Tuesday, January 29, 2019

Babel Ep 1 Part 1


Dua orang pria sedang berpatroli di lorong. Mereka memeriksa setiap pintu di lorong. Tak lama kemudian, mereka mendapati salah satu pintu ruangan terbuka. Mereka heran karena pintu itu sudah ditutup sebelumnya. Mereka lantas mengambil senter dan bergegas memeriksa.

Sampai di dalam mereka mencium bau busuk. Tak lama setelah itu, seorang pria menubruk salah satu dari mereka hingga jatuh. Pria yang satunya lagi terpeleset karena menginjak genangan darah saat berusaha mengejar pria itu.

Pria yang terpeleset itu menyenter tangannya. Sontak ia kaget melihat tangannya yang berlumur darah.


Pria itu lantas mengarahkan senternya ke lantai dan menemukan Tae Min Ho sudah meninggal dengan mata terbelalak dan tubuh yang berlumur darah. Bahkan pisau yang merenggut nyawanya pun masih tertancap di dadanya.


-Ep 1, Keserakahan-


7 Hari Lalu, di dalam sebuah kereta, seorang kakek menegur seorang pria yang terlihat seperti preman karena duduk di kursi yang diperuntukkan untuk orang tua. Kakek itu menyuruh pria itu pindah, namun pria itu menolak. Pria itu berkata, jika dirinya tidak punya alasan untuk pindah karena dia sudah membayar ongkosnya. Keributan pun tak terhindarkan. Si kakek nyaris saja memukul pria itu dengan tongkatnya.

Cha Woo Hyuk yang juga ada di dalam kereta menegur pria itu. Ia menyuruh pria itu diam karena dia mau tidur. Pria itu : Bagaimana jika aku menolak? Woo Hyuk pun berkata, akan terjadi pertumpahan darah.


Pria itu tertawa. Setelahnya, dia mendekati Woo Hyuk dan memaksa Woo Hyuk berdiri. Pria itu bersiap memukul Woo Hyuk. Woo Hyuk pun menyuruh pria itu memukulnya. Melihat reaksi Woo Hyuk, pria itu tertawa dan tidak jadi memukul Woo Hyuk. Woo Hyuk pun langsung mengatai pria itu. Ia berkata, pria itu seperti seekor kucing yang sedang ketakutan.

Kesal, pria itu mendaratkan pukulnya di wajah Woo Hyuk. Baru lah Woo Hyuk menghajar pria itu. Namun sebelum mulai memukul, ia berkata, bahwa ia hanya berusaha membela diri karena pria itu memukulnya duluan.

Melihat itu, orang-orang di kereta langsung menjauhkan Woo Hyuk dari pria itu.


Sekarang, pria itu diseret ke kantor polisi. Pria itu meronta dan mengaku jika dirinya korban tapi polisi tidak percaya.

Tak lama kemudian, Woo Hyuk dengan antengnya ikut masuk ke kantor polisi.

Melihat Woo Hyuk, salah seorang detektif langsung kesal. Tapi saat berhadapan dengan Woo Hyuk, dia langsung bersikap ramah.

"Apa yang membawamu kemari, Geomsa-nim?" tanyanya ramah.

"Aku tidak butuh itu, yang kubutuhkan saat ini hanyalah tidur, jadi bicara lah nanti setelah aku bangun." jawab Woo Hyuk, lalu pergi.


Si detektif pun langsung menyuruh anak buahnya mengambilkan selimut untuk Woo Hyuk.


Woo Hyuk tidur di sel. Sebelum tidur, anak buah detektif yang tadi sudah menyiapkan selimut sebagai alas tidur Woo Hyuk. Tak hanya itu, dia juga memberi peringatan pada penghuni sel yang lain agar tidak berisik jika ingin selamat.


Setelah bangun, Woo Hyuk membersihkan dirinya di toilet. Ia menyikat gigi, mencuci muka serta rambutnya.

Woo Hyuk lantas kembali ke mejanya. Anak buah si detektif bahkan menarikkan kursi untuknya.


Woo Hyuk membuka lacinya, mengambil kaus kaki di laci kedua. Tapi saat hendak memasang kaus kakinya, detektif yang tadi datang sambil marah-marah dan menarik kaus kakinya.

Woo Hyuk : Jang Timjang, aku tinggal di tempat sewa bulanan. Kau lebih baik dariku. Kau punya mobil, kan? Aku berjalan dengan kakiku sendiri. Kau punya istri dan anak, aku sendirian. Siapa yang lebih kasihan?

"Siapa yang lebih kasihan?" tanya Woo Hyuk meminta pendapat rekan-rekannya.

"You.... win." jawab anak buah si detektif sambil menunjuk ke arah Woo Hyuk.

Sontak si detektif kesal.


"Aku lapar, bagaimana kalau makan rebusan soondae?" tanya Woo Hyuk.

Rekan-rekan Woo Hyuk langsung pura-pura sibuk.


Tak lama kemudian, seorang wanita datang menghampiri Woo Hyuk.

Detektif : Hei, ayam! Dimana kau meninggalkan ibumu?

Tapi si wanita tidak mempedulikan pertanyaan si detektif.

"Geomsa-nim, anda tidur disini lagi?" tanya wanita itu.

"Jangan menggangguku." jawab Woo Hyuk.

"Apa kau punya sesuatu untukku?" tanya wanita itu.

Woo Hyuk pun langsung tertarik, sebuah kasus?

"Kasusnya bahkan masih hangat."


"Yoon Kija, beginikah caramu dilatih?" tanya Woo Hyuk sambil mendekati Reporter Yoon.

"Kau tahu pekerjaan dia sebelumnya, kan?" tanya si detektif.

"Dia reporter juga." jawab Reporter Yoon.

"Benar, dia tidak pernah bekerja dengan mulutnya. Dia melakukan kerja keras. Dia melakukan begitu banyak kerja keras, sehingga dia memakai dua pasang sepatu di mulutnya. Apa kau merasakan sesuatu?" ucap si detektif.

"Itu bukan kesalahannya. Itu karena dia bertemu pelatih yang salah." bela Woo Hyuk.

"Itu benar, Reporter Go seharusnya instrospeksi." jawab Detektif Jang.


"Mulai sekarang kau bisa pelan-pelan mempelajari caranya berdagang. Aku akan membantumu. Khususnya, bagaimana cara menangani karyawan di kantor kejaksaan. Luangkan waktumu dan bicarakan saat makan siang. Aku juga punya sesuatu untuk dibicarakan dengan tim kejahatan. Mereka boleh ikut, kan?" tanya Woo Hyuk.

Reporter Yoon nampak keberatan, tapi ia tak punya pilihan lain selain setuju.

Mendengar itu, Woo Hyuk pun langsung mengumumkan ke rekan-rekannya kalau Reporter Yoon akan membelikan mereka makan siang.


Tapi tiba-tiba, seorang pria datang menghentikan mereka.

"Sunbae-nim." ucap Reporter Yoon.

Tim Woo Hyuk pun langsung bubar dan kembali ke meja masing-masing.

Woo Hyuk : Jae Il-ah.

Kepala Jang : Kau datang lebih cepat, Reporter Go.


Jae Il dan Woo Hyuk pun makan siang bersama. Jae Il memberikan sebuah foto pada Woo Hyuk. Jae Il : Akankah dia muncul? Dia sudah bersembunyi selama 30 tahun. Dia bahkan tidak kembali ke Korea saat orang tuanya meninggal.

"Dia akan datang. Dia kabur ke Hawaii karena hutang judinya. Dia akan menggenggam tali busuk dengan putus asa." jawab Woo Hyuk.

"Bagaimana uangnya?" tanya Jae Il.

"Aku mendapatkannya." jawab Woo Hyuk.

"Tapi dengan bukti yang dimiliki Ricky, akankah Pimpinan Tae tertangkap? Bagaimana kalau dia menipumu karena uang?" tanya Jae Il.

"Kurasa aku akan tahu dia berbohong atau tidak setelah bertemu dengannya." jawab Woo Hyuk.


Sekarang kita ke adegan Han Jung Won yang melamun saat lagi memasak.

Seorang wanita menghampiri Jung Won.

Menyadari Jung Won melamun, wanita itu berteriak, menyadarkan Jung Won.

Sontak, Jung Won panik melihat masakannya hampir gosong.

"Apa nama makanan ini?" tanya wanita itu.

"Piperade." jawab Jung Won.

"Piperade menderita di tempat yang salah." ucap wanita itu.

"Coba lah jika kau bisa." jawab Jung Won.

"Aku akan lebih baik darimu, bahkan jika aku membuatnya dengan kakiku." ucap wanita itu.


Mendengar itu, Jung Won pun langsung mengangkat kaki wanita itu dan mencoba mengaduk piperade nya dengan kaki wanita itu. Sontak, wanita itu panic. Tapi Jung Won tidak peduli dan terus menggertak wanita itu. Jung Won baru berhenti saat wanita itu melemparkan tepung padanya.

Jung Won membalas. Ia mengambil sebungkus tepung dan berusaha menyiram wanita itu.

Wanita itu akhirnya mengaku salah. Mereka kemudian membersihkan diri dan tertawa.

Wanita itu kemudian beranjak ke kamar mandi.


Jung Won membersihkan dirinya yang berlumur tepung. Saat tengah membersihkan dirinya itu lah, ia melihat cincin yang tersemat di jarinya. Wajah Jung Woon seketika berubah sedih. Selang beberapa menit, Jung Woon memutuskan melepas cincinnya dan menyimpannya di dalam saku celana.


Di lobby, para karyawan heboh membaca pemberitahuan bahwa Tae Min Ho akan menjadi penerus Pimpinan Tae. Mereka heran, kenapa Min Ho yang tidak tahu apa-apa soal bisnis, terpilih menjadi penerus pimpinan mereka. Dua karyawan pun berdebat.

"Karena anak pertama mereka tidak begitu bagus, mereka menutupinya dengan anak kedua." ucap yang lain.

"Menurut karyawan dari departemen budaya, kepribadianya baik."

"Memangnya kau bisa memimpin perusahaan dengan kepribadian?"

"Setidaknya dia lebih baik dari kakaknya yang berkepribadian buruk."

Dua karyawan itu lantas beranjak pergi.

Sementara di pengumuman tertulis, bahwa Direktur Yayasan Budaya Geosan terpilih sebagai Presiden Geosan Elektronik.


Dua karyawan itu kembali menggosipkan Min Ho. Mereka mengaku iri dengan Min Ho yang bisa hidup dan melihat aktris Han Jung Won setiap hari.


Min Ho sendiri berada sendirian di dalam lift dengan wajah yang tidak bersahabat. Tapi begitu pintu lift terbuka, wajahnya yang tadi tidak bersahabat itu langsung berubah ramah di depan karyawannya yang berdiri di depan pintu lift.

Satu per satu karyawannya masuk. Pintu lift kembali tertutup.

Dua karyawan wanita berbisik-bisik, memuji ketampanan Min Ho.

Min Ho : Pujian seperti itu, kalian bisa mengatakannya lebih keras.

Sontak, karyawan Geosan tambah kagum padanya.


Sekarang, Min Ho sudah duduk di ruangannya dan langsung menandatangani laporan rapat untuk permintaan persetujuan.


Setelah itu, Min Ho meng-klik sebuah remote. Sebuah layar proyektor pun langsung turun.


Layar itu tersambung ke ruang rapat dimana para peserta rapat sudah menunggunya.

"Annyeonghasimnikka. Tae Min Ho imnida. Pertama-tama, aku minta maaf menyapa kalian dengan cara seperti ini. Uri Geosan Elektronik adalah perusahaan global yang mewakili Korea. Nama Geosan Elektronik sudah terkenal di seluruh dunia dan produk kami dijual di seluruh dunia. Geosan Elektronik memiliki filosofi bisnis untuk berkontribusi pada kemanusiaan melalui kreativitas dan tantangan tanpa akhir."


Salah satu peserta rapat meletakkan ponsel di mejanya dengan wajah agak kesal.

"Tapi ada sesuatu yang kita abaikan belakangan ini. Aspek yang bertanggung jawab kepada pelanggan. Dan faktanya kita kehilangan potensi dari masing-masing Departemen Geosan Elektronik. Pertama, hal-hal yang tidak diinginkan pelanggan dan hal-hal yang bisa memuaskan pelanggan." lanjut Min Ho.


KLIK... Tae Soo Ho yang menonton pidato Min Ho dari ruangannya, langsung mematikan komputernya dan terlihat sangat kesal.

Soo Ho : Jangan biarkan orang lain masuk selama dua jam ini.

"Bagaimana jika pimpinan mencari anda?" tanya seketarisnya.

"Kau tidak mendengar kata-kataku! JANGAN BIARKAN SIAPA PUN MASUK! KATAKAN SAJA AKU TIDAK ADA!" teriak Soo Ho.

"Aku mengerti." jawab seketarisnya, lalu beranjak pergi.


Soo Ho lantas membuka lacinya dan mengambil sebuah kotak.

Ia membuka kotak itu dan mengeluarkan sebuah pulpen berwarna merah dari sana.

Ia membuka pulpennya dan mengeluarkan serbuk obat dari sana.


Sekarang kita ke anggota keluarga Tae yang lain. Tae Yoo Ra mengamuk pada bawahannya.

Yoo Ra : Kau mengubah saksi menjadi pelaku untuk membebaskan klien? Dan kau menyebut dirimu pengacara!

"Apalagi yang bisa kulakukan saat dia jelas akan dinyatakan bersalah?"

"Kapan aku menyuruhmu membuat dia terlihat tidak bersalah?" ucap Yoo Ra.

"Lalu kenapa anda mengambil kasusnya?"

"Tutup kasusnya." perintah Yoo Ra.


"Sunbae, persidangan 5 hari lagi. Jika kita berhenti sekarang, klien kita akan benar-benar sial..."

Yoo Ra menatap tajam pengacaranya.

"Jangan bilang ini disengaja?" tanya pengacaranya.

"Ini adalah ketiga kalinya bajian ini melakukan pelecehan seksual dan dia tidak pernah dihukum." jawab Yoo Ra.

"Apa yang akan anda lakukan?"

"Aku akan bertanggung jawab jadi jangan bicara lagi." jawab Yoo Ra.


Sekarang, Yoo Ra sudah berada di ruangannya dan sedang bicara dengan seseorang di telepon.

Yoo Ra : Apa kau punya waktu? Orang tuaku ingin makan malam. Tidak hanya kami bertiga, tapi anggota keluarga yang lain juga ada di sana. Haruskah aku mengatakan pada mereka agar makan malam denganmu lain kali jika kau tidak sanggup melakukannya?

"Aku baik-baik saja." jawab suara di seberang sana.

Yoo Ra tersenyum dan memberitahu tempatnya. Orang yang berbicara dengan Yoo Ra adalah Woo Hyuk.

Woo Hyuk mengerti.


Setelah menutup teleponnya, Woo Hyuk melihat artikel Geosan dan foto Pimpinan Tae di laptopnya, serta foto seorang pria yang tadi diberikan Jae Il padanya.


Tak lama, Kepala Jaksa datang dan Woo Hyuk langsung menutup laptopnya.

"Apa itu benar?" tanya Kepala Jaksa.

"Maafkan aku." jawab Woo Hyuk.

"Kupikir misimu adalah menjadi jaksa penuntut. Jadi pada akhirnya uang itu untukmu juga? Berapa banyak Grup Geosan membayarmu hingga kau mau menjadi bagian dari kuasa hukum mereka?"

"Ini bukan tentang uang." jawab Woo Hyuk.

"Kau hanya akan tersedot sampai kering dan dibuang jika sudah tidak berguna."

"Kepala Jaksa, ah bukan, Hyungnim, aku akan membukakan jalan untukmu. Kau bisa datang nanti dan melangkah dengan hati-hati di tanah yang penuh ranjau."

"Apa aku memintamu mengkhawatirkanku?" Namun tak lama, si Kepala Jaksa tersenyum.

"Kau barusan tersenyum." ucap Woo Hyuk.


Di depan pintu, ketiga rekan Woo Hyuk sesama jaksa menguping pembicaraan mereka.

Jaksa wanita cemas dan bertanya apa yang harus mereka lakukan.

"Nona Jaksa, bukankah sudah kubilang jangan jatuh cinta pada Jaksa Cha. Jaksa Cha itu seperti angin."

"Ketua, jika perasaanmu bisa terkendali, akan lebih enak."

"Kau sedang nge-rapp?"

Jaksa wanita yang berkacamata pun meminta mereka berhenti bergosip di jam kerja karena suara mereka sangat mengganggunya.


Tak lama kemudian, Woo Hyuk dan Kepala Jaksa keluar. Ketiga jaksa yang menguping langsung pura-pura sibuk.

"Hya, Deok Bae, hati-hati dengan langkahmu." peringat si ketua.


Adegan berpindah pada Samonim nya Grup Geosan yang berjalan di lobby hotel menuju suatu tempat.

Tapi tiba-tiba, seorang anak kecil yang tengah memegang es krim, berlari dan tidak sengaja menabraknya dan membuat bajunya kotor.

Ibu anak kecil itu pun memarahi anaknya.

Nyonya Shin Hyun Sook mengambil saputangannya dan mengelap tangan anak kecil itu.

Ia mengelus pipi anak itu dan berniat membelikan anak itu es krim yang baru.

"Anda tidak perlu melakukannya." ucap ibu anak itu.

"Tidak apa-apa." jawab Nyonya Shin, lalu beranjak pergi.


 Pelayan hotel pun datang, menghampiri ibu anak itu. Ia meminta ibu anak itu menunggu di lobby sampai ia datang membawakan es krim yang baru.

"Ngomong-ngomong, siapa wanita tadi?" tanya ibu anak itu.

"Dia adalah Nyonya Grup Geosan."

Sontak ibu anak kecil itu kaget.


Nyonya Shin masuk ke sebuah ruangan dan bertemu Soo Ho.

Lalu bersama Soo Hoo, ia menuju restoran yang sudah dipesan khusus untuk mereka. Soo Hoo terlihat kesal.

Nyonya Shin : Jangan terlalu menunjukkan kekesalanmu.

Soo Ho : Apakah aku membutuhkan perintahmu untuk ekspresi wajahku? Jangan hentikan aku. Aku akan mengakhirinya hari ini.


Nyonya Shin menampar Soo Ho. Soo Ho menggerutu.

Setelah itu, Nyonya Shin mengelus pipi Soo Ho.

Nyonya Shin : Tegakkan kepalamu. Geosan, milikmu. Ibu pastikan itu. Jadi bertahanlah.

Soo Ho : Arraseo.


Tak lama kemudian, Yoo Ra dan Woo Hyuk datang. Nyonya Shin menatap Yoo Ra, nugu?

Woo Hyuk pun langsung memperkenalkan dirinya.


Setelah itu, mereka berempat duduk. Soo Ho meminta penjelasan Yoo Ra, kenapa Yoo Ra mengajak orang lain ke acara makan malam mereka.

Yoo Ra : Dia bukan lalat yang licik, tapi jaksa yang kompeten. Dia sangat berbeda dari seseorang yang buang air besar dimana saja.

Soo Ho marah dan berniat melempar Yoo Ra dengan pisau makan.

"Tae Sajang." Nyonya Shin menghentikan anaknya.

"Aku hanya kesal dia membawa seseorang tanpa memberitahu kita."


"Ayahmu akan segera tiba. Kau pikir Yoo Ra akan membawanya kesini tanpa permisi?" ucap Nyonya Shin membuat Soo Ho diam.

"Bagaimana Direktur Na?" tanya Nyonya Shin lagi.

"Dia bilang dia sudah sampai tapi dimana dia?" jawab Soo Ho, lalu mengambil ponselnya.


Na Young Eun sendiri sudah berada di depan hotel. Ia tersenyum sinis saat menerima pesan dari Soo Ho.

"Bodoh." ucapnya, lalu beranjak pergi.


Jung Won menunggu di lobby di hotel yang ternyata milik Geosan juga. Tak lama kemudian, Pimpinan Tae dan Min Ho datang. Pimpinan Tae memuji Jung Won yang tampak cantik hari itu.

Pimpinan Tae : Kau senang suamimu menjadi Presiden?

Pimpinan Tae beranjak pergi. Jung Won menyusul Pimpinan Tae dan menggandeng lengan Pimpinan Tae.


Satu per satu anggota keluarga Tae yg lain mulai berdatangan. Min Ho terkejut melihat keberadaan Woo Hyuk di sana.

Min Ho : Jaksa Cha, kita bertemu lagi.

Woo Hyuk : Selamat atas promosi anda.

Woo Hyuk mengajak Min Ho berjabat.

Nyonya Shin : Kalian saling mengenal?

Min Ho : Dia menolongku dengan ini dan itu sebelumnya.

Nyonya Shin pun melirik Woo Hyuk. Atmosfer ketegangan begitu terasa.

Pimpinan Tae menyuruh mereka semua duduk.


Min Ho melirik Jung Won yang kurang semangat menikmati hidangan keluarganya.


Pimpinan Tae menatap Woo Hyuk dengan tatapan penuh kewaspadaan. Ketika Woo Hyuk membalas tatapannya, ia pura-pura tersenyum.

Ponsel Woo Hyuk berdering. Telepon dari seseorang yang bernama Ricky.

"Angkatlah." suruh Pimpinan Tae sambil menatap sinis Woo Hyuk.

Woo Hyuk minta maaf dan mengaku telepon itu dari kantornya. Woo Hyuk lantas beranjak pergi untuk menerima teleponnya.

Bersambung ke part 2.........

No comments:

Post a Comment