Monday, February 18, 2019

Haechi Ep 2 Part 3

Sebelumnya...


Dal Moon melihat Tan tengah menyiksa seorang pria.

Tan : Beraninya kau meluluskan ujiannya! Bisa-bisanya kau menulis namanya di daftar itu!

Pria : Maksudku, dia dapat nilai tinggi pada ujiannya, jadi, aku hanya menjalankan perintah Tuan...

Tan : Itu yang kukatakan saat itu. Kini situasi berubah Kau tidak bisa bersikap fleksibel?

Tan kembali menyiksanya. Ia menenggelamkan kepala pria itu ke dalam genangan air, lalu mendorongnya ke pintu.

"Kau harus memastikan orang yang mengerjakan ujian itu tetap bungkam. Aku mau kau membunuhnya dan membawa jasadnya kepadaku paling lambat malam ini." ucap Tan, lalu pergi.

Dal Moon terlihat marah.


Sementara diluar, pengawal memperingatkan Tan, jika Tae Pyung tidak muncul, situasi akan gawat.

Tan marah,  Pikirmu aku tidak tahu itu? Ia lalu menendang tengkuk si pengawal.

"Kenapa kau diam saja saat itu, bodoh! Kau seharusnya menghentikanku saat aku membunuhnya! Kenapa kau hanya berdiri dan diam saja!" teriaknya.

Si pengawal meminta maaf.

"Bedebah itu, aku meluluskan ujiannya, kenapa dia harus membuatku marah dengan meminta uang dan membuat situasi menjadi seperti ini? Aku harus bagaimana?

Menteri Personalia memperingatkanku untuk menjauhi masalah."


Sembari keluar dari kediamannya, Geum dapat laporan dari asistennya tentang Tae Pyung yang tidak muncul saat upacara padahal lolos ujian.

"Sudah kuduga." jawab Geum.

"Bolehkah aku bertanya ada apa, Tuan? Tuan tidak berencana melakukan tindakan yang berbahaya, bukan?" tanya asistennya.

"Aku akan menjelaskannya nanti." jawab Geum.


Moon Soo tiba-tiba datang. Geum menghela nafas sebal melihat kedatangan Moon Soo.

Moon Soo : Rumah Tuan sungguh luar biasa. Kurasa Tuan benar-benar darah bangsawan.


Yeo Ji memberi tahu Jung Seok kalau pengganti yang diributkan Moon Soo adalah Pangeran Yeoning dan orang yang digantikan Pangeran Yeoning adalah Tae Pyung, paman mendiang Yoon Yeo Ok.

"Aku mengingat nama No Tae Pyeong karena aku terlibat dalam kasus itu. Aku tidak melaporkannya padamu karena dia tidak penting." ucap Yeo Ji.

"Tapi No Tae Pyung menghilang." jawab Jung Seok sembari berpikir.

Yeo Ji yakin, Yeoning mengetahui sesuatu. Jung Seok berkata, mereka tidak punya bukti yang cukup untuk menyelidiki Yeoning.

Yeo Ji : Karena itu Tuan Moon Soo sedang bergerak, Naeuri.

Jung Seok kaget, Moon Soo?


Yeoning dan Moon Soo berjalan bersama. Moon Soo : Andai aku tahu kau seorang Pangeran, aku tidak akan melalui semua kesulitan itu.

Yeoning : Tidak perlu minta maaf soal kemarin. Aku tidak dendam padamu.

Moon Soo : Terserah. Untuk apa aku minta maaf padahal bukan aku yang salah.

Yeoning menghela nafas, berapa lama kau akan mengikutiku?

Moon Soo : Sampai kebenaran terungkap dan keadilan mengalir seperti sungai.


Moon Soo terus mengikuti Yeoning. Yeoning berkata, akan ada sebuah cara agar hidup Moon Soo lebih berguna. Moon Soo menjawab, kalau hidupnya memang tidak berguna.

Moon Soo : Seorang warga sudah akan ditangkap. Tapi kau lolos saat melanggar hukum. Dunia ini seharusnya adil.

Yeoning geleng-geleng kepala, lalu berjalan duluan. Moon Soo terus mengikutinya.

Yeoning : Kau benar-benar tidak fleksibel. Begitulah dunia ini.

Moon Soo : Itu mungkin bekerja untuk seseorang dengan status tinggi sepertimu. Tapi dunia di dalam pikiranku sedikit berbeda. Kalau berbuat kejahatan kau harus dihukum sesuai kejahatanmu. Begitulah dunia yang kuyakini.

Yeoning : Kau tidak cerdas, tidak fleksibel dan berbahaya. Kau spesies yang menarik. Tapi aku setuju denganmu. Kau akan sadar sekarang bahwa ketidakadilan adalah logika dunia.


Yeoning menaiki kudanya.

Ia menyuruh Moon Soo mengikutinya jika bisa.

Setelah itu, Yeoning pergi duluan.

Moon Soo panic, ia minta diberikan kuda pada seseorang tapi orang itu minta Moon Soo membayarnya dulu.

Moon Soo membayarnya, tapi karena bayarannya kecil, dia bukannya diberi kuda, tapi diberi seekor keledai.


Yeoning menemui pria yang disiksa Tan. Pria itu adalah pria yang kudanya disewa oleh Yeoning sebelumnya (sy salah, sy pikir dia Ja Dong ternyata bukan. Ja Dong itu pengawalnya Yeoning).

Yeoning : Pangeran Mil Poong mau membunuhku?

Pria itu : Dia mana tahu itu kau. Mereka mungkin berpikir itu hanya orang biasa yang lain.

Yeoning :  Kudengar No Tae Pyeong telah menghilang. Pangeran Mil Poong membunuhnya juga?

Pria itu : Berhentilah mencari tahu soal itu. Aku pun tidak mau tahu. Menjauhlah untuk sementara. Akan kutemukan kapal untuk Anda naiki hari ini.

Yeoning : Kau ingin aku tidak menarik perhatian sampai keadaan lebih tenang?


Pria itu : Akan kuselesaikan masalah ini dengan menyerahkan pengemis yang mati. Tolong turuti perkataanku. Itu hanya sampai keadaan lebih tenang.

Yeoning tersenyum sinis, itu tidak akan pernah menjadi tenang.


Wanita yang datang bersama Geum, menemui seorang pria di pasar.

"Kau sudah menyelesaikan cerita hari ini?" tanya wanita itu.

"Datanglah pukul 9.00 besok. Ini cerita tentang gisaeng muda dan hakim distrik. Ini akan sangat seru." jawab pria itu.

"Ehey, ceritaku akan lebih baik jika itu tentang para gisaeng. Cinta murni, dekadensi, dan cinta buta. Aku punya banyak cerita untuk tiap topik itu. Aku punya cerita yang akan membuat orang-orang sangat tertarik. Kau mau mendengarnya?" ucap wanita itu.


Sekarang wanita itu beranjak pergi meninggalkan pria si pendongeng. Geum menghampirinya. Geum : Kau sudah memberitahunya?

"Ya, kuceritakan padanya seperti yang kau suruh. Kurasa cerita itu menakuti dia. Rahang pendongeng itu terbuka."


Si pendongeng menemui Dal Moon. Ia memberikan kertas yang isinya cerita wanita tadi.

"Maksudmu seorang wanita memberimu ini?" tanya Dal Moon.

"Wajahnya tidak pernah kulihat di pasar. Lebih baik tidak menceritakan ini, bukan?"

"Tidak. Ceritakan seperti apa adanya. Ceritakan ini pada semua orang tanpa meninggalkan apa pun. Tidak usah khawatir karena aku akan mengeluarkanmu dari Hanyang jika terjadi sesuatu. Aku ingin kau menceritakan ini di pasar, di sumur, dan di dermaga. Buatlah ini dibicarakan orang sebanyak yang kau bisa."

Pria pendongeng itu mengerti dan buru-buru pergi.


Dal Moon kemudian menatap jasad seorang pria pengemis dengan tatapan marah. Sepertinya pria pengemis itu salah satu korbannya Tan.


Esoknya di pasar, pria pendongeng mulai menceritakan tentang wanita muda yang hamil dan dibunuh seorang pangeran, tapi kematian wanita itu disamarkan seperti kasus bunuh diri oleh si pangeran.


Para penduduk pun mulai membicarakan cerita si pendongeng.

"Astaga. Gadis yang malang. Satu-satunya anggota keluarga yang dia miliki adalah pamannya." ucap para wanita yang sedang mencuci di sungai.

"Tapi konon pamannya itu yang lolos peringkat pertama dalam ujian kali ini. Konon dia membunuh pamannya juga. Karena itu dia tidak bisa ditemukan."

Para penduduk yakin, itu ulah Pangeran Mil Poong. Mereka marah dan geram.


Partai Noron langsung berkumpul, membahas gosip di ibukota soal Tan. Menteri Personalia menyuruh Menteri Kim memanggil Tan.


Raja Sukjong menyuruh salah satu menteri dari Partai Soron menyelidiki soal gosip Tan. Ia juga meminta menteri, membawa Yeoning ke istana malam ini.

Si menteri kaget, Yeoning-gun? Bukan Pangeran Yeonryung?


Yeoning menemui Tan yang sedang jalan-jalan di pasar. Ia berkata, mampir karena katak emas itu. (kataknya diambil lagi). Yeoning : Bahkan anjing mengibaskan ekornya untuk berterima kasih. Akan kupakai ini untuk bersenang-senang.

"Astaga. Bisa-bisanya kau masih menyebut dirimu pangeran? Kau mempermalukan keluarga kerajaan." jawab Tan.

"Apa maksudmu? Pangeran lain terkenal sekarang. Aku membicarakan dirimu. Sudah dengar rumor yang menyebar ke seluruh kota? Itu tentang dirimu, bukan?" tanya Geum.

"Apa yang kau bicarakan?" Tan mulai kesal.


Geum berbisik, kau sudah mengurus jasadnya dengan baik? Kau harus hati-hati, Lee Tan-ah. Kalau kau membuat kesalahan dan jasadnya ditemukan, kau tidak akan bisa naik tahta. Kau akhirnya akan dihukum mati.

Tan marah.  Ia mencabut pisaunya dan mengarahkannya ke leher Geum. Ia juga heran, kenapa Geum tidak takut sama sekali padanya.

"Aku tidak akan kehilangan apa-apa. Di atas semua itu, kau hanya candaan untukku." jawab Geum, sambil mencengkram tangan Tan yang memegang pisau.

"Kalau aku menjadi raja, mencabik-cabik dirimu akan menjadi hal pertama yang akan kulakukan." ucap Tan.


"Astaga, itu menakutkan." jawab Geum dengan muka meledek.

Geum lalu memelintir tangan Tan dan membuat Tan jatuh.

Geum : Aku menantikan itu.


Jung Seok, Jang Dal, A Bong dan Yeo Ji membahas gosip Tan di tempat rahasia mereka. Jang Dal berkata, pria pendongeng yang memulai gosip itu sudah meninggalkan ibu kota.

Yeo Ji menambahkan, Tae Pyung yang menghilang dikira penduduk sudah tewas.

Jung Seok : Kalau begitu kita harus menemukan jasadnya. Kita bisa mengadili Pangeran Mil Poong jika jasadnya ditemukan.


Anak dan istri Jung Seok datang. Istri Jung Seok membawakan makanan dan memarahi suaminya karena sudah membuat semua orang bekerja di hari libur.

Tapi tidak dengan Yeo Ji. Yeo Ji berkata, kalau mereka harus menyelesaikan apa yang sudah mereka mulai hari ini.

Sontak, istri Jung Seok langsung menyikut Yeo Ji dan mengatakan, ada yang harus mereka lakukan hari itu.


Diluar, Yeo Ji menyiram tanaman sambil memikirkan kemungkinan Tan membunuh Tae Pyung.

Mendengar itu, anak Jung Seok yang tengah bermain disamping Yeo Ji, pun sebal dan menyuruh Yeo Ji berhenti bicara.

Anak Jung Seok lalu melihat ke arah tanaman yang disiram Yeo Ji.

"Kau mengairinya terlalu banyak." ucap anak Jung Seok.

Yeo Ji terkejut.


"Kau harusnya mengatakan sejak awal Joon Jae-ya. Ini tanaman langka yang hanya ditemukan di Hadong. Aku bisa mati jika ini rusak. Aku harus bagaimana."

Tak lama kemudian, Yeo Ji menyadari sesuatu.


Yeo Ji kembali ke kantornya dan melihat bunga kering yang disimpan Tan.

Ia mengambil salah satu bunga dan teringat bunga itu adalah bunga dari pohon tempat Yoon Yeo Ok ditemukan tewas 'gantung diri'.

Yeo Ji : Pangeran Mil Poong, si bedebah gila itu. Dia menyimpan ini sebagai trofi.

Yeo Ji lalu membongkar kotak kayu itu dan menemukan bunga yang belum benar-benar kering.


Malam harinya, beberapa orang keluar diam-diam, membawa sebuah jasad.

Tanpa mereka sadari, Geum mengawasi mereka dari kejauhan.


Geum mengikuti mereka sampai ke hutan. Namun, ia nyaris ketahuan gara-gara busurnya tidak sengaja jatuh dan menimbulkan suara berisik.

Geum langsung sembunyi. Sementara orang-orang itu mulai mencabut pedang mereka dan menyebarkan pandangan.


Geum berusaha mengambil busurnya yang jatuh tapi gagal.

Tak lama, terdengar auman binatang buas. Orang-orang itu langsung pergi.


Geum menarik napas lega. Tapi tiba-tiba, Moon Soo muncul di depannya, membuat ia kaget.

Geum : Bagaimana kau bisa kesini?

Moon Soo : Aku bukan orang yang menghindari taruhan. Kau menyuruhku mengikutimu jika aku bisa. Aku pandai menirukan suara hewan. Kurasa aku menang satu ronde. Apa yang kau rencanakan? Kenapa kau mengejar mereka?


Geum : Cobalah ikuti aku. Kurasa kau mungkin akan menemukan jawaban yang selama ini kau cari.

Geum beranjak pergi.

Moon Soo kebingungan, astaga pria itu. Ia lalu mengikuti Geum.

Bersambung ke part 4..........

No comments:

Post a Comment