Thursday, March 28, 2019

Haechi Ep 11 Part 3

Sebelumnya...


Para pejabat mulai kesal karena sudah satu jam tapi Gyeongjong belum datang.

Tak lama kemudian, Gyeongjong datang dengan pakaian safarinya.

Gyeongjong : Ada urusan yang harus kutangani, sehingga pakaianku kurang formal. Baik, bisa kita mulai?


Seja dijemput menggunakan tandu.


Tak lama kemudian, Seja tiba di acara Bangket, acara perjamuan untuk menyambut tamu.

Sontak para penduduk kaget melihat kehadiran Seja.

Seja teringat pembicaraannya dengan Gyeongjong di Hanseongbu tadi.

Flashback....


Seja terkejut Gyeongjong menyuruhnya menghadiri bangket itu.

Gyeongjong : Ya, tunjukkan bahwa kamu masih hidup dan mumpuni sebagai Putra Mahkota.

Seja : Tapi Yang Mulia...

Gyeongjong : Aku akan menangani masalah ini. Kau harus mempertahankan posisimu. Aku akan menjalani kewajibanku sebagai Raja. Aku mengizinkanmu untuk melakukan itu sebagai Raja.

Flashback end...


Gyeongjong tidak menyetujui petisi pemakzulan Seja.

Tuan Min : Yang Mulia, Putra Mahkota tahu tentang para pembunuh majikan dan melindungi mereka. Bagaimana mungkin para bangsawan melayani pangeran semacam itu?


Di bangket itu, Seja masih ragu. Ia mencemaskan hyungnya.

Tak lama, Yeo Ji datang dan melihat Seja.


Tuan Min dengan beraninya mengatakan, jika Gyeongjong membela Seja, maka berarti Gyeongjong juga memusuhi para bangsawan.

Gyeongjong menjelaskan kalau Putra Mahkota tidak berniat membela para pembunuh majikan itu.


Tuan Min : Lantas apa yang dia lakukan? Anda juga mengetahui hal ini? Apakah Anda yang memberikan izin?

Tuan Jo marah.

"Ketua Kongres, jaga ucapanmu! Kita sedang menghadap Yang Mulia!"

"Aku bertanya apakah Raja meninggalkan bangsawan negeri ini!" jawab Tuan Min.


Sambil menatap para bangsawan yang ada di sana, Seja menjelaskan soal keterkaitannya dengan para pembunuh bangsawan itu.

Seja : Orang-orang mengira aku terlibat dalam insiden itu. Aku tahu anak-anak yang menjadi pembunuh majikan telah dijual ke Dinasti Qing oleh para penjual manusia. Meskipun mereka miskin dan kelaparan, anak-anak ini ingin hidup di dalam kerajaan ini. Tapi eksploitasi dan pajak ekstrem oleh para bangsawan membuat orang tua mereka menjual anak-anaknya sendiri.

Seorang bangsawan berkata, bahwa Seja tidak pantas mengatakan itu.

Seja : Ani! Aku belum selesai bicara. Jadi, aku mulai mempertanyakan ini. Para bangsawan memiliki lahan pertanian. Dan rakyat bekerja serta membayar untuk menggunakan lahan itu. Tapi kenapa kerajaan ini memungut pajak yang sangat besar dari rakyatnya?


Yeo Ji berharap Seja tidak mengatakan soal itu.


Seja : Tidakkah itu aneh? Kenapa mereka menagih pajak kepada rakyat yang bekerja di lahan pertanian, bukannya kepada mereka yang memiliki lahan pertaniannya?

Bangsawan tadi : Berarti maksud Anda, para bangsawan harus membayar pajak? Apa Anda tahu bagaimana pedagang dan rakyat jelata menghasilkan uang?

Bangsawan lain setuju dan mengklaim rakyat jelata bisa mencari uang berkat mereka.

Seja : Tidak sama sekali. Jika tidak ada yang bekerja di lahan pertanian, apa yang akan kalian makan dan apa yang akan kalian kenakan? Menurut kalian petani yang butuh bangsawan atau sebaliknya?


Rakyat pun mulai merasa Seja ada benarnya.


Seja : Itu sebabnya aku ingin meluruskan ini. Eksploitasi semacam itu harus dihapuskan. Jika aku, Putra Mahkota, dapat kesempatan untuk memimpin, aku bersumpah akan membuat para tuan tanah membayar pajak.

Yeo Ji tersenyum bangga pada Seja.


Rakyat mulai setuju pada Seja.


Tuan Jo penasaran kenapa Gyeongjong masih memihak Seja.

Gyeongjong : Kau ingat yang kau ajarkan padaku semasa aku menjadi Putra Mahkota? Orang bijak harus malu karena tidak memiliki rasa malu. Politik ada untuk membantu yang miskin. Politik bukan diadakan untuk membuat yang kaya makin kaya. Putra Mahkota tahu malu, dan dia berjuang membantu yang lemah. Aku tidak bisa memakzulkan orang semacam itu.


Tuan Lee kemudian datang dan menyampaikan kabar penting pada Gyeongjong.


Tuan Min kesal dapat laporan dari anggotanya tentang yang dikatakan Seja di bangket.

Tuan Min : Segera kirimkan pengumuman ke ruang kuliah dan sekolah lokal. Jika Raja tidak bisa memakzulkan Putra Mahkota, kita bisa bertindak.


Seja kemudian datang dan bertemu mereka.

Seja : Seperti yang kau lihat, aku masih menjadi Putra Mahkota. Kau harus menyapaku dengan hormat.


Seja lantas menemui hyungnya. Seja ingin mengakhiri hubungan diantara mereka. Seja tidak mau Gyeongjong membelanya lagi.

Gyeongjong marah.

Seja : Anda memiliki tanggung jawab yang lebih besar, Yang Mulia. Kenapa Anda hanya memikirkanku? Aku akhirnya bisa menyerukan yang selama ini ingin kukatakan karena aku menjadi Putra Mahkota sementara. Itu pun cukup berarti bagiku, Yang Mulia.

Mata kedua kakak beradik itu kini berkaca-kaca.


Petugas Joo membebaskan Moon Soo dan A Bong. Moon Soo bertanya, alasan mereka dibebaskan.

"Lagi pula, Putra Mahkota sudah tamat. Untuk apa kami menghiraukan antek-anteknya?" jawab Petugas Joo.

"Putra Mahkota sudah tamat? Apa maksudmu?" tanya Moon Soo.

"Keluarlah. Kalian akan langsung mengerti." jawab Petugas Joo.


Gadis itu terkejut mendengarnya.


Moon Soo dan A Bong ke istana. Mereka terkejut melihat para bangsawan berdemo di depan istana meminta pemakzulkan Seja.

Yeo Ji datang.

Yeo Ji : Dia melakukan ini untuk melindungi Raja. Aku tidak bisa menghentikan dia. Aku sudah berusaha... Aku seharusnya menghentikan dia... Tapi aku kewalahan mendengar seseorang yang berkuasa mengatakan itu untuk yang lemah. Jadi, aku hanya bisa terdiam tanpa sadar.


Dua penduduk sedang membicarakan Seja. Mereka penasaran bagaimana Seja akan menghadapi ocehan para bangsawan.

Si pincang itu lewat. Dia membela Seja.

Ternyata dia bukan kakek di markas kelompok pembunuh majikan.

"Para bangsawan hidup seperti itu berkat kita. Apa salahnya Putra Mahkota mengatakan hal itu? Kakiku ini juga menjadi seperti ini gara-gara majikanku!" ucap pria itu.


Wanita dengan bekas luka cacar yang melihat Seja saat Seja diarak ke Hanseongbu dan juga melihat Seja di bangket membela Seja.

"Aku juga dijual sebagai budak. Katanya wanita dengan bekas luka penyakit cacar bahkan tidak bisa menjadi gisaeng. Ayahku terpaksa menjualku untuk membayar pajak. Kenapa mereka memakzulkan Putra Mahkota?"


Seorang penjaga istana yang melihat Seja di bangket juga mulai mendukung Seja. Ia menewarang, menatap identitas salah satu bangsawan. Di depannya, bangsawan si pemilik identitas marah dan meminta identitasnya segera dikembalikan.


Seja kembali ke istananya. Disana, Cho Hong sudah menantinya bersama Ja Dong.

Cho Hong menangis.

Seja : Kenapa kau menangis? Aku akan bersenang-senang lagi di luar Istana.


Malam harinya, Tuan Cho dan Tuan Lee melihat surat2 keluhan dari para bangsawan yang ditempel di dinding luar istana.

Tuan Lee : Pada akhirnya, bahkan Yang Mulia akan berhenti memperjuangkan Putra Mahkota. Kini dia tidak punya pilihan.


Tapi kemudian, mereka terkejut melihat satu surat yang mendukun Seja.

Tuan Lee : Seorang rakyat jelata menempel surat untuk mendukung Putra Mahkota. Ada yang menempel surat untuk mendukung Putra Mahkota. Bahkan identifikasi orang itu ada di sini. Orang itu mempertaruhkan nyawanya di sini.


Besoknya Yeo Ji berlarian di pasar. Ia lalu mendengar orang-orang membicarakan soal surat yang mendukung Seja.


Sekarang, Yeo Ji sedang membahas surat yang mendukung Seja bersama Dal Moon dan Goon Tae.

Yeo Ji : Surat ini ditempel di dinding gerbang utama Istana. Pemilik identifikasi ini Ma Seon. Aku yakin dia rakyat jelata. Tapi itu bukan surat satu-satunya.


Seja terkejut saat diberitahu Ja Dong tentang rakyat yang menempelkan identitas mereka untuk mendukungnya.


Gyeongjong juga diberitahu Tuan Lee soal itu.

Tuan Lee : Benar, Yang Mulia. Mereka menempelkannya tadi malam.

Gyeongjong : Ada berapa identifikasi?

Tuan Lee : Ratusan, Yang Mulia. Dan jumlahnya terus bertambah.


Seja pun langsung menemui Gyeongjong.

Bersambung ke part 4..........

No comments:

Post a Comment