Wednesday, September 19, 2018

Still 17 Ep 15 Part 1

Sebelumnya...


"Gong Woo Jin, jadi namamu Gong Woo Jin? Animyeon... bagaimana jika bukan itu saja? Bagaimana jika apa yang kau tahu bukan itu saja?" tanya Seo Ri dengan air mata yang banjir, membasahi pipinya.

Woo Jin pun bingung dengan ucapan Seo Ri.

"Aku ingat dengan jelas karena seperti baru kemarin. Saat itu... 17 tahun... Woo Jin..." Seo Ri tersenyum.

Episode 29, Crescendo

[Mei 2005, Bandara Incheon]


Seo Ri yang duduk kursi bandara, menunggu penerbangannya, melihat seorang anak kecil tengah menangis sambil memanggil-manggil sang ibu.

Seo Ri mendekati anak itu. Anak itu, tak lain dan tak bukan adalah Chan.

*Omo, ini bocah lucu banget. Pingin ku bawah pulang. Chan-ah...

"Kenapa sendiri?" tanya Seo Ri.

Chan terus menangis, Eomma....

"Dimana ibumu?" tanya Seo Ri.

Chan pun menunjuk sebuah arah.

"Disana?" tanya Seo Ri. Chan mengangguk.

"Jangan menangis. Noona akan membantumu mencarinya." ucap Seo Ri.


Seo Ri lalu menggandeng Chan yang terus menangis.

Tanpa sadar, ia meninggalkan violinnya di kursi bandara.


Chan yang terus menangis, menunjuk ke sebuah arah.

"Kita harus mencari ibumu. Kenapa kemari?" tanya Seo Ri.

Tapi Chan terus merengek, memanggil-manggil ibunya sambil menunjuk ke toko yang menjual krispy kreme (sejenis donat).


Setelah dibelikan krispy kreme, Chan pun diam dan sibuk menikmati kuenya.

Seo Ri lalu menoleh pada Chan dan tersenyum melihatnya.

"Kau belepotan." ucap Seo Ri, lalu membersihkan mulut Chan.

Chan tersenyum.

*Kyaaaa, senyumnya manis.... Sumpah, pengen kubawa pulang laa ini bocah... Manisnya keterlaluan...


Tak lama kemudian, Hyun Jung datang. Dia langsung memarahi Chan.

"Sudah kubilang tetap bersamaku! Kau pasti takut, kan."

"Anda ibunya?" tanya Seo Ri.

Hyun Jung pun menatap Seo Ri.

"Dia berkeliaran sendirian di bandara." ucap Seo Ri.

"Gomawoyo." jawab Hyun Jung.

Ponsel Hyun Jung lantas berdering.

"Oh, yeobo. Aku sudah menemukannya. Dia bahkan makan donat." ucap Hyun Jung.


Seo Ri pun bicara pada Chan.

"Syukurlah." ucap Seo Ri, lalu mengucapkan selamat tinggal pada Chan.

Chan melambai pada Seo Ri.


Seo Ri beranjak pergi, tapi tak lama ia baru sadar kalau tadi meninggalkan violinnya begitu saja di kursi bandara.

Seo Ri pun langsung berlari ke sana. Tapi sampai di sana, violinnya sudah tidak ada.

Ia pun kebingungan.

Seo Ri lalu bertanya pada dua wanita yang duduk  di belakangnya.

Tapi mereka tidak melihat violin Seo Ri.

Cleaning service menghampiri Seo Ri. Ia memberitahu Seo Ri, bahwa seorang anak laki-laki berseragam SMA baru saja menanyakan meja informasi padanya dan membawa violin Seo Ri kesana.


Seo Ri pun langsung berlari ke meja informasi.

Si cleaning service bilang, anak laki-laki itu melihat anak kecil memainkan violin Seo Ri jadi ia membawa violin Seo Ri meja informasi karena takut rusak.

Bersamaan dengan itu, Woo Jin tampak di meja informasi, sedang menitipkan violin Seo Ri.

Seo Ri yang hendak menuju meja informasi, sempat berpapasan dengan Woo Jin.


Seo Ri pun lega violinnya ketemu, tapi kemudian ia teringat sesuatu dan langsung menanyakan si penyelamat violinnya pada petugas di meja informasi.

"Seorang siswa yang menitipkannya. Dia menyandang tabung bergambar di bahunya." jelas si petugas.


Seo Ri bergegas mencari Woo Jin. Tak lama kemudian, ia melihat Woo Jin yang berjalan jauh di depannya.

Seo Ri langsung mengejar Woo Jin.

Woo Jin sendiri sedang bicara dengan kakaknya di telpon.

Seo Ri lalu melihat Woo Jin naik ke lantai atas. Ia mengikuti Woo Jin, tapi saat hampir berhasil menemukan Woo Jin, bibinya menelpon dan mengatakan kalau ia harus segera berangkat ke Jerman.


Seo Ri lalu turun. Ia tak menyadari, bahwa Woo Jin yang dicarinya duduk samping eskalator bersama Hyun Jung dan Chan.


"Aku mengejarnya untuk mengucapkan terima kasih, tapi aku kehilangan dia. Tapi satu hal yang kuingat jelas, tabung gambarnya." ucap Seo Ri.

Woo Jin terkejut.

"Itu adalah violin yang ditinggalkan ibuku. Kaulah yang menemukannya. Terima kasih, aku lulus ujian di Jerman. Sangat sedih karena tidak bisa berterima kasih padamu. Kupikir aku tidak akan pernah melihatmu lagi." ucap Seo Ri.

Sekembalinya ke Korea...


Seo Ri yang tengah berlari di atas jembatan sambil menikmati musik, tiba-tiba mendengar suara bel.

Seo Ri pun langsung melihat ke bawah dan melihat Woo Jin melintas dengan sepeda.

"Biasanya aku tidak mendengar apa-apa ketika memikirkan musik. Tapi aku mendengar suara itu. Aku tidak percaya tapi kau ada di sana. Kukira itu bel sepedamu." lanjut Seo Ri.


Seo Ri pun bergegas mengejar Woo Jin. Tapi dia kehilangan jejak. Seo Ri lalu bertanya-tanya, apa Woo Jin tinggal di lingkungan dekat rumahnya.


Di hari berikutnya. Seo Ri kembali ke jembatan itu, berharap bisa bertemu Woo Jin. Tapi ia tak pernah melihat Woo Jin lagi.


Saat tengah mengantri di depan meja kasir minimarket, Seo Ri melihat Woo Jin sedang menyirami tanaman

Seo Ri langsung mengejar Woo Jin, tapi kasir minimarket menahannya karena ia belum membayar minuman.

Melihat Woo Jin yang tiba-tiba pergi, Seo Ri pun tidak jadi membeli minumannya dan langsung mengejar Woo Jin.

Tapi Woo Jin keburu berada di seberang jalan dan ia tidak bisa mengejar karena lampu merah keburu menyala.


Seo Ri lalu pergi ke toko perhiasan di hari berikutnya. Ia minta dibuatkan lonceng yang mirip dengan lonceng miliknya.

Seo Ri mengaku, ia terus membawa lonceng itu kemana-mana dengan harapan bisa bertemu Woo Jin lagi.


Seo Ri yang duduk di dalam bus, kembali melihat Woo Jin melintas.

Saat itu, Woo Jin melintas sambil memayungi Chan dengan jaketnya.

"Kau melewatiku beberapa kali dan kau selalu terlihat... tampan. Kupikir kau orang yang baik dan pada titik tertentu memikirkanmu membuat jantungku berdetak lebih cepat. Seperti crescendo. " ucap Seo Ri.


Di atas kamarnya, Seo Ri berdiri sambil menggendong Fang.

"Fang, menurutmu siapa nama pria crescendo itu? Aku penasaran."


Seo Ri mengaku ia berdoa setiap hari supaya dipertemukan lagi dengan Woo Jin sebelum ia berangkat ke Jerman.

Dan akhirnya, Seo Ri kembali bertemu dengan Woo Jin. Di bus itu, pada hari kecelakaan.


Seo Ri terkejut melihat pria crescendo nya naik bis yang dinaikinya.

Ia langsung gugup.

Lalu ia mengeluarkan loncengnya dan memberanikan dirinya mendekati Woo Jin untuk memberikan lonceng itu.

Tepat saat itu terdengar pengumuman bahwa mereka akan segera berhenti di persimpangan Stasiun Cheongan.


Seo Ri pun pura-pura bertanya balai seni Cheongan.

Dalam hati, ia senang bisa bicara dengan Woo Jin. LOL LOL

Woo Jin sendiri terdiam saking senengnya dihampiri Seo Ri yang juga ditaksirnya.

"Kau tidak tahu?" tanya Seo Ri.

"Jika kau mau kesana, kau bisa berhenti di Stasiun Cheongan atau di Persimpangan Cheongan." jawab Woo Jin.

Seo Ri mengerti dan kembali ke tempat duduknya dan tanpa berani memberikan lonceng itu.

Tepat saat itu, terdengar pengumuman pemberhentian selanjutnya.


Seo Ri pun berniat menghampiri Woo Jin lagi tapi Woo Jin keburu menghampirinya duluan.

Woo Jin menyuruh Seo Ri berhenti di pemberhentian yang lain.

Seo Ri yang masih gugup, tidak berani memberikan loncengnya.

Saat Woo Jin mengaku mengenalnya, ia terkejut.

Melihat Seo Ri yang terkejut, Woo Jin pun langsung berkata kalau dia bukan orang aneh dan mengaku ingin memberikan sesuatu pada Seo Ri.


Tapi sayangnya, Su Mi naik ke bis dan menghampiri Seo Ri membuat Woo Jin malu dan langsung keluar dari bis begitu bis berhenti.

"Tunggu!" panggil Seo Ri, tapi Woo Jin keburu kabur.


Seo Ri terduduk lemas. Su Mi pun bertanya, siapa pria itu.

"Dia... dia..."

Melihat ekspresi Seo Ri, Su Mi pun sadar, dia si crescendo.

Seo Ri lalu berteriak girang dan memberitahu Su Mi kalau Woo Jin ternyata juga mengenalnya.

Disaat mereka tengah asyik membicarakan Woo Jin, kecelakaan itu terjadi.


"Setelah itu, kecelakaan itu terjadi." ucap Seo Ri.

"Tapi itu tidak mengubah apapun. Aku melakukan..."

"Menurutmu, dari semua orang di bus, kenapa aku bertanya padamu? Aku bisa ke tempat latihan, bahkan dengan mata tertutup."

"Tidak, aku yakin kau membunyikan bel untuk turun." ucap Woo Jin.


"Ani, aku tidak pernah menekannya. Itu bukan aku. Aku dulu selalu turun di pemberhentian selanjutnya. Aku selalu turun di persimpangan cheongan, lalu menyebrang jalan. Setelah menyebrang, aku berjalan di sebelah kiri. Ada taman bermain dan bunga-bunga indah. Pada Bulan Juni ada mawar, Agustus ada matahari. Jika aku mengikuti jalan itu, bangunan abu-abu akan muncul. Itu Balai Seni Cheongan. Itu tempatku berlatih setiap hari." jawab Seo Ri.


"Kamar terakhir di sebelah kiri di lantai dua, itu ruang latihan untuk orkestra. Aku bisa sampai di sana berkali-kali bahkan dengan mata tertutup. Aku takut. Aku tidak punya kesempatan memberitahumu. Kupikir kau mungkin akan terus salah paham dan aku akan jadi penghalang hidupmu. Itu bukan salahmu. Biasanya juga aku selalu turun di sana. Aku sadar, kau yang pertama membuat hatiku berdebar dan aku menyukaimu dulu. Gong Woo Jin, jadi namanya Gong Woo Jin."

".... selama 13 tahun, kau terjebak di usia 17 tahun juga. Bukan hanya aku." ucap Seo Ri.

Tangis Woo Jin mengalir deras.

Lalu tak lama kemudian, ia mencium Seo Ri.


Woo Jin dan Seo Ri hampir tiba di rumah.

Woo Jin berjalan mundur sambil terus menatap wajah Seo Ri dan memanggil nama Seo Ri.

"Geumanhae." pinta Seo Ri.

Mereka lalu berhenti berjalan dan Woo Jin membelai pipi Seo Ri.


Tapi tiba...

"Cam cam!" ucap Seo Ri dengan nada tinggi, membuat Woo Jin kaget.

Seo Ri lalu memberikan lonceng itu.

"Jika kita bertemu 13 tahun lalu, mungkin akan lebih baik." ucap Woo Jin.


"Aku merasa aneh dan itu sulit. Itu sebabnya kuharap aku tidak pernah bangun. Tetap koma mungkin lebih baik atau kuharap aku tidak pernah mengalami kecelakaan itu. Aku kesal saat mengingatnya. Tapi apa yang bisa diubah dari masa lalu? Jika aku terus melihat ke belakang, aku akan tertinggal." jawab Seo Ri.

Seo Ri pun memegang tangan Woo Jin.

"Sekarang kita bisa mengubah semuanya. Kita bisa mengubah apapun. Aku tidak ingin melihat ke belakang dan membuang waktuku. " ucap Seo Ri.

"Aku jatuh cinta padamu lagi." jawab Woo Jin.

Woo Jin lalu mengaku, kalau ia tak mau melihat ke belakang lagi.

Setelah itu, ia memeluk Seo Ri.


Woo Jin dan Seo Ri masuk ke rumah. Deok Goo langsung menghampiri Woo Jin.

"Deok Goo-ya, kau mencemaskanku?" tanya Woo Jin yang langsung menggendong Deok Goo.

Jennifer datang. Woo Jin meminta maaf karena sudah membuat Jennifer khawatir.

Woo Jin lalu kembali menatap Deok Goo.


"Hei, Deok Goo. Aku diberitahu bahwa kau sudah mengenalku sebelumnya." ucap Woo Jin.


Chan turun dan langsung memeluk pamannya.

Pamannya meminta maaf karena sudah membuatnya khawatir.

"Aku senang paman kembali. Aku baik-baik saja. Itu saja yang kubutuh." jawab Chan.


Woo Jin dan Chan minum cokelat panas di halaman.

"Sulit sekali minum cokelat panas denganmu." protes Chan.

Woo Jin lalu ingin menjelaskan apa yang terjadi hari ini, tapi Chan berkata, kalau ia sudah mengerti apa yang terjadi dan sudah tahu kalau pamannya tidak akan pergi lagi.


Chan lalu memarahi Woo Jin.

"Dasar Mr. Gong bandel, kau membuatku bertambah tua. Rasanya, aku akan setua Deok Soo."

"Rasanya baru kemarin aku membelikanmu corndog. Kapan kau tumbuh besar?"

"Aku sudah lebih besar darimu ketika aku SMP."

Chan lalu berdiri. Ia mengaku, sudah mengantuk.

Tapi sebelum masuk, ia menyuruh Woo Jin menyikat gigi sebelum tidur.


Di kamarnya, Chan berdiri menatap tulisan 'Dont think, feel' nya dengan tatapan pahit.


Besoknya, Woo Jin yang baru bangun terkejut melihat jam yang sudah menunjuk angka 11.

Ia heran, kenapa dirinya bisa tidur selama itu.

Tapi tak lama, senyumnya keluar saat ia melihat loncengnya.


Woo Jin lalu turun ke bawah, tapi baru menuruni setengah anak tangga, dia balik ke atas dan masuk ke kamar mandi untuk mencuci muka. Tak lupa, ia juga memakai parfum.

*Ahay, Mr. Gong dandan. Yang Se Jong ganteng yaaak.


Udah seger, wangi dan ganteng, Woo Jin langsung pergi ke kamar Seo Ri.

Tapi Jennifer muncul tepat saat Woo Jin akan mengetuk pintu kamar Seo Ri.

Jennifer bilang, bahwa Seo Ri sudah pergi pagi-pagi sekali dengan Chan.


Woo Jin pun ingat, kalau tadi malam, sebelum masuk ke rumah, Chan memang sudah bilang kalau akan mengajak Seo Ri pergi.

Woo Jin menyesal, karena bangun kesiangan.

"Kau akhirnya bisa tidur nyenyak untuk yang pertama kalinya untuk menebus semua kekhawatiran yang telah mengganggumu sampai sekarang. Itu sebabnya aku tidak membangunkanmu." ucap Jennifer.

Jennifer lalu pamit untuk membuang sampah kardus yang dipegangnya, tapi Woo Jin meminta kardus-kardus itu.


Woo Jin ke gudang dan membereskan barang-barang lamanya.


Chan membawa Seo Ri ke tepi danau dekat asramanya. Seo Ri pun heran dan bertanya, kenapa Chan membawanya ke sana padahal mereka sudah sering ke sana. Chan berkata, bahwa Seo Ri sudah berjanji akan keluar dengannya jika ia memenangkan kejuaraan.

"Keluar?" tanya Seo Ri.

"Dan aku ingin nongkrong disini." jawab Chan.

"Tapi kenapa di sini?" tanya Seo Ri.

"Kau akan tahu nanti." jawab Chan.


Ternyata ada restoran kecil di sana. Chan membawa Seo Ri ke sana.

"Wah, pemandangannya indah." seru Seo Ri.

"Mereka bilang, kau harus makan sebelum ke Gunung Baekdu." jawab Chan.

"Sebenarnya Gunung Geumgang." ucap Seo Ri membetulkan kalimat Chan.

"Geumgang? Tapi semuanya gunung. Bahkan semuanya akan terasa enak jika kau memakan dengan pemandangan seperti ini. Batu pun akan terasa lezat." jawab Chan dengan wajah sedikit malu.

Mereka lalu mukai makan. Chan menggigit corndog nya. Tapi tiba-tiba ia merasa sakit karena lidahnya kegigit. Seo Ri pun tertawa. Chan ngambek dan minta Seo Ri tidak mengejeknya.


Chan mengajak Seo Ri ke tempat latihannya.

Chan berkata, tidak semua orang bisa menarik alat olahraganya.

Tapi saat menoleh ke Seo Ri, ia kaget melihat Seo Ri bisa menarik alat itu dengan sangat mudah.


Mereka lalu mendayung becak. Seo Ri bilang, ia sangat senang karena tidak pernah mendayung sepeda selama ini karena takut tangannya terluka.


Woo Jin udah selesai bersih-bersih. Tak lama, Jennifer datang dan mengacungkan jempolnya ke Woo Jin.

Jennifer mengaku, ia bangga pada Woo Jin.

Lalu Jennifer bilang, ada sesuatu berwarna hitam di wajah Woo Jin.

Woo Jin pun segera menghapusnya.

Tapi noda hitam itu belum hilang.


Jennifer lantas menyerahkan kartu nama Gook Mi Hyun ke Woo Jin. Jennifer bilang, ia menemukannya di bawah kolong tempat tidur Chan.

"Mungkinkah itu bibinya Seo Ri?" tanya Jennifer.

Woo Jin menghela napas.

Tak lama kemudian, Woo Jin dihubungi dokternya.


Mereka bertemu di kafe. Dokternya Woo Jin bertanya, apa Woo Jin masih ingat sesi terapi musik di rumah sakit?

Dokter bilang, keterampilan mereka mulai membaik tapi terlalu besar jika disebut konser.

Woo Jin pun mengerti arah pembicaraan dokter. Ia berkata, akan membuatkan desain panggungnya.

Ia juga mengaku senang bisa membantu dokternya karena dokternya sudah banyak membantunya.

"Dia yang membantumu. Dia pasti sangat istimewa." jawab dokter.

Woo Jin pun dengan bersemangat bercerita.

"Makanan yang tidak enak, akan terasa enak jika aku makan dengannya. Cuaca mendung akan terlihat cerah jika aku bersamanya. Dia bahkan bisa membuatku tertawa untuk ha-hal kecil. Kurasa itulah yang membuatnya istimewa."

Dokter tertawa. Dokter beralasan, ia tertawa karena Woo Jin bercerita dengan sangat santai dan juga cantik.


Woo Jin ada di toko buku ketika Hyung Tae menelponnya dan mengajaknya bertemu.


Chan mengajak Seo Ri jalan-jalan di taman.

"Kau pasti penasaran kan kenapa aku membawamu ke sini? Daripada melakukan sesuatu yang tidak cocok denganku, seperti mengendarai skuter dan membawamu ke restoran, aku ingin membawamu ke suatu tempat yang membuatku nyaman. Kupikir itu satu-satunya hal yang tulus. Itu sebabnya aku membawamu kesini. " ucap Chan.

"Apa maksudmu?" tanya Seo Ri.

"Aku sangat menyukaimu." jawab Chan yang sontak membuat Seo Ri berhenti melangkah.

Seo Ri kaget.


Bersambung ke part 2...........

No comments:

Post a Comment