Thursday, March 21, 2019

Haechi Ep 9 Part 3

Sebelumnya...

Kita lanjut lagi ya gaes...


Episode ini dibuka dengan Seja yang mengunjungi kediaman Jung Seok diteman Ja Dong. Seja pun heran tak melihat satu pun teman-temannya disana.

Seja masuk ke dalam dan terpana melihat Yeo Ji yang berdandan ala gadis China.

Seja langsung salah tingkah. Sementara Yeo Ji heran melihat Seja yang tiba-tiba datang. Seja pun beralasan, kalau dia hanya mampir.

Seja lalu bertanya, kenapa Yeo Ji berpakaian seperti itu.

Belum sempat Yeo Ji menjawab, Moon Soo, A Bong dan Jang Dal datang.


Senang melihat Seja, Moon Soo langsung menghambur memeluk Seja. Moon Soo juga menepuk2 punggung Seja dan mengaku sangat merindukan Seja.

Seja hanya bisa pasrah dipeluk Moon Soo seperti itu. Sedang yang lain tertawa.


Seja terkejut mendengar cerita Moon Soo soal perdagangan manusia yang melibatkan Dinasti Qing.

Moon Soo : Ya, negara kacau akibat perang dan ada wabah. Orang-orang yang kesulitan menjual anak mereka dan mereka dijual kepada Dinasti Qing.

Seja : Dunia sekarang adalah tempat yang memberikan harga pada manusia. Tapi aku tidak tahu manusia dijual kepada Dinasti Qing.


Yeo Ji : Jika ada perdagangan ilegal yang dilakukan oleh Qing, kami akan menangkap mereka, Yang Mulia.

Seja : Ada yang bisa kubantu? Mungkin berbahaya jika hanya kalian sebagai tim.

Moon Soo : Tidak perlu, Yang Mulia. Andalah yang berada dalam bahaya.

Yeo Ji : Ya, Anda tidak boleh terlibat dalam ini.

Seja menatap Yeo Ji dan kembali salah tingkah, sampai ia harus mengalihkan pandangannya lagi dari Yeo Ji.

Seja : Namun, ini satu-satunya cara? Maksudku adalah Yeo Ji harus mengenakan pakaian semacam itu?

Yeo Ji, A Bong, Jang Dal dan Moon Soo bingung dengan maksud Seja. Tapi tak lama, Moon Soo menyadari maksud Seja. Ia fikir, Yeo Ji yang tak nyaman berpakaian seperti itu.

Moon Soo pun berkata, hanya Yeo Ji yang fasih bicara Mandarin. Yeo Ji pun meyakinkan Seja kalau dia tidak apa-apa.

Seja pun kesal karena mereka tidak mengerti maksudnya.


A Bong heran melihat Seja terganggu dengan pakaian Yeo Ji. Tak lama ia sadar, kenapa Seja merasa tergganggu tapi ia buru-buru menyangkal  pikirannya dan meyakinkan dirinya berulang-ulang kalau apa yang ia pikirkan itu salah.

Seja pun mengajak mereka memikirkan cara lain agar Yeo Ji tidak harus berpakaian seperti itu.


Sekarang, Moon Soo dan Seja berdiri diluar. Di tengah pasar.

Moon Soo :  Untuk memata-matai Qing, dia harus mengenakan pakaian Jepang, bukan Tiongkok. Itulah maksud Anda?

Seja : Benar. Kenapa orang Tionghoa membicarakan masalah rahasia saat orang Tionghoa lain mendengarkan?

Moon Soo : Maka Anda bilang dia tidak bisa mengenakan pakaian Tiongkok. Pakaian Jepang akan lebih manjur. Anda hebat. Bagaimana Anda memikirkan itu?

Seja : Itulah maksudku. Aku terkejut bahwa aku juga memikirkan itu.


Tak lama kemudian, Yeo Ji keluar dengan penampilan ala gadis Jepang. Yeo Ji merasa sedikit aneh dengan pakaiannya.

Melihat Yeo Ji, kedua pria itu memandanginya tanpa berkedip.

Moon Soo berkata, bahwa Yeo Ji kini terlihat seperti wanita sungguhan.

Yeo Ji : Yang Mulia, benarkah itu? Apakah aku tampak seperti wanita?

Seja yang salting tidak berani menatap Yeo Ji.


Yeo Ji pun mendekati Seja dan bertanya, apa dia mirip seperti gadis sungguhan.

"Baiklah. Tentu saja kau seorang wanita. Kau bukan pria. Jaga dirimu. Jika terluka seperti kali terakhir... mengerti?" sewot Seja.

Seja juga meneriaki Moon Soo dan meminta Moon Soo menjaga Yeo Ji.


Setelah itu, Seja yang salting beranjak pergi. Moon Soo dan Yeo Ji pun bingung melihat tingkah Seja.

Seja memikirkan pertanyaan Yeo Ji tadi..

"Apa aku seperti gadis sungguhan? Bagaimana dia bisa bertanya seperti itu?" ucapnya heran.

Seja lalu kembali menatap ke arah Yeo Ji.

"Haruskah aku kembali ke istana seperti ini dan meninggalkan mereka? Seorang diri?" tanyanya.


Dal Moon menemui Goon Tae dan si pendongeng. Ia menanyakan soal gadis yang mereka bawa itu.

"Dokter ada di sini. Dia akan baik-baik saja." jawab Goon Tae.

"Bom sedang merawat dia. Jangan khawatir." ucap pendongeng.

"Bom adalah pelayan perempuan yang diusir dari rumah Perdana Menteri?" tanya Dal Moon.

"Ya, dia dipukuli dan sekarat, dan kami menerima dia." jawab Goon Tae.

Dal Moon lantas memperhatikan cara berpakaian Goon Tae dan si pendongeng yang agak berbeda hari itu.

Goon Tae : Kami akan ke rumah bordil baru di Nakseongbang. Untuk mendapatkan informasi.

Dal Moon : Kudengar pemiliknya dari utara.

Pendongeng : Ya, dia pebisnis yang baik. Bukan hanya bangsawan, tapi orang-orang dari Qing dan Jepang akan berkumpul di sana. Kami akan mendapatkan informasi.

Dal Moon : Berhati-hatilah. Jangan memicu masalah yang tidak diperlukan.


Di dalam, Bom sedang merawat gadis yang merengek minta pertolongan Yoon Young semalam.

"Kudengar dia hampir dijual ke Qing. Surga pasti telah menolong dia, seperti aku waktu itu. Karena dia ada di sini sekarang." ucap Bom.


Bom lalu berdiri dan berjalan menuju air. Melihat Bom jalan terpincang-pincang, Dal Moon kaget.

Bom : Aku dipukuli oleh majikan sebelumnya, tapi aku tidak terlalu pincang.

Dal Moon : Cheon Yoon Young. Apakah dia majikanmu?


Bom pun teringat saat Yoon Young memukulinya terakhir kali di malam setelah Yeoning terpilih menjadi Seja.

Dal Moon : Dia adalah selir Perdana Menteri. Kini hanya dia yang memihak Pangeran Mil Poong.

Bom terkejut Yoon Young mengenal majikannya.


Gyeongjong memanggil Tuan Lee. Ia menyuruh Tuan Lee menyelidiki kasus pembunuhan di ruang bangsawan. Ia juga mengatakan, hal yang dicurigainya terkait pembunuhan itu.

Tuan Lee mengerti.

Setelah itu Gyeongjong membahas soal Seja.

Gyeongjong : Kupikir setidaknya kau akan membantu Putra Mahkota.

Tuan Lee : Mohon maaf, Yang Mulia. Namun, aku yakin Putra Mahkota sudah tahu diri melalui insiden hari ini.

Gyeongjong : Maka kau bertahan untuk menjadi gurunya? Untuk mengasingkan Putra Mahkota?

Tuan Lee : Kita tidak bisa memercayai Putra Mahkota, Yang Mulia. Perbedaan usia Yang Mulia dan Putra Mahkota hanya enam tahun. Jika Putra Mahkota salah paham...

Gyeongjong : Kau pikir dia berusaha membunuhku?

Tuan Lee langsung diam, seolah membenarkan perkataan Gyeongjong.

Gyeongjong : Baiklah. Aku juga tidak memercayai dia. Tidak diragukan bahwa dia ambisius. Bahkan ambisi yang sudah mati bisa dibangkitkan dalam istana. Bagaimana aku tahu itu? Itulah yang terjadi padaku. Aku mengatakan itu terjadi padaku! Maka aku tidak bisa memercayai ambisi Putra Mahkota. Tapi dia setidaknya pantas dapat kesempatan. Bukankah dia seharusnya diberi kesempatan?


Byung Joo dan anak buahnya membahas kasus pembunuhan bangsawan. Anak buahnya memberitahu, bahwa Saheonbu diminta untuk bekerja sama.

"Mengenai upacara perpeloncoan untuk inspektur baru... Kau juga akan pergi ke sana, bukan? Rumah bordil yang baru...

"Silahkan pergi duluan. Ada dokumen yang harus kubaca dahulu." ucap Byung Joo memotong kata-kata bawahannya.

Setelah bawahannya pergi, wajah Byung Joo langsung berubah licik.


Byung Joo lantas menemui Tuan Min.

"Ini dokumen yang kau minta dari Saheonbu. Kau menjadi Kepala Hanseongbu. Kenapa kau mau datang kemari padahal aku di Saheonbu?" tanya Byung Joo.

"Kau diusir dari pusat kekuasaan. Kenapa kau turut campur dalam urusanku?  Itu yang ingin kau katakan?" jawab Tuan Min.

"Aku adalah inspektur eksekutif. Kau tidak bisa terus menyuruhku datang dan pergi sesukamu." tegas Byung Joo.

"Selalu ada orang yang berpikir tidak akan ada yang berubah. Pasang surut bahkan sedang berubah saat ini." jawab Tuan Min.

"Kupikir aku juga tahu bagaimana menentukan pasang surut. Jika tidak, mana bisa aku bisa naik ke posisiku sekarang?" ucap Byung Joo.


Byung Joo lantas pamit dan beranjak pergi. Tapi kata-kata Tuan Min menghentikan langkahnya.

Tuan Min : Kasus ini. Para bangsawan dibunuh. Kurasa kasus ini akan mengembalikan aku ke kantor pemerintahan. Lantas kau akan tetap berpikiran sama?

Byung Joo : Apa maksudmu?

Tuan Min : Kau tidak tahu aku juga pernah menjadi Inspektur Kepala? Maksudku aku juga suka menginvestigasi kasus. Kau belum sadar bahkan setelah melihat catatannya? Ini bukan kejahatan sederhana. Ini pembunuhan terencana.

Byung Joo terkejut mendengarnya.

Bersambung ke part 4.....

No comments:

Post a Comment