu denganmu, saat kembali dari studio seniku. Aku tiba-tiba mendengar suara bel kecil. Saat menoleh ke atas, aku melihatmu di atas jembatan penyeberangan. Kurasa suara itu berasal dari gantungan kuncimu. Aku mulai penasaran dengan apa yang kau lakukan di atas. Lalu aku melihatmu beberapa kali di daerah rumahku. Aku menjadi penasaran denganmu. 


Apa yang ada di benaknya sampai dia terus tersiram air? Kenapa dia selalu memakai pasangan sepatu yang keliru? Darimana dia mendapatkan pemijat berbentuk tanda tanya itu? Dia tinggal dimana? Dia bersekolah dimana? Siapa namanya? Selalu muncul pertanyaan.


Aku terus berharap bisa berpapasan denganmu. Mungkin aku bisa bertemu dengan mu lagi secara kebetulan. Aku terus menunggumu. Aku ingin menjadi temanmu. Dan akhirnya aku mengetahui namamu.

Su Mi... No Su Mi.

Kurasa aku benar-benar bahagia mengetahui namamu. Aku sangat bodoh karena tidak tahu kalau itu bukan namamu. Aku berniat memberimu gambar itu dan mengajakmu berteman.Aku selalu membawa gambarmu agar aku bisa memberimu memberikannya kapan saja. Lalu aku benar-benar berjumpa denganmu lagi. 


Hari itu, di bus itu. Aku menyuruhmu turun di halte lain. Lalu temanmu naik ke bus itu dan aku mendadak malu. Aku kabur seperti orang bodoh dan tidak berani memberimu gambar itu. Tapi gantungan kuncimu tersangkut di tasku. 

Aku tiba-tiba mengumpulkan keberanian dan berniat mengajakmu berteman sambil mengembalikan gantungan kuncimu. Jadi aku mulai mengejar bis itu.



Tapi saat itulah, kecelakaan itu terjadi. Itu terjadi tepat di depan mataku dan aku yang membuatmu berada di bus itu. 

Aku merasa sangat menyesal dan bersedih.  Itu sangat menyakitkan sampai rasanya aku ingin mati. Tapi aku tidak tahu harus bagaimana sehingga akhirnya memutuskan kabur seperti pengecut. 



Tapi suatu hari tiba-tiba ada wanita yang muncul di kamarku. Kukira kau sudah meninggal, tapi kau mendadak muncul lagi di hidupku setelah 13 tahun.

Aku terlambat menyadarinya, tapi aku ingin berterima kasih karena kau masih hidup.

Tapi ada satu hal yang tidak berubah. Akulah yang telah menghancurkan hidupmu. Kurasa aku tidak pantas berada di dekatmu. Mianhae, karena telah membuatmu mengalami mimpi buruk. Mianhae, karena telah menghancurkan hidupmu. Andai bukan karena aku, kau tidak akan kehilangan 13 tahuin hidupmu dan kehilangan paman dan bibimu juga kehilangan kesempatan bermain violin dan rumah ini. Akulah yang mencuri masa remajamu. Akulah yang membuatmu merasa canggung soal usiamu. Akulah yang sungguh menghancurkan hidupmu.

Mianhae karena telah menyukaimu. Mianhae, karena ingin menjadi temanmu. Mianhae, karena telah merenggut waktumu yang berharga.



Seo Ri pun menangis.



Di RS, Hyung Tae akhirnya bertemu pria itu. Pria itu adalah si supir bis yang merasa bersalah karena tidak bisa mengendalikan bisnya hingga kecelakaan itu terjadi.



Di kamarnya, Chan tak bisa tidur lantaran memikirkan pamannya dan juga Seo Ri.

Chan lantas keluar dari kamarnya dan menutup pintu dengan sedikit keras hingga membuat sehelai kertas jatuh dari dinding.

Kertas itu, pesan dari pamannya.

"Mianhae, Chan-ah. Paman akan segera menelponmu dan tolong berikan ini pada dia."

Ada sebuah kartu nama juga yang ditinggalkan Woo Jin bersama pesannya.


Chan pergi ke kamar Seo Ri. Ia mengetuk pintu kamar Seo Ri. Karena Seo Ri tak kunjung membuka pintu, Chan pun masuk ke dalam dan hanya menemukan sebuah ponsel disana.


Seo Ri sendiri berada di atas jembatan penyeberangan dengan harapan bisa menemukan Woo Jin di sana.

Seo Ri ingat kata-kata Woo Jin, bahwa Woo Jin tidak akan pernah meninggalkannya.

Seo Ri menangis.

"Kau sudah berjanji." isaknya.


Dan benar saja, Woo Jin memang datang ke sana. Begitu bertemu Woo Jin, Seo Ri pun langsung menghambur ke pelukannya.

Woo Jin beralasan, bahwa ia harus menepati janjinya pada Seo Ri dan merasa kabur bukan lah solusi yang tepat.

"Kau kemana saja? Kau sudah berjanji tidak akan pernah menghilang." rengek Seo Ri.

"Mianhaeyo." jawab Woo Jin.

Seo Ri lantas melepas pelukannya dan menatap Woo Jin.


"Mianhae. Aku terus memikirkan apa yang bisa kulakukan untuk menghiburmu." ucap Woo Jin.

Flashback...


Woo Jin menyuruh Seo Ri keluar setelah selesai menyapa Su Mi.

Woo Jin yang syok mengetahui Seo Ri adalah gadis yang dikiranya Su Mi dan sudah tewas, terduduk lemas di bangku di depan rumah abu.

Satpam datang. Melihat wajah Woo Jin yang pucat, satpam itu menyuruh Woo Jin menunggu sebentar tapi sekembalinya ia kesana untuk memberikan air pada Woo Jin, Woo Jin sudah pergi.



Ketika makan bersama Chan, Woo Jin pamit ke kamar kecil.

Di kamar kecil, Woo Jin muntah.



Selesai muntah, Woo Jin mencuci mulutnya dan menatap pantulan wajahnya di cermin.

Flashback end...


"Haruskah aku melarikan diri? Haruskah aku bersembunyi saja? Ataukah aku harus berpura-pura seolah tidak ada yang terjadi dan tetap berada di dekatnya tanpa mengatakan apapun? Mungkin tidak masalah jika aku menyimpan ini selamanya. Aku terus memikirkan apa yang harus kulakukan. Jika aku tahu itu kesalahanku, aku tidak pernah jatuh cinta padamu. Jika aku tahu sebelum menyukaimu sejauh ini, aku tidak akan merasa berat untuk pergi. Aku tidak akan merasa berat untuk melarikan diri dan melupakanmu tapi sekarang, aku tidak bisa meninggalkanmu. Aku tidak bisa membayangkan hidupku tanpamu. Kini aku terlalu mencintaimu." ucap Woo Jin.


Flashback...

Woo Jin yang sudah berada di pesawat pun memutuskan untuk turun dari pesawat.

Flashback end...



"Aku lebih takut meninggalkanmu daripada dibenci olehmu. Aku tahu aku tidak pantas. Ini kesalahanku. Waktu, masa depan dan hidupmu, aku merenggut semua itu. Jadi aku ingin melindungimu sampai kau bahagia sekali lagi. Kau boleh menyebutku egois dan gila. Aku akan berada di dekatmu meski kau membenciku. Kau boleh membenciku dan menjauhiku semaumu tapi aku ingin bersamamu. Karena itu kumohon.." pinta Woo Jin.

"Gong Woo Jin, namanya Gong Woo Jin? Bagaimana jika... bukan itu saja? Bagaimana jika yang kau ketahui bukan itu saja?" tanya Seo Ri.

Flashback....



Di taman, Seo Ri remaja yang sedang berjalan-jalan dengan Fang melihat Woo Jin sedang bermain basket dengan temannya.

Seo Ri mengajak Fang bicara.

"Kau lihat, kan? Itu dia, dia crescendo yang kuceritakan. Siapa namanya? Aku penasaran." ucap Seo Ri.



Di bus, Seo Ri membuat tanda crescendo. 

Su Mi bertanya, apa yang sedang digambar Seo Ri.

"Crescendo." ucap Seo Ri malu-malu.

Ternyata, tepat di depan Seo Ri ada Woo Jin.

Bersambung........

No comments:

Post a Comment