Thursday, March 21, 2019

Haechi Ep 9 Part 2

Sebelumnya...


Puluhan pejabat melakukan protes di depan istana. Mereka mengatakan, Yeoning tidak pantas menjadi Raja berikutnya.

Tak lama kemudian, Tuan Kim lewat

"Orang-orang bodoh itu. Gelombang sudah lama berubah. Kenapa tingkah mereka masih begitu?" ucapnya, lalu tersenyum sinis.


Yi Kyum panic karena tidak ada satu pun orang yang datang. Ia tak percaya, hanya mereka yang ada di sana.

Tak lama, Tuan Kim datang.

"Kepala Inspektur. Bukan, kau kini Perdana Menteri yang baru." ucap Tuan Kim pada Yi Kyum.

"... tapi..." lanjut Tuan Kim, "... aku merasa sangat nyaman sekaran karena tidak usah melihat Min Jin Hoon lagi. Kau seharusnya menjadi Menteri Personalia sejak dahulu."

"Daegam, ini bukan saatnya bicara begitu." jawab Yi Kyum.

"Lantas apa yang harus kami katakan sekarang?" tanya Tuan Kim.


Seo kesal karena Yeoning tidak ada di kamarnya. Ia marah karena pelayan juga tidak tahu dimana Yeoning.

Seo : Bagaimana dengan Cho Hong? Maksudku, apakah Dayang Heo juga tidak tahu di mana Putra Mahkota?


Yeoning sendiri sedang bermain-main di halaman istana. Tak lama kemudian, Cho Hong datang sambil berlari-lari dan berteriak memanggil Yeoning.

Cho Hong : Anda tidak boleh ada di sini. Sekarang...

Yeoning : Astaga. Gaun Dayang sangat cocok untukmu. Apa yang terjadi Bicaramu juga sopan.

Cho Hong : Ini bukan saatnya untuk itu. Jalanan kacau...


Yeoning : Aku tahu. Pasti kacau gara-gara aku.

Cho Hong : Lantas mana bisa Anda seperti ini? Hari ini adalah... Apa itu tadi? Astaga, aku lupa kata itu.

Yeoning : Ceramah pagi. Aku ada ceramah pagi sebagai Putra Mahkota hari ini.

Cho Hong : Ya, itu benar. Aku membicarakan soal itu.

Yeoning : Semua pejabat di istana pasti telah berkumpul untuk itu. Tapi apa? Putra Mahkota bermain-main tanpa rencana di sini Dia pasti sudah hilang akal.

Cho Hong, apa? Cho Hong lalu mendekati Yeoning.

Yeoning : Jangan khawatir Bukannya aku tidak punya rencana. Aku memikirkan sebuah rencana. Aku yakin tidak ada yang datang. Mungkin bukan hanya aku yang bermain-main. Aku yakin tidak akan ada yang datang ke sana.


Gyeongjong sudah ada di tempat ceramah pagi. Dan memang benar. Tidak ada satu pun yang datang. Gyeongjong heran kenapa Soron ikut-ikutan menolak menghadiri ceramah pagi Seja.


Inwon pun juga tidak mengerti kenapa Soron melakukannya. Ia minta penjelasan pada Ratu.

"Bukankah itu cara mereka menunjukkan kesetiaan? Anda pikir Yang Mulia ingin menunjuk Putra Mahkota Bukankah itu karena tekanan dari tidak memiliki putra? Bahkan Anda memojokkan dia." jawab Ratu.

"Kau keterlaluan." ucap Inwon.

"Apa salah Noron? Mana mungkin Soron tidak tahu bagaimana perasaan Yang Mulia jika mereka sudah lama memihaknya Mana bisa mereka menerima Putra Mahkota saat ini?" jawab Ratu.

"Ratu! Itu ketidaksetiaan dan penistaan!" tegas Inwon.


Yi Kyum dan Tuan Kim menemui Seja yang lagi berendam air hangat. Yi Kyum dan Tuan Kim saling melirik. Tuan Kim lantas minta maaf karena harus mengatakan sesuatu. Tapi

Seja langsung memotong kata-katanya dengan meminta handuknya. Seja kemudian tersenyum dan berkata, kalau ia sedikit demam karena bermain diluar pada hari yang dingin.

Seja : Inilah sebabnya istana menyenangkan. Kau bisa melakukan apa pun di sini.

Tuan Kim : Yang Mulia, ini bukan...

Yi Kyum : Mohon maaf, tapi tahukah Anda apa yang terjadi hari ini. Anda sudah menjadi Putra Mahkota, tapi posisi Anda di istana belum stabil. Maka..

Seja : Maka apa? Pernahkah kuminta saranmu mengenai masalah itu? Aku tidak memanggil kalian, tapi kalian datang kemari untuk memberikan saran yang tidak kuinginkan. Tentu saja. Kalian membantu dengan segala cara bahkan saat tidak kuminta. Kalian memang seperti ini.

Tuan Kim pun bingung harus bagaimana menghadapi Putra Mahkota yang satu ini.

Seja : Kalian sangat gegabah.

Seja lalu berdiri dan berniat melepas pakaiannya. Sontak Yi Kyum dan Tuan Kim langsung pergi.


Diluar, Tuan Kim marah-marah karena Seja mengabaikan mereka. Yi Kyum berkata, Seja seperti bayi yang tidak tahu apa-apa soal politik.

Yi Kyum : Kita harus mengajari dia dan membawa dia bersama kita.


Di dalam, wajah Seja mulai berubah serius.

Seja : Di sini, ada orang di luar?


Soron terkejut mendapat laporan soal pejabat dari kementerian pajak serta para bangsawan di wilayah Suna dan Anguk dibunuh. Bukan hanya itu, bangsawan dari wilayah Yangdeok juga ditemukan tewas.

"Wakil Menteri. Aku. sangat tidak nyaman soal ini. Kita absen di ceramah pagi hari ini." ucap Tuan Cho pada Tuan Lee.

Soron yang lain sontak marah mendengar ucapan Tuan Cho.

"Kau menyarankan kita mengakui Putra Mahkota?"

"Tidak, tapi Yang Mulia memercayakan Istana Putra Mahkota pada kita. Tapi jika kita, sebagai Soron, tidak menaati dia..."

Tapi pejabat Soron yang lain tetap tidak mau tunduk dan hormat pada Seja yang sekarang karena status ibu Seja hanyalah rakyat biasa.


Seja tiba-tiba muncul. Melihat Seja, mereka pun langsung menundukkan kepala mereka pada Seja.

Seja : Permisi, aku mendengar kalian. Kasus pembunuhan bangsawan. Kalian membicarakan kasus penting dan aku menerobos masuk.

Tuan Lee : Tapi kenapa Anda kemari?

"Bawa masuk." ucap Seja


Seketika, para pelayan masuk membawakan beberapa cangkir teh.

Seja : Ini hari pertamaku untuk ceramah pagi. Aku merasa akan bertemu kalian di sini. alih-alih di Sekolah Pangeran. Aku ingin menyapa kalian. Di ceramah pagi pertama, pantas menunjukkan rasa hormat pada guru seseorang dan pejabat. Aku di sini untuk menunjukkan rasa hormatku.


Seja lalu keluar dan Tuan Lee mengejar Seja.

Tuan Lee : Aku mengatakan ini untuk berjaga-jaga, Yang Mulia. Alasan aku tidak bisa mengakui Anda bukan karena Anda putra orang desa. Aku tidak tahu soal pejabat lain, tapi itulah yang kupikirkan. Itu ada dalam kompetensi dan bukan dalam darah. Itu harus diprioritaskan untuk kebaikan kerajaan.

Seja : Itu ada dalam kompetensi dan bukan dalam darah? Itu sebuah kejutan. Apa itu berarti kau akan mengakuiku  jika aku membuktikan diri sebagai material raja? Jika kubuktikan kualitasku sebagai raja untuk memerintah negara?

Tuan Lee : Putra Mahkota tidak bisa terlibat dalam pemerintahan. Dia bahkan tidak seharusnya membicarakan masalah itu juga. Semua masalah itu hak istimewa raja. Jadi, jika Putra Mahkota melakukannya, berarti dia mengincar tahta.  Maka itu aku tidak bisa memercayai Anda. Karena Anda mungkin mengincar tahta.

Seja : Itu yang kau maksud. Aku hanyalah musuh Soron. Jadi, jangan melakukan apa pun. Jangan melakukan apa pun, tapi buktikan diri sebagai material raja? Kau memberiku tugas yang mustahil sejak awal, Guru. Namun, jika aku adalah dirimu, aku tidak akan menganggap diriku sebagai musuh. Aku terlalu berbahaya untuk itu. Dan aku mungkin punya beberapa kesamaan denganmu.

Tuan Lee terdiam mendengar kata-kata Seja.


Sekarang, Tuan Lee sudah pergi dan Seja sedang memikirkan kata-katanya tadi.

Seja : Jangan melakukan apa pun. Tapi buktikan bahwa aku material raja? Benar, aku tidak boleh terburu-buru. Aku harus menunggu waktu yang tepat.


Tiba-tiba, terdengar pemberitahuan kalau petugas dari kantor pemeliharaan datang.

Dan si petugas adalah Ja Dong. Seja menanyakan perasaan Ja Dong bekerja di kantor pemeliharaan.

Ja Dong : Tidak begitu penting untukku. Selama aku bisa melayani Anda.

Seja : Yang selama ini kau ingini adalah memiliki nasi yang kematangan.

Ja Dong :  Ya, aku hanya ingin menempel pada Anda seperti itu.

Seja : Bagaimana dengan Min Jin Hoon dan Lee Tan?

Ja Dong : Tidak ada yang khusus. Min Jin Hoon mundur ke Hanseongbu. Dan Pangeran Mil Poong tetap menjaga sikap.


Seja pun penasaran apa rencana mereka. Ia yakin mereka tidak akan mungkin menyerah secepat itu

Ja Dong : Tapi mereka bisa apa sekarang?

Seja : Entahlah. Mungkin itu sama untuk mereka dan aku. Lagi pula, aku tidak ada kegiatan di istana. Aku harus keluar dan melihat situasi. Adakah alasan untuk itu?

Ja Dong : Apa yang ingin Anda lakukan?

Seja : Aku ingin menemui orang yang situasinya sama denganku. Aku ingin tahu apakah orang itu kesulitan seperti aku. Jika tidak aku akan iri.


Moon Soo dan petugas baru Saheonbu lainnya sedang diospek. Mereka dibagi ke dalam dua kelompok dan disuruh mengangkat gelondongan sebanyak 300 kali.

Tepat setelah hitungan ke-300, rekan-rekan Moon Soo yang sudah tidak kuat lagi, langsung menjatuhkan diri.


Petugas Joo pun muncul.

"Anggota baru kita sangat manis. Mari lanjut ke tingkat berikutnya."


Moon Soo dan teman-temannya disuruh menangkap ikan. Sepuluh ikan karper per orang.

Beberapa rekan Moon Soo ingin menyerah. Tapi tidak dengan Moon Soo.


A Bong : Mereka mungkin akan tetap di situ seharian.

Jang Dal : Beberapa orang harus tetap di sana selama empat hari.

A Bong : Tapi melihat tuan kita menjadi anggota baru benar-benar menyentuh.

Jang Dal : Betul? Kau juga bangga, bukan?

Yeo Ji : Tidak, ini tidak sedap dipandang.


Sekarang, Yeo Ji ngomel-ngomel sendirian karena perpeloncoan itu.

Petugas Yoon tiba-tiba datang membuat Yeo Ji terkejut. Yeo Ji langsung minta maaf karena menyadari kehadiran Petugas Yoon.

"Apa maksudmu? Ritual perpeloncoan rupanya. Jangan repot-repot. Aku setuju denganmu. Bukan hanya manusia, tapi mereka juga menyiksa karper yang malang. Itu juga kekerasan.

Sontak Yeo Ji bingung, Karper yang malang?

Petugas Yoon : Bukan hanya karper. Di musim dingin, itu lebih baik. Tapi di musim semi, mereka menginjak bunga yang cantik. Bunga-bunga itu pun pasti kesakitan.

Yeo Ji : Ya, itu masuk akal.

Petugas Yoon : Omong-omong, kudengar kau bisa bicara bahasa Mandarin. Benarkah itu?

Yeo Ji : Ya, aku bisa. Aku juga fasih berbahasa Jepang.


Petugas Yoon memberikan Yeo Ji sebuah tugas. Yeo Ji terkejut mendengar seseorang membeli orang-orang desa yang miskin dan budak dengan harga murah, dan menjual mereka secara ilegal kepada Dinasti Qing?

Petugas Yoon berkata, mereka memiki narasumber yang terpercaya.


Moon Soo terkejut mendengar cerita Yeo Ji soal perdagangan manusia itu.

Sementara, Jang Dal dan A Bong sibuk membersihkan lumpur di tubuh Moon Soo.

Yeo Ji : Ada perdagangan manusia ilegal. Mereka mengincar para gadis muda yang lemah.

Moon Soo : Apa? Gadis-gadis muda? Celaka. Itu memuakkan.

A Bong : Jadi, mereka butuh Yeo Ji untuk investigasi rahasia.

Yeo Ji : Ah Bong dan Jang Dal juga bergabung.

Moon Soo : Tidak, itu tidak bisa terjadi.


Sekarang, Moon Soo minta izin Petugas Yoon agar diizinkan bergabung menyelidiki kasus perdagangan manusia itu.

Moon Soo : Aku atasan mereka, jadi, mereka harus menuruti perintahku. Biarkan aku bergabung. Jika tidak, mereka tidak akan menangani kasus.

Petugas Yoon : Bagaimana dengan tugasmu sebagai inspektur baru? Malam ini, kau harus...

Moon Soo : Itu akan kulewatkan. Aku tidak datang kemari untuk mabuk dan menghibur atasanku.

Petugas Yoon : Dengarkan aku Kau tidak tahu betapa pentingnya mematuhi atasanmu di Saheonbu? Itu tidak hanya akan memengaruhi promosimu, tapi itu...

Dan, HACHIM! Moon Soo bersin dan ludahnya mengenai wajah Petugas Yoon.

Moon Soo : Maafkan aku. Aku menghabiskan hari menangkap ikan. Omong-omong, kau tadi dengar itu? Bahkan saat aku bersin, aku mengatakan Haechi, bukan Hachi. Aku tidak takut dinilai buruk oleh atasanku. Karena aku inspektur sejati yang bilang Haechi  bahkan saat aku bersin.

Bersambung ke part 3......

Maaf ya gaes, sinopsisnya sedikit telat. Soalnya sy juga lagi kurang enak badan.

No comments:

Post a Comment