Tuesday, February 12, 2019

Haechi Ep 1 Part 3

Sebelumnya...


Partai Noron sibuk membahas pengumuman yang akan dibuat Raja Sukjong terkait Tan. Mereka yakin, Raja akan memberikan tahta pada Tan.

"Dia akan membebaskan Pangeran Mil Poong dari rantainya terlebih dahulu. Dengan begitu, dia akan bisa membuat terobosan dengan kita Noron." ucap salah satu dari mereka.


Raja Sukjong memulihkan status Kang Bin, nenek moyang Tan.

Raja : Karena itu, ubah gelar Putri Mahkota Kang ke Min Heo dan memindahkan tubuhnya ke makam Putra Mahkota So Hyeon dan antar dia di sana.


Mendengar itu, Tan langsung berlutut.

"Aku akan melakukan apa yang anda perintahkan, Yang Mulia."


Dari kejauhan, Geum menatap ayahandanya dengan tatapan berkaca-kaca.


Di kamarnya, Putra Mahkota Yoon tampak kecewa.


Putri Mahkota Kang berlutut dan menangis.


Putra Mahkota Yoon mengepalkan tangannya.


Queen Inwon meminta penjelasan Raja Sukjong atas keputusan tadi. Ia takut Raja akan melengserkan Putra Mahkota Yoon.

"Ini bukan urusanmu." jawab Raja.

"Tapi cheonha..."

"Haruskah kita menonton saja saat negara hancur?" tanya Raja sambil menatap tajam Queen Inwon. Queen Inwon pun tak bisa berkata apa-apa lagi.


Geum menghampiri Yeonryung yang berdiri diluar. Tak lama kemudian, orang-orang dari Partai Noron datang dan menatap sinis mereka.

Tan kemudia datang sambil tertawa. Yi Myung memberi ucapan selamat pada Tan. Tan dan antek2nya lalu beranjak pergi.


Yeonryung pun diminta pergi meninggalkan istana. Yeonryung menatap Geum.

Geum : Jangan khawatirkan aku dan cepatlah pergi.

Yeonryung mengerti.


Malam pun tiba. Geum menaiki kudanya dan meminta diantarkan ke Jeongdong pada penarik kuda.


Geum tiba di Jeongdong. Seorang pria menyambutnya dan berkata, Geum sangat terlambat datang. Geum pun mengaku habis dari istana.

Geum lantas mendengar bentakan seorang wanita.

"Beraninya kau menatapku seperti itu!"

Geum terkejut.


Di dalam, wanita yang teriakannya didengar Geum tadi menampar wanita yang bersama Geum tadi di kapal.

"Bagaimana mungkin seorang gadis kotor datang ke rumahku...!" wanita berniat menampar lagi tapi Geum datang dan membela wanita yang datang bersamanya ke Hanyang.


"Jika kau berbicara tentang menjadi rendah, siapa yang lebih rendah dari aku di Hanyang? Aku pikir gadis ini tepat untuk pekerjaan itu. Darah kotor dan rendah mengalir melalui nadiku juga." ucap Geum.

"Baik. Nikmati dirimu sendiri. Nikmati dirimu seperti yang selalu kau lakukan. Kau tidak peduli dengan dunia atau siapa yang menjadi raja berikutnya. Kau tidak memiliki hal baik untuk dilakukan! Tetapi kau harus membersihkan diri di luar sebelum masuk. Setidaknya para bangsawan di negeri ini bermain dengan gisaeng dan selir. Bukan orang rendahan dari jalanan seperti ini!"

Wanita itu lalu beranjak masuk.


Geum menemani wanita yang di kapal bersamanya membersihkan diri.

"Apakah kau seorang pangeran?" tanya wanita itu.

"Mohon pengertian. Dia adalah putri dari keluarga bangsawan, tapi dia sangat patah hati  dengan dipaksa menikahi orang seperti aku." jawab Geum.

"Sepertinya dia selalu brengsek. aku bisa tahu hanya dengan sekilas."

"Menilai dari bagaimana kau berbicara sekarang, kau harus baik-baik saja." ucap Geum.


"Tapi apakah kau benar-benar seorang pangeran?"

"Hanya setengah dari diriku. Ibuku orang rendahan."

"Aku pikir aku mendengarnya. Raja saat ini jatuh cinta dengan kehidupan yang rendah. Dia adalah seorang pelayan. Dia biasa menimba air di istana." (Dong Yi)

"Itu benar. Dia adalah seorang pelayan. Dia menimba air agar bisa masuk istana." jawab Geum.

"Tapi aku dengar mereka hanya diperlakukan sebagai kesenangan satu kali raja. Aku mendengar pelayan rendahan tidak bisa menjadi selir."

"Bukan selir, tapi ratu." jawab Geum.

"Mereka tidak jauh berbeda."

Geum tertawa.

"Kau benar, darah bangsawan atau tidak juga tidak jauh berbeda. Aku pangeran rendahan itu." ucap Geum.


Geum lalu mencipratkan air ke wajah wanita itu.

"Astaga, air itu kotor.  Tetapi aku mendengar bahwa pangeran rendahan tidak diperlakukan dengan baik karena itu. Dia tidak diterima di antara bangsawan atau rakyat jelata."

Geum terluka, tapi ia menutupinya dengan berpura-pura ceria.

"Apakah kau kecewa?" tanya Geum.

"Tidak, ini hal yang baik. Kau akan selalu mencari aku karena kau tidak punya teman."


Geum beranjak pergi.

Wanita itu tersenyum menatap Geum.

"Itu sebabnya kau tidak meninggalkanku. Kau mengasihani aku karena aku hidup rendah." ucapnya.

Bersambung ke part 4.......

No comments:

Post a Comment