Wednesday, September 19, 2018

Still 17 Ep 15 Part 2

Sebelumnya...


Chan mengakui perasaannya pada Seo Ri. Ia mengaku, menyukai Seo Ri.

Kaget, Seo Ri pun menghentikan langkahnya.

Sementara Chan terus berjalan, hingga akhirnya ia menyadari Seo Ri yang membisu di belakangnya.


Chan pun berbalik, mendekati Seo Ri.

"Ini bukan seperti aku menyukai Deok Soo dan Hae Beom. Aku menyukaimu dengan cara berbeda. Ketika aku menyukaiku, hatiku menggelitik seolah ada sesuatu yang merangkak di dalamnya. Ketika kau menangis, hatiku hancur. Kau membuat tersenyum dan ketika kau sedih, aku ingin menghiburmu. Aku ingin melindungimu. Dalam beberapa bulan, aku akan berada bersama tim profesional. Aku akan menjadi dewasa segera. Kau dapat mempercayaiku. Aku akan melindungimu. Aku akan mengungkapkannya pada hari kejuaraan. Kau tidak perlu khawatir sekarang. Hal itu sudah berlalu. Tapi aku rasa aku harus mengatakannya. Karena dengan begitu, aku bisa melupakannya. Jika aku terus memendamnya, aku akan terus berpura-pura baik-baik saja. Kau adalah cinta pertamaku, ahjumma. Aku ingin cinta pertamaku berakhir bahagia. Itu sebabnya aku memberitahumu semuanya. Aku bisa baik-baik saja. Aku ingin melindungimu karena kau seperti anak berusia 17 tahun. Tapi sekarang kau benar-benar sudah dewasa. Aku juga mau berterima kasih karena membuat pamanku menjadi paman yang dulu. Ayo kita berteman. Terus sukai pamanku seperti yang kau lakukan sekarang. Aku mohon." ucap Chan.

Mendengar pengakuan Chan, Seo Ri menangis.

"Akulah yang seharusnya menangis.  Kau tidak seharusnya menangis. Kau melihat pergelangan kakiku cepat pulih, kan? Aku akan segera pulih. Seperti kapalan di tanganku ini, hatiku juga memiliki kapalan." ucap Chan.

Chan lalu mengaku bahagia karena sudah mengungkapkan perasaannya.

Lalu ia pamit dengan alasan ingin berolahraga.

Seo Ri menatap lirih Chan.

"Sudah kubilang padamu, aku ingin menangis sebentar." ucap Chan.

Seo Ri mengerti dan beranjak pergi.


Chan berjalan menyusuri taman sambil mengingat semua kenangannya bersama Seo Ri.

Chan menangis.


Sekarang, Chan duduk di bawah pohon sambil terus memikirkan Seo Ri.

Ia lalu teringat saat dirinya mencabut tulisan 'Dont think, feel' nya dari dinding.


Di kafe deket rumah sakit, Hyung Tae memberi Woo Jin identitas pria asing yang selama ini membayar tagihan rumah sakit Seo Ri. Hyung Tae berkata, jika Seo Ri tahu bahwa paman dan bibinya tidak mempedulikannya, ia akan kecewa.

"Seo Ri mengira mereka memutuskan kontak dengan sengaja." jawab Woo Jin.

"Mereka ingin bertemu dengan Seo Ri, tapi jika aku memberitahunya, mungkin dia akan bingung lagi. Aku tidak mau Seo Ri menjadi bingung lagi, sebagai teman." ucap Hyung Tae.

"Terima kasih sudah memberitahuku dulu." jawab Woo Jin.

"Kupikir lebih baik mendiskusikannya denganmu dulu daripada denganku." ucap Hyung Tae.

Hyung Tae lalu memberi Woo Jin nomor telepon Kim Sang Sik, si pengemudi mobil pick up.


Woo Jin tiba di rumah bersamaan dengan Seo Ri yang juga baru tiba di rumah.

Woo Jin pun langsung menghampiri Seo Ri dan menyebut Seo Ri sebagai kekasihnya.

"Kau bersenang-senang dengan Chan?" tanyanya.

Tapi melihat wajah Seo Ri yang lemas, Woo Jin pun mengerti apa yang terjadi dan mengaku tidak tahu harus mengatakan apa.

Woo Jin lalu memberitahu Seo Ri kalau ia habis bertemu Hyung Tae.


Woo Jin dan Seo Ri duduk di halaman rumah.

Seo Ri berkata, bahwa ia tahu Hyung Tae berbohong padanya jadi ia tidak khawatir. Tapi meski begitu, ia masih ingin mempercayai kata-kata Hyung Tae soal paman dan bibinya yang tidak membayar tagihan RS.

"Sebenarnya, aku bertemu bibimu baru-baru ini." jawab Woo Jin.

"Bibiku? Dimana? Kapan? Tapi bagaimana kau bisa tahu dia bibiku?" tanya Seo Ri.


Woo Jin mengajak Seo Ri ke kamarnya. Disana, dia memberikan kartu nama bibi Seo Ri pada Seo Ri.

Seo Ri bertanya, kenapa Woo Jin tidak memberitahunya tapi tak lama kemudian, ia sadar bahwa bibinya tidak ingin melihatnya.

Seo Ri kemudian menanyakan pamannya.

"Mian, aku tidak mendengar soal pamanmu." ucap Seo Ri.

Seo Ri kecewa, tapi ia ingin mendengar penjelasan langsung dari bibinya. Ia yakin bibinya punya alasan.

Seo Ri menghubungi bibinya, tapi ponsell bibinya tidak aktif.


"Aku penasaran kenapa foto lama di buku catatan itu hilang? Dia melihatnya. Dia tahu aku sadar, tapi mengabaikanku. Kenapa mereka mengabaikanku? Kenapa orang lain yang membayar tagihannya? Kenapa mereka menelantarkanku?"

Tangis Seo Ri pecah lagi. Woo Jin pun memeluk Seo Ri.

"Mereka jahat. Mereka tahu aku sudah sadar tapi pura-pura tidak tahu." ucap Seo Ri.

Di kamarnya, Seo Ri terus menatap kartu nama bibinya.


Tak lama kemudian, ia menatap ke arah Deok Goo.

"Fang, kau mungkin tahu kenapa mereka menelantarkanku dan apa yang terjadi? Kau mungkin tahu yang terbaik." ucap Seo Ri.


Ponsel Seo Ri berdering. Telepon dari 'Crescendo' yang tidak lain adalah Woo Jin.

"Aku akan segera keluar." jawab Seo Ri.


Diluar, Woo Jin sudah menunggu bersama seorang pria yang tak lain adalah Kim Sang Sik, supir mobil pick up yang menyebabkan kecelakaan itu.

Tuan Kim berterima kasih karena Seo Ri sudah sadar. Ia juga mengaku, akan menyerahkan dirinya setelah mengetahui Seo Ri sadar tapi ia berpikir, untuk menemui Seo Ri dulu untuk meminta maaf.

Seo Ri marah. Ia berkata, tidak bisa memaafkan Tuan Kim hanya untuk Tuan Kim bisa merasa lebih baik.

Tuan Kim terus minta maaf. Tuan Kim mengaku, tepat sebelum ia mengendari mobilnya, ia minum-minum.

Seo Ri dan Woo Jin kaget mendengarnya.


Flashback--bagaimana kecelakaan itu terjadi.

Tuan Kim yang mabuk, tidak menyadari ban nya terjatuh dan menyebabkan kecelakaan beruntun.

Tuan Kim mengaku, bahwa ia baru tahu dirinya menyebabkan kecelakaan beruntun setelah melihat berita di televisi.

"Aku sangat takut. Aku tidak memiliki keberanian untuk mengaku. Lalu, aku mendengar salah satu siswa yang terluka jatuh koma."


Flashback...

Di rumah sakit, Tuan Kim Min Gyu meminta dokter menyelamatkan keponakannya.

Tuan Kim dan Nyonya Gook sangat takut melihat keadaan Seo Ri yang jatuh koma.


Dari kejauhan, Tuan Kim menatap mereka dengan perasaan bersalah.


"Sejak kapan kau membayar tagihanku? Kau pasti tahu segalanya jika kau melihat. Kapan paman dan bibiku meninggalkanku?" tanya Seo Ri.

"Aku tidak yakin soal itu. Setelah kau dipindahkan ke Pusat Rehabilitasi, keluargamu tidak muncul untuk sementara waktu." jawab Tuan Kim

Flashback...


Pihak RS mengaku tidak bisa mengurus Seo Ri lagi karena wali Seo Ri dua bulan tidak datang mengurus Seo Ri.

Tuan Kim yang melihat itu dari depan pintu pun berpikir untuk membayar biaya Seo Ri sebagai penebus rasa bersalahnya.

Flashback end...


"Jika kau tidak minum dulu, temanku pasti masih hidup. Aku juga tidak akan pernah koma. Paman dan bibiku masih bersamaku sekarang. Kenapa kau melakukannya! Kau tidak boleh minum dan mengemudi!" ucap Seo Ri.

Woo Jin pun berusaha menenangkan Seo Ri.


Jennifer yang berdiri di belakang Seo Ri pun menjatuhkan belanjaannya.

Ia syok dan... langsung mencengkram Tuan Kim.

"Kim Tae Jin, kau pasti tahu nama itu kan? Itu orang yang kau bunuh. Kau membunuhnya. Kau membunuh suamiku. Jika bukan ulahmu... kalau saja kau tidak melakukan itu... suamiku... anakku..."


Tangis Jennifer pecah. Ia terjatuh.

Woo Jin langsung memegangi Jennifer. Seo Ri lantas memeluk Jennifer.

Flashback....


Jennifer memutar kotak musiknya. Ia menyuruh suaminya mendengarkan lagu itu dan menebak itu lagu apa.

"Bukankah ini lagu pengantar tidur?" tanya Kim Tae Jin.

Tak lama kemudian, ia pun sadar bahwa istrinya sedang hamil. Kim Tae Jin sangat bahagia.


Lalu kemudian, kecelakaan itu terjadi. Jennifer tak henti menangisi kematian suaminya.

Flashback end...


Di dalam rumah, Jennifer menceritakan kisahnya pada Woo Jin dan Seo Ri.

Ia berkata, bahwa suaminya juga korban meninggal dalam tragedi itu.

Akibat kematian suaminya, ia tidak mampu mengatasi depresinya sehingga bayi dalam kandungannya meninggal.


Jennifer juga bercerita, hari dimana dokter mengatakan bahwa bayinya sudah meninggal, ia bertemu seseorang yang tidak dikenalnya dan berkat orang itu, ia tahu bagaimana cara mengatasi kesedihannya.

Orang itu adalah pamannya Seo Ri.

*Jadi hari dimana pamannya Seo Ri memayungi Jennifer itu hari setelah kecelakaan itu terjadi toh. Awalnya sy pikir, hari itu adalah hari dimana Seo Ri sempat melihat pamannya sebelum kecelakaan. Sy pikir, pamannya Seo Ri berbohong, ngakunya dalam perjalanan bisnis ke Jepang, tapi menemui Jennifer.

Setelah paman Seo Ri membawanya ke halte, seorang pria menabrak Jennifer, hingga membuat Jennifer melihat Perpustakaan Hyein.


Jennifer mengaku, setiap kali ia tidak bisa menanggung rasa sakit akibat kematian suami dan anaknya, ia datang untuk membaca di perpustakaan itu.

Seo Ri lantas memeluk Jennifer. Tangis keduanya kembali pecah.


Tuan Kim menyerahkan diri ke polisi.


Woo Jin menghampiri Jennifer yang berdiri di depan pohon bungur.

"Rasanya seperti jatuh.  Tidak peduli seberapa menyakitkannya, suatu saat itu semua akan berlalu. Ini tergantung padamu, membiarkannya sebagai penyesalan atau apa kau akan membuatnya sebagai kenangan. Seseorang yang sangat kusukai memberitahu ini. Baguskan?" ucap Woo Jin.

Jennifer pun tersenyum mendengarnya.

"Sekarang aku memikirkannya. Kita banyak mengobrol disini. Untuk waktu yang lama, hati dan mataku tertutup. Tapi berkat  kata-katamu aku bisa menemukan keberanian dan aku berubah. Bahkan dengan bicara dingin pun kau tidak bisa menyembunyikannya. Jelas kau adalah orang yang hangat. Aku bisa melihat dan merasakannya. Aku bersyukur bisa bertemu denganmu. Terima kasih sudah berada di sisiku. Kau pantas tertawa jika kau bahagia dan menangis jika kau sedih. Kuharap kau tidak akan lagi menyembunyikan emosimu." ucap Woo Jin.


Di kamarnya, Seo Ri terus menatap kartu nama bibinya dan uang yang diberikan pamannya dulu.

Seo Ri menangis lagi.


Kesal, Seo Ri pun membuang uang dan kartu namanya, tapi ia mengambilnya lagi dan tepat saat itu Woo Jin masuk.

"Itu sebabnya aku membuangnya. Aku tidak mau berharap bisa bertemu mereka lagi. Tapi kurasa aku tidak bisa membuangnya. Aku terlihat bodoh kan?" ucap Seo Ri.

"Tidak." jawab Woo Jin lalu menggenggam tangan Seo Ri.

Mereka saling menatap dan kemudian tersenyum satu sama lain.


Paginya, Seo Ri yang ketemu Chan di depan kamar mendadak bicara formal pada Chan. Ia juga tidak berani menatap Chan.

Tapi Chan kembali membuat Seo Ri nyaman lagi.

Chan kembali membual kalau dia pedayung terbaik di negaranya.

Lalu dia mengucapkan kalimat andalannya, "Don't think, feel!"

Seo Ri tertawa, lalu meledek Chan yang sudah bisa menulis kata 'feel' dengan benar.

Chan lalu beranjak pergi.


Di depan, dia ketemu dua sohibnya.

"Kau terlihat sangat lega hari ini. Ada apa?" tanya Hae Beom.

"Biar kutebak. Dia pasti pup dengan benar." jawab Deok Soo, lalu tertawa.

"Jangan memulai hari dengan membicarakan kotoran." sewot Chan.

Chan kemudian bertanya, kenapa dua sohibnya memakai medali. Bukankah itu berat? tanyanya.

"Tidak." jawab Deok Soo dan Hae Beom kompak.

Mereka lalu pergi dan berniat mendapatkan medali emas lainnya.


Di kantor, Woo Jin memberitahukan Hee Soo kalau ia akan mengerjakan desain untuk konser di rumah sakit.

Woo Jin bilang, ia akan menggambar sketsa kasarnya.

Woo Jin lalu meneguk air minum Seo Ri.


Hyun pun meledek Woo Jin, kalau Woo Jin sama saja dengan mencium Seo Ri karena Seo Ri habis minum air itu sebelumnya.

"Apa salahnya minum air milik kekasihku?" jawab Woo Jin.

Hyun kaget mendengarnya. Hee Soo pun mengatai Hyun bodoih karena tidak tahu hubungan Woo Jin dan Seo Ri.


Hyun lalu berkata, kalau ia pikir Seo Ri menyukainya karena Seo Ri selalu mempedulikannya.

"Aku tidak begitu." jawab Seo Ri.

"Kupikir, Woo Jin dan Hee Soo yang akan jadian." ucap Hyun lagi.


Mendengar itu, Hee Soo sewot. Ia berkata, tidak mungkin ia pacaran dengan orang seperti Woo Jin.


Tak lama, ia meralat ucapannya dan berkata pada Seo Ri, kalau ia tidak bermaksud mengatai Woo Jin aneh.

Woo Jin cemberut. Seo Ri tertawa.

Seo Ri kembali ke mejanya. Ia mengecek ponselnya dan menerima SMS dari seseorang yang mengetahui soal bibinya.


Bersama Woo Jin, Seo Ri menemui ahjumma yang tahu soal bibinya.

"Gook Mi Hyun. Aku dulu bekerja di sebuah toko. Jadi aku ingat dengan jelas namanya. Dia datang setiap dua atau tiga hari selama bertahun-tahun."

Flashback...


Nyonya Gook membeli beberapa barang dan saat membayarnya di kasir, si kasir yang tak lain adalah ahjumma itu bertanya apa Nyonya Gook mau menyimpan poin dan mau barangnya dikirimkannya.

Nyonya Gook mengangguk lalu memberitahu alamatnya tapi si kasir ternyata sudah tahu alamatnya.

Flashback end...


"Kami sadar dia pindah 11 tahun yang lalu. Kau tahu apa yang terjadi?" tanya Woo Jin.

Ahjumma itu pun berkata, yang ia tahu Nyonya Gook sudah bercerai. Ada orang yang melihat mereka pergi ke pengadilan.

Woo Jin lalu ingat soal artikel tentang perusahaan paman Seo Ri yang bangkrut serta kontrak jual beli rumah yang disetujui Nyonya Gook.


Woo Jin lantas menunjukkan pada Seo Ri soal artikel itu dan kontrak jual beli rumah.

Woo Jin berkata, hal itu mungkin ada hubungannya dengan perceraian mereka dan dengan Seo Ri yang sempat melihat pamannya sebelum kecelakaan.

Seo Ri lalu berkata bahwa ia mau menemui bibinya. Woo Jin takut Seo Ri terluka lagi, tapi Seo Ri tidak peduli. Ia ingin mendengar penjelasan bibinya soal pamannya.


Tapi sampai di toko bunga, toko bunganya Nyonya Gook tutup. Seo Ri pun berkata, bahwa bibinya menutup toko karena tahu ia akan datang.

Mereka pun pergi menanyakan pada orang-orang tentang sejak kapan toko bunga itu ditutup tapi tidak ada yang tahu.


Malam pun tiba. Mereka sudah tiba di rumah.

Seo Ri menduga, bibinya menutup toko sejak bibinya melihatnya di sekitar sana hari itu.

Seo Ri luka. Woo Jin pun menggenggam tangan Seo Ri dan mengajak Seo Ri sama-sama mencari jalan keluar.


Mereka lalu turun dari mobil. Tapi tepat saat itu, bibinya Seo Ri datang.

Seo Ri membeku, menatap bibinya dengan mata berkaca-kaca. Nyonya Gook juga berkaca-kaca menatap Seo Ri.


Bersambung....

Satu episode lagi guys.... dan semuanya akan terungkap jelas...

No comments:

Post a Comment