Friday, May 3, 2019

Haechi Ep 19 Part 1

Sebelumnya...


Satu warga jatuh sakit setelah meminum air dari sumur.


Mil Poong tanya, apa maksud Tuan Yi mengatakan keadaan kota sedang kacau dan mereka tidak boleh membuang waktu.

Tuan Yi : Mil Poong gun, maukah anda memutarbalikkan keadaan? Jika ingin membalikkan dunia ini, Anda harus membuat isi dunia ini kacau dahulu. Dengan kekacauan itu rakyat akan mempertanyakan kelayakan Raja.


Warga yang lain pun ikut jatuh sakit.


Yeongjo dan Tuan Min sedang membahas wabah penyakit misterius yang menyerang rakyat. Tuan Min berkata, wabah itu bermula dari Provinsi Chungcheong dan menyebar dengan cepat  di Provinsi Jeolla.

Yeongjo : Tapi ini bukan musimnya bagi wabah untuk mudah menyebar.

Tuan Min : Itulah yang kubilang ini wabah asing.

Tak lama kemudian, Pejabat Noron melapor, kalau wabah itu juga sudah sampai ke pusat kota.

Yeongjo dan Tuan Min terkejut.

Yeongjo : Segera panggil semua petugas di Dewan Pertahanan Perbatasan. Kepala Hanseongbu, Komandan Kepolisian, pemimpin Hwalinseo, dan pemimpin Haeminseo. Suruh mereka datang dalam 30 menit!


Hwalinseo kedatangan banyak pasien. Para tabib pun bingung darimana asal wabah itu.


Di istana, Yeongjo bertanya-tanya bagaimana bisa wabah misterius itu menyebar dengan cepat.


Seorang warga meninggal akibat wabah itu.


Kamera lalu menyorot sumur beracun, asal muasal wabah itu.


"-Episode 19, Kekacauan Hitam-


Si pendongeng tengah bercerita di tengah pasar.

"Malam telah tiba, dan bulan menampakkan diri. Hakim desa yang baru tiba-tiba melepaskan ikatan baju So Yang. Pada saat itu... Cukup untuk hari ini."

Warga protes karena si pendongeng berhenti cerita.

Si pendongeng berkata, jika penasaran dengan lanjutannya, kembali lah besok.

Goon Tae datang. Ia mengajak si pendongeng bergegas.


Tapi saat mau pergi, mereka melihat prajurit yang menyuruh orang2 di pasar pulang.

Goon Tae menggerutu.

"Jadi benar ada wabah. Sial."

"Apa? Wabah?" tanya si pendongeng kaget.


Warga di tempat Dal Moon bergegas mengevakuasi anak2 mereka.

Dal Moon kemudian datang dan tanya, apa ada anak-anak yang menunjukkan gejala penyakit yang sama.

Pria itu berkata, beberapa dari mereka batuk, tapi mungkin bukan karena wabah.

Dal Moon : Pisahkan mereka dari yang sehat. Dan berikan pisang raja untuk anak-anak yang batuk.


Goon Tae dan si pendongeng datang.

Si pendongeng datang dan tanya, apa ada tanda2 wabah di pusat kota?

Dal Moon : Bukan hanya di pusat kota. Wabah ini dimulai dari Chungcheong dan Provinsi Jeolla tiga hari lalu.

Si pendongeng heran, wabah itu bisa menyebar begitu cepat.

Dal Moon : Istana pasti sangat kacau sekarang. Yang Mulia harus segera menanggulanginya. Kita harus mengumpulkan informasi sebanyak mungkin.


Para pejabat mencemooh Yeongjo. Mereka berkata, wabah terjadi tepat setelah penobatan Yeongjo. Mereka menganggap kemalangan menimpa negeri mereka karena Yeongjo.

Yeongjo datang dan langsung duduk. Para pejabat berdiri dan ingin memberi hormat. Yeongjo langsung menyentak mereka.

Yeongjo : Tidak usah berdiri! Masih sempat membuang waktu!

Yeongjo lalu menyuruh Kepala Sekretaris Kerajaan mengambil peta.

Yeongjo : Menurut laporan, wabah dimulai dari Provinsi Chungcheong. Setelah menyebar ke Provinsi Jeolla, wabah itu menyebar di pusat kota. Tapi kenapa wabah biasa ini bisa menyebar begitu cepat?

Tuan Jo : Maaf, tapi baru saja utusan istana mengabari bahwa wabah telah menyebar ke seluruh Chungcheong, Jeolla, dan Provinsi Gyeongsang.

Yeongjo : Jadi, istana telah dilanda wabah? Menghentikan penyebaran wabah adalah prioritas utama kita. Departemen Kehakiman harus mengirim 300 orang ke tiap area dan mengontrol perkembangan pasien.

"Baik, Yang Mulia." jawab Kepala Departemen Kehakiman.


Yeongjo : Berapa pasien yang ada di Hwalinseo?

"Saat ini masih kami hitung." jawab Kepala Hwalinseo.

Yeongjo marah.

"Kenapa masih dihitung!"

"Maaf, Yang Mulia." jawab Kepala Hwalinseo.

Yeongjo : Ketua Hakim, segera hitung jumlah pasien di Hwalinseo berdasarkan usia, jenis kelamin, dan laporkan tiap 15 menit. Hanseongbu dan kepolisian harus mengendalikan rakyat Hanyang. Dan karena ada inflasi wabah, Menteri Pajak harus menyiapkan beras yang cukup di Gyeongsiseo.

"Bagaimana jika kita mengirim staf kerajaan ke provinsi dan mengatur keadaan?" saran Tuan Min.

Yeongjo setuju.


Yeongjo lalu berdiri.

"Semua pasti pernah mengalami terkena wabah. Jika kita tidak cepat menanggulanginya, kita akan kehilangan banyak sekali nyawa tidak berdosa. Wabah ini harus diberantas secepatnya. Aku harap kalian akan membantuku sekuat tenaga kalian." ucap Yeongjo.

"Kami siap melayani Yang Mulia." jawab para pejabat.

Nah kaaan, kalo kompak gini kan enak.... Yeongjo dan Tuan Min ini cocok sebenarnya... Btw, Jung Il Woo lebih cocok main drama sageuk ketimbang modern... Selesai Haechi, sy harap dia main sageuk lagi...


Jumlah pasien di Hwalinseo semakin bertambah.

Salah satu tabib kesal karena mereka harus melapor jumlah pasien setiap 15 menit.

"Itu cara yang benar. Cara kita yang sebelumnya salah.  Pindahkan orang tua dan anak-anak ke sayap barat. Dan pindahkan pasien wanita ke sayap timur. Total jumlah pasien sampai sekarang 58 orang.


Para prajurit segera mengevakuasi rakyat. Rakyat yang merasakan gejala wabah dilarang masuk pusat kota dan disuruh pergi ke Hwalinseo.

"Aku dilarang masuk meski rumahku ada di sana?" protes salah satu warga yang terindikasi wabah.

"Kau mau menentang perintah Raja? Dengar baik-baik! Jika ada yang mengalami gejala wabah saat ini, kalian dilarang masuk ke pusat kota! Ini perintah Raja!" ucap Jang Dal.


Inwon heran, wabah bisa menyebar secepat itu?

Inwon : Pasti Raja sangat cemas.

Yeo Ji : Syukurlah, istana bereaksi cepat untuk mengatasinya. Jangan khawatir, Yang Mulia.


Kepala Dayang berkata, bahwa makan siang Inwon siap disajikan.

Inwon : Mana bisa aku makan dalam situasi seperti ini? Suruh mereka bawa kembali.

Kepala Dayang : Jangan begitu, Yang Mulia. Anda harus menjaga kesehatan Anda terlebih dalam situasi begini.

Kepala Dayang menyuruh dayang membawa masuk hidangannya.

Namun salah satu dayang yang menyajikan santap siang untuk Inwon, terindikasi wabah.

Yeo Ji terkejut melihatnya.


Lalu para dayang pergi dan Yeo Ji langsung menyusul dayang itu.

Yeo Ji : Kau sakit? Tadi aku melihatmu batuk....

Dayang : Tidak. Aku hanya flu ringan.


Yeongjo sedang membaca buku panduan wabah untuk Hanyang dan semua provinsi?

Kepala Seketaris Kerajaan mengatakan, seperti yang diperintahkan Yeongjo, Rumah Sakit Kerajaan menyiapkannya berdasarkan pencegahan wabah.

Yeongjo : Tapi kenapa tidak dalam aksara Korea? Berapa banyak rakyat yang bisa membaca aksara Tiongkok? Segera buatkan dalam aksara Korea agar semua rakyat bisa membacanya.

Kepala Seketaris Kerajaan mengerti dan bergegas pergi.


Setelah itu, Yeongjo mengajak Tuan Min dan Tuan Jo diskusi.

Tuan Jo dan Tuan Min terkejut Yeongjo bilang Mil Poong kabur dari pengasingan.

Yeongjo lalu menunjukkan pesan yang dikirimkan Petugas Yoon.

Mereka terkejut dan bertanya2, bagaimana itu bisa terjadi.


Petugas Yoon tiba di pengasingan Mil Poong dan melihat para prajurit sedang mengevakuasi jasad prajurit yang ditikam Byung Joo.

Petugas Yoon marah.

"Bisa-bisanya kalian begitu teledor menjaga pengasingan seorang pengkhianat!"


Yeongjo memberitahu Tuan Min dan Tuan Jo kalau orang yang pertama melarikan diri adalah Byung Joo, lalu diikuti dengan Mil Poong.

Yeongjo : Mungkin ini terjadi saat keadaan kacau setelah penobatanku. Kurasa dia memang menunggu masa penyebaran wabah ini.

Tuan Min : Apa maksud Anda dia menunggu? Jadi, mereka berharap terjadi penyebaran wabah?

Yeongjo : Sebulan lalu, petugas pemerintahan Cheongju, Jang Gi Ho datang. Penyakit asing mewabah di pangkalan militer dan dia yang mengatasinya.

Tuan Jo : Aku juga ingat insiden itu. Berkat respons cepat dari pemerintahan Cheongju, wabah itu bisa diatasi.

Yeongjo : Benar. Aku mengalaminya sendiri, jadi, aku ingat dengan jelas. Ada beberapa orang dengan penyakit yang tidak diketahui di Cheongju. Tapi kantor pemerintahan bereaksi cepat dan menurut laporan, akhirnya wabah itu hilang.

Flashback...


Wabah yang sama menimpa pemerintahan Cheongju. Pemerintahan Cheongju merespon dengan cepat.

Yeongjo yang saat itu masih menjadi Putra Mahkota, lega mendapatkan pesan wabah itu bisa diatasi.

Flashback end..


Dan sekarang pesan yang dibaca Yeongjo saat itu, tengah mereka bahas saat ini.

Tuan Jo : Kalau begitu, kenapa...

Yeongjo : Bacalah surat ini lebih saksama, Ketua Mahkamah Agung. Apa menurut kalian itu tidak aneh?

Tuan Min : Gejala penyakitnya sama.

Tuan Jo : Sama bagaimana?

Tuan Min : Penyakit asing di Cheongju itu. Mungkin ini penyakit yang sama yang sedang mewabah.

Tuan Min menanyakan pendapat Yeongjo.

Yeongjo : Aku tidak yakin, tapi gejalanya terlalu mirip.

Tuan Jo : Jadi, penyakit yang sudah diberantas ini menyebar lagi di negeri ini?

Yeongjo : Artinya, penyakit ini bukan timbul secara alami. Jika masalah ini disebabkan oleh niat orang jahat...


Tuan Min curiga, Mil Poong dalang dibalik penyakit itu.

Tuan Jo tanya, apa wabah ini ada hubungannya dengan kaburnya Pangeran Mil Pong?


Tuan Jo keluar. Rekan2nya sesama Soron langsung tanya, apa Yeongjo meminta bantuanya.

"Dia menyebabkan kematian Raja terdahulu...."

"DIAM SEBENTAR!" bentak Tuan Jo, lalu memikirkan diskusinya dengan Yeongjo tadi.

Flashback....


Tuan Jo : Apa maksud Anda, Pangeran Mil Poong? Yang Mulia, jika penyakit ini disebabkan oleh konspirasi...

Yeongjo : Aku tahu. Aku tahu keresahan akan terjadi jika kabar ini menyebar. Itu sebabnya aku ingin menemui kalian diam-diam. Aku tahu kau tidak memercayaiku, Ketua Mahkamah Agung. Aku tahu tidak bisa memintamu memercayaiku. Tapi negeri kita sedang krisis. Entah akan seburuk apa krisis ini ke depannya. Jadi, kesampingkan dahulu emosi kita dan bekerjasamalah denganku. Bijaksanalah dengan kami. Bukan demi aku, tapi juga demi pemerintah dan demi rakyat kerajaan ini.

Tuan Jo menatap Yeongjo.

Tuan Jo merenungkan permintaan Yeongjo.


Di kamarnya, Yeongjo membaca laporan rakyatnya yang jatuh sakit karena wabah itu.

"Pukul 7.15. Pasien di Hwalinseo Timur, 45 orang. Hwalinseo Barat, 59 orang. Pukul 7.30. Hwalinseo Timur, 51 orang. Hwalinseo Barat, 64 orang. Pukul 7.45."

Yeongjo lalu melihat ke tahtanya dengan mata berkaca-kaca.


Setelah itu, wajahnya berubah marah dan ia pun beranjak pergi.

Bersambung ke part 2...........

No comments:

Post a Comment