Thursday, April 25, 2019

Haechi Ep 15 Part 1

Sebelumnya...


Tuan Min menatap ke arah tahta.


Lalu diperlihatkan ketika Seja membujuk Tuan Min agar memihak padanya sebentar.

Seja : Dekati musuhmu. Bagaimana kalau kita bekerja  sama secara politik? Seperti Periode Negara Perang. Seperti bagaimana musuh lama ikut  naik ke perahu yang sama, kurasa kita bisa bekerja sama jika tujuan kita sama. Bukankah itu politik yang begitu kau dambakan?


Besoknya, Gyeongjong tiba di lembaga peradilan. Ia menatap Seja dengan tatapan waspada.

Tuan Min menatap Gyeongjong. Ia teringat kata-kata Seja semalam yang coba membujuknya.

Seja : Kau boleh membunuhku, tapi menyebabkan kekacauan dengan pengkhianatan palsu bukanlah yang kau inginkan. Itulah dirimu, Min Jin Hoon. Setidaknya kau kurang lebih memahami politik.

Tuan Min lalu berkata dalam hatinya.

"Ada kalanya aku memikirkan seperti itulah politik. Jika pejabat pemerintahan dan raja berusaha untuk tetap pada tugas dan tanggung jawab mereka, kupikir istana dan negara akan tetap aman dan terlindungi. Namun, begitu kau menghabiskan waktu di dunia ini, tidak butuh waktu lama untuk menyadari ini. Hal seperti itu hanya fantasi."


Tuan Min lantas mengingat masa lalunya saat ia dan orang2nya dihukum atas tuduhan pengkhianatan.


Lalu, Ratu Inhyeon dimakzulkan dan Jang Hee Bin diangkat menjadi Ratu.


Tuan Min lalu menangis melihat kakak laki2nya akan dihukum mati.

Ia memejamkan mata ketika kepala kakak laki2nya dipenggal.


Kemudian, ditunjukkan bagaimana Tuan Min menatap kepala kakaknya yang digantung dengan penuh dendam.

Flashback end...

Tuan Min : Kehilangan kekuasaan berarti mati. Orang yang menjebak Ratu Inhyeon, kakakku, dan memakzulkan dia adalah ibu dari Yang Mulia, Jang Hee Bin. Dan orang yang memojokkan Jang Hee Bin, sampai mati adalah ibunya Putra Mahkota, Choe Suk Bin. Politik itu seperti ini. Politik bukan soal keyakinan. Ini soal darah. Ini lingkaran kebencian dan balas dendam.


Gyeongjong meminta Seja mengaku. Ia berjanji akan mengampuni Seja jika Seja mengaku salah tapi Seja yang memang tidak bersalah, tidak mengakui apapun.


Mil Poong tersenyum puas melihatnya.

Gyeongjong tambah marah.

"Maka aku tidak punya pilihan. Aku sendiri yang harus menuntutmu atas dosa-dosamu. Para pejabat harus memulai. Di sini, aku akan menginterogasi Putra Mahkota dan para kriminal lainnya sendiri!"


Tuan Min akhirnya angkat bicara.

"Mohon maaf, Yang Mulia. Tapi bolehkah aku, Min Jin Hoon,  memberi tahu Anda sesuatu sebelum Anda memulai interogasi?"


Tuan Min lalu maju ke depan.

"Sayangnya, aku harus mengatakan bahwa aku tidak bisa menyetujui... Aku tidak bisa menyetujui interogasi hari ini. Karena Putra Mahkota tidak bersalah. Aku sudah lama mengetahui soal itu, Yang Mulia."

Seja pun kaget Tuan Min membelanya.


Tuan Jo marah.

Tuan Min : Juga, aku yakin bukan hanya aku yang mengetahui itu. Bukankah Anda pun tahu, Yang Mulia? Bukankah kita pernah melihat ini sebelumnya? Bukankah ini sudah beberapa kali terulang? Tanpa bukti yang jelas selain kecurigaan, kerajaan ini telah melenyapkan musuh politik yang lama seperti ini! Departemen Keadilan dan hakim sementara, mereka tidak bisa menemukan bukti pengkhianatan Putra Mahkota. Mereka bahkan tidak mendapatkan pengakuan dari mereka yang terkait. Tapi bagaimana bisa Anda membuka Lembaga Persidangan Khusus dengan keadaan tidak pasti seperti itu? Ini tidak adil, Yang Mulia. Tidak ada bukti satu pun. Aku tidak bisa lagi melihat pertumpahan darah di sini, jika tidak ada bukti sama sekali, Yang Mulia.

*Jd gaes, alasan Tuan Min ngebela Seja itu karena Tuan Min pernah berada di posisi Seja. Kakak perempuannya, Ratu Inhyeon, dimakzulkan. Dan kakak laki2nya dihukum mati atas tuduhan pengkhianatan yang tidak mereka lakukan.

Lanjut...


Mil Poong kesal.


-Episode 15, Pertarungan Penentu 2-


Tuan Jo memarahi Tuan Min.

Tuan Min : Aku maju untuk mengehentikannya, tapi Yang Mulia memutuskan berhenti. Bukankah itu karena Yang Mulia tahu ini keterlaluan? Tentu, kau juga tahu soal itu.

Tuan Jo : Kau benar. Bau tidak sedap yang kau sebutkan, aku juga merasakan itu. Putra Mahkota mungkin tidak bersalah. Namun, harga diri istana dipertaruhkan. Ada yang harus kita korbankan untuk melindungi itu. Karena kita tidak bisa memperkuat kekuasaan Raja tanpa mengorbankan Putra Mahkota.


Lalu Seja masuk. Sontak, Tuan Jo kaget dan langsung diam.

Seja menatap Tuan Min. Tuan Min menggeleng, seolah minta Seja tidak melakukan apapun.


Gyeongjong tanya ke Tuan Lee dan Tuan Cho, apa ia salah sudah menghukum Seja?

"Kalian juga berpikir demikian? Kalian pikir aku memojokkan Putra Mahkota dan menyiksa dia padahal dia tidak bersalah?"

Tuan Lee dan Tuan Cho terdiam.


Inwon terkejut saat pelayannya melapor, bahwa persidangan dihentikan Tuan Min.

Kepala Pelayan lalu mengatakan, Seja dapat kesempatan untuk membuktikan ketidakbersalahannya.

Sontak, Inwon dan Seo senang mendengarnya.

Seo berkata, itu berkat Inwon juga.


Tapi Ratu terlihat kesal. Ia langsung pamit setelah mendengar hal itu.


Seja bicara berdua dengan Tuan Min.

"Itu pertaruhan di tepi tebing. Aku tidak pernah mengira kau akan memihakku." ucap Seja.

"Aku enggan merendahkan harga diri istana dengan rencana kasar. Itu tidak pernah dimaksudkan untuk membantumu." jawab Tuan Min.

"Tapi aku tetap harus berterima kasih." ucap Seja.

"Kurasa kau harus menarik itu kembali. Jalanku dan jalanmu tidak akan pernah bersatu." jawab Tuan Min.

"Tentu. Aku juga tahu itu." ucap Seja.

"Namun, kita sejalan sekarang. Cobalah mengatasi gelombang ini. Setelah itu, seperti yang kau katakan, aku akan berusaha menghancurkanmu lagi." jawab Tuan Min.


Keluar dari ruangan Tuan Min, Seja malah ketemu Byung Joo.

Seja : Kau tampak terkejut.

Byung Joo : Tentu saja. Kenapa tidak? Interogasimu mungkin telah dihentikan, tapi masih ada orang yang sudah berkhianat. Itu akan berakhir saat mereka mengaku.

Seja : Tentu saja. Tunggu apa lagi? Buatlah mereka mengaku. Haruskah kita lihat bagaimana hasilnya? Akankah kau mampu melakukannya atau akankah aku mampu melakukannya? Berusahalah lebih keras, Inspektur Eksekutif Wi. Hidupmu bergantung pada itu.

Seja kemudian pergi.


Cho Hong tak rela Seja mengambil risiko lagi. Cho Hong bilang, interogasi sudah dihentikan.

Seja : Lembaga Persidangan Khusus masih terbuka. Aku harus mencari tahu di mana jebakan pengkhianatan ini dimulai.

Cho Hong cemas, untuk apa kau melakukannya sendiri?

Ja Dong : Itu mungkin karena dia ingin menangkap Pangeran Mil Poong. Dan mereka yang memancing Yang Mulia demi ketamakan mereka sendiri. Mereka harus dihukum.

Seja : Pada akhirnya, mereka akan masuk ke liang kubur. Pangeran Mil Poong dan Wi Byung Joo. Kali ini aku tidak akan membiarkan mereka lolos.


Moon Soo, Jang Dal dan A Bong sedang membahas kematian Jung Seok. Mereka sudah memegang bukti Byung Joo lah yang membunuh Jung Seok.

Jang Dal : Jipyeong Oh mengaku bahwa dia disuruh oleh Wi Byung Joo..

Moon Soo : Bahkan Kang Su Chang yang saat itu bertugas mengatakan Wi Byung Joo ada di Saheonbu hari itu.

A Bong : Karena itu Saheonbu mengusir Kang Su Chang agar mereka tidak akan ketahuan.

Moon Soo : Kita akan menangkap Wi Byung Joo dengan bukti ini. Aku tahu dialah yang membunuh Jung Seok.


Seja lalu datang.

Moon Soo : Yang Mulia, aku sudah mendengar kabar.  Dia dilarang meninggalkan negara.

Seja : Kalau begitu, jangan membuang waktu. Sebelum para tahanan menyerah pada siksaan dan bersaksi dusta, kita harus mencari tahu siapa dalang insiden ini.

Moon Soo : Ya, kami akan menangkap Wi Byung Joo, Yang Mulia. Yeo Ji juga sedang mencari.

Seja : Lantas aku harus menemui Dal Moon.

Moon Soo, Dal Moon?

Seja : Pasti ada alasan dia meninggalkan pesan pada selebaran. Dia mungkin diam-diam menyelidiki Pangeran Mil Poong.

Moon Soo : Itu benar, tapi bukankah akan ada alasan jika Dal Moon berusaha menipu kita? Jika dia tidak ingin Pangeran Mil Poong curiga dan menipu dia dengan sempurna...

Seja : Karena itu aku harus membantu Dal Moon. Untuk memperhalus rencananya. Kita temui Dal Moon sekarang.


Seorang dayang istana memberikan pesan rahasia pada seorang pria.


Dan pesan itu diteruskan ke Dal Moon.

Dal Moon : Semua ini yang kau dapat mengenai situasi istana?

Si pendongeng : Semua itu yang kudapat dari istana, istana Ratu, Departemen Pengadilan, dan Lembaga Pengadilan Khusus.

Dal Moon : Situasinya mendesak. Dapatkan informasi lagi setiap jam.

Si pendongeng : Omong-omong, aku belum melihat Goon Tae.

Dal Moon : Aku memerintahkan sesuatu padanya. Tidak usah khawatir. Pergilah.

Si pendongeng mengerti dan pergi.


Setelah itu, Dal Moon ingat kata2 Goon Tae soal kekayaan Mil Poong.

Goon Tae : Aku menemukannya. Aku melacak kekayaan Pangeran Mil Poong. Seseorang menerima tanah dan dua rumah dari dia belum lama ini.

Dal Moon : Itu mungkin untuk melakukan tugas dari Pangeran Mil Poong. Tetap awasi dia dari dekat.

Bersambung ke part 2......

No comments:

Post a Comment