Wednesday, April 24, 2019

Haechi Ep 13 Part 3

Sebelumnya...


Dal Moon menemui Goon Tae dan si pria pendongeng. Goon Tae dan si pria pendongeng melapor, sesuatu terjadi di istana.

Goon Tae lalu menunjukkan petisi itu. Sontak, Dal Moon kaget membacanya dan menyuruh Goon Tae untuk segera memberikan petisi itu pada Seja.


Seja kaget membaca petisi itu. Ia tidak habis pikir ada orang yang berani menulis petisi macam itu.

Seja tanya, siapa yang menulis surat celaka itu.

Ja Dong : Maaf, tapi Dal Moon tidak bisa mengetahui siapa penulisnya.

Seja lalu pergi.


Cho Hong tanya apa maksud surat itu dan kenapa Seja langsung pucat. Ja Dong pun menjelaskan artinya bahwa ada orang yang ingin Seja memerintah negara atas nama Raja dan Seja bisa dituding mengkhianati Raja karena petisi ini.

Cho Hong membela Seja. Ia bilang, bukan Seja yang menulis.

"Tidak. Itu persisnya bagaimana semua bekerja di dalam istana. Bahkan jika Putra Mahkota tidak ada hubungannya dengan itu, orang-orang bisa membuat itu tampak seperti dialah dalangnya." jawab Ja Dong.

Cho Hong langsung cemas.


Tuan Min juga kaget membaca petisi itu.

Tak lama kemudian, Seja datang dengan wajah marah. Seja menuding Tuan Min lah dalang dibalik petisi itu.

Tuan Min menyuruh kasimnya pergi. Setelah kasimnya pergi, ia pun menjelaskan bahwa ia bukan dalangnya. Tuan Min menunjukkan surat bandingnya.

"Anda tahu dia siapa? Dia juseo (senior pangkat 7) di Seungjeongwon. Jika aku dalangnya, untuk apa aku melihat salinan banding? Bukan aku, Yang Mulia. Aku pun tidak tahu siapa dalang di balik insiden ini."


Dal Moon yang sudah tahu Mil Poong lah dalang dibalik petisi itu, langsung menemui Yoon Young.

Dal Moon : Aku mengikuti Pangeran Mil Poong selama ini. Aku tahu dia sedang memojokkan Istana Putra Mahkota. Benarkah itu? Menggunakan pemerintahan perwakilan untuk melengserkan Putra Mahkota dengan itu?

Yoon Young balik tanya, kenapa Dal Moon tidak memberitahu Seja soal ini.

Dal Moon : Godaan. Aku mungkin telah terpancing lagi dan kehilangan akal sehat.

*Dal Moon mulai menancapkan taringnya ke Mil Poong gengs...


Byung Joo keluar dari Saheonbu dengan wajah lemas.

Ji Gwang menjemput Byung Joo.

"Dilihat dari wajahmu, kau belum menemukan cara untuk bertahan hidup." ucap Ji Gwang.


Gyeongjong dengan wajah tegas menyuruh Tuan Lee melaksanakan perintahnya.


Dal Moon pada Yoon Young.

"Terkadang, karena keinginan. Dan juga rasa takut. Manusia selalu tergoda meskipun tahu mereka salah."

Yoon Young lalu memegang tangan Dal Moon.

"Ini juga demi kebaikanmu. Aku bersungguh-sungguh. Putra Mahkota tidak pantas menjadi raja. Yang bisa membuatmu hidup adalah Memihak Pangeran Mil Poong. Beruntung, Putra Mahkota memercayaimu. Jadi, kau bisa memanfaatkan...

"Ya, Putra Mahkota selalu memercayai semua ucapanku. Apa aku akhirnya bisa memenuhi keinginanmu?" balas Dal Moon.

Pas awal liat scene ini, sy juga salah paham, mikir Dal Moon belok beneran, taunya cuma pura2.....


Seja meninggalkan kantor Tuan Min sambil memikirkan siapa dalang dibalik petisi itu.

"Bukan Min Jin Hoon. Dia pun sama terkejutnya seperti aku." ucapnya.

Lalu ia teringat kata2 Dal Moon tentang Mil Poong yang hanya minum2 di bordil dan tidak bersikap aneh.

"Dal Moon. Dia tidak mungkin salah. Tapi jika bukan Pangeran Mil Poong, siapa lagi? Siapa yang berani melakukan ini?"


A Bong berlarian di pasar dengan wajah panic. Ia bahkan sampe menabrak orang2 dan jatuh.


Di Saheonbu, Yeo Ji menunjukkan daftar2 orang yang telah dimakzulkan Byung Joo pada Moon Soo. Moon Soo tanya, apa kesamaan mereka.

Yeo Ji : Mereka semua faksi Soron. Kebanyakan dari mereka dimakzulkan karena dijebak.

Jang Dal : Ini berbau korupsi. Kurasa ini lebih dari cukup untuk membuat Wi Byung Joo dihukum.

Moon Soo : Tidak. Aku yakin dia menerima suap. Kita juga harus mengungkap itu.

Yeo Ji : Kau mau dia tidak bisa menjadi pejabat lagi, bukan?

Jang Dal : Tentu saja. Kita harus menjatuhkan bedebah seperti dia.


A Bong datang, memberitahu Moon Soo, Yeo Ji dan Jang Dal soal petisi itu. Ia bicara dengan napas tersengal2.

A Bong : Istana... Pemerintahan perwakilan... Putra Mahkota...

Yeo Ji : Apa maksudmu, A Bong-ah?

Moon Soo : Ada apa dengan Putra Mahkota?


Yi Gyum dan Tuan Kim berlarian ke arah Seja. Seja tanya, apa mereka benar2 tidak tahu soal petisi itu.

Yi Gyum : Pemerintahan perwakilan? Posisi Anda dan grup kami belum memiliki kuasa. Bagaimana mungkin kami melakukan itu? Kami sungguh mendukung Anda menjadi Putra Mahkota, tapi Anda bahkan tidak menyadari loyalitas kami.

Tuan Kim : Dia benar. Kami tidak bersalah. Sejujurnya, aku agak menyesal mendukung Anda.

Yi Gyum : Daegam! Jaga ucapanmu.


Ja Dong datang, memberitahu Soron tengah beraksi. Seja kaget.


Noron melihat apa yang kini dilakukan Soron.


Soron tengah berkumpul membahas petisi itu.

Mereka ingin Seja diberi peringatan. Mereka berkata, Seja harus tahu apa yang akan terjadi jika berniat merebut tahta Raja.

Tuan Jo : Tentu saja. Raja pun berpikir demikian.


Seja menemui Gyeongjong. Ia minta Gyeongjong untuk mengabaikan manipulasi semacam ini.

Tapi Gyeongjong yang sudah terhasut, tidak berpikir kalau petisi itu manipulasi.

Gyeongjong : Menurutku, ini masuk akal. Kenyataannya, kau mendapatkan kepercayaan rakyat dan perjamuan itu. Dan kau tidak mencoba mengakhiri korupsi tiga agensi? Justru kau yang melakukan itu, bukan aku, Sang Raja.


Seja berusaha menjelaskan, kalau itu tidak benar tapi Gyeongjong tidak mau mendengar.

Gyeongjong lalu berkata, akan membiarkan Seja menjalankan pemerintahan perwakilan dan memberikan kuasa atas kerajaannya.


Gyeongjong lalu memerintahkan kasimnya membawa masuk sebuah kursi.

"Sekarang, duduklah di sini, dan jalankan pemerintahan, Putra Mahkota." ucap Gyeongjong, membuat Seja terdiam.

"Kini aku akan mundur seperti yang semua orang inginkan." tambah Gyeongjong.


Moon Soo dan Dal Moon kini membahas surat petisi itu. Moon Soo marah Seja dipojokkan seperti ini. Dal Moon berkata, bahwa Gyeongjong selalu hidup dengan rasa takut untuk dimakzulkan jadi wajar kalau Gyeongjong mencurigai Seja.

Moon Soo : Tapi Putra Mahkota bukan orang semacam itu.

Dal Moon : Kau tahu kata-kata semacam itu tidaklah berarti di istana ini.

Moon Soo kesal. Ia lalu tanya, apa yang harus dilakukan Seja sekarang.

Dal Moon : Kurasa dia terpaksa harus memohon ampun. Mohon batalkan pemerintahan perwakilan. Dia terpaksa harus meluruskan kesalahpahaman sambil memohon ampun.

Moon Soo marah, ritual pertobatan? Itukah maksudmu? Apa kesalahan dia? Kenapa Putra Mahkota harus berlutut di depan semua orang dan meminta ampun?


Di istananya, Seja memikirkan sesuatu. Lalu, Seja mulai menuliskan sesuatu.


Dan sekarang, Seja memulai ritual pertobatan itu. Ia melepaskan jubahnya dan berlutut di depan istana Gyeongjong dengan wajah tegar.


Ja Dong dan Kasim Gyeongjong kasihan melihatnya.


Ritual pertobatan Seja itu sampai ke telinga Noron. Tuan Min yakin Seja terpaksa melakukannya.

"Kini kecurigaan Raja makin kuat. Bagaimana lagi cara Putra Mahkota mengatasi situasi ini?" ucapnya.

"Kita harus bagaimana? Perlukah kita menyingkirkan...

"Tidak. Kali ini, kita sebaiknya membiarkan Soron menangani ini. Kita tidak tahu siapa dalangnya. Kita tidak boleh gegabah sebelum menemukan dalangnya. Raja dan Soron akan menyerang Putra Mahkota meskipun tidak sepenuhnya menghancurkan dia."


Tuan Lee dan Tuan Cho melihat Seja.

Seja : Kau juga berpikir aku mungkin menginginkan takhta dan membahayakan Raja? Seperti yang kau katakan kepadaku saat kali pertama kita bertemu? Itu sebabnya aku tidak bisa memercayaimu. Karena kau mungkin saja akan merebut takhta.


Tuan Lee pun ingat saat ia mengatakan hal itu pada Seja.


Tuan Lee dan Tuan Cho meninggalkan Seja. Di depan gerbang, Tuan Lee mengingat kata2 Seja sebelumnya.

"Apa yang membuatnya begitu menderita? Apa yang membuatnya memegang pisau itu? Sebelum menuduh mereka melakukan kejahatan, aku ingin mencari tahu itu dahulu. Bolehkah aku menyampaikan pendapatku? Peluang langka ini harus digunakan untuk mewujudkan keinginan Raja."


Seja juga ingat kata2 Tuan Lee.

"Aku tidak bisa mengakuimu bukan karena kau anak seorang petani. Ini diukur dari kompetensi, bukan garis keturunan. Itu yang harus diutamakan demi kebaikan kerajaan ini."

Seja bertanya2, beginikah akhirnya? Apa sungguh tidak ada yang bisa kulakukan?


Yeo Ji menyusup ke istana memakai baju dayang. Ia menemui Cho Hong dan tanya yang terjadi. Yeo Ji menangis dan minta izin melihat kondisi Seja meski hanya dari jauh.


Tuan Cho mengajak Tuan Lee melindungi Seja. Ia berkata, mereka bukan membantah perintah Raja tapi mereka adalah guru Seja. Jika bukan mereka, siapa lagi yang akan melindungi Seja.


Tuan Lee menemui Inwon. Ia minta Inwon membujuk Gyeongjong. Inwon menjelaskan, bahwa Gyeongjong bukan orang yang kejam. Gyeongjong hanya  sensitif karena kekacauan di istana.

Tuan Lee : Benar. Kami tahu itu, Ibu Suri. Tapi sekarang bukan saatnya bersikap sensitif. Mereka akan makin giat mengadu domba Raja dan Putra Mahkota. Kita harus menghentikan mereka meraih keinginan mereka demi menjaga silsilah keluarga kerajaan.


Hujan turun sangat deras. Moon Soo, A Bong dan Jang Dal mencemaskan Seja.


Begitu pun dengan Dal Moon. Goon Tae membujuk Dal Moon agar menolong Seja tapi Dal Moon diam saja.


Seja mulai menggigil kedinginan.


Tuan Lee kasihan melihatnya.


Inwon sedih melihatnya.

Bersambung ke part 4................

No comments:

Post a Comment