Monday, March 25, 2019

Haechi Ep 10 Part 2

Sebelumnya...


Yoon Young menghampiri Mil Poong yang sedang berdoa di kuil. Keduanya tersenyum licik.


Rakyat mulai membicarakan tentang Seja yang 'membunuh' seorang pria.

"Dia baru saja menjadi Putra Mahkota."

"Itu karena dia lahir dari seorang petani."

"Tetap saja, bisa-bisanya dia membunuh? Aku tidak memercayai dia."


Seorang wanita tampak memberikan sesuatu ke tangan seorang pria. Pria itu lalu masuk ke sebuah rumah bernama Jamojeonga.


Di dalam, Dal Moon dan Goon Tae membahas kasus Seja. Goon Tae berkata, situasinya serius di istana dan rakyat bahkan menentang mereka.

Goon Tae : Kini mereka menemukan kesalahan dengan latar belakangnya juga. Jika kau orang desa, kau harus memihak Putra Mahkota. Kenapa mereka menyebarkan rumor itu?

Si pendongeng berniat turun ke jalan untuk menetralkan suasana.

Dal Moon : Kau yakin?

Pendongeng : Pendongeng harus bercerita meski sedang sekarat.


A Bong datang.

A Bong : Punya waktu sebentar? Tuanku ingin menemuimu sekarang.


Gyeongjong marah saat Tuan Lee mengatakan, Seja melakukan pembunuhan.

Tuan Lee : Jika tidak, cobalah meyakinkan aku, Yang Mulia. Pergi ke rumah bordil dan berbohong soal itu sudah cukup serius. Tapi pembunuhan? Dan Putra Mahkota bahkan tidak bekerja sama dengan Departemen Keadilan. Jika itu tuduhan palsu, kenapa dia tidak melawan?

Gyeongjong : Dan para pejabat yang lain. Sedang apa mereka?


Di kantor Noron, para anggota Noron ribut. Anggota Noron marah lantaran Tuan Kim dan Yi Kyum memilih Geum sebagai Putra Mahkota.

"Kurang ajar! Aku adalah Perdana Menteri kerajaan ini!" teriak Tuan Kim.


Tuan Cho dan dua pejabat lainnya lewat. Mereka mendengar keributan itu.

"Kamilah yang frustrasi. Kenapa Noron membuat keributan?" ucap Tuan Cho heran.


Tuan Cho lantas mengajak kedua pejabat lainnya pergi tapi tiba-tiba saja, mereka dikejutkan dengan Tuan Kim yang ditendang keluar dari Kantor Noron.

Yi Kyum marah.

"Bisa-bisanya pelajar Konfusius dan Mensius sebegini vulgarnya? Silakan pukul aku juga. Kubilang, pukul aku."


Seo bergegas menemui Inwon.

Bersamaan dengan itu, Cho Hong lewat.

"Dia pasti putus asa karena itu suaminya." ucap Cho Hong.


Ja Dong menghampiri Cho Hong.

Ja Dong : Heo Sanggung mama-nim.

Cho Hong : Apa yang terjadi? Dia sudah kembali dengan selamat?


Seja sedang diinterogasi Tuan Cho.

Tuan Cho : Anda terus mengulangi perkataan.

Seja : Cho Hyun Myung, Junior Tingkat Kedua. Kau juga cukup ulet.

Tuan Cho : Anda aneh. Anda mempersulit segalanya. Situasi hanya akan makin parah untuk Anda.

Seja : Meski aku bicara, tidak akan ada yang berubah. Karena aku menjawabmu semalaman, biarkan aku bertanya sesuatu. Kasus pembunuhan yang melibatkan bangsawan. Apakah kasusnya sudah terpecahkan?

Tuan Cho : Kenapa Anda bertanya?

Seja : Karena rasanya itu bukan urusan orang lain.


Pembicaraan mereka terhenti karena Cho Hong datang. Cho Hong berkata, sudah waktunya makan siang untuk Seja dan ia ingin melayani Seja.


Geum pun diizinkan keluar. Cho Hong membawa Geum menemui Yeo Ji.

Geum senang melihat Yeo Ji.

Yeo Ji sedih melihat tubuh Geum yang kurusan dalam semalam.

Geum : Tidak masalah. Tapi harusnya wajahku tetap tampan.

Yeo Ji : Wajah tampan Anda?

Geum : Tetap saja, senang bertemu denganmu seperti ini.

Keduanya lantas saling tersenyum.

Cho Hong juga tersenyum melihat mereka.


Sementara itu, Dal Moon terkejut mendengar cerita Moon Soo.

Dal Moon : Bunuh majikannya? Maksudmu budak yang berencana membunuh majikan mereka?

Moon Soo : Ya, kau pasti mengetahuinya. Budak seperti itu lazim di masa pemerintahan mendiang Raja. Itu kelompok budak yang dibentuk untuk membunuh majikan mereka.


Geum dan Yeo Ji juga membahas hal yang sama.

Geum : Jika aku benar, kelompok budak itu telah terbentuk sekali lagi. Kematian jipyeong dari Saheonbu. Dan kematian petugas dari Kantor Pajak. Pasti ada bangsawan lain yang dibunuh.

Yeo Ji : Dan si pelaku adalah perempuan?

Geum : Maka itu aku tidak bisa berkata apa-apa. Dia baru 12 atau 13 tahun. Aku sangat terkejut melihat gadis muda bisa berbuat seperti itu. Alasan utamaku tidak bicara di Saheonbu...

Yeo Ji : Anda mencemaskan konsekuensi yang akan mengikuti. Waktu itu aku masih kecil, tapi masih ingat saat kelompok budak pemberontak itu pertama ditemukan.


Flashback....

Para petugas Saheonbu menyerang kelompok budak itu.

Flashback end...


Dal Moon : Itu saat yang kejam. Bukan hanya budak pemberontak yang disingkirkan pada waktu itu.

Moon Soo : Mungkin karena itu, Putra Mahkota menahan diri. Dan musuhnya adalah Saheonbu, badan hukum tertinggi. Karena anggota mereka mati, mereka akan benar-benar brutal. Dan dia kemungkinan tahu itu.


Geum menyuruh Yeo Ji menyelidiki latar belakang kelompok budak pemberontak.

Geum : Kejahatan mereka harus dihukum, tapi kita harus mencegah ini bertambah besar.


Tiba2, Gyeongjong datang.

Gyeongjong : Setidaknya aku harus tahu alasannya, Putra Mahkota. Apa hubungan mengejar latar belakang dengan insiden ini. Dan bagaimana itu berhubungan dengan insiden kemarin yang melibatkan dirimu.

Geum pun tidak tahu bagaimana harus menjawabnya.


Di Mahkamah Agung, para pemimpin Saheonbu berkumpul.

"Apakah semua setuju?" tanya Inspektur Kepala.

"Inspektur Eksekutif Wi Byung Joo dan para pejabat Daejangcheong telah sepakat mengundurkan diri." ucap Byung Joo.

"Pemimpin Tim Joo Young Han dan 22 inspektur yang lain juga telah setuju." ucap Petugas Joo.


Petugas Yoon terkejut melihat rekan2nya mengundurkan diri.

Petugas Joo : Kau dan Park Moon Soo adalah pengecualian. Lihat saja bagaimana kalian berdua menjalankan Saheonbu!


Yi Kyum minta Inspektur Kepala bertahan.

Inspektur Kepala :  Kau tidak seharusnya begini. Kau adalah Kepala Saheonbu. Kau tidak tahu apa yang diperbuat Departemen Keadilan?


Para Inspektur dan Petugas Saheonbu menuju istana. Mereka membawa surat pengunduran diri.


Geum masih bungkam saat ditanya Gyeongjong.

Gyeongjong : Kenapa kau tidak bisa memberitahuku? Kau tidak memercayaiku seperti aku memercayaimu? Aku ingin membantumu, Putra Mahkota. Salahkah aku mengenai ketulusanmu?

Seja pun tak punya pilihan lain selain mengatakan yang sebenarnya.

Seja : Bunuh majikannya. Anda ingat istilah itu, Yang Mulia? Aku membicarakan soal insiden yang memorakporandakan negeri selama periode mendiang Raja.

Gyeongjong kaget mendengarnya.

Bersambung ke part 3................

No comments:

Post a Comment