Tuesday, March 5, 2019

Haechi Ep 5 Part 2

Sebelumnya...


Yeoning tertidur di emperan pasar.

Para penduduk yang melihatnya pun bertanya-tanya siapa dia.

"Apa dia putra keluarga bangsawan yang jatuh miskin?"

"Berapa banyak penderitaannya hingga dia menjadi seperti itu?"

Dal Moon kemudian datang dan membawa Yeoning pergi.


Dal Moon menyuruh temannya mengguyur Yeoning. Tapi temannya tidak berani karena tahu siapa Yeoning.

Dal Moon greget. Ia langsung mengambil ember dan menyiram Yeoning. Yeoning terbangun.

"Matahari sudah tinggi di langit, Pangeran." ucap Dal Moon.

"Jubahku... di sini, bukan?" tanya Yeoning mencari-cari jubahnya.

"Kau meninggalkannya disini?" tanya Dal Moon.

"Akan ada di sekitar sini. Carilah." suruh Yeoning.


Dal Moon menemui Yeoning yang sudah selesai berganti pakaian.

Yeoning : Dasar bedebah arogan. Beraninya kau mengguyur seorang Pangeran.

Dal Moon : Air itu digunakan untuk membasuh kakiku. Lain kali akan kupakai air comberan saja.

Yeoning : Kau bisa mati setelah bercanda begitu.

Dal Moon : Daging harus dikunyah untuk dinikmati dan kita harus bicara untuk dinikmati.

Yeoning : Benar. Aku harus bersikap seperti orang biasa sekarang.

Dal Moon : Kau tenang untuk sementara, tapi kau mabuk lagi.

Yeoning : Kebiasaan lama susah hilang. Aku ingin bersenang-senang seperti dahulu.


Tak lama kemudian, teman Dal Moon datang dan memberikan jubah eoning.

Yeoning pun berkata, bahwa teman Dal Moon tidak seperti Dal Moon yang hina.

Teman Dal Moon : Aku juga pernah menjadi orang hina.

Yeoning : Lantas, pasti ada bangsawan yang berkhianat di antara leluhurmu. Tinggalkan itu di sini.

Yeoning beranjak pergi.


Diluar, Dal Moon memberitahu Yeoning soal tawanan yang melarikan diri semalam.

"Kebanyakannya kriminal kelas teri. Kudengar separuh dari mereka ditawan kembali. Namun, tampaknya ada seorang yang menarik di antara mereka."

"Apa maksudmu?" tanya Yeoning.

"Entahlah. Makin tersebar, informasi menjadi makin murah." jawab Dal Moon, lalu pergi.

"Dia benar-benar pelit." ucap Yeoning.


"Anda akan ke Kantor Silsilah Kerajaan? Mau kutemani?" tanya teman Dal Moon.

"Kudaku pasti sudah menunggu." jawab Yeoning, kemudian pergi.


"Sudah lama dia tidak mabuk seperti itu, bukan? Dia dapat posisi di Kantor Silsilah Kerajaan dan orang-orang bilang dia menjadi lebih baik." ucap teman Dal Moon.

"Harinya telah datang, itu sebabnya. Hari dari setahun lalu." jawab Dal Moon.


Yeoning tiba di Kantor Silsilah Kerajaan. Setibanya disana, dia melihat beberapa anak kecil. Petugas memberitahu, itu karena Ratu ingin mengadopsi seorang putra yang bisa mewarisi tahta dan anak-anak itu adalah para kandidatnya.

"Adopsi? Lalu bagaimana urusan di Kantor hari ini?"

"Pernikahan untuk Pangeran Inseong dan Putri Jin Young."

"Tidak bisakah mereka menikah sendiri?" tanya Yeoning.

"Duta besar dari Dinasti Qing akan datang."

"Baiklah. Akan kuurus ini Keluarlah dan cari sesuatu untukku." suruh Yeoning.


Di pasar, seorang pria kelelahan menumbuk adonan kue beras.

Yeo Ji tiba-tiba datang dan mengambil alih tugas pria itu.

Pria itu terkejut melihat betapa kuatnya Yeo Ji. Ia tidak percaya kalau Yeo Ji seorang wanita.

"Ya, aku Cheon Yeo Ji. Aku melakukannya dengan benar? Sekitar 100 kali lagi?"



Moon Soo sedang belajar. Di dinding kamarnya, tertempel kertas bertuliskan kata-kata penyemangat.


Temannya, yang duduk di belakangnya, menimbulkan suara berisik karena membalik halaman buku terlalu keras.

Moon Soo pun langsung melemparkan gumpalan kertas ke orang itu.

Orang itu membuka gumpalan kertas dari Moon Soo dan membaca tulisanya.

"Kau membalik halamannya terlalu keras dan itu menggangguku."

Sontak, orang itu langsung menatap Moon Soo.

Moon Soo pun menyuruh orang itu membalik halaman pelan-pelan dan memperagakan caranya.


Moon Soo dan orang itu kembali duduk saling membelakangi. Orang itu membalik halaman buku pelan-pelan, sesuai permintaan Moon Soo.

Tapi Moon Soo kembali menegurnya lantaran terganggu dengan suara napas orang itu.


Orang itu lantas memilih belajar diluar. Ia duduk sambil makan camilan.

Moon Soo keluar dan mengganggunya lagi.

"Kita semua bersiap untuk ujian. Bukankah boros makan camilan tiap hari? Aku merasa rugi dan itu menggangguku." ucap Moon Soo, lalu beranjak pergi.

"Hei. Lalu aku harus bagaimana?" tanya pria itu.

"Aku bukan pergi karenamu jadi, jangan dipikirkan. Pria harus bisa menahan rasa tidak nyaman seperti itu. Tapi hari ini sangat penting bagiku." jawab Moon Soo.

"Aku tidak pernah bertanya." ucap pria itu.


Setelah Moon Soo pergi, pria itu memeriksa meja Moon Soo. Ia ingin tahu apa yang dibaca dan ditulis Moon Soo.

"Kukira dia bodoh. Ternyata dia cerdas. Pria ini, mungkin kali ini dia berhasil." ucap pria itu.


Yeo Ji dapat protes dari para penduduk karena ia menumbuk tteoknya  (kue beras) terlalu tipis.

Bukan cuma tteok,  ikan pollack buatannya juga keasinan.

Lalu pria tadi datang. Para wanita pun mengadu kalau tteok yang dibuat Yeo Ji terlalu tipis dan ikan pollack nya juga keasinan.

Yeo Ji minta maaf dan berkata, akan membuatnya lagi.

"Tidak usah. Kita bisa gunakan tteok dan membuat tteok sujebi." jawab pria itu.

Pria itu kemudian mencicipi pollack Yeo Ji yang asin. Dengan wajah meringis, ia mengatakan pollack Yeo Ji rasanya enak.

Para wanita pun protes.


Pria itu lalu menyuruh Yeo Ji mengikutinya.

Pria itu memberikan Yeo Ji uang tapi Yeo Ji menolak. Yeo Ji : Aku mengacau.

Pria itu : Tidak, kerjamu bagus.  Bahkan koki raja akan takjub pada makananmu. Jadi, teruskanlah. Katamu kau harus pergi lebih awal hari ini. Kau akan kupanggil saat butuh bantuanmu lagi.


Yeo Ji sedang berjalan. Ia merasa upah yang diberikan pria tadi terlalu banyak untuk upah sehari.

Joon Jae menghampiri Yeo Ji dan menyuruh Yeo Ji bergegas.


Di rumah, A Bong dan Jang Dal sibuk memasak. Jang Dal meminta A Bong bergegas memasak sebelum Yeo Ji pulang agar mereka punya sesuatu untuk dimakan.

"Dia seorang wanita. Tapi kenapa dua pria harus melakukan ini?" protes A Bong.

Moon Soo yang duduk di belakang dan sedang belajar menyuruh A Bong diam.

A Bong : Ayolah. Kau toh akan gagal untuk kesebelas kalinya.

Moon Soo langsung menimpuk A Bong dengan sepatu.

Moon Soo : Aku akan menjadi lulusan terbaik. Pembelajaran yang baik mewujudkan kebajikan seseorang.


Yeo Ji dan Joon Jae datang. Yeo Ji terkejut melihat ketiga rekannya.

A Bong langsung menghambur memeluk Yeo Ji.

A Bong : Senang melihatmu. Sudah berapa lama?

Giliran Moon Soo menyapa Yeo Ji. Moon Soo mengelus kepala Yeo Ji.

Jang Dal : Selama ini hidupmu sulit, kan?


Kesedihan masih menyelimuti wajah Yeoning. Padahal setahun sudah berlalu.

Cho Hong datang, memberitahu kedatangan Byung Joo.


Yeoning menyambut kedatangan Byung Joo dengan ramah.

*Lah? Kenapa mereka jadi akrab? Bukannya Yeoning tahu Byung Joo ini pengkhianat? Apa si Byung Joo udah tobat ya dan mihak ke Yeoning sekarang?


Moon Soo terkejut mengetahui pekerjaan Yeo Ji sebagai koki untuk pesta.

"Aku sendiri tidak tahu, tapi aku pasti berbakat. Mereka bilang aku lebih baik daripada koki raja." jawab Yeo Ji.

"Entahlah. Mungkin para bangsawan punya selera yang aneh. Aku tidak bisa makan apa pun yang dimasak Yeo Ji." ucap A Bong.

"Itulah maksudku. Tapi sejak kita diusir dari Saheonbu, hanya Yeo Ji yang punya pekerjaan. Dia mendapatkan banyak uang di mana-mana." ucap Jang Dal.

Moon Soo meminta Yeo Ji jujur. Ia pikir, Yeo Ji memukul orang lalu merampas uang mereka. Tak hanya itu, ia juga menduga Yeo Ji bermain judi atau mencopet.


Yeo Ji lantas mendengar suara tangisan. Ia bergegas keluar dan mendapati Joon Jae yang tengah menangis.

Moon Soo menyusul Yeo Ji. Matanya seketika berkaca-kaca melihat Joon Jae menangis.


Yeoning mengaku pada Byung Joo, bahwa ia tahu siapa yang membantu para tahanan itu kabur.

"Noron pelakunya. Untuk menyingkirkan Ketua MA yang ditunjuk oleh Soron. Tawanan yang lolos. Negeri berantakan karena Raja. Noron mungkin ingin kata-kata itu tersebar untuk menekan Raja dan menyingkirkan Kepala Soron." ucap Yeoning.

"Anda pasti mabuk." jawab Byung Joo.

"Kau merencanakan ini, bukan? Kau tidak tampak senang mungkin karena ada yang salah dengan rencanamu." ucap Yeoning.


Byung Joo lalu ingat saat ia membantu membebaskan seorang tahanan dan meminta tahanan itu melarikan diri bersama tahanan lainnya.

Yeoning : Di antara tawanan yang lolos, kulihat ada satu orang yang kau tawan sendiri. Tapi dia mungkin tidak kembali padamu begitu dia bebas. Apa yang akan kau lakukan? Jika biro kepolisian menangkap dia, kau akan mengalami kesulitan...

Byung Joo : Pangeran Yeoning, perkataanmu tidak pantas.


Yeoning : Aku akan menangkap dia untukmu. Itu akan menjadi hadiah untuk merayakan promosimu. Aku merasa perlu berbuat sejauh ini agar bisa lebih dekat denganmu.

Byung Joo : Ini mungkin terdengar kelewatan, tapi ada sesuatu yang selalu ingin kutanyakan padamu. Aku tahu ini sudah berlalu, tapi bukankah kau berteman dengan mendiang

Inspektur Han? Tapi kenapa...

Yeoning : Aku pernah berteman dengannya? Kurasa aku pernah berteman dengannya saat tidak tahu apa-apa Tapi kusadari apa yang terjadi saat orang berkuasa mengkhianatiku.  Itulah saat aku mulai dewasa. Kau juga dahulu Namin tapi akhirnya berpaling ke Noron. Kau pasti memahami perkataanku.

Byung Joo : Kau memang sangat terang-terangan.


Yeoning :  Karena itu kita teman minum yang baik. Mari kita minum.

Yeoning menenggak minumannya, lalu tersenyum pada Byung Joo.

Bersambung ke part 3..........

Yeoning merencanakan sesuatu gaes...

No comments:

Post a Comment