Friday, May 3, 2019

Haechi Ep 19 Part 2

Sebelumnya...


Mil Poong protes Tuan Yi mengajaknya melintasi gunung.

Mil Poong : Kau bahkan tidak menyiapkan kuda. Astaga!  Siapa berandal itu? Kenapa dia arogan sekali?

Byung Joo : Dia Yi In Jwa. Dia putra keluarga yang dijatuhkan selama rezim mendiang Raja. Dia juga keturunan Pangeran Im Young.

*Pangeran Im Young, putra keempat Raja Sejong.

Mil Poong : Jadi, kau masih bangsawan?


Tuan Yi sama sekali tidak menjawab protesan Mil Poong dan terus berjalan, hingga akhirnya mereka bertemu dengan puluhan pasukan.

Puluhan pasukan itu memberi hormat pada Tuan Yi dan memanggil Tuan Yi 'Jenderal'.

Tuan Yi tanya, keadaan pangkalan mereka.

"Semua lancar. Kami akan antar Anda ke sana." jawab si pemimpin pasukan.


Mil Poong : Jenderal? Pangkalan gunung?


Mereka pun tiba di markas Tuan Yi.

Byung Joo dan Mil Poong terkejut melihat ribuan pasukan Tuan Yi sedang berlatih pedang.


Beberapa diantaranya latihan menembak.

Tuan Yi : Bagaimana hasil pernyataannya?

"Sudah rampung." jawab anak buahnya.

Mil Poong : Jadi, bedebah itu sudah menyiapkan pemberontakan sejak lama?

Byung Joo : Sejak Namin runtuh, dia merelakan semua kekayaan keluarganya. Tapi aku tidak menyangka bisa sebesar ini. Dengan skala persiapan seperti ini...

Tuan Yi lalu meminta Mil Poong dan Byung Joo ikut dengannya.


Mil Pong dan Byung Joo terkejut melihat apa yang tengah dikerjakan anak buah Tuan Yi.

"Jenis logam bergerak. Kau membuat logam bergerak di sini?" tanya Byung Joo.

"Untuk mendapatkan kekuasaan, kita harus mengacaukan rakyat. Bukan hanya di pusat kota, tapi juga seluruh negeri sudah mulai kalut. Kita akan menulis pernyataan dan menyebarkannya." jawab Tuan Yi.

"Apa isi tulisan itu?" tanya Byung Joo.

"Mungkin ini penghinaan kepada Raja Lee Geum. Ini peringatan untuk tidak ikut campur." jawab Mil Poong.


Mil Poong lantas berusaha mendekati mereka.

Tapi anak buah Tuan Yi langsung memberinya pedang.

Tuan Yi : Di pangkalan gunung ini, kau tidak bisa melakukan apa pun tanpa perintahku.

Mil Poong kesal.

"Beraninya kau bicara seperti itu padaku! Aku adalah..."

"Kau adalah bangsawan, tapi digulingkan karena melakukan pengkhianatan. Dengar baik-baik. Satu-satunya alasanku membawamu ke sini karena aku membutuhkan jabatanmu sebagai alasan pemberontakan. Jadi, diam saja dan jangan ikut campur. Biar aku yang mengurus semuanya." ucap Tuan Yi.


Byung Joo langsung berlutut.

"Aku akan melakukan apa pun perintah Anda, Jenderal Yi In Jwa. Jika aku bisa menggulingkan Raja dan membalaskan dendamku, aku rela mengorbankan jiwaku." ucap Byung Joo.


Mil Poong yang kesal, langsung pergi keluar dan mengambil pedang.

Byung Joo menyusulnya dan mencegahnya melakukan sesuatu.

Mil Poong : Enyahlah. Kembali saja dan terus jilati dia seperti anjing.

Byung Joo : Anda pikir aku berlutut karena ingin? Anda harus gigih untuk balas dendam. Aku akan lakukan apa pun agar bisa berjaya kembali. Anda pun juga harus begitu.


Mil Poong marah dan menempelkan pedangnya ke leher Byung Joo.

Byung Joo : Anda harus memanfaatkan kekuatan mereka. Rebut kembali semua milik Anda. Kecuali Anda merelakan takhta kerajaan itu.

Mil Poong : Takhta kerajaan? Takhta kerajaanku?


Dal Moon, Goon Tae dan si pendongeng sedang ribuan telegram yang mengatakan, bahwa ada keanehan pada sumur di dekat pasar.

Dal Moon : Sumur? Cari tahu apa ada tempat lain yang sama.

Goon Tae : Tempat lain?

Si pendongeng : Ini. Ini ada. Rasa air sumur di area Saeteo terasa aneh.

Dal Moon : Area Saeteo?

Si pendongeng :  Ya. Begitu pula dengan sumur di Samcheong-dong.

Dal Moon : Sumur itu digunakan oleh orang-orang di dalam istana.

Goon Tae : Benar. Kenapa semua air sumur itu terasa aneh?

Dal Moon :  Pendongeng. periksakan daftar semua pasien.

Si pendongeng bergegas pergi.


Goon Tae : Apa terjadi sesuatu pada semua sumur ini? Artinya, mungkin ini bukan wabah.

Dal Moon : Masih terlalu dini untuk mengambil kesimpulan. Kita harus memastikannya sebelum lapor kepada Raja.

Goon Tae : Baik.

Dal Moon : Apa kau  sudah dapat kabar?

Goon Tae : Maksudmu, soal Yoon Young, wanita yang hilang itu? Aku sudah berikan poster pada pedagang yang ke luar negeri. Tapi aku belum mendapat kabar lagi.


Yoon Young sendiri terlihat di sebuah kedai. Ia buru2 pergi setelah membayar tagihannya.

Di depan gerbang, ia tabrakan dengan pria pedagang temannya Dal Moon.


Merasa mengenal Yoon Young, pria itu langsung masuk ke kamarnya dan mengambil poster Yoon Young di tasnya. Pria itu dan temannya senang karena menemukan Yoon Young.


Pasukan Tuan Yi mulai bergerak. Mereka menyebarkan selebaran di seluruh kota.


Dal Moon yang sedang menuju ke tempatnya, memergoki mereka dan mereka langsung melarikan diri.

Dal Moon mencoba mengejar tapi mereka sudah hilang.

Dal Moon mengambil salah satu selebaran. Ia terkejut membacanya.


Paginya, rakyat langsung gempar membaca selebaran itu.


Selebaran itu bahkan juga ditempel di dinding istana.

Seorang pelayan yang melihatnya langsung memanggil petugas keamanan.


Dan kini selebaran itu sudah sampai ke tangan Yeongjo.

"Alasan menyebarnya wabah di negeri ini karena air mata kemarahan mendiang Raja. Yang Mulia merebut takhta dengan membunuh mendiang Raja." isi selebaran itu.

Kepala Pengawal Raja meminta maaf.

Tuan Min marah.

"Apa yang pengawal raja dan polisi lakukan sampai ada yang menempelkan poster macam ini di dinding istana!"

"Aku tidak akan beralasan, Yang Mulia. Maafkan ucapanku, tapi kami kekurangan tenaga. Jadi, tidak ada yang berpatroli malam." jawab Kepala Pengawal.

"Omong kosong macam apa itu! Kalian bahkan tidak berhak memakai seragam itu!" sentak Tuan Min.


Yeongjo pun menyuruh Tuan Min berhenti dan meminta Kepala Pengawal mengatasi kekacauan di kota dan istana.

Kepala Pengawal mengerti dan langsung pergi


Tuan Min : Anda harus memecat mereka. Jika rakyat malah merendahkan Anda, situasinya akan makin buruk.

Yeongjo : Apa yang akan terjadi jika aku mengganti para pemimpin administrasi saat orang-orang sedang kalut?

Tuan Min : Tapi lihatlah kekejian tulisan ini, Yang Mulia. Ini pasti kejahatan yang terorganisir. Seperti yang Anda bilang, mungkin ada skema...

Yeongjo : Ketua Kongres. Ini sebabnya aku tidak mau memecat mereka. Jika rakyat di kota tahu adanya pengkhianatan, kekacauan akan makin memburuk.


Ja Dong lalu datang, mengabarkan kondisi Daebi Mama.

Bersambung ke part 3..............

No comments:

Post a Comment