Tuesday, March 26, 2019

Haechi Ep 10 Part 3

Sebelumnya...


Tuan Cho terkejut mengetahui bahwa Saheonbu ada di dalam istana.


Gyeongjong terkejut mendengar penjelasan Seja.

Seja : Aku tetap diam setelah melihat segalanya karena pembunuhnya adalah seorang gadis. Jika Saheonbu terlibat, seluruh kerajaan akan...


Tuan Lee menyela.

"Yang Mulia, tetap saja..."

Seja : Aku tahu. Putra Mahkota tidak boleh terlibat dalam pemerintahan. Dia bahkan tidak boleh membicarakan masalah itu juga. Semua masalah itu hak istimewa raja. Jadi, jika Putra Mahkota terlibat, berarti dia mengincar takhta. Jika Anda menuduhku atas kejahatan, akan kuterima dengan senang hati. Tapi aku bertindak demikian karena ingin tahu kenapa gadis sekecil itu harus membunuh pria dewasa.

Gyeongjong : Kau ingin tahu alasannya?

Seja : Mungkin karena darah orang desa mengalir dalam pembuluhku. Apa yang mengakibatkan penderitaannya? Apa yang membuat dia memegang pisau itu? Sebelum menuduh mereka atas kejahatan mereka, aku ingin mengetahui itu dahulu.

Gyeongjong lalu mendapat laporan.


Gyeongjong bergegas keluar dan melihat para petugas Saheonbu berlutut di depan Gerbang Sunjungmun.

Gyeongjong : Para pejabat Saheonbu, berdirilah. Aku tidak akan menerima pengunduran diri kalian.

Inspektur Kepala : Lantas berikan kami hak untuk menginvestigasi Istana Putra Mahkota, Yang Mulia. Kami tidak bisa memercayai Departemen Keadilan yang melindungi istana kerajaan.

Gyeongjong : Inspektur Kepala!

Byung Joo : Kami telah mencapai kesepakatan. Jika kami tidak dijamin keadilan dalam investigasi ini, kami semu akan mengundurkan diri dari Saheonbu. Tolong dengarkan perkataan kami, Yang Mulia.

Gyeongjong : Baiklah. Akankah itu memuaskan kalian? Jika kuserahkan Putra Mahkota pada kalian?

Tuan Lee tak setuju, Yang Mulia.


Seo meminta Inwon menyelamatkan Seja.

Inwon : Sejabin, tunggu lah hasilnya keluar.

Seonui : Kau mungkin tidak mengetahui aturan istana, tapi bisa-bisanya kau begitu tidak sopan? Berhentilah menunjukkan kebodohanmu.

Inwon : Ratu, hal yang sama berlaku untukmu.

Seonui : Yang Mulia, aku hanya...


Dayang Jung datang, memberitahu Inwon kalau Gyeongjong menyerahkan investigasi Seja pada Saheonbu.

Sontak, Inwon dan Seo panic. Sementara Seonui tersenyum senang.


Tuan Cho memberikan surat perintah pada Seja.

Seja kaget membacanya.

Tuan Cho : Yang Mulia bilang dia akan memberi Anda waktu. Itulah permintaannya sebelum memberikan Saheonbu hak untuk investigasi. Dalam kurun waktu itu, buktikan Anda tidak bersalah dan kebenaran dari masalah ini. Anda harus berdiri di hadapan mahkamah agung Saheonbu.

Seja : Tiga hari. Aku punya tiga hari.


Tuan Lee meminta Gyeongjong menarik kembali pernyataannya. Ia takut Gyeongjong akan merasa terbebani.

Gyeongjong : Bahkan aku akan diserang oleh Saheonbu dan Noron. Namun!  Putra Mahkota bilang dia ingin tahu. Sebelum menghukum orang atas kejahatan mereka, dia ingin memahami mereka dahulu. Dan sebagai raja, Wakil Menteri, bukankah aku juga harus memahami mereka?


Ji Gwang di rumah bordilnya, marah.

Ji Gwang : Siapa yang melakukan pencarian? Jipyeong? Apa itu Jipyeong? Nama yang bodoh.

"Itu posisi di Saheonbu, bukan nama." jawab pengawalnya.

"Masa bodoh. Kenapa dia harus ditikam di rumah bordilku dan menyebabkan kerumitan ini?"

"Tapi berkat itu, Saheonbu tidak akan menginvestigasi kita. Bagaimana kalau tetap jaga sikap untuk sementara?"

"Tetap jaga sikap? Hei. Aku Do Ji Gwang."


Seorang pria tiba-tiba menerobos masuk dan berdebat dengan pelayan Ji Gwang.

"Kubilang kami tutup. Kenapa dia menerobos masuk begitu?"

"Entahlah. Dia ingin meja sekarang juga."


Orang itu ternyata Mil Poong. Gae Dol dengan gemetaran melayani Mil Poong.

Mil Poong : Jika kau buka rumah bordil di Hanyang...

Gae Dol : Jangan bunuh aku!

Mil Poong : Seharusnya kau memberitahuku. Semua itu bagian dari hubungan kita.


Yoon Young tersenyum mendengarnya.

Gae Dol : Apa? Kau bukan datang untuk membunuh aku?

Mil Poong : Ini salahku. Semua ini karmaku. Untuk apa membunuh? Ini, minumlah segelas.


Ji Gwang menerobos masuk.

Ji Gwang : Siapa yang membuat keributan untuk membuka tempat ini? Kau pasti sudah tidak waras. Kau bahkan membawa perempuan ke rumah bordilku.

Mil Poong : Dia membangun karma dengan mulutnya.

Yoon Young menyuruh Ji Gwang duduk. Ia berkata, juga ingin menuangkan minuman untuk Ji Gwang.


Kesal, Ji Gwang pun membalikkan meja dan menyuruh mereka pergi.

Mil Poong mengambil pecahan guci teko dan mengarahkannya ke mata Ji Gwang.

Mil Poong : Diriku yang lama pasti sudah mencungkil bola matamu. Larangan pembunuhan. Berkat itu kau masih bisa melihat dengan matamu.

Pengawal Ji Gwang : Kapten.

Ji Gwang : Tetap di sini. Si bodoh ini serius.


Yoon Young : Letakkan itu dan mari kita bicara. Kurasa kita akan akur.

Mil Poong pun langsung menjatuhkan pecahan gucinya dan meminta maaf pada Ji Gwang.

Mil Poong : Kau Do Ji Gwang, bukan? Jangan khawatir. Aku datang untuk membantumu.


Byung Joo meminta bantuan Tuan Min untuk kasus Seja.

Tuan Min : Yang Mulia akan menyerahkan Putra Mahkota setelah tiga hari. Kenapa kau membutuhkan itu?

Byung Joo : Karena kupikir itu tindakan untuk mengulur waktu. Ini bukan hanya untuk menghibur Departemen Keadilan. Pasti ini tindakan mengulur waktu untuk Putra Mahkota.

Tuan Min : Mengesankan.

Byung Joo : Kau tahu apa? Tadi, kau bilang...

Tuan Min : Pertama, kau harus memberitahuku apa yang kau ketahui. Jika kau ingin merencanakan ini, bukankah kau harus memercayaiku dahulu? Jika Putra Mahkota juga membuatmu tidak nyaman.


Seja menemui teman-temannya.

Sambil menunjuk peta, Dal Moon berkata, di Hanyang dan daerah sekitarnya, ada sekitar sepuluh gardu.

Dal Moon : Gardu-gardu ini digunakan saat majikan dibunuh sebelumnya. Tapi kali ini berbeda. Tidak ada yang mencurigakan dari gardu-gardu ini.


Goon Tae dan si pendongeng berusaha mencari informasi ke gardu-gardu itu.


Jang Dal : Bukan hanya itu yang mencurigakan. Bahkan tidak ada jejak pencurian.

A Bong : Orang biasanya mencuri setelah membunuh majikannya.

Moon Soo : Ada lagi, Yang Mulia. Ada yang sama, tapi sulit dipahami di antara pembunuhan bangsawan baru-baru ini. Bukan hanya Jipyeong Oh. Semua bangsawan yang dibunuh sangat mabuk sampai tidak bisa berjalan lurus. Mereka tidak mampu bertahan. Namun, pelakunya tidak bisa langsung membuat tusukan yang fatal. Maka itu ada tusukan berkali- kali. Mungkin pelaku menusuk sampai tangannya juga terluka. Pelakunya pasti menusuk dengan sekuat tenaga.


Benar saja, malam itu, saat membunuh Jipyeong Oh, tangan si gadis kecil memang terluka.


Seja : Itu...

Yeo Ji : Itu berarti pelakunya lemah, Yang Mulia. Bukan hanya gadis itu. Mungkin pembunuh lain juga dilakukan oleh anak-anak.

Seja tidak mengerti bagaimana anak-anak itu bisa melakukan pembunuhan.


Gadis yang membunuh Jipyeong Oh, membuka kain yang membebat tangannya yang terluka.

Seseorang lalu memanggilnya, mengatakan kalau mereka harus segera pergi.


Sekarang, Seja ada di rumah bordil Ji Gwang. Seja miris melihat bekas darah si gadis kecil yang menempel di gardu usai pembunuhan itu.


Yeo Ji yang juga ada di sana berkata, kalau mereka harus secepatnya menemukan anak itu.

Ja Dong yang juga ikut menunjukkan sketsa pisau pada Seja.

Ja Dong : Yang Mulia. Mengenai pisau itu. Anda yakin yang ini? Ini yang Anda lihat?


Si gadis kecil itu bersama anak-anak lain, disuruh membersikan cerobong sistem pemanas bawah lantai oleh seorang pria.

"Akan ada masalah besar jika Yang Mulia demam, jadi, bersihkan dengan baik jika ingin dibayar." ucap pria itu.


Anak2 malang itu mulai bekerja.


Bersamaan dengan itu, Gyeongjong lewat dan melihat anak2 itu.

Tuan Lee : Kurasa anak-anak dibawa karena batu pemanas kamar Anda, Yang Mulia.

Gyeongjong : Pasti sulit karena cuaca juga dingin.


Seja, Yeo Ji dan Ja Dong sedang melihat pisau yang serupa di kantor pemeliharaan.

Ada tulisan 'aek' di pisau itu.

Yeo Ji : Kurasa huruf itu pasti telah luntur.

Seja : Maka itu Saheonbu juga tidak menyadari ini. Di mana pisau ini digunakan?


Moon Soo, Jang Dal dan A Bong pergi ke Haeminseo. Mereka melihat banyak anak2 miskin disana.

Dal Moon, Goon Tae dan si pendongeng melalukan penggeledahan di tempat yang sama.


Yeo Ji mengecek satu per satu pisau yang digunakan di dapur istana.


Ja Dong bilang pada Seja kalau pisau yang sama digunakan di banyak tempat.

Ja Dong : Kita tidak bisa menemukannya seperti ini. Kenapa tidak minta bantuan dari Departemen Keadilan?

Seja akhirnya melihat anak2 itu. Anak2 yang membersihkan batu penghangat di kamar Raja.

Ja Dong : Mereka anak-anak yang membersihkan batu penghangat. Mereka bukan pekerja resmi istana.

Seja : Batu penghangat?


Seja pun teringat pada tangan si gadis kecil yang menghitam saat mengambil pisau yang jatuh setelah bertabrakan dengannya.

Seja : Mungkinkah... abu hitam?


Dal Moon berdiri sendirian di dermaga. Tak lama kemudian, Moon Soo datang dan mengatakan tidak menemukan apapun di Haeminseo.

Jang Dal dan A Bong juga datang. A Bong berkata, mereka tidak bisa pulang sekarang.

A Bong : Perahunya benar-benar kosong, tapi mereka menolak meski ditawari imbalan ganda.

Dal Moon : Ada dermaga lain di atas bukit ini.

Jang Dal dan A Bong pergi duluan.


Dal Moon mengajak Moon Soo pergi. Tapi Moon Soo tidak mau.

Moon Soo merasa ada yang aneh. Apalagi setelah melihat hanya anak-anak yang menggunakan perahu kosong itu.

Moon Soo : Mereka bahkan menolak imbalan ganda. Kenapa hanya mengangkut anak-anak yang tampak tidak punya uang?


Seja akhirnya menemukan gadis kecil yang membunuh Jipyeong Oh.

Si gadis kecil kaget dan mau kabur tapi Seja langsung menghentikannya.

Seja : Tunggu. Aku tidak datang untuk melukaimu. Aku berusaha membantumu. Aku ingin tahu kenapa kau melakukannya. Aku ingin membantumu.


Tak lama kemudian, Yeo Ji datang.

Bersambung ke part 4.............

No comments:

Post a Comment