Friday, April 26, 2019

Haechi Ep 16 Part 2

Sebelumnya....


Seja menemui Mil Poong.


Dan Moon Soo meinterogasi Byung Joo. Tapi Byung Joo tetap saja menolak mengakui semua kejahatannya.

Karena Byung Joo tak mau bicara, Moon Soo memutuskan pergi.

"Akankah ada bedanya jika itu kau? Jika kau mengalami hal ini... Opsir yang kuat dan sah? Pikirmu sampai kapan kau bisa tetap seperti itu? Pikirmu kau akan tetap bisa seperti itu jika Putra Mahkota jatuh dan kau kehilangan koneksi?"

"Koneksi?" Moon Soo lalu tersenyum sinis.

Byung Joo : Sampai akhir... kau tidak pernah sempat menunjukkan titik terendahmu. Jika aku diakui atas kemampuanku, aku tidak akan sampai sejauh ini. Aku akan melakukannya sepertimu.


Seja menginterogasi Mil Poong, ditemani Tuan Lee.

Seja : Pangeran Yeon Ryeong, orang yang membunuh Lee Hwon pasti kau Pangeran Mil Poong. Dia mengambil takhta darimu dan kau ingin balas dendam.

Mil Poong : Aku? Tidak. Itu tidak benar.

Mil Poong lalu menirukan ucapan yang ia ucapkan saat membunuh Hwon.

Mil Poong : Ingat, kau sekarat gara-gara kakakmu.

Mil Poong lalu menatap Seja.

"Orang yang membunuh Pangeran Yeon Ryeong adalah kau  Jika kau tidak menggangguku, Lee Hwon yang malang tidak akan mati."


Seja emosi, lalu mencengkram Mil Poong.

"Jeoha!" Tuan Lee berusaha menenangkan Seja.

Mil Poong : Kenapa kau dan bukan aku? Apa bedanya aku dari dirimu? Jika petani seperti dirimu bisa mengambil takhta, kenapa aku tidak bisa?

Seja : Apa pun yang terjadi, akan kubuat dirimu membayar atas kejahatanmu. Apa pun yang terjadi. Aku tidak akan sungkan.

Mil Poong : Tolong lakukanlah itu. Aku akan menantikannya.


Tuan Lee : Tenanglah, Yang Mulia. Pangeran Mil Poong akan diadili oleh hukum kerajaan.

Seja akhirnya melepaskan Mil Poong dan beranjak pergi tapi Mil Poong malah tertawa. Tuan Lee kesal.

Tuan Lee : Kenapa Putra Mahkota dan bukan kau?  Kau sungguh ingin tahu? Jelas karena kau  membuat keputusan yang berbeda. Kau dan Putra Mahkota. Siapa pun itu, dirimu sekarang ini adalah hasil dari keputusan yang kau buat. Jika kau tidak memahami perkataanku, kau masih putus asa.


Diluar, Tuan Lee minta maaf atas kelancangannya ikut bicara pada Mil Poong tadi.

Seja tanya, apa maksud Tuan Lee dengan pilihan yang berbeda.

Tuan Lee tersenyum.

"Anda sungguh tidak mengerti? Sampai Anda mencapai posisi Anda yang sekarang, Anda selalu memilih demi kepentingan yang lebih besar daripada demi diri sendiri. Dan itu salah satu alasan kenapa Cho Hyun Myung dan aku memilih Anda sebagai raja masa depan." jawab Tuan Lee.

Seja terkejut. Lalu menatap Tuan Lee dan Tuan Cho secara bergantian.

Tuan Cho : Anda dibebaskan dari semua tuduhan. Selanjutnya kami yang mengurus. Tolong kembalilah dengan yakin ke Istana Putra Mahkota.


Seja akhirnya kembali ke istananya dengan wajah berseri.

Ja Dong dan Cho Hong menyambutnya dengan penuh senyuman.

*Aneh, saat2 kek skrng, si Seo yg notabene nya istri pertama Geum, malah gk ada....


Dua kubu bertemu di depan balai istana.

Kubu Noron yang dipimpin Tuan Min dan Kubu Soron yang dipimpin Tuan Jo.


Gyeongjong lalu memasuki balai istana. Disana, dua kubu sudah menunggunya.


Gyeongjong membacakan pengumumannya.

"Hari ini, akan kuumumkan hasil dari kasus pengkhianatan pelajar. Hasil investigasi dari kasus pengkhianatan menunjukkan bahwa beberapa bukti dimanipulasi dan ada niat mendasar untuk tudingan palsu terhadap Putra Mahkota. Tapi para pelajar Kim Sun Young, Lee Gi Jin, dan semua yang terlibat terbukti memiliki niat untuk berkhianat. Mereka akan diasingkan ke wilayah terpencil. Kim Chang Joong dan Lee Yi Gyeom memiliki niat untuk berkhianat saat aku masih menjabat Putra Mahkota. Mereka perlu dijatuhi hukuman berat untuk kejahatan mereka. Mereka yang berkomplot melawan Putra Mahkota akan membayar untuk kejahatan mereka dan juga kejahatannya di masa lalu. Mereka akan diasingkan dan akan diberikan racun. Juga, Pangeran Mil Poong Lee Tan yang memanipulasi kasus ini dan menyebabkan kekacauan di mahkamah agung akan dikurung di balik pagar berduri dan dijatuhi hukuman berat."


Mil Poong mulai dibawa menuju lokasi kurungannya. Tapi anehnya, dia malah tersenyum.

Dal Moon melihatnya di tengah2 kerumunan rakyat.


Tuan Min menemui Tuan Kim dan Yi Gyeom yang hendak dibawa menuju pengasingan.

Tuan Min : Di dunia ini, siapa yang hari-hari terakhirnya akan sangat berbeda dari hari terakhirmu? Tolong jangan meninggalkan terlalu banyak penyesalan.

Tuan Kim : Selama pemerintahan mendiang Raja... Kehendak ayahku, yang juga menerima racun, adalah jangan pernah menjadi pejabat kerajaan. Saudaraku mengikuti nasihatnya. Tapi aku sendirian menginjakkan kaki di jalan menuju ke neraka ini. Alhasil, beginilah akhirnya.

Tuan Min : Akan kulakukan apa pun yang kubisa agar keturunanmu menempuh cara hidup yang berbeda. Karena kau adalah cabang dari Noron.


Yi Gyeom : Untuk itu saja aku berterima kasih. Mohon bantuannya, Ketua Kongres.

Tuan Kim memegang tangan Tuan Min dan mengucapkan terima kasih.

Yi Gyeom : Kekuasaan tidak bertahan selama sepuluh tahun. Bunga juga tidak tetap merah selama sepuluh hari. Tapi bahkan setelah kita tiada, tidak seorang pun di istana ini akan menyadarinya. Mereka akan menempuh jalan yang sama seperti kita. Bahkan kau pun demikian.


Tuan Min : Kau benar. Kekuasaan tidak bertahan 10 hari. Bunga tidak merah selama 10 hari. Bahkan kekuasaan terbesar tidak bertahan 10 hari. Jika kau takut kepada pepatah itu, mana bisa kau berpolitik? Mereka yang datang demi kekuasaan pasti akan jatuh. Orang-orang di sini hidup untuk satu hari itu saat mereka bisa menolak dengan kekuasaan.


Mereka lalu sama2 menatap ke arah istana.

Dan setelah itu, petugas membawa Tuan Kim dan Yi Gyeom pergi.

Tuan Min membungkuk, sebagai rasa hormatnya pada dua rekannya sesama Noron.


Dal Moon menatap rumah tempat ia mengunci Yoon Young.

Ia lalu masuk.

Dal Moon : Kudengar kau belum makan apa pun berhari-hari. Benarkah? Nanti kau mati. Bukankah kau harus membalas dendam kepadaku?

Yoon Young tampak pucat. Dal Moon lantas menyuruh Yoon Young makan. Tapi Yoon Young marah dan meminta Dal Moon tidak lagi mempedulikannya.



Dal Moon :  Baiklah, karena kini kau bisa hidup. Seperti ucapanmu, aku tidak ingin bergantung pada seseorang yang meninggalkanku. Hanya saja... Aku hanya tidak bisa membiarkanmu mati seperti itu.

Dal Moon berniat pergi. Tapi Yoon Young memeluknya dari belakang.

Yoon Young : Kau akan menyesal sudah  membiarkanku hidup. Pada akhirnya, aku pasti akan menyakitimu.

Dal Moon : Aku tidak peduli. Tidak apa-apa. Selama kau bisa hidup.


Yoon Young memejamkan matanya. Tak lama kemudian, ia kembali membuka matanya dan sorot matanya berubah tajam.

*Yoon Young kembali mengkhianati Dal Moon gengs!


Cho Hong tanya ke Seja, Seja mau kemana. Seja bilang ia mau menemui Moon Soo dan Dal Moon.

Cho Hong : Akhirnya Anda bisa bersenang-senang lagi. Selagi Yeo Ji tidak ada, kalian akan liar malam ini?

Seja : Aku? Kebiasaan semacam itu sudah kutinggalkan. Aku sudah melupakannya.

Cho Hong : Eyy, anjing tidak melupakan kebiasaan lamanya.

Seja : Anjing? Lihatlah cara bicaramu kepada Putra Mahkota.

Cho Hong tertawa.

"Pasti menyenangkan andai Yeo Ji bersama Anda hari ini. Dia pergi ke Yangju untuk urusan Saheonbu. Anda pasti sedih, Yang Mulia."

"Kata-kata yang tidak penting."

Seja lalu tanya dimana Ja Dong. Cho Hong bilang, Ja Dong lagi mengurus sesuatu di kantor pemeliharaan.


Ja Dong sendiri ada di dapur tabib. Seorang perawat melaporkan menemukan bercak darah di pilar.

Ja Dong melihatnya.

"Mungkinkah ini bercak darah dari binatang? Firasatku tidak enak." ucap si perawat.

"Kenapa ada sesuatu semacam ini di sini? Aku akan meminta Kantor Pemeliharaan membersihkan ini dahulu besok." jawab Ja Dong.

Bercak darah Mil Poong gaes.....


Dal Moon, Goon Tae, si pendongeng, A Bong, Jang Dal dan Moon Soo lagi minum2.

"Anggur ini adalah anggur yang aromanya paling buruk di dunia. Ini anggur Wi Byung Joo Mari minum." ucap A Bong.

A Bong menuangkannya untuk Jang Dal.

"Baunya sangat tidak enak. Bajingan itu terasa menjijikkan." ucap Jang Dal.

"Sama seperti namanya!" jawab A Bong.

Jang Dal meminumnya.

Rasanya tidak enak, kata Jang Dal.


A Bong lalu menyuruh Moon Soo menuangkan anggurnya untuk Dal Moon. Tapi Moon Soo menolak.

"Seperti pria sejati, meminta maaflah dahulu." ucap A Bong.

"Meminta maaf apa?" tanya Moon Soo.

Dal Moon menatap Moon Soo. Ditatap seperti itu, Moon Soo menyerah dan menuangkan anggurnya ke gelas Dal Moon.

"Bolehkah pengkhianat ini menerima segelas anggur?" tanya Dal Moon.

"Ayolah. Bukan hanya aku yang bersalah. Andai kau memberitahuku, aku tidak mungkin salah paham." jawab Moon Soo.

"Jika salah paham lagi padaku, kau mungkin akan membunuhku. Kurasa leherku patah." ucap Dal Moon.

"Pria dewasa yang berlagak lemah." balas Moon Soo.


Moon Soo lalu tanya dimana yang sakit.

Moon Soo lalu meniup leher Dal Moon.

Dal Moon : Apa yang kau lakukan? Meniup telingaku?

Moon Soo : Kapan aku meniup telingamu? Aku meniup di area yang kamu bilang sakit.

Moon Soo melakukannya lagi.

Dal Moon : Kenapa kau melakukan ini? Kubilang aku baik-baik saja.

Moon Soo : Kenapa kau menikmatinya?


Lalu Seja datang.

Seja : Moon Soo, kau belum meninggalkan kebiasaan lamamu rupanya. Dia juga meniup telingaku.

Dal Moon : Aku memang pernah dengar bahwa Putra Mahkota homoseksual. Artinya, Moon Soo juga...

Seja : Bukan aku. Itu rumor yang salah. Tapi Moon Soo, kenapa kau belum menikah? Apa jangan-jangan...

Moon Soo : Yang Mulia, jangan lakukan ini. Kenapa kau mendukung dia?


Moon Soo lalu minta bantuan A Bong dan Jang Dal, tapi A Bong dan Jang Dal ikut2an meragukan kejantanannya.

Goon Tae juga ikut2an. Ia melarang Moon Soo menyentuhnya.

Si pendongeng :  Aku punya istri dan anak.

Kesal, Moon Soo pun naik ke atas meja dan berniat membuktikan kalau dia pria sejati. Tapi yang lain langsung menyuruhnya duduk.


Seja dan Dal Moon meninggalkan mereka.

Dal Moon : Sepertinya kita agak keterlaluan. Moon Soo akan terus marah.

Seja : Itu sebabnya aku menggodanya. Dia gampang marah.

Dal Moon tertawa.

Seja lalu berterima kasih pada Dal Moon. Ia mengaku, lagi-lagi, ia belajar sesuatu dari Raja Jalanan.

Dal Moon : Maafkan aku karena tidak memberitahumu lebih awal. Dan ada rahasia lain yang belum kukatakan kepadamu. Tapi kurasa aku tidak bisa membagikan rahasia itu.

Seja : Tidak masalah. Jika kau tidak bisa, pasti ada alasannya. Kukira ada hal serius saat kau mengajakku bicara. Ayo masuk. Kita harus minum.

Dal Moon : Yang Mulia. Soal Pangeran Mil Poong. Kapan dia akan menerima racun? Bukankah lebih cepat lebih baik?

Seja : Dia sudah diasingkan. Kenapa harus terburu-buru?

Dal Moon : Ada hal yang menggangguku. Saat dia diasingkan hari itu, wajah Pangeran Mil Poong...

Dal Moon pun cerita, kalau hari itu, ia melihat Mil Poong tersenyum.


Gyeongjong kembali merasakan sakit di dadanya. Kasim nampak cemas tapi Gyeongjong bilang tidak apa-apa. Gyeongjong lalu melihat lampu di istana hidup.

Gyeongjong memeriksanya dan melihat Seja duduk tahtanya dengan memakai jubahnya.


Gyeongjong terbangun dari mimpinya. Tangannya kembali gemetaran.

Gyeongjong : Apa aku hanya merasa takut? Apa aku melakukan itu pada Putra Mahkota hanya karena itu?


Lalu, Gyeongjong kembali merasa sakit di dadanya.

Kasim masuk dan berniat memanggil tabib. Tapi Gyeongjong menyuruh kasim memanggil Kepala Seketaris Kerajaan terlebih dahulu.

Bersambung ke part 3...........

No comments:

Post a Comment