Saturday, March 9, 2019

Haechi Ep 7 Part 3

Sebelumnya...


Sampai di kediaman Jung Seok, Yeo Ji dan Moon Soo langsung mencari Yeoning. Dia menanyakan Yeoning pada A Bong dan Jang Dal. A Bong berkata. Yeoning ada di gudang. Mereka pun bergegas menemui Yeoning.


Yeoning : Selama 100 tahun terakhir, ini adalah kekuatan terbesar Noron. Memutarbalikkan situasi dan mendapatkan keunggulan.

Moon Soo : Jika bukan hanya Saganwon, tapi opini publik juga seperti ini, kasus ini mungkin akan terkubur.


A Bong : Masyarakat bisa seperti itu karena tidak tahu detailnya. Tapi bisa-bisanya Saganwon melakukan ini? Mereka harus mempertaruhkan nyawa dan mengatakan kebenaran.

Moon Soo kesal.


"Ini sungguh menyebalkan. Apa ini masuk akal? Kejujuran, keadilan. Apa semua ini hanya omong kosong? Katakanlah orang-orang yang sudah punya jabatan mungkin seperti itu. Tapi ada ratusan ribu orang yang bersiap untuk mengikuti ujian. Sebagian besar dari mereka berasal dari Hanyang. Orang-orang seperti Noron, Soron, dan Namin juga termasuk.  Jang Dal, A Bong, apa hanya aku yang marah dan gelisah karena hal ini?" protesnya.

"Kita mungkin bisa membalikkan situasi yang telah mereka manipulasi." ucap Yeo Ji.


"Memangnya kita lagi membuat panekuk? Bagaimana cara kita melakukannya?" tanya Jang Dal.

"Yang akan melakukannya adalah mereka yang tidak tahan dengan situasi ini." jawab Yeo Ji.

Moon Soo kaget, apa? Kau membicarakan yang baru saja kupikir...

Yeo Ji : Seperti katamu, para pemegang jabatan pasti mengabaikannya. Tapi kaum lainnya tidak seperti itu. Bangsawan biasa yang bukan di bawah kekuasaan Noron. Maksudku aristrokat biasa dari Noron, Soron, dan Namin.


Yeoning : Bangsawan biasa?

Yeo Ji : Di Hanyang saja, ada lebih dari 100.000 orang yang bersiap untuk mengikuti ujian. Bagimana jika mereka semua turun ke jalanan?

Moon Soo : Ke jalanan?

Yeo Ji : Belum lagi Soron dan Namin.

Yeoning : Karena itu demi kepentingan mereka.

Yeo Ji : Bukankah mereka akan marah dan gelisah seperti Tuan Moon Soo?

Mendengar itu, Moon Soo senang karena Yeo Ji memahami maksudnya.

Yeoning : Mungkin kita bisa menemukan cara untuk menyerang balik. Kerja bagus, Semuanya.


Tapi setelahnya, Yeoning meminta yang lainnya tidak ikut campur lagi.

Moon Soo : Kau mau melakukannya sendiri?

Yeoning : Ya, aku akan mengurusnya, karena...

Yeo Ji : Kalian mungkin berada dalam bahaya gara-gara aku. Tidak perlu bertele-tele. Kami pun sudah mengetahui rencanamu.

Yeoning kaget, tak lama kemudian, ia sadar Ja Dong lah yang memberitahu mereka.


Ja Dong mengaku, bahwa ia memang bermulut besar.

Moon Soo : Kami juga akan beraksi.

Yeoning keberatan, Moon Soo-ya...


Moon Soo : Tidakkah kau ingat Impian yang kita mimpikan satu tahun lalu di tempat ini. Kau menjadi raja, padahal itu mustahil didapatkan.

Yeoning pun teringat saat ia bermain permainan itu, ia melemparkan dadunya dan menjadi Raja.

Moon Soo : Kau bukan lagi raja di permainan papan. Kini kau berusaha menjadi raja Joseon.


Yeo Ji : Kau tidak akan bisa melakukan itu sendirian. Kami akan ikut denganmu sampai semua berakhir.

Jang Dal : Aku pun mau menjabat di Hanyang.

A Bong : Jangan lupakan aku juga.

Moon Soo : Kami akan ikut denganmu. Kami juga akan mempertaruhkan nyawa kami.


Cho Hong dibantu Sam Wol sedang membereskan pakaian Yeoning.

Seo tiba-tiba masuk dan marah-marah.

Seo : Pikirmu Pangeran akan pindah bersamamu? Itu sebabnya kau membawa semua pakaiannya?

Cho Hong :  Kenapa kau selalu berpikir seperti itu? Dia memang lelaki hidung belang, tapi dia tidak tertarik dengan pakaian wanita. Kau kurang mengenal suamimu, bukan?

Seo : Lantas siapa dirimu?

Cho Hong : Aku tidak mau memberitahumu.

Seo makin gondok.


Yeoning melongo melihat kelakuan teman-teman kecilnya.


Yeoning lalu berdiri dan menatap Jang Dal.

Yeoning : Bukan seperti itu. Bangsawan tidak berbicara dan bersikap seperti itu. Harus berapa kali kukatakan? Jangan menjilat kumismu seusai meminum alkohol.

Setelah itu, Yeoning menatap A Bong.

Yeoning : Selagi merokok, jangan membuat pipimu kempot.

Giliran Yeo Ji yang disemprot Yeoning.

"Jangan terlalu sedih. Mengekspresikan emosi itu dianggap rendahan, maka itu dilarang. Selagi membaca, lihat ujung hidungmu. Dan kakimu harus rapat." ucap Yeoning.


"Aku sedang berusaha. Ini sudah benar?" tanya Yeo Ji.

"Jika matamu juling, bagaimana kau bisa membaca?" sewot Yeoning.

"Melelahkan sekali menjadi bangsawan." ucap Yeo Ji.

"Aku tidak mau menjadi bangsawan meskipun kau menyilakanku." jawab A Bong.

"Cobalah pelajari semua hal ini." ucap Jang Dal.


"Kau akhirnya menyadari perbedaan status? Kau paham seberat apa masalah yang kualami?" tanya Moon Soo.

"Tentu saja, Tuan Bangsawan." jawab A Bong.

"Dasar bodoh." ucap Moon Soo.

"Kita harus bagaimana sekarang?" tanya Yeo Ji.


Moon Soo mengajak Yeo Ji, A Bong dan Jang Dal ke Desa Banchon. Moon Soo bilang, karena desa itu bersebelahan dengan Sungkyunkwan, jadi mayoritas penduduknya adalah cendekiawan konfusianisme yang akan ikut ujian.

"Jadi, kita harus menghasut mereka, bukan?" tanya Yeo Ji.


Empat sekawan itu pun mulai menjalankan aksi mereka, menghasut para cendekiawan.

Pertama-tama Moon Soo yang mengajak mereka bicara soal korupsi besar dalam ujian pamong praja.

Lalu Yeo Ji, ia menggebrak meja dan pura-pura marah atas sikap rakyat jelata yang biasa-biasa saja.

Yeo Ji : Kita tidak boleh mengatakan itu karena kita bangsawan, tapi bukan berarti kita hanya duduk dan diam saja. Berapa kali pun mencoba, kita tidak bisa lulus ujian tanpa bantuan orang dalam.

A Bong : Apakah kerajaan ini serusak itu?

Moon Soo : Kerajaan ini memang rusak. Bukankah itu salah bagi bangsawan seperti kita?


Yeoning dan Ja Dong melihat para pelajar yang sedang dihasut teman-teman mereka.

"Bahkan para pelajar memihak Noron?" ucap Ja Dong heran.

"Benar, jika Noron merasa faksi mereka lebih penting daripada kerajaan ini, para pelajar akan berpikir masa depan mereka lebih penting daripada partai politik. Dan ini tidak akan dituntaskan oleh para pelajar ini." jawab Yeoning.

Para pelajar mulai terhasut. Mereka berniat mengambil tindakan dengan menggelar aksi demo. Salah seorang dari mereka mengajak semuanya berkumpul di Sungkyunkwan besok sampai pukul sebelas.

Yeoning tersenyum melihatnya.


Esoknya para pelajar itu menggelar unjuk rasa.


Aksi demo para pelajar itu sampai ke telinga Noron.

Tuan Min sewot.

"Pemimpin Sungkyunkwan adalah anak seorang Noron. Bisa-bisanya."

"Kudengar, bahkan pemimpinnya juga turut bergabung dalam aksi itu." jawab anak buahnya.

"Maksudmu para pelajar Noron bergabung dengan mereka? Astaga..." Tuan Min makin sewot.


Inspektur Lee angkat bicara. Ia berkata, mereka tidak bisa apa-apa mengenai kasus korupsi ujian itu.

"Keponakanku juga terlibat. Bisakah setidaknya kau..."

"Bisa-bisanya kau mengatakan itu di saat situasi seperti ini. Kau seharusnya tidak mencemaskan keponakanmu saat ini. Bahkan jabatanmu akan terancam." jawab Tuan Min.

Tuan Min lalu beranjak pergi.

Selepas kepergian Tuan Min, Inspektur Lee mulai memikirkan soal jabatannya yang terancam.

*Kek nya entar si Inspektur Lee ini bakal cari aman gaes... dgn mendukung Yeoning.


Para ayah dari pelajar Sungkyungkwan ikut protes di depan Saheonbu.

Byung Joo terkejut melihatnya.


Tak lama kemudian, Petugas Yoon datang. Petugas Yoon berkata, bahwa mereka hanya menginginkan penyelidikan yang adil.

"Aku juga akan menangani ini sesuai protokol." ucap Petugas Yoon.


Tuan Min ke Saheonbu, dan ia kaget melihat aksi protes yang dilakukan para orang tua itu.

Yeoning kemudian datang dan berhenti disamping Tuan Min.

Yeoning : Mereka ayah para pelajar yang tidak lulus gara-gara korupsi terkait ujian. Banyak pula yang dari pihak Noron. Para ayah yang menyedihkan. Nasib keluarga mereka bergantung pada ujian itu. Jadi, wajar saja.


Tuan Min : Ini juga ulahmu?

Yeoning pun tersenyum.

"Bukan hanya kau yang bisa membuat masalah." ucap Yeoning.

"Aku keliru. Aku terlalu meremehkanmu.  Tapi pikirmu ini akan membuatmu mendapatkan tahta?" jawab Tuan Min.

"Kau memang sangat cocok bicara seperi itu?" ucap Yeoning.

"Kau akan menyesal." jawab Tuan Min.

"Mungkin. Mereka yang mengincar kekuasaan selalu berujung dengan penyesalan. Tapi bagaimanapun, aku akan menjadi raja. Meskipun menyesal, aku akan memandangmu rendah dari singgasana." ucap Yeoning.


Dari balik pintu Saheonbu, Inspektur Lee memperhatikan mereka.

Inspektur Lee lalu teringat permintaan Sukjong yang menginginkan Yeoning menjadi Raja.

Inspektur Lee : Yeoning gun? Yeoning gun?


Inspektur Lee langsung menemui Tuan Kim.

Tuan Kim awalnya marah saat Inspektur Lee berkata, ingin Yeoning yang menjadi Raja.

Tapi saat Inspektur Lee mengatakan, mereka bisa menusuk balik Tuan Min, dengan mendukung Yeoning menjadi Raja, Tuan Kim mulai tertarik.

Inspektur Lee : Pikirkanlah. Menteri Personalia mengendalikan Noron saat ini. Tapi Anda pemimpinnya. Apakah ini masuk akal? Tapi jika berhasil menjadikan Pangeran Yeoning penerus raja, Anda akan berkuasa. Jika bertindak lebih dahulu, kita akan menjadi raja.

Tapi Tuan Kim akhirnya keberatan karena ibu Yeoning yang orang biasa.

Inspektur : Bagaimana jika itu adalah wasiat Raja Sukjong? Bagaimana jika Raja Sukjong ingin menjadikan Pangeran Yeoning sebagai raja?


Seo menemui ayahnya. Sang ayah mengaku, ingin menyampaikan sesuatu tentang Yeoning.

"Kepala Inspektur Lee Yi Gyeom habis menemui ayah. Saat datang, dia membahas topik yang menggemparkan."

"Kenapa dia datang?" tanya Seo.


Mil Poong membunuh tahanan itu.


Yoon Young datang dan marah melihatnya.

Mil Poong : Aku menghabisinya karena dia tidak berguna lagi. Min Jin Hoon dan faksi Noron sibuk mengurus korupsi ujian. Mereka tidak lagi tertarik dengan tawanan seperti dia.

Yoon Young : Tapi membunuh seseorang di rumahmu....

Mil Poong : Aku sudah cukup menahan diri!

Sontak, Yoon Young ketakutan. Apalagi melihat Mil Poong yang masih memegang pedang. Ia takut Mil Poong menebasnya.

Mil Poong : Seperti ucapanmu, aku menahan diri dan membiarkan mereka hidup meskipun ingin membunuh mereka. Cukup sudah. Keterampilan untuk mendukung raja? Aku melakukan semua itu untuk membuktikannya!

Yoon Young : Kau benar. Kau melakukannya dengan baik hingga kini. Tahta di depanmu saat ini.


Mil Poong teriak, ia mengangkat pedangnya. Yoon Young ketakutan. Tapi Mil Poong mengarahkan pedangnya ke arah lain.

Lalu ia menjatuhkan pedangnya dan berteriak.

Yoon Young berusaha menenangkan Mil Poong.

Mil Poong yang sudah tidak tahan lagi, meminta Yoon Young membawakan buku kematiannya. Ia berencana membunuh Yeoning.


Cho Hong menemui Yeo Ji.

Ia memberikan pakaian baru pada Yeo Ji.

Cho Hong :  Katamu kau harus bersikap seperti bangsawan demi misimu. Kau tampak tidak nyaman karena pakaian Pangeran kebesaran. Aku diminta mengecilkannya untukmu. Kurasa dia terganggu melihatnya.

Yeo Ji menolak.

Cho Hong : Tapi Pangeran Yeoning tidak suka. Cepat, cobalah.

Yeo Ji menurut.

Cho Hong :  Aku memang wanita bodoh. Pria yang kusukai memintaku menjahit pakaian untuk wanita yang dia sukai. Dan aku senang melakukan ini.

Yeo Ji : Wanita yang dia sukai? Siapa maksudmu?

Cho Hong :  Kau tidak memahami maksudku? Kau memang bodoh rupanya.

Yeo Ji : Aku sering mendengar itu, tapi...


Tiba-tiba Yeoning masuk dan terkesiap melihat Yeo Ji yang hanya memakai chima.

Cho Hong sewot,  Bisa-bisanya kamu masuk tanpa mengetuk dahulu.


Yeo Ji langsung melempar jeogorinya ke muka Yeoning.

"Cukup dan berbalik lah lalu keluar." ucap Yeo Ji.

"Aku mengerti." jawab Yeoning, lalu keluar.


Diluar, Yeoning salting dan tidak bisa berhenti memikirkan Yeo Ji.


Tak lama, Yeo Ji keluar dan menghampirinya.

"Maafkan aku. Aku tidak tahu kau datang." ucap Yeoning.

"Tidak apa-apa. Lagi pula, kau tidak sengaja. Kau memang dikenal sebagai lelaki hidung belang, tapi kau tidak terlihat seperti sengaja masuk tadi. Serta, kita sudah sepakat menjadi saudara." jawab Yeo Ji.

"Saudara? Jadi, itu yang membuatmu tidak mempermasalahkannya?"

"Ya. Aku akan memaafkanmu." jawab Yeo Ji.

"Baiklah, terima kasih banyak."


Yeo Ji pun pamit, ia berkata ingin minum bersama para pelajar itu.

Tapi Yeoning menghentikannya.

"Bangsawan menunjukkan status mereka dengan pakaian."

Yeoning menyuruh Yeo Ji mendekat. Yeo Ji berkata, ia bisa membetulkannya sendiri.

Yeoning mendekati Yeo Ji dan membetulkan topi Yeo Ji.

Tapi ia malah berakhir memandangi wajah Yeo Ji.


Tak tahan lama-lama memandangi wajah cantik Yeo Ji, Yeoning mengalihkan pandangannya dan menyuruh Yeo Ji mengikat talinya sendiri.

Yeoning yang salah tingkah akhirnya pergi duluan.


Yeo Ji beranjak pergi. Tanpa ia sadari, si kakek pembunuh mengikutinya diam-diam.

Bersambung ke part 4........

No comments:

Post a Comment