Saturday, March 9, 2019

Haechi Ep 7 Part 1

Sebelumnya...


Malam setelah kematian Sukjong, Seja menyendiri di balai istana dan menatap lukisan Sukjong.

Seja : Aku juga tahu bahwa aku kurang mampu.


Lalu, ia menatap ke singgasana.

Seja : Aku tahu aku tidak pantas mengambil tahta.


Petir menggelegar. Hujan turun kian lebat.

Yeoning tampak berjalan di bawah guyuran hujan. Ia teringat kata-kata mendiang ayahnya.

"Kenapa kau hidup dengan gegabah? Kenapa kau tidak bisa menjadi lebih baik? Aku akan segera mati, Pangeran Yeoning." ucap Sukjong.


Yeoning kemudian ingat saat Hwon sekarat.

Hwon : Itu kau rupanya. Kerajaan...


Ia ingat kata-kata Tuan Kim.

"Kau seharusnya bermimpi menjadi raja. Karena jika kau menjadi raja, setidaknya kau bisa mendapatkan sedikit kekuasaan."


Yeoning menatap ke balai istana.

Yeoning : Mendapatkan kekuasaan...


Pintu istana terbuka. Yeoning perlahan masuk dan jatuh terduduk di depan hyung nya.

Seja : Kurasa kau tidak punya tempat tujuan Hanya kita yang tersis dari semua oran dalam istana yang korup ini Ayah dan Lee Hwon sudah tiada Dan kita, dari semua orang harus menjadi yang tersisa.

Yeoning menangis.

"Jangan menangis. Akulah yang bersalah Kau tidak pantas dihukum." ucap Gyeongjong.


Seja beranjak pergi tapi Yeoning menghentikan langkahnya. Yeoning berkata, alasan mereka masih hidup, karena orang-orang itu membiarkan mereka hidup.

"Jadi, bagaimana jika kita hukum orang-orang yang sebenarnya bersalah Kita mungkin keturunan terakhir yang diharap tidak berbuat apa-apa Tapi bagaimana jika kita mengubah dunia?" jawab Yeoning.


Kembali ke masa kini, dimana Seja yang telah menjadi Raja, sedang bicara dengan Yeoning.

Gyeongjong : Kau benar-benar melakukannya?

Yeoning :  Ya, Yang Mulia. Aku menepat janjiku Noron akan mulai goyah dan berantakan. Keramik yang retak...

Gyeongjong : Pasti sangat mudah pecah.

Gyeongjong kemudian berkata, bahwa kini giliran dirinya yang mengambil tindakan.

Yeoning sontak kaget.


Noron ngamuk karena dilarang masuk ke Saheonbu. Inspektur Lee menyuruh petugas Yoon dan petugas Saheonbu lainnya mundur.

Petugas Yoon : Kau lah yang harusnya mundur dan berhenti mencoba menekan Saheonbu.


Petugas Yoon lalu membacakan surat perintah penangkapan Wakil Menteri Personalia, Jung Jae Eok, Asisten Menteri Hongmoongwan, Choi Hyung Jeon, Menteri Pajak, Jang Tae Sung dan Opsir Yemoongwan, Lim Seung Ryong.

Tuan Min geram.

"Dia benar-benar berusaha memicu perang?" gumamnya.


Para Menteri Noron yang ditangkap, digeret ke ruang interogasi.


Inspektur Lee berkata pada Tuan Min, kalau ia akan menghentikan Saheonbu sebisanya. Tuan Min menyuruhnya diam.

Langkah mereka terhenti karena Yeoning yang tiba-tiba muncul di hadapan mereka.

Yeoning : Pertama, kau kaget. Dan kini, kau antusias Kulihat kau sering kali emosional belakangan ini. Harus kukatakan, ini menarik.

Inspektur Lee : Pangeran Yeoning!


Yeoning : Tapi sekali lagi, mereka bilang Noron dan anak-anak mereka curan di ujian pamong praja Jadi, aku paham kenapa kau sangat kaget Bayangkan seberapa besar kerusakan akibat insiden in pada Noron.

Tuan Min menatap tajam Yeoning.

Tuan Min : Kau merencanakan semua ini?

Yeoning : Kau pernah memberitahuku ini. Untuk menang, kau harus tanamkan rasa takut dalam pikiran lawan. Bagaimana perasaanmu? Kau pelan-pelan mulai ketakutan?

Tuan Min terdiam.

Yeoning : Hati nurani tanpa kekuasaan, sangat lemah dan suram. Itulah yang kau katakan padaku. Jadi aku berencana mendapatkan kekuasaan itu sekarang.


-Episode 7, Seni Propaganda-


Moon Soo dihukum, dipukuli dengan tongkat sebanyak 30 kali. Tapi Moon Soo yang ingin menegakkan kebenaran, berusaha menahan rasa sakitnya.

A Bong, Jang Dal dan Yeo Ji berusaha menyelamatkan Moon Soo.

Jang Dal berkata, biar mereka saja yang menerima pukulannya.

A Bong setuju.


Petugas marah dan berniat memukul A Bong tapi dihentikan Yeo Ji.

"Siapa bocah ini?" tanya petugas.

"Jangan sebut aku bocah. Aku warga negara ini yang juga sadar hukum. Bahkan Raja Myeongjong dan Raja Hyeonjon bilang mereka yang membela raja tidak boleh diperlakukan kasar. Bukankah itu karena Yang Mulia juga tahu bahwa membela dia bukan kejahatan besar?" jawab Yeo Ji.

"Ya, kau benar. Maka itu kita tidak bisa membebaskan dia tanpa perintah Yang Mulia." ucap petugas.


Yeoning pun datang dan membawa surat perintah Raja untuk membebaskan Moon Soo.


Moon Soo pun bebas. A Bong dan Jang Dal memapah Moon Soo. Namun, saat melihat Yeoning, Moon Soo melepaskan papahannya dan berjalan terseok-seok ke arah Yeoning. Tapi Moon Soo tiba-tiba terjatuh. Yeoning pun langsung memeganginya.

"Kau tidak apa-apa, Moon Soo-ya?" tanya Yeoning.

"Kau akhirnya datang. Kau bisa datang lebih awal jika kau akan datang Aku sudah dipukul sepuluh kali. Bokongku yang mungil banyak dipukuli." jawab Moon Soo.

Yeoning tertawa mendengar ocehan Moon Soo.


Yeo Ji merangsek maju dan.... memukuli Moon Soo. Sontak, Moon Soo kaget.

"Dia menyelamatkanmu saat kau hampir mati. Kau seharusnya berterima kasih. Bisa-bisanya kau bicara begitu?" sewot Yeo Ji.

"Apa yang kau lakukan?" tanya Moon Soo heran.

"Maaf atas ketidaksopanannya Pangeran Yeoning. Moon Soo Naeri mengeluhkan bokongnya seperti anak kecil." ucap Yeo Ji.

"Bukan itu, Yeo Ji-ya. Aku..." Yeoning berusaha menjelaskan.

"Bukan begitu. Poinku bukan soal bokong." ucap Moon Soo.

"Mengeluhkan soal bokongmu adalah maksudmu?" tanya Yeo Ji.

"Bokongku bukan maksudnya." jawab Moon Soo.

"Itu soal bokongmu." ucap Yeo Ji.

"Ini gila, bukan begitu." jawab Moon Soo.


Yeoning tertawa melihat Yeo Ji dan Moon Soo adu mulut soal bokong.

Yeoning lalu mengaku senang bisa berdiri di depan mereka lagi.


Sekarang, mereka semua berkumpul di rumah Jung Seok.

"Jadi kau menemukan bukti korupsi dalam ujian pamong praja?" tanya Moon Soo.

"Bukankah ujian pamong praja contoh terjelas bagaimana korupsi di negara ini sekarang? Saat kau hanya memikirkan bokongmu, Pangeran Yeoning mengerjakan ini sendiri." jawab Yeo Ji.

"Hei, sudah kubilang bokongku itu bukan maksudku." ucap Moon Soo.

"Aku memulai ini karena kau Moon Soo-ya.  Aku memikirkan cara untuk membantu ujianmu." jawab Yeoning.


Yeoning lalu menceritakan apa yang didengarnya dari Goon Tae dan pria pendongeng.

Pria pendongeng bilang, mustahil lulus dengan skor di atas rata-rata karena ada begitu banyak korupsi.


"Mengganti atau memiliki posisi bagus,  bahkan tidak dianggap curang belakangan ini."

" Mencuri buku...."


"... saling menukar lembar jawaban dan membawa contekan dalam lubang hidung...."

"... adalah aksi yang dilakukan orang-orang miskin."


Pria pendongeng pun menunjukkan buktinya.

"Sebuah lubang digali dibawah tembok untuk menaruh lembar jawaban dan mengirimnya ke tempat ujian. Semua tidak dibutuhkan jika mereka bisa tahu pertanyaannya dahulu."

"Maksudmu seseorang membocorkan pertanyaan ujian?" tanya Yeoning.


"Apa yang tidak akan ragu dilakukan orang-orang berkuasa Ini bukan hanya soal membocorkan pertanyaan ujian. Bahkan ada rumor bahwa mereka yang memeriksa jawaba mengubah nama pada lembar ujian dengan jawaban bagus."

Yeoning terkejut.

Yeoning memberitahu Moon Soo, bahwa kebanyakan dari rumor itu benar adanya.

Para pejabat Hongmoongwan memberikan jawaban ujian pada anak-anak Noron.

Dan mereka tidak ragu mengubah nama di lembar jawaban.


Ja Dong diam-diam mematai aksi curang Noron.

Yeoning : Mereka bahkan menyelundupkan kertas untuk ujia dan mendapat keuntungan besar dari itu.


Saat menjemput Ja Dong di dermaga, Ja Dong memberikan apa yang diminta Yeoning.

"Kami menemukan pertanyaan ujian yang kau beritahukan Kami bahkan punya saksi." ucap Ja Dong.


Moon Soo kesal mendengarnya, ia berkata, dirinya sudah lama lulus jika bukan karena aksi curang itu.

"Mereka pantas dikuliti dan digoreng dalam minyak sampai mati. Bagaimana bisa mereka sekorup ini?" sewot Yeo Ji.

"Ujian pamong praja negara ini hanya membuktikan betapa korupnya kerajaan ini sekarang Noron sudah menguasai istan dan menghancurkan ujian pamong praja yang seharusnya paling adil." jawab Yeoning.

Moon Soo merasa malu karena disaat Yeoning berjuang membantunya, dia malah bersikap seperti orang bodoh.


Yeoning : Jangan bicara seperti itu. Orang yang patut disalahkan, adalah aku.

Melihat kesedihan Yeoning, Jang Dal pun berusaha mencairkan suasana. Ia berkata, masalah korupsi ujian itu sudah membuat mereka bersatu lagi.

Jang Dal lantas mengajak mereka minum. Tapi Yeoning menolak karena mau melakukan sesuatu.


Moon Soo dan Yeo Ji ingin tahu Yeoning mau melakukan apa. Tapi Yeoning yang tak mau teman-temannya dalam bahaya, tidak mau mengatakannya dan bergegas pergi.

Namun sebelum pergi, ia sempat mengatakan pada Jang Dal dan A Bong, kalau mereka harus menunggu sedikit lebih lama untuk merayakan reuni mereka.

Moon Soo penasaran apa yang mau dilakukan Yeoning.


Yeoning menemui Ja Dong. Ia menanyakan keadaan Saheonbu dan Tuan Min.

"Kami sedang mencari tahu, tapi apakah kau mau meneruskan tugas ini sendirian? Kau harus mencari bantuan. Bawahan Min Jin Hoon tidak akan membiarkan ini." ucap Jang Dal.

"Karena itulah harus kulakukan sendiri. Moon Soo dan Yeo Ji tidak boleh dalam bahaya karena aku lagi." jawab Yeoning.


Tanpa disadari Yeoning, Yeo Ji muncul di belakangnya dan mendengarkan kata-katanya.


Petugas Yoon dan anak buahnya disibukkan dengan barang bukti kertas ujian yang mereka terima.


Tak lama, Byung Joo datang dan meminta Petugas Yoon menyerahkan kasus itu ke Daejangcheong, kantor dimana pejabat Jipyeong bekerja.

Petugas Yoon menolak. Ia berkata korupsi yang terkait dengan ujian pamong praja harus diinvestigasi oleh Saheonbu.

Byung Joo yang sudah kehabisan akal, menceritakan soal Jung Seok. Ia menyebut Jung Seok mati-mati sia karena menentang Noron.

"Aku tidak tanya soal itu, dan tidak mau tahu. Haruskah aku terus mendengarkanmu?" jawab Petugas Yoon.

Petugas Yoon lalu pergi dengan alasan sibuk.


Byung Joo marah besar.


Tuan Min sedang membakar surat-surat. Sambil membakar surat-surat itu, ia mengaku baru menyadari bahwa Yeoning lah dalang dibalik kekisruhan di tubuh Noron sekarang.

"Tidak ada yang konkret. Kita tidak bisa simpulkan itu dia karena dia bertanya ke mana-mana soal korupsi ujian." jawab Dal Moon.

"Ani, itu dia. Aku yakin. Mengungkap dosa Pangeran An Gye di Kantor Silsilah Kerajaan dan mengungkap korupsi Noron di ujian Pamong Praja, pasti bagian dari rencananya. Kini dia menginginkan tahta." ucap Tuan Min.

"Tahta? Maksudmu Pangeran Yeoning? Dia ingin menjadi Raja berikutnya?" tanya Dal Moon.

"Pergilah sekarang dan tunggu perintahku." jawab Tuan Min.

Dal Moon tidak bertanya lagi dan langsung pergi. Tapi ia sempat berpapasan dengan si kakek pembunuh saat hendak keluar.


Si kakek pembunuh lantas duduk disamping Tuan Min. Tuan Min berkata, bahwa sepertinya ia akan membutuhkan bantuan si kakek pembunuh dalam waktu dekat.

"Sayang sekali, tapi apa boleh buat. Saat seseorang lupa soal tempatnya yang layak." ucap Tuan Min.

Bersambung ke part 2..........

No comments:

Post a Comment