Thursday, September 20, 2018

Still 17 Ep 16 Part 2 (END)

Sebelumnya...

[Sehari sebelum keberangkatan Seo Ri]


Di kamarnya, Seo Ri termenung memandangi tiketnya. Ia tampak seperti berat harus berpisah dari Woo Jin.

Woo Jin lalu membuka pintu kamarnya.

"Semuanya sudah siap?" tanya Woo Jin. Seo Ri mengangguk.

"Ini bukan apa-apa, tapi aku tinggal di sana untuk waktu yang lama. Dan di persimpangan Gendarmenmarkt, ada perempatan dimana tidak ada lampu lalu lintas. Mungkin agak jauh, tapi jalanlah satu blok lagi dan menyebrang dimana ada lampu lalu lintas." ucap Woo Jin.

"Baiklah." jawab Seo Ri.

"Jika orang Jerman bertanya, apa kau ingin tuak, taburkan saus pedas pada mereka, bagaimana pun jangan pernah minum tuak bersama mereka!" ucap Woo Jin.

"Baiklah, tapi sepertinya aku harus tidur." jawab Seo Ri.


Tapi Woo Jin terus mengoceh dan mengaku sudah membuat beberapa tips untuk Seo Ri.

Seo Ri terkejut melihat tips yang dibuat Woo Jin.

"Penerbanganmu jam 5 kan, berarti kau harus berangkat jam 2."

"Aku akan naik bis bandara." jawab Seo Ri.

"Wae?" tanya Woo Jin.

"Karena aku tahu, kita akan nangis di bandara. Kita sudah terlalu banyak menangis. Jangan menangis lagi. Kau bilang akan mengunjungiku Bulan Oktober. Jari mari kita ucapkan selamat tinggal dengan senyuman."  jawab Seo Ri.


"Tapi tetap saja..."

"Itulah yang kuinginkan. Kau bekerja seperti biasa dan aku akan berangkat seperti orang dewasa."

"O.. oke. Aku akan menghormati keputusanmu." ucap Woo Jin.

 [Hari keberangkatan Seo Ri]


Seo Ri menunggu Woo Jin dibawah. Tak lama, Woo Jin turun dan Seo Ri langsung mendekati Woo Jin.

"Woo Jin-ah." ucap Seo Ri. Ia mau mengatakan sesuatu, tapi Woo Jin memeluknya.

Woo Jin berkata, kalau Seo Ri sudah membuat keputusan yang tepat dan berharap Seo Ri tiba di sana dengan selamat. Ia juga berjanji akan mengunjungi Seo Ri Oktober nanti.


Hyun menghampiri Hee Soo. Hee Soo bertanya apa dia masih menangis.

"Dia masih menangis. Dia mungkin akan membanjiri seluruh kantor." jawab Hyun.


Woo Jin pulang ke rumah. Jennifer langsung menghampirinya. Ia mau mengatakan sesuatu, tapi Woo Jin berkata, ingin sendiri dan langsung naik ke atas.


Di atas, dia ketemu Chan. Tapi lagi-lagi dia mengatakan ingin sendiri dan langsung masuk kamar.


Di kamar, Woo Jin langsung berbaring. Saat itulah, ia menemukan surat yang ditempel Seo Ri di bibir meja.

"Seo Ri-ya." panggil Woo Jin dengan sorot mata sedih.

Woo Jin membaca surat Seo Ri.


Kupikir ini adalah kali pertama aku menulis surat padamu. Ketika kau membaca surat ini, aku pasti berada di pesawat menuju Jerman. Kita butuh waktu lama untuk akhirnya bersama. Tapi kita harus mengucapkan selamat tinggal lagi. Hatiku... sakit. Aku sangat beruntung memiliki kesempatan ini. Karena semua orang bilang begitu, itu pasti tepat. Benar, aku akan belajar dari para profesor hebat dan memperbaiki teknik... oh, camkkanman. Aku baru menyadari sesuatu ketika aku menulis surat ini. Sepertinya aku tidak ingin pergi. Benar. Kenapa aku harus pergi? Jika aku pergi, aku akan menjadi lebih baik dalam bermain violin. Teknikku juga akan meningkat. Tapi untuk apa? Aku tidak menginginkan itu lagi. Semua orang bilang, aku tidak boleh melewatkan kesempatan ini, jadi aku merasa harus pergi. Begitu aku menyelesaikan studiku di sana, aku akan terlalu tua. Itu sebabnya kupikir aku akan pergi. Aku tidak akan pergi. Aku suka berada disini. Aku ingin menghabiskan waktu lebih banyak dengan Fang, aku ingin selalu disisimu, aku ingin bersenang-senang dengan Chan, Jennifer, Hae Beom dan Deok Soo. Aku akan bermain dengan nenek di taman. Aku lebih bahagia di sini makan tteokbokki. Woo Jin-ah, aku tidak akan ke Jerman!


Woo Jin kaget dan langsung duduk di tempat tidurnya.

Orang bilang aku bodoh melewatkan kesempatan ini tapi kehilangan apa yang berharga bagiku, kupikir itu lebih bodoh.

Tulis Seo Ri lagi.. Lalu Seo Ri menyuruh Woo Jin membalik kertasnya.

Akan aneh jika melihatmu di rumah jadi aku akan menunggumu di sana.

"Mwo?" kaget Woo Jin.


Woo Jin pun langsung turun dan berlari keluar rumah.

Chan dan Jennifer yang melihat itu geli sendiri. Chan mengaku, bahwa sejak awal ia mau memberitahu Woo Jin kalau Seo Ri batal berangkat tapi Woo Jin malah bilang ingin sendiri. Begitu pun dengan Jennifer yang sejak tadi berusaha memberitahu Woo Jin.

Dalam suratnya, Seo Ri juga bilang ia akan pergi jika saja tidak bertemu Woo Jin dan keluarga Woo Jin juga keluarganya.


Mereka pun bertemu di jembatan.

"Apa yang terjadi?" tanya Woo Jin.

"Aku tahu, lebih baik mencoba semuanya, tapi aku menyadari apa yang lebih baik. Sejujurnya aku takut dengan usiaku, aku setidaknya akan berusaha 37 atau 38 tahun jika menjadi terapis musik. Tapi memangnya kenapa? Siapa yang peduli jika aku berusia 38 atau 50. Aku takut karena itu akan memakan waktu terlalu lama. Tapi aku tidak ingin mengkhawatirkan usiaku. Bahkan jika itu memakan waktu, aku akan bersama orang yang kusuka dan belajar pelan-pelan." jawab Seo Ri.

Seo Ri ngos-ngosan setelah ngomong panjang lebar kayak kereta begitu.

Woo Jin geli, "Kau kehabisan napas?"

Seo Ri mengiyakan.


Woo Jin lalu memeluk Seo Ri.

Seo Ri pun berkata, kalau sebenarnya tadi pagi dia mau memberitahu Woo Jin tapi Woo Jin malah memeluknya dan berkata akan mengunjungi Seo Ri di Berlin Oktober nanti.

Seo Ri juga bilang kalau semua orang rumah tahu.

"Mereka mau bilang tapi kau bilang ingin sendiri dan menangis." ucap Seo Ri.


"Kalau begitu, aku harus membatalkannya. Aku memesan penerbangan ke Berlin untuk Lusa." jawab Woo Jin.

"Kalau begitu kenapa kau menangis jika kau akan datang lusa?" tanya Seo Ri.

"Aku tidak menangis." jawab Woo Jin.

"Hyun bilang kau nangis." ucap Seo Ri.

"Itu karena angin." jawab Woo Jin.

[Beberapa bulan kemudian]


Hae Beom dan Deok Soo sedang membantu Chan berkemas-kemas.

"Sudah 6 bulan sejak kau pindah ke sini. Tidak bisakah kau tinggal? Aku sudah melekat pada tempat ini." ucap Hae Beom.


Deok Soo berkata, mereka bisa lebih sering mengunjungi Woo Jin, Seo Ri dan Jennifer.

Chan pun berkata, bahwa Jennifer juga akan pindah karena kontraknya hanya sampai 6 bulan.


Deok Soo dan Hae Beom tampak mengalungi dua medali emas.


Hae Beom lalu melihat formulir pendaftaran Chan ke universitas dan kartu nama Pelatih Lee.

"Kau telah terpecah antara keduanya untuk sementara waktu. Perguruan tinggi Daehan atau Balai Kota Sungmoo?"

Deok Soo lalu bertanya apa Chan bahagia dengan keputusan itu.

Chan pun mengiyakan.

Mereka lalu dikejutkan dengan kokokan Chick Junior.


Di dapur, Woo Jin membujuk Jennifer untuk menandatangani kontrak baru.

Tapi Jennifer bilang, ia sudah punya rencana dan ingin menata hidupnya.


Di kamarnya, pipi Seo Ri memerah begitu menyadari kalau hanya ia dan Woo Jin yang akan tinggal di rumah itu setelah Chan dan Jennifer pindah.


Di kantor, Seo Ri masih mikirin kenyataan kalau ia akan tinggal berdua saja dengan Woo Jin di rumah.


Hyun ke meja Woo Jin, untuk mengambil beberapa catatan tapi malah menemukan tanda terima pesanan khusus dari toko perhiasan.


Tak lama Hee Soo datang dan melihat undangan pernikahan.

Mendengar Hee Soo menyebut-nyebut pernikahan, Hyun pun sadar kalau Woo Jin mau melamar Seo Ri.


Hyun langsung menunjukkan tanda terima itu pada Seo Ri.

"Apa yang dia buat di toko perhiasan?" tanya Hee Soo. Tak lama kemudian, Hee Soo juga sadar, bahwa Woo Jin mau melamar Seo Ri.

"Nalang gyulhonhae joolae." ucap Hyun setengah bernyanyi.


Seo Ri kaget.


Hyun asyik makan roti, sementara Seo Ri sibuk mengoceh dalam hatinya sambil mencelap-celupkan bungkus teh ke dalam cangkirnya.

"Apa Woo Jin juga khawatir kami hanya akan tinggal berdua? Jadi pernikahan adalah jawabannya?" tanyanya.


Tak lama Woo Jin datang. Hyun dan Seo Ri kaget lihat penampilan Woo Jin yang rapi.

"Kau bebas malam ini kan? Aku ingin mengajakmu makan di restoran. Aku tunggu kau diluar." ucap Woo Jin lalu beranjak pergi.

Setelah Woo Jin pergi, Hyun pun berkata kalau Woo Jin akan melamar Seo Ri malam itu juga.

"Dia jelas akan melakukannya hari ini. Toko perhiasan, berpakaian rapi dan restoran mewah." ucap Hyun.


Di restoran, Woo Jin memesan sampanye. Seo Ri pun makin yakin kalau Woo Jin mau melamarnya.

Ia bertanya-tanya sendiri, harus memberikan jawaban apa.


Ketika Woo Jin hendak mengeluarkan sesuatu dari balik saku jasnya, Seo Ri langsung berteriak.

"Ayo lakukan!"

Woo Jin kaget. Ia lalu bertanya apa maksud Seo Ri.

"Aku siap untuk itu. Aku sudah bekerja juga. Aku sudah sedikit berpengalaman. Aku mungkin belum mencapai 30 tapi setidaknya aku sudah 25 sekarang. Tentu saja, aku siap! Ayo lakukan!" ucap Seo Ri.

"Kau ini bicara apa?" tanya Woo Jin.

"GED? Menjadi sukarelawan? Bermain di orkestra amatir? Aku bahkan masih bisa melakukan hal-hal itu setelah menikah." jawab Seo Ri.



Seo Ri lalu menyodorkan tangannya dan mengaku siap dinikahi Woo Jin.

Sontak, Woo Jin tercengang mendengarnya.

Tak lama kemudian, Seo Ri sadar kalau ia salah menduga.

"Lalu kenapa kau memakai jas?" tanya Seo Ri.

"Aku ada rapat penting. Hee Soo juga berdandan." jawab Woo Jin.

"Terus kenapa kau membawaku ke sini?" tanya Seo Ri.


"Kau terlalu sibuk jadi kita tidak sempat berkencan. Jadi aku ingin membawamu ke tempat yang bagus. Aku juga tahu kalau kau menyukai steak." jawab Woo Jin.

"Lalu apa yang mau kau berikan untukku?" tanya Seo Ri.

Ternyata, Woo Jin mau memberikan Seo Ri gantungan kunci kelinci itu.

"Kau bilang itu hadiah dari ibumu dan karena kau hanya punya satu dan sudah memberikannya padaku, jadi aku memberikanmu ini." ucap Woo Jin.


Malu, Seo Ri pun langsung meniup lilin yang ada di hadapannya. Ia berkata, lebih baik kalau sedikit gelap karena ia benar-benar malu dan lebih bagus jika terjadi pemadaman listrik.


Woo Jin dan Seo Ri duduk di atas ayunan, di taman bermain.

"Hanya kita berdua di sini. Aku tidak tahu harus bagaimana kalau sudah begini." ucap Seo Ri.

"Aku minta maaf karena tidak memikirkannya. Aku tidak tahu kau sangat menyadarinya." jawab Woo Jin.

"Kau tahu situasiku. Aku selalu merasa tidak enak karena kau sangat peduli kepadaku dan kau selalu menungguku. Kupikir aku tidak ingin membuatmu menunggu lagi." ucap Seo Ri.

"Aku benar-benar tidak ingin kau khawatir tentang sesuatu sebelumnya. Aku tahu betul mengatakan hal seperti itu akan terasa terlalu terburu-buru untukmu. Seperti yang kau katakan, kita harus melakukannya perlahan. Tidak apa-apa untuk mengambilnya secara perlahan dan benar-benar menjalani momenmu. Aku tidak ingin membuatmu merasa melewatkan sesuatu lagi. Aku akan menunggumu sampai kau siap. Aku ingin menjadi orang yang paling kau anggap nyaman."


Woo Jin lalu berdiri di hadapan Seo Ri.

"Jika hanya kita berdua, apa membuatmu tidak nyaman?" tanya Seo Ri.

"Aku sangat nyaman bersamamu." jawab Seo Ri.

"Kau sudah mendapatkan jawabannya." ucap Woo Jin.

"Aku jatuh cinta padamu lagi." jawab Seo Ri.

"Itu kalimatku." ucap Woo Jin.

Mereka lalu bergandengan tangan.


Jennifer keluar dari kamar sambil menggeret kopernya. Ia menemukan dua buah kado di depan kamarnya.

Terdengar narasi Woo Jin yang berkata, kalau Jennifer membenci sesuatu yang norak jadi mereka memutuskan mengucapkan selamat perpisahan tanpa membuat keributan.

Jennifer pun membuka kotak yang berwarna merah dan membaca pesan yang ditinggalkan di sana.

Berkat perawatan pertamamu, aku mendapatkan medali pertamaku. Kamsahaeyo, Jennifer.  Dari Hae Beom dan Deok Soo

Jennifer lalu membaca pesan dari Chan. Chan berterima kasih atas segala yang sudah dilakukan Jennifer dan berkata, bahwa Jennifer sudah seperti ibunya selama 6 bulan terakhir.


Jennifer lalu beranjak ke depan dan pamitan dengan Fang.


Di depan pintu, ia menemukan hadiah sepatu dari Seo Ri.

Dalam pesannya, Seo Ri berkata, bahwa ia sudah berjanji akan memberikan Jennifer hadiah sepatu yang cantik.

Jennifer terharu. Ia langsung memakai sepatu dari Seo Ri.


Tepat saat itu, Seo Ri keluar dari kamarnya dan berlari memeluk Jennifer.

"Aku tahu ini norak tapi aku tidak mau melewatkannya. Ini adalah takdir yang indah untuk bertemu denganmu untuk pertama kalinya." ucap Seo Ri.


Jennifer langsung ingat itu kata-katanya yang ia ucapkan saat pertama kali Seo Ri datang ke rumah mereka.


Seo Ri menangis. Ia berterima kasih pada Jennifer karena sudah menjadi takdir yang indah untuknya.

Jennifer memeluk Seo Ri. Ia juga menangis.


Di depan rumah, ia bertemu Woo Jin. Woo Jin ingin mengantar Jennifer tapi Jennifer menolak.

Jennifer mengaku, bahwa ia ingin memulai semuanya dengan kakinya sendiri.

Woo Jin mengerti. Ia lalu memeluk Jennifer dan berterima kasih atas semua yang sudah dilakukan Jennifer untuknya dan keluarganya.


Jennifer pergi.


Giliran Hae Beom dan Deok Soo yang pergi.

Seo Ri tampak sedih. Tapi Hae Beom dan Deok Soo bilang, bahwa mereka akan sering berkunjung.


Setelah itu, mereka melepas kepergian Chan. Chan juga membawa serta Chick Juniornya.

Chan bilang, sudah waktunya ia melepaskan Chick Junior ke tempat aslinya.

Terdengar narasi Woo Jin.

"Chan datang ke rumah ini bersama pacar kecilnya enam bulan lalu. Tapi sekarang dia pergi bersama ayam yang sudah tumbuh besar yang dipanggil Chick Junior."


Tinggallah Woo Jin dan Seo Ri di rumah.

Narasi Woo Jin : Kami adalah satu-satunya yang tersisa di rumah dan kami terus hidup. Kehidupan sehari-hari kami lebih nyaman dari sebelumnya.

[Dua tahun kemudian]


Seo Ri mengunjungi makam pamannya bersama bibi dan sepupunya.

Narasi Woo Jin : Tak terasa, dua tahun sudah berlalu.

Seo Ri memberitahu bibinya bahwa ia akan mulai kuliah tahun depan.

Bibinya mengucapkan selamat. Seo Ri meminta bibinya mentraktirnya jika mau mengucapkan selamat.


Chan sendiri, memilih masuk universitas Daehan dan berhasil memenangkan medali emas dua kali berturut-turut.


Pelatih Lee memberinya ucapan selamat. Kemudian ia bertanya, kenapa Chan menolak bergabung di klubnya.

Chan langsung ingat kata-kata Seo Ri, tentang alasan Seo Ri menolak pergi ke Berlin. Seo Ri bilang dia mau melakukan sesuatu yang ia sukai.

"Mendayung adalah satu-satunya hal yang perlu dipercepat. Aku benar-benar ingin menjadi dewasa dan aku mencoba bergegas. Tapi setiap kali melakukannya, aku selalu saja mengacaukannya.Jadi menurutku, aku harus melakukan apa yang paling cocok denganku.


Chan lalu berkunjung ke rumah pamannya. Woo Jin dan Seo Ri yang sedang memasak di dapur, langsung menghampirinya dan memberikan ucapan selamat.

Tak lama kemudian, Hae Beom dan Deok Soo datang. Mereka merayakan kemenangan Chan.


Chan lalu menghubungi kakeknya, tapi yang ditanyain malah kabar ayamnya.

Dan sang kakek pun memperlihatkan kondisi si Chick Junior.

"Harabeoji, aku akan segera mengunjungimu. Aku rindu Chick Junior." ucapnya.


Mereka lalu membahas Jennifer. Woo Jin mengaku sangat merindukannya.

"Aku juga merindukannya. Aku penasaran keadaannya." jawab Deok Soo.

"Menurutmu, apakah dia masih memakai kacamata hitam itu?" tanya Hae Beom.

"Aku tidak memakainya kali ini. Itu tidak cocok dengan pakaian yang aku pakai hari ini." sahut Jennifer.

Sontak, mereka senang dan langsung menghampiri Jennifer.

Jennifer berkata, bahwa ia datang untuk meminta tanda tangan Chan karena punya firasat Chan akan mendapat medali emas lagi tahun depan.

Setelah itu, Jennifer memasak untuk mereka semua.


Mereka lalu foto-foto.


Seo Ri duduk di halaman rumah sakit tempat ia dulu dirawat.

Tak lama kemudian, ia melihat nenek yang dulu memberinya kardigan merah muda.

"Apa nenek mengingatku? Nenek dulu memberiku kardigan merah muda." ucap Seo Ri.

Nenek itu pun memberikan Seo Ri permen dan bersikap seolah tidak ingat pada Seo Ri.


Tak lama kemudian, Tae Rin datang dan mereka mulai berkolaborasi menghibur para pasien.


Profesor Shim juga datang. Ia senang melihat kolaborasi itu.


Woo Jin mengeluarkan meterannya lagi. Tapi kali ini ia minta izin pada dua wanita yang duduk di sana.

Ia menjelaskan, bahwa dirinya adalah desainer yang tugasnya membuat replika kecil.


Jennifer sendiri sudah membuka restoran.

Salah satu pelanngannya bertanya, menu mi jung yang ditawarkan di sana.

Jennifer pun menjelaskan, bahwa itu adalah makanan rumahan Korea yang ia buat setiap hari sesuai seleranya.

"Kurasa ini disebut dengan cara ini karena menu tidak bisa diputuskan." ucap pelanggan.

"No, no... itu sebenarnya, namaku." jawab Jennifer sambil menunjuk name tagnya.


Wanita bersepatu kuning itu datang dan memesan satu set menu Mi Jung.


Chan sendiri sedang latihan dengan teman-temannya.


Di kantor, Hee Soo memberitahu timnya bahwa mereka memenangkan penghargaan desain panggung.

Sontak, mereka semua kaget dan bersorak girang.


Woo Jin menatap ke jendela atapnya. Tak lama kemudian, Seo Ri terbangun dan bertanya ada apa.

Woo Jin pun mengajak Seo Ri membuka jendela.


Mereka pun membuka jendela dan berdiri di jendela.

Narasi Woo Jin : Mereka bilang ketika satu pintu menuju kebahagiaan tertutup, pintu lain menuju kebahagiaan terbuka untukmu. Tapi banyak dari kita hanya fokus pada satu pintu yang tertutup. Mungkin pintu lain menuju kebahagiaan bukan sesuatu yang hebat atau istimewa. Mungkin hal-hal kecil dan sepele yang terlihat tidak penting adalah pintu lain menuju kebahagiaan. Jika kau tidak pernah menyerah di depan pintu yang tertutup, sebelum terlambat jika kau melihat pintu lain menuju kebahagiaan. Jika kau mengumpulkan keberanian dan berjalan ke arah itu maka mungkin kau bisa menemukan kebahagiaan.


Di meja, terlihat foto pernikahan Woo Jin dan Seo Ri.


Woo Jin dan Seo Ri kemudian saling menatap.


Mereka lalu berciuman setelah itu.


Woo Jin dan Seo Ri lalu melambaikan tangan mereka.

Dan di bawah, terlihat banyak orang sudah menunggu mereka sambil melambaikan tangan ke arah mereka.

TAMAT...

Happy ending guys....

Tapi sayang Chan sama Ree An gk jadian.

1 comment: