Sunday, March 3, 2019

Haechi Ep 4 Part 2

Sebelumnya...


Inspektur Kepala Lee kembali ke kantornya. Sejumlah rekannya yang sudah menunggunya, langsung menanyakan apa yang dikatakan Menteri Personalia.

"Apakah dia orang yang akan mengakuinya jika dia tahu? Kenapa kau harus menanyakan hal yang sudah jelas?" jawab Inspektur Kepala Lee kesal.

"Tapi Tuan, jika dia tidak memberitahu apapun, bukankah itu artinya dia sengaja menaruhmu dalam posisi yang sulit?" ucap rekannya.

"Kupikir ini peringatan untuk kita. Dia ingin kita tahu apa yang akan terjadi jika kita tidak mendengarkannya." jawab Inspektur Kepala Lee.

"Kau memang jenius. Kau sangat cerdas." puji rekannya.

"Kenapa kalian menolak perintahnya saat kalian semua sepintar itu? Kalian semua adalah orang yang menangkap Pangeran Mil Poong!" sentak Tuan Lee (untuk selanjutnya kita panggiil begini aja ya, kepanjangan soalnya kalau nulis nama jabatannya).

Tuan Lee lalu menyuruh rekan2nya pergi.


Tuan Lee kembali menemui Sukjong.

Tuan Lee : Yang Mulia...

Kasim Sukjong datang, memberikan sesuatu ke tangan Tuan Lee.

Sukjong : Ada sebuah jawaban untuk situasi sulit seperti ini di dalam sana.

Tuan Lee : Apakah itu laporan dari Departemen Kehakiman? Tapi Saheonbu tidak bisa mengambil tindakan apapun pada departemen intelijen Raja. Jika kita melakukan...

Sukjong : Tidak. Aku ingin kau memberikannya pada Pangeran Yeoning. Dia pasti bisa melakukannya. Berikan saja padanya.


Tuan Lee bergegas meninggalkan kediaman Sukjong.


Sukjong menyuruh kasimnya membawa Yeoning saat fajar menyingsing.


Yeoning yang terluka, melampiaskan emosinya dengan mabuk-mabukan di rumah bordil.


Dal Moon dapat laporan tentang apa yang dilakukan Yeoning sekarang dari teman pedagangnya.

"Dia membuka rumah pelacuran secara gratis, jadi semua orang dikota pergi kesana."

"Bagaimana dengan orang-orang kita? Apakah ada dari kita yang pergi?" tanya Dal Moon.

"Astaga. Tidak. Aku melarang mereka pergi kesana untuk berjaga-jaga jika ada masalah."

"Kerja bagus." puji Dal Moon.

"Tapi apakah kau tidak berpikir Pangeran Yeoning orang yang konyol? Dia bersaksi, kemudian membatalkan kesaksikannya dan membodohi para inspektur yang tidak bersalah." ucap temannya.

"Apa yang terjadi pada inspektur itu?" tanya Dal Moon.

"Sepertinya pedagang sutra, Jang Il Soo, menyuapnya sesuai dengan perintah dari pejabat tinggi. Bagaimana bisa pedagang tanpa kekuasaan melakukannya?" ucap temannya.

"Kesaksian palsu dan penyuapan. Sepertinya akan sulit baginya untuk lolos dari hal itu." jawab Dal Moon.

"Dia terlalu naif. Bagaimana bisa dia mempercayai bangsawan dan memegang tangan mereka." ucap temannya.


Yeoning tidak sadarkan di atas kudanya karena mabuk. Tak lama, kudanya berhenti dan dia jatuh dari kuda.

Ja Dong keluar mencari Yeoning dan menemukan Yeoning tergeletak di tanah.


Ja Dong bergegas membantu Yeoning.

Yeoning : Kau sangat menyedihkan memiliki tuan sepertiku.

Ja Dong : Pangeran Yeoning, kau berdarah. Tabib...

Yeoning marah, untuk apa? Aku tidak berguna.


Moon Soo dan Yeo Ji memaksa bertemu Yeoning. Cho Hong berkata, Yeoning belum pulang.

"Apakah itu masuk akal? Ini sudah lewat jam 2 pagi." ucap Moon Soo.

"Dia selalu seperti itu. Dia sangat profesional dalam melayani wanita." sahut Seo.

"Kalau begitu sampaikan pesan ini padanya. Di Saheonbu besok, akan ada konfrontasi antara atasan kami dan Pangeran Yeoning. Beritahu dia untuk mengatakan yang sebenarnya sekali lagi." pinta Yeo Ji.


Moon Soo menatap ke arah kamar Yeoning.

"Sebenarnya, kami masih mempercayaimu,  Pangeran Yeoning. Kau tidak melakukannya tanpa sebuah alasan." ucap Moon Soo.

"Oke, aku pasti akan memberitahunya." jawab Cho Hong.


Moon Soo dan Yeo Ji pamit. Setelah mereka pergi, Seo dengan angkuhnya menyuruh pelayannya menyebarkan garam di sekitar rumah.

Cho Hong geleng-geleng kepala melihat tingkah Seo.

"Dia hanya peduli dengan dirinya. Kehidupanmu pasti sangat nyaman, Nyonya."

Pelayan Seo ingin mengatakan sesuatu, namun ia ragu. Cho Hong pun berkata, bahwa ia bisa memberitahunya. Si pelayan ragu tapi akhirnya ia memberitahu sesuatu pada Cho Hong.


Yeoning sudah terlelap ketika Cho Hong masuk.

Cho Hong meletakkan sesuatu di atas meja, lalu menatap wajah Yeoning.

"Hal-hal sulit dalam kehidupan, bukan masalah sepanjang bukan aku. Jangan melihat apapun maupun mendengar apapun. Jika itu satu-satunya cara agar kau tetap hidup. Aku harap kau tidak akan tahu tentang apapun." ucapnya.


Paginya, Tan mengucapkan terima kasih pada Tuan Kim. Ia berkata, berkat Tuan Kim, dirinya bisa keluar dengan aman.

Tuan Kim : Ini bukan hal layak untuk kau lakukan. Bagaimana bisa keluarga bangsawan mengucapkan terima kasih pada abdinya?

Yoon Young berusaha mengambil hati Tuan Kim. Ia membujuk Tuan Kim untuk memberikan Tan makanan yang bergizi karena wajah Tan terlihat tidak baik.

"Di dalam rumahku? Untuk apa? Kita baru saja sarapan! Pekerjaku juga pasti sibuk. Suruh dia pergi." jawab Tuan Kim


Tuan Min datang.

"Kau sudah keluar, Pangeran Mil Poong. Senang melihatmu disini."


Mereka lalu bicara di dalam.

"Kudengar kau juga singgah dirumahku." ucap Tuan Min.

"Aku pergi kesana lebih dulu. Itu hal alami." jawab Tan.

"Pasti akan lebih baik jika kau membuat sikap seperti itu sejak awal." ucap Tuan Min.

"Apa?" tanya Tan.

"Jika kau tahu kau tidak menguasai semuanya, kau seharusnya tidak membuat masalah."

"Daegam, apa maksud anda..."

"Kau mungkin mendengarnya dari selir Perdana Menteri, siapa raja selanjutnya!"


"Aniyo. Noron tidak bisa menyingkirkanku. Kerajaan ini milik Pangeran So Hyeon, kakekku! Bukannya rubah tua yang berada di singgasana sekarang! Milik kakek dan ayahku!" Tan marah.

"Sudah kubilang! Noron pemilik kerajaan ini. Jika kau masih ingin menjadi Raja, kau seharusnya mengurus orang-orang yang ada di sekitarmu. Kami tidak bisa melakukan apapun untukmu." jawab Tuan Min.

Tan kaget, menteri...

"Seorang utusan dalam perjalanan  ke Dinasti Wing besok, pergilah bersama mereka. Jika kau meminta belas kasihan untuk raja masa depan, kau bisa menyelamatkan hidupmu." ucap

Tuan Min, lalu pergi.


Tan berlutut, memohon agar Noron tidak mencampakkannya.

Tuan Min menatap Tan.

"Melihat orang-orang sepertimu, seseorang mungkin akan tahu jika status hanyalah sebuah gambaran. dan kebanyakan manusia adalah binatang yang bisa bicara tapi dunia terus berjalan. Itulah sebabnya kami membiarkan orang sepertimu tetap hidup."

Tuan Min lantas pergi.


Tan keluar dari kediaman Tuan Kim dengan wajah syok. Ia bahkan terduduk lemas di teras.

Melihat itu, Yoon Young marah. Tan pun berkata, bahwa semuanya sudah selesai.

"Itu tidak benar! itu belum berakhir. Siapa yang bilang berakhir? Lihat aku. kau bilang akan membuatku menjadi Ratu. Itulah sebabnya aku memilihmu. Itulah sebabnya aku menjadi selir untuk pria tua itu. Kerajaan ini adalah milikmu. Apa kau akan membiarkan mereka mengambilnya? Tunjukkan pada mereka apa yang kau miliki. Tunjukkan siapa dirimu dan apa yang akan terjadi jika seseorang mencoba mengambil milikmu."

Tan terpancing, ia mulai menyalahkan Yeoning atas apa yang terjadi padanya.

"Kau masih bisa mendapatkan tahta." ucap Yoon Young.


Cho Hong meminta Ja Dong meletakkan sarapan di kamar Yeoning.

Tiba-tiba, Yeoning keluar dan bertanya siapa yang meletakkan surat di kamarnya.

"Aku menaruhnya disana tadi malam. Sam Wol bilang dia menerimanya." jawab Cho Hong.


Hwon menemui Sukjong.

Hwon : Cheonha, saya dengar anda ingin bertemu dengan saya.


Yeoning tengah bersiap-siap. Sementara Ja Dong terkejut membaca surat yang diterima Yeoning.

"Itu informasi rahasia mengenai Pangeran Mil Poong. Kehidupan pribadinya, akta tanah dan buku kematian yang dia punya untuk menulis orang yang dia bunuh. Itu mungkin milik Departemen Kehakiman." ucap Yeoning.

"Darimana kau mendapatkannya? Kira-kira siapa?" tanya Ja Dong.

"Seseorang yang berpikir hal yang sama denganku. Seseorang yang ingin membalikkan situasi saat ini dan melindungi orang tidak bersalah sebelum terlambat." jawab Yeoning.

Bersambung ke part 3...........

No comments:

Post a Comment