Wednesday, September 19, 2018

Still 17 Ep 16 Part 1 (END)

Sebelumnya...


Di mobilnya, Nyonya Gook melihat 7 panggilan tak terjawab dari ponsel Woo Jin.

Tangannya memegang sebuah kartu nama serta foto Seo Ri.


Nyonya Gook lalu mendengarkan pesan suaranya.

"Aku dan Seo Ri akan ke Seoul sebentar lagi. Seo Ri tahu tentang perceraianmu. Dia merasa bersalah atas itu. Dia tidak menyalahkan kalian. Dia hanya mengkhawatirkan pamannya. Dia percaya kau punya alasan meninggalkannya dan menjual rumah yang kau sayangi. Jika dia tidak mengetahui dimana pamannya, dia akan merasa bersalah selamanya..."

Di tempat lain, kita melihat Woo Jin yang meninggalkan pesan suara untuk bibi Seo Ri.

"... aku tahu betapa menakutkannya rasa bersalah. Aku tidak ingin dia seperti itu. Makanya, tolong jangan menghindarinya. Beritahu kami dimana pamannya. Kumohon padamu."


Setelah itu, Woo Jin dan Seo Ri tiba di toko bunga Nyonya Gook. Tapi tokonya tutup.

Seo Ri merasa, bibinya menutup toko karena tahu ia akan datang.

Woo Jin menyuruh Seo Ri menunggu karena ia mau menanyakan ke lingkungan sekitar, tapi Seo Ri ingin ikut.

Tanpa mereka sadari, dari kejauhan Nyonya Gook melihat mereka.

Nyonya Gook berniat turun. Ia mau menemui Seo Ri, tapi mengurungkan niatnya.


Malam harinya, Nyonya Gook akhirnya menemui Seo Ri.

"Seo Ri-ya." panggilnya saat Seo Ri dan Woo Jin akan masuk ke dalam rumah.

Seo Ri berbalik. Ia membeku menatap bibinya.

"Mianhae, Seo Ri-ya. Mian, mianhae." tangis Nyonya Gook pecah.

Seo Ri mendekati bibinya. Ia menanyakan pamannya, tapi bibinya hanya menangis.

"Kenapa bibi menangis? Dimana paman?" tanya Seo Ri.

Nyonya Gook tetap diam dan menangis.

Seo Ri mulai panic. Nyonya Gook lantas memeluk Seo Ri.


Mereka lalu duduk di halaman. Nyonya Gook menyuruh Seo Ri membaca sebuah buku.

"Jika aku tahu ini akan terjadi, aku seharusnya tidak berbohong soal perjalanan bisnis. Aku seharusnya tetap berada di sisi Seo Ri..."

Ternyata itu adalah buku catatan pamannya.

Pamannya meninggalkan banyak tulisan di sana.

Flashback...



Tuan Kim menuliskan catatan itu sambil menjaga Seo Ri yang koma.

"... seharusnya aku memberi tumpangan hari itu. Seharusnya aku menghentikanmu naik bus itu. Tapi tetap saja, aku percaya kau akan bangun. Berjuanglah. Aku akan melindungimu."


Di rumah, Nyonya Gook membujuk Tuan Kim untuk menjual rumah Seo Ri. Tapi Tuan Kim menolaknya karena yakin Seo Ri akan segera sadar. Ditambah lagi, Seo Ri sangat menyayangi rumah itu. 

"Apa yang akan kau lakukan sendiri? Dia mengkhianatimu, bagaimana kau akan menemukannya?"

 "Dia tidak akan melakukan itu. Dia lebih dari sekedar mitra bisnis. Ku mohon bertahan, Mi Hyun-ah. Aku akan mengurus ini entah bagaimana pun." ucap Tuan Kim.

Nyonya Gook pun kesal.


Tuan Kim kembali menjaga Seo Ri.

Sembari menjaga Seo Ri, ia menuliskan catatannya.

"Sudah tiga bulan,  tapi kau masih tidur. Aku mengalami sedikit kesulitan. Tapi tetap, paman akan melindungi rumah bagaimana pun caranya."


Seo Ri kemudian membalik lembarannya.


"Sudah setahun kita belum mengobrol. Mulai sekarang, paman tidak akan minum lagi meskipun kesal. Paman akan berusaha bagaimana pun juga. Seo Ri-ya, kau akan segera bangun juga kan?"


Hari berikutnya.

"Ada kabar baik. Kau akan memiliki sepupu. Tolong bangunlah agar kita bisa bersenang-senang."

Lalu tiba-tiba, Tuan Kim merasakan sakit di dadanya.

Sambil menahan rasa sakit, Tuan Kim terus menulis. Ia mau Seo Ri mengajari anaknya main violin.



Di rumah, Tuan Kim menyerahkan surat perceraian. Ia juga mau Nyonya Gook menjadi wali Seo Ri dan mempertahankan rumah Seo Ri.

Nyonya Gook protes. Ia berkata, ia sedang hamil.

Tuan Kim memegang tangan Nyonya Gook. Ia berkata, tidak akan ada yang berubah. Ia berjanji akan melindungi Nyonya Gook, bayi mereka dan juga Seo Ri.


Nyonya Gook berkata, bahwa semuanya terjadi begitu mendadak. Suaminya bekerja keras untuk menghentikan kebangkrutan. Hingga akhirnya, ia divonis mengidap sirosis hati.

Dan dalam waktu kurang dari sebulan, Tuan Kim meninggal. Ia meninggal saat menjaga Seo Ri.



Seo Ri syok, tangisnya seketika pecah. Woo Jin menguatkan Seo Ri dengan memegang tangannya.


Besoknya, Woo Jin menemani Seo Ri ke makam Tuan Kim.

Seo Ri menangis. Ia menunjukkan uang yang diberikan pamannya saat mereka di bandara.

"Paman bilang kita bisa bertemu lagi kalau aku punya uang ini. Jadi kenapa paman melakukan ini? Seharusnya aku percaya saja kau meninggalkanku dan hidup bahagia. Bagaimana ini? Pamanku yang malang."


Woo Jin lalu memberikan amplop kecil pada Seo Ri. Ia berkata,  bahwa Nyonya Gook lah yang menitipkan itu padanya.

"Dia tidak menggunakan uang hasil penjualan rumahmu dan menyimpannya di sana."

Seo Ri membukanya. Isinya sebuah alamat bank dan kuncinya.

Seo Ri pun menyesali keputusan pamannya karena tidak menjual rumahnya.


Di rumah, Woo Jin dan Jennifer terus menatap Seo Ri yang duduk diluar sambil memandangi ke langit.

Jennifer berkata, satu-satunya obat kesedihan adalah melangkah.


Woo Jin lantas menghampiri Seo Ri. Ia menggoyangkan tabung bergambarnya. Seo Ri pun langsung menatap Woo Jin begitu mendengar bunyi loncengnya.

Woo Jin mengajak Seo Ri keluar. Ia berkata, mau membuat sketsa dan ingin Seo Ri membantunya.

Seo Ri bertanya pada Fang, haruskah mereka ikut. Fang menyahut, seolah mengiyakan pertanyaan Seo Ri.


Woo Jin ternyata membawa Seo Ri ke pantai.

"Ini tempat yang bagus. Lautan yang bagus menyegarkan tapi sangat jauh." ucap Seo Ri.


Woo Jin mulai mengambil beberapa foto.

Sementara Seo Ri asyik bermain dengan Fang.

Sesekali, Woo Jin mengarahkan kameranya ke Seo Ri.


Setelah itu, mereka foto bertiga.

Malam pun tiba.


Woo Jin dan Seo Ri duduk di tepi pantai sambil melihat lukisan Woo Jin.

Woo Jin mengaku sudah memperbaiki lukisan Seo Ri tapi tidak bisa menghilangkan noda kaki Fang yang ada di sana.

Seo Ri pun mengarahkan kaki Fang ke lukisan. Woo Jin terkejut kalau itu ternyata jejak kaki Fang.


Seo Ri lalu berkata, kalau Woo Jin salah melukis tangannya.

Woo Jin pun bertanya, apa yang sedang Seo Ri lakukan di jembatan penyebrangan saat itu.

Seo Ri pun mengajari Woo Jin melingkari bulan.

"Ini adalah caranya kau memanggil kelinci bulan yang akan mengabulkan permintaanmu. Ini yang diajarkan ibuku. Ibuku juga yang memberikan gantungan kunci ini." ucap Seo Ri.

Fang lalu kabur dari pelukan Seo Ri. Seo Ri langsung lari mengejar Fang.

Sementara Woo Jin masih sibuk melingkari bulan.


Lalu ia mendengar bunyi lonceng. Woo Jin pun menoleh dan tersenyum melihat Seo Ri yang berlari ke arahnya.

*Jadi yang di ep 1 itu, adalah sepenggal cuplikan endingnya.


Mereka lalu kembali duduk di tepi pantai. Seo Ri berterima kasih karena Woo Jin selalu ada di sisinya.

Woo Jin juga berterima kasih karena Seo Ri membiarkan ia berada di sisinya.

Epi 31-Frankly and Sincerely


Besoknya, Chan kembali ditemui oleh Pelatih Lee yang mengajaknya bergabung.

Chan pun meminta beberapa minggu untuk berpikir. Pelatih Lee mengerti dan mengharapkan kabar baik.


Setelah Pelatih Lee pergi, Chan langsung dihampiri teman-temannya.

Teman-teman Chan mengaku iri pada Chan.


Lalu pelatih mereka datang dan menyuruh mereka berlatih.

Si pelatih pun bertanya kenapa Chan cemberut padahal habis menerima tawaran bagus. Chan pun berkata, ia belum memikirkan akan bergabung di klub profesional.

"Pilih yang kau sukai." jawab si pelatih.

Ternyata Chan bingung, memilih bergabung di klub profesional atau masuk perguruan tinggi.


Seo Ri menemui Hyung Tae.

"Aku tidak pernah berharap hal itu terjadi. Aku yakin dia berada di tempat yang lebih baik. Dia seperti malaikat," ucap Hyung Tae.

Hyung Tae juga meminta maaf karena sudah berbohong.

"Setelah semua orang pergi, kukira aku yang akan menjadi satu satunya disisimu. Setelah kau bangun, aku yakin kau akan berada di sisiku. Itu sebabnya aku kesal setelah menemukanmu. Aku berandai-andai, seandainya aku bertemu denganmu duluan daripada orang-orang itu." ucap Hyung Tae.

Hyung Tae lalu berterima kasih karena Seo Ri pergi ke rumah itu. Ia mengaku, tidak akan pernah mengetahui dimana Seo Ri jika Seo Ri tidak pergi ke rumah itu.

Hyung Tae juga berkata, ia senang bisa menjadi dokter.


"Kau ingat, bagaimana dengan bodohnya aku berpikir bisa menjadi seorang penyanyi." ucap Hyung Tae.

Hyung Tae pun mempraktekkan lagi gaya hip hop andalannya, yang diikuti Seo Ri.

Lalu mereka tertawa.


Setibanya di kantor, Seo Ri dan tim nya pun kembali rapat.

"Woo Jin-ah, kau bilang kau akan pergi ke klinik terapi musik hari ini?" tanya Hee Soo.

"Aku tidak tahu banyak bidang ini jadi aku harus pergi memikirkan konsepnya." jawab Woo Jin.

"Aku sedang memikirkan untuk memperbarui situs web kita. Hoobae-nim, berikan fotomu. Kau sekarang adalah pekerja tetap. Aku akan memposting fotomu di halaman staf." ucap Hyun.

"Profil? Aku tidak memiliki profil." jawab Seo Ri.

"Yang kuperlukan hanyalah informasi akademik dan portfolio kerjamu." ucap Hyun.

Hee Soo yang sudah tahu kisah Seo Ri pun berkata, kalau bakat Seo Ri adalah portfolio Seo Ri.

Ia juga berkata, mereka akan berada dalam masalah besar jika tidak mengikutsertakan Seo Ri dalam festival waktu itu.

Setelah itu, Woo Jin bangkit dan mengajak Seo Ri ke konser RS.


Sampai di sana, Woo Jin dan Seo Ri sama-sama merekam kegiatan para peserta terapi musik.

Dokter Woo Jin lalu menatap Seo Ri. Ia pun mengerti bahwa Seo Ri lah gadis istimewa itu.


Selesai mendokumentasikan, Woo Jin pun berkata pada dokternya bahwa ia akan mengambil apa yang ia lihat sebagai referensi dan menjadikannya konsep.

"Aku mengerti, tapi apa dia gadis yang sering kau bicarakan?"

"Bicarakan?" tanya Seo Ri.

"Dia bilang padaku bahwa kau adalah orang spesial yang membuat langit terlihat biru dan membuatnya terasa jauh lebih baik dari sebelumnya." jawab dokter.

Malu, Woo Jin pun langsung menyela ucapan sang dokter dan berkata, kalau dokter tidak boleh memberikan informasi apapun soal pasien.

"Pasien merujuk pada orang yang membutuhkan perawatan. Itu tidak berlaku bagi mereka yang baik-baik saja. Dan aku tidak berpikir, ada pasien lain di ruangan ini."

Sementara Seo Ri, langsung menatap ke arah Woo Jin, bikin Woo Jin semakin malu.


Di kamarnya, Woo Jin sedang melihat video yang ia dokumentasikan tadi.

Saat layar menyorot wajah Seo Ri yang sedang tersenyum, Woo Jin pun memberhentikan videonya.

"Senyumnya sangat cantik." ucap Woo Jin.


Woo Jin lalu membuka bukunya dan membaca sesuatu.

"Beberapa orang merasa terhibur oleh lagu dan beberapa tersentuh olehnya. Seorang terapis musik, harus tahu dan menyukai musik."

Woo Jin membaca kutipan di buku.

Lalu ia teringat kata-kata Seo Ri.

"Saat itu ketika aku melakukan sesuatu dengan musik, itu tulus dan menghibur hatiku. Sepertinya aku akan lebih senang jika aku bisa melakukan sesuatu dengan musik."


Sekarang, Woo Jin sudah berada di kamar Seo Ri. Ia menyuruh Seo Ri membaca buku itu.

Tapi Seo Ri sudah memiliki buku itu. Seo Ri mengaku, sesi terapi musik tadi mengingatkannya pada festival. Itu juga mengingatkannya pada wanita tua yang mendengarkan musiknya di taman.

"Aku mulai tertarik setelah menyadari bahwa musik itu dapat menyembuhkan orang. Jadi aku pergi ke perpustakaan dan meminjam buku ini.

"Bagaimana kau melihat profesi ini?" tanya Woo Jin.

"Aku sudah melihatnya. Tapi ternyata aku harus melakukan banyak hal jika ingin menjadi terapis musik. Gelar sarjana dan master adalah wajib. Di atas itu, aku juga harus mengambil GED mungkin memakan 7 hingga 8 tahun." jawab Seo Ri.

"Itu tidak mudah." ucap Woo Jin.

Seo Ri lalu mengajak Woo Jin melakukan penelitian.


Hyun yang lewat di depan meja Seo Ri, melihat Seo Ri mendapat email baru.

"Itu dari Rin Kim." seru Hyun.

Seo Ri pun langsung membaca email dari Tae Rin.

Apa kau rajin berlatih untuk Concerto for Two Violins? Aku di Berlin dan aku sudah mulai belajar lagi. Aku tidak akan mendapatkan gelar dan itu bukan perguruan tinggi resmi. Ini hanya organisasi musik kecil yang didirikan oleh beberapa profesor yang ingin menikmati konser yang menyenangkan. Ini benar-benar menyenangkan.


Lalu kita melihat keseharian Tae Rin di Berlin.

Aku bertemu profesor yang ternyata lulus dari Hanns Eisler. Aku bilang padanya kau pernah diterima di sana dan dia masih mencarimu. Dia bahkan menonton videomu audisimu dan dia mengingatmu sedikit. Dan dia benar-benar membuat saran yang menarik. Dia ingin kau datang ke sini. Kau tidak akan mendapatkan gelar atau lisensi tapi ini adalah tempat terbaik bermain violin.


Flashback--saat audisi Seo Ri.


Seo Ri tercengang membacanya.
 
Tak lama Woo Jin datang. Melihat Seo Ri tercengang, Woo Jin pun bertanya ada apa.


Malamnya, di rumah, Seo Ri memberitahu Woo Jin soal tawaran Tae Rin.

Woo Jin pun mengaku, ia akan menghormati apapun keputusan Seo Ri dan Seo Ri harus mengambil keputusan bukan berdasarkan orang lain dan meminta Seo Ri tidak usah memikirkannya.

"Bagaimana mungkin aku tidak memikirkanmu?" tanya Seo Ri.

"Aku akan tinggal bersamamu selama sisa hidupku. Jika kau memutuskan pergi, aku akan sering mengunjungi Berlin. Kita bisa bertemu di Gendarmenmarkt dan menonton konser di Konzerthaus Berlin. Kita juga bisa mengunjungi hotdog favorit Chan. Jadi jika menurutmu ini peluang besar, kau tidak boleh menyerah." jawab Woo Jin.

"Aku akan memikirkan yang terbaik." ucap Seo Ri.


Di kantor, Seo Ri masih memikirkan tawaran Woo Jin. Hyun berkata, bahwa Seo Ri tidak perlu memikirkannya lagi. Ia juga mengatai Seo Ri bodoh jika melewatkan kesempatan itu.

Hee Soo juga ikut mendorong Seo Ri agar Seo Ri ke Berlin. Ia meyakinkan Seo Ri, bahwa perusahaan akan baik-baiks aja tanpa Seo Ri.


Di kamarnya, Seo Ri pun mencoba menghitung-hitung waktu yang akan ia habiskan belajar di Berlin.

Ia pun kaget menyadari ia akan kembali ke Korea di tahun 2020.


Seo Ri duduk diluar, sambil memeluk Fang dan memikirkan usianya setelah kembali dari Berlin nanti.

Seo Ri lalu mengambil nafas. Bersamaan dengan itu, Chan juga menghela nafas.

Seo Ri dan Chan sama2 terkejut melihat kehadiran masing-masing.

"Aku tidak tahu kau di sana." ucap mereka bersamaan.

"Kenapa? Ada yang mengganggu pikiranmu?" tanya Chan.

"Kau juga?"

Chan mengangguk.

"Ini sangat sulit." ucap Seo Ri.


Besoknya, Chan memberitahu pelatihnya kalau ia sudah mengambil keputusan.

Di Berlin, Tae Rin tersenyum saat mem,baca balasan email dari Seo Ri. Seo Ri memutuskan pergi ke Berlin.

Bersambung ke part 2.......

No comments:

Post a Comment