Tuesday, February 12, 2019

Haechi Ep 1 Part 1

Berhubung sy memang tergila2 sama drama sageuk Joseon, jadi sy coba bikin sinopsis Haechi ya gaes... kita bagi jadi 4 part ya gaes..  Happy reading...

(Drama ini dibuat kembali berdasarkan fakta sejarah.)


Episode dibuka dengan sebuah narasi.

"Tahun 1791. Tahun-tahun terakhir Raja Sukjong. Rumor menyebar di seluruh negeri ... mengatakan Putra Mahkota tidak mampu memiliki anak. Selama waktu itu, Partai Seoin adalah partai yang memerintah. Tetapi mereka dibagi menjadi dua kelompok sebagai Norons dan Sorons, dan setiap kelompok ingin menunjuk pangeran yang berbeda sebagai raja. Sementara itu, Putra Mahkota ditinggalkan dengan beberapa orang tak berdaya dari Partai Namin. Dan selama ini ketika negara itu dalam kekacauan penuh, ada otoritas kehakiman yang kuat di Joseon, bernama Saheonbu."


Terdengar suara seorang pria yang bernyanyi kecil sambil menggendong tubuh seorang wanita di punggungnya.

Pria itu lalu menyiapkan tali yang ia ikatkan pada sebuah pohon, kemudian menggantung wanita itu.

Setelah itu, ia memetik daun yang berwarna kemerahan dari pohon yang ia gunakan untuk menggantung wanita itu.


Seseorang tiba-tiba mendekatinya, membuat ia terkejut.

"Kau... kau adalah..." ucapnya.


Pria berjenggot bicara pada seseorang yang berdiri di belakangnya sambil mengukir sesuatu di atas sebuah kayu.

"Kita semua hidup di tepi jurang. Dan tidak perlu terlalu banyak upaya bagi seseorang untuk jatuh ke tebing itu. Apakah kau tahu apa yang kau sadari begitu momen itu mendekat? Kau menjadi sadar bahwa kehilangan kekuatan sama dengan kematian."


Beberapa wanita yang hanya mengenakan sockchima (dalaman hanbok, berwarna putih) berdiri di hadapan Putra Mahkota.


Tiba2, beberapa pria berpakaian tabib datang. Kasim memeriksa Putra Mahkota, setelah itu menatap dan menggeleng pada para tabib.


Jusang Cheonha tiba dan menatap kecewa pada Putra Mahkota.


Bangsawan yang menggantung jasad wanita di pohon tadi menerobos masuk bersama orang-orangnya. Kasim nya Putra Mahkota memberitahu, bahwa Putra Mahkota tidak bisa memiliki anak. Bangsawan itu Lee Tan, dari Partai Noron.


Pangeran Yi Hweon dari Partai Soron juga sedang membahas tentang Putra Mahkota yang tak bisa memiliki anak dengan orang-orangnya.


Pria berjenggot yang berbicara sambil mengukir tadi, adalah Min Jin Hun dari Partai Noron. Ia melukis pada badan sebuah guci.

"Bahkan sekarang, kehidupan seseorang mungkin akan hancur. Bagaimanapun, segala sesuatu selalu datang dan pergi." ucapnya.

Orang yang berbicara dengannya adalah Wi Byung Joo, Inspektur Saheonbu. Ia meminta Bangsawan Min menjelaskan lebih dulu padanya, kenapa ingin bertemu dengannya.

"Aku beritahu bahwa kau adalah pria yang sukses yang berasal dari keluarga miskin. Kau mungkin bekerja untuk pemerintah sekarang. Tetapi karena kau berasal dari Partai Namin, kau mungkin tahu bahwa akan sulit bagimu untuk berhasil lebih jauh. Apakah kau tidak minum teh karena janji lain? Sebagai contoh, inspeksi malam?"

Byung Joo pun terkejut, bagaimana anda tahu?


"Aku mendengar beberapa inspektur seperti dirimu berencana untuk menimbulkan masalah malam ini  bahkan tanpa mengetahui situasi saat ini. Otoritas Saheonbu .. sering disebut Haechi Haechi, itu binatang legendaris yang menghakimi baik dan jahat." jawab Bangsawan Min.


Diluar kantor Hanseongbu, hujan turun sangat deras. Patung Haechi berdiri tegak di depannya.


"Tetapi tahukah kau mengapa binatang itu hanya ada dalam legenda Itu karena tidak mungkin untuk menilai antara yang baik dan yang jahat pada kenyataannya." ucap Bangsawan Min sambil mendekati Byung Joo.


Byung Joo berjalan gontai di bawah guyuran hujan. Tak lama, rekannya datang, memanggilnya dan menghampirinya.

"Byung Joo, aku tahu kau akan datang." ucapnya.

"Begitulah adanya Pada kenyataannya, ada pemenang dan pecundang, dan mereka yang hidup dan mereka yang mati." jawab Byung Joo dalam hati.


Byung Joo berkumpul dengan inspektur Saheonbu lainnya. Rekan Byung Joo menjelaskan, alasan mereka berkumpul malam itu adalah untuk keadilan dan ketertiban.


Kini, hari sudah pagi. Para inspektur  Saheonbu berdiri diluar sambil membaca sebuah tulisan.

"Bahkan senjata terlemah menjadi kuat ketika mereka memegang pedang keadilan."

Terdengar kembali sebuah narasi : Di dunia ini, ada juga orang bodoh yang kadang berpikir sebaliknya.


Seorang pria yang masih tertidur pulas dibangunkan oleh seorang wanita. Pria itu adalah Lee Geum. Wanita itu memberitahu Geum bahwa mereka hampir tiba di Hanyan. Wanita itu kemudian pergi dan Geum bergegas bangun dan mengenakan pakaiannya.


Geum dan wanita itu berdiri di bibir kapal.

"Putri dari pedagang tembikar pedesaan menjadi sukses. Dia datang ke Hanyang yang agung." ucap wanita itu.

"Masih banyak orang yang lebih buruk darimu." jawab Geum.

"Kita akan segera berpisah. Apakah kau tidak akan pernah memberi tahuku kau siapa? Apakah kau pedagang kaya atau putra keluarga besar?" tanya wanita itu.

"Aku adalah orang yang paling tidak berguna dari semua yang kau sebutkan. Apakah aku tidak memberitahumu?" jawab Geum.

"Tapi kau adalah orang pertama yang memperlakukan aku seperti orang Karena aku sudah sejauh ini aku akan kembali setelah melihat-lihat ibukota." ucap wanita itu.


Wanita itu berniat pergi, tapi Geum menahannya. Geum memberikan kertas pada wanita itu dan menyuruhnya membawakan beberapa kuli setelah mereka tiba di pelabuhan.

Geum lantas mencopot mantelnya dan memakaikannya pada wanita itu.

"Di mana tempat ini? Mungkinkah ini rumahmu?" tanya wanita itu sambil membaca kertas yang diberikan Geum padanya.

Wanita itu lalu memberitahu Geum bahwa ia bukan gisaeng. Ia hanyalah penjual minuman biasa di jalanan dan Geum bisa dikritik orang-orang jika membawanya.

"Kau tidak perlu khawatir tentang itu Itulah yang seharusnya aku lakukan di Hanyang." ucap Geum, lalu tersenyum.


Sekarang, Geum memacu kudanya, melintasi padang yang luas.


Dua orang pria di pasar sedang melihat2 kuda. Pria berbaju abu-abu menjelaskan, kudanya awalnya disiapkan untuk menantu oleh istri seorang wakil menteri tapi  menantu itu tiba-tiba mendapat promosi.

"Kau tahu bagaimana para bangsawan mengalami kesulitan dipromosikan jika mereka menunggang kuda mahal." ucap pria berbaju abu-abu.

"Apa gunanya menjadi bangsawan? Mereka tidak dapat menyombongkan apa yang mereka miliki." jawab pria berbaju pink.

"Ya, topi terbaik adalah yang dibuat dengan bulu kuda Hari ini bahkan topi berakup tidak begitu hebat lagi." ucap pria berbaju abu-abu.

Pria berbaju abu-abu lantas menyuruh pesuruhnya menyajikan teh untuk pria berbaju pink.


Pria berbaju abu-abu lalu berbisik pada Dal Moon.

"Hei, dia tidak tahu bagaimana memilih kuda Selesaikan secara moderat." ucapnya.

"Aku akan mengatakan harganya 300 Yang dan menjualnya 200 Yang." jawab Dal Moon.


Geum kemudian datang. Pria berbaju abu-abu bergegas menyambutnya.

"Bagaimana ujiannya? Apakah kuda itu menendang cukup keras?" tanya pria berbaju abu-abu.

"Mengapa penipu sepertimu memberiku kuda yang benar-benar bagus?" balas Geum.

"Aku tidak bisa bermain trik sepanjang waktu Siapa yang akan mencoba menipu pria yang bisa menipu para penipu?" jawab Ja Dong, pria berbaju abu-abu.

"Seekor kuda seperti ini sulit didapat bahkan dengan uang yang tak terukur, kau bisa mengambil kuda ini." ucap Geum.

"Tapi tolong bantu aku, Pak." pinta Ja Dong.

"Apa yang kau pikirkan ketika mengambil pekerjaan itu?" tanya Geum.

"Aku tidak mengambil pekerjaan itu. Aku diberi pekerjaan itu. Aku diperintahkan untuk menemukan seseorang yang sangat cocok. Tapi siapa yang mau mengambil risiko berbahaya seperti itu?" jawab Ja Dong.

"Dan kau pikir aku akan baik-baik saja karena aku sudah mati?" tanya Geum.

"Astaga, bukan itu yang aku maksud. Maksudku keterampilanmu hebat." puji Ja Dong.


"Bawa kuas dan batu tinta Pemeriksaan pegawai negeri dimulai pukul 9 pagi, kan?" ucap Geum.

"Lalu apakah kau menyelamatkan hidupku?" tanya Ja Dong.

"Karena aku terlambat, aku akan mengambil kuda ini." jawab Geum, lalu kembali menaiki kudanya.

"Jangan melalui Gaedong. Ada masalah di sana tadi malam, jadi jalanan akan berantakan." ucap Ja Dong.

"Kesulitan? Apa yang terjadi disana?" tanya Geum.

"Ada inspeksi malam. Perdana Menteri tiba-tiba diperiksa tadi malam." jawab Ja Dong.

"Apa? Perdana Menteri?" tanya Geum.


Di depan kantor Perdana Menteri, para penduduk berkumpul. Beberapa diantara mereka membicarakan tentang Perdana Menteri yang diperiksa Inspektur Saheonbu tadi malam.


Kim Chang Joong, sang Perdana Menteri dari Partai Noron, marah-marah pada Petugas Saheonbu jIa kesal lantaran orang-orang dari Saheonbu berani melakukan itu padanya.


Seorang wanita bicara pada seorang remaja perempuan.

"Apakah kau ingin tahu apa itu inspeksi malam? Itu yang dilakukan Saheonbu untuk bangsawan seperti Pak Kim agar dunia mengetahui dosa-dosanya." ucapnya.


Perdana Menteri Kim semakin marah, ia bahkan berniat memukul Petugas Saheonbu dengan tongkatnya. Tapi Bangsawan Min tiba-tiba datang menghentikannya.

"Semua orang mungkin akan digigit anjing suatu hari nanti Tapi itu tidak berarti orang harus mendengar teriakanmu di luar." ucap Bangsawan Min.

"Menteri Personalia. Kenapa kau tiba-tiba datang dari sana?" tanya Menteri Kim.


Menteri Kim mengedarkan pandangannya dan melihat wanita itu. Wanita itu tersenyum meledeknya, sementara ia menatap wanita itu dengan tatapan sedikit kesal.


Lee Yi Myung, seorang Inspektur Kepala, datang sambil marah-marah. Semua itu, karena rumor yang mengatakan bahwa Putra Mahkota akan segera berubah dan Menteri Kim yang didiskriminasikan.

"Kau telah mendengar Mereka mengatakan Putra Mahkota berikutnya, baik Pangeran Mil Poong atau Pangeran Yeon Ryeong." ucap sang bawahan.

"Tentu saja, Pangeran Mil Poong tampaknya lebih menguntungkan. Partai Namin yang mendukung Putra Mahkota berkumpul karena itu juga." tambah bawahannya yang lain.

"Persis! Pada saat-saat seperti ini, kita, Saheonbu, telah mendiskriminasi pemimpin Noron, Perdana Menteri. Apakah kau tidak tahu bahwa Noron mendukung Pangeran Mil Poong? Aku tidak mengatakan bahwa kita harus berpihak pada seseorang. Aku bertanya apakah ini benar Bagaimana kau mengelola petugas rendahan!" ucap Yi Myung, lalu masuk ke dalam kantornya.


Pemimpin Saheonbu bertanya pada anggotanya, apa arti inspeksi bagi mereka.

"Ada yang bilang itu adalah pedang yang melindungi hukum. Tapi mereka salah. Kami hanya 24 kehidupan celaka. Apakah kau mengerti! Kehidupan yang menyedihkan seperti kita, hanya mengikuti perintah dan kita menangkap penjahat kecil yang menyebabkan masalah di masyarakat."


Pria itu lalu bicara pada rekan Byung Joo.

"Tapi tadi malam, beberapa orang dungu bangga menyebabkan masalah tanpa pikir panjang." ucapnya.


"Itu bukan masalah. Itu adalah inspeksi malam dan inspektur seperti kita memiliki hak untuk mengungkapkan atasan yang rusak." jawab rekan Byung Joo.

"Terus? Itukah sebabnya kau melakukan ini tanpa aku, pemimpunmu, tahu? Untuk menjadikanku satu-satunya orang bodoh di antara para petinggi?" tanyanya.

Byung Joo angkat bicara. Ia berkata, Inspektur Han sudah memberitahunya tapi ia mengabaikannya.

"Kenapa kau berdiri di sana? Apakah kau tidak terobsesi untuk menjadi sukses? Oh, apakah itu karena dia bersama Partai Namin? Jadi, apakah kau ingin mendiskriminasi Noron karena pangeran pilihanmu tidak akan menjadi putra mahkota? Apakah ini yang kau sebut keadilan!" tanya pemimpin mereka.

"Jangan mengubah kejadian ini menjadi sesuatu yang politis. Inspektur Wi adalah satu-satunya orang yang bersama Partai Namin. Kami tidak berusaha melakukan politik. Kami hanya berusaha melakukan pekerjaan kami sebagai inspektur Saheonbu." jawab Inspektur Han.

"Apakah kau mengatakan kau akan terus mendiskriminasi perdana menteri?" tanya pemimpin mereka.


"Perdana menteri menekan biro kepolisian dan mencoba menutupi kasus pembunuhan yang aku selidiki. Kenapa dia melakukan itu Jelas bahwa Pangeran Mil Poong terlibat." jawab Inspektur Han Jung Seok.

"Aku katakan padamu untuk melupakannya karena tidak ada cukup bukti!" teriak sang pemimpin.

"Jika kau tidak menghalangi kami seperti itu kami tidak akan melakukan inspeksi malam itu." jawab Jung Seok.

"Hya, Han Jeong Seok!" pemimpin mereka marah dan berusaha memukulnya tapi rekan-rekan Jung Seok menghalanginya.

Jung Seok pun pamit. Ia berkata, ia akan tetap melakukan pekerjannya.


Tapi si pemimpin menyuruhnya berhenti dan berkata itu bukanlah tugas Jung Seok. Ia lalu melemparkan surat perintah pada Jung Seok dan meminta Jung Seok mengawasi jalannya pemeriksaan pegawai negeri di Seonggyungwan.

Jung Seok marah, Ketua!

"Ya, Ketua Tim! Itu aku! Aku mendistribusikan pekerjaan di sini setiap hari! Aku memperingatkanmu jika melanggar perintah tidak diampuni di Saheonbu Jika kau ingin melakukan sesukamu kau harus berhenti dari pekerjaanmu dan pergi."

Jung Seok pun mengambil surat perintahnya dan beranjak pergi dengan wajah kesal.

Bersambung ke part 2.....

No comments:

Post a Comment