Thursday, May 2, 2019

Haechi Ep 18 Part 1

Sebelumnya...


Istana menggelar ritual pemakaman Gyeongjong.

Tangis Seja mengalir deras.


Usai ritual pemakaman, Tuan Jo dan anggota Soron lainnya menggelar rapat.

Mereka berencana menemui Inwon malam itu juga.


Diluar, Yeo Ji diam2 mencuri dengar.


Yeo Ji kemudian melaporkan apa yang didengarnya pada Inwon. Inwon terkejut.


Tuan Cho memberitahu Tuan Lee tentang Tuan Jo dan anggota Soron yang sedang menuju istana Inwon.

Tuan Lee terkejut.


Tuan Jo dan Soron tengah menuju istana Inwon.

Tuan Min dan anggota Noron lainnya melihatnya.


Inwon marah. Ia tidak terima keputusan Tuan Jo.

Tuan Jo berkata, Gyeongjong wafat karena keserakahan Seja.

Inwon : Keserakahan? Dia hanya berusaha semampunya


Diluar, Seja ternyata mendengarkannya. Lalu, Seja teringat kata2 Mil Poong yang mengatakan, bahwa ia tidak layak menjadi penerus tahta karena ibunya seorang rakyat jelata.


Kemudian, dia ingat bagaimana orang2 menatapnya, saat ia kembali ke istana, di hari ulang tahun Inwon.


Lalu, ia ingat nasihat Tuan Min.

"Itu sebabnya orang-orang tidak nyaman saat bersamamu. Apa yang bisa kau lakukan? Anda bisa apa jika pangeran seperti Anda tidak mampu untuk melindungi inspektur biasa sekalipun?"

Seja lalu bicara dalam hatinya.

"Aku sudah kecewa dengan kalimat-kalimat seperti itu. Mungkin aku merasa ini tidak adil."


Di dalam, Tuan Jo masih menuding Seja sebagai penyebab kematian Gyeongjong. Ia berkata, jika Gyeongjong diberikan resep dan obat yang benar, Gyeongjong tidak akan wafat.


Seja lantas masuk. Ia masih bicara dalam hatinya.

Seja : Jadi, aku hanya ingin membuktikan diriku. Mungkin itu sebabnya aku memulai semua ini.

Tuan Jo : Putra Mahkota, Yang Mulia telah mangkat karena Anda. Andalah penyebabnya. Jadi, Anda tidak layak untuk menjadi raja.

Seja : Layak?

Lalu Seja kembali bicara dalam hatinya.

Seja : Tapi mungkin mereka benar. Mungkin selama ini aku salah. Mungkin aku memang tidak pernah layak.


-Episode 18, Hak Menjadi Seorang Raja-


Seorang prajurit istana melintas dengan kudanya.

Dua pria langsung bertanya-tanya, apa pesan yang dibawanya.

"Mereka bilang Yang Mulia telah mangkat." jawab pria satunya.

Tuan Yi melintas. Mereka mendengar obrolan dua pria itu.


Lalu, dua pria bangsawan menghampirinya.

"Bagaimana dengan para tetua?" tanya Tuan Yi.

"Mereka sudah berkumpul. Ayo." jawab sala satunya.


Tuan Yi dan dua pria bangsawan itu membahas kematian Gyeongjong.

"Garis keturunan raja sebelumnya, yang menekan Partai Namin, terlalu mudah untuk diputus. Dahulu keluarga kita hebat. Tapi siapa yang menyebabkan masalah hingga kita hampir habis? Raja telah dihukum oleh dewa atas kesalahan ayahnya."

"Tapi apa kau tahu? Menurut rumor, Putra Mahkota membiarkan Raja mati begitu saja. Mereka bilang dia juga meracuni Raja." jawab Tuan Yi.

Mereka kaget.

"Kabar ini belum tersebar luas, tapi kabar ini benar. Suasana di istana sangat tegang."


Goon Tae yang melintas di pasar mendengar obrolan para rakyat tentang kematian Gyeongjong yang mendadak.


Goon Tae memberitahu Dal Moon bahwa Tuan Jo dan mayoritas Soron menentang Seja menjadi Raja.

Dal Moon marah. Ia lalu teringat kata2 Yoon Young.


Yoon Young : Raja dan Putra Mahkota sudah tamat. Raja akan mati. Putra Mahkota yang akan disalahkan tanpa bisa membuktikan apa pun. Aku yang membuat semua itu terjadi.

Dal Moon merasa bersalah sudah melindungi Yoon Young.

Goon Tae miris melihat Dal Moon.


Tuan Jo dan Soron berlutut di depan istana Inwon.

Tuan Jo : Bagaimana kita bisa melakukan prosesi pemakaman seperti ini? Yang Mulia telah dibunuh. Kita tidak boleh menyerah sampai keadilan ditegakkan kembali, Ibu Suri.


Tuan Min dan Noron sedang membahas tingkah Tuan Jo dan Soron.

Noron : Putra Mahkota menghentikan Rumah Sakit Kerajaan dan menggunakan Racun Serigala. Apa masih kurang mencurigakan?

Tuan Min : Mencurigakan? Jadi, Putra Mahkota membiarkan Raja mangkat dengan sengaja?

Noron : Ini....

Tuan Min : Bukan itu yang penting. Putra Mahkota membunuh atau tidak, itu tidak penting. Sebagai akibat dari raja berikutnya, Soron telah terbagi menjadi dua. Lalu, kita juga harus memilih jalan kita. Apa sebaiknya kita mengikuti Ketua Mahkamah Agung Jo Tae Koo atau Lee Gwang Jwa, yang mendukung Putra Pangeran?

Noron : Apa rencanamu?

Tuan Min : Ambil inisiatif. Jika kita berpihak pada Ketua MA dan menyerang Putra Mahkota atau berpihak pada Lee Gwang Jwa untuk membantu Putra Mahkota, kita harus membuat situasi yang memberi inisiatif pada Noron.

Noron : Baik, Tuan.

Tuan Min : Bagaimana keadaan di Istana Putra Mahkota?


Tuan Lee datang menemui Seja.


Moon Soo datang menemui Tuan Cho.

Yeo Ji tiba2 memanggilnya. Moon Soo kaget melihat Yeo Ji. Yeo Ji tersenyum.

Yeo Ji : Akhirnya kita bertemu di sini. Kau ingin mencari tahu soal Departemen Pengadilan, bukan? Istana Ibu Suri juga ingin tahu soal Saheonbu dan Departemen Pengadilan. Jadi, beri aku informasinya.

Moon Soo : Tidak, tunggu. Istana Ibu Suri? Kenapa kau ada di sana? Kau tidak ke Yangju? Lantas, bagaimana kau bisa ke istana?

Yeo Ji bingung menjelaskannya.

Moon Soo melihat pakaian Yeo Ji. Tak lama kemudian, ia pun sadar Yeo Ji sudah menjadi seorang dayang.


Seja tampak sedih. Ia mengaku pada Tuan Lee bahwa sekarang ia sadar, ia salah dan mereka yang benar.

Seja : Seorang pangeran tanpa darah biru. Jadi, dia tidak bisa menjadi apa-apa. Tapi karena meratapi kenyataan itu, dia berbuat sampai sejauh ini. Aku tidak pantas menjadi raja. Aku membuat Raja mangkat.

Tuan Lee pun marah dan mencoba menasihati Seja.

Tuan Lee : Apa kau  meracuni obatnya? Kau menghentikan dokter kerajaan untuk mengobat mendiang Raja?

Seja bingung, Guru...


Tuan Lee : Apa kau yang meminta Racun Serigala dan ginseng untuk membunuh Yang Mulia?

Seja : Kenapa Anda seperti ini?

Tuan Lee : Kau melakukan semua ini! Demi merebut takhta kekuasaan? Kau tidak layak? Kau melakukan kejahatan? Kebohongan itu dibuat oleh mereka yang tidak tahu kebenarannya. Semua itu tidak benar. Lalu kenapa kau  menyalahkan dirimu sendiri berdasarkan kebohongan itu? Aku tahu bagaimana sakitnya perasaanmu. Mungkin kau berpikir lebih baik mundur dari penobatan daripada hidup dengan dusta. Tapi ini takdir raja. Seperti beban, kau memang harus hidup di antara kebohongan, kesalahpahaman, dan penghinaan. Ini bukan saatnya. Saat kau terpuruk dan lari dari takdirmu, saat itulah kau tidak pantas menjadi raja.

Seja tertegun.

Seja : Bukan sekarang, tapi saat aku melarikan diri?

Tuan Lee : Jadi, buatlah keputusanmu, Yang Mulia. Kau ingin menjadi raja yang layak atau tidak. Antara akan menghindari rasa sakit sebagai manusia, atau kau melawan semua penghinaan ini dengan menjadi seorang raja. Putuskan.


Diluar, Moon Soo sedang melamun.

Tiba2, Moon Soo melihat seorang pejabat tengah memberi instruksi pada para prajurit.

Moon Soo kepikiran Yeo Ji.


Di kamarnya, Seja merenungkan kata2 Tuan Lee.

Lalu ia ingat saat Tuan Jo menyalahkannya atas kematian Gyeongjong.

Ia juga ingat saat Gyeongjong memintanya menjadi Raja yang hebat.


Tuan Jo memanggil Dewan Keamanan Nasional. Ia tanya, berapa tentara yang mereka punya untuk membuat huru hara, mencegah penobatan Seja menjadi Raja.


Tuan Min juga ikut bergerak.

Tuan Min : Bagaimana situasi militer? Lalu Menteri Peperangan? Bagaimana dengan Hanseongbu dan biro kepolisian?


Moon Soo menemui Tuan Cho.

Moon Soo : Badan Militer sudah menunjukkan gelagat mencurigakan?

Tuan Cho : Benar. Menteri Peperangan, Dewan Keamanan Nasional, Hanseongbu, dan biro kepolisian. Pemimpin masing-masing bagian sudah mulai bergerak.

Moon Soo : Apa alasannya?

Seja lalu datang.

Seja : Dewan Keamanan Nasional mungkin ingin menemui Ketua Mahkamah Agung Jo Tae Koo. Menteri Peperangan, Hanseongbu, dan biro kepolisian mungkin dipanggil Ketua Kongres Min Jin Heon. Mereka akan memanfaatkan badan militer yang mereka kendalikan. Cari tahu mereka bisa apa selama enam hari terakhir.

Moon Soo : Enam hari terakhir?

Tak lama kemudian, Moon Soo pun sadar apa yang terjadi.


Tuan Lee menyuruh Jang Dal mengeluarkan peringatan untuk semua tentara Saheonbu.


Tuan Min rapat dengan badan militernya.

Tuan Min : Setelah kematian mendiang raja dan hingga hari penobatan, ya, kita punya enam hari. Takhta itu akan kosong selama enam hari. Apa pun bisa terjadi di istana selama enam hari itu. Mungkin Putra Mahkota akan memiliki takhta itu.


Moon Soo berlari ke suatu tempat.


Tuan Jo memberi instruksi pada anggotanya.


Tuan Cho juga melakukan sesuatu.


Dan Seja berjalan dengan terburu-buru.


Tuan Min : Atau, seperti Ketua Mahkamah Agung Jo Tae Koo inginkan, Putra Mahkota akan digulingkan. Apa pun yang terjadi, Noron harus mempersiapkan diri agar kita bisa mengambil inisiatif. Jika perlu, kita bisa bekerja sama dengan Ketua Mahkamah Agung.

Tuan Lee datang menemui Tuan Min. Tuan Min terdiam melihat Tuan Lee.


Seja menemui Inwon. Ia minta Inwon mempercepat penobatannya.

Seja : Setelah kematian mendiang raja, biasanya penobatan akan dilakukan dalam enam hari. Saat ini takhta sedang kosong dan Ibu Suri, pemilik takhta tertinggi di istana, yang berkuasa. Anda harus mengeluarkan perintah jika ingin aku menjadi raja berikutnya.

Inwon kaget.

Inwon : Kau ingin aku mengeluarkan perintah secepatnya?

Seja : Di dalam dan di luar istana, semua badan militer telah menunjukkan gelagat mencurigakan. Jika kita biarkan takhta kosong selama enam hari, mungkin akan terjadi masalah di istana ini.

Inwon : Aku juga sudah dengar soal ini dan mencemaskannya, Putra Mahkota. Namun, jika itu terjadi...

Seja : Aku tahu. Aku akan dianggap sebagai raja tidak tahu malu karena membuat raja terdahulu mangkat dan tergesa-gesa menduduki takhta. Aku sadar sepenuhnya, Ibu Suri. Aku tahu akan ada kesalahpahaman dan aku akan dapat kesulitan.


Inwon : Putra Mahkota,  kurasa kau memang terpilih untuk menahan semua serangan. Kau pasti ingin menghadapi takdirmu dengan rasa bangga.

Lalu Inwon tersenyum bangga menatap Seja.

*Suka banget sama Inwon. Jadi ingat pas nonton Dong Yi, dia sama Dong Yi kompak banget, meskipun awalnya sempat salah paham sama Dong Yi gara2 antek2nya Hee Bin.


Inwon memanggil Dayang Choi.

Inwon : Minta ketua sekretaris kerajaan Seungjeongwon untuk segera datang.


Kantor Seketaris Kerajaan kaget.

"Aku baru mendapat perintah dari Ibu Suri. Panggil semua menteri Seungjeongwon."


Tuan Lee minta maaf pada Tuan Cho karena menemui Tuan Min tanpa memberitahu Tuan Cho.

Tuan Lee : Tapi jika kau sudah mengambil jalan yang berbeda...

Tuan Cho : Tidak, Tuan. Aku akan mengikuti Anda jutaan kali bila perlu.


Moon Soo datang dan bergabung dengan mereka.


Tuan Jo tidak percaya, Inwon akan menobatkan Seja secepat itu.

Tuan Jo : Kita harus menghentikan penobatan itu apa pun caranya meski harus mengorbankan nyawa kita.

Tuan Min datang.

Tuan Min : Ketua Mahkamah Agung.

Bersambung ke part 2...................

No comments:

Post a Comment